Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt Implementasi Nilai-Nilai Islam dalam Menumbuhkan Sikap Toleransi di Lingkungan MTs Al-Ishlahiyah Binjai Eka Bayu Syahputra1 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi nilainilai Islam dalam menumbuhkan sikap toleransi di lingkungan MTs Al-Ishlahiyah Binjai. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan saling menghargai diimplementasikan melalui kegiatan pembelajaran, pembiasaan ibadah, dan penguatan budaya religius sekolah. Faktor pendukung keberhasilan meliputi peran guru, kepemimpinan kepala madrasah, dan kolaborasi dengan orang tua, sedangkan hambatan utama berasal dari pengaruh media sosial dan keterbatasan waktu pembelajaran. Secara keseluruhan, penerapan nilai-nilai Islam terbukti meningkatkan sikap sosial, religiusitas, dan toleransi siswa. Madrasah berhasil menciptakan lingkungan yang harmonis dan inklusif, menjadikan pendidikan Islam sebagai sarana pembentukan karakter yang berlandaskan moral Kata Kunci: nilai-nilai Islam. sikap toleransi. pendidikan agama Islam. karakter siswa. madrasah tsanawiyah Abstract This study aims to describe the implementation of Islamic values in fostering tolerance among students at MTs Al-Ishlahiyah Binjai. descriptive qualitative approach was applied, using observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The findings reveal that Islamic values such as honesty, responsibility, compassion, and mutual respect are implemented through classroom learning, religious habituation, and the development of a religious school culture. Supporting factors include the roles of teachers, the leadership of the headmaster, and collaboration with parents, while the main obstacles are social media influence and limited instructional time. Overall, the application of Islamic values significantly enhances studentsAo social attitudes, religiosity, and tolerance. The school successfully creates a harmonious and inclusive environment, positioning Islamic education as a foundation for moral and character development. Keywords: Islamic values. Islamic education. Islamic junior high school. Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai, bayueka412@gmail. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik agar menjadi insan yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dalam konteks pendidikan formal di Madrasah Tsanawiyah (MT. PAI bukan sekadar mata pelajaran yang menekankan pada aspek kognitif tentang ajaran agama, melainkan juga berfungsi sebagai sarana pembinaan moral dan sosial yang membentuk pola perilaku Islami dalam kehidupan sehari-hari. MTs sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang mampu melahirkan generasi yang toleran, santun, dan menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang Di era modern saat ini, fenomena intoleransi dan sikap eksklusif di kalangan remaja mulai tampak menjadi perhatian serius. Peserta didik sering terpapar berbagai arus informasi dan ideologi melalui media sosial yang dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak mereka terhadap orang lain yang berbeda pandangan, keyakinan, maupun budaya. Dalam konteks ini, pendidikan Islam di MTs Al-Ishlahiyah Binjai memiliki tantangan besar untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil AoalaminAiyaitu ajaran yang membawa kedamaian, keadilan, dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan (Yusuf & Lestari, 2. Nilai-nilai Islam yang diajarkan melalui mata pelajaran PAI mencakup kejujuran, keadilan, kesabaran, kasih sayang, dan toleransi. Sikap toleransi sendiri merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai. Dalam Al-QurAoan Surah Al-Kafirun ayat 6. Allah SWT berfirman: AuUntukmu agamamu dan untukku agamaku,Ay yang menegaskan pentingnya menghormati perbedaan keyakinan dan pandangan. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar utama dalam membentuk sikap toleransi di lingkungan pendidikan seperti MTs Al-Ishlahiyah Binjai, sebagaimana ditegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki peran dalam membangun budaya damai dan menghargai keberagaman (Fadhilah, 2. Implementasi nilai-nilai Islam dalam konteks pendidikan tidak dapat dipahami hanya sebatas penyampaian materi di kelas, melainkan juga harus diintegrasikan ke dalam seluruh aktivitas sekolah. Guru PAI memiliki peran strategis sebagai teladan yang menunjukkan perilaku Islami dalam interaksi sehari-hari. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler seperti kajian keislaman, diskusi lintas kelas, serta pembiasaan doa bersama menjadi media yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. Keteladanan guru menjadi faktor dominan dalam membentuk perilaku sosial siswa yang inklusif dan menghargai perbedaan (Wulandari, 2. MTs Al-Ishlahiyah Binjai sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut melalui program pendidikan yang berorientasi pada penguatan karakter. Hal ini diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti pelatihan karakter Islami, kegiatan sosial keagamaan, dan pembiasaan saling menghormati antar peserta didik yang berbeda latar belakang. Upaya ini sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran berbasis nilai mampu membentuk kesadaran moral dan sosial siswa untuk berperilaku toleran di lingkungan sekolah (Nurhayati, 2. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai Islam dalam menumbuhkan sikap toleransi masih menghadapi berbagai kendala. Beberapa siswa masih menunjukkan sikap kurang menghargai perbedaan, baik Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt dalam konteks pendapat maupun dalam aktivitas sosial di sekolah. Faktor lingkungan, pengaruh media digital, dan kurangnya pembiasaan langsung menjadi tantangan utama dalam proses penanaman nilai. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui sinergi antara guru, siswa, dan pihak sekolah agar nilai-nilai Islam dapat benar-benar diinternalisasi dan diwujudkan dalam perilaku nyata (Rahman, 2. Pentingnya penelitian ini terletak pada upaya mengkaji secara mendalam bagaimana proses implementasi nilai-nilai Islam dilakukan di MTs Al-Ishlahiyah Binjai dalam menumbuhkan sikap toleransi siswa. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya untuk terus memperkuat budaya toleransi di lingkungan Dengan demikian, lembaga pendidikan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga pusat pembinaan karakter yang menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan universal (Fadhilah, 2. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya literatur tentang pendidikan karakter berbasis Islam, khususnya dalam konteks pembentukan sikap sosial dan toleransi di tingkat madrasah. Kajian ini penting dilakukan mengingat toleransi merupakan salah satu nilai fundamental dalam ajaran Islam yang sering kali terabaikan dalam praktik pendidikan formal. Melalui pemahaman yang komprehensif tentang nilai-nilai Islam dan implementasinya di lingkungan madrasah, diharapkan tercipta suasana belajar yang harmonis dan berlandaskan semangat persaudaraan antarsesama (Wulandari, 2. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini berfokus pada tiga rumusan masalah utama, yaitu: bagaimana bentuk implementasi nilai-nilai Islam dalam menumbuhkan sikap toleransi di lingkungan MTs Al-Ishlahiyah Binjai, apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya, serta bagaimana dampak penerapan nilai-nilai Islam tersebut terhadap sikap sosial dan karakter peserta didik di lingkungan madrasah (Rahman, 2023. Nurhayati, 2. KAJIAN TEORI Implementasi Nilai-Nilai Islam Implementasi nilai-nilai Islam merupakan proses penerapan ajaran dan prinsip-prinsip Islam ke dalam tindakan nyata dalam kehidupan individu maupun Dalam konteks pendidikan, implementasi ini diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran, pembiasaan, serta keteladanan yang mencerminkan nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan kasih sayang. Penerapan nilai-nilai ini tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga dalam seluruh aktivitas madrasah, sehingga peserta didik terbiasa hidup sesuai tuntunan Islam. Menurut Fadli . , implementasi nilai Islam di sekolah harus bersifat holistik, mencakup dimensi spiritual, moral, dan sosial agar menghasilkan manusia yang utuh secara kepribadian. Pendidikan nilai dalam Islam berakar dari prinsip tauhid, yaitu pengakuan terhadap keesaan Allah yang menjadi dasar moralitas dan perilaku manusia. Nilainilai Islam yang ditanamkan melalui proses pendidikan harus mampu mengintegrasikan dimensi iman, ilmu, dan amal dalam diri peserta didik. Hal ini ditegaskan oleh Hidayat . yang menyatakan bahwa pendidikan Islam berfungsi membentuk manusia berakhlak dan berkarakter dengan menjadikan nilai-nilai QurAoani sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, implementasi nilai91 Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt nilai Islam bukan sekadar aktivitas kognitif, tetapi juga transformasi sikap dan tindakan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Proses implementasi nilai-nilai Islam dalam lembaga pendidikan juga memerlukan strategi yang sistematis dan terencana. Guru berperan sebagai pelaksana utama yang mentransformasikan nilai-nilai Islam melalui pembelajaran dan teladan perilaku. Lingkungan sekolah berfungsi sebagai media sosialisasi nilai, sementara kurikulum menjadi panduan operasional penerapan nilai-nilai Menurut Anshari . , pendekatan pembelajaran berbasis nilai . aluebased learnin. terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman spiritual dan moral peserta didik, terutama bila diintegrasikan dalam seluruh kegiatan Dengan demikian, implementasi nilai Islam tidak boleh terpisah dari keseluruhan sistem pendidikan. Selain strategi, faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi nilai-nilai Islam. Sekolah yang memiliki budaya religius kuat cenderung lebih berhasil dalam membentuk perilaku Islami siswa dibandingkan sekolah yang hanya menekankan aspek formalitas keagamaan. Penelitian yang dilakukan oleh Rafiq . menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah, interaksi harmonis antara guru dan siswa, serta kegiatan sosial keagamaan yang konsisten mampu menumbuhkan kesadaran moral dan spiritual di kalangan peserta didik. Oleh sebab itu, implementasi nilai-nilai Islam harus dikelola melalui pendekatan yang melibatkan seluruh komponen sekolah secara Lebih lanjut, implementasi nilai-nilai Islam tidak berhenti pada proses pendidikan formal, melainkan juga harus diinternalisasi dalam kehidupan sosial peserta didik. Nilai-nilai seperti ukhuwah, keadilan, dan kepedulian sosial perlu dihidupkan agar siswa mampu berperan positif dalam masyarakat. Dalam konteks madrasah, nilai-nilai Islam harus diarahkan pada pembentukan insan yang berkarakter rahmatan lil Aoalamin, yaitu manusia yang membawa manfaat dan kedamaian bagi sesamanya. Sebagaimana ditegaskan oleh Maulana . , internalisasi nilai Islam dalam pendidikan menuntut adanya sinergi antara guru, keluarga, dan lingkungan sosial agar terbentuk generasi yang berakhlak dan Sikap Toleransi Sikap toleransi merupakan salah satu nilai universal yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan beragama. Dalam perspektif Islam, toleransi . adalah wujud dari akhlak mulia yang didasari oleh rasa saling menghormati dan menghargai perbedaan. Toleransi tidak berarti menyamakan keyakinan, tetapi mengakui keberagaman sebagai bagian dari kehendak Allah SWT. Dalam konteks pendidikan, sikap toleransi harus ditanamkan sejak dini agar peserta didik terbiasa hidup harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. Menurut Prasetyo . , pendidikan toleransi berperan penting dalam mencegah munculnya konflik sosial dan meningkatkan solidaritas antarindividu di sekolah. Penanaman sikap toleransi di madrasah sangat relevan dengan tujuan pendidikan Islam yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian. Guru memiliki peran besar dalam membentuk budaya toleransi melalui pengajaran, pembiasaan, dan keteladanan. Misalnya, dengan memberikan ruang bagi perbedaan pendapat di kelas, membimbing siswa dalam menyelesaikan konflik secara damai, serta menanamkan nilai menghargai sesama tanpa diskriminasi. Berdasarkan temuan penelitian oleh Sari . , siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis karakter Islam menunjukkan tingkat empati dan penghargaan terhadap perbedaan Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang tidak mendapat penguatan nilai Sikap toleransi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial sekolah. Lingkungan madrasah yang mengedepankan kebersamaan, kerja sama, dan saling menghormati dapat menjadi wadah yang efektif dalam membentuk karakter toleran siswa. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Kurniawan . yang menunjukkan bahwa interaksi sosial yang harmonis antar siswa dengan latar belakang berbeda mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan secara damai. Dengan demikian, sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya sikap toleransi. Selain lingkungan sekolah, peran kurikulum juga sangat penting dalam menanamkan sikap toleransi. Kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai-nilai Islam mampu menumbuhkan pemahaman siswa tentang pentingnya menghargai perbedaan. Pendidikan yang berbasis nilai religius mendorong siswa untuk bersikap terbuka, adil, dan empatik terhadap orang lain. Menurut Fitria . , kurikulum berbasis nilai Islam yang dirancang secara kontekstual dapat menjadi sarana efektif untuk membangun sikap toleransi sekaligus memperkuat keimanan siswa. Di era digital saat ini, penanaman nilai toleransi menghadapi tantangan besar akibat pengaruh media sosial yang sering memunculkan ujaran kebencian dan polarisasi. Oleh karena itu, pendidikan di madrasah harus mampu mengarahkan peserta didik agar bijak dalam bermedia dan menanamkan etika Islam dalam komunikasi digital. Pembelajaran yang berorientasi pada literasi moral dan digital diharapkan mampu mengembangkan toleransi yang tidak hanya bersifat sosial tetapi juga berskala global. Sebagaimana dinyatakan oleh Azmi . , penguatan nilai toleransi berbasis Islam di era digital dapat menjadi benteng moral dalam menghadapi arus informasi yang destruktif dan intoleran. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam proses implementasi nilai-nilai Islam dalam menumbuhkan sikap toleransi di lingkungan MTs Al-Ishlahiyah Binjai. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggambarkan realitas sosial secara naturalistik dan kontekstual melalui pemaknaan yang diberikan oleh partisipan terhadap fenomena yang mereka alami. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori studi lapangan . ield researc. , di mana peneliti terjun langsung ke lokasi untuk mengamati dan mewawancarai subjek penelitian, yakni guru Pendidikan Agama Islam, kepala madrasah, serta peserta didik kelas Vi dan IX. Lokasi penelitian ditetapkan di MTs Al-Ishlahiyah Binjai karena lembaga ini merupakan salah satu madrasah yang aktif menerapkan pembinaan karakter Islami dan memiliki program penguatan toleransi dalam kegiatan sekolah. Menurut Sugiyono . , penelitian kualitatif menekankan pada pemahaman makna dan proses, bukan sekadar hasil, sehingga cocok untuk mengkaji praktik pendidikan dan nilai-nilai sosial keagamaan yang bersifat kontekstual. Data penelitian dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan menggunakan pedoman wawancara semi-terstruktur agar peneliti dapat menggali informasi secara terbuka namun tetap terarah. Analisis data dilakukan dengan mengikuti model Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang meliputi tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Untuk memastikan Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, di mana data dari guru, siswa, dan dokumen sekolah dibandingkan guna memperoleh hasil yang valid dan dapat dipercaya. Proses analisis dilakukan secara simultan sejak pengumpulan data hingga tahap interpretasi akhir. Seluruh kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dengan memperhatikan etika penelitian pendidikan, seperti menjaga kerahasiaan responden dan menghindari interpretasi subjektif (Creswell & Guetterman, 2020. Arikunto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Implementasi Nilai-Nilai Islam dalam Menumbuhkan Sikap Toleransi di MTs Al-Ishlahiyah Binjai Implementasi nilai-nilai Islam di MTs Al-Ishlahiyah Binjai terlihat nyata dalam keseharian peserta didik melalui kegiatan pembiasaan dan program keagamaan yang terstruktur. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, dan saling menghargai ditanamkan sejak awal masuk sekolah melalui kegiatan orientasi Islami dan pembiasaan ibadah bersama. Guru PAI menjadi figur sentral yang mengarahkan perilaku siswa melalui nasihat dan teladan. Penelitian oleh Amalia . menunjukkan bahwa keteladanan guru berperan besar dalam membentuk perilaku religius dan sosial siswa di madrasah, karena siswa cenderung meniru perilaku guru dalam berinteraksi dan beribadah. Proses pembelajaran PAI juga diintegrasikan dengan nilai-nilai kehidupan yang menekankan pentingnya toleransi dan saling menghormati. Guru PAI di MTs Al-Ishlahiyah Binjai menggunakan metode diskusi, studi kasus, dan refleksi untuk mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini selaras dengan hasil penelitian MaAoruf . , yang menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis nilai-nilai Islam dapat meningkatkan pemahaman moral serta kesadaran sosial siswa. Dengan demikian, pendidikan agama tidak berhenti pada ranah kognitif, tetapi juga membentuk kebiasaan perilaku. Selain dalam pembelajaran formal, nilai-nilai Islam diimplementasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan keagamaan seperti tadarus pagi, shalat dhuha berjamaah, serta peringatan hari besar Islam. Kegiatan ini berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai Islam yang menumbuhkan sikap saling menghormati dan kerja sama di antara siswa. Sebagaimana dikemukakan oleh Rahmawati . , kegiatan keagamaan yang berkesinambungan di sekolah berperan efektif dalam menanamkan nilai toleransi karena melibatkan interaksi sosial lintas kelompok dalam bingkai keagamaan yang sama. MTs Al-Ishlahiyah Binjai juga menerapkan pendekatan Auhidden curriculumAy atau kurikulum tersembunyi, di mana nilai-nilai Islam disisipkan dalam aturan, tata tertib, dan budaya sekolah. Misalnya, aturan salam setiap pagi, pembiasaan berdoa sebelum belajar, serta kewajiban menjaga kebersihan dan ketertiban Budaya sekolah yang religius ini menjadi wadah bagi siswa untuk belajar menghormati sesama dan menanamkan disiplin diri. Menurut Sulastri . , pembentukan budaya religius di sekolah Islam memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter dan toleransi siswa terhadap Implementasi nilai-nilai Islam juga dilakukan melalui kolaborasi antara guru, kepala madrasah, dan orang tua. Sekolah menjalin komunikasi dengan orang tua untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang diajarkan di sekolah selaras dengan yang diterapkan di rumah. Kolaborasi ini penting agar proses internalisasi nilai berjalan konsisten. Penelitian oleh Halim . mengungkapkan bahwa Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt sinergi antara sekolah dan keluarga mempercepat proses pembentukan karakter Islami dan memperkuat sikap sosial positif siswa. Selain aspek kegiatan dan kolaborasi, evaluasi juga menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai Islam. Guru melakukan penilaian tidak hanya berdasarkan hasil akademik, tetapi juga perilaku sosial siswa, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama. Evaluasi ini sejalan dengan pendekatan penilaian autentik yang menilai keutuhan karakter peserta didik (Fitria, 2. Pendekatan ini membantu madrasah memahami perkembangan spiritual dan sosial siswa secara lebih menyeluruh. Implementasi nilai-nilai Islam juga mendapat dukungan dari kepemimpinan kepala madrasah yang berorientasi pada pembinaan karakter. Kepala sekolah berperan sebagai penggerak budaya religius dengan memberikan teladan, pengawasan, dan dukungan kebijakan terhadap program keagamaan. Menurut Azizah . , kepemimpinan religius kepala sekolah menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi pendidikan berbasis nilai di madrasah karena mampu menciptakan iklim spiritual yang kondusif. Secara keseluruhan, implementasi nilai-nilai Islam di MTs Al-Ishlahiyah Binjai berjalan melalui pendekatan terpadu antara kegiatan pembelajaran, pembiasaan, budaya sekolah, dan kolaborasi dengan orang tua. Upaya ini berhasil menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya hidup rukun, menghargai perbedaan, serta menjadikan Islam sebagai pedoman moral dan sosial dalam berinteraksi dengan sesama. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Implementasi Nilai-Nilai Islam di MTs Al-Ishlahiyah Binjai Faktor pendukung utama implementasi nilai-nilai Islam di MTs AlIshlahiyah Binjai adalah adanya budaya religius yang kuat di lingkungan Budaya ini tercermin dari kebiasaan siswa dalam berinteraksi secara santun, menghargai guru, dan bekerja sama dengan teman. Lingkungan yang religius menjadi fondasi dalam membentuk perilaku toleran. Menurut Rukmana . , budaya sekolah yang berlandaskan nilai keagamaan memperkuat moralitas siswa karena nilai tersebut terinternalisasi melalui kebiasaan dan keteladanan, bukan sekadar pengajaran verbal. Peran guru PAI juga menjadi faktor pendukung penting. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga model perilaku Islami bagi peserta didik. Guru di MTs Al-Ishlahiyah Binjai secara aktif menanamkan nilai kasih sayang, empati, dan toleransi melalui interaksi sehari-hari. Sebagaimana dikemukakan oleh Setiawan . , guru berfungsi sebagai agen moral yang mentransfer nilai-nilai Islam melalui komunikasi, tindakan, dan keteladanan, sehingga berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter siswa. Selain guru, dukungan kepala madrasah dalam menciptakan kebijakan berbasis nilai juga sangat penting. Kepala madrasah memberikan kebijakan yang mendorong setiap kegiatan sekolah berorientasi pada pembinaan akhlak dan Kepemimpinan yang religius menciptakan suasana kerja yang harmonis dan memotivasi guru untuk menjadi teladan. Menurut Qadri . , keberhasilan pendidikan karakter di sekolah Islam sangat bergantung pada gaya kepemimpinan yang visioner dan berorientasi nilai. Faktor lingkungan keluarga juga mendukung proses penanaman nilai-nilai Islam di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa di MTs Al-Ishlahiyah Binjai mendukung kegiatan keagamaan dan pembiasaan yang diterapkan madrasah. Kolaborasi ini memperkuat kesinambungan antara nilai yang diajarkan di sekolah Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt dan di rumah. Penelitian Syarif . menunjukkan bahwa kesesuaian nilai pendidikan antara keluarga dan sekolah berpengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter dan toleransi siswa. Namun demikian, implementasi nilai-nilai Islam tidak lepas dari hambatan. Salah satu hambatan utama adalah pengaruh negatif media sosial yang dapat memunculkan perilaku intoleran di kalangan remaja. Siswa terkadang terpapar konten yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti ujaran kebencian atau fanatisme sempit. Menurut Nisa . , media sosial dapat menjadi tantangan serius bagi pendidikan Islam jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang berbasis nilai moral. Keterbatasan waktu dalam kurikulum juga menjadi hambatan lain. Jadwal pembelajaran yang padat membuat guru kesulitan mengintegrasikan pendidikan nilai secara menyeluruh. Sebagaimana dijelaskan oleh Farhan . , pendidikan karakter sering kali tidak memperoleh porsi yang cukup dalam kurikulum, sehingga penerapannya membutuhkan kreativitas guru untuk mengaitkan nilai Islam dengan mata pelajaran lainnya. Selain itu, masih terdapat sebagian siswa yang memiliki latar belakang keluarga kurang religius, sehingga nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah tidak selalu sejalan dengan kebiasaan di rumah. Hal ini menimbulkan kesenjangan nilai yang perlu dijembatani. Menurut Nabila . , pendidikan nilai akan efektif bila ada kesinambungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tanpa dukungan lingkungan yang konsisten, proses internalisasi nilai cenderung melemah. Meskipun menghadapi beberapa kendala, upaya kolaboratif antara guru, kepala madrasah, dan orang tua di MTs Al-Ishlahiyah Binjai telah berhasil meminimalisir hambatan tersebut. Sekolah terus melakukan inovasi pembelajaran dan penguatan karakter berbasis nilai Islam agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal. Dampak Penerapan Nilai-Nilai Islam terhadap Sikap Sosial dan Karakter Peserta Didik di MTs Al-Ishlahiyah Binjai Penerapan nilai-nilai Islam di MTs Al-Ishlahiyah Binjai menunjukkan dampak positif terhadap pembentukan sikap sosial siswa. Para siswa menjadi lebih sopan, disiplin, dan menghargai sesama. Mereka terbiasa untuk meminta maaf, bekerja sama dalam kegiatan kelompok, serta saling membantu dalam kegiatan keagamaan. Menurut Anjani . , pendidikan berbasis nilai Islam terbukti meningkatkan empati dan kepekaan sosial siswa, terutama ketika nilainilai tersebut dipraktikkan dalam kegiatan nyata di lingkungan sekolah. Dampak lainnya terlihat dari meningkatnya sikap toleransi antar siswa. Siswa yang sebelumnya kurang peduli terhadap perbedaan pendapat kini lebih terbuka untuk berdiskusi dan menghargai pandangan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa nilai Islam berhasil menumbuhkan kesadaran sosial dalam diri peserta didik. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasyid . , penanaman nilainilai Islam yang menekankan ukhuwah dan kasih sayang dapat memperkuat hubungan sosial serta mengurangi potensi konflik antar siswa. Selain itu, penerapan nilai Islam juga memperkuat karakter religius siswa. Mereka lebih rajin dalam menjalankan ibadah seperti shalat dan membaca AlQurAoan, serta menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab. Hasil penelitian dari Munawar . mengungkapkan bahwa pembiasaan ibadah rutin di madrasah memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan perilaku religius dan moral Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt Dampak sosial lain yang diamati adalah meningkatnya solidaritas antar siswa lintas latar belakang ekonomi. Program seperti bakti sosial, santunan, dan kegiatan gotong royong menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama. Menurut Lestari . , pembelajaran yang mengintegrasikan nilai sosial Islam seperti taAoawun . olong menolon. dan ukhuwah . mampu membangun empati dan rasa keadilan sosial di kalangan siswa. Penerapan nilai-nilai Islam juga memengaruhi iklim sekolah secara Lingkungan madrasah menjadi lebih harmonis, penuh penghormatan, dan jauh dari perilaku kekerasan verbal. Kepala madrasah dan guru berperan aktif dalam menjaga atmosfer positif ini melalui komunikasi yang humanis dan pembinaan rutin. Studi oleh Indrawan . menunjukkan bahwa iklim sekolah yang berlandaskan nilai Islam mendorong tumbuhnya kepribadian sosial yang sehat dan menghargai perbedaan. Selain manfaat, beberapa siswa juga mengakui bahwa penerapan nilainilai Islam membuat mereka lebih mudah beradaptasi di lingkungan masyarakat yang heterogen. Mereka belajar menerima keberagaman sebagai bagian dari Temuan ini sejalan dengan penelitian RofiAoi . , yang menyatakan bahwa pendidikan karakter berbasis Islam mampu membentuk toleransi yang bersifat universal, melampaui batas agama dan budaya. Lebih jauh, siswa MTs Al-Ishlahiyah Binjai menunjukkan peningkatan prestasi akademik yang signifikan karena nilai disiplin dan tanggung jawab turut terbentuk melalui pendidikan Islam. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zubaidah . , yang menemukan bahwa internalisasi nilai Islam berpengaruh terhadap motivasi belajar dan prestasi akademik siswa sekolah menengah berbasis agama. Secara keseluruhan, penerapan nilai-nilai Islam di MTs Al-Ishlahiyah Binjai tidak hanya berdampak pada peningkatan religiusitas siswa, tetapi juga memperkuat karakter sosial, toleransi, dan tanggung jawab moral. Pendidikan berbasis nilai terbukti menjadi strategi efektif dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan siap hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa implementasi nilai-nilai Islam di MTs Al-Ishlahiyah Binjai telah terlaksana secara efektif melalui proses pembelajaran, pembiasaan kegiatan keagamaan, dan penguatan budaya sekolah yang religius. Nilai-nilai seperti kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan toleransi diintegrasikan dalam setiap aktivitas sekolah, baik formal maupun nonformal, dengan dukungan penuh dari guru, kepala madrasah, serta orang tua. Faktor pendukung utama keberhasilan implementasi ini meliputi kepemimpinan religius, kolaborasi antara pihak sekolah dan keluarga, serta lingkungan madrasah yang kondusif, sedangkan hambatan yang muncul antara lain pengaruh negatif media sosial dan keterbatasan waktu Secara keseluruhan, penerapan nilai-nilai Islam terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan sikap sosial, religiusitas, dan toleransi peserta didik, menjadikan madrasah ini sebagai lingkungan pendidikan yang menanamkan nilai kemanusiaan universal berbasis ajaran Islam, sesuai dengan semangat pendidikan karakter nasional. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 89 - 99 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt SARAN Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar MTs Al-Ishlahiyah Binjai terus memperkuat program pembinaan karakter berbasis nilai-nilai Islam dengan pendekatan yang lebih inovatif dan kontekstual, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital. Guru PAI perlu terus meningkatkan kompetensi pedagogik dan literasi moral agar mampu mengaitkan ajaran Islam dengan realitas sosial yang dihadapi siswa. Selain itu, peran keluarga dan masyarakat juga harus dioptimalkan melalui komunikasi dan kerja sama berkelanjutan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama di lingkungan siswa. Pemerintah serta lembaga pendidikan Islam diharapkan mendukung upaya ini dengan menyediakan pelatihan, sumber belajar, dan kebijakan yang berorientasi pada penguatan karakter berbasis nilai Islam agar tujuan pendidikan yang humanis, religius, dan inklusif dapat terwujud secara berkesinambungan. DAFTAR PUSTAKA