752 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Mandi Balimau Gedang: Tradisi Penyucian Diri dan Warisan Budaya Masyarakat Jambi Yoga Pratama1*. Arrum Dwi Wahyuni2. Laisya Okta Preyera3. Nadia Putri4. Susanti5. Febri Nur Salamah6. Rifda Afifah7. Maya Sari8. Nopitasari9. Rinta Alfiana10. Lusha Natasya11. Shofy Ilaina12. Husnul Khatimah13. Niken Ananda14. Valina Julia Cahyani15. Sandrina Dwi Melany16. Ema Nur Amalia17 Universitas Jambi. Indonesia *E-mail: ygpa666@gmail. Article History: Received: 13 Maret 2025 Revised: 30 April 2025 Accepted: 03 Mei 2025 Keywords: Mandi Balimau Gedang, tradisi, ritual, pelestarian budaya. Jambi Abstract: Mandi Balimau Gedang adalah tradisi masyarakat Dusun Jambu. Kecamatan Tebo Ulu. Kabupaten Tebo. Provinsi Jambi, yang diwariskan secara turun-temurun. Ritual ini memiliki makna sakral sebagai bentuk penyucian diri sebelum Ramadan dan perlindungan dari marabahaya. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka dan wawancara mendalam terhadap dukun setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain sebagai ritual keagamaan, tradisi ini juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. Namun, modernisasi dan eksploitasi sumber daya alam menjadi tantangan dalam menjaga keasliannya. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian agar tradisi ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman. PENDAHULUAN Mandi Balimau Gedang adalah warisan tradisional yang dirayakan setiap tahun oleh masyarakat Desa Teluk Kembang Jambu. Kecamatan Tebo Ulu. Kabupaten Tebo. Provinsi Jambi. Acara ini menandai ulang tahun desa yang secara tradisional dirayakan pada bulan April. Upacara ini berlangsung di Danau Sigombak dan mencakup ritual mandi dengan air yang dicampur AulimauAy atau lemon sebagai cara untuk membersihkan secara fisik dan spiritual sebelum bulan suci Ramadan. Istilah AubalimauAy berasal dari Melayu yang berarti Aumandi dengan Ay Diyakini bahwa menggunakan limau selama ritual membersihkan kotoran fisik dan energi negatif sehingga semua yang melakukannya keluar dalam keadaan spiritual yang segar untuk menyambut Ramadan. Selain konteks religius spesifiknya. Mandi Balimau Gedang memiliki dimensi sosial yang Ritual ini berfungsi sebagai sarana bagi masyarakat untuk berkumpul, memperkuat ikatan sosial, dan melestarikan warisan budaya nenek moyang. Namun, seperti dalam masyarakat kontemporer mana pun, praktik ini menghadapi banyak tantangan seperti komodifikasi dan erosi nilai-nilai budaya. Misalnya, ada tanda-tanda bahwa ritual ini mungkin dilakukan sebagai bentuk daya tarik wisata, yang akan mengubah makna sucinya menjadi sekadar tontonan. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 METODE Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka dan wawancara mendalam. Tinjauan pustaka mencakup jurnal, buku, artikel surat kabar, dan dokumen resmi lainnya yang menganalisis tradisi Mandi Balimau Gedang dilakukan untuk menganalisis sumber tertulis tentang tradisi Mandi Balimau Gedang, sementara wawancara dengan dukun digunakan untuk mengumpulkan pengetahuan mendalam tentang sejarah, filosofi, dan prosedur yang terlibat dalam pelaksanaan Mandi Balimau Gedang. Pendekatan ini bertujuan untuk tidak hanya memahami konsep dan studi sebelumnya tentang tradisi ini, tetapi juga memberikan makna dan memahami simbolisme serta pengalaman dari pelaku ritual tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Mandi Balimau Gedang merupakan tradisi masyarakat Dusun Jambu. Kecamatan Tebo Ulu. Kabupaten Tebo. Jambi, yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ritual ini memiliki makna sakral sebagai bentuk penyucian diri dan perlindungan dari marabahaya. Berbeda dengan tradisi Mandi Balimau di daerah lain yang biasanya dilakukan menjelang Ramadan. Mandi Balimau Gedang di Dusun Jambu memiliki sejarah unik yang berawal dari upaya masyarakat mengatasi wabah penyakit. Menurut Nenek Mislaini, seorang dukun yang bertanggung jawab atas ritual ini, tradisi Mandi Balimau Gedang bermula ketika Dusun Jambu mengalami wabah penyakit yang disebut Penyakit ini menyebabkan banyak warga desa mengalami demam berkepanjangan hingga meninggal dunia. Untuk mengatasi wabah tersebut, seorang dukun desa mengadakan ritual penyucian menggunakan bahan-bahan alami yang diperoleh dari hutan, seperti dedaunan dan kayu-kayuan yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Setelah semua bahan terkumpul, dukun membunyikan gong atau tetawak sebagai tanda berkumpulnya warga di Danau Sigombak, tempat ritual berlangsung. Ritual ini dipercaya berhasil menyucikan desa dan menghilangkan wabah, sehingga terus dilakukan hingga saat ini. Pelaksanaan Mandi Balimau Gedang dimulai dengan pemanggilan warga menggunakan gong atau tetawak. Setelah semua berkumpul di sekitar Danau Sigombak, dukun membacakan doa-doa atau jampi-jampi di area sekitar danau untuk memohon perlindungan serta membersihkan desa dari energi negatif. Setelah doa selesai, warga naik ke perahu besar dan secara bersama-sama melakukan ritual mandi di tengah danau. Air danau yang bercampur dengan bahan-bahan alami dipercaya sebagai sarana penyucian diri, baik secara fisik maupun spiritual. Selain ritual mandi, masyarakat Dusun Jambu juga memiliki pantangan atau larangan yang harus dipatuhi agar terhindar dari bencana. Larangan ini mencakup tidak boleh mengambil sayur pakis, rebung, membunuh makhluk hidup seperti ayam atau sapi, serta tidak boleh menangkap ikan lalu membunuhnya. Jika pantangan ini dilanggar, dipercaya akan ada konsekuensi serius seperti muntah darah hingga berujung kematian. Keyakinan ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat hingga kini, meskipun modernisasi mulai masuk ke wilayah mereka. Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa aspek dalam tradisi Mandi Balimau Gedang mengalami perubahan. Jika dahulu ritual ini dilakukan sebagai bentuk penyucian diri, kini sebagian pihak juga melihatnya sebagai aset budaya yang berpotensi menjadi daya tarik Namun, perubahan lingkungan menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan ritual ini. Bahan alami yang digunakan semakin sulit ditemukan akibat deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam. Meski demikian, masyarakat Dusun Jambu tetap berusaha menjaga keaslian ritual ini dengan mempertahankan nilai-nilai tradisional yang diwariskan oleh leluhur mereka. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Tradisi Mandi Balimau Gedang bukan sekadar praktik budaya, tetapi juga mencerminkan hubungan erat masyarakat dengan alam serta kepercayaan mereka terhadap keseimbangan Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyucian diri, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan usaha menjaga keharmonisan dengan alam. Keberlanjutan tradisi ini bergantung pada kesadaran masyarakat untuk mempertahankan warisan budaya mereka di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, perlu ada dukungan dari berbagai pihak agar tradisi ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. KESIMPULAN Tradisi Mandi Balimau Gedang merupakan warisan budaya yang memiliki makna sakral dan fungsi sosial bagi masyarakat Dusun Jambu. Ritual ini tidak hanya menjadi simbol penyucian diri tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur dan hubungan harmonis dengan alam. Namun, tantangan seperti komodifikasi dan kelangkaan bahan alami akibat deforestasi mengancam kelestariannya. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan akademisi diperlukan untuk menjaga keaslian ritual ini agar tetap lestari bagi generasi mendatang. DAFTAR REFERENSI Afriyanti. Esensi Mandi Balimau dalam Tradisi Kenduri Sko di Semurup sebagai interaksi simbolik. Musala: Jurnal Pesantren dan Kebudayaan Islam Nusantara, 2. , 3147. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Mandi Balimau Gedang. Diakses dari https://budayadata. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Mandi Balimau Gedang Teluk Kembang Jambu. Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Mandi Balimau Gedang. Jadesta: Jaringan Desa Wisata. Diakses dari https://jadesta. RRI. Mandi Balimau, tradisi penuh makna warisan leluhur. RRI. Utama. Komodifikasi ritual Mandi Balimau Gedang di Desa Teluk Kembang Jambu Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo (Skripsi. Institut Seni Indonesia Padangpanjan. Wawancara dengan Nenek Mislaini, dukun Dusun Jambu. Tebo. Jambi, pada 10 Maret 2025. ISSN : 2828-5700 .