Room of Civil Society Development DOI: https://doi.org/10.59110/rcsd.733 Volume 4 Issue 5, Year 2025 Pengembangan Usaha Gula Merah Nira Sawit di Maredan Barat Kecamatan Tualang Kabupaten Siak Fara Merian Sari1, Dian Rianita1, Alexsander Yandra1, Afni Zulkifli1 Ridho Ramadhan Arfi1*, Nurul Azzurah1, 1Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Indonesia *Correspondence: ridhoramadhanarfi2003@gmail.com ABSTRACT This community service activity was conducted in Maredan Barat Village with the aim of improving housewives’ understanding of palm sap processing into hygienic and economically valuable palm sugar. The method applied was socialization through lectures and discussions focusing on production stages, product diversification opportunities, and business challenges. Participants gained insights into the nutritional content and potential of palm sap as raw material for various products, including palm sugar, syrup, and bioethanol. The results indicate increased understanding of the importance of hygienic practices, innovative packaging, and marketing strategies. Furthermore, discussions highlighted key challenges faced by producers, such as limited raw materials, high supporting costs, difficulties in obtaining permits, and weak distribution strategies. Although no quantitative measurement was conducted, the socialization proved to be an important initial step in strengthening community capacity to develop palm sugar enterprises more productively and sustainably. Keywords: Community Service; MSMEs; Palm Sap; Palm Sugar; Socialization. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Maredan Barat dengan tujuan meningkatkan pemahaman ibu rumah tangga mengenai pengolahan nira sawit menjadi gula merah yang higienis dan bernilai ekonomi. Metode yang digunakan adalah sosialisasi melalui ceramah dan diskusi yang menekankan tahapan produksi, peluang diversifikasi, serta tantangan dalam usaha. Peserta memperoleh wawasan tentang kandungan gizi dan potensi nira sawit sebagai bahan baku produk olahan, termasuk gula merah, sirup, dan bioetanol. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya menjaga higienitas proses, inovasi pengemasan, dan strategi pemasaran. Selain itu, diskusi juga menyoroti kendala utama produsen, seperti keterbatasan bahan baku, tingginya biaya, sulitnya memperoleh izin, serta lemahnya strategi distribusi. Meskipun kegiatan ini tidak melibatkan pengukuran kuantitatif, sosialisasi terbukti menjadi langkah awal yang signifikan dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengembangkan usaha gula merah nira sawit secara lebih produktif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Gula Merah; Nira Sawit; Pengabdian Masyarakat; Sosialisasi; UMK. Copyright © 2025 The Author(s): This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) 849 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development 1. Pendahuluan Indonesia merupakan negara agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah kelapa sawit. Di Desa Maredan Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, masyarakat masih banyak bergantung pada komoditas ini, termasuk dalam pemanfaatan batang kelapa sawit untuk produksi nira. Meskipun potensi nira sawit cukup besar, praktik penyadapan dan pengolahan yang dilakukan sebagian besar petani masih bersifat tradisional. Dalam pendataan yang disampaikan oleh Wardi (2021), meskipun pohon kelapa sawit di wilayah ini memiliki produktivitas yang tinggi dan potensi besar dalam menghasilkan nira, praktik penyadapan dan pengolahan yang belum optimal membuat potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Akibatnya, produksi gula merah dari nira sawit masih rendah, kualitasnya belum konsisten, dan peluang pasar belum tergarap secara menyeluruh. Kondisi agroekosistem di Maredan Barat menunjukkan luasnya lahan sawit yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nira dalam jumlah besar. Namun, sebagian besar petani belum memiliki keterampilan teknis dalam penyadapan, pengolahan gula merah yang higienis, dan penerapan standar mutu. Syaflita dkk (2022) menyatakan bahwa keterbatasan pengetahuan teknis dan minimnya fasilitas pendukung menjadi hambatan utama dalam optimalisasi produksi. Hambatan lainnya terletak pada aspek pemasaran, di mana kapasitas manajemen usaha, akses informasi pasar, dan jaringan distribusi belum berjalan secara optimal, sehingga produk lokal sulit menjangkau pasar yang lebih luas. Padahal, gula merah dari nira sawit memiliki prospek pasar yang menjanjikan seiring meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk yang alami dan lebih sehat. Gula merah sering dianggap sebagai alternatif yang lebih baik dibandingkan gula putih, baik dari segi cita rasa maupun manfaat kesehatan. Namun, untuk menangkap peluang ini dibutuhkan transformasi dari pola produksi rumah tangga menjadi sistem usaha yang lebih terstruktur dan efisien. Peningkatan kapasitas pelaku usaha, baik dari sisi teknis produksi maupun manajemen usaha dan pemasaran, menjadi kunci agar produk gula merah dari nira sawit mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada petani dan pelaku UMKM tentang proses penyadapan dan pengolahan gula merah dari nira sawit yang higienis dan bernilai jual, serta membekali mereka dengan strategi manajemen usaha dan pemasaran yang relevan. Dalam analisis yang disampaikan oleh Hardiansyah dan Batubara (2022), pelaksanaan program ini mencakup pelatihan penyadapan yang tepat, teknik pengolahan yang sesuai standar higienis, serta penerapan prinsip mutu dan keamanan pangan. Di sisi lain, Simatupang, et al., (2022) menekankan pentingnya pengenalan strategi pemasaran berbasis kebutuhan pasar lokal dan potensi nasional untuk memperluas jaringan distribusi dan penetrasi pasar. Lebih jauh, kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar dapat memanfaatkan potensi lahan dan pohon kelapa sawit secara optimal, serta mengatasi berbagai tantangan produksi dan pemasaran. Pratiwi, Millaty, dan Dewi (2022) menegaskan bahwa upaya pengembangan produk gula aren perlu diarahkan pada peningkatan kualitas, inovasi atribut produk, dan penguatan jejaring usaha yang berkelanjutan. Dengan demikian, gula merah dari nira sawit diharapkan tidak hanya menjadi alternatif sumber pendapatan, tetapi juga instrumen peningkatan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi keluarga. Rencana implementasi dirancang secara bertahap, dimulai dari identifikasi kebutuhan lokal, pelatihan teknis, pendampingan intensif, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang sesuai dengan budaya setempat. Amalia dkk (2023) menjelaskan 850 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development bahwa evaluasi program dilakukan secara berkelanjutan untuk mengukur peningkatan keterampilan penyadapan, efisiensi proses produksi, dan efektivitas strategi pemasaran. Harapan dari program ini mencakup peningkatan kualitas produk, peningkatan volume produksi per pelaku usaha, serta penguatan jaringan pemasaran. Antika, Dur, dan Aprilia (2023) juga menyatakan bahwa program ini bukan sekadar upaya peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi gula merah sebagai produk nilai tambah yang belum tergarap secara optimal. Keterlibatan pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam keberhasilan program. Wijaya dkk (2024) berpendapat bahwa sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal akan membentuk ekosistem yang kondusif bagi inovasi, transfer teknologi, dan perluasan pasar. Pulungan, Dalimunthe, dan Rani (2024) turut menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor ini diharapkan memperkuat kapasitas usaha, kualitas produk, dan jejaring distribusi. Dalam pandangan kritis Indraningtyas, Yuliandari, dan Sari Anungputri (2023), program ini juga perlu mengedepankan prinsip keberlanjutan yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, sehingga gula merah dari nira sawit dapat menjadi contoh praktik pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dan bermanfaat lintas generasi. 2. Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan kegiatan ini dirancang untuk mendukung peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, mengenai potensi usaha pengolahan nira sawit menjadi produk bernilai ekonomi seperti gula merah, sirup, dan bioetanol. Kegiatan terbagi ke dalam dua fase utama, yaitu pra-kegiatan dan pelaksanaan. Pada fase pra-kegiatan, dilakukan wawancara eksploratif untuk menggali potensi lokal di Desa Maredan Barat. Wawancara ini difokuskan pada pengidentifikasian sumber daya alam berupa batang kelapa sawit yang sudah tidak produktif, serta pemetaan pelaku usaha lokal yang telah atau berpotensi mengembangkan olahan nira. Hasil wawancara dilengkapi dengan diskusi kelompok bersama ibu rumah tangga guna menyusun prioritas kebutuhan dan menyepakati topik sosialisasi yang paling relevan. Fase pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan ceramah dan diskusi interaktif. Materi yang disampaikan meliputi kandungan dan manfaat nira sawit, tahapan teknis pengolahan gula merah (mulai dari penyadapan hingga pengemasan), potensi diversifikasi produk, serta tantangan yang sering dihadapi produsen. Peserta diberikan contoh praktik kerja yang relevan, serta simulasi ringan melalui tayangan visual. Interaksi peserta difasilitasi dalam sesi tanya jawab, yang mengangkat isuisu riil seperti kesulitan bahan baku, biaya produksi, akses perizinan, serta strategi pemasaran. Evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui observasi langsung, catatan diskusi, dan tanggapan peserta, yang difokuskan pada peningkatan pemahaman, antusiasme partisipasi, dan munculnya inisiatif warga untuk mengembangkan usaha olahan nira sawit secara mandiri dan berkelanjutan. 851 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development Gambar 1. Alur Metode Pelaksanaan Sosialisasi Pengembangan Usaha Gula Merah Nira Sawit di Desa Maredan Barat 3. Hasil dan Pembahasan Nira sawit adalah cairan manis yang dibuat dari batang pohon kelapa sawit yang sudah tidak produktif atau akan ditebang. Nira sawit adalah cairan yang diekstraksi dari batang kelapa sawit (Elaeis guineensis) yang masih muda. Ditemukan dalam penelitian oleh Khabibulloh, Suhartatik and Mustofa, (2024) cairan ini diproduksi dari jaringan pengangkut air di dalam batang kelapa sawit. Nira sawit memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, sehingga dapat diolah menjadi berbagai produk olahan, seperti gula merah, gula kelapa, sirup, dan lain sebagainya. Selain itu, nira sawit juga memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, seperti vitamin C, asam amino, dan mineral, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri makanan dan minuman. Menurut Tritama dkk (2023) Seleksi mikroorganisme yang tepat, bahan baku murah dan mudah diakses, dan proses fermentasi yang optimal adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghasilkan bioetanol dengan kualitas tinggi. Nila sawit dapat diolah menjadi banyak produk, seperti: Ini adalah sumber gula alami yang tinggi, terutama glukosa: 3.1 Esensi Kandungan Nira Sawit No. 1. 2. 3. 4. Tabel 1. Kandungan yang dimiliki oleh Nira Sawit Kandungan Penjelasan Gula merah Gula merah sawit lebih gelap dan memiliki rasa yang khas sawit dibandingkan gula merah aren. Bisa digunakan sebagai pemanis alami untuk berbagai jenis makanan dan minuman. Bioetanol Ferrmentasi nila sawit dapat menghasilkan bioetanol, bahan bakar nabati yang ramah lingkungan. Sirup nira Sirup nira sawit memiliki rasa manis yang segar dan dapat sawit digunakan sebagai pemanis untuk waffle, es krim, atau pancake. Minuman Nira sawit dapat dibuat menjadi tuak nira dan banyak minuman fermentasi tradisional lainnya. Sumber: https://j-las.lemkomindo.org/index.php/J-LAS/article/download/628/737 852 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development Terutama di wilayah yang menghasilkan kelapa sawit, nira sawit memiliki potensi ekonomi yang besar. Berdasarkan analisis Fatah, (2015) Pengolahan nira sawit menjadi berbagai produk dapat meningkatkan pendapatan petani dan menciptakan. Nira sawit memiliki beberapa keuntungan berikut: No. 1. Kandungan Meningkatkan keuntungan petani 2. Menciptakan tempat kerja baru Memastikan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan Menghasilkan produk lokal 3. 4. Tabel 2. Manfaat Nira Sawit Penjelasan Pengolahan nira sawit menjadi berbagai produk dapat memberikan sumber pendapatan tambahan bagi petani kelapa sawit. Pengolahan nira sawit membutuhkan tenaga kerja, yang dapat membuka pekerjaan baru di daerah pedesaan. Pengolahan nira sawit dapat mengurangi limbah pertanian dengan memanfaatkan pohon kelapa sawit yang sudah tidak produktif. Nira sawit dapat diolah untuk membuat berbagai produk lokal yang unik dan khas, meningkatkan daya tarik wisata lokal. Sumber: https://www.researchgate.net Nira sawit adalah cairan berupa getah yang dihasilkan oleh pohon sawit yang sudah tidak produktif dan ditebang. Tahapan Pengolahan Gula Merah Adapun tahapan pengolahan nira kelapa sawit menjadi gula merah di daerah penelitian dapat diuraikan sebagai berikut. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tabel 3. Tahap pembuatan Tahapan pengelolaan gula merah Penebangan Batang Kelapa Sawit Pengupasan Batang Kelapa Sawit Penyadapan Nira Kelapa Sawit Perebusan Nira Kelapa Sawit Pemasakan Adonan Gula Mera Pendinginan Adonan Gula Mera Pencetakan Gula Merah Pendinginan Gula Merah Pengemasan Gula Merah Sumber Laporan Kemajuan Pengabdian Masyarakat. Pengelolaan Gula Nira Sawit melalui beberapa tahapan yang penting untuk memastikan kualitas dan hasil yang optimal. Pertama, proses pengambilan nira dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak pohon dan menjaga keberlanjutan tanaman. Nira disaring untuk menghilangkan kotoran, lalu dikumpulkan dan disimpan sementara. Setelah itu, cairan dipanaskan dan diuapkan agar menjadi gula cair.Kemudian, proses kristalisasi dilakukan untuk memisahkan gula dari cairan, menghasilkan kristal gula yang bisa dikumpulkan dan dikemas. Sepanjang proses, pengelolaan dilakukan dengan menjaga kebersihan dan pengawasan ketat agar hasilnya berkualitas dan aman digunakan. 853 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development Tabel 4. Masalah yang dihadapi oleh produsen No. Masalah Penjelasan dari Masalah 1. Ketersediaan Produsen gula merah kesulitan mendapatkan bahan Bahan Baku baku karena batang kelapa sawit harus direplanting setelah tidak produktif. 2. Biaya Bahan Penunjang Gula pasir mahal, dan produsen gula merah yang Mahal memiliki modal terbatas harus membeli dari agen dengan sistem pembayaran dari hasil gula merah. 3. Pembuatan Bpom sulit Dalam perizinsn perlu harus ada dukungan dan untuk di dapatkan legalitas dari sebuah pihak atau Instansi. 4. Pendanaan Dana yang tersedia hanya untuk pihak tertentu dan Untuk Pengembangan bersifat pinjam pakai, sementara pengembangan usaha Usaha memerlukan modal yang lebih. 5. Kurangnya Produsen hanya memproduksi berdasarkan Strategi Pemasaran permintaan, kurang memiliki strategi untuk kelangsungan usaha jangka panjang. Sumber Laporan Kemajuan Pengabdian Masyarakat. Berdasarkan tabel yang disajikan, terdapat lima masalah utama yang dihadapi oleh produsen gula merah. Pertama, produsen kesulitan dalam hal ketersediaan bahan baku karena batang kelapa sawit harus ditanam kembali (replanting) setelah tidak lagi produktif. Kedua, biaya bahan penunjang yang mahal, seperti gula pasir, menjadi kendala bagi produsen dengan modal terbatas. Dalam pandangan Destiana, Albinasari and Hardiansyah, (2023) mereka harus membeli dari agen dengan sistem pembayaran dari hasil penjualan. Ketiga, pembuatan izin BPOM sulit didapatkan, karena proses perizinan membutuhkan dukungan dan legalitas dari pihak atau instansi tertentu. Penyampaian yang dipaparkan oleh Hardiansyah and Batubara, (2022) keempat, pendanaan untuk pengembangan usaha terbatas dan bersifat pinjam pakai sementara, padahal pengembangan usaha jangka panjang memerlukan modal yang lebih besar. Terakhir, produsen menghadapi masalah kurangnya strategi pemasaran, sebab mereka hanya memproduksi berdasarkan permintaan dan tidak memiliki strategi jangka panjang untuk keberlangsungan usaha. Para produsen gula merah menghadapi berbagai tantangan yang menghambat perkembangan usaha mereka. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan modal, yang memaksa mereka untuk membeli bahan penunjang dari agen dengan sistem utang yang dibayar setelah hasil penjualan. Kondisi ini membuat mereka tidak memiliki fleksibilitas finansial untuk mengembangkan usaha. Selain itu, proses perizinan BPOM juga menjadi hambatan besar karena prosedur yang rumit dan syarat legalitas dari pihak ketiga yang sulit dipenuhi. Tantangan lainnya berkaitan dengan pendanaan dan strategi bisnis. Dana yang tersedia untuk pengembangan usaha seringkali bersifat pinjam pakai sementara, yang tidak memadai untuk investasi jangka panjang. Ditambah lagi dalam penyampaian Widyaningsih, Irwanto and Br Panjaitan, (2023) mereka cenderung tidak memiliki strategi pemasaran yang matang, hanya memproduksi berdasarkan permintaan pasar. Situasi ini membuat usaha mereka rentan terhadap fluktuasi pasar dan sulit untuk bertahan dalam jangka panjang. Secara keseluruhan, kombinasi masalah modal, perizinan, dan strategi ini menciptakan lingkungan yang sulit bagi produsen untuk tumbuh dan bersaing. 854 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development Gambar 2. Jumlah Pelaku Usaha Beserta Pendapat UMKM Nira Gula Sawit Sumber: Hasil Penulis Terjun Lapangan Pertumbuhan jumlah pelaku usaha terlihat sangat pesat dari tahun 2021 hingga 2024. Peningkatan ini tidak hanya terjadi secara stabil, tetapi juga menunjukkan akselerasi yang luar biasa. Awalnya, peningkatan dari 120 menjadi 245 pelaku pada tahun 2021 menunjukkan lonjakan signifikan. Tren ini terus berlanjut dan bahkan meningkat secara eksponensial, dengan penambahan 411 pelaku pada tahun 2024 saja, mencapai total 987 orang. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa sektor ini semakin menarik dan mampu menarik banyak individu untuk berpartisipasi dalam bisnis, mungkin didukung oleh faktor eksternal seperti peningkatan permintaan pasar atau kemudahan akses terhadap sumber daya. Sejalan dengan pertumbuhan jumlah pelaku usaha, pendapatan juga menunjukkan tren positif yang stabil. Peningkatan pendapatan dari 2.500 juta IDR pada tahun 2021 menjadi 5.000 juta IDR pada tahun 2024 menunjukkan bahwa omset industri ini berhasil berlipat ganda dalam kurun waktu empat tahun. Dalam analisis yang disampaikan oleh Antika, Dur and Aprilia, (2023) meskipun ada penambahan pelaku usaha, pendapatan per kapita mungkin tidak tumbuh pada laju yang sama, mengingat peningkatan signifikan dalam jumlah pelaku. Namun, data menunjukkan bahwa pasar mampu menyerap peningkatan produksi dan penjualan dari bertambahnya jumlah pelaku usaha, yang menunjukkan stabilitas pasar yang kuat dan potensi pertumbuhan yang berkelanjutan. Kenaikan pendapatan terbesar terjadi pada tahun 2024, yang menunjukkan bahwa skala ekonomi dari pertumbuhan jumlah pelaku usaha mulai memberikan dampak yang lebih besar pada pendapatan total. Secara keseluruhan yang disampaikan oleh Agustira, Siahaan and Hasibuan, (2019) bahwa data ini mencerminkan gambaran yang sangat positif tentang perkembangan bisnis, di mana pertumbuhan jumlah pelaku usaha dan pendapatan saling mendukung dan menciptakan ekosistem yang dinamis dan berkembang. 855 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development 3.2 Peratek kegiatan sosialisasi terhadap kandungan Nira Sawit Gambar 3. Sesi tanya jawab terkait kendala yang di hadapi dalam usaha nira Sawit Dalam sesi tanya jawab terkait kendala yang dihadapi dalam usaha nira sawit, sering kali muncul pertanyaan mengenai proses pembuatan dan perawatan gula merah dari nira sawit. Proses untuk perawatan juga membantu mendorong peran penting dalam pentingnya kebutuhan tuntutan pangan dan mendukung ekonomi masyarakat Tunazjah dkk, (2025). Para pelaku usaha maupun calon pengusaha ingin memahami langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh nira sawit berkualitas, teknik pengolahan yang efisien, serta cara memperkecil risiko fermentasi atau kerusakan selama proses ekspor. Dalam pendapat yang dikemukakan oleh Rasdiana dkk, (2023) para pelaku usaha dan calon pengusaha ingin memahami secara mendalam langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh nira sawit berkualitas tinggi, mulai dari teknik penyadapan yang tepat hingga pengelolaan pascapanen yang menjaga kesegaran bahan baku. Mereka juga membutuhkan panduan tentang metode pengolahan yang efisien dan higienis agar hasil gula merah memiliki cita rasa yang konsisten dan tekstur yang baik. Selain itu juga pernah disampaikan oleh Setiawan and Latifa Siswati, (2021) mereka ingin mengetahui cara mengurangi risiko fermentasi berlebihan atau kerusakan selama proses penyimpanan dan pengiriman, terutama saat akan melakukan ekspor. Mereka juga menanyakan tantangan utama dalam menjaga kadar gula alami agar gula merah tetap manis dan memiliki tekstur yang optimal, karena faktor-faktor seperti proses masak, penyimpanan, dan kualitas bahan baku sangat berpengaruh. Tidak kalah penting, mereka mencari strategi untuk meningkatkan produktivitas dan mutu gula merah dari nira sawit agar produk ini mampu bersaing di pasar lokal maupun internasional. Ini meliputi peningkatan teknik produksi, inovasi pengemasan, dan pengembangan jaringan pemasaran internasional. Dengan strategi tersebut, diharapkan usaha gula merah dari nira sawit dapat berkembang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi maksimal. 856 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development Gambar 4. Sosialisasi pengembangan usaha gula merah nira sawit kepada masyarakat Sosialisasi pengembangan usaha gula merah dari nira sawit kepada masyarakat merupakan langkah penting untuk meningkatkan pemahaman, minat, dan partisipasi masyarakat dalam memproduksi gula merah berkualitas. Dalam penyampaian yang disampaikan oleh Yandra dkk., (2021) bahwa partisipasi ibu-ibu sangat penting untuk mendorong keberlanjutan usaha UMKM nira sawit. Melalui seminar, pelatihan, dan penyuluhan, masyarakat diajarkan proses pengolahan yang benar, manfaat ekonomi, serta peluang pasar. Sosialisasi ini juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas bahan baku dan teknik pengolahan agar hasil gula merah bersaing dan mendukung perekonomian masyarakat secara berkelanjutan. Gambar 5. Foto Bersama dengan Masyarakat Foto bersama dengan masyarakat merupakan momen penting untuk memperlihatkan kebersamaan, keberhasilan, dan sinergi dalam pengembangan usaha gula merah dari nira sawit. Melalui foto ini, tercermin semangat gotong royong, kerjasama, serta komitmen semua pihak dalam mendukung keberhasilan program tersebut. Selain itu, Menurut penyampaian dalam analisisis yang disampaikan oleh Ruslyhardy dkk., (2023) foto ini juga menjadi dokumentasi berharga yang menunjukkan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengembangan usaha, dan dapat digunakan sebagai bukti keberhasilan serta motivasi untuk terus melanjutkan inovasi dan peningkatan kualitas produk di masa depan. 857 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development 4. Kesimpulan Kegiatan sosialisasi pengembangan usaha gula merah berbahan dasar nira sawit di Maredan Barat memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, mengenai kandungan, manfaat, serta potensi ekonomi nira sawit. Melalui metode ceramah dan diskusi, peserta mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai karakteristik nira sawit sebagai sumber gula alami yang kaya nutrisi, serta tahapan pengolahan gula merah yang higienis mulai dari penyadapan hingga pengemasan. Sosialisasi ini juga memperkenalkan peluang diversifikasi produk seperti sirup, minuman fermentasi, dan bioetanol, yang membuka ruang inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas pasar. Selain menekankan potensi, kegiatan ini juga menguraikan tantangan nyata yang sering dihadapi produsen, di antaranya keterbatasan bahan baku yang bergantung pada siklus replanting, tingginya biaya penunjang, kesulitan dalam memperoleh perizinan, keterbatasan akses pendanaan, serta lemahnya strategi pemasaran jangka panjang. Diskusi mengenai masalah tersebut menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya strategi yang lebih inovatif, baik dalam hal pengemasan, penguatan jaringan distribusi, maupun pengembangan pemasaran yang tidak hanya terbatas pada permintaan lokal. Meskipun kegiatan ini masih sebatas peningkatan pemahaman tanpa disertai pengukuran kuantitatif, hasilnya tetap menjadi langkah awal yang signifikan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi nira sawit secara lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan di masa mendatang. 5. Ucapan Terima Kasih Kami mengucapkan terima kasih kepada semua stakeholder yang telah memberikan izin dan dukungan dalam kegiatan ini, khususnya kepada instansi pemberi dana hibah pengabdian serta pihak-pihak lain yang turut berperan dalam kesuksesan program ini. Sebagai Tim PKM (Pengembangan Usaha Gula Merah Nira Sawit) di Maredan Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, kami bersyukur atas manfaat signifikan yang telah diberikan kepada masyarakat setempat. Kegiatan ini tidak hanya berhasil meningkatkan produksi dan kualitas gula merah nira sawit, tetapi juga mendorong pemahaman masyarakat tentang pengembangan usaha ini. Melalui inisiatif ini, kami berharap kesejahteraan masyarakat setempat terus meningkat, seiring dengan pengembangan usaha gula merah nira sawit yang berkelanjutan. Terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya. Daftar Pustaka Agustira, M. A., Siahaan, D., & Hasibuan, H. A. (2019). Nilai ekonomi nira sawit sebagai potensi pembiayaan peremajaan kebun kelapa sawit rakyat. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 27(2), 115–126. https://doi.org/10.22302/iopri.jur.jpks.v27i2.62 Amalia, N., Sari, F., Susanti, R., & Syafitri, R. (2023). Life skill psychoeducation program using academic-experiential approach for Indonesian children in Hulu Kelang, Malaysia. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(2), 521–532. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v7i2.12661 Antika, W., Dur, S., & Aprilia, R. (2023). Optimasi produksi gula merah home industry dari nira sawit dengan model de novo programming. G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan, 7(3), 1327–1334. https://doi.org/10.33379/gtech.v7i3.2975 Destiana, Albinasari, D., & Hardiansyah, G. (2023). Pemanfaatan nira aren untuk bahan baku gula aren sebagai sumber pendapatan masyarakat di Desa Kumpang Tengah 858 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development Kabupaten Landak. Jurnal Hutan https://doi.org/10.26418/jhl.v11i2.61242 Lestari, 11(2), 541–551. Fatah, A., & H. S. (2015). Tinjauan keragaan tanaman aren (Arrenga pinnata Merr) di Kabupaten Kutai Barat. Agrifor, 14(1), 1–14. https://doi.org/10.31293/af.v14i1.1096 Hardiansyah, F., & Batubara, M. M. (2022). Kontribusi pendapatan gula merah terhadap pendapatan keluarga petani kelapa sawit di Desa Kertamukti Kecamatan Air Sugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Societa: Jurnal Ilmu-Ilmu Agribisnis, 10(2), 29. https://doi.org/10.32502/jsct.v10i2.4288 Indraningtyas, L., Yuliandari, P., & Sari Anungputri, P. (2023). Karakterisasi nira sawit hasil penyadapan. Prosiding SENIATI, 7(1), 170–176. https://doi.org/10.36040/seniati.v7i1.7889 Khabibulloh, M. J. M., Suhartatik, N., & Mustofa, A. (2024). Agritekno: Jurnal Teknologi Pertanian masa depan dan pengembangan bioetanol di Indonesia. Jurnal Agritekno, 13(1), 210–223. https://doi.org/10.30598/jagritekno.2024.13.1.210 Pratiwi, L., Millaty, M., & Dewi, M. (2022). Development strategy for palm sugar product attribute: A competitive product to achieving sustainable development goals (SDGs). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1018(1), 012001. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1018/1/012001 Pulungan, A. F., Dalimunthe, G. I., & Rani, Z. (2024). Peningkatan pemasaran produk gula merah di Desa Pegajahan melalui digital marketing. Jurnal Bakti Nusantara, 2(1), 8–13. https://doi.org/10.63763/jbn.v1i2.32 Rasdiana, F. Z., Lestari, R., & Hidayat, S. (2023). Aplikasi minyak sawit merah sebagai sumber provitamin A dan pengaruhnya terhadap karakteristik kimia gula merah tebu. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas, 27(1), 76–82. https://doi.org/10.25077/jtpa.27.1.7682.2023 Ruslyhardy, R., Pratama, A., & Syafitri, Y. (2023). Relevansi Komisi Pemilihan Umum Kota Pekanbaru dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula. Ensiklopedia Education Review, 5(3), 360–368. http://jurnal.ensiklopediaku.org Setiawan, D., & Siswati, L. (2021). Mesin pencacah daun dan pelepah kelapa sawit untuk peternak sapi di Desa Pancar Gading Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar - Riau. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(5), 1286–1292. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v5i5.7741 Simatupang, J. T., Simatupang, A. E. C., & Manurung, M. (2022). Analisis nilai tambah nira sawit menjadi gula merah skala industri rumah tangga. Jurnal Methodagro, 8(1), 77–84. https://doi.org/10.46880/mtg.v8i1.1236 Syaflita, D., Rahmawati, S., Sari, R., & Pratiwi, E. (2022). Pembinaan manajemen life skill usaha gula merah nira sawit di Maredan Barat Kecamatan Tualang Kabupaten Siak. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(6), 1526–1535. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v6i6.10062 Tritama, A. S., Nugroho, R., & Lestari, M. (2023). Optimasi konsentrasi pelarut dan waktu pemasakan pada pembuatan pulp dari tandan kelapa muda. Saintis, 4(2), 134–143. https://doi.org/10.35965/saintis.v4i2.529 859 Volume 4 No 5: 849-860 Room of Civil Society Development Tunazjah, S., Rahmadani, F., & Putri, N. (2025). Pendampingan teknologi penyiraman otomatis berbasis Arduino untuk pupuk cair organik di kebun apel Desa Bulukerto. Room of Civil Society Development, 4(3), 423–435. https://doi.org/10.59110/rcsd.624 Wardi, J. (2021). AD/ART dan bisnis plan sebagai penguatan kelembagaan Bank Sampah Induk Pelangi Siak Sri Indrapura. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(5), 1273–1278. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v5i5.7709 Widyaningsih, F., Irwanto, R., & Br Panjaitan, D. (2023). Characterization of oil palm sap (Elaeis guineensis Jacq.) results of zero waste-based waste treatment. Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG), 5(2), 195–202. https://doi.org/10.35451/jkg.v5i2.1403 Wijaya, R. G., Putra, H., & Dewi, R. (2024). Pembinaan pola hidup sehat berbasis olahraga di Desa Wisata Kampung Emas Yogyakarta. Jurnal P3M, 9(1), 80–92. https://doi.org/10.52250/p3m.v9i1.763 Yandra, A., Suryani, L., & Pratiwi, F. (2021). Pendidikan politik dan civic culture pada ibuibu pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). ABDINE: Jurnal Pengabdian, 1(1), 56–62. https://ejurnal.sttdumai.ac.id/index.php/abdine/article/view/232 860