ALACRITY : Journal Of Education Volume 2. Issue 2. Juni 2022 http://lpipublishing. com/index. php/alacrity Perspektif Cendekiawan Buddhis Indonesia tentang Mediokritas Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha sebagai Agent Of Change Arya Whisnu Karniawan1. Isomudin2. Ida Bagus Dharmika3. Ririn Sugiyarti4. Linawati5 1,2,3,4,5 Institusi Nalanda. Jakarta Timur. Indonesia Corresponding Author : isomudin@nalanda. ARTICLE INFO Article history: Received 28 Juli 2022 Revised 20 Agustus 2022 Accepted 30 Agustus 2022 Kata Kunci ABSTRACT Development of technology in various fields is increasing rapidly. Younger generation will face competition from two things, namely competition between individuals and competition with robots/AI. Unfortunately, many of Indonesia's young generation adhere to the mindset of "Mediocrity". This mediocrity is loved by various levels of society, including Buddhist Colleges students in Jabodetabek. However, there has been no research that addresses the mediocrity of Buddhist Colleges students in Jabodetabek in their role as agents of change. Various perspectives are needed from existing organizations of Indonesian Buddhist scholars on the role of Buddhist Colleges students in Jabodetabek as agents of change. Is it good, or tend to be mediocre? As well as solutions to the Tipitaka values that can be implemented to overcome this problem. The type of research used is qualitative. The data collection technique used unstructured in-depth interviews and quoted directly from various sources. Data analysis used data interpretation and The objectivity and validity of the data used the Mahapadessa parallelization and triangulation methods. The results of this research is based on the analysis of the four dimensions of the agent of change, namely the catalyst. resource linker. solution giver. and process helper, on average Buddhist Colleges students in Jabodetabek tend to be mediocre in carrying out their duties as agents of change. As well as solutions These solutions are scattered in various existing canons. In this case, the researcher tries to summarize the various existing canons as a solution approach to overcome the mediocrity mindset based on the Tipitaka, namely: Generating determination and changing mindsets. Analyze the advantages & disadvantages and determine goals / ideals. Find a good place/environment to grow. Avoid wrong associations and associate with good people. Expanding relationships with four ways of treating others. Continuously learning and self-evaluating. Keep practicing and trying to develop your potential. Colleges Students. Buddhist Colleges in Jabodetabek. Mediocrity. Mediocre. Agent of Change. PENDAHULUAN Dewasa ini, perkembangan teknologi di berbagai bidang semakin pesat (Hidayat, 2. Namun, kemajuan zaman yang pesat meningkatkan persaingan antar individu bahkan dengan AI. Sayangnya, generasi muda Indonesia cenderung malas untuk melakukan studi/ improvisasi diri. Banyak generasi muda yang hanya menjalani studi asal-asalan dengan pemikiran ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 AuYang penting lulus. Ay Mereka tidak ingin menguasai materi secara mendalam, melainkan sekadar asal lulus atau naik kelas. (Syarif Nasarudin Aulia Zulfi, 2019:. Terdapat juga mereka yang kuliah hanya untuk ijazah sebagai syarat kerja saja, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam studinya. Pola pikir AuAsal jadiAy inilah yang disebut sebagai AuMediokritasAy. Pola pikir mediokritas ini digandrungi oleh berbagai lapisan masyarakat, bahkan mahasiswa PTKB. Namun belum ada penelitian yang menggubris tentang mediokritas mahasiswa PTKB khususnya di Jabodetabek dalam perannya sebagai agen perubahan. Untuk itulah, diperlukan data lebih lanjut berupa perspektif para cendekiawan Buddhis yang ada di Indonesia untuk mencari tahu apakah mahasiswa PTKB Jabodetabek telah menjadi agen perubahan yang baik atau masih medioker, serta solusi atas permasalahan pola pikir mediokritas berdasarkan Tipitaka yang dapat diimplementasikan ke dalam dunia pendidikan terutama dalam lingkup mahasiswa di PTKB Jabodetabek guna mengoptimalkan perannya sebagai Agent of Change. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana peran mahasiswa PTKB Jabodetabek sebagai agent of change berdasarkan perspektif para cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI. ADABI. SIDDHI) serta mencari solusi implementasi dari Tipitaka untuk mengatasi mediokritas. Penelitian ini dibatasi hanya pada perspektif organisasi perkumpulan cendekiawan Buddhis Indonesia terhadap peran mahasiswa PTKB Jabodetabek sebagai agent of change serta mencari solusi untuk mengatasi pola pikir mediokritas berdasarkan Tipitaka. Mediokritas berarti suatu sifat yang biasa-biasa saja, yang tidak ingin maju dan bersaing, dan tidak memiliki etos kerja yang baik. Dalam agama Buddha, mediokritas sendiri digambarkan sebagai kemandekan dalam melatih kualitas-kualitas bermanfaat. Yaitu ketika tingkatan keyakinan . , perilaku bermoral . , pembelajaran (Sut. , pelepasan keduniawian . Ag. , kebijaksanaan . , dan kearifan . aibhAn. yang dimiliki seseorang tidak merosot atau meningkat. Sang Buddha tidak memuji kemandekan apalagi kemunduran dalam kualitas-kualitas bermanfaat. Beliau hanya memuji kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat. (AN 10. Indikator kemunduran kualitas-kualitas bermanfaat adalah berlimpahnya nafsu, berlimpahnya kebencian, berlimpahnya delusi, dan mata kebijaksanaannya tidak menapak dalam hal-hal mendalam pada apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin. (AN 4. Buddha juga menjelaskan alasan-alasan yang menyebabkan hilangnya kekayaan keluarga, salah satunya adalah keluarga itu tidak mencari apa yang telah hilang, dan memperbaiki apa yang telah usang. (AN 4. Lebih jauh, dikatakan seseorang yang sedikit belajar menua seperti seekor sapi. Dagingnya tumbuh, tetapi kebijaksanaannya tidak. (Thag 17. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 Faktor-faktor penyebab mediokritas dapat dibagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi rendahnya minat belajar, rendahnya efikasi diri, bersikap apatis, dan keterbatasan fisik/ mental. Faktor eksternal adalah faktor pendidikan . eliputi kurikulum dan pengaja. , lingkungan dan pertemanan, dan ekonomi. Cendekiawan adalah mereka yang memiliki orientasi utama dalam mencari kepuasan mengolah seni, ilmu pengetahuan yang berasal dari perenungan metafisika, dan tidak mencari tujuanAatujuan praktis, serta para moralis yang dalam sudut pandang dan kegiatannya merupakan perlawanan terhadap realisme massa. Cendekiawan adalah para ilmuwan, filsuf, seniman, ahli metafisika yang menemukan kepuasan dalam penerapan ilmu, bukan sekadar penerapan hasilAahasilnya saja. (Rochmat Aldy Purnomo, 2016:. Sebagai insan cendekiawan, cendekiawan Buddhis memiliki tanggung jawab untuk membuat perubahan positif di dalam masyarakat khususnya masyarakat Buddhis, dari statis/diam menuju masyarakat yang Tanggung jawab itu sendiri pada umumnya diwujudkan dalam bentuk Tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan/pembelajaran sendiri adalah proses interaksi mahasiswa dengan dosen dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan berdasarkan kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, serta keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/atau pengujian suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Serta Pengabdian kepada Masyarakat sendiri adalah kegiatan sivitas akademika yang memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat serta mencerdaskan kehidupan bangsa. (UU No. 12 tahun 2. Seluruh sivitas akademika diwajibkan untuk melaksanakan Tridharma perguruan tinggi. Value atas Tridharma perguruan tinggi diturunkan baik oleh cendekiawan . alam hal ini dose. kepada cendekiawan muda . akni mahasisw. serta lulusan dari perguruan tinggi tersebut. Dengan pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi yang baik, dapat diharapkan cendekiawan Buddhis dapat memberikan sumbangsih positif bagi kemajuan bangsa dan agama. Mahasiswa merupakan kelompok individu dengan status sosial tertinggi dalam dunia Mahasiswa sebagai insan yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi sangatlah berperan dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Mahasiswa dianggap sebagai cendekiawan muda atau agent of change dalam strata sosial. (Rochanah, 2020: 344-. Agen perubahan sendiri adalah orang yang membantu membuat perubahan. Seorang agen perubahan akan menghubungkan objek perubahan . novasi, kebijakan publik, dl. dengan sistem sosial yang menjadi objek perubahan. Sebagai bagian dari ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 mahasiswa, mahasiswa PTAB juga dituntut untuk menjadi agent of change guna memajukan lingkungan di sekitarnya dengan cara memberikan sumbangsih berupa pemikiran dan aksi nyata sesuai dengan keilmuannya. Shah, dkk. menjelaskan agent of change memiliki empat dimensi, yaitu katalisator, penghubung sumber daya, pemberi solusi, dan pembantu METODE PENELITISAN Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif. Hal ini karena penelitian kualitatif paling tepat digunakan untuk meneliti masalahmasalah yang tidak bisa diteliti dengan penggunaan mekanisme pengukuran Lebih jauh, (Sugiyono, 2013: . menjelaskan jika masalah penelitian belum jelas, masih remang-remang atau masih gelap, kondisi ini cocok diteliti dengan metode kualitatif, karena peneliti kualitatif akan masuk ke obyek, melakukan penjelajahan dengan grant tour question, sehingga masalah akan dapat ditemukan dengan jelas. Melalui model penelitian ini, peneliti akan melakukan eksplorasi terhadap suatu obyek, ibarat orang akan mencari sumber minyak, tambang emas, dan lain-lain. Penelitian ini berfokus pada pencarian data-data tentang pola pikir mediokritas peran mahasiswa sebagai agent of change terutama pada Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha dengan cara mewawancarai narasumber organisasi cendekiawan Buddhis yang ada, kemudian mencari nilai-nilai Buddhisme yang terdapat pada kitab suci Tipitaka untuk mengatasi pola pikir mediokritas beserta mencari solusi implementasi untuk menanamkan nilai-nilai tersebut agar dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan data-data yang didapat dari hasil wawancara pada organisasi cendekiawan Buddhis. Saat ini setidaknya terdapat tiga organisasi cendekiawan Buddhis di Indonesia. Ketiga lembaga itu adalah: . Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) adalah Sekretariatnya berkedudukan di Jl. Cikini Raya No. Cikini. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330. KCBI sendiri adalah wadah bersama para cendekiawan Buddhis berasaskan Pancasila dan Buddha Dharma dalam mendukung dan memberikan kontribusi untuk kemajuan Agama Buddha Indonesia. Karakter dari organisasi ini adalah kumpulan cendekiawan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu yang beragama Buddha, . Asosiasi Dosen Agama Buddha Indonesia (ADABI) adalah organisasi Buddhis yang baru saja terbentuk, tepatnya pada akhir Desember 2021. Organisasi ini ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 mewadahi dosen-dosen dari PTKB dan Perguruan Tinggi Umum yang beragama Buddha. Dosen sendiri adalah pendidik profesional serta ilmuwan/ cendekiawan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, . Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia (SIDDHI) adalah secretariat yang bertempat di Jl. Dr. Muwardi 1 No. 7 Grogol. Jakarta Barat 11450 Indonesia. Merupakan organisasi yang mewadahi sarjana dan professional Buddhis. Organisasi ini terbentuk pada 30 Desember 2005 merupakan organisasi AoleburanAo dari berbagai organisasi Sarjana dan Profesional Buddhis seperti FKSBI (Forum Komunikasi Sarjana Buddhis Indonesi. / ISBI (Ikatan Sarjana Buddhis Indonesi. PROMABI (Profesional Muda Buddhis Indonesi. , dan SIDDHI (Profesional Buddhist Fellowshi. Karakter dari organisasi ini adalah kumpulan sarjana dan profesional yang berasal dari berbagai disiplin ilmu yang beragama Buddha. Pada penelitian ini, peneliti memakai wawancara tidak terstrukturmendalam/ indepth tidak terstruktur dengan tema-tema yang sesuai kebutuhan dan tujuan penelitian. Narasumber yang diwawancarai adalah orang-orang yang masing-masing ditunjuk oleh organisasi cendekiawan Buddhis Indonesia maupun ketua organisasinya sendiri. Proses wawancara dilakukan melalui sambungan telepon seluler secara langsung. Peneliti menerima narasumber berdasarkan penunjukkan dari organisasi subjek yang memilih kadernya guna diwawancarai serta dipandang dapat mewakili organisasi tersebut. Peneliti akan menggali hingga dirasa wawancara telah menjadi jenuh. Dari hasil triangulasi sumber dan triangulasi metode, maka diperoleh data-data hasil dari interpretasi sebagai berikut: . Katalisator menurut Shah, dkk. Rata-rata mahasiswa PTKB Jabodetabek belum termasuk agen-agen katalisator yang baik atau bisa dikatakan cenderung medioker dalam perannya sebagai katalisator. Hal ini karena mahasiswa PTKB belum secara signifikan dalam hal kualitas menghasilkan sesuatu untuk melayani Mahasiswa PTKB juga belum memiliki penguasaan yang baik terhadap pengetahuan teknis terkini guna mengembangkan SDM. Selain itu mereka belum belum benar-benar berani untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat secara tatap muka. Walaupun mereka memiliki kecenderungan bersikap positif dalam bekerja, namun terdapat beberapa dari mereka yang masih bersikap pesimis dan kurang responsif serta berinisiatif. Dilihat dari segi citra, mahasiswa PTKB Jabodetabek terkesan netral di mata masyarakat. Tidak positif, maupun negatif. Mereka belum memiliki tempat di hati masyarakat Buddhis. Penghubung Sumber Daya adalah penghubung sumber daya ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 menurut Shah, dkk. Rata-rata mahasiswa PTKB Jabodetabek belum termasuk agen-agen penghubung sumber daya yang baik, atau bisa dikatakan medioker dalam perannya sebagai agen penghubung sumber daya. Hal ini karena mereka dinilai belum begitu mampu bertindak sebagai penghubung antara SDM internal umat Buddha dengan pihak eksternal. Dari segi kemampuan, kemampuan mereka dalam mengidentifikasi kebutuhan SDM dan tujuan umat Buddha masih berada di level menengah. Walaupun mereka memiliki keramah-tamahan serta metode komunikasi yang cukup baik dan dapat diandalkan, namun mereka sulit bergaul dengan banyak orang karena memiliki kecenderungan menutup diri. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak memiliki jaringan kontak yang luas dan kehilangan fungsinya sebagai penghubung sumber daya yang baik. Pemberi Solusi adalah pemberi solusi dari Shah, dkk. Rata-rata mahasiswa PTKB di Jabodetabek dinilai belum menjadi pemberi solusi yang baik atau bisa dikatakan medioker dalam perannya sebagai pemberi solusi. Hal ini karena mereka sendiri masih belum berkompeten dalam penyelesaian masalah. Mereka belum memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam memecahkan masalah publik dan belum mendapatkan tempat di masyarakat Buddhis. Mereka juga belum memiliki kemauan dan keberanian untuk mengambil berbagai alternatif yang mungkin beresiko tinggi. Dalam hal pengetahuan dan pengalaman sehubungan dengan komunitas, mereka hanya memiliki pengetahuan sehubungan dengan komunitasnya, namun tidak dengan komunitas-komunitas lain. Sehingga terkesan Aojago di kandang sendiri. Ao . Pembantu Proses menurut Shah, dkk. Rata-rata mahasiswa PTKB Jabodetabek belum termasuk agen-agen pembantu proses yang baik atau bisa dikatakan cenderung medioker dalam perannya sebagai pembantu proses. Hal ini karena mahasiswa PTKB dinilai belum mampu dalam membimbing masyarakat dengan menunjukkan metode atau cara yang sesuai. Hal ini karena mereka sendiri tidak bersikap aktif membantu masyarakat dalam penerapan perubahan, dedikasi dan semangat juang mereka masih rendah dalam mendampingi masyarakat, tidak mencerminkan sikap seorang mentor yang rajin dan berdedikasi. Selain itu, mereka tidak memiliki Aomental bajaAo, karena mudah menyerah dan patah semangat dalam mendorong masyarakat mencapai level perubahan yang tertinggi, mereka kurang dalam Aojam terbangAo dan masyarakat pun menjadi tidak percaya dan tidak menaruh kepercayaan terhadap mereka. Hal ini kemudian menyebabkan keterbatasan ruang bagi mereka untuk menjalankan peran mereka sebagai pembantu proses. Dari pembahasan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan perspektif cendekiawan Buddhis Indonesia, dari keempat dimensi ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 agen perubahan, rata-rata mahasiswa PTKB di Jabodetabek cenderung bersikap medioker dalam menjalankan tugasnya sebagai agen perubahan. Solusi Medikoritas Dari Tipitaka Pada Tipitaka sendiri tidak ada satu kanon yang berdiri sendiri/ independen yang menjelaskan tentang solusi atas pola pikir mediokritas. Solusi ini tersebar di berbagai kanon yang ada. Dalam sub bab ini peneliti mencoba merangkum berbagai kanon yang ada sebagai pendekatan solusi untuk mengatasi pola pikir mediokritas. Hal pertama yang harus dilakukan tentunya adalah mengubah pola pikir diri sendiri. Sang Buddha sendiri pernah bersabda dalam Dhp 1 AuPikiran adalah pelopor segala sesuatu. Ay Oleh karena itu, jika seseorang masih mempertahankan pola pikir yang buruk, maka ia akan mustahil untuk keluar dari zona nyaman mediokritas. Lebih jauh. Sang Buddha menyatakan dalam MN 95 bahwa membangkitkan kemauan adalah hal yang sangat penting bagi pengarahan tekad. Tanpa adanya kemauan, maka tidak akan ada usaha. A AuKemauan adalah yang paling membantu bagi pengerahan tekad. BhAradvAja. Jika seseorang tidak membangkitkan kemauan, maka ia tidak akan mengerahkan tekadnya. tetapi karena ia membangkitkan kemauan, maka ia Itulah sebabnya mengapa kemauan adalah yang paling membantu bagi pengerahan tekad. Ay A (MN . Setelah memiliki kemauan untuk bangkit dari keterpurukan, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menganalisa kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri serta menentukan tujuan/ cita-cita, dalam hal ini adalah ingin menjadi apa kedepannya? Dalam AN 6. 52, terdapat beberapa tujuan seseorang berdasarkan profesi yang dilakoninya. Berdasarkan kemampuan dan ketertarikan, seseorang dapat mengerahkan pikiran menuju pada tujuan/ cita-cita yang diharapkan dengan mempelajari minatnya lebih jauh lagi. Ketika seseorang telah mengetahui tujuannya, maka hal tersebut akan membawa kebahagiaan. Sebagaimana sabda dari YA. Mahacunda Thera: A Adalah dari keinginan untuk belajar maka pembelajaran tumbuh. Ketika engkau terpelajar, maka pemahaman tumbuh. Melalui pemahaman, maka engkau mengetahui tujuan. Mengetahui tujuan membawa kebahagiaan. A (Thag 2. Setelah mengetahui tujuan, adalah sangat penting untuk menemukan tempat/ lingkungan yang baik untuk tumbuh. Sang Buddha dalam Snp 2. mengatakan bahwa hidup di tempat yang sesuai adalah berkah utama. Mengapa hal ini sangat penting? Di dalam Sutta yang sama. Sang Buddha menjelaskan bahwa tidak bergaul dengan orang dungu adalah berkah utama. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 Lebih jauh, dalam Iti 76 Sang Buddha mengatakan adalah melalui pergaulan, karakter seseorang terbentuk. A Pertemanan apapun yang engkau buat, dengan siapa engkau bergaul, itulah bagaimana engkau terbentuk, karena itulah ketika engkau berbagi kehidupanmu. Ia yang berteman dan ia yang ditemani ia yang dihubungi dan ia yang menghubungi orang lain, seperti sebuah anak panah yang dilumuri racun yang mengkontaminasi tempat anak panah. Seorang bijaksana, takut akan kontaminasi, tidak akan mempunyai teman-teman yang jahat. Seseorang yang membungkus ikan busuk dalam beberapa helai rumput membuat rumput-rumput itu bauAi begitu pula ketika bergaul dengan orang dungu. Namun seseorang yang membungkus serbuk cendana dalam dedaunan membuat daun-daun itu harumAi begitu pula ketika bergaul dengan orang bijaksana. Karenanya, mengetahui mereka akan berakhir seperti pembungkus, orang bijaksana akan menghindari yang jahat, dan berteman dengan yang baik. Yang jahat membawamu ke neraka, yang baik menolongmu ke suatu tempat yang baik. Setelah menemuka lingkungan yang sesuai, langkah selanjutnya adalah bergaul dengan orang-orang baik. Dalam Thig 10. YA. Kisagotami Theri berkata bahwa bergaul dengan orang-orang baik dapat mengembangkan pengetahuan dan kebijaksanaan. A Menunjukkan bagaimana dunia bekerja. Para bijaksana memuji pertemanan yang baik. Bergaul dengan teman yang baik. Bahkan orang bodoh pun menjadi cerdik. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 Bergaulah dengan orang baik. Karena itulah bagaimana kebijaksanaan berkembang. Dalam AN 3. Buddha sangat menyarankan agar seseorang tidak bergaul dengan mereka yang lebih rendah kecuali atas alasan simpati dan belas kasihan, melainkan bergaul dengan yang setara atau lebih tinggi. A Seorang yang bergaul dengan orang rendah akan mengalami kemunduran. seorang yang bergaul dengan orang yang setara tidak akan mengalami kemunduran. dengan melayani seorang yang tinggi, maka seseorang akan berkembang dengan cepat. oleh karena itu kalian harus mengikuti orang yang lebih tinggi daripada kalian. Dengan bergaul kepada orang-orang yang baik dan lebih tinggi, maka seseorang dapat diharapkan mengembangkan potensi yang dimilikinya semaksimal mungkin. Selagi belajar dan berkembang bersama orang-orang yang tepat, janganlah lupa untuk membangun relasi. Karena biar bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial. Sejak dahulu kala, seseorang memerlukan orang-orang lain untuk dapat meraih kesuksesan. Misalnya pada Ja 4. Casehi JAtaka yang mengisahkan seorang pemuda, berawal dari hanya bermodalkan seekor bangkai tikus, dapat mengembangkan hartanya hingga memiliki dua ratus ribu kahapana dan menjadi agen perubahan bagi para Semua itu dicapai dengan interaksi dan memiliki relasi dengan banyak orang. Tanpa adanya interaksi dan relasi, maka adalah mustahil untuk mengembangkan sebuah bangkai tikus menjadi dua ratus ribu kahapana. Lebih jauh, dalam AN 8. 24 Sang Buddha pernah menjelaskan kepada Hatthaka, seseorang yang sukses dan punya banyak pengikut, tentang bagaimana cara untuk memperlakukan seseorang sehingga mendapatkan pengikut. Terdapat empat jenis orang, yang pertama adalah orang yang harus dipelihara dengan Orang ini harus dipelihara dengan pemberian. Jenis kedua adalah orang yang dipelihara dengan kata-kata kasih sayang, orang jenis ini harus dipelihara oleh kata-kata kasih sayang. Jenis ketiga adalah orang yang harus dipelihara dengan perbuatan baik. Orang ini harus dipelihara dengan perbuatan baik. Dan yang terakhir adalah orang yang harus dipelihara dengan sikap tidak membeda-bedakan. Orang tersebut haruslah dipelihara dengan sikap tidak membeda-bedakan. Janganlah lupa untuk terus belajar dan melakukan evaluasi. Carilah value apa yang telah hilang atau menjadi usang, dan segeralah perbaiki dengan yang lebih muktahir. Sang Buddha memuji memperbaiki apa yang telah usang (Kd . Lebih jauh. Sang Buddha juga menjelaskan alasan-alasan yang ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 menyebabkan hilangnya kekayaan, salah satunya adalah tidak mencari apa yang telah hilang, dan memperbaiki apa yang telah usang. (AN 4. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk terus belajar dan melakukan evaluasi sehingga seseorang dapat mencari apa yang telah hilang dan memperbaiki apa yang telah usang. Lebih jauh. YA. Ananda Thera dalam syairnya di Thag 17. mengatakan seseorang yang sedikit belajar menua seperti seekor sapi. Dagingnya tumbuh, tetapi kebijaksanaannya tidak. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah teruslah berlatih dan berupaya untuk mengembangkan potensi yang anda miliki. Seringkali, jalan tidak begitu Rasa malas kadang menguasai pikiran. Seseorang perlu untuk mengatasi rasa malas tersebut agar ia tidak kehilangan kesempatan yang membawanya menuju kebahagiaan. Dalam Thag 3. 5 MAtaIgaputta Thera A AuHari terlalu dingin, terlalu panas. Terlalu siang,Ay mereka mengatakan. Mereka yang melalaikan pekerjaan mereka seperti iniAi Kesempatan akan berlalu. Tetapi seorang yang menganggap panas dan dingin Sebagai tidak lebih dari sehelai rumput. Ia melakukan tugas-tugasnya. Dan kebahagiaannya tidak pernah berkurang. Lebih jauh dalam AN 8. Sang Buddha membabarkan tentang empat hal yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupan saat ini. Yang pertama adalah kesempurnaan dalam inisiatif, apapun pekerjaan yang dijalankan, seseorang perlu memiliki penilaian yang baik atas pekerjaannya agar dapat melaksanakan dan mengaturnya dengan benar. Yang kedua adalah kesempurnaan dalam perlindungan, yakni bagaimana seseorang menjaga perolehan yang telah ia peroleh dengan susah payah agar tidak hilang, entah dicuri atau karena Yang ketiga adalah pertemanan yang baik, dan yang keempat adalah kehidupan yang seimbang. Yaitu tentang manajemen harta kekayaan yang telah dikumpulkan selama ini. Seseorang perlu mengatur agar cashflow nya agar tidak terlalu boros juga tidak terlalu hemat. Hal ini sangatlah penting agar, selain tidak menimbulkan celaan dan kabar miring, mengelola kekayaan sebaik mungkin akan sangat berguna untuk mengembangkan potensi yang dimiliki secara lebih kauh lagi. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 Berdedikasi dan berkomitmen secara penuh adalah hal yang sangat penting dalam mencapai sebuah kesuksesan. Jika seseorang hanya berupaya setengah-setengah, ia hanya akan berhasil setengah setengah. Seseorang perlu berupaya sepenuhnya untuk memperoleh hasil yang maksimal. Lebih jauh. Sang Buddha berkata: A Seseorang yang melatih seluruhnya akan berhasil seluruhnya. seseorang yang melatih sebagian akan berhasil sebagian. A (SN 48. KESIMPULAN Perannya sebagai katalisator, rata-rata mahasiswa PTKB Jabodetabek belum secara signifikan dalam hal kualitas menghasilkan sesuatu untuk melayani masyarakat. Mahasiswa PTKB Jabodetabek juga belum memiliki penguasaan yang baik terhadap pengetahuan teknis terkini guna mengembangkan SDM. Selain itu mereka belum benar-benar berani untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat secara tatap muka. Walaupun mereka memiliki kecenderungan bersikap positif dalam bekerja, namun terdapat beberapa dari mereka yang masih bersikap pesimis dan kurang responsif serta berinisiatif. Dilihat dari segi citra, mahasiswa PTKB Jabodetabek terkesan netral di mata masyarakat. Tidak positif, maupun negatif. Mereka belum memiliki tempat di hati masyarakat Buddhis. Dalam perannya sebagai penghubung sumber daya, rata-rata mahasiswa PTKB Jabodetabek dinilai belum begitu mampu bertindak sebagai penghubung antara SDM internal umat Buddha dengan pihak eksternal. Dari segi kemampuan mereka dalam mengidentifikasi kebutuhan SDM dan tujuan umat Buddha masih berada di level menengah. Walaupun mereka memiliki keramah-tamahan serta metode komunikasi yang cukup baik dan dapat diandalkan, namun mereka sulit bergaul dengan banyak orang karena memiliki kecenderungan menutup diri. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak memiliki jaringan kontak yang luas dan kehilangan fungsinya sebagai penghubung sumber daya yang baik. Dalam perannya sebagai pemberi solusi, mereka sendiri masih belum berkompeten dalam penyelesaian masalah. Mereka belum memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam memecahkan masalah publik dan belum mendapatkan tempat di masyarakat Buddhis. Mereka juga belum memiliki kemauan dan keberanian untuk mengambil berbagai alternatif yang mungkin beresiko tinggi. Dalam hal pengetahuan dan pengalaman sehubungan dengan komunitas, mereka hanya memiliki pengetahuan sehubungan dengan komunitasnya. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 2 . Page : 145 - 158 namun tidak dengan komunitas-komunitas lain. Sehingga terkesan Aojago di kandang sendiri. Ao Dalam perannya sebagai pembantu proses, rata-rata mahasiswa PTKB Jabodetabek dinilai belum mampu dalam membimbing masyarakat dengan menunjukkan metode atau cara yang sesuai. Hal ini karena mereka sendiri tidak bersikap aktif membantu masyarakat dalam penerapan perubahan, dedikasi dan semangat juang mereka masih rendah dalam mendampingi masyarakat, tidak mencerminkan sikap seorang mentor yang rajin dan Selain itu, mereka tidak memiliki Aomental bajaAo, karena mudah menyerah dan patah semangat dalam mendorong masyarakat mencapai level perubahan yang tertinggi, mereka kurang dalam Aojam terbangAo dan masyarakat pun menjadi tidak percaya dan tidak menaruh kepercayaan terhadap mereka. Hal ini kemudian menyebabkan keterbatasan ruang bagi mereka untuk menjalankan peran mereka sebagai pembantu proses. Sehubungan dengan solusi untuk mengatasi pola pikir mediokritas, pada Tipitaka sendiri tidak ada satu kanon yang berdiri sendiri/ independen yang menjelaskan tentang solusi atas pola pikir mediokritas. Solusi ini tersebar di berbagai kanon yang ada. Dalam hal ini, peneliti mencoba merangkum berbagai kanon yang ada sebagai pendekatan solusi untuk mengatasi pola pikir mediokritas yaitu . Membangkitkan tekad dan mengubah pola pikir (Dhp 1. MN . Menganalisa kelebihan & kekurangan serta menentukan tujuan/ cita-cita (AN 6. Thag 2. Menemukan tempat/ lingkungan yang baik untuk tumbuh (Snp 2. Hindari pergaulan salah dan bergaul dengan orang-orang baik (Thig 10. AN 3. Iti 76. Ja . Memperluas relasi dengan empat cara memperlakukan orang lain (AN 8. Terus belajar dan mengevaluasi diri (Kd 21. AN 4. Thag 17. Terus berlatih dan berupaya mengembangkan potensi yang dimiliki (Thag 3. AN 8. SN 48. Walaupun pola pikir mediokritas memang dapat dianut oleh siapa saja. Namun sebagai agen perubahan, hendaknya mahasiswa PTKB tidak memiliki pola pikir mediokritas. Jika semakin banyak mahasiswa PTKB, terutama di Jabodetabek memiliki pola pikir mediokritas, maka dapat diharapkan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat akan sangat sedikit sekali bahkan dapat nihil. Ketika bangsa ini kurang akan kreativitas dan inovasi, maka dapat diharapkan bahwa bangsa kita akan tertinggal. DAFTAR PUSTAKA