Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur Berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang Fuji Arifzapni*. Martin Kustati. Gusmirawati Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Indonesia *Coresponding Author: arifzapni@gmail. Dikirim: 26-10-2025. Direvisi: 05-11-2025. Diterima: 08-11-2025 Abstrak: Pembinaan karakter peserta didik merupakan fondasi utama dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta memiliki tanggung jawab sosial. Pada jenjang sekolah dasar, internalisasi nilainilai karakter lebih efektif dilakukan melalui kegiatan rutin yang terstruktur dan berkelanjutan, salah satunya melalui pembiasaan salat Zuhur berjamaah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses dan hasil pembinaan karakter peserta didik melalui kegiatan salat Zuhur berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara tematik refleksif melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan salat Zuhur berjamaah memberikan dampak positif terhadap penguatan karakter religius, disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Nilai religius tampak dari peningkatan kesadaran beribadah, disiplin terlihat dari keteraturan waktu salat, tanggung jawab muncul dalam menjaga kebersihan, dan kebersamaan terwujud melalui interaksi harmonis antar peserta Pembinaan dilakukan melalui model Service Learning (SL) yang terdiri atas praimplementasi, implementasi, dan pasca-implementasi. Dengan demikian, pembiasaan salat Zuhur berjamaah terbukti menjadi strategi efektif dalam mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis religiusitas di sekolah dasar. Kata Kunci: pembinaan karakter. salat Zuhur berjamaah. pendidikan dasar. service learning Abstract: Character education is a fundamental pillar in achieving the national education goals, which emphasize the development of individuals who are faithful, pious, virtuous, and socially responsible. At the elementary school level, the internalization of character values is more effectively carried out through structured and continuous routines, one of which is the habituation of congregational Zuhr prayer. This study aims to analyze the process and outcomes of character building through the practice of congregational Zuhr prayer at SD Sabbihisma 04 Padang. The research employed a qualitative descriptive approach using participatory observation, in-depth interviews, and documentation as data collection Data were analyzed using reflective thematic analysis through the stages of data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the habituation of congregational Zuhr prayer positively influences the development of religious, disciplined, responsible, and cooperative character traits. Religious values are reflected in increased worship awareness, discipline in time management, responsibility in maintaining cleanliness, and cooperation in social interaction. The character formation process applies the Service Learning (SL) model consisting of pre-implementation, implementation, and postimplementation stages. Therefore, the habituation of congregational Zuhr prayer is proven to be an effective strategy for integrating religious-based character education in elementary Keywords: character education. congregational Zuhr prayer. elementary education. service learning @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia. Hal ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (UU RI NO 20 Sisdiknas, 2. Pembinaan karakter bukan hanya aspek tambahan, melainkan fondasi yang harus diinternalisasikan sejak jenjang pendidikan dasar. Dalam perkembangan sistem pendidikan nasional, perhatian terhadap pembentukan karakter siswa menjadi semakin penting karena selain aspek kognitif, aspek afektif dan psikomotorik harus turut dikembangkan secara seimbang. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar AutambahanAy dalam kurikulum, melainkan sebagai proses yang sadar, terencana dan terarah untuk menumbuhkan nilai-nilai moral, etika, maupun kepribadian yang baik pada siswa (Songbes, 2. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa karakter merupakan kumpulan watak, tabiat, atau kepribadian yang terbentuk melalui internalisasi berbagai nilai dalam kehidupan sehari-hari (Suarningsih, 2. Lebih lanjut, penerapan pendidikan karakter pada jenjang dasar memiliki implikasi strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam UndangAcUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Rasyid, 2. Menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi sejak pendidikan dasar, maka nilai-nilai luhur seperti tanggung jawab, kejujuran, empati, dan kerjasama dapat diinternalisasikan secara sistematis dalam lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat (Hermawati, 2. Ketika demikian, pembinaan karakter tidak sekadar menjadi Aumateri tambahanAy melainkan menjadi atmosfer pembelajaran yang terintegrasi dan berkesinambungan, yang mampu mendukung terbentuknya generasi muda yang bukan hanya kompeten secara akademik tetapi juga bermoral dan beretika (Bararah, 2. Integrasi nilai-nilai karakter perlu ditegaskan sebagai jembatan antara landasan strategis pembangunan karakter dan fase praktis pembiasaan di sekolah dasar. Nilainilai karakter tidak hanya berhenti pada rumusan kebijakan dan tujuan nasional, melainkan harus diterjemahkan ke dalam praktik pendidikan yang rutin dan terstruktur di sekolah. Pembentukan karakter siswa hendaknya dilakukan secara sadar dan sistematis melalui pembiasaan yang konsisten dalam keseharian sekolah, sehingga nilai-nilai karakter dapat tertanam kuat dalam diri siswa dan menjadi bekal bagi mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari (Indrianingrum, 2. Dalam konteks jenjang dasar, maka penting untuk menetapkan rutinitas dan kegiatan yang dapat menginternalisasikan nilai tanggung jawab, kejujuran, empati, dan kerjasama dalam suasana belajar-mengajar, agar karakter tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan peserta didik (Jasmana, 2. Integrasi pendidikan karakter sejak jenjang sekolah dasar menjadi suatu keharusan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA agar peserta didik tidak hanya AucerdasAy secara intelektual tetapi juga AubaikAy secara moral dan sosial. Sekolah dasar merupakan fase yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter dan kepribadian anak. Pada tahap ini, peserta didik berada dalam masa perkembangan yang sangat krusial dan potensial untuk menyerap serta menginternalisasi nilai-nilai, norma, dan kebiasaan yang baik. Oleh karena itu, lingkungan sekolah dan interaksi dengan guru serta teman-teman dapat memainkan peran yang sangat signifikan dalam membentuk perilaku dan karakter anak. Dengan demikian, sekolah dasar menjadi fondasi yang sangat penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berkarakter kuat (Mei et al. , 2. Pendekatan yang efektif untuk menanamkan karakter pada siswa adalah dengan mengintegrasikan kegiatan religius ke dalam aktivitas belajar sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan religius tidak hanya memperdalam dimensi spiritual siswa, tetapi juga dapat menumbuhkan sikap positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan rasa kebersamaan di antara siswa. Melalui integrasi ini, siswa dapat belajar nilai-nilai agama dan moral secara langsung dan kontekstual, sehingga membentuk karakter yang kuat dan berakhlak mulia (Hasibuan, 2. Salah satu strategi pembinaan karakter yang relevan adalah pembiasaan salat berjamaah, khususnya salat Zuhur yang dilaksanakan di sekolah. Kegiatan ini bukan hanya melatih kesadaran religius, tetapi juga menjadi wahana internalisasi nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan (Erfani, 2. Dalam konteks kehidupan muslim, salah satu medium efektif untuk pembinaan karakter adalah salat berjamaah, khususnya salat Zuhur secara berjamaah (Wahyudin, 2. Dalam pelaksanaannya salat Zuhur berjamaah di sekolah atau lembaga sangat memerlukan dukungan dari kebijakan institusi, keteladanan guru atau imam, serta fasilitas yang memadai (Damayanti et al. Berbagai pembinaan telah menunjukkan bahwa pembiasaan salat berjamaah berdampak positif pada pembentukan karakter religius, seperti disiplin, tanggung jawab, dan pengendalian diri (Lubis, 2. Lebih jauh, praktik salat berjamaah membantu menanamkan nilai kebersamaan dan saling menghormati karena jamaah saling menunggu, menata barisan, hingga menghormati imam (Hidayatullah, 2. Membahas pembinaan karakter melalui pembentukan kebiasaan salat Zuhur berjamaah menjadi relevan dan strategis (Aviyah, 2. Mekanisme pembiasaan salat Zuhur berjamaah dalam konteks institusi pendidikan atau komunitas (Maulida. Nilai-nilai karakter yang terinternalisasi, serta tantangan dan solusi dalam implementasinya (Majid, 2. Landasan pembinaan empiris serta kajian teoritis, diharapkan memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana kebiasaan ibadah ini berfungsi sebagai wahana pendidikan karakter yang efektif (Munir, 2. Implementasi pembinaan karakter melalui salat berjamaah dapat dikaitkan dengan pendekatan service learning (SL). Service learning adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan aktivitas pelayanan masyarakat dengan pembelajaran akademik, sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung dalam menanamkan nilai-nilai karakter (Danuwara, 2. Langkah-langkah pra implementasi, pelaksanaan, dan pasca implementasi, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara partisipatif dan reflektif. Permasalahan yang melatarbelakangi perlunya dilakukan pembinaan karakter melalui pembiasaan salat Zuhur berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang adalah @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA masih rendahnya kesadaran dan kedisiplinan peserta didik dalam melaksanakan ibadah secara rutin serta kurangnya pemahaman bahwa kegiatan religius memiliki keterkaitan erat dengan pembentukan karakter. Dalam praktiknya, sebagian siswa masih memandang salat berjamaah sebagai kegiatan formal yang sekadar memenuhi kewajiban, bukan sebagai sarana pembentukan sikap tanggung jawab, kebersamaan, dan disiplin. Selain itu, kurangnya model pembelajaran yang mengaitkan nilai-nilai spiritual dengan pengalaman belajar nyata menyebabkan internalisasi nilai karakter belum optimal. Kondisi tersebut berdampak pada lemahnya penerapan nilai-nilai seperti kedisiplinan, empati, dan kerja sama di lingkungan sekolah. Melalui penerapan pendekatan service learning dalam kegiatan salat Zuhur berjamaah, diharapkan pembinaan karakter dapat dilakukan secara lebih bermakna, partisipatif, dan kontekstual, sehingga nilai-nilai keagamaan tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihayati dan diamalkan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan konteks tersebut, pembinaan ini berfokus pada pembinaan karakter melalui pembentukan kebiasaan salat Zuhur berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang. Pembinaan ini penting dilakukan karena memberikan gambaran empiris tentang bagaimana praktik religius dapat berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa sejak dini. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Pembinaan ini menggunakan pendekatan model service learning (SL). Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan mendalami proses pembiasaan salat Zuhur berjamaah dan kontribusinya dalam pembentukan karakter siswa (Juanawati. Model service learning (SL) dipakai untuk mengintegrasikan aktivitas religius dengan pengalaman belajar siswa, sehingga nilai karakter dapat terbentuk secara alami (Sari, 2. Pembinaan dilakukan di SD Sabbihisma 04 Padang, dengan subjek meliputi guru, siswa, dan tenaga pendidik yang terlibat langsung dalam kegiatan salat Zuhur berjamaah. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive, yaitu mereka yang secara langsung berpartisipasi dalam kegiatan tersebut (Rafifah, 2. Sumber data yang digunakan terdiri dari: Data primer: diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta keterlibatan langsung dalam kegiatan salat Zuhur berjamaah. Data sekunder: diperoleh dari dokumen sekolah, catatan kegiatan, serta literatur relevan terkait pendidikan karakter dan pembiasaan ibadah (Yuliana, 2. Untuk memastikan proses pengumpulan data berjalan secara sistematis dan terarah, disusun kisi-kisi instrumen observasi dan wawancara sebagai panduan dalam mengidentifikasi dan mengukur aspek-aspek pembinaan karakter yang diteliti. Instrumen ini mencakup aspek, indikator, serta fokus pengamatan dan pertanyaan yang mengacu pada nilainilai karakter utama, yaitu kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan dan Rincian instrumen observasi dan wawancara disajikan pada tabel berikut. Tabel 1. Instrumen Observasi Aspek yang Diamati Kedisiplinan Indikator Ketepatan waktu hadir untuk salat Zuhur berjamaah Keteraturan mengikuti barisan Teknik Observasi Observasi partisipatif langsung @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sumber Data Siswa Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA Tanggung Jawab Kerbersamaan Religiusitas Kepatuhan terhadap tata tertib Kesadaran menjaga kebersihan tempat ibadah Keterlibatan dalam menyiapkan perlengkapan salat Konsistensi mengikuti kegiatan tanpa paksaan Sikap saling membantu antar siswa dalam kegiatan salat Interaksi sosial positif antar peserta didik Sikap menghargai teman dan Kekhusyukan menjalankan salat Kepatuhan terhadap tata cara Penerapan nilai-nilai religius di luar kegiatan salat Observasi perilaku siswa sebelum dan sesudah salat Siswa Observasi interaksi setelah kegiatan Siswa Observasi catatan lapangan Siswa dan Guru Tabel 2. Instrumen Wawancara Aspek yang Pemahaman tentang tujuan Indikator Pengaruh Peran guru dan Pemahaman guru/siswa terhadap makna salat berjamaah Pandangan terhadap pentingnya Perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan Nilai karakter yang berkembang Strategi pembinaan karakter melalui kegiatan Dukungan dan pengawasan guru selama pelaksanaan Faktor Dukungan lingkungan sekolah Kendala Refleksi Upaya evaluasi dan perbaikan Rencana pengembangan program Pertanyaan kunci Responden Apa makna dan tujuan pelaksanaan Zuhur berjamaah di sekolah menurut kamu? Nilai-nilai apa yang di rasakan tumbuh kegiatan salat Zuhur Bagaimana guru dan sekolah dalam membimbing berjamaah ini? Apa saja faktor yang pelaksanaan kegiatan Bagaimana kegiatan ini dievaluasi agar Guru dan Siswa Siswa Guru Guru dan Siswa Guru Berdasarkan tabel diatas data dikumpulkan melalui beberapa teknik: Observasi partisipatif, untuk mengamati proses pelaksanaan salat Zuhur berjamaah, keteraturan, disiplin waktu, serta perilaku siswa selama kegiatan berlangsung. Wawancara mendalam, dilakukan dengan guru, siswa, dan tenaga pendidik guna memperoleh pemahaman tentang makna kegiatan terhadap pembinaan karakter. Dokumentasi, berupa foto kegiatan, arsip sekolah, dan catatan program yang mendukung pembinaan (Fauziah, 2. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Hasil pembinaan yang dilakukan menunjukkan bahwa kegiatan pembiasaan salat Zuhur berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang berjalan secara rutin, terstruktur, dan mendapat dukungan penuh dari seluruh warga sekolah. Pelaksanaan kegiatan ini menerapkan tiga tahapan utama dalam model Service Learning (SL), yaitu praimplementasi, implementasi, dan pasca-implementasi. Setiap tahapan memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan karakter siswa, baik dalam aspek religius maupun sosial. Temuan utama menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya membentuk peserta didik yang taat beragama, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, empati, dan kepedulian sosial. Tahap Pra Implementasi Pada tahap awal, pihak sekolah bersama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) menyusun jadwal kegiatan, menyiapkan sarana ibadah seperti sajadah, mukena, dan tempat wudu, serta memberikan pengarahan kepada siswa mengenai tata cara dan adab salat berjamaah. Guru juga menanamkan nilai-nilai disiplin waktu, kebersamaan, dan tanggung jawab. Proses ini menjadi bagian penting dari moral knowing . engetahui nila. , karena siswa mulai memahami makna ibadah dan tujuan kegiatan (Darwanti et al. , 2. Hasil observasi menunjukkan bahwa mayoritas siswa menunjukkan antusiasme dan kesiapan dalam mengikuti kegiatan. Keterlibatan aktif guru sebagai pembimbing dan teladan memperkuat motivasi siswa untuk berpartisipasi dengan penuh kesadaran. Tahap Implementasi Pelaksanaan salat Zuhur berjamaah dilakukan setiap hari di mushala sekolah dengan bimbingan guru PAI dan wali kelas. Siswa bergiliran menjadi muadzin dan guru sebagai pengatur saf sekaligus berperan sebagai imam atau pendamping. Temuan lapangan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam aspek disiplin waktu dan tanggung jawab pribadi. Sebelum program dijalankan, beberapa siswa kerap terlambat datang ke mushala dan kurang menjaga kerapian saf. Namun, setelah pembiasaan dilakukan secara konsisten, sebagian besar siswa datang tepat waktu, menjaga kebersihan, dan menunjukkan kekompakan selama pelaksanaan ibadah. Kegiatan ini juga memperkuat moral feeling . erasakan nila. , di mana siswa mulai mengalami dan merasakan pentingnya nilai disiplin, kebersamaan, dan saling menghormati melalui keterlibatan langsung (Darwanti et al. , 2025. Lestari, 2. Hasil wawancara mendalam dengan guru menunjukkan bahwa kegiatan salat berjamaah menumbuhkan kesadaran religius yang tercermin dalam perilaku seharihari, seperti sopan santun, menghormati guru, serta keinginan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Fadlilah, 2. yang menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah berjamaah dan tadarus AlQurAoan efektif dalam memperkuat karakter religius peserta didik di sekolah dasar. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA Gambar 1. Pelaksanaan salat zuhur berjamaah Tahap Pasca Implementasi Tahap ini berfokus pada refleksi dan evaluasi kegiatan. Guru dan siswa melakukan diskusi ringan mengenai pengalaman selama melaksanakan salat berjamaah, serta nilai-nilai yang mereka pelajari. Berdasarkan hasil Pembinaan, siswa mengaku merasa lebih tenang, tertib, dan memiliki rasa kebersamaan yang lebih kuat dengan teman-temannya. Guru menilai bahwa kegiatan ini tidak hanya meningkatkan karakter religius, tetapi juga memperbaiki sikap sosial seperti saling menghormati, tolong-menolong, dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Pelaksanaan salat Zuhur berjamaah telah menjadi bagian dari school culture . udaya sekola. di SD Sabbihisma 04 Padang. Setiap kelas memiliki jadwal bergiliran, dan kegiatan ini didukung penuh oleh kepala sekolah serta komite. Dukungan kelembagaan tersebut menjadi faktor kunci keberlanjutan program. Secara keseluruhan, pembiasaan salat Zuhur berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter utama, yaitu: AuDisiplinAy, melalui keteraturan waktu dan kesiapan mengikuti kegiatan. AuTanggung jawabAy, melalui partisipasi aktif dan kebersihan selama kegiatan ibadah. AuKebersamaan dan saling menghargaiAy, melalui interaksi positif antar siswa dalam pelaksanaan salat AuReligiusitasAy, melalui peningkatan pemahaman dan kesadaran spiritual Pembentukan karakter melalui pembiasaan bukan hanya soal mengulang suatu kegiatan secara rutin, tetapi juga tentang bagaimana kebiasaan itu menjadi bagian dari budaya sekolah yang mendukung internalisasi nilai. Contoh, penelitian menunjukkan bahwa karakter dapat terbentuk melalui tiga elemen utama: moral knowing . engetahui nila. , moral feeling . erasakan nila. , dan moral acting . engamalkan nila. (Darwanti et al. , 2. Dalam konteks kegiatan salat berjamaah, siswa tidak hanya diarahkan untuk tahu arti ibadah berjamaah . oral knowin. , tetapi juga merasakan kedisiplinan, kebersamaan, tanggung-jawab melalui praktek . oral feelin. dan kemudian menjadikannya rutinitas yang melekat . oral Lebih jauh, unsur pembiasaan ibadah berjamaah di sekolah berkontribusi pada terciptanya iklim sekolah berkarakter. Studi menunjukkan bahwa penguatan karakter religius sangat efektif bila dilekatkan pada budaya sekolah . chool cultur. yang konsisten, dimana kebiasaan-kebiasaan religius dijadikan rutinitas yang diikuti oleh guru dan siswa secara bersama-sama (Anam, 2025. Lestari, 2. Kegiatan salat Zuhur berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang mencerminkan penerapan rutinitas tersebut, yang memperkuat aspek kebersamaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Selanjutnya, integrasi antara pembiasaan religius dengan pendekatan pembelajaran aktif seperti Service Learning menambah dimensi partisipatif dan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA reflektif dalam pembinaan karakter. Dalam model service learning, siswa tidak hanya menerima pembelajaran pasif, melainkan aktif mengambil bagian, melaksanakan tindakan nyata, lalu melakukan refleksi atas pengalaman tersebut (Lestari, 2. Dalam kegiatan salat berjamaah, siswa bergiliran menjadi muadzin pembiasaan tersebut yang membentuk tanggung jawab dan kepemimpinan diri. Lebih spesifik pada aspek religiusitas, aktivitas salat berjamaah sebagai kebiasaan harian di sekolah mencerminkan salah satu nilai utama dalam program pendidikan karakter Indonesia, yakni religiusitas sebagaimana diamanatkan dalam kebijakan nasiona (Zhafirah & Wahyuni, 2. Penelitian di SD N 1 Kutawis Purbalingga juga memperkuat bahwa kegiatan habituasi seperti salat Zuhur berjamaah dan tadarus Al-QurAoan memperkuat kesadaran spiritual siswa serta membangun karakter religius sejak dini (Fadlilah, 2. Dari aspek sosial, pembiasaan salat berjamaah di sekolah juga memungkinkan pengembangan nilai-nilai seperti disiplin, kebersamaan, saling menghargai, dan kepedulian antar siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa karakter sosial seperti toleransi dan kerja sama tumbuh apabila sekolah mengembangkan rutinitas nilai sosial dalam aktivitas harian siswa (Hayati, 2. Pada tahap implementasi, siswa bergiliran menjadi muadzin, sehingga belajar tanggung jawab dan ini langsung mencerminkan nilai-nilai karakter yang diinginkan. Pada tahap refleksi atau pasca implementasi, diskusi antara guru dan siswa menjadi sarana penting dalam memperkuat pemahaman nilai. Menurut penelitian, refleksi merupakan bagian esensial dalam siklus pembelajaran karakter karena mengintegrasikannya ke dalam perilaku pribadi (Lestari, 2. konteks SD Sabbihisma 04 Padang, guru dan siswa melakukan refleksi ringan pasca salat berjamaah, dan mengaku bahwa kegiatan ini membuat mereka lebih tertib, empatik, dan saling menghormati. Pembiasaan salat Zuhur berjamaah yang dijalankan secara rutin, terstruktur, dan terintegrasi dalam budaya sekolah bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan strategi pembinaan karakter yang komprehensif. Melalui tahapan pra implementasi . , pelaksanaan aktivitas, dan pasca implementasi . yang selaras dengan model service learning, sekolah berhasil menginternalisasi nilai-nilai religius, sosial, dan moral. Teori pendidikan karakter serta hasil penelitian terdahulu mendukung bahwa pengulangan aktivitas positif, lingkungan yang mendukung, dan refleksi yang konsisten adalah kunci terwujudnya karakter unggul pada peserta didik. KESIMPULAN Pelaksanaan salat Zuhur berjamaah di SD Sabbihisma 04 Padang terbukti efektif sebagai sarana pembentukan karakter siswa, khususnya dalam aspek religiusitas dan sosial. Melalui pendekatan Service Learning (SL) yang mencakup tahapan pra implementasi, implementasi, dan pasca implementasi, siswa tidak hanya memahami nilai-nilai ibadah secara kognitif, tetapi juga menginternalisasikannya melalui pengalaman langsung dan refleksi. Kegiatan ini berhasil menanamkan nilainilai utama seperti disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, dan religiusitas secara konsisten, sehingga salat berjamaah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi bagian dari budaya sekolah . chool cultur. yang mendukung pembentukan karakter secara @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Arifzapni dkk. Pembinaan Karakter Melalui Pembentukan Kebiasaan Salat Zuhur BerjamaahA Partisipasi aktif siswa, dukungan guru, serta komitmen kelembagaan menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Pembiasaan salat berjamaah juga mencerminkan keterpaduan antara pembelajaran nilai dan praktik nyata yang relevan dengan teori pendidikan karakter, seperti moral knowing, moral feeling, dan moral Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya dilatih untuk taat beribadah, tetapi juga belajar kepemimpinan, kerjasama, kedisiplinan, dan empati sosial. Dengan demikian, pembiasaan salat Zuhur berjamaah menjadi strategi pembinaan karakter yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan dalam konteks pendidikan dasar. DAFTAR PUSTAKA