MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN KONTEKSTUAL BERBASIS TEOLOGI AuEARTH-HONORING FAITHAy LARRY L. RASMUSSEN: RESPONS ATAS KRISIS AIR BERSIH DI KABUPATEN CILACAP Remegises Danial Yohanis Pandie*. Romika**. Udin Firman Hidayat*** Abstract: The clean water crisis affecting Cilacap Regency is an urgent ecological issue that demands a multidisciplinary response, including from the fields of theology and education. This article offers an innovative approach through the development of contextual Christian Religious Education grounded in Larry L. RasmussenAos AuEarth-Honoring FaithAy This theological framework emphasizes a spirituality that honors the Earth, rooted in ecological awareness and ethical responsibility toward creation. Through this approach. Christian Religious Education becomes not only a means of faith formation but also a transformative praxis in addressing local environmental realities. The method employed is qualitativedescriptive, combining literature study and an analysis of the socio-ecological context of Cilacap Regency. The findings indicate that integrating the principles of AuEarth-Honoring FaithAy into the CRE curriculum can foster ecological awareness * Penulis adalah Dosen tetap di Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way. Jakarta. Penulis dapat dihubungi melalui email: remegissesdypandie@gmail. ** Penulis adalah Dosen tetap di Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way. Jakarta. *** Penulis adalah Dosen di Sekolah Tinggi Teologi Diakonos. Banyumas. Jurnal Amanat Agung among learners and church communities, while also mobilizing active participation in responding to the clean water crisis in concrete and transformative ways. Therefore, theologically informed ecological contextual education can serve as a strategic medium for building grounded faith-based solidarity and a just ethic of sustainability for all creation. Keywords: Christian Religious Education. Earth-Honoring Faith. Contextual Theology. Clean Water Crisis. Ecotheology. Abstrak: Krisis air bersih yang melanda Kabupaten Cilacap merupakan permasalahan ekologis yang mendesak dan menuntut tanggapan multidisipliner, termasuk dari ranah teologi dan pendidikan. Artikel ini menawarkan sebuah pendekatan inovatif melalui pengembangan Pendidikan Agama Kristen yang kontekstual, berbasis pada teologi AuEarthHonoring FaithAy yang dikemukakan oleh Larry L. Rasmussen. Teologi ini menekankan spiritualitas yang menghormati bumi, berakar pada kesadaran ekologis, dan bertanggung jawab secara etis terhadap ciptaan. Melalui pendekatan ini. Pendidikan Agama Kristen tidak hanya menjadi sarana pembentukan iman, tetapi juga transformasi praksis terhadap realitas lingkungan lokal. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan studi literatur dan analisis konteks sosial-ekologis Kabupaten Cilacap. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi prinsip AuEarth-Honoring FaithAy dalam kurikulum PAK mampu mendorong kesadaran ekologis peserta didik dan komunitas gereja, sekaligus menggerakkan partisipasi aktif dalam merespons krisis air bersih secara konkret dan transformatif. Oleh karena itu, pendidikan teologis berbasis kontekstual ekologis dapat menjadi medium strategis untuk membangun solidaritas iman yang membumi serta etika keberlanjutan yang berkeadilan bagi seluruh ciptaan. Kata-kata kunci: Pendidikan Agama Kristen. Earth-Honoring Faith. Teologi Kontekstual. Krisis Air Bersih. Ekoteologi. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 109 Pendahuluan Penelitian mengenai Pendidikan Agama Kristen (PAK) kontekstual berbasis Earth-Honoring Faith menjadi semakin signifikan seiring meningkatnya krisis ekologi dan kebutuhan pengelolaan lingkungan berbasis iman. Tasik dan Rasmussen menulis integrasi nilai ekologi dalam PAK berkembang dari refleksi awal tentang perawatan ciptaan menuju kerangka ekoteologis yang menekankan keberlanjutan dan tanggung jawab moral. 1 Biaf dan Tari. Nainggolan, dkk. menegaskan peran pendidikan Kristen dalam membentuk kesadaran ekologis serta praktik berkelanjutan di kalangan pemuda dan jemaat. Yedija, dkk. dalam penelitiannya mengatakan bahwa tantangan muncul dalam mengontekstualisasikan PAK agar selaras dengan realitas budayaekologi lokal. 3 Berikutnya Pujiono dalam penelitiannya mengatakan bahwa kesenjangan terlihat dalam pendekatan holistik yang mengintegrasikan spiritualitas ekologis dengan strategi pedagogis Angelicha Tangke Tasik. AuMencintai Alam Sebagai Bagian Dari Iman,Ay Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3. 7, no. 2 (Juni 2. : 1Ae18. Larry Rasmussen. AuEarth-Honoring Faith,Ay Tikkun 29, no. 1 (Januari 2. Raymon Imanuel Biaf dan Ezra Tari. AuPeran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Mengembangkan Kepedulian Ekologi Pada Generasi Muda Kristen,Ay Scholars 2, no. 1 (Juni 2. : 57Ae68. Mangido Nainggolan, . AuAnalisis Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Pembentukan Sikap Peduli Lingkungan,Ay Journal on Education 6, no. 4 (Juni 2. : 209. Yedija. Yonatan Alex Arifianto, dan Reni Triposa. AuStrategi Pembelajaran Kontekstual Dalam Pendidikan Agama Kristen Untuk Mengatasi Tantangan Sosial,Ay Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual Dan Pelayanan Kristiani 4, no. 1 (Mei 2. : 34. Jurnal Amanat Agung Milton Kureethadam menemukan bahwa terdapat perdebatan mengenai keseimbangan antara doktrin dan aktivisme ekologis. Ketiadaan model komprehensif dan peka konteks membatasi potensi PAK dalam menumbuhkan komitmen ekologis yang berkelanjutan. Beberapa penelitian di atas memiliki konteks masalahnya masing-masing sesuai dengan sudut pandangnya tersendiri, sehingga penelitian ini berbeda dalam segala hal yang berkaitan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Yang mana penelitian ini berfokus pada konteks kabupaten Cilacap dengan segala masalah ekologisnya seperti krisis air bersih secara nyata. Setiap musim kemarau panjang, ribuan keluarga mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Krisis ini diperparah dengan pencemaran sungai, pengelolaan air. Kondisi ini mengindikasikan bahwa krisis air bersih tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, melainkan juga akibat perilaku manusia yang abai terhadap kelestarian lingkungan. Pada JuliAeAgustus 2024, jumlah warga terdampak meningkat signifikan: dari 4. 410 jiwa . 227 KK) di 10 desa pada 6 kecamatan, menjadi 15. 095 jiwa . 016 KK) Andrias Pujiono. AuAnalisis Keseimbangan Ranah Kognitif. Afektif Dan Psikomotorik Dalam Muatan Ekologi Pada Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Sekolah Menengah Atas,Ay REAL DIDACHE: Journal of Christian Education 2, no. 2 (September 2. : 78. Grace Milton. AuThe Importance of Eco-Salvation in Pentecostal Theological Education,Ay Journal of Pentecostal and Charismatic Christianity 43, no. 2 (Juli 2. : 133Ae50. Joshtrom Kureethadam. AuBlessed Are the Gentle : Moving from Gluttony to Sobriety,Ay dalam In Homo Curator: Towards the Ethics of Consumption, vol. 8 (Switzerland: Springer, 2. , 15. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 111 di 16 desa pada 8 kecamatan. Daerah terdampak meliputi Bojong. Ujungmanik. Cimrutu. Rawaapu. Bulupayung, hingga wilayah pesisir seperti Panikel dan Kawunganten. Intrusi air laut memperparah kondisi karena sumur warga menjadi asin dan tidak layak konsumsi. Meskipun ada air di beberapa daerah pesisir, kualitasnya keruh dan berwarna sehingga tidak bisa dipakai. Infrastruktur penanggulangan krisis masih terbatas, sehingga distribusi air bersih lebih bersifat darurat dan belum 6 Masalah ini bukan hanya menimbulkan penderitaan fisik, tetapi juga menjadi tantangan moral dan spiritual bagi manusia dalam menjaga relasi yang harmonis dengan alam. Dalam perspektif teologi Kristen, krisis air bersih mencerminkan rusaknya relasi harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Rasmussen berpendapat bahwa krisis ekologi saat ini adalah masalah Sumarwoto. AuBPBD: Jumlah Warga Terdampak Krisis Air Bersih Cilacap Bertambah,Ay Juli https://w. com/berita/4209471/bpbd-jumlah-wargaterdampak-krisis-air-bersih-di-cilacap-bertambah?. Whisnu M. AuMakin Meluas, 15 Ribu Jiwa Di Cilacap Krisis Air Bersih,Ay diakses 14 Agustus 2024, https://w. com/read/NxGCzV3Y-makin-meluas-15-ribujiwa-di-cilacap-krisis-air-bersih?. Fadlan Mukhtar Zain dan Sari Hardiyanto. AuKekeringan Di Cilacap Meluas, 4. 410 Jiwa Krisis Air Bersih,Ay Kompas. Artikel ini telah tayang di Kompas. com dengan judul AuKekeringan di Cilacap Meluas, 4. 410 Jiwa Krisis Air BersihAy. Klik untuk baca: https://regional. com/read/2024/07/22/195205178/kekeringan-dicilacap-meluas-4410-jiwa-krisis-air-bersih?A, diakses 22 Juli 2024, https://regional. com/read/2024/07/22/195205178/kekeringan-dicilacap-meluas-4410-jiwa-krisis-air-bersih?. Budi Zulkifli. AuKekeringan Dan Krisis Air Bersih. BPBD Cilacap Distribusi Air Bersih Untuk 17. 999 Jiwa,Ay diakses 22 Juli 2024, https://w. com/daerah/jateng/238453kekeringan-dan-krisis-air-bersih-bpbd-cilacap-distribusi-air-bersih-untuk17999-jiwa? Jurnal Amanat Agung peradaban, membutuhkan pemikiran ulang mendasar tentang hubungan manusia dengan bumi. Ia menyarankan bahwa tradisi agama, dengan sumber daya moral dan spiritual yang kaya, dapat memainkan peran penting dalam menumbuhkan kesadaran ekologi. 7 Konsep EarthHonoring Faith melibatkan komitmen terhadap Kekristenan yang berorientasi pada keadilan, yang berupaya berkontribusi pada kebaikan praktik berkelanjutan. Rasmussen, mengajak komunitas beriman untuk melihat alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik dan harus dipelihara demi keberlanjutan Pendekatan ini menggarisbawahi bahwa persoalan ekologis adalah persoalan moral dan iman, sehingga memerlukan respons yang bersifat holistik menggabungkan aspek spiritual, etis, dan praktis. Dengan demikian, respiritualisasi mencakup asketisme air yang menyembuhkan, pemahaman air sebagai anugerah suci dan cumacuma, serta mistisisme yang memandang air sebagai sumber kehidupan dan kehadiran ilahi. Rasmussen, "Earth-Honoring Faith,Ay 26. Larry L. Rasmussen dan Dieter T. Hessel . Earth Habitat: EcoInjustice and the ChurchAos Response (Augsburg: Fortress Press, 2. , 42. Larry L. Rasmussen. Earth-Honoring Faith: Religious Ethics in a New Key (Oxford: Oxford University Press, 2. , 80. Delinda Elizabeth Aritonang. Roberto Hamonangan Silitonga, and Destri Ayu Natalia Hutauruk. AuRelasi Alam Dengan Eksistensi Manusia Terhadap Krisis Ekologi Berdasarkan Perspektif Filsafat-Teologis,Ay DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika 6, no. 2 (Desember 2. : 150. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 113 Dalam konteks PAK di Indonesia, khususnya di lingkungan jemaat dan sekolah-sekolah Kristen, teologi Earth-Honoring Faith menawarkan kerangka yang relevan untuk mengembangkan kurikulum yang responsif terhadap isu-isu ekologis. 10 PAK memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ekologis generasi muda di sekolah dan jemaat di gereja yang tidak hanya menyampaikan dogma iman, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab etis. Melalui pendekatan PAK menanamkan spiritualitas ekologis sesuai dengan kerangka EarthHonoring Faith. 11 Misalnya, melalui pembelajaran berbasis proyek konservasi air, kampanye hemat air, atau kolaborasi lintas komunitas untuk pemulihan sumber air. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai iman yang menghormati bumi ke dalam pembelajaran. PAK dapat menjadi sarana transformasi yang mengubah pola pikir eksploitatif menjadi sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap ciptaan. Sebagaimana ditekankan oleh Rasmussen dalam gagasannya tentang Earth-Honoring Faith, iman sejati harus menghormati bumi sebagai ciptaan Allah yang 12 Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan PAK berbasis teologi Earth-Honoring Faith di Kabupaten Cilacap menjadi sangat Selain sebagai respons terhadap krisis air bersih yang Biaf dan Tari. AuPeran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Mengembangkan Kepedulian Ekologi Pada Generasi Muda Kristen,Ay 58. Lih. Remegises Danial Yohanis Pandie. Desi Sianipar, dan Lamhot Naibaho. AuPendidikan Agama Kristen Yang Membebaskan: Pedagogis Kritis Paulo Freire Dalam Konteks Budaya Suku Boti,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 7, no. 2 (Desember 2. : 581. Rasmussen. Earth-Honoring Faith, 333. Jurnal Amanat Agung mengancam kesejahteraan masyarakat, hal ini juga menjadi wujud panggilan iman untuk merawat bumi sesuai mandat Allah dalam ranah PAK yang praktis dan kontekstual. Berdasarkan penjelasan di atas, artikel ini berangkat dari dua pertanyaan utama: . Bagaimana relevansi teologi Earth-Honoring Faith dalam merespons krisis air bersih di Cilacap? . Bagaimana PAK kontekstual dapat dikembangkan untuk menghadirkan respons yang nyata dan transformatif? Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan, memahami, serta menganalisis fenomena secara mendalam dalam konteks yang nyata. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yakni mengkaji krisis air bersih di Kabupaten Cilacap dalam kaitannya dengan pengembangan PAK kontekstual berbasis teologi Earth-Honoring Faith dari Rasmussen. Penelitian kualitatif-deskriptif memungkinkan peneliti untuk menyajikan data bukan dalam bentuk angka semata, melainkan melalui uraian naratif yang menekankan makna, interpretasi, dan relevansi bagi konteks lokal. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, yaitu dengan menelaah sumber-sumber ilmiah, baik berupa buku, artikel jurnal, laporan penelitian, maupun pemberitaan media massa yang relevan. Literatur utama yang dianalisis mencakup pemikiran Rasmussen tentang Earth-Honoring Faith, teori pendidikan kontekstual Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 115 dalam PAK, serta laporan mengenai krisis air bersih di Kabupaten Cilacap Dengan cara ini, peneliti memperoleh dasar teoretis yang kokoh sekaligus data faktual terkait kondisi sosial-ekologis di lapangan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan analisis konteks sosialekologis Kabupaten Cilacap sebagai bagian penting dalam menafsirkan relevansi teologi dengan realitas lokal. Analisis konteks mencakup kajian tentang faktor-faktor penyebab krisis air bersih seperti perubahan iklim, musim kemarau panjang, intrusi air laut, serta keterbatasan infrastruktur distribusi air. Data tersebut kemudian dipadukan dengan perspektif teologis untuk menghasilkan sintesis yang kontekstual, khususnya dalam ranah pendidikan agama. Dengan kombinasi antara studi literatur dan analisis konteks sosial-ekologis, penelitian ini berusaha menghasilkan pemahaman yang komprehensif, yakni tidak hanya menjelaskan persoalan krisis air bersih sebagai isu teknis, tetapi juga mengaitkannya dengan refleksi iman Kristen. Oleh karena itu, metode ini membantu menggali bagaimana PAK kontekstual dapat dirancang untuk menumbuhkan kesadaran ekologis peserta didik sekaligus merespons tantangan nyata yang dihadapi masyarakat Cilacap. Hasil dan Pembahasan Kerangka Teologis Larry L. Rasmussen Tentang Earth-Honoring Faith Konsep Earth-Honoring Faith yang dikembangkan oleh Larry Rasmussen lahir dari keprihatinan terhadap krisis ekologi global. Rasmussen, seorang teolog Kristen, melihat bahwa kerusakan bumi Jurnal Amanat Agung akibat perubahan iklim, pencemaran, eksploitasi sumber daya, dan kepunahan spesies telah menempatkan seluruh ciptaan dalam keadaan darurat. Dalam bukunya Earth-Honoring Faith: Religious Ethics in a New Key . Rasmussen menekankan bahwa iman Kristen harus memberikan respons yang serius terhadap krisis Menurutnya, iman sejati tidak bisa hanya dipahami sebagai hubungan eksklusif antara manusia dan Allah, melainkan juga harus mencakup relasi manusia dengan bumi sebagai rumah bersama, ciptaan Allah yang kudus, yang harus dihormati dan dijaga. 13 Oleh karena itu. Earth-Honoring Faith menuntut perubahan paradigma dari iman yang bersifat antroposentris menuju iman yang bersifat kosmosentris, yaitu iman yang menghormati seluruh ciptaan. Inti dari gagasan Rasmussen adalah etika relasional bertumpu pada manusia, alam, dan Allah hidup dalam jalinan yang saling terkait . Setiap kerusakan lingkungan bukan hanya masalah ekologis, tetapi juga persoalan etis dan Mengeksploitasi bumi secara serakah berarti merusak relasi dengan sesama manusia, melukai generasi mendatang, sekaligus menyalahi kehendak Allah sebagai Pencipta. 14 Earth-Honoring Faith juga mengandung dimensi spiritualitas ekologis menuntut manusia untuk hidup dengan rasa syukur, hormat, dan kesadaran terhadap Rasmussen. Earth-Honoring Faith, 83. Ricky Atmoko. AuRespiritualization and Reconfiguration of Practice: A Theological Construction of Water for Increasing Water Access in Indonesia,Ay TRANSFORMATIO: Jurnal Teologi. Pendidikan. Dan Misi Integral 1, no. 1 (November 2. : 69. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 117 keterbatasan bumi. Bukan sekadar menyadari pentingnya alam, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata seperti menghemat air, mengurangi konsumsi berlebihan, menggunakan energi terbarukan, serta melestarikan hutan dan sumber daya alam Rasmussen menghubungkan gagasannya dengan keadilan ekologis . co-justic. bahwa krisis lingkungan hampir selalu berdampak paling besar pada kelompok miskin dan terpinggirkan. Mereka yang tidak memiliki akses memadai terhadap sumber daya justru harus menanggung beban paling berat dari pencemaran, kekeringan, atau bencana ekologis. 15 Dengan demikian, iman yang menghormati bumi juga berarti memperjuangkan keadilan sosial bagi mereka yang terdampak krisis ekologi. Secara praktis. Rasmussen menawarkan sejumlah prinsip iman yang menghormati bumi seperti menjalani hidup sederhana . , membangun komunitas berkelanjutan . ustainable communit. , menghormati keberagaman makhluk hidup sebagai bagian dari ciptaan, dan mengakui keterbatasan bumi dalam menopang kehidupan. Prinsip-prinsip ini menuntun umat beriman untuk mengintegrasikan iman dengan gaya hidup ekologis. Konsep ini memiliki implikasi besar bagi gereja dan pendidikan agama Kristen. Gereja dipanggil bukan hanya untuk mengajarkan doa dan ibadah, melainkan juga mendidik jemaat agar aktif merawat bumi. Pendidikan iman Kristen harus menanamkan bahwa merawat Rasmussen, "Earth-Honoring Faith,Ay 25. Rasmussen. Earth-Honoring Faith, 130-1 Jurnal Amanat Agung lingkungan air, tanah, udara, dan keanekaragaman hayati adalah bagian integral dari ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, iman yang menghormati bumi menjadi praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar wacana teologis. Berdasarkan hal di atas. Earth-Honoring Faith dapat dikatakan sebagai seruan agar iman Kristen bertransformasi menjadi iman yang peduli dan menghormati bumi. Rasmussen menegaskan bahwa tanpa iman yang menghormati bumi, iman akan kehilangan relevansinya di tengah krisis ekologi yang mendesak. Dengan menghidupi iman yang menghormati bumi, umat beriman dapat menjaga keseimbangan relasi dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan, sehingga bumi tetap lestari bagi generasi kini maupun generasi yang akan datang. Menggeser Perspektif Etika Dari Ego Ke Ekosfer Krisis air bersih adalah salah satu persoalan global yang semakin mengkhawatirkan di abad ke-21. Air bersih merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan, baik untuk minum, sanitasi, pertanian, maupun kegiatan ekonomi. Namun, realitas menunjukkan bahwa ketersediaan air layak konsumsi semakin terbatas sementara kebutuhan manusia terus meningkat. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara pasokan dan permintaan air, yang Yosefo Gule. AuKonsep Eduecologi Dalam Pendidikan Agama Kristen Konteks Sekolah,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 3, 2 (Desember 2. : 187. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 119 pada akhirnya mengancam kualitas hidup masyarakat. 18 Penyebab utama krisis air bersih adalah pertumbuhan penduduk yang pesat dan urbanisasi yang tidak terkendali. Semakin banyak manusia berarti semakin tinggi kebutuhan air. Di sisi lain, daerah perkotaan sering kali kehilangan daerah resapan air karena alih fungsi lahan, sehingga cadangan air tanah berkurang drastis. 19 Akibatnya, ketersediaan air bersih semakin sulit dijaga secara berkelanjutan. Selain faktor jumlah penduduk, pencemaran lingkungan turut memperparah krisis air bersih. Limbah industri, pertanian, dan rumah tangga yang dibuang ke sungai, danau, atau laut tanpa pengolahan yang memadai menjadikan sumber air tidak lagi layak konsumsi. Polusi ini tidak hanya menurunkan kualitas air, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia karena dapat memicu penyakit Kaitannya dengan hal di atas, ilmu pengetahuan tidak mampu mengajarkan bagaimana manusia harus menghargai air. peran itu justru dijalankan oleh agama dan kebudayaan yang memberi nilai dan makna pada ciptaan melalui simbol dan ritus. Katry Oktariani dan M. Enoch Markum. AuPerbedaan Perilaku Konservasi Air Bersih Antara Negara Berkembang Dan Negara Maju Ditinjau Dari Perspektif Waktu,Ay Psibernetika 10, no. 1 (Maret 2. : 41. Hendrik Pristianto dan Mariana Abriani Butudoka. AuKonsep Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dalam Mengantisipasi Bencana Dan Krisis Air Di Ibu Kota Provinsi Papua Barat Daya,Ay Jurnal Ilmiah Ecosystem 23, no. 2 (Agustus 2. : 293. Arief Hargono, dkk. AuPenyuluhan Pengolahan Sanitasi Air Bersih Untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Desa Mengare. Gresik,Ay Abimanyu: Journal of Community Engagement 3, no. 1 (Maret 2. : 5. Jurnal Amanat Agung Karena itu, diperlukan etika baru yang tidak lagi berpusat pada ego manusia dan masyarakat semata, melainkan pada ekosfer sebagai ruang moral yang mencakup seluruh kehidupan. Kesalahan modernitas yang menempatkan manusia sebagai pusat moralitas terbukti destruktif, sehingga kini dibutuhkan pergeseran paradigma menuju etika ekologis yang holistik. 21 Dengan kata lain pergeseran dari ego ke ekosfer, mengajak manusia untuk berpindah dari kesadaran sempit yang hanya mementingkan diri, menuju kesadaran luas yang mengakui keterhubungan dan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan. Integrasi etika keagamaan dari ego ke ekosfer dengan masalah lingkungan tidak terbatas pada agama Kristen. Tradisi keagamaan lainnya juga menekankan saling ketergantungan yang harmonis antara alam dan kemanusiaan, menganjurkan pelestarian lingkungan sebagai tugas moral. Rasmussen memberikan kerangka kerja yang menarik untuk mengintegrasikan iman dengan etika lingkungan, untuk mengenali keragaman perspektif agama tentang Tradisi yang berbeda menawarkan wawasan dan praktik unik yang dapat berkontribusi pada dunia yang lebih berkelanjutan. Tantangannya terletak pada membina dialog dan kolaborasi lintas perspektif yang beragam ini untuk mengatasi krisis ekologi secara Widya Prana Rini. AuAntroposentrisme Dalam Novel Kailasa Karya Jusuf An Kajian Ekokritik,Ay Jurnal Nusantara Raya 1, no. 2 (September 2. : 78. Widya Prana Rini. AuParadoks Narasi Penyelamatan Keseimbangan Ekosistem Dalam Novel Kailasa Karya Jusuf An Kajian Ekokritik,Ay Poetika 6, 2 (Desember 2. : 122. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 121 Rasmussen menekankan kebutuhan mendesak untuk pergeseran peradaban manusia dari paradigma industri-teknologi ke paradigma ekologi-teknologi, mengakui kesehatan planet sebagai dasar bagi kelangsungan hidup manusia. 22 Tujuan akhir dari EarthHonoring Faith adalah terwujudnya shalom kosmik, yaitu keadaan harmonis antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan. Dengan iman yang menghormati bumi, umat Kristen tidak hanya mencari keselamatan pribadi, tetapi juga berpartisipasi dalam karya Allah menjaga kelestarian bumi. Rasmussen menegaskan bahwa hanya dengan iman yang kosmosentris inilah. Kekristenan dapat tetap relevan di tengah krisis ekologi global yang semakin mendesak. Dengan demikian, perubahan paradigma menjadi bagian penting dalam memperbaiki peradaban. Konteks Sosial. Iman. Budaya Dan Ekologis di Kabupaten Cilacap Kabupaten Cilacap merupakan wilayah dengan tingkat heterogenitas sosial yang tinggi, ditandai dengan keberagaman masyarakat pedesaan, perkotaan, dan kawasan industri tidak dapat dilepaskan dari keterkaitan empat dimensi utama yaitu sosial, iman, budaya, dan ekologis. Keempat konteks ini saling berinteraksi dan berkontribusi pada munculnya persoalan ekologis yang kompleks. Dinamika sosial-ekonomi Cilacap dipengaruhi oleh dominasi sektor Rasmussen. Earth-Honoring Faith, 44. Rasmussen. EarthHonoring Faith, 160. Rasmussen. Earth-Honoring Faith, 85. Jurnal Amanat Agung pertanian, perikanan, dan industri, serta keberadaan perusahaan besar seperti kilang minyak Pertamina dan industri semen yang sosial-ekonomi terhadap sumber daya alam. Kondisi ini diperparah dengan problem urbanisasi, ketimpangan akses air bersih, serta kerentanan masyarakat miskin terhadap dampak lingkungan. Dari perspektif religius. Cilacap juga mencerminkan pluralitas kehidupan beragama, di mana Islam menjadi mayoritas, sementara Kristen. Katolik. Hindu, dan Buddha hidup berdampingan. Bagi umat Kristen, iman bukan hanya aspek spiritual, tetapi juga basis etis untuk membangun solidaritas sosial dan tanggung jawab ekologis. Gereja dengan peran profetisnya dipanggil untuk menghadirkan keadilan sosial dan ekologi, serta mengintegrasikan iman dengan praktik nyata dalam merawat ciptaan Allah. Dari aspek budaya dan ekologi. Cilacap memperlihatkan kekayaan akulturasi tradisi Jawa. Sunda, dan pesisir yang tercermin dalam nilai gotong royong, slametan, dan penghormatan terhadap Namun, modernisasi dan industrialisasi sering kali menggeser nilai-nilai ekologis tradisional, sehingga revitalisasi kearifan lokal menjadi penting sebagai dasar etika ekologis kontemporer. Secara geografis, keberagaman ekosistem seperti pesisir pantai selatan, hutan mangrove, sungai besar, dan lahan pertanian menunjukkan potensi ekologis yang vital, tetapi juga menghadapi tantangan serius berupa abrasi, pencemaran laut, kerusakan mangrove, degradasi hutan, serta pencemaran sungai. Situasi ini secara langsung Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 123 berimplikasi pada ketersediaan air bersih, yang semakin terancam akibat kombinasi eksploitasi industri, perubahan iklim, dan lemahnya pengelolaan lingkungan. Oleh karena itu, krisis air bersih di Cilacap multidimensional yang menuntut pendekatan komprehensif. Dalam kerangka ini, teologi Kristen seperti Earth-Honoring Faith menurut Rasmussen menegaskan kesakralan ciptaan dan menggeser orientasi moral dari antroposentrisme menuju ekosentrisme sebagai dasar etika ekologis. Relevansi Teologi Earth-Honoring Faith Merespons Krisis Air Bersih Di Cilacap Krisis air bersih di Kabupaten Cilacap mencerminkan persoalan ekologis sekaligus sosial yang kompleks. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya alam oleh industri berdampak langsung pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat, terutama kelompok marginal. Dalam konteks ini, teologi Kristen Earth-Honoring Faith sebagaimana digagas oleh Rasmussen menjadi relevan karena menawarkan kerangka iman yang menghormati bumi dan seluruh ciptaan sebagai rumah bersama. Teologi Earth-Honoring Faith menghadirkan spiritualitas ekologis yang menempatkan air bukan hanya sebagai kebutuhan biologis atau komoditas ekonomi, melainkan rahmat Allah yang menopang kehidupan. Perspektif ini menumbuhkan kesadaran syukur sekaligus tanggung jawab etis dalam pengelolaan dan Jurnal Amanat Agung pelestarian sumber daya air. Krisis air di Cilacap dipahami bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga akibat dosa struktural berupa ketidakadilan ekologis. Oleh karena itu, teologi ini memanggil gereja untuk bersikap profetis dengan mengkritisi praktik industrialisasi maupun kebijakan publik yang merusak ekosistem air. Selain itu. Earth-Honoring Faith menekankan dimensi inklusif dan keadilan sosial, sebab dampak krisis air paling berat dirasakan oleh masyarakat kecil. Gereja dipanggil menghadirkan solidaritas melalui advokasi, pemberdayaan, serta aksi sosial yang berpihak pada kaum Dalam ranah pendidikan. Pendidikan Agama Kristen dapat menjadi medium strategis untuk menanamkan kesadaran ekologis, mengajarkan praktik konservasi air, serta mengintegrasikan liturgi dan doa yang berorientasi ekologis. Dengan demikian, teologi ini tidak berhenti pada refleksi iman, melainkan mewujud dalam transformasi praksis gereja dalam merespons krisis air bersih di Cilacap. Pendidikan Agama Kristen Kontekstual PAK kontekstual adalah pendekatan pendidikan agama Kristen yang menyesuaikan pengajaran, kurikulum, dan metode dengan konteks hidup peserta didik baik dari sisi budaya, lingkungan sosial, maupun perkembangan teknologi. Tujuannya agar nilai-nilai iman Kristen tidak sekadar diketahui secara teoritis, tetapi juga Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 125 dihayati dan diterapkan dalam realitas sehari-hari peserta didik dengan mempertimbangkan tantangan dan kebutuhan zamannya. Pendidikan Agama Kristen kontekstual mengajarkan integrasi prinsip iman Kristen dengan realitas mutakhir, seperti era digital, kultur lokal, dan perubahan sosial. Model ini berbeda dengan pendekatan tradisional karena mengedepankan interaksi, partisipasi aktif, dan refleksi terkait pengalaman hidup peserta didik. 25 Misalnya, dalam menghadapi generasi Alpha yang sangat akrab dengan teknologi. PAK kontekstual menggunakan media digital, pendekatan interaktif, serta relevansi langsung terhadap kehidupan sehari-harinya. Ciri-ciri utama PAK kontekstual tercermin dalam pendekatan yang menekankan pengalaman hidup sebagai bahan pembelajaran, sehingga iman tidak dipahami secara abstrak, melainkan berakar pada realitas sehari-hari peserta didik. Kurikulum PAK juga mengintegrasikan budaya serta nilai-nilai lokal, sehingga pesan Injil dapat hadir secara relevan dalam konteks sosial dan kultural peserta Mei Dewi Simamora, dkk. AuPengaruh Model Pembelajaran Kontekstual Terhadap Hasil Belajar PAK Dan Budi Pekerti Siswa SMP Negeri 1 Siempat Nempu Hulu Kabupaten Dairi,Ay Coram Mundo: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 5, no. 2 (Oktober 2. : 78. Yohannes Nahuway. AuStrategi Pembelajaran Kontekstual: Suatu Usulan Bagi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK),Ay MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen Dan Gereja 1, no. 1 (Maret 2. : 10. Yanti Secilia Giri. AuModel Pendidikan Agama Kristen Kontekstual Berbasis Teologi Naratif,Ay Pietas: Jurnal Studi Agama Dan Lintas Budaya 2, no. 2 (Juni 2. Jurnal Amanat Agung 26 Dalam prosesnya, pendidik berperan sebagai fasilitator dan katalisator belajar, bukan hanya sebagai sumber informasi, sehingga pembelajaran berlangsung dialogis dan partisipatif. 27 Melalui membangun sendiri pemahaman dan pengalaman iman, sehingga iman Kristen menjadi sesuatu yang hidup, otentik, dan bermakna dalam kehidupan nyata. Model Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Kontekstual Berbasis Earth-Honoring Faith Model kurikulum PAK kontekstual berbasis Earth-Honoring Faith merupakan inovasi pendidikan yang memadukan nilai-nilai Kristen menghasilkan formasi karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan dan relevan secara sosial. Dalam implementasinya, model ini menekankan pentingnya integrasi nilai ecophilia atau cinta kasih terhadap alam sebagai respons terhadap krisis ekologi yang kian Johanes Waldes Hasugian, dkk. AuPanggilan Untuk Merekonstruksi Strategi Pendidikan Agama Kristen Yang Kontekstual Dan Inovatif,Ay Jurnal Shanan 6, no. 1 (Maret 2. : 47. Yoas Brata Permadi dan Justin Niaga Siman Juntak. AuPenerapan Pendidikan Agama Kristen Berbasis Kontekstual Terhadap Kehidupan Peribadahan,Ay ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik 4, no. 2 (Agustus 2. : 56. Remegises Danial Yohanis Pandie, dkk. AuImplementasi Teori Belajar Konstruktivisme Bagi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah,Ay REAL DIDACHE: Journal of Christian Education 2, no. 1 (Maret 2. : 19. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 127 mengancam keberlanjutan kehidupan manusia di bumi. Kurikulum ini mengarahkan peserta didik untuk memahami bahwa iman Kristen bukanlah sekadar keyakinan dogmatis, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian terhadap ciptaan Tuhan, termasuk lingkungan hidup. Fondasi kurikulum ini terletak pada empat pendekatan utama: sosialisasi, dialektis, praksis, dan kontemporer. 29 Pendekatan sosialisasi menekankan formasi nilai bersama di tengah komunitas, sehingga peserta didik tidak hanya belajar melalui teori, tetapi juga mengalami pembelajaran berbasis komunitas dan kolaborasi. Sementara itu, pendekatan dialektis mendorong dialog kritis dan refleksi teologis atas isu-isu lingkungan, menjadikan kelas PAK sebagai ruang terbuka bagi diskusi mengenai tantangan ekologi dalam perspektif iman Kristen. Pendekatan praksis dalam kurikulum ini sangat menonjol melalui penekanan pada aplikasi iman dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diajak untuk terlibat secara aktif dalam aksi nyata seperti program penghijauan, pengelolaan sampah, dan konservasi airAisehingga nilai-nilai ekoteologi benar-benar membentuk perilaku dan etos hidup mereka. Model ini menggabungkan pembelajaran konseptual dengan pengalaman praktis sehingga transformasi karakter menjadi lebih efektif dan kontekstual. Di sisi lain, pendekatan kontemporer menekankan pemanfaatan teknologi Dyulius Thomas Bilo. AuTinjauan Filosofis Terhadap Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Kristen,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 1, no. : 10. Jurnal Amanat Agung digital serta adaptasi terhadap dinamika sosial dan budaya masa kini. Penggunaan media digital dan platform komunikasi massa dapat menjadi sarana menyebarluaskan pesan-pesan ekoteologis dan membangun komunitas pembelajar lintas batas geografis. Melalui inovasi ini, pendidikan agama Kristen tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan generasi digital yang hidup dalam arus modernitas dan globalisasi. Kurikulum Earth-Honoring Faith mengintegrasikan prinsip solidaritas, dialog interkultural, dan keadilan sosial. Dengan merujuk pada etika solidaritas Kristen, peserta didik dilatih untuk menjadi agen keadilan ekologis, mengembangkan kepekaan terhadap penderitaan makhluk hidup dan komunitas yang terdampak kerusakan lingkungan, serta didorong untuk berdialog dengan kelompok lain dalam rangka mencari solusi atas persoalan ekologis global. Desain kurikulum memerlukan partisipasi aktif seluruh ekosistem pendidikan yang terdiri dari pendidik, peserta didik, orang tua, dan komunitas sekitar untuk menumbuhkan kebiasaan refleksi ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan seperti retret lingkungan, praktik ibadah yang berorientasi pada pelestarian alam, serta proyek kolaboratif lintas agama dapat memperkuat pesan teologis bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dihormati dan dijaga. Pengembangan kurikulum ini juga harus memperhatikan prinsip Backward Design, yakni menetapkan terlebih dahulu hasil pembelajaran yang diharapkan, misalnya karakter cinta lingkungan. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 129 kesadaran spiritual ekologis, dan praksis iman dalam aksi sosial kemudian merancang proses dan materi ajar yang mendukung pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian, orientasi kurikulum akan selalu pada perubahan nyata dalam sikap dan perilaku peserta didik, bukan hanya evaluasi kognitif semata. Oleh karena itu, model kurikulum PAK kontekstual berbasis Earth-Honoring Faith harus terus berkembang secara dinamis, seiring perubahan sosial, lingkungan, dan kemajuan teknologi. Kolaborasi dengan komunitas lintas sektor dan upaya penelitian-aksi . ction researc. sangat penting untuk memastikan inovasi kurikulum tetap relevan, adaptif, dan berdampak luas dalam membangun generasi Kristen yang beriman, kritis, solider, dan bertanggung jawab ekologis. Jurnal Amanat Agung Contoh Silabus PAK Kontekstual Berbasis Earth-Honoring Faith Identitas A Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Kristen (PAK) A Kelas/Semester: umum / 1 tahun . A Pendekatan: Kontekstual (CTL) berbasis Earth-Honoring Faith Struktur Silabus Tujuan Ming Kompe Pembelajar-gu -tensi Materi Pokok Metode Media Penilaian Peserta PenciptaSpiritua bahwa an dalam Alkitab, litas bumi adalah Refleksi Alkitab 1Ae2 (Relasi Alkitab, (Kej. 1Ae2, dokumendengan Allah yang Mazmur ter alam ala. baik dan Refleksi Peserta Kolose Kognitif 1:15Ae20. Diskusi (Pema- memahami Roma 3Ae4 8:19Ae23, teologis teologis Teologi kelompo -ekolo- tanggung asi kosmik Tes Alkitab. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 131 Tujuan Ming Kompe Pembelajar-gu -tensi Materi Pokok Metode Media Penilaian Peserta Dosa Afektif didik peka Studi Berita/klipi (Kepe- terhadap Observasi 5Ae6 kaan penderitaan ber lokal gi. akibat krisis Peserta RoleYesus 7Ae8 Afektif Yesus dalam Ecological kelomChrist Kitab Injil. Jurnal Peserta Hemat Psikom Project- Alat kebun. Laporan 9Ae10 (Aksi aksi nyata learning kampanye Peserta Liturgi Experienberdoa & 11Ae Spiritua Buku doa. Penilaian berliturgi lingkungan learning, 12 -litas alat liturgi partisipasi , doa kesadaran ciptaan ibadah Peserta Kognitif 13Ae Afektif grasikan iman, sains. Dialog Diskusi Artikel Presentasi Jurnal Amanat Agung Tujuan Ming Kompe Pembelajar-gu -tensi Materi Pokok Metode Media Penilaian dan budaya Peserta Aksi sosialdidik Lingkung- Laporan Psiko- melakukan Praktik. ersih sekolah/m dokumenrik . ervice hemat ai. Peserta Refleksi Semua merefleksi16 kompeintegrasi kan iman Refleksi Alkitab. Portofolio & refleksi Catatan A A A Pendekatan utama: Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan integrasi iman, sains, dan budaya lokal. Proyek semester: AuSekolah Hijau & Iman EkologisAy . enghijauan, konservasi air, kampanye ramah Evaluasi akhir: portofolio, refleksi iman, laporan proyek aksi nyata. Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 133 Kesimpulan Krisis air bersih di Kabupaten Cilacap menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak semata-mata teknis, tetapi juga menyangkut aspek sosial, moral, dan spiritual, sehingga menuntut pendekatan yang menyeluruh. Teologi Earth-Honoring Faith dari Rasmussen menawarkan kerangka reflektif dengan menekankan kesakralan ciptaan dan pergeseran moralitas dari antroposentris menuju ekosentris, memandang air dan alam sebagai anugerah Allah yang Perspektif Kristen menumbuhkan spiritualitas ekologis yang bertanggung jawab dan berorientasi pada keberlanjutan hidup bersama. Dalam ranah pendidikan. PAK kontekstual berperan sebagai sarana transformasi iman yang responsif terhadap krisis ekologi melalui integrasi pengalaman hidup, budaya lokal, dan praktik aksi nyata, sehingga mampu menumbuhkan kesadaran ekologis berakar pada iman Kristen serta mendorong keterlibatan aktif dalam merawat ciptaan. Dengan demikian. PAK berbasis Earth-Honoring Faith tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga berkontribusi nyata bagi keadilan ekologis, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Daftar Pustaka