9 Juni E-ISSN : 2614-6479 Open Access https://doi. org/10. 33085/jdg. Journal of The World of Nutrition ORIGINAL ARTICLE HUBUNGAN KEBIASAAN ORANG TUA DENGAN PREFERENSI MAKANAN BERGIZI PADA SISWA/I di MIN 1 BANTUL Relationship Between Parental Habits and Nutritious Food Preferences in Students at MIN 1 Bantul Nurul Afifah1. Khairunisa Ramadhani1*. Ridwan Ansari1. Cita Eri Ayuningtyas2 Program Studi Gizi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta. Indonesia Program Studi Bisnis Jasa Makanan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta. Indonesia * Penulis Korespondensi Abstrak Pendahuluan: Berdasarkan data Riskesdas 2018, menunjukkan bahwa 95,4% penduduk usia berusia Ou5 tahun di Indonesia mengonsumsi sayuran dan buah-buahan dibawah anjuran dari rekomendasi konsumsi buah dan sayuran untuk balita dan anak-anak sebesar 300-400 gram. Selain itu, konsumsi lauk hewani dalam sehari yaitu 11,6% dari anjuran sebesar 12% AKG. Kurangnya konsumsi makanan bergizi dapat dipengaruhi oleh preferensi Preferensi makanan merupakan tingkat ketidaksukaan atau kesukaan seseorang terhadap jenis makanan tertentu. Preferensi makanan pada anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: pengetahuan gizi, jenis kelamin, usia, kebiasaan orang tua, keberadaan makanan, pengaruh komunitas lokal, dsb. Tujuan. Mengetahui hubungan kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi pada anak. Bahan dan Metode. Jenis penelitian yang digunakan observasional dengan menggunakan desain cross-sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di MIN 1 Bantul. DIY. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas 2 usia 7-8 tahun diambil dengan teknik simple random sampling sejumlah 52 siswa. Hasil. Penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi dengan nilai p<0,05 . Kesimpulan. Diperoleh bahwa ada hubungan bermakna antara kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi. Kata Kunci: Kebiasaan Orang Tua. Preferensi Makanan Bergizi. Anak Sekolah Dasar Abstract Background: Based on the 2018 Riskesdas data, it shows that 95. 4% of the population aged Ou5 years in Indonesia consume vegetables and fruits below the recommended amount intake of fruits and vegetables for toddlers and children is 300-400 grams. Additionally, the consumption of animal protein among children is 6%, while the established recommendation is 12%. The lack of nutritious food consumption can be influenced by food preferences. Food Preference or Food Preference is the level of dislike or liking someone has for certain types of food. Food preferences in children can be influenced by several factors, including: nutritional knowledge, gender, age, parental habits, food availability, local community influence, etc. Objectives. This Study is aimed to analyzed the relationship between parental habits and children's preferences for nutritious food. Material and Method. The type of research used observational with a cross-sectional study design. This research was conducted at MIN 1 Bantul. DIY. The sample for this research consists of 2nd-grade students aged 7-8 years, selected through simple random sampling, totaling 52 participants. Results. The research found that there is a significant relationship between parental habits and the preference for nutritious food with a p-value. Conclusion. It was found that there is a significant relationship between parental habits and the preference for nutritious food. Keywords: Parents' Habits. Nutritional Food Preferences. Elementary School Children PENDAHULUAN Anak usia sekolah adalah anak-anak yang berusia antara 6 hingga 12 tahun. Banyak perubahan terjadi yang memengaruhi pertumbuhan fisik dan karakter anak . Usia ini dianggap sebagai periode emas karena merupakan awal dari tumbuh kembang yang pesat, sehingga membutuhkan asupan makanan bergizi untuk mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal . Makanan yang Khairunisa Ramadhani: Universitas Ahmad Dahlan. Jalan Prof. Dr. Soepomo. Janturan Yogyakarta 55164. Hp. Email: khairunisa. ramadhani@gizi. Juni memiliki zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral diperlukan oleh tubuh untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal . Berdasarkan data Riskesdas . , menunjukkan bahwa 95,4% dari populasi yang berusia Ou5 tahun di Indonesia mengonsumsi buahbuahan dan sayuran dibawah anjuran yang disarankan, di mana anjuran konsumsi buah dan sayur sebanyak 300-400 gram bagi balita dan anak-anak . Selain itu, konsumsi lauk hewani pada anakanak juga dibawah anjuran yaitu sebesar 11,6%, sedangkan anjuran yang ditetapkan adalah 12% . Kurangnya konsumsi makanan bergizi dapat dipengaruhi oleh preferensi makanan. Food Preference atau Preferensi makanan merupakan tingkat ketidaksukaan atau kesukaan seseorang terhadap jenis makanan tertentu. Preferensi ini berpengaruh pada frekuensi makan, asupan zat gizi, dan kecukupan makanan yang dikonsumsi oleh anak. Selain itu, preferensi makanan juga berperan penting dalam menentukan pola makan anak . Setiap hari anak-anak dihadapkan pada berbagai pilihan makanan dan harus memutuskan apa yang akan mereka konsumsi. Keputusan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor individu . enis kelamin dan usi. , faktor makanan . asa, harga makanan, merek dan kualitas makana. , serta faktor lingkungan . eberadaan makanan, pengaruh komunitas lokal, dan dukungan buday. Pengetahuan mengenai makanan bergizi juga dapat memengaruhi preferensi makanan pada anak. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pemahaman yang baik mengenai gizi dapat membantu anak dalam memilih makanan yang sehat. Sebaliknya, kurangnya pengetahuan mengenai gizi dapat mengurangi minat anak untuk mencoba makanan bergizi. Oleh karena itu, edukasi gizi sejak dini sangat penting dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan anak terhadap makanan bergizi . Upaya ini dapat dilakukan oleh orang tua di rumah serta guru di sekolah. Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan dasar dan fisiologis yang memiliki tujuan jelas serta solusi sederhana untuk mencapai kepuasaan. Meskipun teori pilihan makanan terlihat mudah, kenyataannya pilihan makanan sangat bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki preferensi makanan dan minuman yang berbeda. Pilihan makanan yang diambil dalam jangka panjang akan membentuk kebiasaan dan pola makan seseorang, termasuk cara berpikir dan memilih makanan serta minuman yang akan dikonsumsi . Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di MIN 1 Bantul, sekolah memiliki kegiatan AuGEMAYURAy atau gerakan makan sayur yang dilaksanakan setiap hari jumAoat. Kegiatan ini merupakan upaya madrasah untuk membiasakan siswa mengonsumsi sayur. Namun, beberapa siswa mengaku tidak menghabiskan sayur yang mereka bawa sebagai bekal. Selain itu, mereka menyatakan bahwa pada hari-hari lain, bekal yang dibawa hanya berupa nasi dan lauk hewani, sesuai dengan apa yang disiapkan orang tua di rumah. Hal ini menunjukkan adanya keterbatasan dalam pilihan makanan anak. Padahal, edukasi mengenai gizi sangat penting untuk membentuk preferensi makanan anak. Berdasarkan hal tsb, peneliti ingin mengetahui hubungan kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi pada siswa/i di MIN 1 Bantul. METODE Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain cross-sectional Penelitian ini telah memperoleh ethical clearance dari komite etik Universitas Ahmad Dahlan dengan nomor 012409294. Penelitian dilaksanakan di MIN 1 Bantul. DIY pada bulan September 2024 dengan jumlah sebanyak 52 siswa. Pengambilan menggunakan teknik simple random sampling yang memenuhi kriteria inklusi yaitu siswa kelas 2 yang berusia 7-8 tahun, bersedia untuk dijadikan responden dan diizinkan oleh orang tua. Sementara itu, siswa yang sedang sakit atau tidak hadir saat pengambilan data menjadi kriteria eksklusi pada penelitian ini. Pengambilan data diawali dengan uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas pada variabel kebiasaan orang tua menunjukkan bahwa seluruh pernyatan, yang berjumlah 10 pernyataan dinyatakan valid dengan nilai cronbachAos Alpha sebesar 0,811. Pada variabel preferensi makanan bergizi didapatkan hasil bahwa 8 pernyataan valid dari total 10 pernyataan dengan nilai cronbachAos Alpha Khairunisa Ramadhani: Universitas Ahmad Dahlan. Jalan Prof. Dr. Soepomo. Janturan Yogyakarta 55164. Hp. Email: khairunisa. ramadhani@gizi. Juni sebesar 0,700. Data kebiasaan orang tua diperoleh dengan menggunakan kuesioner dengan skala likert yang terdiri dari ketersediaan makanan bergizi di rumah dan pola asuh konsumsi makanan bergizi, sedangkan data tentang preferensi makanan bergizi didapatkan dari kuesioner dengan skala guttman. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p<0,05. HASIL Berdasarkan Tabel 1 karakteristik usia dan jenis kelamin anak menunjukkan bahwa sebagian besar anak berusia 8 tahun sebanyak 35 anak . ,3%) dan sebagian besar anak berjenis kelamin perempuan sebanyak 27 anak . ,9%). Berdasarkan karakteristik menurut pendikan ibu, sebagian besar pendidikan ibu yaitu SMA/SMK/Sederajat, yaitu sebanyak 28 orang . ,8%) dan sebagian besar ibu bekerja, yaitu sebanyak 27 orang . ,9%). Berdasarkan karakteristik variabel preferensi makanan bergizi, sebagian besar anak memiliki preferensi makanan bergizi yang baik yaitu sebanyak 33 anak . ,5%) dan dari 52 responden, jumlah siswa dengan orang tua yang menerapkan kebiasaan pola asuh konsumsi makanan bergizi dalam kategori kurang dan baik masing-masing adalah 26 anak . %). Tabel 1. Analisis Karakteristik Responden. Frekuensi Variabel Dependen dan Variabel Independen Karakteristik Responden n . Persentase (%) Usia: 7 tahun 8 tahun Jenis Kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan Ibu: SMP/Sederajat SMA/SMK/Sederajat Perguruan Tinggi Pekerjaan Ibu: Bekerja Tidak Bekerja Preferensi Makanan Bergizi Kurang 36,5% Baik 63,5% Kebiasaan Orang Tua Kurang Baik Responden dengan orang tua yang menerapkan kebiasaan pola asuh konsumsi makanan bergizi yang kurang, 13 anak . %) dari mereka memiliki preferensi makanan bergizi dalam kategori kurang dan baik. Responden dengan orang tua yang menerapkan kebiasaan pola asuh konsumsi makanan bergizi yang baik, 6 anak . ,1%) di antaranya memiliki preferensi makanan bergizi yang baik dan 20 anak . ,9%) di antaranya memiliki preferensi makanan bergizi yang baik. Hasil analisis uji hubungan Chi-Square menunjukkan nilai p-value 0,044<0,05 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi pada anak. Distribusi hasil penelitian berdasarkan hubungan kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi pada anak dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Analisis Hubungan Kebiasaan Orang Tua dengan Preferensi Makanan Bergizi pada Anak Preferensi Makanan Bergizi Total Keboasaan Kurang Baik Odds Ratio P-value Orang tua Kurang Khairunisa Ramadhani: Universitas Ahmad Dahlan. Jalan Prof. Dr. Soepomo. Janturan Yogyakarta 55164. Hp. Email: khairunisa. ramadhani@gizi. Baik Total Juni 3,333 0,044 PEMBAHASAN Food Preference atau preferensi makanan merupakan tingkat ketidaksukaan atau kesukaan seseorang terhadap makanan, yang berpengaruh besar dalam pemilihan jenis makanan, frekuensi makan, dan asupan gizi, terutama pada anak . Pilihan makanan sehat dapat meningkatkan kesehatan, sedangkan pilihan makanan tidak sehat dapat berpotensi menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas, penyakit jantung, dan diabetes . Selain itu, preferensi makanan akan membentuk kebiasaan makan dan dapat memengaruhi pengeluaran bulanan keluarga, karena makanan sehat sering kali lebih mahal, sehingga hal ini dapat berdampak pada anggaran keluarga . Anak-anak sekolah dasar berusia 7-8 tahun cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi kalori tetapi rendah gizi. Makanan ini biasanya mengandung banyak garam, gula, dan lemak, seperti kue, biskuit, makanan manis, dan keripik. Mereka lebih menyukai makanan manis, camilan kemasan gurih, dan makanan tradisional. Pola makan ini dapat memengaruhi preferensi rasa mereka sejak dini, sehingga anak-anak sering kurang menyukai sayur, buah, dan masakan rumah . Selain itu, anakanak pada usia ini juga lebih menyukai makanan cepat saji seperti cilok, nugget, sosis goreng, kentang goreng, dan tempura goreng yang banyak dijumpai di sekolah. Makanan ini biasanya mengandung garam, gula dan lemak . Pada usia ini, anak-anak mulai menyadari pentingnya makanan bergizi, tetapi banyak di antara mereka yang mengonsumsi buah dan sayur kurang dari anjuran. Rendahnya konsumsi buah dan sayur pada anak dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan iklan makanan . , serta faktor lingkungan terdekat mereka. Anak-anak belajar dengan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya, termasuk dalam hal makan. Orang tua, terutama ibu sebagai penyedia makanan utama, berperan penting dalam memengaruhi asupan makanan anak. Tingkat kontrol yang diberikan orang tua terhadap pilihan makanan anak-anak mereka berdampak signifikan pada preferensi makanan anak-anak . Selain itu, status gizi anak dipengaruhi oleh ibu yang menjadi pusat pengelolaan makanan keluarga. Semakin baik ibu mengelola makanannya, semakin baik status gizi anak. Kesehatan anak dipengaruhi oleh makanan yang bergizi dan sehat . Berdasarkan analisis statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi pada anak, dengan nilai p-value 0,044<0,05. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widharti menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kebiasaan makan anak, dengan nilai p-value 0,001<0,05. Semakin baik cara pengasuhan, semakin sedikit kejadian kebiasaan pilih makanan pada anak, dan sebaliknya . Selain itu, penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramadani dan Sembiring, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku makan orang tua terhadap pilih makanan pada anak dengan nilai p-value sebesar 0,029<0,05. Ibu yang memiliki pola makan yang tidak baik memiliki risiko lebih tinggi untuk memiliki anak dengan kebiasaan makan yang pilih-pilih, dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola makan yang sehat . Kebiasaan makan anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan kebiasaan makan orang tua, terutama ibu. Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa pola makan ibu berkontribusi sekitar 30% terhadap variasi kualitas pola makan anak. Jika seorang ibu cenderung memilih makanan tertentu, seperti makanan manis, hal ini dapat ditiru oleh anaknya . Orang tua yang aktif memberikan edukasi mengenai manfaat makanan bergizi dan menerapkan aturan makan yang baik dapat membantu mengurangi perilaku pilih makanan pada anak. Misalnya, melibatkan anak dalam perencanaan dan persiapan makanan dapat meningkatkan minat mereka terhadap berbagai jenis makanan sehat . Sejalan dengan penelitian ini, anak yang memiliki kebiasaan memakan buah dan sayur terdapat pada anak dari ibu yang selalu menjelaskan manfaat dan memuji mereka jika mengonsumsi makanan yang diberikan dengan persentase sebesar 41,7% untuk konsumsi buah dan 19,4% untuk konsumsi sayur . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bekerja yaitu sebanyak 51,9% dan sebagian besar anak memiliki preferensi makanan bergizi yang baik yaitu sebesar 63,5%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ibu bekerja, mereka tetap mampu menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak mereka. Secara keseluruhan, keberadaan kedua orang tua yang bekerja meningkatkan pendapatan keluarga dan meningkatkan ketersediaan gizi anak, yang pada akhirnya berdampak pada preferensi makanan yang lebih baik. Pada penelitian ini, pendapatan orangtua tidak dapat dianalisis Khairunisa Ramadhani: Universitas Ahmad Dahlan. Jalan Prof. Dr. Soepomo. Janturan Yogyakarta 55164. Hp. Email: khairunisa. ramadhani@gizi. Juni sehingga tidak bisa dilihat hubungan antara pendapatan orangtua dengan perilaku makan anak. Sehingga, penelitian selanjutnya disarankan untuk melihat pendapatan orangtua dengan perilaku makan Sebaliknya, penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku makan orang tua dengan perilaku pilih makanan pada anak dengan nilai p-value sebesar 0,565 > 0,05. Namun temuan pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang positif antara perilaku makan orang tua dengan perilaku pilih makanan pada anak. Orang tua yang menerapkan pola makan sehat cenderung mendorong anak-anak mereka untuk mengikuti kebiasaan Akan tetapi, jika orang tua melarang anak makan makanan tertentu, hal ini dapat memengaruhi kebiasaan makan anak . Penelitian lain menunjukkan bahwa pola asuh berhubungan dengan perilaku makan pada anak. Pola asuh yang demokratis akan lebih membentuk perilaku anak dalam keteraturan jam makan, serta pemilihan makanan yang sehat. Hal ini didasarkan pada kasih saying orangtua yang lebih menghargai perilaku anak setelah anak memenuhi perilaku standar serta adanya keterbukaan antara orangtua dan anak sehingga mendorong anak untuk berperilaku baik, termasuk pola makan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan orang tua dengan preferensi makanan bergizi pada siswa MIN 1 Bantul. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian lebih lanjut dengan menganalisis preferensi makanan bergizi dengan pendapatan orangtua. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan berkontribusi dalam penelitian ini. Kepada Kepala Sekolah. Guru, dan Staff TU MIN 1 Bantul yang telah memberikan izin penelitian serta kepada responden yang bersedia dan berpartisipasi dalam penelitian ini. KONFLIK KEPENTINGAN Penulis tidak memiliki konflik kepentingan untuk mengungkapkan tentang publikasi artikel ini. DAFTAR PUSTAKA