scidac plus Berkala Ilmiah Pendidikan Volume 4 Nomor 2. Juli 2024 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PROGRAM PEMBIASAAN MEMBACA AL-QURAoAN DI KELAS Vi MTS SABIILUL MUTTAQIEN DESA SUKARAJA NUBAN KEC. BATANGHARI NUBAN Muhammad Syahrul Rozi*. Irhamudin Irhamudin. Adi Wijaya Universistas MaAoarif Lampung srozi5660@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk Kemajuan teknologi yang pesat dan kesibukan masyarakat yang semakin meningkat menyebabkan banyak masyarakat di era modern yang mengabaikan amalan keagamaan seperti membaca Al-Quran bahkan lupa shalat. Selain itu, anak-anak yang up to date juga terkena dampaknya. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan pendidikan karakter pada kelas Vi di MTs Sabiilul Muttaqien Desa Sukaraja Nuban Kec. Batanghari Nuban, melalui program pembiasaan membaca Al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Melalui keikutsertaan mereka dalam membaca Al-QurAoan sebelum kegiatan belajar mengajar, seperti cara membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkan isinya, maka luaran program dinilai positif dan ditunjukkan dengan penampilan. dari perasaan gembira dan keberadaan sehari-hari. Melalui pelaksanaan program ini, peneliti menemukan unsur-unsur yang memotivasi dan disinsentif dalam studinya. Salah satu faktor pendukung penelitian ini adalah partisipasi langsung kepala madrasah dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan membaca Al-QurAoan. Kurang konsistennya struktur kebiasaan membaca Al-QurAoan yang ditugaskan oleh Madrasah. Infrastruktur yang Hambatan penelitian ini kemudian terdiri dari hal-hal berikut: . ketidakikutsertaan instruktur dalam pelaksanaan program, yang mengakibatkan bimbingan di bawah standar untuk jumlah siswa yang cukup besar. Siswa kelas Vi kurang peka terhadap keadaan sekitar ketika menyelesaikan tugas seharihari. Kata Kunci: Pendidikan Karakter. Pembiasaan. Membaca. Al QurAoan Abstract Rapid technological advances and the increasing busyness of society have caused many people in the modern era to ignore religious practices such as reading the Koran and even forgetting to pray. In addition, children who are up to date are also affected. The aim of this research is to implement character education in class Vi at MTs Sabiilul Muttaqien. Sukaraja Nuban Village. District. Batanghari Nuban, through a habituation program to read the Koran. This research uses a qualitative descriptive research design. Through their participation in reading the Al-Qur'an before teaching and learning activities, such as how to read it, understand its meaning, and practice its contents, the program output is assessed as positive and shown in from feelings of joy and happiness. everyday existence. Through implementing this program, researchers discovered motivating and disincentive elements in their studies. One of the supporting factors for this research is the direct participation of the madrasa head in carrying out activities to familiarize himself Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2024 Muhammad Syahrul Rozi. Irhamudin Irhamudin. Adi Wijaya with reading the Al-Qur'an. Lack of consistency in the structure of Al-Qur'an reading habits assigned by the Madrasah. Adequate infrastructure. Barriers to this research then consisted of the following: . noninvolvement of instructors in program implementation, which resulted in substandard guidance for a fairly large number of students. Class Vi students are less sensitive to their surroundings when completing daily Keywords: Character Education. Habituation. Reading. Al Qur'an PENDAHULUAN Sarana utama untuk membangun negara yang kuat adalah melalui pendidikan. pendidikan negara menghasilkan penerus yang cerdas dan cakap di bidang ilmu pengetahuan (IPTEK) dan agama dan ketakwaan (IMTAQ). Setiap siswa bertanggung jawab atas tugas yang sama selama kegiatan pembelajaran. Pendidikan merupakan langkah penting dalam mengembangkan generasi intelektual penerus bangsa. Anak akan mengembangkan kepribadian atau karakter yang terbentuk dengan baik sebagai hasil dari pertumbuhan intelektual tersebut (Awaliah et al. , 2. Terbukti bahwa pendidikan karakter menumbuhkan optimisme dan rasa percaya diri, khususnya bagi lingkungan sekolah, baik secara kognitif maupun psikomotorik (K & Jannah, 2. Khususnya bagi peserta didik, pendidikan berfungsi sebagai wadah atau wadah pengembangan karakter. Membangun karakter yang tepat pada diri peserta didik juga akan berdampak pada keberlangsungan kehidupan bernegara, karena karakter yang kuat dalam jiwa peserta didik akan membekali mereka dalam menghadapi perubahanperubahan yang terjadi. Agama, nasionalisme, kejujuran, kemandirian, dan kerjasama antar sesama merupakan prinsip dasar pendidikan karakter (Sujana, 2. Untuk membantu siswa memahami karakter seperti apa yang harus mereka cita-citakan, nilai-nilai ini akan diterapkan dan dilaksanakan di seluruh sistem pendidikan negara. Hal ini akan memastikan bahwa mereka dikenal, dipahami, dan diintegrasikan ke dalam semua aspek kehidupan sekolah serta masyarakat pada umumnya (Purwandari et al. , 2. Setiap orang wajib mengamalkan atau mempelajari pelajaran pendidikan agama. Tujuan utama pendidikan adalah pendidikan agama yang banyak didukung dalam upayanya memajukan nilai-nilai Salah satu hal yang diajarkan dalam pendidikan agama adalah pembacaan Al-Quran (Sholihah. Pembiasaan membaca Al-Qur'an harus dibentuk sejak dini, pertama di bawah pengawasan orang tua yang mampu mengenalkan huruf-huruf Al-Qur'an, kemudian di bawah bimbingan guru mengaji dan jenjang pendidikan, untuk menjamin hal tersebut. Pendidikan Al-QurAoan sudah benar-benar mendarah daging (Rukmayanti, 2. Berdasarkan permasalahan tersebut maka pendidikan karakter sangat penting untuk dipraktikkan karena dapat membantu mencegah anak melakukan perbuatan buruk, menumbuhkan kepribadian positif dalam diri anak, dan menanamkan dalam diri anak rasa empati dan nalar yang tinggi terhadap orang lain serta rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain. ras, suku, dan negara mereka (Lestari & Handayani, 2. Anak yang mempunyai akhlak yang kuat akan mempunyai jiwa yang positif, kokoh, dan sehat. Sifat-sifat tersebut akan mengarah pada berkembangnya kebiasaan-kebiasaan yang mendorong perilaku baik di lingkungan sekitar. Area bermain anak dapat menjadi wadah pendidikan karakter, baik di dalam rumah maupun di dalam kelas. (Bastomi & Tengah, 2. Pendidikan karakter adalah proses penanaman prinsip-prinsip moral kepada peserta didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, serta perbuatan untuk mengamalkan prinsip-prinsip tersebut. (Maghfiroh, 2. Lebih jauh lagi, agar peserta didik dapat memahami . ecara kogniti. apa yang benar dan salah, merasakan . ecara afekti. nilai-nilai yang baik, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut . ecara psikomotori. , maka pendidikan karakter juga harus membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Fokus pendidikan karakter adalah pada rutinitas atau perilaku yang dilakukan dan diamalkan secara (Edwin & Pramana, 2. Membaca Al-Quran secara rutin merupakan salah satu cara menumbuhkan karakter. (Mawardi & Makassar, 2. Alasan terpenting membacakan Al-QurAoan kepada anak adalah untuk menumbuhkan perkembangan potensi sikapnya, baik dari segi ilmu maupun keahlian keagamaan. dapat tumbuh dalam perilaku sosial yang sesuai dengan ajaran agama. dapat membiasakan diri membaca Al-Qur'an secara akurat. Oleh karena itu diharapkan para orang tua dapat mengajari anaknya membaca Al-Quran. guna memudahkan perkembangan karakter anak karena dibiasakan menjalani kehidupan positif sehari-hari. Salah satu sekolah tersebut. MTs Sabiilul Muttaqien. Desa Sukaraja Nuban. Kec. Kabupaten Batanghari Nuban. Lampung Timur, berupaya menanamkan karakter melalui program kebiasaan membaca Al-Qur'an. Hal ini merupakan akibat dari keinginan sekolah agar siswanya menjunjung tinggi nilai-nilai dan akhlak Islam. Berdasarkan temuan observasi dan wawancara kepala sekolah yang dilakukan pada tanggal 31 September 2023, karakter siswa telah berkembang dengan baik, namun masih terdapat beberapa tantangan diantaranya masih adanya sebagian siswa yang terus melawan dan mengabaikan. guru di kelas meskipun kemandirian bawaan mereka. kepada siswa untuk menjaga praktik membaca Al-Qur'an secara menyeluruh. Amalan membiasakan membaca Al-Quran sudah dilakukan sejak lama. Terbukti, ia telah dianugerahi berbagai sertifikat setiap tahunnya, seperti MTQ (Musabaqah Bacaan Al-Qur'a. dan kursus lain yang melibatkan hafalan Al-Qur'an. Senada dengan penelitian Nujumuddin dkk. tentang Implementasi Program Tahfidz AlQur'an di SD-IT Al-Imam Asy-Syafi'i, hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Program Tahfidz melaksanakan pendidikan karakter dengan menggunakan prinsip keteladanan, metode Ikon dan Afirmasi ( Stick and Han. , pembiasaan, motivasi, dan komunikasi efektif. Teknik pendidikan karakter yang diciptakan dalam Program Tahfidz Al-Qur'an untuk membantu peserta didik memahami nilai membaca, menghafal, dan penerapan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. (Nujumuddin et al. METODE Penelitian ini dilakukan di lapangan. Penelitian lapangan mengacu pada pemanfaatan beragam situs untuk tujuan penelitian, bergantung pada lapangan. (Abdussamad, 2. Penelitian pendidikan mendapat tempat di luar sekolah dalam keluarga, masyarakat, pabrik, dan rumah sakit sepanjang semuanya bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan. Desa Nuban Kecamatan MTs Sabiilul Muttaqien Sukaraja. Untuk penelitian ini lokasi penelitiannya adalah Batanghari Nuban. Metode kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang berdasarkan filsafat post-positivis yang digunakan untuk menyelidiki kondisi benda-benda alam, bukan eksperimen dimana alat utamanya adalah peneliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh kepala sekolah, instruktur, dan siswa kelas Vi MTs Sabiilul Muttaqien di Desa Sukaraja Nuban Kec. Batanghari Nuban meliputi dokumentasi, wawancara, dan observasi. Metode analisis data dilakukan dengan display data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. peneliti menggunakan triangulasi teknis dan triangulasi sumber, yaitu Verifikasi informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber dan ajukan pertanyaan yang sama melalui berbagai teknik. HASIL DAN PEMBAHASAN Salah satu sarana pendidikan tingkat MTs di Sukaraja Nuban Kec. Batanghari Nuban. Kab. Lampung Timur. Lampung, adalah MTS Sabilul Muttaqin. Di bawah pengawasan Kementerian Agama. MTs Sabilul Muttaqin menjalankan operasionalnya. Terletak di Sukaraja Nuban. Kec. Batanghari Nuban. Kab. Lampung Timur. Lampung. Jalan Raya Simpang Nv-Kota Gajah. Pondok Pesantren Sabiilul Muttaqien terletak di Desa Sukaraja Nuban Kecamatan Batanghari Nuban. Kabupaten Lampung Timur. Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang menjadi tempat pengasuhan pengasuh Dr. Aguswan. Ag. Dr. Zainudin membawahi Madrasah Tsanawiyah. Kondisi Madrasah dengan fasilitas lengkap, antara lain ruang belajar yang nyaman, lab komputer, perpustakaan, ruang pengajaran, kantor, ruang tahfidz, koperasi, masjid besar, aula, lapangan olah raga, lapangan upacara, tempat parkir , kantin, dan wifi untuk memudahkan Madrasah Sabiilul Muttaqien akan terus berkembang seiring dengan adanya informasi baru. Menurut (Pramono, 2. , implementasi adalah proses mengubah rencana menjadi tindakan nyata untuk mencapai tujuan dengan cepat dan efektif serta menjadikannya bermanfaat. Proses pelaksanaan pembiasaan terencana pada siswa dengan tujuannya adalah untuk mengembangkan prinsip-prinsip karakter dalam pemikiran dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam, khususnya Al-Qur'an dan Sunnah sehingga dikenal dengan program kebiasaan membaca Al-Qur'an. Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan peneliti terhadap pelaksanaan program pembiasaan di MTs Sabilul Muttaqin, sekolah berbasis madrasah mempunyai peran dalam menciptakan program kegiatan yang terstruktur dimana siswa mengembangkan prinsip karakter yang sesuai dengan maksud dan tujuan sekolah khususnya. Program Harian menekankan pentingnya akhlaqul karimah. Artinya siswa harus terbiasa menyapa dan berjabat tangan dengan sesama jenis. Ketika menyapa orang lain yang berbeda jenis kelamin, hendaknya menunjukkan sikap taAodim dengan menyeringai dan menyampaikan salam kepada guru serta warga madrasah secara keseluruhan. membangun budaya disiplin dalam segala aktivitas dan lingkungan hidup yang bersih dengan menempatkan tempat sampah pada tempat yang strategis. Karena guru secara konsisten mendemonstrasikan uswah hasanah di dalam maupun luar kelas, hal ini dapat terwujud secara efektif. Hasilnya, siswa dapat mengembangkan kebiasaan tersebut dapat diteladani para siswa. Pembiasaan ibadah sehari-hari meliputi hal-hal sebagai berikut: pembiasaan membaca dan menulis Al-Quran. berhubung tidak semua siswa yang mendaftar di MTs Sabilul Muttaqin melek huruf, maka diadakan program BTQ pagi dengan bantuan wali kelas masing-masing. Bagi yang belum mahir membaca Al-Qur'an menggunakan metode IQRA. yang mahir menggunakan sistem tadarus. setiap akhir pembelajaran, seluruh siswa membaca Asmaul Husna. Karena ini adalah sekolah Madrasah, maka ini merupakan kegiatan adat yang memerlukan pengembangan dan aklimatisasi dengan budaya keagamaan, karena ciri-ciri yang diajarkan Uswatun Hasanah Nabi Muhammad SAW dapat efektif terimplementasi jika hal ini terbentuk. Merupakan tugas semua pendidik untuk membantu siswa mengembangkan prinsip-prinsip moral yang sesuai dengan harapan. Latihan sehari-hari yang membangun Aqidah dan meningkatkan rasa percaya diri antara lain mengajarkan siswa bahwa semua informasi yang dipelajarinya adalah sebagian dari kekuasaan Allah SWT dan menyertakan tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam segala kegiatan belajar mengajar. Untuk membantu siswa terbiasa mengingat Allah SWT, seluruh pihak yang terlibat di sekolah bekerja sama dengan Kepala sekolah serta pendidik lainnya untuk memastikan bahwa setiap mata pelajaran memuat indikasi kekuasaan Allah SWT. Selanjutnya biasakan membaca Asmaul Husna setiap selesai latihan pembelajaran. Hal ini akan membantu siswa tidak hanya menghafal teks tetapi juga belajar bagaimana meniru kualitasnya. Kedua, adanya jadwal pengganti program kegiatan mingguan yang meliputi guru pendamping dan salat Jumat berjamaah yang dipimpin oleh petugas siswa. Acara di hari yang sama, yang dikenal dengan Jumat Bersih, mencakup penerapan langsung sunah Jumat, yaitu mencukur rambut panjang dan memeriksa kuku. Tujuannya adalah untuk menanamkan rasa tanggung jawab dan rasa percaya diri pada siswa. Setiap hari JumAoat merupakan infaq JumAoat yang diselenggarakan untuk menumbuhkan keikhlasan. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk acara sosial seperti mengunjungi siswa yang sakit atau terkena dampak musibah. Selanjutnya setiap selesai latihan belajar, kembangkan kebiasaan membaca Asmaul Husna. Hal ini akan membantu siswa dalam belajar bagaimana meniru kualitas teks selain membantu mereka menghafalnya. Program kegiatan mingguan diganti dengan jadwal baru yang meliputi salat Jumat berjamaah yang dipimpin oleh pengurus siswa dan guru pendamping. Pada Jumat Bersih yang jatuh di hari yang sama, sunah Jumat yang mewajibkan mencukur rambut panjang dan memeriksa kuku langsung diterapkan. Tujuannya adalah untuk memberikan siswa rasa akuntabilitas dan kepercayaan diri. Infaq Jumat merupakan acara mingguan yang bertujuan untuk mengedepankan keikhlasan. Hasilnya kemudian diterapkan pada acara sosial seperti mengunjungi siswa yang sakit atau terluka. Keempat, adat istiadat insidental yang melibatkan pengumpulan uang jika terjadi bencana, baik yang terjadi di dalam madrasah maupun di masyarakat luas. Contoh pengumpulannya antara lain hadiah untuk korban bencana Semeru dan gempa Merapi. Siswa dengan sukarela mengumpulkan sumbangan melalui lembaga sosial, termasuk uang tunai dan barang-barang yang dapat Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan pola pikir welas asih terhadap orang lain. Begitu pula jika terjadi musibah yang menimpa seluruh warga madrasah, baik meninggal dunia, kecelakaan, maupun bencana yang lain, maka penggalangan dana yang diselenggarakan OSIS secara otomatis mengambil tindakan dan mengirimkan bantuan langsung ke lokasi kejadian. Diharapkan pada tahap pelaksanaan, kegiatan dan pengalaman belajar akan berkembang dan pada akhirnya tumbuh mendarah daging dalam diri setiap siswa. Hal ini diwujudkan melalui proses pemberdayaan dan akulturasi budaya yang menjadi landasan sistem pendidikan nasional. Proses ini terjadi dalam tiga konteks terkait pendidikan: keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Ketiga komponen ini perlu bersatu menjadi satu kesatuan yang kuat. Ada dua pengalaman belajar yang berbeda untuk setiap komponen pendidikan, dan pengalaman tersebut dibangun menggunakan dua strategi berbeda: intervensi dan Peran guru sebagai teladan yang dapat ditiru sangatlah penting dan menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Keadaan dan suasana lingkungan nyaman tercipta selama pembiasaan, dan penguatan dapat dijamin sehingga siswa dapat terbiasa bertindak secara moral dan mengembangkan karakter di semua lingkunganAitermasuk rumah, komunitas, dan lembaga pendidikan. Pembudayaan dan pemberdayaan meliputi pembelajaran, penguatan, pembiasaan, dan pemberian keteladanan. Proses-proses ini harus dikembangkan secara dinamis. Siswa MTs Sabilul Muttaqin yang mengikuti program pembiasaan membaca Al Qur'an mengembangkan sifat-sifat karakter sebagai berikut: disiplin, kreatif, semangat kebangsaan, tanggung jawab sosial, kejujuran, pelestarian lingkungan, dan budaya keagamaan. Hal ini bersumber dari rutinitas yang dilakukan di madrasah dalam hal kegiatan ekstrakurikuler, kehidupan sekolah sehari-hari, dan kegiatan belajar dimana program pembiasaan dilakukan oleh semua guru, wakil kepala jurusan, dan kepala madrasah untuk membentuk kepribadian ini. Setiap siswa di MTs Sabilul Muttaqin diharapkan memiliki karakter keislaman yang menyentuh hingga ke dalam jiwa. Kegiatan yang disebut evaluasi digunakan untuk mengukur seberapa baik program pengembangan pendidikan karakter dilaksanakan. Kesesuaian penciptaan dan pelaksanaan inisiatif pembiasaan berbasis karakter Islam dengan fase atau proses yang ditentukan menjadi fokus utama kegiatan evaluasi. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk memastikan efektivitas program sejauh mana tujuan telah tercapai. Hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai masukan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan prosedur program. Tata cara mengamalkan kebiasaan membaca Al-QurAoan dilakukan dengan cara yang lebih terencana dan membuahkan hasil yang memuaskan. Selanjutnya perilaku diamati dan dicatat guna melakukan penilaian. Tindakan berikut diambil untuk mengevaluasi keberhasilan: . Membuat indikator berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan . Membuat serangkaian alat evaluasi. Catat pencapaian indikatornya. Melaksanakan analisis dan penilaian. Melaksanakan tindakan tambahan. (Kementerian Pendidikan Nasional, 2. Kegiatan upacara Senin ini antara lain sebagai sarana evaluasi program bacaan Al-Qur'an di MTs Sabilul Muttaqin yang menggunakan aksara Islami sebagai pembiasaan. Setiap pengawas upacara selalu mencantumkan evaluasi program pembiasaan, dengan perhatian khusus pada aktivitas sehari-hari, dalam Selain itu, setiap akhir bulan, rapat dewan guru memberikan kesempatan untuk mengevaluasi apakah tujuan program pembiasaan telah tercapai. Jika siswa mengalami masalah selama bulan sebelumnya, jawabannya dapat segera ditemukan . Hasil penilaian baca tulis Al-Quran yang dituangkan secara menyeluruh dalam buku prestasi atau BTQku menjadi dasar teknik penilaian. Buku ini wajib bagi semua siswa untuk menilai kemajuan mereka menuju tujuan membaca dan menulis Al-Quran. Dilaksanakan setiap bulan dan mengundang para wali untuk menyampaikan hasil prestasi anaknya serta hasil observasi wali kelas terhadap perilaku moral siswa. Selain untuk pengembangan tingkah laku siswa, khususnya perkembangan akhlak, hasil membaca dan menulis Al-Quran juga dikirimkan kepada orang tua siswa. Secara spesifik evaluasi program pembiasaan membaca Al-Quran di madrasah untuk pembentukan nilai-nilai karakter sama dengan evaluasi program pendidikan karakter yang terdiri dari madrasah, peserta didik, dan orang tua. Selain itu, orang tua mempunyai kesempatan untuk mengomunikasikan seberapa baik prestasi akademik anak-anak mereka serta perilaku sehari-hari di rumah. Kelas, sekolah, dan rumah merupakan setting pendidikan karakter sementara. Temuan penelitian ini mendukung teori yang menyatakan bahwa: Tujuan evaluasi pendidikan karakter adalah untuk mengetahui apakah anak telah ditugaskan satu atau lebih karakter sekolah dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, dilakukan upaya untuk membandingkan cara bertindak anak dengan standar karakter . yang ditetapkan oleh instruktur dan/atau sekolah inilah yang dimaksud dengan evaluasi dalam konteks pendidikan karakter. Penting untuk diingat bahwa karakter tidak dapat dievaluasi dalam satu kesempatan. hal ini harus terus diamati dan diidentifikasi sepanjang kehidupan anak sehari-hari, baik di rumah, di kelas, atau keduanya. Oleh karena itu, ketiga unsur ini harus diperhatikan ketika mengevaluasi karakter. Instruktur memantau dan mencatat perilaku siswa selama kegiatan kelas, dan siswa berpartisipasi dalam proses evaluasi dengan menjaga sikap positif dan bertindak pantas di kelas dan bersedia menghadapi konsekuensi atas perilaku buruk. Siswa lain juga berpartisipasi dalam proses evaluasi. Hal ini dicapai dengan mengamati bagaimana teman mereka berperilaku dan melaporkan setiap perilaku tidak pantas dari teman mereka. Siswa, teman, pendidik lain . ermasuk kepala sekolah dan wakil kepala sekola. , pustakawan, administrator, dan petugas keamanan sekolah semuanya terlibat dalam proses evaluasi di sekolah. Caranya dengan meminta siswa mengisi lembar observasi yang diberikan secara berkala. Sementara formulir penilaian di rumah meminta siswa, orang dewasa, dan masyarakat untuk memberikan informasi yang akurat jika ada siswa yang menunjukkan perilaku tidak pantas di dalam atau di luar kelas. Selain itu, temuan observasi akan dibagikan secara rutin dan berkala pada hari Senin saat upacara. Itu juga akan dibahas dan dibahas selama pertemuan dewan guru dan dibagikan kepada orang tua pada akhir setiap bulan. Apabila ditemukan siswa mempunyai kelainan maka akan dilakukan pembinaan sebagai bentuk tindak lanjutnya. Agus Setiawan, mahasiswi IAIN Samarinda Indonesia, melakukan penelitian yang relevan dengan penelitian ini dengan judul Implementasi Nilai-Nilai Karakter Islami Berdasarkan Kebiasaan Siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu. Temuan penelitian menunjukkan bagaimana pendidikan agama Islam di MTs Negeri Kota Batu menggunakan teknik pembiasaan untuk membantu siswa mengembangkan karakter positif. Pembiasaan moral, pembiasaan keagamaan, dan pembiasaan aktivitas tahunan. Siswa Karakter dikembangkan melalui teknik pembiasaan yang digunakan dalam pendidikan agama Islam di Madrasah Negeri Tsanawiyah Kota Batu. Teknik tersebut antara lain budaya keagamaan, keramahan dan komunikasi, peduli lingkungan, disiplin, kreatif, semangat kebangsaan, gemar membaca, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab. Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu, digunakan tiga metode untuk mengevaluasi efektivitas metode pembiasaan dalam pendidikan agama Islam bagi pengembangan nilai-nilai karakter siswa: kegiatan upacara Senin, rapat dewan guru, dan buku TATIBSI . ode etik sisw. , yang meliputi penilaian skor dan rekap tiap semester. (Rahim & Setiawan, 2. Meskipun penelitian ini memiliki program pembiasaan bulanan dan insidental, namun penelitian ini menemukan kesamaan pada program pembiasaan yang terdiri dari kegiatan sehari-hari dan tahunan. Penelitian ini juga menemukan kesamaan dalam evaluasi program, dengan pertemuan guru dan kegiatan upacara Senin dijadikan sebagai bahan evaluasi. Hal ini dilakukan melalui buku TATIBSI yang dibagikan pada setiap akhir semester. Sebaliknya, buku prestasi BTQku yang diberikan kepada wali siswa setiap bulannya dan dilengkapi catatan hasil serta pengamatan setiap kegiatan yang diselesaikan siswa dalam sebulan, digunakan dalam penelitian ini untuk mencatat hasil rangkuman penilaian evaluasi. Apakah siswa terusmenerus membolos atau berperilaku buruk, sebagaimana dibuktikan oleh pengamatan guru, sekolah, atau teman sebaya? Sebaliknya, apakah siswa menunjukkan ketekunan, watak positif, dan kemandirian? Dengan melakukan hal ini, kemungkinan seorang siswa menjadi nakal akan berkurang karena mereka dapat diidentifikasi sejak dini dan menerima pembinaan. KESIMPULAN Pendidikan karakter dilaksanakan di Kelas Vi di Mts Sabiilul Muttaqien Desa Sukaraja Nuban Kec. Batanghari Nuban melalui Program Kebiasaan Membaca Al-Qur'an. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter yang tercipta dari siswa yang rutin membaca Al-Quran di Mts Sabiilul Muttaqien Desa Sukaraja Nuban Kec. Batanghari Nuban adalah: religius, sadar lingkungan, disiplin, jujur, sadar sosial, dan bertanggung jawab. Metode pembiasaan dinilai melalui kegiatan seremonial pada hari Senin, rapat bulanan dewan guru, dan penyelesaian buku prestasi BTQku yang dilaporkan dengan adanya kunjungan orang tua ke sekolah setiap satu bulan sekali. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan trimakasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis. Penulis ucapkan trimaksih banyak kepada kedua orang tua. Penulis ucapkan trimakasih banyak kepada Bapak Irhamudin. SS. ,MM dan Bapak Adi Wijaya. Pd, yang telah membimbing penulis. Bapak Ikhwan Aziz Q. Pd. I selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, seluruh bapak ibu dosen PAI, segenap pihak yang telah membantu penulis baik teman-teman, keluarga, dan teruntuk penulis sendiri. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pembaca. DAFTAR PUSTAKA