364 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 17. Nomor 2. Oktober 2025 . Hal 364-380 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Resepsi Al-QurAoan Di Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan AlMaAoruf Juranguluh Kediri Ridho Afifudin UIN Syeh Wasil Kediri ridhoafifudin11@gmail. Zayad Abd. Rahman UIN Syeh Wasil Kediri zayadar@gmail. Ahmad Subakir UIN Syeh Wasil Kediri bakirkediri@gmail. Diterima: . 5-07-. Direvisi: [ 2025-08-. Disetujui: . 5-11-. Abstract This study aims to explore the various forms of QurAoanic reception at the Tahfidzul QurAoan Islamic Boarding School in Juranguluh. Kediri, using a qualitative approach informed by Hans Robert JaussAos reception theory and Ahmad RafiqAos typology of QurAoanic reception. Three main forms of reception are analyzed: . exegetical reception, manifested through thematic tafsir studies and the understanding of QurAoanic interpretive principles. functional reception, reflected in spiritual routines such as QurAoan completion . , riyAsah arbaAon, and the recitation of specific surahs as part of the pesantrenAos spiritual and communal life. aesthetic reception, evident in the training of QurAoanic recitation . and calligraphy as expressions of reverence for the sacred textAos beauty. The findings reveal that these forms of reception are integrated into the pesantrenAos core curriculum, representing a vision of producing students who embody the QurAoan in recitation, meaning, and practice. QurAoanic reception in this context is not merely theoretical but deeply practical, forming a lived experience and value system within the pesantren. This study contributes significantly to the Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 365 development of QurAoanic studies grounded in local contexts and affirms the pesantren as a vital living QurAoan space in Indonesian Muslim society. Keywords: QurAoanic Reception. Pesantren. Exegetical. Aesthetic. Functional. Living QurAoan PENDAHULUAN Al-QurAoan sebagai kitab suci umat Islam tidak hanya diposisikan sebagai sumber hukum dan pedoman hidup, tetapi juga menjadi objek pengalaman religius yang hidup dan dinamis dalam kehidupan umat. Pengalaman ini menjelma dalam berbagai bentuk penerimaan dan respons terhadap Al-QurAoan yang dikenal dalam studi kontemporer sebagai resepsi alQurAoan (QurAoanic receptio. Dalam perspektif ini, interaksi manusia dengan Al-QurAoan tidak terbatas pada pembacaan tekstual semata, tetapi mencakup pemahaman, penghayatan, hingga praktik dalam keseharian. Gagasan ini sejalan dengan pendekatan living QurAoan yang dikembangkan oleh para sarjana Islam di Indonesia, terutama Ahmad Rafiq, yang menekankan pentingnya meneliti bagaimana Al-QurAoan benar-benar AudihidupkanAy dalam realitas sosial masyarakat Muslim. Secara umum, living Qur'an menekankan bahwa Al-Qur'an hidup ketika diterjemahkan ke dalam perilaku, tradisi lokal, dan praktik keagamaan yang berkembang di tengah dinamika sosial masyarakat Indonesia (Ridha, 2. Dalam ranah kajian resepsi, teori penerimaan . eception theor. yang diperkenalkan oleh Hans Robert Jauss memberikan kerangka konseptual Jauss menekankan bahwa makna sebuah teks tidak bersifat tunggal atau tetap, melainkan terbentuk secara dialogis antara teks dan pembaca melalui apa yang ia sebut sebagai horizon of expectations (Rasool & Saado. Jauss juga menekankan bahwa pengalaman estetik yang diperoleh pembaca dari sebuah teks melibatkan tiga fase: produksi . , eksplorasi . , dan pengalaman estetika . Pengalaman ini tidak hanya mengandalkan kualitas teks itu sendiri, tetapi juga pada konteks sosial dan budaya di mana teks tersebut dibaca (Costa, 2. Dengan pendekatan ini, resepsi terhadap karya sastra dapat bervariasi tidak hanya dalam waktu, tetapi juga di antara kelompok pembaca yang berbeda, menciptakan dinamika pemahaman yang kaya. Ahmad Rafiq, salah satu tokoh utama dalam kajian resepsi Al-QurAoan di Indonesia, memiliki kontribusi penting dalam membentuk cara memahami dan menghayati teks suci dalam konteks kontemporer. Konsep AuLiving QurAoanAy yang dikemukakan oleh Ahmad Rafiq menekankan bahwa penerimaan serta penghayatan terhadap Al-Qur'an tidak bersifat statis, 366 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 melainkan merupakan interaksi dinamis antara teks dengan kondisi sosial, budaya, dan pengalaman hidup para pembacanya. Perspektif ini menggarisbawahi pentingnya "horizon harapan" atau cakrawala ekspektasi yang dimiliki oleh penerima, di mana teks tersebut mendapatkan makna baru melalui proses interpretasi yang terus berkembang (Mustofa & Taufiq, 2. Kontribusi Ahmad Rafiq terhadap konsep resepsi Al-Qur'an menggambarkan pergeseran paradigma dalam memahami teks suci sebagai sesuatu yang hidup, interaktif, dan selalu berkembang. Pemahaman ini tidak hanya relevan untuk analisis teks secara akademis tetapi juga menawarkan pendekatan praktis dalam membangun pendidikan keagamaan yang kontekstual dan adaptif terhadap dinamika kehidupan modern. Penerapan teori penerimaan ini dapat menjadi model untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam budaya populer dan pendidikan, sehingga teks Al-Qur'an tidak terjebak dalam ritualistik statis, melainkan terus berkembang sesuai dengan kondisi sosial-budaya penerimanya (Nabilla et al. , 2. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia merupakan locus penting dalam studi living QurAoan. Di dalamnya. Al-QurAoan tidak hanya diajarkan dan dihafalkan, tetapi juga dihayati dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Menurut data dari Database Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI (Desember 2. , terdapat lebih dari 42. pesantren aktif di Indonesia, dan ribuan di antaranya adalah pesantren tahfidz, yaitu pesantren yang secara khusus berfokus pada pembelajaran dan penghafalan Al-QurAoan. (Gerbang Data Pendidikan Kementerian Agama, n. Penelitian demi penelitian telah menunjukkan berbagai cara di mana Al-Quran dipahami dan diinternalisasi oleh santri serta masyarakat sekitar Di Pondok Pesantren Congaban. Madura, misalnya. Ramdhani et al. menjelaskan bahwa kehadiran Al-Quran dalam komunitas ini sangat kuat, di mana Al-Quran hidup dan menyatu dengan budaya sehari-hari masyarakatnya (Ramdhani et al. , 2. Pesantren ini menjadi salah satu tempat di mana AlQuran tidak hanya dijadikan sebagai pelajaran akademis, tetapi juga sebagai panduan dalam bertindak, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sosial. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Huda dan Albadriyah yang mengeksplorasi varian resepsi Al-Quran di Pondok Pesantren Al-Husna, di mana makna-makna yang melekat pada Al-Quran sangat dipahami dalam konteks lokalitas masyarakatnya (N. Huda & Albadriyah, 2. Kurangnya pemahaman yang mendalam tentang Al-Quran dapat memunculkan perilaku ambivalen terhadap modernitas di pesantren. Hal ini dijelaskan oleh Daulay yang menemukan bahwa untuk mempertahankan Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 367 tradisi, pesantren perlu mengadopsi inovasi dalam pembelajaran, termasuk penguatan literasi keagamaan yang diharapkan dapat membantu santri untuk memahami konteks dan isi Al-Quran dengan lebih baik (Daulay, 2. Dengan cara ini, pesantren dapat menciptakan generasi yang tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam Al-Quran. Di sisi lain, perkembangan modernisasi pesantren juga berimplikasi terhadap cara pemahaman dan pengajaran Al-Quran. Huda et al. bahwa modernisasi mengakibatkan adanya pergeseran dalam cara masyarakat pesantren berinteraksi dengan Al-Quran, di mana aspek yang bersifat performatif seringkali mengabaikan pendalaman makna yang terkandung di dalamnya (A. Huda et al. , 2. Hal ini berarti bahwa interaksi santri dengan Al-Quran harus mampu menyeimbangkan antara aspek tradisional dan adaptasi terhadap konteks kontemporer. Dalam konteks nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam AlQuran, penelitian oleh Dwinata dan Naim menunjukkan bahwa kurikulum yang ada di pesantren sering kali terfokus pada pembelajaran kitab kuning, yang juga memiliki peran penting dalam mendalami dan mentransformasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari santri (Dwinata & Naim, 2. Koherensi antara ajaran Al-Quran dan pengajaran kitab kuning memperkuat sistem pendidikan pesantren sebagai tempat untuk menanamkan karakter dan moralitas berbasis agama. Secara keseluruhan, resepsi Al-Quran di pesantren tidak hanya terpaku pada aspek akademis, tetapi jauh lebih kompleks, mencakup bagaimana nilainilai tersebut dihayati dan diimplementasikan dalam konteks sosial dan budaya Dalam dunia yang semakin modern, penting bagi pesantren untuk tetap menjaga tradisi sambil membuka diri terhadap pembaruan yang dapat memperkaya pemahaman santri tentang Al-Quran (Amir, 2. Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan Juranguluh di Kediri merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang intens dalam pembinaan hafalan AlQurAoan, namun belum banyak dikaji dari sisi pengalaman reseptif santrinya terhadap Al-QurAoan. Penelitian ini penting untuk menggali bagaimana bentuk-bentuk resepsi Al-QurAoan terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan Juranguluh. Apakah santri hanya sekadar menghafal teks, ataukah mereka juga memahami makna . esepsi eksegesi. , mengapresiasi keindahan bacaan dan penulisannya . esepsi esteti. , serta mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari . esepsi fungsiona. Dalam konteks tradisi pesantren yang kuat 368 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 dengan praktik amaliah seperti wirid, ruqyah, atau bacaan harian tertentu, penting untuk memahami bagaimana ayat-ayat Al-QurAoan dihadirkan secara performatif dalam kehidupan santri. Lebih lanjut, kajian ini tidak hanya bermakna akademis dalam ranah studi ilmu Al-QurAoan, tetapi juga memberi kontribusi terhadap diskursus pedagogis di pesantren. Dalam era modern, tantangan yang dihadapi pesantren adalah bagaimana mengintegrasikan hafalan Al-QurAoan dengan pemahaman makna dan penerapan nilai-nilai Al-QurAoan dalam kehidupan nyata. Jika resepsi terhadap Al-QurAoan hanya berhenti pada aspek memori tanpa afeksi dan aksi, maka fungsi transformatif Al-QurAoan akan menjadi lemah. Oleh karena itu, studi ini dapat memberikan gambaran sejauh mana pesantren mampu membentuk pengalaman spiritual santri yang holistik melalui interaksi mereka dengan Al-QurAoan. Dengan latar belakang ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana bentuk-bentuk resepsi Al-QurAoan yang terjadi di Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan Juranguluh Kediri, serta menganalisis faktor-faktor sosiokultural, religius, dan pendidikan yang memengaruhi resepsi tersebut. Fokus utama penelitian diarahkan pada eksplorasi tiga bentuk resepsi eksegesis, estetis, dan fungsional dalam kerangka teoritik yang dikembangkan oleh Ahmad Rafiq dan Hans Robert Jauss, untuk memberikan kontribusi baru dalam kajian studi Al-QurAoan berbasis konteks lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan . ield researc. berbasis studi resepsi Al-QurAoan. Fokus utamanya adalah mengamati dan menganalisis bentuk-bentuk resepsi eksegesis, estetis, dan fungsional terhadap Al-QurAoan di Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan Juranguluh Kediri. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pengasuh, ustaz, serta para santri, dan dokumentasi terhadap praktik keseharian yang berhubungan dengan interaksi mereka terhadap Al-QurAoan. Data dianalisis dengan pendekatan hermeneutik dan interpretatif untuk menangkap makna reseptif dalam konteks sosialbudaya pesantren. PEMBAHASAN Resepsi Al-Quran Sebagai Pendekatan Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 369 Penelitian ini bertumpu pada dua dasar utama, yakni teori resepsi dari Hans Robert Jauss dan tipologi resepsi Al-QurAoan yang dikembangkan oleh Ahmad Rafiq. Dalam mendiskusikan tentang resepsi Alquran ini, maka juga tidak terlepas dari pembahasan tentang sastra. Menjelang akhir dekade 1970an, perhatian terhadap pendekatan resepsi dalam kajian sastra mulai meningkat, terutama setelah Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser mengemukakan teori-teori resepsi yang cukup berpengaruh. Keduanya memiliki fokus kajian yang berbeda dalam pendekatan ini. Jauss lebih menekankan pada bagaimana pembaca menerima dan menginterpretasikan makna dari suatu teks, sedangkan Iser lebih tertarik pada cara teks itu sendiri membimbing dan membentuk respons pembacanya (M. Nur Kholis Setiawan. Dalam perspektif Hans Robert Jauss, sebagaimana diulas oleh Zhang, seorang mahasiswa asal Tiongkok dalam tulisannya berjudul "TranslatorAos Horizon of Expectations and the Inevitability of Retranslation of Literary Works" dijelaskan bahwa terdapat tiga tipologi utama dalam teori resepsi. Pertama adalah resepsi-eksegetik, yang merujuk pada upaya interpretatif pembaca dalam memahami makna sebuah teks secara mendalam. Kedua, resepsi-estetis, yakni penghargaan terhadap aspek keindahan, gaya, dan nilai artistik yang terkandung dalam teks tersebut. Ketiga, resepsi-komunikatif, yaitu ketika pembaca terlibat dalam hubungan emosional yang intens dengan teks sehingga menimbulkan kesan mendalam, seperti perasaan haru atau keterhubungan personal yang memicu tindakan atau respons nyata (Zhang. Tipologi ketiga ini sering pula disebut sebagai resepsi sosial-kultural, karena menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara teks dan pembaca dalam kerangka sosial dan budaya tertentu. Dalam konteks ini, proses penerimaan teks tidak berhenti pada pemahaman intelektual semata, tetapi turut berpengaruh pada praksis kehidupan pembaca, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jauss menegaskan bahwa makna sebuah teks tidak bersifat tetap dan inheren, melainkan terbentuk melalui interaksi dinamis antara teks dengan Interaksi ini berlangsung dalam horizon harapan . orizon of expectation. , yakni kerangka pemahaman yang dibentuk oleh pengalaman, latar budaya, dan konteks historis pembaca. Dengan kata lain, makna suatu teks bersifat historis dan kontekstual, bukan esensial dan mutlak sebagaimana diasumsikan dalam pendekatan tekstual murni. Jauss menunjukkan bahwa pembaca yang berasal dari latar sosial-budaya yang berbeda membawa seperangkat ekspektasi dan pemahaman yang beragam terhadap teks, yang 370 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 terus berkembang seiring perubahan waktu dan kondisi sosial. (Besbes, 2021. Jiang, 2023. Thiselton, 2. Hal ini membuka ruang bagi keberagaman penafsiran dan menghindari pemaknaan tunggal yang kaku. Dalam konteks studi Al-QurAoan, penerapan teori resepsi ini menyoroti bahwa makna ayat-ayat suci tidaklah beku, melainkan mengalami evolusi makna sesuai dengan pengalaman dan konteks sosial pembacanya. Oleh karena itu, pendekatan ini menawarkan paradigma hermeneutik yang inklusif dan etis, yang memungkinkan tafsir bersifat dialogis, transformatif, dan (Hatta, 2023. Khalfaoui et al. , 2. Ahmad Rafiq menjelaskan bahwa resepsi Al-QurAoan dapat dipahami sebagai cara bagaimana individu atau komunitas menerima, menanggapi, memanfaatkan, serta menggunakan Al-QurAoan, baik dalam bentuknya sebagai teks yang memiliki struktur sintaksis tertentu, sebagai mushaf tertulis yang mengandung makna simbolik, maupun sebagai sekumpulan kata yang masingmasing memiliki arti yang kontekstual. Dalam kerangka teoritisnya. Ahmad Rafiq memformulasikan tiga tipologi utama dalam resepsi Al-QurAoan. Tipologi ini sejatinya mengadaptasi teori resepsi sastra yang pertama kali dikembangkan oleh Hans Robert Jauss, yang membagi bentuk resepsi menjadi tiga jenis: estetis, eksegesis, dan Ketiga kategori tersebut kemudian dijadikan dasar dalam memahami proses resepsi terhadap Al-QurAoan, di mana teks suci diperlakukan tidak hanya sebagai sumber hukum dan teologi, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial-budaya yang terus berkembang dalam kehidupan umat Islam. Dari sinilah Ahmad Rafiq memetakan tipologi resepsi al-QurAoan menjadi tiga yaitu: Resepsi Eksegesis Istilah eksegesis atau eksegesis secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, eksegeisthai, yang berarti "mengeluarkan" atau "menjelaskan. " Dalam bentuk nomina, istilah ini merujuk pada aktivitas penafsiran atau penjelasan terhadap suatu teks, terutama teks-teks keagamaan atau kitab suci. Dalam konteks resepsi Al-QurAoan, bentuk resepsi eksegesis merujuk pada respons intelektual terhadap teks suci, di mana pembaca berupaya menangkap dan menguraikan makna tekstual Al-QurAoan melalui proses penafsiran yang Pendekatan resepsi eksegesis dalam kerangka pemikiran Ahmad Rafiq merupakan salah satu cara analisis untuk menelusuri bagaimana teks diterima secara murni oleh publik, tanpa adanya penambahan interpretatif yang tidak terdapat pada naskah aslinya. Resepsi eksegesis menekankan pada proses penyerapan pesan secara literal dan tekstual, di mana teks yang disampaikan dipertahankan keaslian maknanya melalui cara penyampaian yang Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 371 mempertahankan struktur, ritme, dan intonasi yang sesuai dengan tata cara bacaan yang benar (Mubarik, 2. Model ini merupakan instrumen penting untuk menganalisis proses pembentukan makna di dalam praktik keagamaan kontemporer, di mana kesetiaan terhadap teks dan kebenaran pesan menjadi prioritas utama (Anggraini, 2024. Mubarik, 2021. Siregar et al. , 2. Resepsi Estetis Secara etimologis, istilah estetika berasal dari bahasa Yunani aisthetikos, yang berarti "berkenaan dengan persepsi inderawi," dan secara lebih khusus merujuk pada pengetahuan tentang keindahan, khususnya dalam ranah seni. Pada dasarnya, estetika merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat keindahan, bagaimana keindahan dipersepsi, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks resepsi terhadap Al-QurAoan, bentuk resepsi estetis mengacu pada penerimaan yang menekankan pada aspek keindahan AlQurAoan, baik secara visual, auditori, maupun struktural. Al-QurAoan dipandang bukan sekadar teks normatif, melainkan juga sebagai karya ilahiah yang sarat dengan nilai artistik. Keindahan ini dapat diwujudkan melalui pelafalan yang merdu dalam tilawah, tulisan kaligrafi yang indah, maupun irama yang teratur dan memikat dalam lantunan ayat-ayat suci. Dengan demikian, resepsi estetis terhadap Al-QurAoan merupakan bentuk apresiasi spiritual dan emosional terhadap keindahan teks wahyu. Pembaca atau pendengar mengalami hubungan yang mendalam secara estetik, yang dapat membangkitkan kekhusyukan, ketenangan batin, bahkan rasa kagum terhadap keagungan Al-QurAoan sebagai kalAm Allah yang indah secara bentuk maupun makna. Resepsi Fungsional Islam sebagai sistem keyakinan dan ideologi bersumber dari AlQurAoan, yang kemudian membentuk perilaku sosial umatnya dalam kehidupan sehari-hari. Relasi dialektis antara teks Al-QurAoan dan realitas sosial melahirkan berbagai bentuk pemaknaan dan interpretasi. Dari keragaman penafsiran ini, muncul beragam wacana, pemikiran, serta tindakan yang menjadi respons umat Islam terhadap pemahaman mereka atas Al-QurAoan. Dalam konteks ini, resepsi fungsional dapat dipahami sebagai bentuk penerimaan yang bersifat praktis, yaitu keterkaitan langsung antara teks AlQurAoan dan kehidupan konkret pembacanya. Al-QurAoan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai sumber teori atau doktrin normatif, melainkan sebagai pedoman praksis yang diimplementasikan dalam perilaku nyata. 372 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 Ahmad Rafiq, dalam mengembangkan pendekatan ini, merujuk pada kerangka Sam D. Gill yang membagi fungsi teks suci menjadi dua: fungsi informatif dan fungsi performatif. Fungsi informatif merujuk pada pemahaman terhadap isi kandungan ayat-ayat Al-QurAoan sebagai sumber informasi atau ajaran, yang kemudian diterjemahkan ke dalam keyakinan dan tindakan. Sementara itu, fungsi performatif mengacu pada penggunaan teks Al-QurAoan secara ritual atau simbolik, tanpa selalu melibatkan penafsiran makna secara Contoh dari fungsi ini adalah pembacaan surat al-Falaq dan an-Nas . l-muAoawwidzatai. sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan supranatural, yang dilakukan bukan semata berdasarkan pemahaman atas maknanya, melainkan karena keyakinan terhadap kekuatan spiritual yang dikandung oleh teks tersebut. Dengan demikian, resepsi fungsional menunjukkan bagaimana AlQurAoan dihayati secara langsung dalam tindakan umat Islam, baik dalam bentuk amalan ibadah, penggunaan ayat dalam tradisi lisan, maupun dalam struktur kehidupan sosial-religius secara lebih luas. Resepsi Alquran di PPTQ al-MaAoruf Juranguluh Berdasarkan temuan lapangan di Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan Juranguluh Kediri, dapat dikatakan bahwa proses resepsi terhadap Al-QurAoan berlangsung secara holistik, mencakup tiga aspek utama: eksegesis, fungsional, dan estetis. Ketiga aspek tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dan membentuk ekosistem pendidikan Al-QurAoan yang integral, yang direfleksikan melalui visi pesantren untuk mencetak santri yang ahli AlQurAoan lafdzan, maAonan wa Aoamalan, yakni ahli dalam bacaan, pemahaman dan pengamalan. Resepsi Eksegesis: Pendalaman Makna Teks Resepsi eksegesis di pesantren ini tampak dalam adanya kajian tafsir yang terstruktur, baik melalui pendekatan tafsir tematik . audhuAo. maupun dengan menggunakan kaidah-kaidah tafsir yang dikenalkan kepada santri. Kajian tafsir dilaksanankan secara berjenjang, yakni kelas Ula. Wustha dan Ulya. Jenjang kelas ini menunjukkan bahwa pengkajian tafsir menyesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan santri. Kajian tafsir ini tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga mengarahkan santri pada pemahaman tekstual atas ayat-ayat yang mereka hafal dan baca. Pemahaman terhadap makna teks dalam kelas ilmu tafsir seringkali diuji dengan berbagai contoh kasus yang tertulis secara eksplisit di dalam kitab-kitab referensi oleh para guru. Dengan demikian, para Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 373 santri yang belajar tafsir mampu menguasai berbagai metode dalam ilmu tafsir hingga penerapannya namun. Ini juga menunjukkan adanya proses pemaknaan teks sekaligus mampu menguraikannya dengan tetap mengacu pada keotentikan teks. Hal ini menunjukkan bahwa hafalan Al-QurAoan tidak diperlakukan sebagai aktivitas mekanik, melainkan sebagai bentuk kesadaran interpretatif terhadap pesan-pesan ilahiah. Resepsi semacam ini sejalan dengan apa yang disebut Ahmad Rafiq sebagai resepsi eksegesis, yakni penerimaan Al-QurAoan melalui proses penafsiran yang menghasilkan pemahaman mendalam terhadap makna teks asliv(Mubarik, 2. Dengan kata lain, pesantren tidak hanya mengajarkan lafadz, tetapi juga maAona yang terkandung dalam Al-QurAoan. Resepsi Fungsional: Pengamalan Al-QurAoan dalam Kehidupan Kolektif Konsep resepsi fungsional dalam kerangka pemikiran Ahmad Rafiq menekankan pada penerapan praktis nilai-nilai Al-QurAoan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga teks suci tidak hanya dianggap sebagai objek bacaan atau ritual ibadah, tetapi juga sebagai sumber pedoman untuk mengatasi persoalan duniawi. Resepsi fungsional mengarah pada bagaimana pesan-pesan Al-QurAoan diterjemahkan ke dalam praktik sosial, etika, dan solusi konkret terhadap permasalahan hidup, sehingga membentuk pola pikir dan perilaku aplikatif dalam konteks kehidupan modern (Fadlillah, 2. Lebih lanjut, penerapan resepsi fungsional dalam kerangka Ahmad Rafiq menegaskan perlunya integrasi antara dimensi tekstual dan konteks kehidupan nyata. Dengan demikian, transformasi nilai-nilai AlQurAoan terjadi secara dinamis, di mana pesan-pesan yang awalnya bersifat normatif dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi dan tuntutan Pendekatan ini menjadi sangat relevan di tengah arus modernisasi dan globalisasi, karena mampu memastikan bahwa keberadaan Al-QurAoan tetap hidup dan aplikatif sebagai sumber solusi bagi persoalan kontemporer, baik dalam ranah individual maupun sosial (Fadlillah, 2019. Nadhiroh & Aini, 2. Resepsi fungsional sangat dominan dalam kehidupan pesantren ini, di mana Al-QurAoan menjadi fondasi bagi berbagai aktivitas spiritual dan sosial. Salah satu bentuk yang paling menonjol adalah khataman AlQurAoan yang dilaksanakan dua kali dalam seminggu. Aktivitas ini tidak hanya dimaknai sebagai ibadah tilawah, tetapi juga sebagai wasilah doa kolektif untuk segala hajat pesantren. Menariknya, pesantren ini secara 374 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 konsisten tidak pernah mengajukan bantuan ke pemerintah, melainkan bergantung sepenuhnya pada keberkahan Al-QurAoan sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi riwayat Abu SaAoid rasiyallahu Aoanhu. Hal ini memperlihatkan keyakinan bahwa Al-QurAoan memiliki fungsi performative, yakni teks yang memiliki daya spiritual untuk mempengaruhi realitas, sebagaimana teori yang digunakan oleh Ahmad Rafiq. Bentuk lain dari resepsi fungsional adalah riyasah arbaAoin, sebuah amalan intensif selama 40 hari yang dijalankan dengan ketentuan khusus yang telah dibukukan dalam pedoman pelaksanaan. Praktik ini menekankan aspek disiplin spiritual dan penghayatan terhadap AlQurAoan. Selain itu, amalan rutin harian seperti pembacaan surat al-Kahfi setiap Jumat siang, surat al-WaqiAoah setiap sore, surat al-Mulk setelah IsyaAo, dan surat ar-Rahman setelah Subuh, menjadi bagian dari struktur kehidupan santri. Pembacaan-pembacaan ini bukan sekadar ritual, tetapi mengandung tujuan-tujuan tertentu seperti perlindungan, keberkahan, atau ketenangan jiwa. Bahkan, amalan ini telah menjadi bagian dari kurikulum pesantren, yang menjadikan pembacaan Al-QurAoan sebagai elemen terintegrasi dalam sistem pendidikan, bukan hanya sebagai Dengan demikian, makna Al-Qur'an terbentuk melalui dinamika pengalaman personal, sosial, dan budaya para pembacanya (A. Huda et al. , 2. Dari proses ini, dapat difahami bahwa besar kemungkinan teks Al-Quran untuk terus relevan dalam konteks modern tanpa meninggalkan akar tradisionalnya. Pendekatan Ahmad Rafiq menggeser fokus dari sekedar reproduksi teks ke aktivasi nilai-nilai yang hidup dan adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus menegaskan peran aktif penerima sebagai agen dalam konstruksi makna Al-Qur'an (AsyAoari & Kafid, 2. Resepsi Estetis: Keindahan Teks dalam Praktik Keagamaan Pendekatan resepsi estetis dalam kerangka pemikiran Ahmad Rafiq menyoroti bagaimana pengalaman keagamaan tidak hanya terbatas pada penafsiran literal . atau penerapan praktis . , melainkan juga mencakup dimensi keindahan artistik yang menyentuh aspek sensorik dan emosional. Menurut Ahmad Rafiq, teks suci dapat diterima secara estetis ketika penyajiannya mengedepankan unsur irama, intonasi, visual, dan tata cara yang memancarkan keindahan. Hal ini memungkinkan para pembaca atau penonton untuk tidak sekadar Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 375 memahami makna literal, tetapi juga merasakan AukehadiranAy ilahiyah melalui pengalaman estetis yang intens (Mubarik, 2. Penyajian lantunan ayat dengan indah, tidak hanya menyampaikan pesan religius secara langsung, melainkan juga menciptakan pengalaman keindahan estetis yang memperkuat hubungan antara teks dengan kondisi spiritual individu (Nurmansyah et al. , 2. Dimensi estetis dalam resepsi Al-QurAoan di pesantren ini tercermin dalam dua bentuk utama, yakni seni kaligrafi dan tilawah dengan langgam tertentu. Santri diajarkan untuk menulis kaligrafi sebagai bentuk ekspresi visual dari keindahan Al-QurAoan. Pengalaman estetis yang dirasakan oleh penikmat seni kaligrafi ini sangat dipengaruhi oleh "horizon harapan" yang mereka bawa, sehingga interpretasi terhadap karya tersebut menjadi proses interaktif yang menghasilkan makna baru yang bersifat dinamis (Liu & Guan, 2. Sementara itu, dalam pembacaan . , pelatihan maqamat atau langgam-langgam bacaan menjadi bagian dari rutinitas, yang menunjukkan bahwa AlQurAoan dipersepsi bukan hanya sebagai teks normatif, tetapi juga sebagai teks yang indah secara fonetik dan visual. Hal ini sejalan dengan resepsi estetis menurut Ahmad Rafiq, yakni bentuk penghargaan terhadap nilai keindahan Al-QurAoan yang memunculkan pengalaman emosional dan spiritual pembaca. Praktik estetika ini menjadi bagian penting dalam pembentukan kecintaan santri terhadap Al-QurAoan, sekaligus membentuk rasa hormat dan keagungan terhadap teks suci. Dalam pandangan Hans Robert Jauss, respons semacam ini adalah bagian dari aesthetic reception, bahwa pembaca bukan sebagai entitas pasif yang menerima informasi secara mekanis, melainkan sebagai partisipan penting yang secara kreatif mengaktualisasi makna melalui respons estetisnya. Dengan demikian, respons pembaca terhadap karya sastra menjadi suatu proses pengalaman yang penuh dimensi, di mana estetika, baik yang muncul dari struktur teks maupun yang dihasilkan dari resonansi emosional, berperan sentral dalam mengkonstitusi makna itu sendiri (Ette, 2. Kurikulum sebagai Pengejawantahan Resepsi Keseluruhan praktik resepsi eksegesis, estetis, dan fungsional tersebut diartikulasikan secara sistematis dalam kurikulum besar pesantren, yang secara eksplisit dirancang untuk mewujudkan visi pesantren dalam mencetak santri yang ahli Al-QurAoan secara bacaan . , pemahaman . aAona. , dan pengamalan (Aoamala. 376 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 Kurikulum ini menjadi bentuk institusionalisasi dari resepsi Al-QurAoan, di mana pengalaman spiritual, intelektual, dan sosial terhadap teks suci dijalankan secara terstruktur dan terarah. Hal ini menjadikan pesantren tidak hanya sebagai tempat menghafal Al-QurAoan, tetapi sebagai ruang hidup . iving spac. bagi pengejawantahan Al-QurAoan dalam seluruh dimensi kehidupan. PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan Juranguluh Kediri merupakan representasi konkret dari institusi keagamaan yang menghidupkan Al-QurAoan secara menyeluruh melalui tiga bentuk utama resepsi: eksegesis, estetis, dan fungsional. Ketiga bentuk resepsi ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi dalam membentuk sistem pendidikan, spiritualitas, dan kebudayaan pesantren yang berpusat pada Al-QurAoan. Resepsi eksegesis tampak dalam pengajaran tafsir tematik dan kaidah tafsir yang ditanamkan kepada santri, yang menunjukkan bahwa hafalan AlQurAoan tidak dipisahkan dari upaya pemahaman makna. Dengan pendekatan ini, pesantren tidak hanya menghasilkan penghafal, tetapi juga penafsir AlQurAoan yang kontekstual dan reflektif. Resepsi estetis hadir dalam bentuk penghargaan terhadap keindahan Al-QurAoan, baik melalui seni tilawah dengan langgam tertentu maupun ekspresi visual dalam bentuk kaligrafi. Pengalaman estetis ini memperkuat kecintaan terhadap Al-QurAoan sebagai teks suci yang agung dan indah. Adapun resepsi fungsional merupakan dimensi paling menonjol dalam kehidupan pesantren ini. Serangkaian amalan seperti khataman dua kali seminggu, riyAsah arbaAon, pembacaan surat-surat tertentu setiap hari, hingga ritual DalAAoil al-QurAoan tahunan menunjukkan bahwa Al-QurAoan telah meresap dalam dimensi praksis kehidupan santri. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritus spiritual, tetapi juga sebagai sumber kekuatan sosial dan keyakinan kolektif pesantren, termasuk dalam aspek kemandirian ekonomi dan pembangunan lembaga. Fakta bahwa seluruh amalan tersebut terintegrasi dalam kurikulum resmi menunjukkan bahwa resepsi Al-QurAoan telah dilembagakan dalam sistem pendidikan dan visi kelembagaan pesantren. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa Al-QurAoan dihidupi oleh pesantren tidak sekadar sebagai teks normatif, melainkan sebagai sumber makna yang hidup . iving tex. yang membentuk kesadaran, tindakan, dan struktur sosial keagamaan santri. Temuan ini tidak hanya memperkaya khazanah studi ilmu Al-QurAoan di Indonesia, tetapi juga menjadi kontribusi Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 377 penting dalam diskursus tentang hubungan antara teks suci dan praksis keagamaan berbasis komunitas. 378 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 DAFTAR PUSTAKA