KRITIK TERHADAP KETIDAKADILAN GENDER DALAM ADAT BATAK PADA NOVEL AZAB DAN SENGSARA: PENDEKATAN FEMINISME Dista Dwi Maharani Universitas Muhammadiyah Jember. Jember. Indonesia e-mail: distamaharani02@gmail. Trilia Warta Ningsih Universitas Muhammadiyah Jember. Jember. Indonesia e-mail: wartaningsiht@gmail. Mohamad Afrizal Universitas Muhammadiyah Jember. Jember. Indonesia e-mail: afrizal@unmuhjember. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis ketidakadilan gender dalam adat Batak melalui novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Novel ini menyoroti perjuangan Mariamin, seorang perempuan Batak yang terbelenggu oleh norma adat yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Dengan menggunakan pendekatan feminisme, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami perempuan dalam masyarakat Batak, khususnya dalam sistem pewarisan, pernikahan, dan pengambilan keputusan yang didominasi oleh laki-laki. Data diperoleh melalui studi pustaka dan dianalisis menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini secara kritis mengungkap struktur sosial adat Batak yang membatasi kebebasan perempuan. Tiga isu utama yang disoroti adalah ketidakadilan dalam hak waris yang mengesampingkan perempuan, keterbatasan peran perempuan dalam pernikahan yang ditentukan oleh pihak laki-laki, serta dominasi laki-laki dalam proses pengambilan keputusan. Melalui tokoh Mariamin. Merari Siregar menggambarkan ketegangan antara ketaatan terhadap adat dan keinginan individu untuk memperoleh kebahagiaan serta kebebasan. Novel ini tidak hanya merefleksikan realitas sosial perempuan Batak pada masanya tetapi juga berperan sebagai kritik terhadap sistem patriarki yang masih bertahan. Dengan demikian. Azab dan Sengsara menjadi bukti bagaimana sastra dapat berfungsi sebagai medium advokasi dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan menggugah kesadaran terhadap ketidakadilan yang masih terjadi dalam masyarakat. Kata kunci: adat Batak. Azab dan Sengsara, ketidakadilan gender, norma adat PENDAHULUAN Dalam Batak, perempuan secara tradisional berada di bawah dominasi sistem patriarki yang Sistem ini menempatkan laki-laki Page | 45 sebagai pewaris utama marga dan pemegang kendali dalam pengambilan keputusan, sementara perempuan pendukung peran domestik. Menurut Baiduri . , adat Batak mengatur bahwa hanya laki-laki yang berhak meneruskan garis keturunan, sedangkan perempuan diharapkan menjalankan tugas rumah tangga dan menjaga Hal menciptakan hierarki gender yang membatasi peran perempuan dalam ruang publik maupun struktur sosial Selain itu, sistem warisan adat Batak juga mencerminkan ketimpangan gender, di mana perempuan tidak memiliki hak langsung atas harta Harahap menjelaskan bahwa harta warisan hanya diberikan kepada anak laki-laki, berpindah tanggung jawab kepada keluarga suaminya setelah menikah. Struktur sosial ini semakin mempertegas posisi subordinat perempuan dalam adat Batak, termasuk dalam proses pengambilan keputusan adat yang didominasi oleh laki-laki (Lelono, 2. Kajian mengenai posisi perempuan dalam adat Batak memiliki relevansi luas dalam diskusi ketidakadilan gender di Indonesia. Sastra, sebagai cerminan budaya, menjadi medium yang efektif dalam mengangkat isu ini, sebagaimana terlihat dalam novel Azab dan Sengsara. Menurut Umniyyah dkk. , novel ini menggambarkan konflik antara tradisi adat yang rigid dan perjuangan Dengan demikian, analisis terhadap posisi perempuan dalam adat Batak melalui karya sastra dapat memperkaya pemahaman tentang ketimpangan gender serta mendorong diskusi yang lebih mendalam mengenai peran adat dalam membentuk struktur sosial yang adil bagi perempuan. Azab dan Sengsara mengisahkan perjalanan hidup Mariamin, seorang perempuan Batak yang menjadi korban ketidakadilan akibat dominasi adat Ia dipaksa berpisah dari cinta sejatinya. Amiruddin, karena aturan adat mengharuskan laki-laki Batak menikahi perempuan dari suku yang sama demi menjaga kelangsungan marga (Sari dkk. Konflik utama dalam novel ini menyoroti benturan antara norma adat yang membatasi kebebasan individu dan hak perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Melalui karakter Mariamin. Merari Siregar dengan tajam mengekang hak perempuan serta memperlihatkan dampak emosional dan psikologis dari ketidakadilan gender. Dengan demikian, novel ini tidak hanya merepresentasikan realitas sosial pada masanya, tetapi juga menjadi refleksi penting dalam wacana kesetaraan gender di era modern. Menurut Mabruri & Sayuti . , dengan gaya bahasa yang lugas dan tema yang tetap relevan hingga kini. Azab dan Sengsara bukan sekadar potret kehidupan masyarakat Batak pada awal abad ke-20, tetapi juga menjadi salah satu kritik awal dalam sastra Indonesia terhadap isu-isu sosial dan gender. Novel reformasi dalam memandang posisi perempuan dalam adat, mengajak hubungan kompleks antara tradisi dan Lewat kisah Mariamin. Siregar menyoroti bagaimana sistem patriarki tidak hanya membatasi Page | 46 perempuan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga mempersempit akses mereka terhadap hak-hak sosial dan ekonomi. Dalam Azab dan Sengsara, karakter kompleks, mencerminkan kekuatan, keterbatasan, dan tantangan yang mereka hadapi dalam masyarakat Batak yang patriarkal. Mariamin tampil sebagai sosok yang tegar dan setia, tetapi dibelenggu oleh sistem adat yang menempatkan perempuan pada posisi Keteguhannya tercermin mencerminkan realitas perempuan yang memiliki sedikit pilihan dalam struktur sosial yang tidak adil. Konflik utama novel ini berpusat pada dilema antara mengejar kebahagiaan pribadi bersama Amiruddin atau tunduk pada adat yang mengutamakan kepentingan laki-laki dan kelangsungan marga. Melalui perjuangan Mariamin, novel ini mengungkap bagaimana norma adat yang membatasi kebebasan perempuan menjadikan mereka korban dari sistem sosial yang tidak berpihak pada kesetaraan gender. Sejalan dengan itu. Halimah . menyatakan bahwa perempuan dalam sastra Indonesia sering menjadi medium untuk mengkritik ketidakadilan gender yang dilegitimasi oleh adat. Hanisda . juga menyoroti bahwa adat Batak cenderung mempertahankan norma patriarki yang memberikan peran dominan kepada laki-laki, termasuk dalam pengambilan keputusan terkait pernikahan dan warisan. Akibatnya, perempuan kerap tersisihkan dari proses Konflik budaya yang diangkat menggambarkan penderitaan individu Mariamin, tetapi juga berfungsi sebagai kritik sosial terhadap struktur adat yang tidak setara. Dengan demikian, novel ini mempertanyakan kembali keadilan dalam norma-norma tradisional yang masih dipertahankan hingga kini. Kajian mengungkap kritik terhadap posisi Batak sebagaimana dipaparkan dalam novel, dengan harapan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam tentang relasi gender dalam konteks budaya Penelitian ini juga menyoroti peran sastra sebagai refleksi sosial yang mampu mengangkat isu ketidakadilan berbasis gender. Dengan menganalisis Azab dan Sengsara melalui pendekatan feminisme, penelitian ini diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya reformasi sosial dalam menjaga keseimbangan peran gender dalam masyarakat adat. TINJAUAN PUSTAKA Kajian tentang posisi perempuan dalam masyarakat adat Batak sering kali menyoroti dominasi patriarki dalam struktur sosial dan budaya komunitas Sistem kekerabatan Batak yang berbasis patrilineal menempatkan lakilaki sebagai pewaris utama marga dan harta, sedangkan perempuan dianggap milik keluarga lain setelah menikah (Isria. Akibatnya, peran perempuan dibatasi pada ranah domestik dan reproduksi sosial, yang berdampak pada terbatasnya akses mereka terhadap pendidikan, hak waris, dan kebebasan individu (Huriani, 2. Dalam konteks ini, sastra menjadi medium penting Page | 47 perempuan Batak sekaligus mengkritik tradisi tersebut. Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, misalnya, secara eksplisit menggambarkan konflik antara nilai-nilai adat dan aspirasi individu perempuan (Wicaksono, 2. Kajian kritis terhadap novel ini juga mencerminkan peran sastra sebagai memperjuangkan perubahan dalam masyarakat (Febryanti dkk. , 2. Sejumlah studi menunjukkan bahwa sastra Indonesia, terutama pada awal modernisasi, berperan sebagai alat perjuangan kesetaraan gender dan keadilan sosial. Azab dan Sengsara dapat dianalisis dalam konteks ini sebagai bagian dari tradisi sastra kritik sosial yang menyoroti subordinasi perempuan (Wahyuni, 2. Perspektif feminis menjadi relevan dalam memahami narasi yang menentang dominasi patriarki, termasuk dalam novel ini. Penelitian oleh Nafia & Dewi . mengungkapkan bahwa penggambaran perempuan dalam sastra Indonesia perlawanan terhadap adat dan budaya Dengan menelaah novel Azab dan Sengsara, analisis ini dapat memperkaya diskusi tentang bagaimana ketidakadilan struktural, tetapi juga menjadi alat untuk mendorong perubahan sosial. Pendekatan landasan utama dalam memahami representasi perempuan dalam Azab dan Sengsara. Pendekatan ini menelaah bagaimana perempuan digambarkan dalam konteks budaya patriarki serta ketidakadilan gender yang dilegitimasi oleh adat Batak. Dalam novel ini, analisis mendalam terhadap pengalaman tokoh utama perempuan yang terperangkap dalam norma sosial yang mengekang kebebasan mereka. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa sastra Indonesia pada era kolonial tidak hanya merefleksikan dinamika gender dalam masyarakat, tetapi juga memberikan ketidaksetaraan gender (Harris dkk. Struktur sosial adat Batak yang patriarkal menciptakan konflik antara nilai adat dan aspirasi individu. Menurut Lyvi-Strauss strukturalisme mengkaji hubungan antar elemen budaya untuk memahami makna yang lebih luas. Hubungan antar tokoh dalam novel ini memperlihatkan Batak membentuk dinamika keluarga dan menempatkan perempuan pada posisi Pendekatan ini membantu mengidentifikasi bagaimana struktur adat berkontribusi terhadap penindasan perempuan, sekaligus membuka ruang interpretasi baru terhadap hubungan antar elemen dalam cerita (Ratna, 2. Modernisasi menjadi tantangan bagi adat Batak yang patriarkal. Teori modernisasi, kolonialisme, dan interaksi nilai-nilai tradisional (Ashcroft dkk. , 2. Dalam Azab dan Sengsara, konflik antara adat Batak dan modernitas menjadi tema Modernisasi membuka peluang bagi perempuan untuk menuntut kesetaraan, tetapi juga menciptakan dilema budaya. Teori ini membantu menganalisis bagaimana tradisi patriarki dihadapkan pada perubahan zaman Page | 48 serta bagaimana tokoh perempuan dalam novel menjadi simbol perjuangan mengekang kebebasan mereka. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis Pendekatan ini memungkinkan eksplorasi dan interpretasi makna yang terkandung dalam Azab dan Sengsara cetakan ke-30 tahun 2011 karya Merari Siregar, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, sebagai sumber data primer. Analisis representasi perempuan serta pengaruh adat Batak terhadap kehidupan tokoh perempuan dalam novel. Sumber data sekunder mencakup buku, jurnal, dan penelitian relevan yang memberikan kerangka teori serta konteks budaya untuk memperkuat analisis. Tahapan mendalam untuk mengidentifikasi data, pengodean guna menemukan tema utama, serta interpretasi kritis terhadap temuan tersebut (Miles dkk. , 2. Pendekatan ini sejalan dengan tradisi penelitian kualitatif yang menekankan makna sosial dan budaya dalam narasi sastra (Creswell & Poth. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Representasi Perempuan dalam Novel Azab dan Sengsara Dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, tokoh perempuan ketidakberdayaan yang terperangkap dalam struktur sosial adat Batak yang Tokoh utama, seperti Mariamin dan Amiruddin, mengalami diskriminasi dan subordinasi, yang semakin diperburuk oleh norma adat yang menempatkan perempuan pada Meskipun keduanya menunjukkan keberanian dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup, mereka tetap terperangkap oleh ketentuan adat yang membatasi kebebasan dan ruang gerak mereka. Melalui karakter-karakter ini. Siregar bagaimana perempuan menjadi korban sistem adat patriarkal yang melihat mereka sebagai objek yang tunduk pada kekuasaan laki-laki. Sebagai contoh konkret. Mariamin digambarkan harus mengorbankan kepentingan keluarga dan adat. Mariamin merasa terhimpit oleh tradisi yang mengharuskan dirinya. untuk mengikuti perintah orangtuanya, meskipun hatinya menolak (Siregar, 2011, hal Kutipan ini mencerminkan bagaimana Mariamin dipaksa untuk tunduk pada merefleksikan dominasi patriarkal dalam adat Batak. Selain itu, dalam kisah Mariamin, ia dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai demi mempertahankan martabat keluarga. Kehendak hati tidak lagi dihitung, yang ada hanya kehendak adat yang mengikat mereka dalam ikatan yang tidak bisa dihindar (Siregar, 2011, hal Ini menunjukkan bahwa meskipun kebebasan, mereka tetap terjepit oleh Page | 49 tuntutan adat yang tidak memberi ruang bagi kebebasan individu. Perempuan dalam novel ini juga digambarkan mengalami subordinasi melalui budaya dan struktur sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan. Kontradiksi antara kehendak pribadi dan tuntutan adat menghasilkan penderitaan emosional yang mendalam bagi tokoh perempuan. Seperti pernyataan Mariamin. Mariamin tahu bahwa dia adalah perhiasan yang hanya bisa dipamerkan, bukan dipilih hatinya (Siregar, 2011, hal . Dalam hal ini. Mariamin hanya dianggap sebagai objek, bukan sebagai subjek yang memiliki kendali atas hidupnya, yang mencerminkan dominasi adat terhadap kehidupan perempuan. Konflik antara Adat dan Individualitas Konflik individualitas sangat terasa melalui perjalanan hidup tokoh perempuan seperti Mariamin dan Aminudin. Adat Batak, yang menuntut perempuan untuk tunduk pada peraturan keluarga dan masyarakat, sering kali bertentangan dengan keinginan pribadi mereka. Sebagai contoh. Mariamin yang ingin memilih pasangan hidupnya sendiri, keluarganya yang memaksanya menikah dengan pria pilihan orangtuanya. Aku ingin hidup sesuai dengan pilihanku, bukan hidup seperti yang diinginkan orang lain (Siregar, 2011. Kalimat ini menggambarkan konflik mendalam antara keinginan Mariamin sebagai individu dan kewajibannya terhadap adat yang mengharuskan perempuan mematuhi kehendak orang tua dan adat istiadat. Adat Batak juga memiliki pengaruh kuat dalam membentuk keputusan hidup tokoh perempuan, terutama dalam hal pilihan hidup dan peran mereka dalam keluarga. Nia, yang juga merasakan penderitaan akibat tekanan adat, merasa kehilangan kebebasan dalam membuat keputusan. Meskipun hatiku menolak, aku harus menikah dengan dia karena tidak ada yang bisa menentang adat Batak yang begitu kuat (Siregar, 2011, hal Kutipan perempuan dalam budaya Batak. Tekanan budaya ini mengesampingkan kehendak pribadi perempuan, memaksa mereka mengikuti jalur yang sudah ditentukan oleh tradisi. Meskipun tertekan oleh adat, kedua tokoh perempuan ini menunjukkan bentuk resistensi terhadap nilai-nilai yang membatasi kebebasan mereka. Mariamin, meskipun harus mengikuti pernikahan yang ditentukan adat, berusaha melawan dalam bentuk lain dengan mencari kebebasan emosional di luar ikatan sosial yang ada. Aku merasa tidak hidup di dunia ini, aku hanya menjalani hidup yang ditentukan oleh adat, namun di dalam hati aku berontak (Siregar, 2011, hal Resistensi ini menggambarkan ketidakpuasan dan perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi adat yang mengekang. Walaupun tidak selalu Page | 50 bisa menanggulangi adat secara langsung, perlawanan simbolik mereka mempertahankan individualitas dan kebebasan dalam batas-batas yang ada. Kritik Sosial dalam Novel Kritik sosial terhadap adat Batak yang menindas perempuan terlihat jelas melalui karakter-karakter wanita seperti Mariamin dan Nuria. Adat Batak, yang memiliki sistem patriarki yang kuat, sering kali menempatkan perempuan dalam posisi subordinat, membatasi kebebasan mereka untuk menentukan nasib sendiri. Sebagai contoh. Mariamin Aku merasa seperti benda milik orangtuaku, bukan seperti manusia yang punya hak untuk menentukan pilihan" (Siregar, 2011, hal . Kalimat ini menggambarkan bagaimana perempuan dalam adat Batak diperlakukan sebagai objek, dengan hak-haknya ditentukan oleh keputusan keluarga dan adat, tanpa mempertimbangkan keinginan pribadi Kritik ini menunjukkan ketidakadilan yang dialami perempuan yang terperangkap dalam peraturan adat yang mengekang kebebasan individu mereka. Ketidakberdayaan perempuan di bawah adat Batak juga tercermin dalam bagaimana mereka harus tunduk pada keputusan keluarga, bahkan jika itu merugikan mereka. Dalam salah satu bagian novel. Mariamin merasa terjebak dalam pernikahan yang tidak dia Aku tidak tahu apakah ini kesalahan yang harus aku tanggung, tetapi aku harus (Siregar, 2011, hal . Kalimat bagaimana adat Batak, meskipun dianggap sakral, meminggirkan hak-hak dasar perempuan untuk memilih hidup mereka sendiri. Kritik terhadap adat Batak ini menyoroti pentingnya kesetaraan gender dalam konteks budaya dan menunjukkan kebutuhan akan perubahan dalam cara pandang terhadap perempuan dalam adat. Relevansi dengan Realitas Modern Dalam Azab dan Sengsara, isu ketidakberdayaan perempuan yang dipengaruhi oleh adat Batak tetap relevan dengan tantangan yang dihadapi perempuan masa kini. Melalui tokoh Mariamin, novel ini menggambarkan perjuangan seorang perempuan yang terkungkung oleh pembatasan hak-hak perempuan dalam adat, seperti yang ia Aku ingin menjadi diri sendiri, bukan sekadar memenuhi harapan yang ada di atas pundakku (Siregar, 2011, hal Kalimat ini mencerminkan keresahan perempuan yang terkekang oleh norma adat konservatif, yang masih menjadi tantangan bagi perempuan di banyak Meskipun zaman telah berubah, perempuan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di wilayah Batak, masih berjuang untuk menentukan pilihan hidup mereka tanpa dibatasi oleh norma adat yang ketat. Relevansi antara isu dalam Azab dan Sengsara dan tantangan yang dihadapi perempuan masa kini juga terlihat pada penggambaran tokoh-tokoh perempuan yang berusaha menentang sistem Page | 51 patriarki. Dalam novel. Mariamin, meskipun dihadapkan pada pilihan yang sulit, menyatakan. Saya ingin hidup bebas, jauh dari belenggu tradisi yang selalu (Siregar, 2011, hal . Kalimat ini menggambarkan dilema perempuan yang terus berjuang melawan dominasi sistem patriarki dalam budaya tradisional. Isu ini sangat relevan dengan tantangan perempuan masa kini dalam berbagai konteks sosial, baik dalam dunia kerja, keluarga, maupun dalam pengambilan keputusan hidup yang sering kali terhambat oleh ekspektasi sosial dan tradisi yang 2 Pembahasan Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana adat Batak memposisikan perempuan dalam posisi Sistem patriarki ini tidak hanya membentuk struktur sosial, tetapi juga mengukir identitas individu, terutama perempuan, yang sering dikontrol oleh norma-norma adat yang ketat (Butler, 2015. Kartika, 2. Dalam konteks adat Batak, perempuan dipandang sebagai objek yang harus tunduk pada keputusan keluarga dan masyarakat, terutama dalam hal Mereka keinginan pribadi demi menjaga kehormatan keluarga. Novel ini menggambarkan betapa adat yang seharusnya menjadi pedoman hidup justru menjadi alat penindasan yang membatasi ruang gerak perempuan, menjadikan mereka sebagai korban dari sistem yang tidak adil. Dalam novel ini, konflik antara adat perubahan karakter tokoh perempuan yang semakin berkembang. Perlawanan mereka terhadap adat bukan hanya sekadar protes, tetapi juga memberi ruang bagi pencarian jati diri. Resistensi ini dapat mengubah identitas diri seseorang, terutama bagi perempuan yang selama ini dianggap tidak memiliki otonomi (Beauvoir & Rowbotham, 2011. Foucault. Tokoh-tokoh perempuan dalam Azab dan Sengsara tidak hanya pasif menerima nasib, tetapi juga menunjukkan upaya untuk melawan ketidakadilan yang mereka Melalui perlawanan ini, mereka berusaha menemukan suara dan identitas mereka sendiri, meskipun harus menghadapi risiko dikucilkan atau dianggap melanggar norma. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun adat individualitas dan kesadaran akan hakhak diri dapat menjadi kekuatan untuk melawan penindasan. Kritik terhadap adat Batak dalam novel ini juga dapat dibandingkan dengan kondisi perempuan dalam mempertahankan nilai-nilai patriarki. Misalnya, dalam budaya Timur Tengah, perempuan sering dipaksa mengikuti aturan sosial yang ketat, seperti kewajiban memakai hijab atau larangan untuk bekerja di luar rumah tanpa izin suami (Maktabi & Lia, 2. Persamaan ini menunjukkan bahwa ketidakadilan gender adalah isu global yang memerlukan perhatian dan kritik. Meskipun sejarahnya berbeda, akar masalahnya Page | 52 tetap sama: dominasi laki-laki atas perempuan yang diinstitusionalisasi melalui adat, agama, atau hukum. Dengan membandingkan situasi ini. Azab dan Sengsara tidak hanya mengkritik adat Batak, tetapi juga menyoroti universalitas perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Novel Azab dan Sengsara tetap relevan dalam masyarakat modern karena mengkritik struktur sosial yang membatasi kebebasan perempuan. Fenomena kekerasan dalam rumah tangga, ketidaksetaraan gender, dan tekanan adat masih sering ditemukan dalam banyak masyarakat, termasuk di Indonesia. Mereka yang terbelenggu oleh tradisi patriarki sering menemukan diri dalam posisi sulit untuk memperoleh kebebasan dan kesetaraan (Simon & Hasan, 2. Novel ini mengingatkan kita bahwa meskipun zaman telah berubah, akar masalah ketidakadilan gender masih belum sepenuhnya Bahkan di era modern, perempuan masih harus berjuang melawan norma-norma yang membatasi hak mereka untuk menentukan hidup SIMPULAN Azab dan Sengsara menyajikan kritik tajam terhadap posisi perempuan dalam adat Batak, yang sering kali menempatkan mereka dalam posisi subordinat dan terpinggirkan. Temuan utama dari analisis ini menunjukkan bahwa adat Batak yang patriarkal membatasi kebebasan perempuan untuk menentukan jalannya hidup dan mengembangkan potensi diri. Novel ini menggambarkan konflik antara peran perempuan dan hak-hak individu mereka, serta menekankan pentingnya perubahan budaya untuk mencapai kesetaraan gender. Implikasi dari temuan ini sangat relevan bagi pembaca, peneliti, dan masyarakat, dengan memberikan wawasan lebih dalam tentang tantangan yang dihadapi tradisional yang masih berpegang pada Bagi peneliti, novel ini dapat menjadi sumber kajian yang menggugah untuk memahami dinamika gender dalam sastra dan budaya, sementara bagi pembaca dan masyarakat luas, hal ini dapat meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu gender dan budaya yang masih relevan. Sastra, sebagai medium refleksi sosial, berperan penting dalam membuka pemahaman dan kesadaran akan ketidakadilan yang dialami perempuan, serta mendorong perubahan positif menuju kesetaraan dan kebebasan perempuan di masa Penelitian memperluas kajian tentang kritik gender dalam Azab dan Sengsara dengan perempuan dalam budaya adat Batak dengan budaya adat lain di Indonesia yang juga memiliki sistem patriarki yang Selain itu, penelitian lebih lanjut bisa mengeksplorasi peran sastra dalam membentuk opini publik mengenai kesetaraan gender, dengan fokus pada bagaimana karya sastra lain dari penulis Indonesia Pendekatan menggabungkan teori feminisme, studi budaya, dan sosiologi bisa memberikan perspektif yang lebih kaya dalam memahami dinamika gender di masyarakat Indonesia. Page | 53 DAFTAR PUSTAKA Ashcroft. Griffiths. , & Tiffin. Post-colonial studies: The key concepts . Routledge. Bahri. Feminism and Postcolonialism in a Global and Local Frame. In C. Verschuur (Ed. Vents dAoEst, vents dAoOuest: Mouvements de femmes et fyminismes anticoloniaux . 193Ae. Graduate Institute Publications. https://doi. org/10. 4000/books. Baiduri. Laki Laki Feminis Dalam Rumah Tangga dan Keluarga Perempuan Pedagang Batak Toba (Inang-Inan. di Kota Medan. https://digilib. id/id/epr int/52921/ Beauvoir. de, & Rowbotham. The second sex (C. CapistoBorde & S. Malovany-Chevallier. Trans. Vintage Books. Butler. Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity (First issued in hardbac. Routledge. Taylor & Francis Group. Creswell. , & Poth. Qualitative inquiry & research design: Choosing among five approaches (Fourth editio. SAGE. Febryanti. Botifar. , & Misriani. Analisis Gender dalam Novel Hati Suhita karya Khilma Anis [Undergraduate. Institut Agama Islam Negeri Curu. https://etheses. id/7631/ Foucault. Discipline and punish: The birth of the prison . nd Vintage Books e. Vintage Books. Halimah. Dunia yang Timpang: Pandangan Dunia Pengarang dalam Novel Anwar Tohari Mencari Mati Karya Mahfud Ikhwan dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Sastra di SMA . achelorThesis. Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakart. https://repository. id/dsp ace/handle/123456789/82535 Hanisda. Persepsi Komunikasi Keluarga dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap [Thesis. Universitas Islam Indonesi. https://dspace. id/handle/12 3456789/51705 Harahap. Hajar. , & Sibarani. Etnografi Masyarakat dan Hukum Adat Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara. JUPIIS: JURNAL PENDIDIKAN ILMUILMU SOSIAL, 11. Article 2. https://doi. org/10. 24114/jupiis. Harris. Gono. , & Naryoso, . Analisis Ketidaksetaraan Gender Pada Perempuan Dalam Series Kretek . Interaksi Online, 12. Article 4. Huriani. Pengetahuan Fundamental tentang Perempuan. Kartika. Konstelasi Politik Antara Feminisme. Negara. Islam dan Adat (Studi Kasus Banda Aceh dan Padan. [Disertas. UIN Syarif Hidayatullah. Lelono. Menjadi Indonesia. Sanata Dharma University Press. Page | 54 Lyvi-Strauss. Structural Basic Books. Mabruri. , & Sayuti. Potret Sosial Dalam Sepuluh Sajak Remy Sylado Dan Relevansinya Dengan Pembelejaran Sastra Di SMA. LingTera, 2. Article 1. https://doi. org/10. 21831/lt. Maktabi. , & Lia. Middle Eastern Patriarchy in Transition. Die Welt Des Islams, 57. Ae. , 265Ae Simon. , & Hasan. Patriarchy Gender Inequality: Comprehensive Analysis WomenAos Empowerment Contemporary India. Gender Issues, 42. , https://doi. org/10. 1007/s12147025-09351-1 Siregar. Azab dan Sengsara (Cetakan . Balai Pustaka. Miles. Huberman. , & Saldaya. Qualitative data analysis: A methods sourcebook (Fourth editio. SAGE. Umniyyah. Wardhani. , & Rahayu. Representasi Keperempuanan Sistem Patriarki dalam Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 4. Nafia. , & Dewi. Kritik Sastra Feminis pada Citra Perempuan Kontrafeminis dalam Novelisasi Film Yuni. BELAJAR BAHASA: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7. , 183Ae196. https://doi. org/10. 32528/bb. Wahyuni. Novel Menebus Impian Karya Abidah El Khalieqy Kajian Feminisme dan Nilai Pendidikan [Thesis. UNS (Sebelas Maret Universit. https://digilib. id/dokumen /20063/Novel-Menebus-ImpianKarya-Abidah-El-Khalieqy-KajianFeminisme-dan-Nilai-Pendidikan Ratna. Teori, metode, dan teknik penelitian sastra. Pustaka