Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 4, April 2024 ISSN: 27342488 MENGETAHUI KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MENGGUNAKAN BAHASA BAKU DAN TIDAK BAKU DI SMP NEGERI 35 MEDAN Atika Fahruna Hasibuan1, Marlina2, Nurika Apriliani3, Pelita Sihotang4, Fitriani Lubis, S.Pd., M.Pd.5 Email: atikafahruna204@gmail.com1, ml9652988@gmail.com2, nurikaapriliani7@gmail.com3, pelitasihotang9@gmail.com4, fitrifbs@unimed.ac.id5 Program Studi Pendidikan IPA, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan ABSTRAK Tujuan Penelitian ini mengkaji tingkat pemahaman siswa SMP Negeri 35 terhadap penggunaan kata baku dan tidak baku dalam Bahasa Indonesia melalui pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data melalui survei soal pilihan berganda. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih belum mampu membedakan dan memahami kata baku dan tidak baku dengan baik, yang tercermin dari rata-rata nilai 36,56 dari 20 soal. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya pemahaman termasuk kurangnya paparan terhadap materi bacaan berkualitas, pengaruh media dan komunikasi informal, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya penggunaan kata baku. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian menyarankan dilakukan pendekatan holistik yang mencakup pelatihan tata bahasa, latihan berkelanjutan, edukasi tentang media dan komunikasi informal, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya penggunaan kata baku. Kata Kunci: Bahasa Indonesia, Kata Baku, Kata Tidak Baku, Pendekatan Kualitatif. ABSTRACT The goal of this research is to investigate the students' understanding of the use of standard and nonstandard words in Bahasa Indonesia through a qualitative approach. This research was conducted by collecting data through a multiple-choice questionnaire. The results show that most students are still unable to distinguish and understand standard and non-standard words well, as reflected by an average score of 36.56 out of 20 questions. Factors affecting the low level of understanding include limited exposure to high-quality reading materials, the influence of media and informal communication, and a lack of awareness of the importance of using standard words. To address this issue, the research suggests implementing a holistic approach that includes grammar training, continuous practice, education on media and informal communication, and increasing awareness of the importance of using standard words. Keywords: Indonesian, Standard Words, Non-standard Words, Qualitative Approach. 24 PENDAHULUAN Bahasa merupakan identitas suatu bangsa yang digunakan dalam berkomunikasi. Masyarakat membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia sebagai alat komunikasi karena bahasa memungkinkan manusia saling berkomunikasi dan membicarakan segala hal. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan hampir di seluruh wilayah Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai bahasa tunggal, harus mempunyai struktur yang jelas, menggunakan kata-kata yang baku, baik, benar, dan mudah dipahami (Devianty, 2021). Bahasa Indonesia diindikasikan sebagai bahasa negara berdasarkan Pasal 36 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “bahasa negara adalah bahasa Indonesia”. Oleh karena itu, banyak universitas dan sekolah di Indonesia yang memasukkan bahasa Indonesia ke dalam kurikulumnya. Materi yang diajarkan di kelas bahasa Indonesia menjadi semakin populer dan menarik karena banyak juga pelajar asing yang belajar bahasa Indonesia. Selain itu materi tentang Indonesia dianggap sebagai pelajaran yang sederhana atau biasa saja, menurut Setiawati (2008), bahasa Indonesia adalah bahasa nasional Indonesia, telah menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menjalin hubungan antar suku (Pattiwael dkk, 2019). Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. Berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat diartikan menggunakan bahasa yang berbeda-beda yang memenuhi tujuan dan juga mengikuti kaidah bahasa yang benar (Alwi dkk, 2010). Namun penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini sungguh memprihatinkan. Perkembangan teknologi yang semakin berkembang membuat generasi muda saat ini kurang peduli terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Generasi muda masa kini lebih cenderung menggunakan bahasa atau ungkapan yang kini umum digunakan di seluruh dunia. Pengaruh media sosial dapat memenuhi sebagian tugas mendefinisikan Indonesia secara akurat, sehingga semakin mempertebal posisi Indonesia. Kita sering mendengar orang berargumentasi bahwa yang terpenting dalam berbahasa adalah penuturnya memahami informasi yang kita sampaikan, dan tidak perlu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan cara yang sudah ditentukan. Kepura-puraan ini telah menjadi aksioma di masyarakat dan akibatnya bahasa Indonesia terabaikan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan dan bahasa nasional mempunyai peranan yang sangat penting dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia. Perannya sebagai bahasa persatuan didasari oleh janji ketiga Rekonsiliasi Pemuda tahun 1928 yang berbunyi “Kami Putra dan Putri Indonesia akan menjaga bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Perannya sebagai bahasa negara bermula dari UUD 1945 yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa negara. Selain itu, ada faktor lain yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa unggulan di antara ratusan bahasa Indonesia yang masing-masing bahasa tersebut sangat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu. Penting atau tidaknya suatu bahasa juga dapat dilihat dari jumlah penuturnya, cakupan wilayahnya, dan peranannya sebagai sarana pengungkapan ilmu pengetahuan, seni sastra, dan budaya (Devianty, 2021). Kata baku adalah kata yang cara pengucapan atau penulisannya sesuai dengan kaidahkaidah yang dibakukan dan kata tidak baku adalah kata yang sering digunakan saat bercakapan sehari-hari atau tidak sesuai dengan pedoman ejaan yang benar (EYD) (Ruhamah dkk, 2018). KBBI edisi keempat mengatakan bahwa makna bakunya adalah utama, pokok; tolok ukur yang berlaku bukan kuantitas dan kualitas ditentukan oleh kontrak; standar. Namun menurut Kosashih dan Hermawan (2012:83), kata baku adalah kata-kata yang pengucapan atau tulisannya sesuai dengan kaidah baku. Aturan baku tersebut dapat berupa pedoman ejaan (EYD), tata bahasa standar, dan kamus. 25 Kata-kata standar digunakan dalam banyak konteks standar, baik dalam ucapan maupun tulisan. Sedangkan kata tidak baku digunakan dalam varian tidak baku. Cakupan suatu bahasa baku dapat dibatasi oleh beberapa aspek, antara lain: (1) cara pandang baku bahasa yang digunakan, (2) cara pandang informasi, dan (3) cara pandang pengguna bahasa. Dari sudut pandang pembakuan bahasa, bahasa pokok adalah bahasa yang tulisan, kosa kata, dan tata bahasanya sesuai dengan hasil pembakuan bahasa. Dari sudut pandang informasi, bahasa standar adalah bahasa berbeda yang digunakan untuk berkomunikasi tentang sains. Kemudian, dari sudut pandang pengguna bahasa, cakupan bahasa inti dapat dibatasi pada bahasa-bahasa yang biasa digunakan oleh penutur yang paling berpengaruh, seperti peneliti, pemerintah, pelaku masyarakat, dan reporter atau editor. Bahasa mereka dianggap sebagai salah satu bahasa baku (Mulyono dalam Chaer, 2011:5). Bahasa nonbaku adalah ragam bahasa yang berkode bahasa Yang berbeda dengan kode bahasa dalam bahasa baku, dan dipergunakan dalam pertemuan tidak resmi dengan kode bahasa yang berbeda dengan kode bahasa ragam bahasa baku. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis tersebut tepat digunakan dalam penelitian bahasa. Hal ini disebabkan oleh jenis tersebut dapat memadankan dengan berbagai hal-hal yang ditemukan (Maleong, 2016). Penelitian kualitatif memiliki tujuan yaitu membantu memahami fenomena bahasa yang ditemukan (Mahsun, 2017). Penelitian dilakukan melalui survey dengan memberikan soal pilihan berganda sebanyak 20 soal mengenai kata baku dan tidak baku kepada siswa siswi kelas 8 dan 9 untuk mengumpulkan data tentang sejauh mana pemahaman mereka mengenai bahasa baku dan nonbaku. Penelitian ini dilaksanakan pada SMP N 35 Medan di Jl. Wiliem Iskandar Pasar V Medan, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan Prov. Sumatera Utara. Sampel meliputi 16 Siswa (4 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan) kelas VIII dan IX SMPN 35 Medan . Menurut Sugiyono (2016:224) Teknik Pengumpulan Data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapatkan data yang sesungguhnya. Teknik analisis yang digunakan yaitu teknik analisis data kualitatif secara deskriptif. Data yang disajikan adalah data yang diperoleh dari hasil skor penilaian terhadap hasil jawaban mereka. i i i i i HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil dari memberikan Tes melalui soal pilihan berganda terkait materi pembelajaran tentang membedakan kata baku dan kata tidak baku. Siswa kelas VIII dan IX SMP Negeri 35 Medan bahwa tingkat kemampuan siswa dalam membedakan dan memahami kata tidak baku dan kata baku berada pada kategori Belum Memehuni Standar dengan Nilai rata-rata yang 26 diperoleh siswa sebanyak 36,56 dengan jumlah soal yang diberikan 20 pilihan berganda dari 16 siswa sebagai subjek sampel dalam penelitisn hanya yang memenuhi kriteria Baik dalam penggunaan dan mengetahui serta memahami penggunaan kata baku hanya 2 siswa berada pada kategori Baik sedangkan 14 siswa lainnya beradah dibawah skor rata rata. Artinya pembelajaran bahasa Indonesia khususnya membedakan kata baku dan kata tidak baku belum mencapai KKM yang di harapkan karena tingkat kemampuan siswa membedakan kata baku dan kata non baku. Pembahasan Beberapa alasan mengapa siswa yang belum memenuhi penggunaan, pengetahuan, dan pemahaman standar kata baku dan nonbaku yang masih rendah karena Siswa yang belum terbiasa membaca materi bacaan berkualitas, siswa mungkin tidak memiliki kecenderungan atau kemampuan yang kuat dalam menggunakan kata-kata baku. Membaca materi bacaan yang beragam dan berkualitas dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kata-kata baku dan meningkatkan kosakata siswa secara keseluruhan. Jika siswa tidak terpapar dengan materi bacaan yang memperluas wawasan mereka, mereka mungkin terbatas dalam mengenali dan menggunakan kata-kata baku dengan benar. Kemudian karena Pengaruh media dan komunikasi informal. Penggunaan kata nonbaku yang tidak standar dalam media sosial, percakapan sehari-hari, atau bahasa gaul dapat mempengaruhi pemahaman siswa tentang kata baku dan nonbaku. Jika siswa terbiasa dengan penggunaan kata-kata nonbaku dalam lingkungan informal, mereka mungkin menganggapnya sebagai bentuk yang benar dan tidak menyadari perbedaan dengan kata-kata baku. Pengaruh yang kuat dari media dan komunikasi informal ini dapat menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya pemahaman siswa tentang standar kata baku dan nonbaku, dan terakhir karena kurangnya kesadaran akan pentingnya penggunaan kata baku, Siswa mungkin tidak sepenuhnya menyadari pentingnya penggunaan kata baku dalam komunikasi formal dan penulisan. Jika mereka tidak memahami manfaat dan konsekuensi dari menggunakan kata-kata baku, mereka mungkin tidak termotivasi untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam hal ini. Kesadaran akan pentingnya penggunaan kata baku dapat membantu siswa mengembangkan komitmen dan motivasi untuk memperbaiki pemahaman mereka tentang standar kata baku dan nonbaku.Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam hal penggunaan, pengetahuan, dan pemahaman standar kata baku dan nonbaku, penting bagi pendidik dan sistem pendidikan untuk mengadopsi strategi yang efektif. Hal ini meliputi memberikan pelatihan yang tepat tentang tata bahasa dan keterampilan menulis, menyediakan latihan yang berkelanjutan dan pemantapan, mendorong siswa untuk membaca materi bacaan berkualitas, mengedukasi mereka tentang pengaruh media dan komunikasi informal, dan meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya penggunaan kata baku dalam komunikasi formal. Dengan pendekatan yang holistik dan dukungan yang tepat, siswa dapat mengembangkan kemampuan bahasa yang lebih baik dan memahami standar kata baku dan nonbaku dengan lebih baik pula. 27 KESIMPULAN Tingkat kemampuan siswa dalam membedakan dan memahami kata baku dan tidak baku pada siswa kelas VIII dan IX SMP Negeri 35 Medan masih berada di bawah standar yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya paparan terhadap materi bacaan berkualitas, pengaruh media dan komunikasi informal, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya penggunaan kata baku dalam komunikasi formal. Untuk meningkatkan kemampuan siswa, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan pelatihan tata bahasa dan keterampilan menulis, latihan berkelanjutan, edukasi tentang media dan komunikasi informal, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya penggunaan kata baku. Dengan upaya bersama dari pendidik dan sistem pendidikan, siswa dapat mengembangkan kemampuan bahasa yang lebih baik dan memahami standar kata baku dan tidak baku dengan lebih baik pula. DAFTAR PUSTAKA Alwi H., dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka. Devianty, R. (2021). Penggunaan Kata Baku Dan Tidak Baku Dalam Bahasa Indonesia. EUNOIA (Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia), 1(2), 121-132. Mahsun. (2017). Metode Penelitian Bahasa: Tahap Strategi, metode dan Tekniknya. Jakarta: Raja Grafindo. Maleong, L. J. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pattiwael, M., dkk. (2019). Penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar dalam berkomunikasi. J-DEPACE (Journal of Dedication to Papua Community), 2(2), 157-170. Ruhamah, B., dkk. (2018), Kemampuan Siswa Dalam Membedakan Kata Baku dan Kata Tidak Baku Di Kelas V SD Negeri 3 Banda Aceh, Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 3(3): 160-163. Setiawati, E. (2008). Bahasa Indonesia Keilmuan Dalam Karya Tulis Ilmiah. Malang: Surya Pena Gemilang. Setiawati, S. (2016). Penggunaan kamus besar bahasa indonesia (kbbi) dalam pembelajaran kosakata baku dan tidak baku pada siswa kelas iv sd. Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2(1), 44-51. Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Cetakan ke-23. Bandung: Alfabeta. 28