El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. Oktober 2025 Volume 24. Nomor P-ISSN 2087-3638. E-ISSN 2655-7746 https://ftkjournal-uinmataram. id/index. php/eltsaqafah REPRESENTASI IDENTITAS SOSIAL DALAM KONTEN DAKWAH RISALAH AMAR TENTANG PALESTINA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Zulfan Universitas Sumatera Utara. Indonesia Corresponding Author: dr. zulfan@usu. Nur Fadillah Universitas Sumatera Utara. Indonesia nurfadillah2@students. Fatimatuzzahra Nasution Universitas Sumatera Utara. Indonesia nasuition@usu. Article History Submitted: 01 Dec 2025. Revised: 25 Dec 2025. Accepted: 26 Dec 2025 DOI 10. 20414/tsaqafah. Abstract This study aims to analyze the representation of social identity in the digital da'wah content of the Risalah Amar account, which focuses on humanitarian issues in Palestine. This study uses a sociolinguistic approach, incorporating Hymes' . theory of the SPEAKING model. Halliday's . theory of language functions, and Hall's . theory of social representation. The method employed is descriptive qualitative, using observation, note-taking, and documentation techniques for data in the form of videos, captions, and audience comments on Instagram. The results show that the language in Risalah Amar's da'wah content functions as a means of constructing a social identity that represents religious values, humanitarian solidarity, and global awareness. The choice of religious terms such as "syuhada" and "Ashabul Kahfi" serves to reinforce spiritual and ideological meanings. Furthermore, audience interaction in the comments section reflects the emotional involvement and collective solidarity of Muslims with the Palestinian issue. Thus, digital da'wah serves not only as a medium for disseminating religious values but also as an arena for constructing social identity and transnational solidarity through linguistic and symbolic practices in the digital space. Keywords: sociolinguistics, digital dakwah, social identity, representation, palestine Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas sosial dalam konten dakwah digital akun Risalah Amar yang berfokus pada isu kemanusiaan di Palestina. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan teori Hymes . tentang model SPEAKING, teori fungsi bahasa Halliday . , dan teori representasi sosial Hall . Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 367 Representasi Identitas Sosial . (Zulfan. Nur Fadillah. Fatimatuzzahr. dengan teknik simak, catat, dan dokumentasi terhadap data berupa video, caption, serta komentar audiens di media sosial Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa dalam konten dakwah Risalah Amar berfungsi sebagai sarana pembentukan identitas sosial yang merepresentasikan nilai keagamaan, solidaritas kemanusiaan, dan kesadaran global. Pemilihan diksi religius seperti AusyuhadaAy dan AuAshabul KahfiAy berfungsi memperkuat makna spiritual sekaligus ideologis. Selain itu, interaksi audiens di kolom komentar mencerminkan keterlibatan emosional dan solidaritas kolektif umat Islam terhadap isu Palestina. Dengan demikian, dakwah digital berperan tidak hanya sebagai media penyebaran nilai religius, tetapi juga sebagai arena konstruksi identitas sosial dan solidaritas transnasional melalui praktik kebahasaan dan simbolik di ruang digital. Kata-kata kunci: sosiolinguistik, dakwah digital, identitas sosial, representasi, palestina PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi yang menjadi sarana utama dalam pembentukan. Kajian sosiolinguistik menegaskan bahwa identitas muncul kemudian dikonstruksi melalui pilihan linguistik, dialek, gaya tuturan, dan strategi retoris yang dibentuk dalam interaksi sosial secara langsung maupun wacana Kajian ini menggunakan pendekatan kontemporer yang menekankan bahwa identitas bersifat dinamis dan terbentuk melalui interaksi antarindividu dengan struktur sosial serta kekuasaan yang ada di masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, platform digital kini menjadi media yang memperluas ranah sosiolinguistik sehingga wacana identitas dibentuk tidak hanya di ruang tatap muka tetapi bisa melalui konten secara daring berupa video, foto, narasi dakwah, yang dapat menjangkau audiens secara luas dan global. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahasa di platform digital seperti instagram, facebook, tiktok, twitter, dan media sosial lainnya memiliki peran ganda dalam menyampaikan pesan agama sekaligus menegaskan identitas kelompok, posisi moral, dan solidaritas transnasional. Dalam konteks ini, kajian sosiolinguistik digital berguna untuk membaca bagaimana audio-visual, teks, dan praktik retoris mampu mempengaruhi representasi identitas. Dalam konteks dakwah, bahasa memiliki peran sentral sebagai sarana penyampaian pesan moral dan keagamaan kepada masyarakat. Pemilihan kata, gaya tuturan, yang digunakan seorang pendakwah tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan ajaran islam, tetapi juga membentuk citra diri dan identitas sosial. Salah satu tema dakwah yang sering menjadi wadah pembentukan identitas sosial dan solidaritas keagamaan adalah isu Palestina. Dalam konten dakwah, isu ini tidak hanya dipandang sebagai konflik politik maupun agama, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dan empati kemanusiaan bukan hanya umat Islam, tetapi seluruh manusia. Konten dakwah yang mengangkat isu Palestina kerap ditemui menggunakan repertoar linguistik tertentu seperti istilah religius . oAoa dalam bahasa Ara. , dan metafora perjuangan untuk menegaskan rasa solidaritas. | 368 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 Maka dari itu dengan menganalisis konten dakwah Palestina, peneliti dapat memahami bagaimana identitas sosial dan keagamaan dikonstruksi dan dikomunikasikan melalui bahasa. Berdasarkan konteks di atas, akun media sosial Risalah Amar mejadi objek yang menarik untuk diteliti karena ia konsisten menyuarakan isu Palestina melalui video ceramah, reels, unggahan foto dan narasi dakwah yang dapat menjadi contoh konkrit bagaimana seorang pendakwah memanfaatkan gaya tuturan, pemilihan bahasa dan diksi yang kuat serta narasi yang Ia membangun citra seorang pendakwah yang tidak hanya religius tetapi juga memiliki solidaritas yang berorientasi pada rasa kemanusiaan. Hal ini menunjukkan bagaimana bahasa dakwah digital memiliki fungsi sebagai sarana pembentukan identitas sosial yang mencerminkan kesadaran, keagamaan, dan solidaritas manusia secara global. Namun, meskipun kajian mengenai bahasa dan identitas dalam konteks digital telah banyak dilakukan, penelitian yang secara khusus menelaah konstruksi identitas sosial dalam konten dakwah lokal masih terbatas, terutama yang mengangkat isu kemanusiaan seperti Palestina. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih menyoroti aspek wacana keagamaan secara umum tanpa mengaitkannya secara sistematis dengan analisis linguistik seperti pilihan kata, alih kode, dan gaya argumentasi yang mencerminkan pembentukan identitas sosial dalam ruang dakwah digital. Oleh karena itu, studi terhadap konten dakwah Risalah Amar menjadi penting untuk memahami bagaimana strategi kebahasaan digunakan dalam membangun solidaritas, memperkuat identitas keagamaan, dan menumbuhkan kesadaran kemanusiaan bagi para audiensnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan strategi linguistik yang digunakan dalam konten dakwah Risalah Amar tentang Palestina di media sosial serta menganalisis bagaimana strategi kebahasaan tersebut merepresentasikan identitas sosial, termasuk identitas keagamaan, solidaritas, dan kemanusiaan yang muncul dalam narasi dakwah digital tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas sosial dalam konten dakwah digital akun Risalah Amar yang berfokus pada isu kemanusiaan di Palestina. Secara khusus, penelitian ini mengkaji bagaimana penggunaan bahasa dalam konten dakwah tersebut merepresentasikan nilai keagamaan, solidaritas kemanusiaan, dan kesadaran global, serta bagaimana praktik kebahasaan tersebut membentuk keterlibatan emosional dan solidaritas kolektif audiens di ruang digital. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sosiolinguistik, khususnya pada bidang wacana dakwah digital, dengan menghadirkan studi kasus yang mengaitkan analisis bahasa pada tingkat mikro . eperti pilihan kata, gaya tutur, dan variasi bahas. dengan konteks makro . eperti identitas sosial, relasi kekuasaan, dan komunikasi keagamaa. This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 369 Representasi Identitas Sosial . (Zulfan. Nur Fadillah. Fatimatuzzahr. Dengan mempertimbangkan konteks tersebut, berbagai penelitian sebelumnya yang telah menelaah peran bahasa dalam dakwah digital seperti yang dilakukan oleh (Widyastuti, 2. dan (Rahmawati, 2. , telah meneliti representasi identitas keagamaan dalam wacana dakwah digital, namun belum banyak yang secara spesifik mengaitkannya dengan isu kemanusiaan seperti Palestina. Selain itu, sebagian besar studi sebelumnya lebih menyoroti aspek teologis dan komunikasi dakwah, tanpa mengaitkan secara sistematis analisis linguistik seperti pilihan leksikal, gaya bahasa, dan strategi retoris yang digunakan. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menggabungkan analisis sosiolinguistik terhadap wacana dakwah digital yang berfokus pada isu kemanusiaan dan keagamaan. LANDASAN TEORI Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, khususnya bagaimana faktor sosial mempengaruhi penggunaan bahasa. (Chaer dan Agustina, 2. menjelaskan bahwa sosiolinguistik adalah bidang yang mengkaji variasi bahasa serta fungsi sosial bahasa dalam konteks komunikasi sehari-hari. Dengan demikian, penelitian sosiolinguistik berusaha memahami bagaimana bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas, kekuasaan, dan solidaritas sosial. Dell Hymes . melalui konsep model SPEAKING, yang menekankan konteks komunikasi secara menyeluruh. Setting and Scene . empat dan situas. Participants . eserta komunikas. Ends . Act Sequence . lur tutura. Key . ada atau gay. Instrumentalities . aluran dan bentuk bahas. Norms . turan interaks. , dan Genre . enis wacan. Teori ini relevan digunakan dalam kajian konten dakwah digital karena memungkinkan peneliti untuk menganalisis secara sistematis unsur kebahasaan dan sosial dalam tuturan dakwah yang disebarluaskan melalui media digital. Pendekatan Hymes memandang bahasa sebagai praktik sosial yang selalu terkait dengan konteks budaya dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat, termasuk nilai religius dalam dakwah Islam. Selain itu, teori Fungsi Bahasa (Halliday, 1. dapat digunakan sebagai teori sosiolinguistik pendukung untuk memahami fungsi sosial bahasa dalam konteks komunikasi dakwah. Halliday . ntuk mempengaruh. , interaksional . embangun relasi sosia. , personal . enyatakan identitas dir. , dan representasional . enyampaikan ide dan pengetahua. Dalam konteks dakwah digital, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga sebagai sarana membangun kedekatan emosional dengan audiens dan memperkuat identitas keislaman. | 370 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 Untuk memperkuat analisis representasi dalam penelitian ini, digunakan pula teori Representasi Sosial dari Stuart (Hall, 1. Hall berpendapat bahwa representasi merupakan proses produksi makna melalui bahasa, gambar, dan simbol yang membentuk cara pandang terhadap realitas sosial. Dalam konteks dakwah digital, representasi identitas sosial umat Islam muncul melalui pilihan diksi, gaya bahasa, simbol visual, dan narasi yang membentuk citra positif tentang nilai-nilai keislaman, solidaritas, dan kemanusiaan. Keterpaduan antara teori Hymes. Halliday, dan Hall memungkinkan penelitian ini menganalisis tidak hanya bentuk kebahasaan, tetapi juga bagaimana praktik komunikasi dakwah digital menjadi sarana pembentukan identitas sosial dan ideologi keagamaan di ruang publik Dengan pendekatan sosiolinguistik ini, penelitian diharapkan mampu menggambarkan bagaimana bahasa dakwah digunakan secara strategis untuk meneguhkan nilai sosial, memperkuat solidaritas, serta membangun representasi keislaman yang inklusif METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu data diperoleh dari konten akun Instagram @new_risalahamar yang membahas isu Palestina di postingannya di periode terbaru tahun 2025 dengan mendeskripsikan penggunaan bahasa dan representasi identitas sosial dalam konten dakwah Risalah Amar mengenai isu Palestina. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik, yang menelaah bagaimana bahasa dalam wacana dakwah berfungsi untuk membangun identitas keagamaan, solidaritas sosial, dan nilai Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode simak dengan teknik catat, serta metode dokumentasi. Metode simak dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa pada video, teks caption, dan komentar audiens di media sosial Risalah Amar. Dari hasil penyimakan tersebut, peneliti mencatat bentuk-bentuk penggunaan bahasa seperti pilihan diksi, gaya tutur, struktur kalimat, serta konteks sosial yang melatarinya. Teknik catat digunakan untuk merekam unsur kebahasaan dan konteks wacana yang relevan dengan fokus penelitian. Mahsun . Selain itu, digunakan metode dokumentasi untuk mengumpulkan dan mengarsipkan data berupa tangkapan layar . , transkrip teks caption, serta komentar audiens yang mengandung respons terhadap pesan dakwah. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif-analitis, yaitu dengan mendeskripsikan dan menafsirkan makna sosial dari bahasa yang digunakan. Dengan metode ini, peneliti berupaya menggambarkan secara mendalam bentuk-bentuk representasi identitas sosial, nilai keagamaan, dan solidaritas kemanusiaan yang dibangun melalui This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 371 Representasi Identitas Sosial . (Zulfan. Nur Fadillah. Fatimatuzzahr. strategi linguistik dalam konten dakwah digital Risalah Amar. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk uraian naratif yang sistematis dan bermakna. PEMBAHASAN Konsistensi Dakwah dan Pembentukan Identitas Sosial Penelitian ini menganalisis representasi identitas sosial dan pesan kemanusiaan dalam konten dakwah digital akun Instagram @new_risalahamar, khususnya pada unggahan-unggahan bertema Palestina. Berdasarkan hasil pengamatan dan dokumentasi, akun ini konsisten mengangkat isu kemanusiaan dan perjuangan rakyat Palestina dengan gaya bahasa yang emosional, reflektif, dan penuh nilai keislaman. Bentuk konsistensi tersebut tampak dari keberlanjutan aktivitas dakwah meskipun akun utamanya sempat diblokir oleh pihak Instagram, sehingga Risalah Amar membuat dua akun cadangan lain untuk melanjutkan dakwahnya. Tidak hanya aktif dalam membuat konten dakwah digital, namun Risalah Amar juga menjadi aktivis sosial yang terjun langsung ke Palestina. Hal ini tampak dari beberapa postingannya ketika berada di Palestina di dalam video kontennya bersama anak-anak Palestina, menyalurkan donasi, serta ia juga menjadi salah satu aktivis yang mengikuti AuGlobal Peace Convoy IndonesiaAy bersama para aktivis seluruh indonesia tergabung dalam pergerakan AuGlobal Sumud Flotila (GSF)Ay dimana puluhan kapal dari berbagai negara bergerak menuju palestina. Gambar 1. Kedua Akun Risalah Amar dan Unggahan Global Peace Convoy Indonesia Dalam perspektif sosiolinguistik, konsistensi penggunaan bahasa dan simbol pada akun ini merupakan representasi dari identitas sosial dan ideologi keagamaan Chaer & Agustina . Bahasa yang digunakan oleh Risalah Amar tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai medium untuk membangun solidaritas umat Islam serta menegaskan posisi sosial dalam wacana global mengenai Palestina. Dalam kerangka etnografi komunikasi Dell Hymes . , praktik dakwah digital Risalah Amar dapat dipahami sebagai suatu speech event yang berlangsung secara berulang dan konsisten. Dari komponen Setting and Scene, dakwah dilakukan dalam ruang digital Instagram yang | 372 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 dikonstruksi sebagai ruang empati, perjuangan, dan kesadaran kemanusiaan global, khususnya dalam konteks konflik Palestina. Setting digital ini membentuk suasana tutur yang serius, reflektif, dan sarat muatan emosional. Komponen Participants mencakup Risalah Amar sebagai pendakwah sekaligus aktivis kemanusiaan, serta audiens sebagai umat Islam global yang terhubung melalui media sosial. Identitas sosial pendakwah diperkuat tidak hanya melalui bahasa, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan yang ditampilkan dalam konten visual dan naratif. Sementara itu. Ends dari peristiwa tutur ini tidak sebatas penyampaian informasi, melainkan bertujuan membangun solidaritas, kesadaran keumatan, dan legitimasi moral atas perjuangan Palestina. Pemilihan Diksi. Gaya Bahasa Religius, dan Representasi Spiritualitas Beberapa unggahan pada akun Risalah Amar menampilkan narasi yang tersirat nilai religius dan semangat spiritual. Salah satunya adalah unggahan berjudul AuTelah lahir legenda Jenin: tiga syuhada Ashabul Kahfi-nya Palestina!Ay Tulisan ini menceritakan tiga komandan Palestina yaitu Abdullah Jalamneh. Qais Ibrahim Al-Bitawi, dan Ahmad Azmi Nashrati yang gugur saat persembunyiannya terbongkar. Penulis tidak hanya mengisahkan kronologi peristiwa tersebut, tetapi juga mengaitkannya dengan kisah dalam sejarah Islam, yakni pemuda Ashabul Kahfi yang dikenal karena keteguhan iman dan pengorbanannya. Penyandingan kisah perjuangan kontemporer dengan kisah keimanan klasik ini memperlihatkan bagaimana penulis membangun jembatan spiritual antara masa lalu dan masa kini sebagai bentuk kontinuitas nilai keislaman. Dalam unggahan lainnya, narasi Au100 syuhada dalam semalam, ada apa di Gaza sebenarnya?Ay menggambarkan kondisi krisis kemanusiaan di Gaza selama masa gencatan senjata. Penulis menjelaskan pelanggaran yang dilakukan pihak penjajah, pembatasan bantuan, hingga pembunuhan massal terhadap warga sipil. Meski demikian, narasi ini tidak disajikan dalam nuansa keputusasaan, melainkan dengan diksi-diksi penuh keyakinan seperti AusyuhadaAy. AuteguhAy, dan Auberkah perjuanganAy. Pilihan kata tersebut menjadi penanda linguistik yang memaknai penderitaan bukan sebagai kekalahan, tetapi sebagai bagian dari perjuangan spiritual. Pemilihan diksi religius seperti AusyuhadaAy dan AuAshabul KahfiAy menunjukkan fungsi bahasa yang bukan hanya informatif, tetapi juga ideologis dan afektif. Dalam perspektif Halliday . , bahasa memiliki tiga fungsi utama: ideational, interpersonal, dan textual. Fungsi ideational tercermin dalam penyampaian gagasan tentang perjuangan dan keteguhan iman. Fungsi interpersonal hadir melalui ajakan emosional kepada audiens untuk turut merasakan semangat jihad kemanusiaan, sedangkan fungsi tekstual tampak dari cara penulis menyusun narasi yang This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 373 Representasi Identitas Sosial . (Zulfan. Nur Fadillah. Fatimatuzzahr. koheren antara fakta, nilai spiritual, dan makna moral. Dengan demikian, bahasa digunakan sebagai medium representasional yang menegaskan identitas keislaman sekaligus solidaritas sosial. Melalui gaya narasi yang religius dan simbolik ini. Risalah Amar membangun citra masyarakat Palestina sebagai simbol keteguhan iman, keberanian moral, dan kemanusiaan Gaya bahasa yang digunakan memperlihatkan kemampuan bahasa dalam membingkai realitas sosial bahwa penderitaan dapat dimaknai sebagai ujian spiritual yang mengokohkan nilainilai tauhid dan solidaritas umat. Dengan begitu, konten dakwah digital ini tidak sekadar berfungsi informatif, tetapi juga performatif yang mampu menggerakkan emosi, membangun kesadaran, dan memperkuat relasi antara spiritualitas dan kemanusiaan. Jika ditinjau melalui komponen Act Sequence dalam teori Hymes, narasi dakwah Risalah Amar menunjukkan pola urutan tutur yang relatif ajeg, yaitu: pemaparan peristiwa faktual Ie penilaian moral-religius Ie penguatan makna spiritual. Urutan ini menegaskan bahwa peristiwa konflik tidak disajikan secara netral, melainkan dibingkai sebagai bagian dari perjuangan iman dan Komponen Key tampak dari nada tuturan yang heroik, emosional, dan penuh keteguhan, yang ditandai dengan penggunaan istilah religius seperti syuhada, berkah perjuangan, dan simbol sejarah Islam seperti Ashabul Kahfi. Nada ini berfungsi untuk membangun suasana empatik dan mengarahkan audiens pada penghayatan spiritual tertentu. Selain itu. Norms of Interpretation memperlihatkan bahwa audiens diarahkan untuk menafsirkan penderitaan sebagai ujian iman, bukan semata-mata tragedi kemanusiaan. Gambar 2. Unggahan Konten Narasi Palestina Respon Audiens dan Rasa Solidaritas dalam Dunia Digital Berdasarkan hasil penyimakan kolom komentar, tampak adanya partisipasi aktif audiens yang menegaskan penerimaan positif terhadap pesan dakwah tersebut. Misalnya, komentar pengguna akun @mieayam_pakdemarmo yang menulis AuYa Allah selamatkan Gaza Palestina. Hasbunallah WaniAomal WakilAy, atau @djohaerlina yang menulis AuMau nangis haru, tidak ada di | 374 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 dunia keteguhan sekuat di Gaza, teguh dengan keimanan kepada Allah yang Maha Kuasa. Ay Serta komentar-komentar dari para audiensnya yang lain, menunjukkan bentuk respon empatik dan spiritualitas kolektif di antara pengikut Risalah Amar. Dalam kerangka teori performansi Bauman . , partisipasi semacam ini memperlihatkan bagaimana komunikasi digital berfungsi sebagai pertunjukan sosial yang memperkuat nilai bersama antara komunikator dan komunikan. Dalam perspektif Hymes . , kolom komentar dapat dipahami sebagai bagian dari kelanjutan speech event dakwah digital. Dari komponen Genre, interaksi yang muncul termasuk dalam genre dakwah religius digital yang ditandai dengan doa, ungkapan tawakal, dan ekspresi empati kolektif. Audiens tidak hanya merespons isi pesan, tetapi juga mereproduksi nilai-nilai religius yang disampaikan pendakwah. Melalui komponen Instrumentalities, media sosial Instagram berfungsi sebagai sarana komunikasi utama yang memungkinkan terjadinya interaksi dua arah secara cepat dan terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah digital tidak bersifat monologis, melainkan dialogis dan partisipatoris, sehingga memperkuat pembentukan identitas sosial dan solidaritas umat secara kolektif. Dalam kerangka teori Dell Hymes . , interaksi ini dapat dibaca melalui komponen Participants . endakwah dan audien. Ends . ujuan moral dan spiritua. , dan Key . ada tuturan yang menyentu. Komentar-komentar ini memperlihatkan bahwa komunikasi dakwah di media digital tidak berhenti pada transfer pesan, tetapi juga membangun solidaritas sosial dan religius yang melampaui batas geografis. Dakwah digital menjadi arena performatif di mana audiens berperan aktif dalam memperkuat makna identitas keumatan. Gambar 3. Beberapa Komentar Audiens (Pengiku. Risalah Amar di Kontennya Representasi Identitas Sosial dan Kesadaran Global Dalam beberapa unggahan seperti AuBukan hanya Sudan dan Gaza, 18 slide untuk memahami peta konflik dan penindasan pada kaum muslimin di seluruh duniaAy, terlihat bahwa This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 375 Representasi Identitas Sosial . (Zulfan. Nur Fadillah. Fatimatuzzahr. pesan dakwah Risalah Amar tidak hanya fokus pada penderitaan satu bangsa saja seperti Palestina, tetapi juga memperluas cangkupan solidaritas global umat muslim seperti di Sudan. Nigeria. Somalia. Libya. Syria, dan negara lainnya dimana jutaan umat Islam terbunuh akibat tipu daya musuh, atau karena kelaparan dan kemiskinan. Dalam tulisan ini juga disebutkan di negara dan di titik mana saja umat Islam mengalami penindasan. Hal ini menunjukkan representasi sosial, yaitu produksi makna melalui bahasa dan simbol untuk membentuk kesadaran kolektif Hall . Dari segi gaya penyajian, penggunaan citra visual seperti peta konflik, foto pejuang, masjid Al-Aqsa, dan potret kehancuran Gaza memperkuat pesan emosional dan ideologis dari narasi yang dibangun. Visual tersebut berfungsi sebagai bentuk makna sosial Halliday . , yang memperluas makna teks ke dalam konteks simbolik perjuangan dan keteguhan iman. Kombinasi antara teks religius dan visual yang kuat membentuk pesan dakwah yang tidak hanya informatif, tetapi juga persuasif dan afektif. Dengan demikian, konten dakwah Risalah Amar menggambarkan praktik komunikasi keagamaan yang memadukan nilai spiritualitas, solidaritas sosial, dan kesadaran kemanusiaan. Penggunaan bahasa yang ekspresif, simbol keagamaan yang kuat, serta interaksi digital antara kreator dan audiens menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang baru bagi pembentukan identitas kolektif umat Islam yang berlandaskan empati dan kepedulian global. Gambar 4. Unggahan Konten Tentang Kepedulian Terhadap Negara-negara Lainnya | 376 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 2, 2025 Dengan demikian, melalui kerangka SPEAKING Dell Hymes, dapat disimpulkan bahwa konten dakwah Risalah Amar merupakan praktik komunikasi yang terikat oleh konteks sosial, tujuan ideologis, norma keagamaan, dan partisipasi audiens. Analisis ini melengkapi teori representasi Hall . dan fungsi bahasa Halliday . , dengan menunjukkan bahwa representasi identitas sosial tidak hanya dibentuk oleh teks dan simbol, tetapi juga oleh struktur peristiwa komunikasi dan interaksi sosial yang menyertainya. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa konten dakwah digital Risalah Amar merupakan bentuk praktik kebahasaan yang mencerminkan konstruksi identitas sosial umat Islam dalam konteks global. Bahasa yang digunakan dalam konten tersebut tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan religius, tetapi juga memperkuat solidaritas kemanusiaan melalui simbolsimbol religius, narasi emosional, dan gaya retoris yang menyentuh. Representasi identitas sosial dibangun melalui tiga aspek . Konsistensi penggunaan bahasa religius dan simbolik, yang menegaskan nilai keimanan dan semangat perjuangan. Interaksi komunikatif antara pendakwah dan audiens, yang melahirkan solidaritas spiritual dan empati kolektif terhadap penderitaan umat Islam. Integrasi narasi teks dan visual, yang memperluas makna dakwah menjadi representasi kesadaran global dan nilai kemanusiaan universal. Dengan demikian, dakwah digital Risalah Amar menjadi bukti bahwa bahasa berperan strategis dalam membentuk identitas sosial dan memperkuat solidaritas lintas batas. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian sosiolinguistik digital, khususnya dalam memahami peran bahasa sebagai instrumen representasi identitas dan nilai kemanusiaan di era media sosial. This is an open access article under the CCAeBY-SA license | 377 Representasi Identitas Sosial . (Zulfan. Nur Fadillah. Fatimatuzzahr. DAFTAR PUSTAKA