JOURNAL IKHTIBAR NUSANTARA E-ISSN: 2964-5255 Editorial Address: No. 333 T. Nyak Arief Street. Jiulingke. Banda Aceh City. Aceh Province Received: 07-03-2. Accepted: 28-04-2. Published: 08-06-2026 STRATEGI GURU DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN LITERASI MEMBACA SISWA DI KE:LAS i SD/MI Diniel Haq. Rafidhah Hanum Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Indonesia Email: 210209126@student. ar-raniry. id, rafidhah. hanum@ar-raniry. Abstract This study aims to describe the strategies used by teachers in developing reading literacy skills of third-grade students at MIN 3 Bireuen and to identify the supporting and inhibiting factors in its implementation. Reading literacy is an essential basic skill for elementary students because it supports understanding across all subjects. However, many students still experience difficulties in understanding reading texts, especially longer and more complex texts. This research used a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving third-grade teachers, students, and the principal as research subjects. The results showed that teachers applied various strategies such as 15-minute reading habituation before lessons, read aloud, guided reading, group discussions, individual approaches, and the use of learning media such as Big Book and interesting reading materials relevant to studentsAo daily lives. Teachers also provided enrichment for highachieving students and special guidance for students with reading difficulties. Supporting factors included parental involvement and school literacy programs, while inhibiting factors were low reading interest, limited attractive reading materials, and less optimal implementation of the School Literacy Movement. It can be concluded that varied, adaptive, and studentcentered strategies are effective in improving studentsAo reading literacy skills. Keywords: Teacher Strategy. Reading Literacy. Elementary Students. Guided Reading. Learning Media PENDAHULUAN Kemampuan literasi yang mumpuni menjadi prasyarat penting dalam membangun masyarakat berbasis pengetahuan dan sesuai pendapat Suryaman bahwa tingkat literasi masyarakat berkorelasi positif dengan kemajuan suatu bangsa. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup keterampilan berpikir kritis, memahami informasi, serta mengomunikasikan ide secara efektif di tingkat SD/MI pengembangan literasi menjadi landasan utama bagi keberhasilan siswa dalam memahami pelajaran serta menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang. Dalam konteks global, hasil survei PISA (Programme for International Student Assessmen. beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa Pitri Enjelina. Frischa. Daniela. Dkk. AuPentingnya Literasi dalam Kehidupan ModernAy. Jurnal Pendidikan Tambusai. Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 276 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara lain. Kondisi ini mengindikasikan bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam proses pembelajaran di sekolah, terutama dalam hal penguatan literasi dasar sejak dini. Rendahnya kemampuan literasi pada siswa sekolah dasar dapat berdampak langsung terhadap kemampuan mereka dalam memahami instruksi, menyelesaikan tugas, hingga berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Peran guru menjadi sangat sentral dalam mengatasi permasalahan ini. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan motivator yang berperan dalam menumbuhkan minat serta membimbing siswa agar gemar Guru diharapkan mampu menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan literasi Strategi yang tepat dapat membantu siswa memahami isi teks, meningkatkan daya ingat, serta membangun kebiasaan membaca yang positif. Misalnya, melalui strategi membaca terpadu, guided reading, literature circle, penggunaan media digital, maupun pendekatan kontekstual yang mengaitkan teks bacaan dengan kehidupan sehari-hari siswa. 3 Selain itu, lingkungan belajar yang literat juga sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan literasi membaca siswa. Guru dapat menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan membaca, seperti pojok baca, kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran, atau lomba membaca cerita rakyat daerah. Upaya-upaya semacam ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap kegiatan membaca sejak dini. Dalam konteks SD/MI, kegiatan literasi perlu dikembangkan secara terencana dan berkesinambungan, dengan memperhatikan karakteristik perkembangan kognitif dan afektif siswa kelas i yang masih berada pada tahap operasional konkret. Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan juga memberikan ruang yang luas bagi pengembangan kemampuan literasi melalui pembelajaran yang berpusat pada Guru diberi kebebasan untuk merancang kegiatan pembelajaran yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca dengan mengintegrasikan berbagai sumber belajar, termasuk teks naratif, informatif, dan Dengan demikian, strategi guru dalam mengembangkan literasi membaca tidak hanya terbatas pada kegiatan membaca buku teks, tetapi juga mencakup pemanfaatan teknologi, media visual, dan aktivitas interaktif lainnya. Zukhruf Achmad. Nuwahidah. AuRefleksi Skor PISA Indonesia dan Hasil Asesmen Kompetensi Guru Madrasah 2024: Tantangan Peningkatan Kompetensi GuruAy Jurnal Pendidikan IPS Vol. 15 No. Maret 2025. Divana Dhea. Ridha. Dkk. AuStrategi Guru dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa dalam Pembelajaran di Sekolah DasarAy. Jurnal Bima: Pusat Publikasi Ilmu Pendidikan bahasa dan Sastra. Volume 3. Nomor 3. September 2025, h. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 277 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Sebab itulah, guru harus mempunyai strategi dan peran krusial dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca siswa kelas i SD/MI. 4 Sebab, keberhasilan pembelajaran literasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan awal siswa, tetapi juga oleh bagaimana guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran membaca secara efektif dan menyenangkan. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis berbagai strategi yang digunakan guru dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca siswa kelas i SD/MI. Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan guru kelas i MIN 3 Bireuen untuk memperoleh informasi terkait strategi pembelajaran literasi membaca dengan pertanyaan wawancara AuBagaimana Ibu melaksanakan kegiatan literasi membaca di kelas?Ay. Ia menjawab mengajak anak-anak membaca bersama sebelum pelajaran Teks yang dibaca bisa dari buku pelajaran atau cerita pendek. Kemudian, ajak berdiskusi tentang isi cerita, tokohnya, dan pesan moralnya. Selanjutnya, tentang strategi yang Ibu gunakan untuk mengembangkan kemampuan membaca siswa?Ay. menjawab dengan strategi membaca terpandu dengan membuat kelompok kecil, lalu dampingi mereka membaca bergantian dan membuat peta pikiran sederhana agar bisa memahami isi bacaan dengan lebih mudah. Selanjutnya, terkait Aukendala yang dihadapi dalam meningkatkan literasi membaca siswa? Ia menjawab minat baca yang masih Sebab, mereka lebih suka bermain daripada membaca. Selain itu, bahan bacaan terbatas dan terkait dukungan dari sekolah terhadap kegiatan literasi membaca ia mengatakan Sekolah mendukung melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), tetapi memang pelaksanaannya belum optimal. Kami berharap ada lebih banyak koleksi buku anak-anak yang menarik agar kegiatan membaca lebih hidup. Hasil wawancara dengan guru kelas i MIN 3 Bireuen menunjukkan bahwa literasi membaca menjadi fokus utama pembelajaran, terutama melalui kegiatan membaca bersama dan membaca terpandu. Guru memandang literasi tidak hanya sebagai aktivitas membaca teks, tetapi juga sebagai upaya membangun pemahaman serta kebiasaan membaca pada siswa. Pelaksanaan kegiatan literasi dilakukan secara rutin setiap pagi melalui program literasi sekolah dengan menggunakan bahan bacaan dari buku tematik maupun sumber tambahan yang disesuaikan dengan kemampuan dan minat siswa. Dalam prosesnya, guru berperan aktif sebagai fasilitator dengan memberikan pertanyaan pemantik, membimbing diskusi isi bacaan, serta membantu siswa memahami makna teks agar kegiatan membaca tidak hanya berlangsung secara Meskipun berbagai strategi telah diterapkan, pelaksanaan literasi membaca masih menghadapi sejumlah kendala. Rendahnya minat baca siswa, keterbatasan koleksi bahan bacaan yang menarik dan sesuai usia, serta belum optimalnya fasilitas pendukung menjadi hambatan utama. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian siswa telah Anwar Syaiful. Dwi. Dkk. AuKurikulum Merdeka Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan Pada Abad 21 Di Pendidikan DasarAy Jurnal PGSD: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2025, 18. , h. 13Ae20. Hasil Wawancara Guru Kelas i MIN 3 Bireuen . Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 278 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan mampu membaca lancar dan memahami isi bacaan dengan baik, namun masih terdapat siswa yang membaca secara lambat, terbata-bata, dan mengalami kesulitan memahami kosakata tertentu. Untuk mengatasi hal tersebut, guru menerapkan strategi membaca terpandu dalam kelompok kecil, memberikan penjelasan kosakata, membantu menemukan ide pokok, serta menggunakan peta konsep sederhana agar siswa lebih mudah memahami isi bacaan. Secara keseluruhan, strategi guru dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca siswa kelas i MIN 3 Bireuen telah berjalan cukup baik melalui penggunaan metode yang bervariasi, seperti membaca bersama, membaca terpandu, diskusi bacaan, dan pemanfaatan media sederhana. Strategi tersebut menunjukkan bahwa peran guru sangat penting dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif, menarik, dan efektif untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa. Di era digital, kemampuan literasi menjadi fondasi penting agar siswa mampu memahami, mengkritisi, dan memanfaatkan informasi secara tepat. Oleh karena itu, penggunaan strategi pembelajaran yang inovatif dan bervariasi diperlukan agar siswa dapat berkembang menjadi individu yang literat, berpikir kritis, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Menurut Moleong penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan, secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks alamiah, serta memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Pendekatan ini relevan digunakan karena permasalahan yang dikaji berkaitan dengan proses dan strategi yang dilakukan guru, yang tidak dapat diukur dengan angka, melainkan harus dipahami maknanya secara mendalam. 6 Jenis deskriptif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara rinci dan mendalam strategi guru dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca siswa kelas i MIN 3 Bireuen tanpa memanipulasi variabel yang ada dann penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis, tetapi lebih kepada memaparkan fenomena sebagaimana adanya, sehingga peneliti dapat merekam realitas di lapangan secara objektif dan Dalam penelitian kualitatif deskriptif, peneliti berperan sebagai instrumen kunci . ey instrumen. yang mengumpulkan data secara langsung di lapangan. Seperti dijelaskan oleh Creswell penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi dan Reni Ardiana. AuWorkshop AuPenelitian KualitatifAy Sebagai Pembekalan Mahasiswa Semester Akhir Untuk Menyelesaikan SkripsiAy JPKPM. Vol. Juni 2022. Dewantara Faidia. Siti Quratul. AuStrategi Guru dalam Menumbuhkan Minat Baca pada Siswa Kelas IV di SDN 10 Kecamatan KandisAy Didaktika: Jurnal Kependidikan. Vol. No. Mei 2024. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 279 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan memahami makna yang dikaitkan individu atau kelompok terhadap suatu masalah sosial atau kemanusiaan. Dengan demikian, pemilihan pendekatan ini diharapkan mampu mengungkap strategi guru secara komprehensif, termasuk faktor-faktor pendukung, hambatan, dan implikasinya terhadap peningkatan kemampuan literasi membaca siswa. Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Bireuen, yang beralamat di Desa Tingkeum Manyang. Kecamatan Kuta Blang. Kabupaten Bireuen dan lokasi ini dipilih. Disebabkan, yaitu: adanya program literasi sekolah yang sudah berjalan, adanya keterlibatan guru kelas i yang aktif menerapkan berbagai strategi pembelajaran membaca, sehingga relevan dengan fokus penelitian serta adanya aksesibilitas dan dukungan sekolah dan pemilihan lokasi penelitian yang tepat sangat penting untuk menjamin tersedianya data relevan dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu. MIN 3 Bireuen dinilai representatif untuk menggambarkan fenomena yang menjadi fokus kajianSubjek penelitiannya terdiri dari guru kelas i sebagai pelaksana pembelajaran dan pengguna strategi literasi membaca, siswa kelas i sebagai peserta didik yang mengalami langsung proses pembelajaran literasi membaca dan kepala sekolah sebagai pihak yang mengetahui kebijakan dan mendukung pelaksanaan program literasi di sekolah dan penentuan subjek menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian yang mempertimbangkan adanya keterlibatan langsung subjek dalam pembelajaran literasi membaca, kemampuan memberikan informasi secara detail, dan kesediaan untuk berpartisipasi dalam penelitian. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data merupakan proses penting untuk memperoleh informasi yang valid dan kaya makna. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai human instrument. Peneliti berperan aktif dalam mengumpulkan data, menganalisis, menafsirkan, dan melaporkan hasil penelitian dan sebagai human instrument, peneliti memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan teknik dan alur pertanyaan sesuai situasi di lapangan sehingga dapat menggali data secara mendalam. Selain itu, peneliti menggunakan instrumen pendukung untuk mempermudah dan mengefektifkan proses pengumpulan data, antara lain: 9 Pedoman Wawancara Pedoman ini berisi daftar pertanyaan terbuka yang disusun berdasarkan fokus Pertanyaan dirancang untuk menggali informasi dari guru, siswa, dan kepala sekolah terkait strategi literasi membaca yang diterapkan, hambatan yang dihadapi, serta faktor pendukungnya. Wawancara yang digunakan bersifat semi-terstruktur agar peneliti memiliki kerangka pertanyaan yang jelas, namun tetap fleksibel menyesuaikan perkembangan percakapan. Pedoman Observasi Abdussamad Zuchri. Metode Penelitian Kualitatif. (Makassar: Syakir Media Press, 2. Hafnin Syafrida. Metodologi Penelitian. (Yogyakarta:KBM Indonesia, 2. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 280 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Observasi dilakukan untuk mencatat secara sistematis aktivitas guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran membaca. Observasi yang digunakan adalah observasi partisipatif pasif dengan peneliti hadir di kelas namun tidak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Pedoman observasi memuat aspek-aspek yang diamati, seperti metode mengajar guru, interaksi guru-siswa, respon siswa terhadap kegiatan membaca, serta suasana kelas. Lembar Dokumentasi Dokumentasi dimaksudkan untuk mengumpulkan bukti-bukti tertulis atau visual yang mendukung hasil wawancara dan observasi. Dokumen yang dikumpulkan meliputi Modul ajar, bahan ajar, lembar kerja siswa, hasil tes atau tugas membaca, dan foto kegiatan literasi. Dokumentasi ini berfungsi sebagai pelengkap untuk memverifikasi data dari sumber lain. Instrumen disusun berdasarkan teori pengumpulan data yang disesuaikan dengan fokus penelitian, sehingga data yang diperoleh bersifat komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif merupakan proses penting yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang lengkap, mendalam, dan sesuai dengan fokus penelitian. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai human Peneliti berperan aktif dalam merencanakan, melaksanakan, mencatat, menganalisis, dan menafsirkan data yang diperoleh di lapangan dan instrumen utama, peneliti dituntut memiliki kepekaan terhadap konteks, kemampuan membangun hubungan baik dengan informan, serta keterampilan menyesuaikan pertanyaan dan teknik pengumpulan data dengan kondisi di Untuk mendukung proses pengumpulan data, penelitian ini menggunakan tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ketiga teknik ini dipilih karena saling melengkapi, sehingga memungkinkan diperolehnya data yang lebih valid melalui proses triangulasi dengan uraian sebagai berikut:10 Observasi Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran literasi membaca di kelas i MIN 3 Bireuen. Observasi yang digunakan adalah tipe partisipatif pasif, yaitu peneliti hadir di lokasi penelitian untuk mengamati aktivitas yang sedang berlangsung, namun tidak terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. dengan observasi, peneliti dapat mencatat: Strategi pembelajaran literasi membaca yang diterapkan guru, interaksi antara guru dan siswa selama pembelajaran, respon dan partisipasi siswa terhadap kegiatan membaca serta lingkungan fisik dan suasana kelas yang mendukung atau menghambat proses literasi membaca. Kelebihan observasi adalah peneliti memperoleh data yang bersifat nyata dan kontekstual, sehingga dapat Hasan Sazali. Penelitian Kualitatif. (Sumatra Utara: Wal Ashri Publishing, 2. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 281 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan menggambarkan situasi sebagaimana adanya tanpa terpengaruh interpretasi subjektif informan. Observasi dilakukan menggunakan pedoman observasi yang berisi aspek-aspek yang akan diamati, serta catatan lapangan . ield note. untuk merekam detail kejadian. Wawancara Wawancara digunakan untuk menggali informasi yang lebih mendalam terkait strategi guru dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca Penelitian ini menggunakan jenis wawancara semi-terstruktur yang memungkinkan peneliti memiliki panduan pertanyaan yang sistematis, namun tetap memberi kebebasan kepada informan untuk mengemukakan pendapat secara luas. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan guru kelas i untuk mengetahui strategi pembelajaran literasi membaca yang digunakan, pertimbangan pemilihan strategi, dan hambatan yang dihadapi. Kemudian, siswa kelas i untuk mengetahui pengalaman mereka dalam kegiatan literasi membaca, persepsi terhadap metode guru, dan motivasi membaca dan kepala sekolah untuk memperoleh informasi terkait kebijakan dan dukungan terhadap program literasi sekolah dan seluruh proses wawancara direkam . engan izin informa. untuk memudahkan proses transkripsi dan analisis data. Selain itu, peneliti juga membuat catatan wawancara untuk mencatat ekspresi non-verbal, intonasi, dan hal-hal yang tidak terekam dalam audio. Dokumentasi Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai dokumen tertulis maupun visual yang berkaitan dengan pembelajaran literasi membaca yang dapat digunakan sebagai dokumentasi untuk melengkapi data hasil wawancara dan observasi, serta sebagai bahan pembanding atau verifikasi informasi. Jenis dokumen yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi: Modul ajar yang digunakan guru dalam mengajar literasi membaca, lembar kerja siswa dan hasil tugas membaca, foto kegiatan literasi membaca di kelas dan di perpustakaan sekolah, daftar hadir siswa dalam kegiatan literasi, dan bahan ajar atau modul yang digunakan guru. Dokumentasi ini membantu memberikan gambaran nyata tentang strategi pembelajaran yang diterapkan serta hasil yang dicapai siswa dengan menggunakan ketiga teknik ini secara terpadu, peneliti dapat memperoleh data yang lebih kaya dan terpercaya. Observasi memberikan gambaran nyata tentang perilaku dan situasi, wawancara menggali makna dan alasan di balik perilaku tersebut, sedangkan dokumentasi memperkuat data dengan bukti fisik. Kombinasi ini sesuai dengan prinsip triangulasi dalam penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk meningkatkan keabsahan data. Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan proses penting untuk mengorganisasikan, menginterpretasikan, dan memberikan makna terhadap data yang telah dikumpulkan secara interaktif dan berlangsung terus-menerus sejak awal pengumpulan data hingga penelitian selesai dan penelitian ini Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 282 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tiga komponen utama yang saling berkaitan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Ketiga komponen ini berlangsung secara siklus dan tidak bersifat linear, sehingga analisis dapat dilakukan secara berulang untuk memastikan ketepatan temuan penelitian. Reduksi Data Reduksi data adalah proses menyaring, merangkum, memilih, dan memfokuskan data mentah yang diperoleh dari lapangan menjadi data yang relevan dengan fokus penelitian dengan tahapan yang dilakukan, yaitu : Pemilihan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian. Pengelompokan data berdasarkan kategori tertentu . isalnya: strategi guru, respon siswa, hambatan pembelajara. Pembuatan ringkasan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Reduksi data bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam memahami data secara menyeluruh dan menghindari tumpukan informasi yang tidak relevan. Penyajian Data Penyajian data adalah proses menyusun informasi yang telah direduksi ke dalam bentuk yang terstruktur agar memudahkan dalam melihat pola, hubungan, dan makna dalam berbagai bentuk, seperti: Narasi deskriptif yang menjelaskan hasil penelitian. Tabel atau matriks yang memuat ringkasan informasi. Bagan atau diagram yang menggambarkan hubungan antar variabel atau Penyajian data yang baik memungkinkan peneliti untuk membaca informasi dengan cepat, mengidentifikasi temuan penting, dan mempersiapkan diri untuk tahap penarikan kesimpulan. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Penarikan kesimpulan adalah tahap di mana peneliti menafsirkan makna data untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Menurut Miles & Huberman kesimpulan awal dapat muncul selama proses pengumpulan data, namun harus diverifikasi melalui adanya pemeriksaan kembali catatan lapangan, perbandingan antar sumber data . serta konfirmasi kepada Haryoko Sapto. Bahartian. Dkk. Analisis Data Penelitian Kualitatif. (Makassar:Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar, 2. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 283 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan informan . ember chec. untuk memastikan akurasi interpretasi Verifikasi dilakukan secara berkesinambungan hingga diperoleh kesimpulan akhir yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Keabsahan data merupakan tahap penting dalam penelitian kualitatif untuk memastikan bahwa temuan yang diperoleh benar-benar dapat dipercaya dan menggambarkan kondisi lapangan secara objektif. Menurut Moleong keabsahan data dapat diuji melalui triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan yang memanfaatkan berbagai sumber, metode, dan waktu yang berbeda untuk membandingkan dan memvalidasi informasi yang diperoleh. Tujuan triangulasi adalah mengurangi kemungkinan bias peneliti dan meningkatkan kredibilitas hasil penelitian. Dengan membandingkan data dari berbagai perspektif, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai fenomena yang Dalam penelitian ini, digunakan tiga bentuk triangulasi sebagai berikut:12 Triangulasi Sumber Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai informan, yaitu guru kelas i, siswa, dan kepala Setiap sumber data memberikan perspektif yang berbeda, sehingga peneliti dapat mengidentifikasi kesesuaian atau perbedaan informasi yang Misalnya, peneliti membandingkan penjelasan guru mengenai strategi literasi membaca dengan pengalaman langsung siswa dalam proses pembelajaran, serta kebijakan yang disampaikan kepala sekolah. Triangulasi Teknik Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil data yang diperoleh melalui metode yang berbeda, yaitu observasi, wawancara, dan Contohnya, perilaku guru dalam menerapkan strategi literasi membaca yang diamati langsung di kelas akan dibandingkan dengan hasil wawancara guru dan bukti tertulis seperti Modul ajar atau catatan hasil belajar Triangulasi Waktu Triangulasi waktu dilakukan dengan mengumpulkan data pada waktu yang berbeda untuk menguji konsistensi informasi yang diberikan oleh informan. Misalnya, wawancara dengan guru dilakukan pada awal, pertengahan, dan akhir periode penelitian, kemudian hasilnya dibandingkan untuk melihat apakah terdapat perubahan atau konsistensi dalam jawaban yang diberikat dapat meningkatkan kredibilitas data yang diperoleh mampu memberikan hasil yang valid, komprehensif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Rijal Muhammad. AuMemahami desain metode penelitian kualitatifAy Humanika. Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum. Vol. No. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 284 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Pembahasan/Research Finding Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru kelas i SD/MI di MIN 3 Bireuen mengenai strategi pengembangan kemampuan literasi membaca siswa, diperoleh beberapa temuan utama. Antara lain : Pertama, kemampuan literasi membaca siswa kelas i secara umum sudah mulai berkembang namun belum optimal, terutama dalam memahami teks panjang. Hal ini terlihat pada pernyataan guru pada halaman 1 yang menyebutkan bahwa kemampuan siswa Aukurang, terutama dalam memahami teks panjangAy, sementara pada halaman 3 disebutkan bahwa kemampuan literasi siswa Aucukup baik, sebagian siswa memahami pelajaran dengan baikAy. Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi kemampuan literasi antar siswa. Gambar 1 Wawancara guru kelas i Kedua, strategi pembelajaran yang digunakan guru cukup beragam dan berfokus pada aktivitas aktif siswa. Strategi yang ditemukan meliputi: Metode read aloud dan praktik langsung membaca, metode inkuiri/discovery learning . iswa menemukan makna bacaan sendir. , pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran, diskusi kelompok untuk meningkatkan pemahaman dan pendekatan individual untuk mengenali gaya belajar siswa dan ini menunjukkan bahwa guru tidak hanya menggunakan satu metode, tetapi mengombinasikan beberapa strategi untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Ketiga, penggunaan media pembelajaran juga menjadi faktor penting. Guru menggunakan media seperti Big Book dan buku bacaan menarik yang sesuai dengan usia dan minat siswa. Selain itu, pemilihan bahan bacaan disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa, seperti cerita pendek dan bacaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 285 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Gamba2 Wawancara dengan guru kelas i Keempat, dalam memfasilitasi siswa dengan kemampuan tinggi, guru memberikan pengayaan berupa bahan bacaan tambahan dan soal HOTS. Hal ini menunjukkan adanya diferensiasi pembelajaran dalam kelas. Kelima, terdapat beberapa kendala dalam pengembangan literasi membaca, antara lain: Rendahnya minat baca siswa, siswa yang malas atau tidak tertarik membaca, keterbatasan sumber bacaan yang menarik Keenam, dukungan orang tua dinilai sangat penting dalam keberhasilan program Guru menyatakan bahwa kerja sama dengan orang tua membantu memantau perkembangan siswa di rumah. Gambar 3 Wawancara dengan guru kelas i Ketujuh, evaluasi kemampuan literasi dilakukan melalui penilaian harian, penggunaan instrumen evaluasi, serta proyek tertentu, sehingga perkembangan Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 286 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan siswa dapat terpantau secara berkala. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam mengembangkan literasi membaca sudah cukup variatif dan terarah, namun masih menghadapi kendala terutama pada motivasi siswa dan ketersediaan bahan bacaan. Diskusi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi guru dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca siswa kelas i SD/MI didominasi oleh pendekatan pembelajaran aktif, pembiasaan, serta penyesuaian dengan karakteristik siswa yang sesuai dengan temuan penelitian sebelumnya bahwa keberhasilan literasi membaca pada jenjang sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dimulai dari adanya pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran yang ditemukan dalam penelitian ini terbukti menjadi strategi yang efektif dalam menumbuhkan minat baca siswa dan sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa kegiatan literasi rutin sebelum pembelajaran mampu meningkatkan tidak hanya minat, tetapi juga konsistensi siswa dalam membaca. Secara teoritis, pembiasaan ini berkontribusi dalam membangun reading habit yang menjadi fondasi utama dalam pengembangan literasi jangka panjang. Dalam konteks penelitian ini, kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai stimulus awal yang mempersiapkan kesiapan kognitif siswa sebelum menerima materi pembelajaran. Selain itu, penggunaan metode read aloud dan diskusi kelompok yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya upaya guru untuk meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dalam memahami teks dan sesuai dengan penelitian Rahmawati yang mengungkapkan bahwa metode read aloud efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman bacaan karena memberikan contoh pelafalan, intonasi, serta membantu siswa dalam mengonstruksi makna teks. Diskusi kelompok juga berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sosial siswa, karena mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menginterpretasikan dan mendiskusikan isi bacaan bersama teman sebaya dan pendekatan individual yang dilakukan guru dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya diferensiasi pembelajaran dengan guru berupaya memahami gaya belajar dan karakteristik masing-masing siswa untuk menentukan strategi yang tepat sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa pendekatan individual mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran karena siswa mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya serta adanya Putra Perdana. I Putu. Dkk. AuStrategi Guru Dalam Pembelajaran Membaca di SD NEGERI 2 SumitaAy. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka. Vol. No. Juli 2025, hal. Fadil. Tamamatunnisa. AuUpaya Mahasiswa Kampus Mengajar dalam Meningkatkan Literasi Siswa Kelas V di Sekolah DasarAy. Jurnal Pengabdian pada Masyarakat 2025. Vol. No. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 287 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan pendekatan personal mampu meningkatkan motivasi siswa yang sebelumnya kurang tertarik membaca menjadi tertarik. Ketersediaan bahan bacaan yang menarik dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa menjadi faktor penting terlihat dari guru cenderung memilih bacaan berupa cerita pendek dan teks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa dan sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa relevansi dan daya tarik bahan bacaan sangat berpengaruh terhadap minat baca siswa. Secara psikologis, siswa akan lebih mudah memahami dan tertarik pada teks yang memiliki keterkaitan dengan pengalaman mereka, sehingga proses membaca menjadi lebih bermakna . eaningful learnin. Di sisi lain, keterlibatan orang tua juga ditemukan sebagai faktor pendukung yang signifikan dalam pengembangan literasi membaca siswa yang menunjukkan bahwa kerja sama antara guru dan orang tua dapat membantu memantau dan memperkuat kebiasaan membaca siswa di rumah. Sebab itulah, lingkungan keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk budaya literasi anak. Dukungan orang tua, seperti menyediakan waktu membaca dan memfasilitasi bahan bacaan dan ini dapat memperkuat intervensi yang dilakukan di sekolah. Kendala utama berupa rendahnya minat baca siswa dan murid kurang termotivasi untuk membaca disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya kebiasaan membaca sejak dini, pengaruh lingkungan, serta dominasi penggunaan teknologi yang tidak diarahkan pada aktivitas literasi dan ini sesuai dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan literasi membaca tidak dapat bergantung pada satu strategi saja, melainkan memerlukan pendekatan yang holistik. Kombinasi antara pembiasaan membaca, penggunaan metode pembelajaran aktif, penyediaan bahan bacaan yang menarik, pendekatan individual, serta dukungan dari orang tua menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa. Dengan demikian, hasil penelitian memberikan implikasi praktis bahwa guru perlu menerapkan strategi yang variatif, adaptif, dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, sinergi antara sekolah dan keluarga juga perlu terus ditingkatkan agar program literasi yang diterapkan dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Dyas Marrena. Oktiana. Dkk. AuAnalisis Metode Membaca Berkelompok Berbantuan Media Cerita Bergambar pada Pemahaman Literasi Peserta Didik Kelas i di SD Negeri Slembaran No. Serengan Surakarta Tahun Pelajaran 2024/2025Ay. Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS). Vol. 4 No. Nur Eka. Elmanora. Dkk. AuAnalisis Hubungan Keterlibatan Orang Tua Dengan Dukungan Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi SiswaAy Proceedings of The Conference on Social. Science. Technology. Language, and Education Research Universitas Negeri Jakarta, 2025. Citra Pratama Sari. AuFaktor-Faktor Penyebab Rendahnya Minat Membaca Siswa Kelas IVAy Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 32, 2025. Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 288 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Simpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi guru dalam mengembangkan kemampuan literasi membaca siswa kelas i SD/MI di MIN 3 Bireuen, dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa secara umum sudah mulai berkembang, namun belum optimal, terutama dalam aspek pemahaman teks yang lebih kompleks dan adanya menunjukkan bahwa siswa masih berada pada tahap transisi dari learning to read menuju reading to learn, sehingga memerlukan pendampingan yang intensif dan strategi pembelajaran yang tepat. Strategi yang diterapkan guru dalam mengembangkan literasi membaca tergolong variatif dan berpusat pada siswa, meliputi pembiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran, penggunaan metode read aloud, membaca terpandu . uided readin. , diskusi kelompok, serta pendekatan individual sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Selain itu, guru juga memanfaatkan media pembelajaran seperti Big Book dan bahan bacaan yang menarik serta relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Strategi ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan membaca serta membantu mereka memahami isi bacaan secara lebih Dalam pelaksanaannya, guru juga menerapkan prinsip diferensiasi pembelajaran dengan memberikan pengayaan kepada siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, serta bimbingan khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan membaca. Evaluasi kemampuan literasi dilakukan secara berkelanjutan melalui penilaian harian, penggunaan instrumen evaluasi, serta tugas atau proyek tertentu, sehingga perkembangan siswa dapat terpantau secara sistematis. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala utama, yaitu rendahnya minat baca siswa, kurangnya motivasi intrinsik, serta keterbatasan bahan bacaan yang menarik dan sesuai dengan usia siswa. Selain itu, pelaksanaan program literasi sekolah belum sepenuhnya optimal, sehingga perlu adanya penguatan dari pihak sekolah dalam menyediakan fasilitas dan mendukung kegiatan literasi secara Di sisi lain, faktor pendukung yang cukup signifikan dalam keberhasilan pengembangan literasi membaca adalah peran guru yang aktif sebagai fasilitator dan motivator, serta dukungan orang tua dalam membiasakan kegiatan membaca di Sinergi antara sekolah dan keluarga terbukti menjadi faktor penting dalam membangun budaya literasi siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pengembangan kemampuan literasi membaca siswa tidak hanya ditentukan oleh satu strategi pembelajaran, tetapi merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, yaitu strategi pembelajaran yang variatif dan inovatif, ketersediaan bahan bacaan yang menarik, lingkungan belajar yang mendukung, serta keterlibatan orang tua. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang berkelanjutan dan kolaboratif Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol. No. 1, 2026 | 289 Diniel Haq Strategi Guru dalam Mengembangkan Kemampuan antara guru, sekolah, dan orang tua untuk menciptakan ekosistem literasi yang efektif dan berkesinambungan. Daftar Pustaka