Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb PEMBUATAN TEH HERBAL DARI DAUN KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ) Lola Tolak Rerung1. Politeknik Tiara Bunda email: lolatolakrerung@gmail. Riwayat Artikel: Diterima: 2 Januari 2025, direvisi: 26 Januari 2025, dipublikasi: 28 Februari 2025 ABSTRACT Tea is one drink that is liked and consumed by people all over the world, containing tannin which is believed to be a refreshing and healthy drink. To make oil palm herbal tea, and know the quality standards bioactive components. Palm leaves are separated from the lid, washed thoroughly, drained, cut A 1 cm. Furthermore, it is placed on a rack and allowed to wither for 14 to 24 hours, then the leaves are blended and oxidized. Then put it in a cool and humid place, for the fermentation Furthermore, it is dried in a drying cabinet with a temperature variation of 50 A C, 90 A C and 110 A C with successive times . , 130, and 150 minute. then a quality standard test, and screening of herbal tea powder. Quality standard test of oil palm herbal tea smell, taste and color of distinctive brewing water of tea products, cadmium metal contamination . and lead . , arsenic contamination (<0. , microbial contamination with total plate 72 y107, water content in a row . 92%), extract content in water . 76%), total ash content . 26%), water soluble ash content from total ash . 09%), acid insoluble ash content . 17%). Herbal tea powder screening results were positive for triterpenes/steroids, alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and glycosides. The results of flavonoid test results from fresh leaves of palm oil, powder before drying, herbal tea with drying temperature variations of 50AC, 90A C and 110AC with successive times . , 130, 150 minute. , namely . 99 mg / . Oil palm leaf herbal tea can be made as an herbal tea and variationsin drying temperature can affect the quality of the oil palm leaf herbal Keyword: herbal tea (Elaeis guineensis Jac. , herbal tea powder screening,temperature variations ABSTRAK Teh merupakan salah satu minuman yang banyak disukai dan dikonsumsi masyarakat di seluruh dunia, mengandung tanin yang dipercaya sebagai minuman penyegar dan menyehatkan. Untuk membuat teh herbal daun kelapa sawit, dan mengetahui standar mutu serta komponen bioaktif. Daun kelapa sawit dipisahkan dari lidinya, dicuci sampai bersih, ditiriskan, di potong A 1 cm. Selanjutnya diletakkan di rak dan dibiarkan layu selama 14 sampai 24 jam, kemudian daun diblender dan dilakukan proses oksidasi. Kemudian diletakkan di tempat dingin dan lembab, untuk proses fermentasi. Selanjutnya dikeringkan di lemari pengering dengan variasi suhu 50AC, 90AC dan 110AC dengan waktu berturut-turut . , 130, dan 150 meni. kemudian dilakukan uji standar mutu, dan skrining serbuk teh herbal. Hasil: Uji standar mutu dari daun teh herbal kelapa sawit bau, rasa dan warna dari air seduhan khas produk teh, cemaran logam kadmium . ,303pp. dan timbal . ,149pp. , cemaran arsen (<0,0004pp. , cemaran mikroba angka lempeng total 11,72 y107, kadar air secara berurut-turut . ,18. 5,88. 3,92%), kadar ekstrak larut dalam air . ,6. 5,96. 5,76%), kadar abu total . ,3. 4,91. 5,26%), kadar abu larut dalam air dari abu total . ,62. 7,88. 10,09%), kadar abu tak larut dalam asam . ,75. 0,93. 1,17%). Hasil skrining serbuk teh herbal positif terhadap triterpen/steroid, alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan glikosida. Hasil uji kadar flavonoid dari daun segar kelapa sawit, serbuk sebelum pengeringan, teh herbal dengan variasi suhu pengeringan yaitu 50AC,90AC dan 110AC dengan waktu berturut-turut . , 130, dan 150 meni. ,13. 265,678. 175,14. 161,28. 176,99 mg/. Teh herbal daun kelapa sawit dapat dijadikan sebagai teh herbal dan variasi suhu pengeringan dapat mempengaruhi kualitas teh herbal daun kelapa sawit. Kata Kunci: teh herbal (Elaeis guineensis Jac. , skrining serbuk teh herbal, variasi suhu. Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb Pendahuluan Teh pengolahan yang berasal dari bunga, biji, daun, kulit dan akar dari tanaman selain tamanan teh (Camellia sinensi. Ravikumar . , menyatakan teh herbal umumnya campuran dari beberapa bahan yaitu daun kering, biji, kayu, buah, bunga dan tanaman lain yang memiliki manfaat. Pada dasarnya, proses pengolahan teh herbal hampir sama dengan teh pada umumnya, begitupula dalam cara penyajiannya. Teh herbal dapat dikonsumsi sebagai minuman sehat yang praktis tanpa mengganggu rutinitas seharihari dan tetapmenjaga kesehatan tubuh. Teh herbal yang dibuat diharapkan dapat meningkatkan cita rasa dari tiap bahan yang digunakan tanpa mengurangi khasiatnya serta dapat dinikmati setiap waktu. Beberapa teh herbal yang saat ini telah dikenal oleh masyarakat seperti teh daun kakao,daun pacar air, daun salam, kembang sepatu, bunga krisan, rosmarin dan teh daun pokat (Hambali dkk. , 2. Produk teh herbal yang tersedia dalam kemasan kaleng, kantong teh, atau teh herbal siap minum dalam kemasan kotak (Aljupri, 2. Di Indonesia teh umumnya diolah dengan mengacu pada teknik pembuatanteh hijau, karena belum memiliki standar atau teknik tersendiri. Pengolahan teh hijau melalui beberapa tahap yaitu: proses pelayuan, penggulungan, penggilingan, dan fermentasi . eaksi oksidasi enzimati. serta pengeringan (Damayanti, 2003. Witchtl. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah kadar air, karena faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap daya tahan bahan olahan. Makin rendah kadar air yang dihasilkan makin lambat pertumbuhan organisme dan bahan pangan dapat tahan lama (Winarno, 1. Salah satu tanaman yang dibuat menjadi teh herbal adalah daun kelapa sawit karena memiliki banyak manfaat yaitu berfungsi sebagai antioksidan (Yin dkk. Vijayaratha dkk. , 2. dan juga sebagai antimikroba (Yusof dkk. , 2. antihipertensi (Jaffri dkk. , 2. , antidiabetes (Rajavel dkk. , 2. Daun kelapa sawit mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu: alkaloid, flavonoid, saponin, glikosida, triterpenoid/steroid, dan tanin (Sreenivasan BateAoe 2013. Yin dkk. , 2013. Hasibuan Tujuan penelitian adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui daun kelapa sawit dapat dibuat menjadi teh herbal dan Untuk mengetahui variasi suhu dan waktu pengeringan mempengaruhi standar mutu teh herbal daun kelapa sawit. Manfaat dari penelitian ini, adalah sebagai sumber informasi bahwa daun kelapa sawit dapat dibuat menjadi teh herbal, pengeringan terhadap standar mutu teh herbal, perbedaan kadar total flavonoid dari daun kelapa sawit. Metode Penelitian Metode penelitian adalah metode eksperimental, meliputi pengumpulan dan penyiapan bahan tumbuhan, pembuatan teh herbal, uji persyaratan mutu teh, skrining fitokimia teh dan pengujian total flavonoid, fenol, tanin dan katekin(SNI 3836:2. Alat dan Bahan Alat-alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah. Spektrofotometer Serapan Atom, alat-alat gelas laboratorium, lemari pengering, timbangan analitik(Mettler Tolledo. ,oven listrik (Memmer. ,mikroskop (Boec. ,blender (Phillip. , tanur(Naberrtther. ,d 1`esikator, penangas air,seperangkat alat penetapan kadar air,kantong teh. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: daun kelapa sawit (Elaeis guineensisJac. Bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakanlain berkualitas pro analisis adalah,asam asetat anhidrida, asam klorida, asam nitrat,asam sulfat, besi . klorida,etanol 96%, iodium, kalium iodida, kloroform- isopropanol,metanol, natrium hidroksida, n-heksan, perak nitrat, raksa (II) klorida, serbuk magnesium, timbal (II) asetat, toluene,akuades. Pembuatan Teh Herbal Rancangan pembuatan bahan baku teh herbal dilakukan menurut Rukmana dan Yudirachman . Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb Pembuatan Bahan Baku Teh Herbal pada mesin pengering. Ketebalan hamparan dikendalikan dengan menggunakan spreader yang berada didalam mesin pengering dan untuk standar waktu pengeringan yang ideal A 25 menit. Selain itu kadar air bubuk teh yang dihasilkan harus diperhatikan yaitu sekitar antara 3-3,5% agar daya simpan bubuk teh jamur(Rukmana dan Yudirachman, 2. Pada proses pengolahan tahap awal daun kelapa sawit yang sudah dipisahkan dari lidinya, dikumpulkan, dicuci di bawah air mengalir,ditiriskan, di potong menjadi bagian yang lebih kecil (A)1 cm. Daun Kelapa Sawit selanjutnya dikeringkan di lemari pengering hingga kering, disimpan dalam wadah plastik yang tertutup rapat. Skrining Fitokimia Simplisia Pelayuan Bahan yang telah dipotong diletakkan Skirining fitokimia dilakukan untuk di rak dan dibiarkan layu selama 14 sampai 24 jam, kemudian daun digulung dan flavonoida,alkaloida, dipelintir untuk melepaskan enzim alami glikosida,saponin, . roses oksidas. , kemudian daun diblender. triterpenoida/steroida. Proses Fermentasi Setelah proses penggilingan, daun 3. 1 Pemeriksaan flavonoid. kelapa sawit siap untuk proses oksidasi. Sebanyak 10 g serbuk teh herbal Serbuk bubuk teh herbal daun kelapa sawit sawit ditambah air panas diletakkan di tempat dingin dan lembab, selama 5 menit dan kemudian proses fermentasi berlangsung Kedalam filtrat ditambahkan 0,1 dengan adanyaproses oksidasi dan enzim 1 ml asam klorida yang berada dalam tumbuhan tersebut. pekat, dan 1 ml amil alkohol, dikocok dan Fermentasi dibiarkan memisah. Flavonoid positif ditandai merupakan proses oksidasi senyawa dengan munculnya warna merah kekuningan, polifenol dengan bantuan enzim polifenol atau jingga pada lapisan amil alkohol Agar oksidasi berlangsung dengan (Farnsworth, 1. baik dan lancar, diadakan pengaturan sebagai berikut:suhu ruangan fermentasi 3. 2 Pemeriksaan Alkaloid yang optimum 26,7AC, bubuk teh disimpan Serbuk teh herbal daun kelapa sawit aluminium,dengan tebal hamparan 5 sampai ditimbang sebanyak0,5 gkemudian 7 cm, kelembaban relatif di atas 90%, dan ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 lama fermentasi 80-90 menit. Selama proses ml air suling, dipanaskan di ataspenangas fermentasi dihasilkan substansitheaflavin dan air selama 2 menit, didinginkan dan disaring Substansi tersebut akan filtrat yang diperoleh menentukan sifat warna, rasa dan aroma dipakai untuk uji alkaloid : diambil 3 tabung seduhannya(Rukmana reaksi, lalu ke dalamnya dimasukkan Yudirachman, 2. Pengeringan Pengendalian pengeringan meliputi pengawasan pada kadar air, suhu masuk dan keluar, waktu pengeringan dan tebal hamparan bubuk yang dikeringkan. Suhu pengeringan serbuk teh herbal daun sawit dilakukan dalam 3 variasi suhu, yaitu suhu 50AC dengan waktu 110 menit, suhu 90AC dengan waktu 130 menit. Suhu 110ACdengan waktu 150 menityang secara otomatis dikendalikan dengan alat thermostat 5 ml filtrat. Pada masing-masing tabung Ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer Ditambahkan 2 tetes pereksi Bouchardat Ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff Alkaloida positif jika terjadi endapan atau kekeruhan padapaling sedikit dua dari tiga percobaan di atas (Depkes RI. Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb Pemeriksaan Saponin Uji Persyaratan Mutu Teh (SNI 3836:2. Serbuk teh herbal daun kelapa sawit ditimbang sebanyak 0,5 g dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan, kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2N menunjukkan adanya saponin (Depkes RI. Pemeriksaan Tanin Keadaan Air Seduhan Sebanyak 0,5 g serbuk teh herbal daun kelapa sawit ditimbang, disari dengan 10 ml air suling selama 15 menit lalu disaring. Filtrat diencerkan dengan air suling sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan1-2 tetes larutan pereaksi besi . klorida 1%. Apabila terjadi warna biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth,1. Pemeriksaan Glikosida Sebanyak 3 gserbukteh herbal daun kelapa sawit ditimbang, disari dengan 30 ml campuran dari 7 bagian etanol 95% dan 3 bagian air suling, ditambahkan dengan asam klorida 2N hingga pH larutan 2, direfluks selama 10 menit, didinginkan dan disaring. Pada 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml air dan 25 ml timbal . asetat 0,4 M dikocok dan didiamkan selama 5 menit, lalu disaring. Filtrat diekstraksi dengan 20 ml campuran 3 bagian kloroform dan 2 bagian isopropanol, ini dilakukan sebanyak tiga kali. Kumpulkan sari air diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 500C, sisanya dilarutkan dalam 2 ml Larutan ini digunakan untuk percobaan berikut: larutan sisa dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diuapkan di atas penangas air, sisanya ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi molisch kemudian ditambahkan hati-hati 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Jika terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya gula (Depkes RI,1. Ditimbang 5,6 g serbuk teh herbal daun sawit porselen, kemudiantuangkan air suling mendidih sebanyak280 ml,tutup dan biarkan 6 menit, saring seduhan teh dan usahakan ampas seduhan tidak terikut, lakukan pengamatan terhadap warna, bau dan rasa air seduhan dengan kriteria penilaian sebagai . Warna : meliputi jenis warna dan sifat hidup air Bau : meliputi bau khas teh dan bau penyedap yang sengaja di tambahkan serta ada tidaknya bau asing bukan teh maupun bukan bau penyedap yang sengaja Rasa : meliputi kekuatan rasa dan ada tidaknya rasa asing, kekuatan rasa adalah kombinasi rasa yang membentuk rasa khas teh dan kekuatan rasa penyedap yang sengaja ditambahkan, rasa asing adalah rasa yang menyimpang dari rasa khas teh maupun rasa penyedap yang ditambahkan. Kadar Air Penetapan kadar air dilakukan dengan metode azeotropi . estilasi toluen. Penjenuhan Sebanyak 200 ml toluena dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, lalu didestilasi selama 2 jam. Toluena dibiarkan mendingin selama 30 menit dan dibaca volume air pada tabung penerima dengan ketelitian 0,05 ml. Penetapan kadar air Dimasukkan 5 g serbuk teh herbal daun kelapa sawit dalam labu alas bulat, labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluena mendidih, kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan tetesan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi. Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb bagian dalam pendingin dibilas dengan Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluena memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen (Depkes RI,1. Menurut Robinson . senyawa tanin membentuk senyawa kompleks dengan larutan ferriklorida (FeCl. menghasilkan warna hitam biru sampai hijau yang menunjukkan adanya fenol. Terbentuknya buih atau busa ketika dikocok kuatselama 10 detik dan tidak hilang saat penambahan HCl menyatakan positif saponin. Peningkatan jumlah gugus hidroksil/ bebas akan warna biru kehitaman. Penambahan Lieberman-Bouchardat memberikan warna ungu menunjukkan adanya senyawa triterpenoid. Berdasarkan hasil skrining fitokimiadiatas, menunjukkan bahwa daun kelapa sawit mengandung hampir semuametabolit sekunder. Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan Terhadap Standar Mutu TehHerbal Daun Kelapa Sawit Menurut (SNI 3836:2. untuk melihat kriteria uji pada keadaan air seduhan . memiliki kriteria yaitu nilai 5, apabila air seduhan berwarna hijau kekuningan sampai merah kecoklatan dan sangat hidup. apabila air seduhan berwarna hijau kekuningan sampai merah kecoklatan dan nilai 3 apabila air seduhan berwarna hijau kekuningan sampai merah kecoklatan dan agak suram. nilai 2 apabila air seduhan berwarna hijau kekuningan sampai merah kecoklatan dan suram. nilai 1 apabila air seduhan berwarna hijau kekuningan sampai merah kecoklatan dan sangat suram. Dari hasil uji mutu warna seduhan teh herbal daun kelapa sawit diperoleh warna seduhan yang sama dari semua variasi suhu dan waktu pengeringan yaitu berwarna hijau kekuningan dan hidup . Kriteria bau air seduhan yaitu: nilai 5, apabila bau sangat memuaskan. nilai 4, apabila bau memuaskan. nilai 3, apabila bau sedang. nilai 2, apabila bau kurang memuaskan. nilai 1, apabila bau tidak Dari hasil uji mutu bau air seduhan teh herbal daun kelapa sawit diperoleh bau memuaskan . yang sama dari semua variasi suhu dan waktu Kriteria rasa air seduhan yaitu : nilai 45-49, apabila rasa amat memuaskan sampai amat sangat memuaskan. nilai 39-43, apabila rasa agak memuaskan sampai memuaskan. nilai 33-37, apabila rasa sedang. nilai 27-31, apabila rasa tidak memuaskan sampai agak tidak memuaskan. nilai 21-25, apabila rasa sangat tidak memuaskan sampai amat tidak Dari hasil uji mutu rasa air seduhan teh herbal daun kelapa sawit diperoleh rasa sedang . terhadap suhu 50AC dan rasa memuaskan . ilai 39-. dari suhu 90AC dan 110AC. Hasil analisis pengaruh suhu dan waktu terhadap keadaan air seduhan teh herbal daun kelapa sawit dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. 2 Hasil analisis pengaruh suhu dan waktu terhadap keadaan air seduhan teh herbal daun kelapa sawit Variasi suhu dan waktu pengeringan berturut-turut . , 130, 150meni. Kriteria Uji Persyaratan 50AC Keadaan Warna air Khas produk Seduhan Seduhan Seduhan Bau Khas produk Bau Bau Bau Rasa Khas produk Rasa sedang Rasa Rasa Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan Terhadap Kadar Air Hasil menunjukkan bahwa secara berturutAeturut yaitu 7,18%, 5,88%, 3,92%, dengan standar deviasi 2,99. 1,96. 1,96, dan menunjukkan bahwa kadar air teh herbal daun kelapa sawit tertinggi berada yaitu pada suhu 50AC dengan waktu 110 menityaitu 7,18% dan kadar air teh herbal terendahberada pada suhu110AC dengan waktu150 menit yaitu Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb 3,92%. Bimantara . , menyebutkan bahwa aktivitas kadar air yang rendah disebabkan oleh suhu pemanasan yang tinggi dan aktifitas kadar air yang tinggi disebabkan oleh suhu pemanasan yang Kadar Air dapat dilihatpada Gambar Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan Terhadap Kadar Ekstrak Dalam Air pengeringan, yaitu pada daun kelapa sawit segar yaitu 347,13 mg/100g, serbuk sebelum pengeringan 265,678 mg/100 dan setelah variasi suhu dan waktu pengeringan yaitu: serbuk teh dengan pengeringaan50AC waktu 110 menit 175,14 mg/100g, 90AC waktu 130 menit yaitu 161,28 mg/100g, 110AC waktu 150 menit yaitu 176,99 mg/100g. Saran Hasil pemeriksaan kadar ekstrak dalam air menunjukkan bahwa secara berturut Ae turut yaitu 5,96%, 8,6%, 5,76%, dengan standar deviasi 0,59,0,51. 0,42 dan menunjukkan bahwa kadar ekstrak dalam airherbal tertinggi pada suhu 110AC dengan waktu 150 menit yaitu 5,76% dankadar ekstrak dalam air teh herbal terendah pada suhu pada suhu 50AC dengan waktu 110 menitmenurun yaitu 5,96%. Kadar Ekstrak dalam air dapat dilihat pada gambar 4. Pengaruh Suhu Dan Waktu Terhadap Kadar ekstrak dalam air Berdasarkan Gambar 4. menunjukkan adanya perbedaan kadar dalam air pada setiap suhu dan waktu pengeringan, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu dan lama waktu pengeringan akan semakin kecil pula nilai kadar ekstrak dalam airnya. Bimantara . , menyebutkan bahwa ktivitas Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapatdisimpulkan: Daun kelapa sawit (Elais guineensis Jac. dapat dibuat menjadi teh herbal. Variasi suhu dan waktu pengeringan mempengaruhi standar mutu teh herbal kelapa sawit yaitu kadar air secara berurutturut . ,18. 5,88. 3,92%), kadar ekstrak dalam air . ,66. 5,96. 5,76%), kadar abu total . ,32. 4,91. 5,26%), kadar abu larut dalam air dari abu total . ,62. 7,88. 10,09%), kadarabu tak larut dalam asam . ,75. 0,93. 1,17%). Memiliki perbedaan kadar senyawa flavonoid setelah variasi suhu dan waktu Berdasarkan kesimpulan, maka penulis menyarankanuntuk memperbaiki proses pembuatan teh herbal dari daun kelapa sawit. DAFTAR PUSTAKA Adri. Hersoelistyorini. Aktivitas Antioksidan dan Sifat Organoleptik Teh Daun Sirsak (Annona muricata Linn. Berdassarkan Variasi Lama Pengeringan. Universitas Muhammadiyah Semarang. Semarang Agus. Luh P. Gusti A. Pengaruh Suhu Pengeringan Ukuran Potongan Terhadap Karakteristik Teh Kulit Lidah Buaya(Aloe barbadensis Millee. Universitas Udayana. Bali Aljupri. Tanaman Herbal. Sahala Adidayatama. Jakarta. Halaman 97 Badan Standarisasi Nasional. Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3751-2000 /Re. Jakarta: Departemen Perindustrian. BateAoe. Karakterisasi dan Isolasi Senyawa Triterpenoid/Steroid Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Bimantara F. ModifikasidanPengujian Alat Pengasapan Ikan Sistem Kabinet. Inderalaya: Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. [Skrips. Cabrera. Artacho. & Gimenez. Beneficial Effects of Green TeaA Review. Journal of The American College of Nutrition, 25. , pp. Chang,C. Yang. Wen. Chern, , 2002. Estimation of total flavonoid complementary colorimetric methods. Food Drug Ana. 10:178-182. Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb Chanwitheesuk. Teerawutgulrag A. Rakariyatham Screening AntioxidantActivity and Antioxidant Compounds of Some Edible Plants of Thailand. Food Chemistry. Damayanti Childhood obesity:evaluation and management. ISSN123- 37 Depkes RI. Materia Medika Indonesia. Jilid Jakarta:Direktorat JenderalPengawasan Obat Dan Makanan. Halaman 194-197, 513-520, 536, 539-540,549-552. Depkes RI. Materi Medika Indonesia. Jilid VI. Cetakan Keenam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan makanan RI. Halaman 247-251, 297-304, 321-325. Duke. Medicinal Plants Of Latin America. NewYork: CRCPress. Dwi. Pengaruh Suhu dan Lama Pengeringan Terhadap Karakteristik Herbal Daun Katuk (Sauropus adrogynus L. Mer. Universitas Pasundan. Bandung Effendi. Teknologi Pengolahan Pengawetan Pangan. Alfabeta. Bandung. Fansworth. Biological and Phytochemical Screening of Plants. Journal of Pharmaceutical Sciences. : 264. Faucher. Jackson. , dan Cassidy. Cyberbullying among University Students: Gendered Experiences. Impacts, and Perspectives. Hindawi Publishing Corporation Education Research International. Fitrayana. Pengaruh Lama dan Suhu Pengeringan Terhadap KarakteristikTeh Herbal Pare (Momordica L). UniversitasPasundan. Bandung Ghani. Dasar-dasar Budi Daya Teh. Penebar Swadaya. Depok. Halaman 2 Hambali. Nasution dan E. Herliana. Membuat Aneka Herbal Tea. Penebar Swadaya. Jakarta. Han dan May. Determination of Antioxidants in Oil Palm Leaves (Elaeis Persiaran Institute. Malaysia Harborne. Phytochemical Methods: A Guide to Modern Technique of Plant Analysis. nd Chapman and Hall. London. Pp. 37Ae168 Hartoyo. Arif. Teh Dan Khasiatnya Bagi Kesehatan. Sebuah Tinjauan Ilmiah. Yogyakarta : KANISUIS (Anggota IKAPI). Hasibuan. Skrining Fitokimia dan Uji Efektivitas Sediaan Gel EkstrakEtanol Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. )Terhadap Penyembuhan Luka Sayat. Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Heyne. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta:Badan Litbang KehutananHalaman 465. Jaffri. Suhaila. Rohimi. Intan. Ahmad. Musthapa. , danYazid. Antihypertensive and Cardiovascular Effects ofCatechin-Rich Oil Palm (Elaeis guineensi. Leaf Extract in Nitric OxideDeficient Rats. Journal Of Medicinal Food. : 775783. Jamal MaAomur. Tips Menjadi Guru Inspiratif, kreatif, dan Inovatif. Jogjakarta: DIVA Press. Juneja. Okubo. , dan Hung. Catechins. Natural Food Antimikrobial Systems. CRC Press. London. Kencana. Pengaruh suhu dan karakteristikteh herbal daun katuk (Sauropus adrogynus L. Mer. Skripsi. Fakultas Teknologi Pangan. Universitas Pasundan. Bandung. Lubis. Adlin. Kelapa Sawit (Elais guineensis Jac. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. Halaman 10 Malik. Ahmad. Determination of phenolic and flavonoid contents of ethanolic extract of kanunang leaves (Cordia myxa L. International Journal of PharmTech Research, 7. , 243-246 Merck Index. An Encyclopedia of Chemicals. Drugs, and Biologicals. Merck Co. Inc. USA Mursito. Ramuan Tradisional untuk Melangsingkan Tubuh. Penebar Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 9-16 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb Swadaya. Jakarta. Pahan. Iyung. Panduan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Untuk Praktisi Perkebunan. Penebar Swadaya,Jakarta. Halaman 6-8 Pato. dan Yusmarini. Teknologi Pengolahan Hasil Tanaman Pangan. Unripress. Pekanbaru Rajavel. Sivakumar. Jagadeeswaran, dan Malliaga, 2007. Evaluation of Analgesic and Antiinflammatory Activities of Oscillatoria willei in Experimental Animal Models. Journal of medicinal plant research,Vol. July,2009,Hal. Ravikumar. Review on herbal teas. Journal of Pharmaceutical Sciences and Research. : 236Ae238. Ray Fundamental Food Microbiology. 2nd Edition. CRC Press. USA. Rukmana dan Yudirachman. Untung Selangit dari Agribisnis Teh. Lyli Publisher,Yogyakarta. Halaman 12-38. Shewfelt. RL. Pengantar Ilmu Pangan. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Siringoringo. AyStudi Pembuatan Teh Daun KopiAy. Skripsi. Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian USU Medan. SNI 3836:2013. Standar Mutu Teh Kering. Dewan StandarisasiNasional Sumpio BE. Cordova AC. Berke DW. Qin F. Chen QH . Green Tea, the AuAsian Paradox,Ayand Cardiovascular Disease. Journal of The American College of Surgeon, 202. : 813-825. Syahmi. Vijayarathna. Sasidharan. Latha. L,Y. Kwan. Y,P. Lau. Y,L. Shin. L,N. Chen. Acute Oral Toxicity and Brine Shrimp Lethality of Elaeis guineensis Jacq. ( Oil Palm Lea. Methanol Extract. Molucules 15: 8111 Ae 8121. Sreenivasan. Rajoo N. Rathinam X. Latha Y,L. , dan Rajoo A. Wound Healing Potential of Elaeis guineensis Jacq Leaves in an Infected Albino Rat Model. Molecules. : 3186 Ae 3199. Sunyoto. Agus. Manajemen Sumber Daya Manusia. Badan Penerbit IPWI. Jakarta Vijayarathna. Jothy. S,L. Ping. K,Y. Lathna. L,Y. Othman. , and Sasidharan. Invitro Antioxidant Activity and Hepatoprotective 44 Potensial OfElaeis guineensis Leaf Against Paracetamol Induced Damage in Mice. International Journal of Chemical Engineering and Application. : 293 Ae 296. Winarsi. Hery. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta: Kanisius Winarno. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gedia Pustaka