CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN POLA ASUH IBU TERHADAP KEBERHASILAN TOILET TRAINING PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI DESA WISATA SADE Nanda Nur Pradhita Putri1. Yolly Dahlia2. Sulatun Hidayati3. Sukandriani Utami4 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram email: nandapradita21@gmail. Received: 28-02-2023. Received:09-05-2023. Accepted: 16-06-2023 ABSTRACT Toilet training in children is defined as training efforts with the help of toilets for (BAB) and urination (BAK) independently. The problem that often occurs is that many children fail in toilet training. This is influenced by the level of knowledge and patterns of the mother. This study aims to determine the relationship between knowledge level and mother's upbringing on the success of toilet training in pre-school aged children in Sade Tourism Village. This study used a cross sectional design. The population and sample of this study are 98 mothers who have preschool-age children in Sade Tourism Village. The sampling method is total Data collection techniques using a questionnaire. The data obtained were analyzed using SPSS Version 22with statistical tests using the Chi-Square method. The significance value limit is . -value <0. The results of the analysis show a significant relationship between the level of knowledge and the success of toilet training p-value = 000 and parenting style p-value = 0. In conclusion, there is a significant relationship between the level of knowledge and mother's upbringing to the success of toilet training at preschool age in Sade Tourism Village. Keywords: parenting style, knowledge level, toilet training ABSTRAK Toilet training pada anak didefinisikan suatu usaha pelatihan dengan bantuan toilet untuk (BAB) dan buang air kecil (BAK) secara mandiri. Permasalahan yang sering terjadi masih banyak anak yang gagal dalam pelaksanaan toilet training. Hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan pola ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Pola Asuh Ibu Terhadap Keberhasilan Toilet Training Pada Anak Usia Pra-sekolah di Desa Wisata Sade. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini yaitu 98 ibu yang memiliki anak usia prasekolah di Desa Wisata Sade. Metode pengambilan sampel adalah total sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan Kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan SPSS Versi 22 dengan uji statistik menggunakan metodi Chi-Square. Batas nilai signifikasi adalah . -value < 0,. Hasil analisis menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap keberhastilan toilet training p-value = 0,000 dan pola asuh p-value = 0,002. Kesimpulannya. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan pola asuh ibu terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah di Desa Wisata Sade. Kata Kunci : pola asuh, tingkat pengetahuan, toilet training E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 120 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj PENDAHULUAN Toilet training pada anak didefinisikan suatu usaha pelatihan dengan bantuan toilet untuk (BAB) dan buang air kecil (BAK) secara (Handayani, 2. Pelaksanaan toilet training dimasyarakat masih terbilang cukup buruk. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya orang tua yang tidak peduli dan terlihat abai dengan pelaksanaan toilet training, karena mereka belum terlalu sadar pentingnya pelaksanaan toilet training. Permasalahan yang sering terjadi pada saat pelaksanaan toilet training yaitu anak tidak mau untuk BAB dan BAK sendiri ke dalam toilet, hal ini disebabkan karena pengetahuan ibu yang masih kurang tentang pelaksanaan toilet training. Selain itu terdapat beberapa anak ketika BAB dan BAK tidak sesuai tempatnya sehingga menjadi penyebab sering terjadinya Enuresis pada anak dan terdapat juga ibu yang gagal dalam pelaksanaan toilet training karena kesalahan pola asuh ibu dalam pengasuhan anak (Kurniawati, 2. Kegagalan toilet training juga akan menimbulkan hal-hal yang buruk pada anak di masa mendatang seperti anak tidak disiplin, manja, bersikap egois. keras kepala , kikir, cenderung cerohoh dan yang terpenting adalah anak akan mengalami masalah psikologi (Ningsih, 2. Data WHO (Word Health Organizatio. didapatkan 5-7 juta anak di dunia dengan keluhan enuresis nokturnal dan sekitar 15%-25% terjadi pada usia <5 tahun. Pada data ASEAN terdapat sekitar 2 juta anak dengan keluhan yang sama yaitu enuresis yang terjadi pada usia sekitar 2-4 tahun. Kemudian terdapat juga 15% anak dengan keluahan enuresis diusia 5 tahun dan sekitar 1,3% anak laki-laki serta 0,3% untuk anak perempuan di Singapura. Di Inggris juga terdapat anak yang sembarangan pada saat BAK dan BAB pada usia 7 tahun , dimana hal ini disebabakan karena kegagalan toilet training (Rahayu, 2. Menurut data Kementrian Kesehatan RI . di Indonesia diperkirakan jumlah anak balita 0-4 tahun 583 jiwa. Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional. VOL. 01 NO. JUNI diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan BAK diusia sampai prasekolah mencapai 75 juta anak. Pada tahun 2014 anak usia toddler . -3 tahu. sebanyak 123 anak. Anak yang berhasil menjalankan toilet training 25% dan 75% gagal dalam menjalankan toilet training. pada anak usia pra sekolah . -5 tahu. berhasil menjalankan toilet training 40% dan 60% gagal melakukan toilet Fenomena ini dipicu karna banyak hal, misal nya pengetahuan ibu yang kurang tentang cara melatih BAB dan BAK, pola asuh ibu yang salah , pemakaian popok sekali pakai, hadirnya saudara baru dan lain-lain (Handayani, 2. Dalam melakukan toilet training, pengetahuan ibu merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuk nya perilaku ibu. Tinggi atau rendah nya pengetahuan ibu tentang toilet training juga berhubungan dengan terpaparnya ibu oleh informasi. Tingkat pengetahuan yang kurang mengenai penerapan toilet training dapat mempengaruhi sikap ibu dalam melaksanakan penerapan toilet Sehingga diperlukan penanganan dari berbagai pihak terutama petugas kesehatan secara menyeluruh terutama dalam hal peningkatan pengetahuan dan pemahaman akan pentingnya pelaksanaan toilet training pada anak usia toddler. Pola asuh ibu merupakan cara ibu mendorong anaknya untuk mencapai hasil yang di inginkan. Penerapan pola asuh ibu yang tepat di harapkan mampu membentuk kararkter seorang anak menajdi pribadi yang baik, penuh semangat dalam melakukan kegiatan belajar dan juga peningkatan prestasi anak seiring pertumbuhan dan perkembangan yang dialami (Manihuruk, 2. Dari hasil survei pendahuluan yang peneliti,banyak mengatakan bahwa anaknya masih buang air kecil di sembarang tempat. Peneliti juga menemukan beberapa anak jika ingin BAB dan BAK harus dituntun oleh ibu guru ke toilet dan bahkan ada juga anak yang memberitahukan ibu gurunya terlebih dahulu karena merasa malu sehingga pada saat BAB dan BAK dilakukan ditempat. Terdapat juga E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 121 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj ibu yang mengatakan masih belum paham bagaimana cara pengajaran toilet training pada anak dan kesulitan mengatur anak saat BAB dan BAK. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu dan pola asuh yang berbeda-beda. Berdasarkan dengan kondisi dan data yang sudah di jabarkan di atas peneliti ingin meneliti apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan pola asuh ibu terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah di Desa Wisata Sade METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dekriptif dan analitik observasional dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional study bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor tertentu dan penyakit atau masalah Kesehatan. Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Wisata Sade. Kecamatan Pujut. Lombok Tengah pada tanggal 05 November 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia prasekolah di Desa Wisata Sade yang berjumlah 98 orang anak. Sampel penelitian ini seluruh ibu yang memiliki anak usia prasekolah di Desa Wisata Sade yang memenuhi kriteria penelitian. Besar sampel pada penelitian ini yaitu 98 anak. Metode pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tehnik total sampling . Data yang terkumpul akan diolah dan dianalisis dengan komputer software yaitu komputer Software Statistical Package for The Social Sciences (SPSS). Pada penelitian ini dilakukan 2 analisis yaitu analisis univariat dan bivariat. Dalam analisis ini uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square. Dalam penelitian ini Confidence Interval dengan ketentuan bila. P-value < 0. 05 berarti Ho ditolak (P-value O ), uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan P value Ou 0. 05 berarti Ho diterima (P-value Ou ), uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang VOL. 01 NO. JUNI HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Data Karakteristik Responden Karakteristik Responden Pendidikan Terakhir : Tidak sekolah SMP SMA Usia Ibu: emaja akhi. ewasa awa. ewasa akhi. ansia awa. Jenis Kelamin Anak: Laki-laki Perempuan Total Frekuensi Jumlah Persentase . (%) Usia Berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan dari 98 responden. Didapakan sebanyak 7 responden yang tidak sekolah ,31 responden yang bersekolah sampai SD, 25 responden yang bersekolah sampai SMP, 30 responden yang bersekolah sampai SMA ,1 responden sampai D3,4 responden sampai S1. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang memiliki tingkat Pendidikan lebih rendah dibandingkan dengan yang memiliki tingkat Pendidikan yang lebih tinggi. Menurut penelitian (Tyas et al. , 2. Pengetahuan bisa dipengaruhi oleh tingkat Pendidikan akan mempengaruhi proses belajar seseorang sehingga mudah untuk mendapatkan pengetahuan baru. Pendidikan yang dijalani seorang mempunyai E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 122 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj pengaruh terhadap meningkatnya keahlian berpikir, sehingga dapat dikatakan bahwa seorang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi harus bisa mengambil keputusan yang lebih rasional. Faktor pendidikan sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan, ibu berpendidikan rendah memiliki pengetahuan lebih sedikit jika dibandingkan dengan ibu berpendidikan lebih tinggi. Ibu berpendidikan tinggi memiliki pengalaman dan pemahaman yang lebih baik dalam menerima berbagai Ibu yang berpendidikan tinggi memiliki pengetahuan tentang toilet training lebih tinggi dan berhasil menerapkan toilet training pada anaknya dengan benar. Usia Ibu Berdasarkan karakteristik usia dari 98 responden didapatkan prevalensi tertinggi pada rentan usia 26- 35 tahun. Usia 26-35 tahun termasuk ke dalam dewasa awal, yakni masa tenang. Masa tenang merupakan masa ketika seseorang mengalami stabilitas yang lebih besar. Tugas perkembangan masa ini sudah mulai membentuk keluarga, memilih menjadi orang tua dan mengasuh anak karena secara mental ibu sudah siap memiliki anak dan dapat bertanggung jawab (Utami et al. Pada usia ini pula, tingkat berpikir ibu sudah cukup matang sesuai dengan pendapat (Khoiruzzadi & Fajriyah, 2. yang menyatakan bahwa semakin cukup usia seseorang maka tingkat kematangan dalam berpikir lebih matang. Hal ini dapat diasumsikan bahwa ibu dapat menerima informasi terkait toilet training dengan baik dikarenakan usia ibu yang sudah cukup matang selama berpikir. Tetapi dari hasil penelitian masih banyak ibu dengan usia dewasa awal tetepi tidak behasil dalam toilet training hal ini itu dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu seperti tingkat pendidikan dan pernikahan dini. Jenis Kelamin Anak Berdasarkan kelamin anak dari 98 responden didapatkan anak prevalensi anak berjenis kelamin laki-laki lebih banyak yaitu 57 anak . ,2%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian (Iwanda VOL. 01 NO. JUNI Sari et al. , 2. didapatkan jenis kelamin anak terbanyak pada jenis kelamin laki-laki yaitu 40 responden atau . ,9%). Tidak ada perbedaan pada masalah kemandirian dalam BAK dan BAB antara anak perempuan dan anak lakilaki, hanya saja anak perempuan biasanya lebih mudah mengikuti perintah dengan baik dan mudah dikendalikan sehingga lebih cepat menangkap dan menirukan apa yang diajarkan oleh orang tuanya daripada anak laki-laki yang sulit untuk diatur dan dikendalikan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Data Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Frekuensi Tingkat Pengetahuan Jumlah . Baik Persentase (%) Kurang Baik Total Berdasarkan table 2 didapatkan data responden memilik tingkat pengetahuan yang baik dan 53 responden memiliki tingat pengetahuan yang kurang. Dalam penelitian yang dilakukan peneliti, hasil menunjukkan bahwa dari 98 responden lebih banyak yang memiliki pengetahuan kurang Hal ini sejalan dengan pelitian yang dilakukan (Kurniawati, 2. menyatakan bahwa frekuensi pengetahuan ibu tentang toilet training dapat diketahui sebesar 62 responden . ,6%) memiliki pengetahuan kurang baik dan sebesar 34 responden . ,4%) memiliki pengetahuan baik tentang toilet training. Selain itu pada penelitian (Shalahuddin et al. menyatakan hal yang sama sebanyak 50 responden . %) memiliki tingkat pengatuan kurang baik terhadap toilet training. pengetahuan cukup terhadap toilet training. Dan 15 responden . %) memiliki tingkat pengetahuan yang baik terhadap toilet Pada penelitian (Hendrawati. et al. menyatakan bahwa Dalam penelitiannya juga hampir sebagian responden . ,8%) kurangtentang toilet training. E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh seseorang, berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Selain pengalaman, seseorang juga menjadi tahu karena diberitahu oleh orang lain. Seseorang yang memiliki pengetahuan baik serta mampu menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari- hari dengan baik, maka akan melaksanakan toilet training dengan baik dan pengatahuan kurang baik maka akan kurang dalam menerapkan pelaksanaan toilet training (S. Lestari et al. , 2. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Data Berdasarkan Pola Asuh Frekuensi Jumlah . Persentase (%) Baik Kurang Baik Berdasarkan table 3 didapatkan data bahwa 82 responden dengan pola asuh baik dan 16 responden dengan pola asuh kurang Dalam penelitian yang dilakukan peneliti, hasil menunjukkan bahwa dari 98 responden lebih banyak yang memiliki pola asuh baik . Hal ini sejalan dengan pelitian yang dilakukan (Marvia, 2. yang menyatakan bahwa Frekuensi pola asuh orang tua dari 38 responden dengan kategori pola asuh yang baik sebanyak 22 responden . ,9%) sedangkan pola asuh orang tua yang tidak baik sebanyak 16 responden . ,1%). Pada penelitian (Yuliana et al. , 2. menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui sebagian besar pola asuh ibu adalah demokratis yaitu 36 orang . ,3%). Pola Asuh VOL. 01 NO. JUNI Pola asuh orang tua yang baik tidak akan memaksakan kehendak orang tua, memberikan penghargaan pada setiap hal positif yang dilakukan oleh anak, memberikan arahan mengenai hal yang baik dan yang buruk pada anak, memberikan kebebasan pada anak pengawasannya, tidak menelantarkan anak serta masih banyak lagi hal baik yang orang tua lakukan pada anak tanpa ada tekanan. Salah satu fator yang dapat mempengaruhi pola asuh ibu yaitu Faktor Hasil karakteristik ibu berdasarkan usia sebagian besar yaitu 26-35 tahun. Usia termasuk kategori usia dewasa. Ibu yang berusia dewasa merupakan usia dimana kepribadian dan kemampuan mental mencapai puncaknya, ibu pada usia ini lebih siap menjalankan peran asuhan, selain itu ibu pada usia dewasa sudah mempunyai pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak dan lebih mampu mengamati tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Ibu dengan usia dewasa akan mengasuh anaknya lebih sabar, penuh kasih sayang, tidak melindungi anak secara berlebihan, tidak permisivitas . idak membiasakan anak untuk berbuat sesuka hat. , tidak memanjakan, dapat menerima keadaan anak secara keseluruhan, dan dapat berbuat sadar. Hal ini menunjukkan bahwa semakin dewasa usia ibu, maka akan mampu mendidik anaknya sesuai dengan usia dari tugas perkembangan anak (L. Lestari et al. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Data Berdasarkan Keberhasilan Toilet Training Frekuensi Jumlah . Persentase (%) Berhasil Tidak Berhasil Total Berdasarkan table 4 didapatkan data bahwa 46 responden yang berhasil dalam pelaksanaan toilet training dan 52 responden yang tidak berhasil dalam pelaksanaan toilet Hal ini sejalan dengan penelitian Keberhasilan Toilet Training E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 124 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI (Kameliawati et al. , 2. menyatakan bahwa dari 78 responden didapatkan hasil responden yang berhasil toilet training yaitu sebanyak 30 responden . ,5%) sedangkan responden yang tidak berhasil toilet training berjumlah 48 . ,5%). Pada (Shalahuddin et al. , 2. menyatakan bahwa dari 34 responden terdapat 16 orang responden . %) yang berhasil melakukan toilet training sedangkan yang tidak berhasil melakukan toilet training sebesar 18 orang responden . %). Toilet training adalah bagaimana cara anak mengontrol BAK dan BAB seperti anak sudah mampu mengetahui waktu ketika ingin BAK dan BAB, anak tidak BAK dan BAB di sembarang tempat. Dalam hal ini orang tua menjadi faktor utama dalam keberhasilan toilet training karena orang tua merupakan sumber pendidikan utama anak yang mengajarkan pengetahuan pada anak (Marvia, 2. Menurut frekuensi hasil pada penelitian ini lebih banyak orang tua yang tidak berhasil menerapakan toilet training kepada anak. Adapun Faktor kegagalan dalam toliet training di penguhi oleh 3 faktor yaitu faktor fisik, faktor mental dan psikologis (Marvia, 2. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Data Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Keberhasilan Toilet Training Tingkat Keberhasilan toilet Berhasil Total 95%CI Tidak Batas PValue Batas 30 65,2 15 28,8 45 45,9 2,215 Tingkat 10,856 1,970 0,000 Tingkat 16 34,8 37 71,2 53 54,1 kurang baik Jumlah 46 100 52 100 98 100 Berdasarkan tabel 5 didapatkan hasil hubungan antara tingkat pengetahuan ibu pada analisis bivariat hubungan tingkat dengan keberhasilan toilet training pada anak pengetahuan ibu terhadap keberhasilan toilet prasekolah di Lamongan. Hasil penelitian ini training pada anak usia pra-sekolah di Desa berbanding terbalik dengan penelitian Wisata Sade menunjukkan nilai p-value 0,000 (Ningsih, 2. yaitu tidak adanya hubungan ( p-value < 0,. yang artinya terdapat yang bermakna anatara pengetahuan ibu hubungan yang signifikan antara tingkat terhadap toilet training dengan keberhasilan pengetahuan ibu dengan keberhasilan toilet toilet training pada anak usia pra-sekolah . -6 training pada anak usia pra-sekolah didesa wisata sade. Hasil penelitian ini sejalan dengan Hasil Analisa penelitian menunjukkan penelitian menurut (S. Lestari et al. , 2. bahwa adanya hubungan tingkat pengetahuan menyatakan bahwa terdapat hubungan terhadap keberhasilan toilet training pada anak bermakna antara pengetahuan ibu dan usia pra-sekolah di Desa Wisata Sade. Dari keberhasilan toilet training dengan nilai p hasil kuesioner saat melakukan penelitian <0,001 dan koefisien korelasi 0,404 . dapat dilihat bahwa rata-rata ibu mempunyai Hasil serupa juga dijelaskan oleh (Tyas et al. pengetahuan yang kurang baik terhadap 2. yang menyatakan bahwa adanya penerapan toilet training. E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj Menurut peneliti, pengetahuan ibu terhadap toilet training sangat berhubungan erat dengan tingkat keberhasilan toilet training pada anak ataupun sebaliknya, pengetahuan ibu yang kurang terhadap toilet training sangat berhubungan erat dengan ketidak berhasilan toilet training pada anak. ibu yang memiliki pengetahuan kurang tentang pentingnya penerapan toilet training cendrung tidak menerapkan toilet training dengan benar. Hal tersebut didukung oleh rendahnya tingkat pendididkan ibu. Dilihat dari hasil analisis karakteristik responden yang telah dilakukan peneliti didapatkan hasil bahwa lebih banyak responden yang memiliki tingkat pendidikan rendah dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Faktor pendidikan ibu berperan penting dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mudah seseorang tersebut menerima hal-hal baru dan sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang maka akan sulit seseorang tersebut menerima hal-hal baru. Ibu yang paham tentang toilet training akan lebih mudah mengajarkan kepada anaknya sehingga anak berhasil dalam toilet training tetapi akan berbanding terbalik jika ibu tidak paham tentang toilet training maka akan lebih sulit mengajarkan kepada anaknya sehingga anak tidak berhasil dalam toilet training (Shalahuddin et al. , 2. Selain itu juga kurangnya informasi yang didapatkan sehingga responden tidak mengetahui manfaat yang baik jika penerapan toilet training dilakukan dengan benar serta dampak bagi anak jika tidak menerapakannya. (Tawakalni et al. , 2. Pada 30 responden dari hasil analisis memiliki tingkat pengetahuan baik dan berhasil toilet training hal tersebut disebabkan dari pengalaman dan informasi yang didapat responden mengenai toilet training, karena dilihat dari hasil karakteristik responden sudah dapat dikatagorikan usia dewasa sehingga memiliki pemikiran yang sudah matang dan cukup berpengalaman dalam melakukan pelaksanaan toilet training. Kemudian dilihat juga dari usia dan kesiapan anak yang sudah VOL. 01 NO. JUNI siap menerapkan pelaksanaan toilet training dengan baik Sedangkan 15 responden memiliki tingkat pengetahuan baik tetapi tidak berhasil toilet training, hal tersebut disebabkan karena dari ibu sudah siap mengajakan toilet training kepada anak karena dari usia dan pengalaman ibu udah cukup matang, tetapi dari faktor internal anak belum siap secara fisik ,psikologi dan mental dalam menerapkan toilet training. Dilihat juga karakteristik jenis kelamin anak, lebih banyak anak berjenis kelamin laki-laki sehingga kurang mudah dalam menangkap dan meniru apa yg diajarkan karena laki-laki sulit Pada 16 responden memiliki tingkat pengetahuan kurang baik tetapi berhasil toilet Hal tersebut disebakan karena tingkat pendidikan ibu yang rendah sehingga menyebabkan tingkat pengetahuan mengenai toilet training yang kurang baik, tapi anak berhasil toilet training disebabkan karena anak sudah siap menerapkan pelaksanaan toilet Sedangkan pada 37 responden memiliki tingkat pengetahuan kurang baik dan tidak berhasil toilet training, hal tersebut disebabakan karena dilihat dari hasil analisis karakteristik responden didapatkan hasil bahwa lebih banyak responden yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Faktor pendidikan ibu berperan penting dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu. Jika ibu tidak paham tentang toilet training maka akan lebih sulit mengajarkan kepada anaknya sehingga anak tidak berhasil dalam toilet training Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa kurangnya tingkat pengetahuan ibu secara signifikan berpengaruh terhadap ketidak berhasilan toilet training pada 98 anak usia pra-sekolah di desa wisata sade. Hasil analisa penelitian menunjukkan bahwa adanya Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dengan keberhasilan penerapan toilet training pada anak usia pra-sekolah di desa wisata sade. E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI Tabel 6. Distribusi Frekuensi Data Hubungan Pola Asuh dengan Keberhasilan Toilet Traini Pola Asuh Keberhasilan toilet Berhasil Total Tidak Pola asuh 44 95,7 38 73,1 82 83,7 Pola asuh 2 4,3 14 26,9 16 16,3 Jumlah 46 100 52 100 98 100 Berdasarkan tabel 6 didaptkan hasil pada analisis bivariat hubungan pola asuh ibu terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia pra-sekolah di Desa Wisata Sade menunjukkan nilai p-value 0,002 ( p-value < 0,. yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah di Desa Wisata Sade. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian menurut (Yuliana et al. , 2. Terhadap hubungan yang positif antara variabel terdapat hubungan artinya jika pola asuh ibu menerapkan pola asuh ibu menerapkan pola asuh demokratis maka anak melakukan toilet training akan semakin Hasil serupa juga dijelasakan oleh (L. Lestari et al. , 2. terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah . -6 tahu. di Raudhatul Athfal AlMuAominin Kabupaten Ciamis. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pola asuh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak usia pra-sekolah di Desa Wisata Sade. Hasil kuesioner pada saat melakukan penelitian pada reseponden di Desa Wisata Sade peneliti melihat keseluruhan jawaban responden ratarata ibu melakukan pola asuh dengan baik dan rata-rata toilet training anak berhasil. Hasil ini dapat terjadi karena keberhasilan dan kegagalan toilet training dipengaruhi oleh 2 4,288 95%CI PValue Batas Batas 37,954 1,731 0,002 faktor yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal berupa faktor dalam diri anak itu sendiri. Faktok ekternal berupa faktor dari orang tua, lingkungan, pola asuh dan Ibu memiliki peran penting dalam upaya perkembangan anak. Dalam proses toilet training, dimana anak belajar mengendalikan BAK dan BAB, dukungan keluarga sangat diperlukan dalam proses belajar anak. Pada 44 responden dari hasil analisis memiliki pola asuh baik dan berhasil toilet training hal tersebut disebabakan karena salah satu faktor yang mempengaruhi pola asuh yaitu usia dan pengalaman pengasuhan Usia dan pengalaman mengasuh ibu akan memperngaruhi persiapan mereka dalam menjalankan pengasuhan. Diketahui dari analisis karakteristik sebagian besar ibu berusia dewasa awal. Pada usia tersebut seseorang sudah siap secara psikologis, mental dan tanggung jawab untuk menjadi ibu dan sudah bisa dalam melakukan pola asuh yang baik dan dilihat juga dari kesiapan anak yang sudah siapa dalam melaksanaakn toilet Hal tersebut sejalan dengan pendapat (L. Lestari et al. , 2. yaitu semakin cukup usia seseorang maka tingkat kematangan untuk siap menjadi orang tua lebih baik. Sedangkan 38 responden memiliki pola asuh baik tetapi tidak berhasil toilet Hal tersebut disebabakan oleh faktor E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj kesiapan fisik anak, kesiapan psikologis anak, kesiapan mental anak. Kesiapan fisik anak seperti anak tidak dapat jongkok dalam waktu yang lama saat BAK dan BAB, anak masih kesulitan membuka pakaian dan celana secara Kesiapan fsikologis seperti anak meniru kebiasaan saudara/temannya dalam BAK dan BAB, anak masih betah mengguankan celana walaupun celananya sudah basah dan tidak ingin segera mengganti. Kesiapan mental seperti anak masih belum bisa mengenali rasa ingin BAK dan BAB. Pada 2 responden yang memiliki pola asuh kurang baik tetapi berhasil toilet training di sebabkan oleh anak sudah mampu mengontrol BAK dan BAB secara madiri, anak sudah mampu memakai celananya sendiri, anak sudah mampu mengenali rasa BAK dan BAB, anak sudah tidak betah memakai celana yang kotor dan basah tapi dari kesiapan ibu dalam mengasuh anak masih kurang baik karena dilihat dari analisis karakteristik tingkat pendidikan ibu sebagaian besar ibu memiliki tingkat Pendidikan yang rendah sehingga kurangnya pengetahuan dan informasi yang didapatkan ibu yang menyebabakan pola asuh kurang baik pendapat (L. Lestari et al. , 2. Sedangkan 14 responden lainnya memiliki pola asuh kurang baik dan tidak berhasil toilet training. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya kesiapan ibu dalam mengasuh anak dan anak juga belum siap fisik, psikologis dan mental Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian (Oktaviari et al. , 2. yang menunjukkan bahwa pola asuh berhubungan signifikan pada keberhasilan toilet training. Hal ini di sebabkan jika pola asuh orang tua yang baik kemampuan toilet training anak akan lebih baik. Sehingga perlu dilakukanya peningkatan pola asuh orang tua dengan cara bersikap terbuka kepada anak dan memberikan kebebasan berpendapat sehingga pola asuh orang tua yang optimal dapat tercapai. Oleh karena itu diperlukan pengkajian khusus dimana seluruh orang tua diberikan penjelasan mengenai bagaimana cara pola asuh orang tua yang baik untuk keberhasilan toilet training. VOL. 01 NO. JUNI maka dibutuhkan keesuaian antara pola asuh orang tua dengan keberhasilan toilet training yang baik pada anak usia prasekolah di Desa Wisata Sade. Namun terdapat pola asuh orang tua yang buruk seperti memakasakan kehendak anaknya, mempunyai aturan-aturan dan jika anak melanggar aturan tersebut anak akan mendapat hukuman fisik, orang tua yang tidak mempunyai banyak aturan kepada anak dan anak bebas melakukan apa yang dia inginkan namun tanpa pengawasan yang cukup. asuh orang tua yang buruk seperti di atas tentunya harus dihindari sehingga keberhasilan toilet training pada anak dapat tercapai. PENUTUP Simpulan Berdasarkan penelitian dari seluruh total 98 responden terdapat 46 responden . ,9%) yang berhasil dalam toilet Sedangkan 52 responden . ,1%) yang tidak berhasil dalam toilet Gambaran umum tingkat pengetahuan ibu terhadap toilet training di desa wisata sade yaitu ibu dengan tingkat pengetahuan kurang baik . ,1%). Gambaran umum pola asuh ibu dalam menerapkan toilet training di desa wisata sade yaitu ibu dengan pola asuh baik . ,3%) Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu pelaksanaan toilet training dengan keberhasilan toilet training pada anak usia pra-sekolah di desa wisata sade ditandai dengan nilai p-value 0,000 ( P-value O Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu terhadap pelaksanaan toilet training dengan keberhasilan toilet training pada anak usia pra-sekolah di desa wisata sade ditandai dengan nilai pvalue 0,002 ( P-value O 0,. E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 128 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj Saran Disarankan bagi peneliti selanjutnya mampu untuk menambahkan variabel lain yang belum diteliti pada penelitian Diharapkan juga bagi peneliti selanjutnya mampu melihat sarana dan prasarana yang ada dalam mendukung anak melakukan toilet training Disarankan bagi tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kuta, agar menggunakan media atau metode promosi kesehatan yang beragam, contohnya kepada ibu di Desa Wisata Sade untuk meningkatkan pengetahuan mengenai toilet training dan pola asuh yang baik kepada anak agar lebih banyak anak yang berhasil dalam pelaksanaan toilet training Disarankan Ibu menerapkan pola asuh yang baik dan tepat kepada anak, agar lebih banyak anak yang berhasil dalam pelaksanaan toilet training DAFTAR PUSTAKA