Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENYUSUNAN TARI BOTHOKLO SEBAGAI IKON DESA WISATA LEMBAH DUNGDE DESA MLILIR. KELURAHAN GENTUNGAN. KECAMATAN MOJOGEDANG, KABUPATEN KARANGANYAR Dwi Wahyudiarto1. Anggono Kusumo Wibowo2. Dwi Rahmani3 1,2,3 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta wahyudiarto@gmail. ABSTRAK Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo Sebagai Ikon Desa Wisata Lembah Dungde Desa Mlilir. Kalurahan Gentungan. Kecamatan Mojogedang. Kabupaten Karanganyar merupakan program pendampingan kepada masyarakat sebagai wujud nyata dari implementasi visi Institut Seni Indonesia Surakarta. Penyusunan Tari Bothoklo sebagai ikon desa wisata bersumber dari budaya tradisi masyarakat Desa Mlilir. Proses penyusunan dilakukan bersama masyarakat, sebagai bentuk edukasi cipta kreatif agar masyarakat terbangun jiwa kreasinya. Metode yang digunakan dalam penyusunan tari Bothoklo adalah metode tiga R, yaitu Re- visiting. Re-Questioning dan Re-Interpreting. Hasil penyusunan Tari Botoklo kemudian dilatihkan kepada masyarakat sebagai sebagai penguatan daya tarik wisatawan. Pelaksanaan pelatihan dilaksanakan di Desa Wisata Lembah Dungde. Desa Mlilir. Kalurahan Gentungan. Hal ini dimaksudkan dapat lebih mendekatkan dan lebih mengenalkan kampus Institut Seni Indonesia Surakarta kepada Selain itu, bentuk pelatihan bersama masyarakat juga dapat dijadikan daya tarik masyarakat / wisatawan yang datang di Lembah Dungde. Hasil pemberdayaan masyarakat ini adalah tersusunnya Tari Bothoklo dengan mengangkat tema binatang mitologi Desa Mlilir, dikemas dalam bentuk tari kelompok. Musik yang digunakan adalah ragam etnik di daerah Mlilir, sedangkan busana menggunakan artistik batang mendong dengan kemasan kini. Tari Bothoklo diajarkan kepada masyarakat Mlilir untuk dikembangkan sebagai ikon desa wisata. Kata kunci: Desa Wisata. Tari Bothoklo. Pemberdayaan Masyarakat. ABSTRACT Community Empowerment through Bothoklo Dance as an icon of aTourism Village called Lembah Dungde, at Kampong Mlilir. Gentungan Village. Mojogedang District. Karanganyar Regency, is an assistantship program to the community as a tangible manifestation of the implementation of the Vision of the Indonesian Institute of the Arts Surakarta. The creation of the Bothoklo Dance as an icon of the tourism village comes from the traditional culture of the Mlilir Village community. The art creation process is carried out within the community as a form of creative education so that the community awakens its innovative spirit. The method used in creating the Bothoklo dance is the three R methods: Re-Visiting. Re-Questioning, and Re-Interpreting. The results of the Bothoklo Dance are then trained to the community to strengthen tourist attraction. The training was conducted in the Lembah Dungde Tourism Village. Mlilir. Gentungan Village. This activity intends to introduce and bring the Indonesian Institute of the Arts of Surakarta closer to the public. In addition, training with the community can also be an attraction for the community/tourists who come to the Lembah Dungde. The result of this community empowerment is the composition of the Bothoklo Dance with the theme of mythological animals in Mlilir Village, packaged in the form of group The music used is a variety of ethnic groups in the Mlilir area, while the clothing uses the artistic rods of Mendong with the current times packaging. Bothoklo dance is taught to the Mlilir community to be continually developed as a tourist village icon. Keywords: Tourism Village. Bothoklo Dance. Community. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dwi Wahyudiarto, dkk: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo. PENDAHULUAN Desa Mlilir. Kalurahan Gentungan. Kecamatan Mojogedang. Kabupaten Karanganyar merupakan satu desa yang masyarakatnya masih lekat dengan budaya agraris. Untuk menopang kebutuhan hidup masih mengandalkan dari hasil bumi dari produk sawah, tegalan, peternakan, dan kebun. Kontur lahan pertanian tidak terlalu subur dan sedikit berbukit sehingga produk hasil bumi yang dihasilkan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu secara ekonomi masyarakat desa rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pendapatan hasil dari penjualan rendah, lantaran produk mereka melewati rantai penjualan yang panjang. Menyadari kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sangat terbatas dan tidak ada perubahan dalam waktu yang lama, kelompok generasi muda mencoba untuk merubah daya hidup masyarakat yang semula ekonomi bersumber hasil pertanian, menjadi wisata sebagai basis penghasilan ekonomi masyarakat. Dari kegelisahan tersebut secara bersama-sama masyarakat mulai melihat potensi desa dengan keterbatasannya. Pada akhir tahun 2018 masyarakat mulai merintis memberdayakan seluruh potensi wilayah yang digunakan menjadi desa wisata. Berharap dengan desa Mlilir menjadi desa wisata, maka petani bisa langsung bertransaksi dengan pengunjung, sehingga berdampak pada peningkatan penghasilan petani. Dari permasalahan tersebut, maka masyarakat desa Mlilir bertekad membangun Desa Mlilir manjadi desa wisata dengan ikon nama AuDesa Wisata Lembah Dungde. Desa Mlilir. Kalurahan Gentungan. Kecamatan Mojogedang. Kabupaten KaranganyarAy. Desa Wisata AuLembah DungdeAy dirintis warga secara swadaya dengan memanfaatkan seluruh potensi geografis, sektor pertanian, kuliner, serta aktivitas budaya masyarakat. Desa Wisata Lembah Dungde secara resmi dibuka oleh Bupati Karanganyar pada tanggal 17 Agustus 2020. Kegiatan wisata yang dikelola Lembah Dungde meliputi. Pasar Wisata Ciplukan. Tour Keliling Kampung, penginapan di rumah warga . ome sta. Tol Sawah. Tubing. Wisata Edukasi Kuliner. Rumah Thiwul. Wisata Edukasi Peternakan, dan lain-lain. Semenjak diresmikan sebagai desa wisata, aktivitas wisata Desa Wisata Lembah Dungde berjalan dengan baik. Pada awalnya pengunjung hanya dari warga sekitar, dengan promosi yang gencar dilakukan, pada bulan kedua sudah banyak pengunjung dari luar wilayah. Pada akhir tahun 2019, wabah Covid 19 merambah sampai wilayah desa, hal ini membuat desa wisata Lembah Dungde mengalami surut. Obyek wisata yang masih tetap berjalan adalah Pasar Ciplukan, yaitu pasar yang dibuka setiap hari minggu pagi, dengan menjual makanan tradisional. Untuk membuat daya tarik pengunjung, di lokasi pasar Ciplukan pada saat tertentu diadakan beberapa kegiatan seperti. apem, kirab ketupat, kirab gunungan tani dengan pelaksanakan yang relatif masih sangat sederhana. Sampai sekarang Pasar Ciplukan sebagai daya tarik wisata tetap eksis dan setiap minggu dikunjungi sekitar 1. orang yang sebagian besar dari luar wilayah desa Mlilir. Potensi Desa Wisata Lembah Dungde di Mlilir masih cukup banyak, tetapi belum dikembangkan secara optimal. Misalnya dari aspek kesejarahan ada mitos tentang Kedung Gedhe dan cerita tentang Rumah Ronggo. Sesepuh desa Mlilir mengatakan dahulu Mlilir memiliki kesenian rakyat . dne-ande lumu. , upacara pertanian berupa methil padi, nyajeni tandur, dan masih banyak lagi. Materi tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai aset penguatan penyusunan AupertunjukanAy sebagai penguat ikon desa wisata. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo Sebagai Ikon Desa Wisata Lembah Dungde Desa Mlilir. Kalurahan Gentungan. Kecamatan Mojogedang. Kabupaten Karanganyar adalah program memberdayakan masyarakat untuk terus mengembangkan, menggali semua potensi budaya, dan menyusun tari baru kemudian di berikan kepada masyarakat. Pemberdayaan masyarakat sangat penting kaitannya Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 dengan menghidupkan dan mengkemas seni tradisi, menguatkan identitas, dan promosi wisata Desa Wisata Lembah Dungde di Desa Mlilir. Dengan kegiatan pemberdayaan ini, diharapkan dapat memenuhi keinginan masyarakat dalam upaya memberdayakan, mengembangkan potensi seni, agar pemilik seni berjiwa inovatif, kreatif, serta dinamis untuk terus menjaga seni budaya berbasis budaya lokal sebagai ikon desa wisata METODE Tari sebagai identitas daerah, merupakan cara strategis bagi masyarakat atau pemerintah daerah untuk menguatkan, menanamkan nilai-nilai luhur, nilai kearifan milik masyarakat yang hidup secara turun temurun di suatu wilayah yang dapat digunakan sebagai ikon dan daya tarik wisata. Dalam membentuk tari sebagai identitas daerah diperlukan kerja kolektif antara seniman . , pemerintah daerah, dan Seniman . akan bertindak sebagai kreator yang selalu kreatif menemukan dan atau menyusun tari. Pemerintah akan menentukan semua hal yang berkaitan dengan kebijakan dan peraturan daerah tentang identitas, dan masyarakat adalah yang menggunakan karya tari. Untuk merealisasikan tujuan dalam pemberdayan masyarakat di Desa Mlilir, diperlukan metode dan langkah nyata. Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat yang dilakukan desa Mlilir, lebih mengadopsi metode Tiga R. Re-Visiting. Re-Quesioning, dan Re-Interpreting yang ditulis oleh Eko Supriyanto. Metode tiga R merupakan aktivitas yang melibatkan secara aktif semua pihak-pihak yang relevan . , dalam rangka melakukan perubahan dan perbaikan ke arah yang lebih baik. Metode Tiga R, merupakan pendekatan yang tepat untuk mempelajari dan mengeinterprerasi seni budaya dari kehidupan masyarakat Dengan kata lain metode Tiga R adalah pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi kehidupan desa, dan seni tradisi milik mereka. Secara garis besar ada tiga kegiatan yang dilakukan dalam aplikasi metode Tiga R untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam menyusun Tari Botoklo. Pertama adalah melihat kembali potensi budaya yang ada di desa Mlili. Kedua mempertanyakan tradisi, dan yang ketiga adalah menginterpretasi budaya masyarakat menjadi kemasan Tari Bothoklo. Melihat tradisi dalam konteks pelaksanaan pemberdayaan masyarakat ini adalah mencoba untuk memahami budaya tradisi yang ada di desa Mlilir. Dalam pemahaman ini tentu saja tidak sebatas pada keseniannya saja, akan tetapi juga budaya tradisi di Mlilir secara menyeluruh. Budaya tradisi Mlilir yang akan dipahami antara lain. kondisi geografis, sumber daya manusia, aktivitas masyarakat, seni budaya, yang kesemuanya akan menjadi pijakan dalam melakukan penyusunan Tari Botoklo untuk warga Desa Mlilir, sekaligus sebagai upaya untuk merawat keberlangsungan potensi seni tradisi mereka. Re-Visiting, mengunjungi tradisi budaya masyarakat Desa Mlilir. Tahap ini sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 2019 dengan komunikasi dengan tokoh masyarakat, pemuda, sesepuh desa untuk membuka kembali kekayaan tradisi budaya yang ada. Pada tahap ini mulai terbongkar ragam seni warga Desa Mlilir pada era tahun 60-an. Diantaranya adalah dolanan anak Bothoklo, mitos Onggo Inggi, seni ande-ande lumut dan cerita oral lainnya. Yang kesemuanya sebagai pijakan dalam menyusun kembali Tari Bothoklo. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dwi Wahyudiarto, dkk: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo. Re-Questioning, mempertanyakan, mengkritisi, serta manganalisa seni tradisi yang ada di masyarakat Mlilir, merupakan langkah kongkrit yang harus dilakukan dalam kegiatan ini. Mempertanyakan tradisi, dilakukan melalui penelitian terbatas terhadap keberadaan seni tradisi di Mlilir. Setelah mendapatkan data dari penelitian awal, melalui wawancara, diskusi dengan warga dilanjutkan dengan banyak membincangkan perihal tradisi yang ada di Mlilir, khususnya seni tradisi. Perbincangan dilakukan secara mendetail berkait dengan seni tradisi yang ada di Mlilir. misalnya tentang bentuk sajian, peserta atau regenerasi, konsep-konsep seni pertunjukan, sistem pelatihan, serta kegiatan lain yang menunjang keberadaan seni tradisi. Dengan tindakan ini maka kita mengetahui celah-celah yang bisa dikembangkan, sehingga inovasi dan kreasi yang dilakukan tetap berbasis pada kekuatan budaya lokal. Re-Interpretating, tindakan untuk mereinterpretasi, mengaktualkan, membangkitkan kembali dalam bentuk menyusun tari Bothoklo dan melatihkan kepada masyarakat sehingga menjadi ikon desa wisata Lembah Dungde di Desa Mlilir. Dengan tiga langkah tersebut di atas, secara konsep dan aplikasi kegiatan pemberdayan masyarakat bisa dilakukan dengan baik. Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan dengan beberapa tahapan. Adapun tahapan diantaranya adalah. persiapan awal, koordinasi, dan sosialisasi. Persiapan Awal Persiapan awal dilakukan dengan membuat rancangan kegiatan secara mendetail dalam bentuk Persiapan diawali dengan survei secara terbatas dengan bertemu pejabat di lingkungan Dusun Mlilir. Ketua Desa Wisata Lembah Dunge, tokoh masyarakat. Karang Taruna, serta ibu-ibu yang mewakili Dari survei awal didapatkan informasi tentang kemampuan, materi yang mereka miliki, kebutuhan masyarakat, dan yang sesuai dengan program pengabdian masyarakat Intitut Seni Indonesia Surakarta, dengan demikian, terlaksanannya program ini akan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Propoal diajukan kepada LPPMpM yang kemudian dilakukan penjaringan, dan dinyatakan sebagai Seperti yang tertulis dalam proposal bahwa urutan kegiatan dirancang dengan alur sebagai berikut Persiapan. Koordinasi Pelaksanaan. Pelaksanaan Kegiatan yang terdiri dari Penyusunan Tari dan Pelatihan. Pergelaran, dan Pelaporan Kegiatan. Koordinasi dan Sosialisasi Mengingat peserta pelatihan akan dilakukan bersama masyarakat dusun Mlilir, maka harus terkoordiasi dengan baik, terutama yang berkaitan dengan jadwal, perizinan, materi pelatihan, serta persiapan Koordinasi tim pelaksana dari ISI Surakarta, dilakukan di kampus ISI Surakarta dengan penjelasan secara mendetail terkait konsep dari program pemberdayaan masyarakat meliputi jadwal, capaian yang akan di lakukan seperti dalam jadwal pelaksanaan kegiatan. Koordinasi selanjutnya adalah dengan masyarakat dusun Mlilir. Kegiatan koordinasi dilakukan dengan memberikan pemahaman rencana kegiatan kepada masyarakat Dusun Mlilir dan pemangku Dewa Wisata Lembah Dungde. Hal ini perlu dilakukan agar pelaksanaan program bisa berjalan dengan baik. Dalam koordinasi tim pelaksana memberikan gambaran secara jelas seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan. Setelah koordinasi dilakukan, dilanjutkan dengan mulai menyusun rencana kegiatan dalam bentuk jadwal kegiatan, yang dilakukan oleh tim pelaksana program bersama dengan masyarakat. Koordinasi kerjasama diperluas dalam bentuk kerjasama antara Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Institut Seni Indonesia dengan Desa Wisata Lembah Dungde diperkuat dengan Surat Perjanjian Kerjasama untuk kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 1. Rapat bersama pengelola Desa Wisata Lembah Dungde, dalam mempersiapkan program pemberdayaan masyarakat. (Foto oleh : Harganingtyas. Juni 2. Gambar 2. Rapat bersama pengelola Desa Wisata Lembah Dungde dalam mempersiapkan program pemberdayaan masyarakat. (Foto oleh : Harganingtyas. Juni 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dwi Wahyudiarto, dkk: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo. PEMBAHASAN Setelah berkoordinasi dengan belah pihak, yaitu Tim Pelaksana PKM dengan Masyarakat Dusun Mlilir, tahap selanjutnya adalah penyusunan Tari Bothoklo yang digunakan sebagai materi pelatihan bagi masyarakat Dusun Mlilir. Penyusunan Tari Botoklo ditata secara akademis melalui beberapa tahap yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penyusunan Tari Bothoklo dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu. Riset. Diskusi. Observasi. Pemilihan Penari. Ekaporasi. Evaluasi, dan Penyajian. Riset Riset sebagai langkah pertama adalah mengunjungi Desa Mlilir untuk melihat kondisi geografis, bentang lahan, serta tempat-tempat yang akan dikembangkan untuk kegiatan Pertunjukan Tari. Riset dilakukan dengan diskusi dan wawancara dengan sesepuh desa, masyarakat, seniman, dan pengelola Desa Wisata Lembah Dungde. Dalam wawancara banyak ditemukan banyak fenomena masyarakat, fakta seni dan karyakarya seni terkait dengan karya yang akan diciptakan yaitu Tari Bothoklo. Salah satu hasil dari dialog adalah diungkap bahwa pada sekitar tahun 1960-an, di desa Mlilir ada permainan anak yang disebut Bothoklo. Permainan Bothoklo biasanya dilakukan waktu sore hari olah anak-anak baik putra maupun putri. Pemain tokoh Bothoklo adalah satu orang laki-laki dengan menggunakan pakaian dari batang padi atau damen. Setelah seluruh badannya di balut dengan damen, selanjutnya berjalan mengelilingi kampung diikuti kelompok anak dan orang tua. Sambil bersorak-sorak mereka bergembira sampai menjelang malam. Bahkan tokoh Bothoklo sempat kesurupan atau trance, dan biasanya disembuhkan atau sembuh sendiri. Dari cerita tersebut, masyarakat desa Mlilir sepakat untuk mengungkap mengarap dan menyusun kembali dolanan anak Bothoklo menjadi satu ragam tari yang digunakan sebagai identitas desa Mlilir. Penyusunan Koreografi Tari Metode eksperimen dilakukan dengan cara percobaan atau mencoba beberapa kemungkinan garap Tari Bothoklo. Eksperiman dimaksud misalnya dalam eksperimen dalam menjelajahi gerak yang tepat untuk tema Bothoklo, penjelajahan musik dan pembuatan desain pakaian. Proses penyusunan koreografi tari Bothoklo tidak ada kendala yang berarti, karena secara konsep, materi gerak sudah dipersiapkan secara Secara struktur Tari Bothoklo dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Gambar 3. Latihan dalam menyusun reportoar Tari Bothoklo, oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 4. Latihan dalam memyusun reportoar Tari Bothoklo, oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Penyusunan Musik Tari Penyusunan musik tari diawali dengan membahas konsep musik secara bersama tim pelaksana PPM Tematik Kelompok. Disepakati bersama bahwa musik yang digunakan dalam musik tradisi dengan menggunakan instrumen gamelan jawa. Hal ini mengingat bahwa latar belakang konsep Tari Bothoklo masih berangkat dari spirit Jawa. Oleh karenanya dengan dipandang tepat musik Bothoklo menggunakan musik tradisi Jawa. Secara musikalisasi konsep musik menyesuaikan dengan konsep tari. Secara proses kerja musikal, penyusunan tari Bothoklo dilakukan secara tahapan sebagai berikut . Riset Diskusi Observasi Pemilihan Alat Ekaporasi Evaluasi Penyajian Gambar 5. Latihan dalam menyusun reportoar musik Tari Bothoklo, oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dwi Wahyudiarto, dkk: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo. Gambar 6. Latihan dalam memyusun reportoar musik Tari Bothoklo, oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Pembuatan Desain Busana Pakaian atau busana tari merupakan bagian yang sangat penting dalam pertunjukan tari. Pada umumnya busana tari digunakan membantu penonton untuk mendapatkan ciri-ciri karakter tokoh yang Selain itu busana tari akan membantu memperlihatkan adanya hubungan antar peran dalam sebuah tarian. Fungsi utama busana tari akan menghidupkan karakter tari, artinya dengan busana yang dikenakan akan menunjukkan siapa karakter yang diperankan. Pembuatan desain busana tidak lepas dengan konsep ide dasar penyusunan tari. Dalam tari Bothoklo, desain busana terinspirasi dari imajinasi permainan dolanan anak Bothoklo yang ada di desa Mlilir. Walaupun tidak ada dokumen yang dapat ditelusuri, tetapi tim pelaksana PKM membayangkan bagaimana pada waktu itu sebuah permainan yang membungkus tubuhnya dengan batang padi . yang secara artistik akan menimbulkan kesan yang unik dan menarik. Dari imajinasi tersebut, dikonsepkan busana Tari Bothoklo menggunakan batang mendong . umbuhan yang biasa digunakan untuk membuat tika. Kesan artistiknya hampir sama dengan batang padi, akan tetapi lebih nyaman dipakai dan aspek artistik lebih baik, karena bisa diberi aksen warna dan ketika dipakai tidak menimbulkan efek gatal. Berikut proses dan hasil desain busana Tari Bothoklo. Gambar 7. Proses pembuatan busana Tari Bothoklo, oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 8. Desain busana Tari Bothoklo, oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Sinopsis Tari Botoklo Karya tari Bothoklo terinspirasi dari permainan anak yang sudah ada di Dusun Mlilir pada sekitar tahun 1960-an. Permainan Bothoklo biasanya dilakukan waktu sore hari oleh anak-anak baik putra maupun Pemain tokoh Bothoklo adalah satu orang laki-laki dengan menggunakan pakaian dari batang padi atau Setelah seluruh badannya dibalut dengan damen, selanjutnya berjalan mengelilingi kampung diikuti kelompok anak. Sambil bersorak-sorak mereka bergembira sampai menjelang malam. Dalam penyusunan karya baru ini. Bothoklo ditafsir kembali sesuai dengan nilai-nilai sekarang. Bothoklo bukan lagi sosok menakutkan yang selalu menggoda, akan tetapi Bothoklo adalah personifikasi dari semangat Dewi Sri yang selalu memberikan kesuburan untuk kesejahteraan manusia. Bothoklo terus menjalankan laku blusukan keliling dari desa ke desa mewartakan kesuburan, menebar bibit kebaikan untuk alam semesta. Bothoklo selalu dimainkan anak-anak, karena anak-anak adalah pemilik masa depan yang harus keliling untuk belajar, belajar dan belajar agar siap menerima estafet membangun bangsa. Merawat tradisi leluhur dengan merayakannya sebagai ekspresi kreatif adalah satu cara agar tradisi tersebut terus-menerus hadir, hidup dan menghidupi generasi zamannya. Menghidupi secara terus-menerus ritus pertanian sebagai warisan leluhur masyarakat adalah arah wujud nyata AutrajectoryAy persembahan generasi muda Desa Mlilir. Pelatihan Tari Bothoklo Tahap selanjutnya adalah pelatihan Tari Bothoklo kepada masyarakat dengan menggunakan properti dan musik tari. Pelatihan dilakukan di Desa Wisata Mlilir agar bisa menjadi daya tari bagi warga sekitar. Jadwal pelatihan diatur bersama antara peserta pelatihan dengan TIM Pelaksana PPM. Pelatihan dilakukan selama dua bulan, dengan jadwal antara 3 atau dua kali dalam satu minggu. Peserta pelatihan adalah karang taruna sejumlah 12 orang anak, yang usia SMP dan SMA. Hasil pelatihan akan disajikan secara lengkap menggunakan rias dan busana. Adapun nama-nama peserta adalah sebagai berikut: Anggita Atrya Agustina Maharani Nayla Febiana Falabiba Choirun Nisa Putri Allya Asfa Maharani Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dwi Wahyudiarto, dkk: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo. Clarista Putri Ramadhan Shelviana Putri Ramadhan Syahfira Nadia Kirana Yohanes Nova Arnoti Cornelius Agung Wicaksono Daniel Bintang Putra Kusuma Zainal Arifin Gambar 9. Proses Pelatihan Tari Bothoklo bersama masyarakat oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Gambar 10. Proses Pelatihan Tari Bothoklo bersama masyarakat oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Juli 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Pergelaran Pergelaran adalah menyajikan dan atau mementaskan karya tari di tempat tertentu secara utuh kepada penonton. Pergelaran Karya tari Bothoklo, sebagai obyek dalam Pelaksanaan Pengadian Kepada Masyarakat merupakan tahapan yang penting sebagai bagian keberhasilan unjuk kerja. Hal ini karena pergelaran merupakan serangkaian proses mulai dari persiapan konsep tari, eskplorasi, pelatihan, penyusunan musik, pembuatan busana, menentukan penari, sampai pada pergelaran tari. Baik tidaknya suatu pergelaran dapat diukur dengan melihat bagaimana respons dan tanggapan serta perhatian penonton selama pergelaran itu berlangsung. Kadang-kadang ada suatu pergelaran yang ditinggalkan oleh penonton ini menandakan bahwa pergelaran itu tidak dapat berkomunikasi dengan penontonnya. Sesusi dengan tema PKM Pemberdayaan Masyarakat, maka pergelaran tari Bothoklo yang merupakan karya bersama masyarakat dilaksanakan tidak lepas dengan konteks wisata di Desa Wisata Lembah Dungde. Pelaksanaan pergelaran dilaksanakan bersama dengan Pekan Budaya Lembah Dungde tanggal 25 sampai 27 Agustus 2022. Pergelaran bertempat di area Desa Wisata Lembah Dungde dengan membuat panggung pertunjukan. Dalam rangkaian pelaksanaan pertunjukan selalu bekerjasama dan melibatkan masyarakat Desa Mlilir sebagai bagian dari proses pemberdayaan. Mulai dari koordinasi pelatihan bersama masyarakat, persiapan pentas, stage manager pertunjukan, sampai pada pelaksanaan pergelaran. Hal ini dilakukan agar masyarakat Desa Mlilir mendapatkan materi tari serta tata pelaksanaan pergelaran yang baik. Gambar 11. Proses persiapan pergelaran Tari Bothoklo bersama masyarakat oleh Tim PPKM Kelompok Tematik. (Foto oleh : Wahyudiarto. Agustus 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Dwi Wahyudiarto, dkk: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyusunan Tari Bothoklo. Gambar 12. Pergelaran Tari Bothoklo. (Foto oleh : Wahyudiarto. Agustus 2. KESIMPULAN Pelatihan Tari Bothoklo bagi masyarakat di Desa Mlilir sungguh merupakan program yang sangat Pertama dengan diberikannya materi tari Bothoklo maka masyarakat merasa memiliki tari yang dicipta bersumber dari nilai budaya masyarakat desa Mlilir. Kedua dengan berakhirnya program ini, maka sebanyak 15 orang putra dan putri karang taruna sebagai wakil masyarakat telah menguasai materi Tari Bothoklo. Selain menguasai materi tari, juga diberi keterampilan tata cara pemakaian busana dan tata rias sehingga apabila nantinya mengadakan kegiatan pentas secaramandiri. Pengalaman selama berlatih bersama tim PKM dari ISI Surakarta juga menjadi pembelajaran menarik, karena mendapatkan metode pembelajaran tari, mulai dari teknik gerak, penguasaan irama, pemahaman pola lantai, karakter tari sampai pada pertunjukan Bagi karang taruna yang tidak terlibat dalam menari, mereka diberikan pengalaman manajemen pergelaran yang baik. Pergelaran yang dilakukan telah memberikan apresiasi dan hiburan kepada semua penonton. Masyarakat desa Mlilir beserta seluruh karang taruna akan menjadikan tari Bothoklo sebagai milik masyarakat sekaligus sebagai tari khas Desa Mlilir. Oleh karenanya mereka sepakat untuk berlatih secara mandiri, dan menjadwalkan untuk mementaskan tari Bothoklo secara rutin di arena wisata Lembah Dungde, agar menjadi daya tarik bagi pengunjung. Selain itu juga menggunakan Tari Bothoklo untuk pentas atau karnaval budaya dalam kegiatan di luar desa Mlilir. Tari Bothoklo juga pernah menjadi juara pertama lomba karnaval budaya di Desa Mlilir. Tari Bothoklo juga diminta untuk diajarkan kepada Putra dan Putri Lawu dari Kabupaten Karanganyar untuk ikut berbagai kegiatan budaya Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 DAFTAR PUSTAKA