Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 USE OF MALAY-ARABIC SCRIPTURES OF JAWI/PEGON IN NUMBER OF ANCIENT METAL CURRENCIES IN INDONESIA FROM PRE-INDEPENDENCE TO EARLY INDEPENDENCE Agung Gumilar STIT (Institute of Tarbiyah Scienc. Al-Hidayah Tasikmalaya e-mail: abuchengiz87@gmail. ABSTRACT Currency since the early times has a significant historical value, it was representing the culture from different periods. The Jawi/Pegon script has in long term isues since the emergence of Islam to the Nusantara archipelago in 7th century CE. This script can be found in Indonesian old coins which dated from 13th Century CE until the early Indonesian Republic in the first half of 20th Century. Therefore, it is important to do a research for the existence of the Arab-Malay scipt through coins. Moreover, deeper research is needed to know its true role in history. It is very necessary to do because the Arab Jawi/Pegon script as a part of the Nusantara cultural heritage has been AuforgottenAy for so long time. In studying the Arab Jawi/Pegon script existence and its role in old Indonesian monetary system, the writer prefers using literature studies. It means that this article will focused on library research because the analysis is directed the books and writings related to the discussion. Keywords: Arab Jawi or Pegon Script. Old Currency AIEAA AONA N E EO EaE ENA I IaO EA e e EAO O EE Ea E E O A AC N e EEA E EA E EC e EO ENAA. AIIEAAE C IN N E EEN EA AE EEI E EE EE I EEA. AI AE EA AE EC EENA AA EE EE EE E IA IIEAE EE EEA e OAAEE EA eA A e EO EaEIa EI EaC E N E EIaEA: A INA,AEAOA AEOCA A EAO OA,A eA. A E EA:AEE EAEA PENDAHULUAN Kebudayaan Indonesia sejak awal pembentukannya seringkali banyak dipengaruhi unsur-unsur peradaban luar yang kemudian berakulturasi dengan budaya setempat. antara unsur yang paling menonjol dalam peradaban suatu bangsa adalah penggunaa Secara leksikal Aksara adalah lambang bunyi atau fonem (Gilbert J. Garraghan:1. Dalam Kamus BesarBahasa Indonesia . aksara adalah sistem tanda grafis yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Istilah lain yang merujuk mengenai aksara adalah Huruf atau Abjad . alam bahasa Ara. yang dimengerti sebagai lambang bunyi . Aksara dikenal juga dengan Ausistem tulisanAy. Pada perkembangannya, aksara mengandung arti suatu sistem simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya, seperti batu, pohon, kayu, kain untuk mengungkapkan unsurunsur yang ekspresif dalam suatu bahasa (Roza E, 2017:. Aksara memiliki fungsi yang sangat penting dalam urat nadi peradaban karena melalui aksara dapat diperoleh gambaran lebih jelas mengenai alam pikiran, adat istiadat, kepercayaan, dan sistem nilai yang berlaku pada masyarakat masa lampau (Soebadio, 1975: . Masyarakat Indonesia kuno telah lama mengenal beberapa bentuk aksara sebelum kedatangan Islam, kebanyakan dari aksara awal tersebut dipengaruhi aksara yang berasal dari wilayah Asia Selatan. Seiring kedatangan dakwah islam pada sekitar abad ke-7 masehi ke wilayah Nusantara (Tugiyono, et al. , 2001. peradaban baru ini telah memberi warna tersendiri terhadap perkembangan budaya dan peradaban masyarakat Indonesia kuno, di termasuk di dalamnya mempengaruhi sistem penggunaan aksara melalui penggunaan abjad al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 arab sebagai aksara resmi pengajaran Islam. Lambat-laun aksara Arab Melayu Jawi/Pegon mulai posisi menggeser aksara-aksara Asia Selatan dalam menuliskan bahasa melayu sebagai lingua franca di Nusantara (Chambert Loir, 2002: . Aksara Arab Melayu digunakan dalam penulisan bahasa-bahasa yang dipakai oleh rumpun bangsa Melayu . ermasuk di dalamnya Bahasa Jawa. Sunda. Bugis dl. menggantikan Aksara Kawi, karena itu huruf Arab jawi/Pegon memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan budaya literasi dan intelektualitas masyarakat Indonesia di masa lampau. Secara umum tidak ada perbedaan yang berarti antara Aksara Arab Melayu yang disebut Jawi atau Pegon. Perbedaan antara aksara Arab Melayu Jawi dan Pegon tidak lebih hanyalah perbedaan etimologis semata. Arab Pegon merupakan sebutan untuk huruf Hijaiyah/Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu dan Jawa . ahulu Jawa Kun. (Sanusi, 2010: . Sedangkan Orang Melayu seringkali menyebutnya dengan Autulisan JawiAy. Auhuruf JawiAy, atau AuArab MelayuAy (Noordiyanto, 2016:. Perbedaan inti antara huruf Arab Melayu Jawi/Pegon dengan huruf Hijaiyyah asli terletak pada typeface . upa bentu. aksara Arab yang digubah dengan mengadakomodasi bunyi sehingga dapat mengikuti dialek dan pelafalan bahasa Secara umum dapat dikatakan bahwa Aksara Melayu Jawi/Pegon adalah aksara yang mengadopsi Abjad Arab atau huruf Hijaiyah. Akan tetapi terdapat tambahan beberapa huruf akibat kebiasaan masyarakat dalam penyesuaianya dengan bahasa asli. Beberapa tambahan kaidah bacaan dan penulisannya didasarkan pada modifikasi yang bertahap, seperti huruf (C. yang ditulis dengan menggunakan huruf arab (Ji. dengan titik tiga. Kemudian (P. menggunakan huruf (FaA. dengan tiga titik diatas. Aksara (Dh. menggunakan huruf (Da. dengan tiga titik diatas. Aksara (Ny. menggunakan huruf (YaA. dengan tiga titik diatas, erta aksara (Ng. dengan menggunakan huruf arab (AoAi. dengan tiga titik (Hisyam, 2006: 490-. TABEL 1. 1 Aksara Arab Melayu (Sumber: Dokumetasi Soekatno. Menyebarnya penggunaan sistem penulisan aksara arab melayu di kalangan masyarakat Indonesia pada masa lampau, tidak dapat dilepaskan dari kegiatan perdagangan dan eksistensi kekuatan politik. Berdirinya institusi politik berasaskan Islam di paruh terakhir abad ke-13 serta resminya Islam sebagai agama yag dianut. turut memberikan andil dalam terjadinya evolusi mata uang lokal yang ikut AuterislamisasiAy. al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Secara umum mata uang telah mengalami evolusi sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak terkecuali pada mata uang Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan hingga masa awal kemerdekaan. Pada kurun Abad ke-13/14 orang-orang Nusantara mulai mengenal bentuk/desain baru mata uang logam berbentuk koin yang menggantikan potonganpotongan logam mulia (Trigangga, et. 2002:9-. Desain koin ini segera diadopsi negeri-negeri yang menjadi basis dakwah Islam. Tidak terkecuali kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera-Pasai . bad ke -13 s. d 16 Maseh. Demak . bad ke 16 M). Melaka . bad ke-15 s. d ke-16 M). Aceh . bad ke -16 s. d ke-20 M). Banten . bad ke-16 s. d ke-19 M) dan kesultanan-kesultanan lain di seluruh wilayah Nusantara segera mencetak dan mengeluarkan mata uang logam beraksara Arab baik itu berisi inskripsi Arab asli maupun Arab Melayu, usaha pencetakan mata uang ini tidak terlepas dari dorongan semangat untuk menyebarkan dakwah Islam serta memudahkan perkembangan lembaga-lembaga sosial baru yang belum dikenal pada masa sebelumnya (Lombard, 2002:. Kegiatan pencetakan mata uang dengan membubuhkan aksara Arab Jawi/Pegon ini masih tetap berlangsung hingga masa kedatangan bangsa-bangsa kolonialis dari Eropa seperti Inggris dan Belanda pada kurun waktu abad ke-16 s. d awal abad ke-20 (Trigangga, et al. , 2003. , hal ini menyiratkan betapa pentingnya kedudukan aksara Arab Melayu, baik dalam segi perdagangan maupun politis. Penggunaan aksara Arab Melayu dalam mata uang logam Nusantara telah memberikan khazanah tersendiri pada sejarah Indonesia. Secara tersirat al ini mengindikasikan bahwa Aksara Arab Jawi/Pegon mendapatkan tempat khusus pada sejumlah besar lapisan masyarakat Indonesia pada masa lalu dalam kurun waktu yang cukup lama. Melihat adanya korelasi antara penyebaran huruf arab pegon dan kegiatan transaksi, yang dalam hal ini menggunakan mata uang di beberapa wilayah Indonesia pada masa lampau, peneliti merasa penting untuk menelitinya baik dari sisi ilmu bahasa maupun dari sisi ilmu arkeo-numismatik, mengingat tradisi penulisan aksara arab pegon pada mata uang logam cukup berarti dan belum banyak diangkat dalam kajian bahasa maupun humaniora. Dalam hal ini peneliti membatasi subjek kajian hanya dalam aspek mata uang logam saja, mengingat mata uang logam telah digunakan secara berabad-abad, serta lebih mudah dikaji ketimbang mata uang berbahan kertas yang cenderung mudah rusak. METODE Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode deskriftif kualitatif dimana tulisan akan disajikan dalam bentuk kalimat atau gambar ketimbang angka . Kegiatan deskripsi, baik itu pencatatan maupun pemotretan dilakukan terhadap beberapa sampel tinggalan mata uang kuno yang memiliki karakteristik aksara Arab Melayu, baik itu yang dimiliki oleh penulis maupun beberapa koleksi pribadi para kolektor yang telah diberikan persetujuan untuk diteliti, kegiatan tersebut dilaksanakan pada tahun 2018-2019. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam tulisan ini adalah. data primer, berupa literatur dan . data sekunder, yaitu melalui observasi dan dokumentasi Dalam mengolah data seluruh sampel mata uang beraksara jawi, telah digunakan metode-metode arkeologi yang mempertimbangkan faktor ruang, waktu, dan bentuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Spaulding . yang menyatakan bahwa arkeologi secara minimal adalah studi inter-relasi dari faktor bentuk, ruang, dan waktu. Tahap awal penelitian ini dilakukan melalui analisis khusus, analisis khusus adalah adalah melakukan analisa terhadap ciri masing-masing dari sampel mata uang yang mencakup: bentuk, ukuran, hiasan, bahan, serta keadaan fisiknya . idoyono, 1986:331-. Dalam yulisan ini penulis lebih menitikberatkan pada hiasan pada mata uang yang memiliki karakteristik aksara Arab Melayu tanpa mengesampingkan aspek bentuk dan bahan yang digunakan. Kegiatan tersebut secara umum dapat dipaparkan sebagai berikut: al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Penelitian dari segi bentuk dan ukuran dilakukan dengan mengamati bentuk, mengukur diameter mata uang sample, tipe bentuk yang digunakan. Sehingga menghasilkan variasi berbagai variasi bentuk dan sub variasi mata uang yang beraksara pegon Penelitian dari segi hiasan dilakukan dengan mengamati sisi muka . dan sisi belakang . Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan hiasan adalah type aksara Arab Melayu Jawi/Pegon yang digunakan dalam mata uang. Penelitian dari segi bahan yang digunakan hanya berdasar pada pengamatan luar dan referensi ilmiah semata, mengingat pemeriksaan labolatorium yang bersifat kimiawi lebih bersifat destruktif, dan beberapa item sempel merupakan koleksi para kolektor/numismatis yang hanya dapat diakses secara terbatas. HASIL DAN PEMBAHASAN Mata Uang Logam Beraksara Arab Melayu Jawi/Pegon yang Pernah Berlaku Di Indonesia Dari hasil pengumpulan informasi antara akhir tahun 2018 hingga awal tahun 2019 didapatkan 23 sample mata uang logam, koin-koin tersebut secara garis besar terdiri dari koin-koin masa Pra-Kolonial . ikeluarkan oleh kerajaan-kerajaan Nusantar. , masa Kolonial . ikeluarkan oleh para penjajah Erop. , dan masa kemerdekaan yang kesemuanya menggunakan Aksara Arab Jawi/Pegon dalam hiasannya. Secara rinci sample tersebut terdiri atas 12 keping sampel mata uang logam beraksara melayu dikeluarkan kesultanankesultanan pada masa pra-kolonial, 8 keping sampel dikeluarkan oleh pemerintah kolonial asing, dan 3 keping dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia pada masa awal Sampel mata uang logam beraksara arab melayu yang dikeluarkan kesultanankesultanan pada masa pra-kolonial Ditinjau dari segi bentuk dan ukuran mata uang lokal pada masa pra kemerdekaan dapat diidentifikasi atas empat macam Bulat tanpa lubang, berukuran kecil Bulat berlubang segi enam, berukuran kecil Bulat tanpa lubang, berukuran sedang Tidak beraturan Dikaji dari segi hiasan Mata uang lokal beraksara arab melayu dan berbahasa arab Mata uang lokal beraksara arab melayu dan berbahasa lokal Mata uang lokal beraksara arab melayu yang memiliki dua sisi Mata uang lokal beraksara arab melayu yang memiliki satu sisi . Diamati dari segi bahan mata uang lokal umumnya terbuat dari 5 bahan yaitu: emas, perak, timah, perunggu, dan tembaga Sampel mata uang logam beraksara arab melayu dikeluarkan pemerintah kolonial asing pada masa pra-kemerdekaan Ditinjau dari segi bentuk dan ukuran mata uang lokal pada masa pra kemerdekaan dapat diidentifikasi atas dua macam Bulat tanpa lubang, berukuran kecil Bulat tanpa lubang, berukuran besar Dikaji dari segi hiasan: Mata uang kolonial beraksara arab melayu , jawa, dan latin . ilingual/multilingua. Diamati dari segi bahan sampel: Mata uang era kolonial terbuat dari dua bahan yaitu: perak dan tembaga al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Sampel mata uang logam beraksara arab melayu dikeluarkan oleh pemerintah republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Ditinjau dari segi bentuk dan ukuran sampel mata uang lokal pada masa awal kemerdekaan dapat diidentifikasi menjadi dua macam: Bulat berlubang, berukuran kecil Bulat tanpa lubang, berukuran sedang Dikaji dari segi hiasan Mata uang RI beraksara arab melayu dan latin Diamati dari segi bahan sampel mata uang lokal umumnya terbuat dari 2 bahan yaitu timah dan nickel MATA UANG LOKAL BERAKSARA ARAB MELAYU YANG BEREDAR PADA MASA KESULTANAN Mata Uang Samudera Pasai Gambar 1. Mata Uang Emas Samudera-Pasai (Sumber: Dokumentasi Okky Okta Wijaya, 2. Mata uang emas ini diperkirakan berasal dari Samudera-Pasai . bad ke 13-. karena ditemukan di situs Cot Astana. Aceh Utara menggunakan alat pengesahan logam yang kemudian dilelang dalam sebuah gallery hingga disimpan seorang kolektor asal Palembang. Mata uang ini memiliki berat 0,20 gram dan berdiameter 8 milimeter. Pada mata uang ini ditemukan aksara yang diduga arab-melayu. Sisi depan terbaca kata AAu EINAal-MerahAy Sisi belakang terbaca AAu ENAal-dzahirAy dalam khat kufik, mata uang ini belum pernah dipublikasikan dalam referensi apapun dan merupakan temuan terbaru dari situs Kute Karang. Nama Merah dapat diasosiasikan dengan gelar bangsawan lokal di wilayah aceh dan Sumatra Utara. Besar kemungkinan mata uang ini berasal dari periode awal Samudera Pasai (Meurah Sillu/Malik al-Shali. dan satu-satunya mata uang Samudera-Pasai yang memuat istilah gelar penguasa lokal. Gambar 2. Mata Uang Deurheum Emas Samudera Pasai (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang emas Samudera-Pasai memiliki berat o,60 gram dan berdiameter 10 mm. mata uang ini ditemukan aksara arab pada kedua sisinya al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Sisi depan AII IEE ENA AuMuhammad Malik al-dzahirAy Sisi belakang AEEI EEA Aual-sulthan al-adilAy Para ahli sejarah dan numismatis berbeda pendapat mengenai pertanggalan mata uang ini. Leyten . dan Trigangga, et. menyatakan mata uang ini merupakan mata uang dirham emas tertua yang berasal dari Samudera-Pasai dan berasal dari masa Sultan Muhammad Malik al-dzahir yang memerintah pada tahun 1297-1326 M/696-721 Hijriyyah. Sedangkan Muhammad. T . 5, . memperkirakan mata uang ini berasal dari masa pemerintahan Sultan Muhammad Syah yang memerintah SamuderaPasai di akhir abad ke-15 Masehi. Ragam hias mata uang yang membubuhkan AuMalik al-DzahirAy dan Aual-sulthan al-adilAy merupakan bentuk ragam hias terlama yang digunakan pada mata uang pada masa kesultanan di wilayah Sumatra dan sekelilingnya, bentuk pola ragam hias jenis ini baru hilang di tahun 1607, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh Darusalam (Leyten: 2006, . Gambar 3. Mata uang pitis Keuh/Kaf timah Samudera Pasai. (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar,2. Pitis keuh timah Samudera Pasai dengan berat 1, 06 gram dan berdiameter 13 mm. mata uang ini ditemukan pertengahan tahun 2018 di bekas reuntuhan Cot Istana dan memiliki hiasan berupa aksara Arab Melayu Sisi depan A EEI EEAAl-Sultan al-Adil Sisi belakang A IEOIAMuizzudin Mata uang langka ini diperkirakan berasal dari masa Sulthan Muizzudin Ahmad bin Zainal Abidin yang memerintah Samudera-Pasai selama 6 bulan pada tahun 1466 masehi (Muhammad T, 2015 :. al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Mata Uang Demak Gambar 4. Mata Uang Pitis Timah Kesultanan Demak (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang ini ditemukan di wilayah perairan Musi. Palembang. Sumatra selatan. Memiliki berat 2,07 gram dan diameter 24 mm. Mata uang ini berjenis uniface . emiliki inskripsi pada satu sisi saj. Koin ini memuat aksara Arab Melayu berbahasa Melayu dan Jawa. Sisi muka terbaca AEI O AI E NA Ausulthan ratu pangeran al-fatahAy Robinson . menyatakan mata uang ini dicetak di Jawa pada masa Raden Fatah masih memegang kendali tampuk pimpinan kesultanan Demak Bintoro sekaligus Palembang. Mata Uang Banten Gambar 5. Mata Uang Kasha Perunggu Banten (Sumber. Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang Banten, sering pula dikenal dengan mata uang Kasha, ditemukan di wilayah situs kota Banten Lama pada sekitar tahun 1990-an, memiliki berat 1,85 gram dan berdiameter 24 mm. Mata uang ini berjenis uniface . emiliki aksara hanya pada satu sisi Aksara pada mata uang ditulis dalam Aksara Arab melayu dan berbahasa Jawa sisi muka berbunyi AO IIA Auratu ing bantanAy. Berdasarkan aksara tersebut diperkirakan mata uang ini dicetak pada masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Pangeran Ratu Banten pada tahun 1580 Masehi (Widoyono. P: 1. al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Mata Uang Aceh Darusalam Gambar 6. Mata Uang Emas Aceh Darussalam (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang emas Kesultanan Aceh Darussalam dari masa Sultanah Zakiyatuddin Inayat Shah . , memiliki berat 0,57 dan berdiameter 13,5 mm, memiliki aksara arab melayu di kedua sisi. Sisi depan terbaca AAOE EI I NA /faduka sri Sultanah inayat shahAy. Sisi belakang terbaca AEO EOI OE NA /zakiyat al-din berdaulat shah. Gambar 7. Mata Uang Pitis Timah Aceh Darussalam (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang pitis timah Aceh Darussalam ini diperkirakan berasal dari akhir abad ke18 awal abad ke-19, memiliki berat 3,13 gram dan berdiameter 21 mm. pada mata uang ini ditemukan aksara arab melayu di kedua sisinya. sisi depan berbunyi AI O EEIA Aubandar Atjeh dar al-salamAy sisi belakang berbunyi A AOA Auduriba fii . ngka tidak terlalu jela. Ay Mata Uang Kesultanan Palembang Gambar 8. Mata Uang Pitis Timah Kesultanan Palembang 1 (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Mata uang kesultanan Palembang berbahan timah tanpa tahun, tetapi menurut Robinson . diperkirakan dibuat pada tahun 1750, memiliki berat 1,13 gram dan diameter 20 mm. Mata uang ini berjenis uniface serta memuat aksara arab melayu Aksara arab melayu AEI E EIA Aualamat bilad falinbangAy Gambar 9. Mata uang pitis timah Palembang (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang pitis kesultanan Palembang berbahan timah ini dipastikan berasal dari masa Sultan Bahaudin, hal tersebut dapat diketahui melalui angka tahun 1113 Hijriyyah yang bila dikonversi bertepatan dengan tahun 1702 masehi, kedua mata uang ini masing0masing memiliki berat 0, 0,46 dan 10 mm. secara tampilan mata uang ini ini berjenis uniface . atu sis. serta memuat aksara arab melayu Aksara arab melayu terbaca 1113 AEEI AO E EI IA sulthan fi balad Palembang sanah 1113. Mata Uang Kesultanan Gowa-Tallo di Sulawesi Gambar 10. Mata uang emas kerajaan gowa (Sumber: Dokumentasi Musium Uang Sumatra, 2. Pada kurun abad ke-17 di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara berdiri kerajaan Islam Gowa dan Buton. Kerajaan ini mengelurkan mata uang emas yang disebut AuJinggaraAy dialek setempat untuk AuDinaraAy, mata uang ini memiliki berat 2,47 gram dan berdiameter 19,49 milimeter. Pada mata uang ini ditemukan ragam hias berupa aksara arab melayu jawi di kedua sisinya Sisi depan AEEI I EOIA Aual-sulthan HasanuddinAy Sisi belakang AI NEE N IIONA AuAdamallahu izzahu bi-mannihiAy al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Berdasarkan ragam aksara arab melayu yang terbaca, mata uang ini dikeluarkan pada masa Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah antara tahun 1653-1669 . rigangga, et al: 2002, . Mata Uang Kesultanan Banjarmasin Gambar 11. Mata uang tembaga kerajaan Banjarmasin (Sumber: Dokumentasi Eddie P Hutauruk, 2. Mata uang kerajaan Banjarmasin ini mengikuti pola mata uang voc, mata uang ini memiliki berat 1,60 gram dan berdiameter 21,22 milimeter. Pada mata uang iini ditemukan ragam hias berupa monogram VOC yang salah menjadi VOO serta pembubuhan identitas nama kesultanan dalam aksara arab melayu di dalam perisai dan mahkota. Sisi depan dihiasi atriut mahkota dan perisai yang didalamnya tertera aksara arab melayu A IIOIAatau AuBanjarmasinAy Sisi belakang monogram VOO serta tahun yang sudah tidak terbaca Menurut Millies . diperkirakan mata uang jenis ini mulai diperkenalkan oleh kesultanan Banjarmasin sekitar tahun 1789. Mata uang Madura chopmarked Gambar 12. Satu sisi Mata uang kesultanan Sumenep Madura (Sumber: Dokumentasi Okky Okta Wijaya, 2. Mata uang kesultanan Sumenep Madura, memiliki berat26-30 gram, berdimensi 40x32 mm dan 45x30 mm Kesultanan Sumenep di Madura mengedarkan mata uang asing yang dibubuhi stempel/ chop mark dalam aksara arab melayu pada satu sisinya Pada bagian muka tepi atas terdapat cap kesultanan dalam arab melayu yang terbaca AIIAA atau Sumanap. Di antara yang paling banyak digunakan serta dimanfaatkan adalah mata uang real batu yang dikeluarkan oleh kerajaan Spanyol. (Trigangga, et. MATA UANG LOGAM BERAKSARA ARAB MELAYU DARI MASA KOLONIAL al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Mata Uang Kolonial Inggris (EVIC Sumatra dan Singapore Mercents Toke. Gambar 13. Mata Uang Perak Inggris AuJava Rupee" (Sumber: Dokumentasi Ali Budiono, 2. Java Rupe yang dikeluarkan Inggris, memiliki berat 11,55 gram, berdiameter 26, 9 Mata uang ini memuat aksara arab melayu dan aksara jawa. Sisi depan terbaca AE EIIO NIEEOOA A O ON IA sikkah kumpeni inklizi duriba jazira jawa sanah 1668 . Sisi belakang inskripsi jawa berbunyi Kompeni Hinglis yasa hing surapringga (Trigangga, et, al. Mata uang ini dicetak pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia, khususnya di Jawa Gambar 14. Mata uang logam EIC Inggris . umber: Dokumentasi Rachmat Zainuddin, 2. Mata uang AuKepeng/KepingAy berbahan tembaga yang pernah berlaku di wilayah Bengkulu pada akhir abad ke-18, berat 2-3 gram dan berdiameter 21 mm. terdapat inskripsi aksara arab jawi pada sisi belakang Sisi depan Monogram U/VEIC serta tahun, masing- masing 1787 Sisi belakang A EAA 1 satu keping 1202 (H) Gambar 15. Mata uang inggris Singapore Merchant Tokens (Sumber: Dokumentasi Rachmat Zainuddin, 2. al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Mata uang logam SMT . inghapore merchant toke. berbahan tembaga yang pernah berlaku di Sumatra, memiliki berat 2,o6 gram dan berdiameter 21 milimeter. Pada kedua sisinya terdapat aksara arab jawi Sisi depan terbaca A OEO IAPulau Percha (Sumatr. Sisi belakang terbaca u A EA 1 satu keping 1252 (H) Gambar 16. Mata uang logam inggris AuAyam: Singapore Merchant TokensAy (Sumber: Dokumentasi Rachmat Zainuddin, 2. Mata uang logam SMT . ingapore merchant toke. berbahan tembaga yang pernah berlaku di Sumatra, memiliki berat 1,9 gram dan berdiameter 21 milimeter. Pada kedua sisinya terdapat hiasan aksara arab jawi Sisi pertama terdapat hiasan gambar Ayam Jago terbaca A IN IEOOATanah Melayu Sisi kedua terbaca A EOAsatu keping 1227 (H) Mata Uang Kolonial Belanda Gambar 17. Mata Uang Java Rupee . umber: dokumentasi Yudha Pembudi Wibowo, 2. Java Rupee dicetak Belanda pada masa akhir VOC, berbahan perak, memiliki berat 12,09 grm berdiameter 24 mm. terdapat inskripsi aksara arab melayu pada kedua sisinya Sisi depan A NI II EIIO OEIOOADirham min kumpani walandawi Sisi belakang 1802 A EO O O EOAila jazirah jawa kabiir 1802 Gambar 18. Mata uang 2,5 Cent Nederlanch Indie (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Mata uang Hindia Belanda tahun 1856 berbahan tembaga, memiliki berat Sisi depan bagian tengah lambang kerajaan belanda dan tahun emisi, bagian atas tulisan dederlanch indie, bagian bawah nilai nominal. Sisi belakang aksara jawa dan arab melayu di bagian tengah terbaca AI OEN oNA seperempat puluh rupiah Gambar 19. Mata Uang 1 Cent Hindia Belanda (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang Hindia Belanda tahun 1856 berbahan tembaga, memiliki berat Sisi depan bagian tengah lambang kerajaan belanda dan tahun emisi, bagian atas tulisan dederlanch indie, bagian bawah nilai nominal. Sisi belakang aksara Jawa dan Arab Melayu di bagian tengah terbaca AN oNA seperatus rupiah Gambar 20. (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang perak Hindia Belanda cetakan tahun 1893, memiliki berat 0,95 gram dan diameter 15 mm. Pada kedua sisi mata uang terdapar hasan berupa aksara Latin. Jawa dan Arab Jawi/Pegon. Sisi depan bagian tengah lambang kerajaan belanda dan tahun emisi, bagian atas tulisan dederlanch indie, bagian bawah nilai nominal. Sisi belakang aksara jawa dan arab melayu di bagian tengah terbaca A OEN oNAseperpuluh rupiah. MATA UANG LOGAM BERAKSARA ARAB MELAYU DARI MASA AWAL KEMERDEKAAN Pada mata uang logam yang berasal dari masa awal kemerdekaan ditemukan sejumlah varian yang menggunakan aksara Arab Melayu Jawi/Pegon dalam ragam hiasanya. Gambar 21. Uang logam 10 sen 1954 (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang logam 10 sen allumunium ini memiliki berat 1,72 gram, diameter 23 mm. pada kedua sisi terdapat inskripsi latin dan arab melayu. Sisi depan lambang negara republik indonesia disertai aksara arab pegon yang terbaca A IOIOAIndonesia. Sisi belakang tertulis nama Indonesia, jumlah nominal 10 sen, serta tahun pembuatan yaitu 1954 masehi dalam aksara latin al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Gambar 22. (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar, 2. Mata uang 50 sen Nickel 1952, berat 3,29 gram dan berdiameter 19 mm. Sisi depan terdapat hiasan potret pangeran diponogoro disertai inskripsi latin dan arab melayu A O IADipanegara. Sisi belakang nama negara reoublik Indonesia disertai jumlah nominal 50 sen dan tahun cetakan yaitu 1952 masehi. Pada tahun 1952 Republik Indonesia masih menghadirkan aksara Jawi untuk menuliskan nama Pangeran Diponegoro. Namun tiga tahun setelahnya, tahun 1955, nama Diponegoro dalam aksara Jawi itu hilang dan menyisakan hanya nama Diponegoro dalam aksara Latin Gambar 23. Mata uang Satu Sen RI 1952 (Sumber: Dokumentasi Agung Gumilar. Mata uang logam 10 sen allumunium ini memiliki berat 1,72 gram, diameter 23 mm. pada kedua sisi terdapat inskripsi latin dan arab melayu. Sisi depan hiasan tangkai padi, nama Indonesia nominal 1 sen dan tahun cetak 1952 Sisi belakang nama Indonesia dalam aksara Arab Melayu AIOIOA PEMBAHASAN Pada mata uang yang berasal dari masa kesultanan Samudera Pasai . bad ke 13-. dan Gowa-Tallo . bad ke-. secara umum ditemukan bahwa penerapan aksara Arab Jawi/Pegon masih belum umum digunakan, pada proses pencetakan mata uang di masa tersebut pola aksara yang digunakan masih mengikuti bentuk aksara arab Naskhi yang berkembang di wilayah kekuasaan Islam di antaranya Persia dan India. Indikasi tersebut diketahui mengingat terdapat kesamaan pola aksara dalam mata uang Samudera-Pasai dengan mata uang- mata uang islam di Asia Tengah dan India pada kurun waktu yg hampir berdekatan meskipun terdapat bukti temuan beberapa dirham emas yang memuat hiasan yang merujuk pada gelar lokal, tetapi hal tersebut nampaknya bersifat commemorative atau peringatan yang dicetak dalam ruang lingkup yang terbatas (Muhammad, 2015: 217-. Fungsi penggunaan aksara arab pegon pada mata uang kedua kerajaan tersebut menyiratkan betapa pentingnya identitas keislaman bagi suatu wilayah yang menjadi sentral dakwah pertama bagi Nusantara, dalam hal ini Samudera-Pasai menjadi pionir dakwah islam bagi wilayah Indonesia Barat dan Tengah, sedangkan al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 Gow-Tallo menjadi pionir dakwah Islam bagi wilayah Indonesia Timur. Penegasan unsur-unsur Islam yang murni . elar-gelar penguasa Isla. dirasa sangat penting pada fase tersebut, mengingat semakin kuatnya pertumbuhan populasi kaum muslimin di wilayah kepulauan Asia Tenggara, dan sebagai media legitimasi pemerintahan muslim yang berdaulat di masing-masing wilayah. Hal ini tidak akan berhasil kecuali dengan membubuhkan laqab atau gelar yang sesuai dengan sistem pemerintahan Muslim di Timur Tengah dan India Utara. Pada masa ini aspek ciri dari penggunaan aksara Arab Jawi/Pegon yang sesuai dengan kaidahnya belum terlihat secara jelas dan masih berpegang pada anasir-anasir asli dari Aksara Arab murni yang belum terasimilasi dengan dialek dan bahasa lokal. Pada sample mata uang yang berasal dari kesultanan Banten. Demak. Madura. Banjarmasin, dan Aceh memperlihatkan penggunaan aksara arab yang lebih beralkulturasi dengan ruang lingkup adat istiadat setempat, dalam hal ini pembubuhan gelar-gelar lokal yang ditulis dalam aksara arab melayu memberikan kesan bahwa penggunaan Aksara Arab di luar konteks aturan penulisan bahasa aslinya bukan merupakan suatu masalah lagi bagi beberapa wilayah karena telah banyak masyarakat yang memahaminya, sebagaimana dinyatakan oleh Pigeaud . 7: 25-. bahwa masyarakat muslim Banten dan negeri-negeri basis islam lain yang sezaman telah menguasai idiom-ideom Islam, sehingga penulisan teks dengan menggunakan aksara pegon bukan lagi merupakan masalah. Pada mata uang logam yang berasal dari masa Kolonial Asing (Eropa Dan Beland. ditemukan banyak mata uang logam yang memiliki inskripsi arab Jawi/Pegon, seperti dalam beberapa mata uang / koin dari masa East India Company . bad ke . VOC . bad 18-awal ke . Singapore Merchant Token . bad ke . , dan Nederland-Indie pada . menyiratkan bahwasanya aksara arab melayu telah dikenal luas di sebagian besar wilayah Indonesia, dan menjadi common script bagi masyarakat Indonesia disamping huruf lokal lain. Fungsi mata uang sebagaimana dijelaskan oleh Solikin dan Suseno . uang berfungsi sebagai: . alat tukar . edium of exchang. , . alat penyimpan nilai . tore of valu. , . satuan hitung . nit of accoun. , dan . ukuran pembayaran yang tertunda . tandard for deffered paymen. Fungsi mata uang sebagai alat tukar yang paling dominan menjadikan pemerintah colonial yang terdiri dari berbagai bangsa, di antaranya Belanda dan Inggris sangat menaruh perhatian terhadap pencetakan mata uang lokal dengan menggunakan aksara Arab Jawi/Pegon mengingat aspek politis yang cukup signifikan, yaitu agar dapat diterima oleh penguasa-penguasa lokal yang kebanyakan telah memeluk agama Islam serta pertumbuhan model pendidikan berbasis pesantren tradisional menjadikan penulisan Jawi/Pegon menjadi aksara yang banyak digunakan oleh kaum intelektual dari kalangan santri dan ulama, hal ini berlanjut hingga masa awal merebut kemerdekaan pada awal abad ke-20. Pada masa awal kemerdekaan, yaitu pasca terbentuknya pemerintahan Republik Indonesia, penggunaan aksara jawi/pegon mulai ditinggalkan sedikit demi sedikit bahkan hingga derajat secara keseluruhan, sebagaimana ditegaskan oleh Nashrullah . bahwa dalam kurun 1948-1956 penggunaan aksara Jawi/Pegon menghilang secara keseluruhan. Hal ini terjadi mengingat penggunaan aksara Latin yang diperkenalakan oleh sistem pendidikan Kolonial telah mengakar cukup kuat dalam kultur dan budaya masyarakan Indonesia di masa pasca kolonial Walau begitu, penggunaan aksara tersebut masih dapat ditemukan. Misalnya al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 pada masa awal revolusi kemerdekaan antara tahun 1945-1949, pemerintah Indonesia dalam beberapa kesempatan masih memakai aksara Jawi di daerah-daerah tertentu yang didominasi Islam tradisional, misalnya di Aceh. Dan pada beberapa kesempatan pemerintah Indonesia juga sempat mengeluarkan beberapa mata uang berupa koin dengan dibubuhkan akasara Arab Melayu Jawi/Pegon, di antaranya adalah koin berilai 1, 10, dan 50 sen. Pada tahun 1952, koin bernilai 1 dan 50 sen Republik Indonesia masih menghadirkan aksara Jawi untuk menuliskan nama nama Indonesia dan nama pahlawan Pangeran Diponegoro. Serta koin 10 sen 1954 masih menuliskan nama negara Indonesia dalam aksara Jawi/Pegon. Namun pada tahun 1955, nama negara Indonesia dan Diponegoro dalam aksara Jawi itu hilang sama sekali dan hanya menyisakan nama Indonesia dan Diponegoro dalam aksara Latin. Pengguanan aksara arab Jawi/Pegon pada awal kemerdekaan tersebut secara jelas memperlihatkan masih diterimanya asara jawi/pegon sebagai identitas awal fase awal pembentukan Negara Indonesia yang banyak didukung kaum agamawan Muslim, hingga terjadinya gejolak perubahan politik dan revolusi menyebabkan penggunaan Arab Jawi/Pegon ditinggalkan secara resmi dan digantikan aksara Latin. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa popularitas aksara melayu jawi/pegon telah dimulai pada kurun abad ke 13 masehi, akan tetapi aksara tersebut baru mencapai bentuk sempurna dan baku seiring pesatnya kekuatan politis kesultanan-kesultanan Islam di wilayah kepulauan Nusantara pada kurun waktu abad ke-18 hingga abad ke-19. Beberapa penulisan Arab Melayu Jawi/Pegon pada abad ke-13-17 masih menggunakan aksara arab asli tanpa ada gejala perubahan morfologi huruf sebagaimana yang ditemukan dalam arab melayu/pegon, hal ini mengindikasikan penggunaan aksara Arab masih dipandang sebagai huruf sakral dalam arti kata lain masih dianggap aksara suci, sehingga para ulama pada masa tersebut tidak terlalu banyak merubah morfologi asli aksara arab berbahasa melayu seperti yang kita kenal saat ini. Penulisan Arab Jawi/Pegon pada masa kesultanan Aceh. Banten. Demak. Makasar. Banjarmasin, dan Madura mengindikasikan bahwa aksara arab telah mulai keluar dari ranah AureliginyaAy sehngga mampu berasimilasi dengan bahasa lokal, hal ini tiada lain dengan semakin terbukanya wawasan kaum intelektual muslim dan mulai menguatnya ancaman kolonial, khususnya pasca jatuhnya Malaka tahun 1511 ke tangan Portugis,sehingga dibutuhkan aspek pemersatu gagasan perjuangan lewat penggunaan bahasa Arab Jawi/Pegon sebagai aksara resmi dalam kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara. Pemerintah kolonial asing (Belanda dan Inggri. lewat kamar dagangnya VOC dan EIC abad ke -17-19 telah mengeluarkan beberapa jenis mata uang lokal menggunakan aksara Arab Jawi/Pegon, hal ini mengindikasikan sistem pemerintahan dan masyarakat yang didominasi oleh kaum muslimin masih cukup kuat di wilayah Nusantara di abad ke-18 s. d abad ke 20. Sehingga aspek geo-politik sangat berpengaruh dalam berbagai kebijakan pemerintah Kolonial terhadapa negeri-negeri dan kesultanan Muslim di nusantara. Hal ini tidaklah lama, pemerintah kolonial dengan sedikit-sedikit merubah sistem pendidikan dan masyarakat yang sebelumnya berbasis pesantren dan ulama menjadi lebih liberal al-Urwatul Wutsqo 2. Maret 2021 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 2 NO. 1, 2021 stit-alhidayah. E-ISSN: 2721-5504 P-ISSN: 2747-0105 lewat pembukaan sekolah-sekolah rakyat dimana yang diajarakan adalah aksara Latin, sistem ini lambat laun menghilangkan penggunaan aksara Arab Jawi/Pegon. Menguatanya perlawanan bangsa Indonesia di awal abad ke-20 yang didukung penuh oleh kalangan ulama dan santri turut memberikan pengaruh terhadap penggunaan aksara Arab Jawi/Pegon pada masa awal kemerdekaan hal ini terlihat dalam pembubuhan aksara Jawi/Pegon pada penyebutan nama negara AuIndonesiaAy dan nama pahlawan AuPangeran DiponegoroAy pada mata uang di masa awal kemerdekaan hingga penggunaan resminya berakhir tahun 1955 seiring dengan gejolak politik pada masa tersebut, dan pemantapan penggunaan aksara latin menggatikan aksara Arab DAFTAR PUSTAKA