JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1912 - 1920 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Dinamika Keluarga. Lingkungan Urban, dan Minat Sekolah Anak Nirmala Cahya Shafira1A. Riska Nanda2. Meidy Ardelia3. Khosi Aini Ahmad4. Arif Saefudin5 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Indonesia1,2,3,4,5 E-mail: nirmalacahyasyafira@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dinamika keluarga dan karakteristik lingkungan perkotaan terhadap minat sekolah anak di wilayah Tegal Alur. Jakarta Barat. Latar belakang penelitian bermula dari fenomena rendahnya motivasi belajar anak di daerah perkotaan meskipun fasilitas pendidikan telah memadai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh narasumber anak dan remaja, serta observasi terhadap lingkungan keluarga dan sosial mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan, komunikasi, dan dukungan emosional orang tua berperan signifikan dalam membentuk minat anak terhadap Anak-anak yang hidup dalam keluarga harmonis dengan pengawasan dan komunikasi yang baik menunjukkan motivasi belajar tinggi, sedangkan keluarga dengan hubungan kurang harmonis cenderung menghasilkan anak yang kehilangan semangat bersekolah. Selain itu, lingkungan perkotaan dengan berbagai gangguan sosial seperti hiburan, pekerjaan informal, dan minimnya dukungan komunitas turut menurunkan fokus anak terhadap pendidikan formal. Penelitian ini juga menemukan bahwa tekanan ekonomi keluarga masih menjadi faktor penghambat utama keberlanjutan sekolah anak, meskipun akses pendidikan telah tersedia dengan baik. Temuan ini memperkuat teori perkembangan ekologi Bronfenbrenner dan motivasi Maslow yang menempatkan keluarga sebagai lingkungan mikro utama dalam membentuk motivasi belajar anak. Implikasi praktisnya, penguatan peran keluarga, dukungan sosial, dan kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah diperlukan untuk meningkatkan partisipasi pendidikan anak di wilayah perkotaan. Kata Kunci: motivasi, pola pengasuhan, minat sekolah, lingkungan Abstract This study aims to analyze the influence of family dynamics and urban environmental characteristics on children's interest in schooling in the Tegal Alur area. West Jakarta. The research originates from the phenomenon of low learning motivation among children in urban areas, despite adequate educational facilities. Using a qualitative approach with a descriptiveanalytical method, the study involved in-depth interviews with ten child and adolescent participants, as well as observations of their family and social environments. The findings show that parenting patterns, communication, and emotional support from parents play a significant role in shaping childrenAos interest in education. Children who live in harmonious families with good supervision and communication tend to have high learning motivation, while those from less harmonious families often lose their enthusiasm for school. Moreover, the urban environmentAiwith its social distractions such as entertainment, informal employment, and lack of community supportAireduces childrenAos focus on formal education. Economic pressures within families remain a major barrier to childrenAos continued schooling, even though access to education is relatively well provided. These findings reinforce BronfenbrennerAos ecological systems theory and MaslowAos hierarchy of needs, both of which position the family as the primary microsystem influencing a childAos learning motivation. Therefore, strengthening family roles, social support, and collaboration among schools, communities, and local governments is essential to improve childrenAos participation in education in urban areas. Keywords: motivation, parenting, school interest, environment Copyright . 2025 Nirmala Cahya Shafira. Riska Nanda. Meidy Ardelia. Khosi Aini Ahmad. Arif Saefudin A Corresponding author : Email : nirmalacahyasyafira@gmail. DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1913 Dinamika Keluarga. Lingkungan Urban, dan Minat Sekolah AnakAe Nirmala Cahya Shafira. Riska Nanda. Meidy Ardelia. Khosi Aini Ahmad. Arif Saefudin DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan. Dalam konteks global, rendahnya minat dan partisipasi anak dalam pendidikan formal menjadi isu penting karena berimplikasi langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan (HADI WIJAYA, 2. Urbanisasi yang cepat di berbagai negara, termasuk Indonesia, telah membawa dampak sosial, ekonomi, dan budaya yang kompleks. Meskipun wilayah perkotaan umumnya memiliki akses dan fasilitas pendidikan yang lebih baik, tidak sedikit anak di kawasan urban yang justru mengalami penurunan motivasi untuk bersekolah (Ramdani, 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana fisik tidak selalu menjamin peningkatan minat belajar, karena faktor psikologis, sosial, dan ekonomi masih menjadi tantangan utama (Selinaswati, 2. Secara nasional, data Badan Pusat Statistik(Rizal, 2. memperlihatkan bahwa angka partisipasi sekolah di wilayah perkotaan Indonesia mengalami stagnasi, terutama pada kelompok usia 13Ae18 tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah tekanan ekonomi keluarga yang membuat anak-anak di kota besar lebih memilih bekerja atau membantu orang tua daripada melanjutkan pendidikan. Di sisi lain, perkembangan gaya hidup perkotaan, akses teknologi yang luas, dan lemahnya kontrol sosial turut memengaruhi perilaku belajar anak. Penelitian oleh . afizha Siti. Andriana. Encep, 2. dan (Heriyadi, 2. menegaskan bahwa anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah di kawasan urban cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih rendah karena kurangnya dukungan emosional dan perhatian dari orang tua, serta minimnya pengawasan lingkungan. Konteks lokal wilayah Tegal Alur di Jakarta Barat menggambarkan realitas sosial tersebut dengan cukup Kawasan ini memiliki karakteristik ekonomi menengah ke bawah dan tingkat mobilitas sosial yang tinggi. Banyak keluarga di wilayah ini bergantung pada pekerjaan informal, sehingga anak-anak sering kali terlibat dalam kegiatan ekonomi keluarga sejak usia sekolah (Putri, 2. Selain itu, kondisi lingkungan yang padat, pengaruh teman sebaya, dan kurangnya kegiatan komunitas positif, seperti kelompok belajar atau karang taruna aktif, menyebabkan anak-anak kehilangan motivasi untuk melanjutkan pendidikan (Ridhani, 2. Dengan demikian, persoalan minat sekolah anak di kawasan perkotaan bukan hanya persoalan akses pendidikan, tetapi juga hasil dari interaksi kompleks antara kondisi keluarga, tekanan ekonomi, serta lingkungan sosial dan budaya Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan penting yang berkaitan dengan dinamika pendidikan anak di wilayah perkotaan. Penelitian ini ingin menggali bagaimana dinamika dalam keluarga termasuk peran orang tua, kondisi ekonomi, dan pola asuh memengaruhi minat anak untuk bersekolah. Selain itu, penelitian ini juga menelusuri bagaimana karakteristik lingkungan perkotaan di Jakarta Barat berdampak pada motivasi anak dalam mengikuti pendidikan formal, serta bagaimana interaksi antara keluarga dan lingkungan sekitar membentuk persepsi anak terhadap pentingnya sekolah. Lebih jauh lagi, penelitian ini berusaha mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendorong minat sekolah anak dalam konteks kehidupan perkotaan, guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang keterkaitan antara keluarga, lingkungan, dan minat belajar anak. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-eksploratif untuk memahami secara mendalam dinamika keluarga dan lingkungan perkotaan yang memengaruhi minat sekolah anak. Menurut (Selinaswati, 2. pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menghasilkan data yang kaya, mendalam, dan bermakna secara naturalistik. Desain deskriptif-eksploratif dianggap sesuai untuk tujuan penelitian yang berfokus pada eksplorasi fenomena sosial yang relatif baru atau belum banyak dikaji, sebagaimana dijelaskan oleh Hunter . Partisipan utama dalam penelitian ini adalah anak-anak berusia 7Ae18 tahun di wilayah Jakarta Barat yang menunjukkan kecenderungan rendah minat sekolah. Pemilihan partisipan dilakukan menggunakan teknik Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1914 Dinamika Keluarga. Lingkungan Urban, dan Minat Sekolah AnakAe Nirmala Cahya Shafira. Riska Nanda. Meidy Ardelia. Khosi Aini Ahmad. Arif Saefudin DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. purposive sampling dengan mempertimbangkan relevansi karakteristik informan terhadap tujuan penelitian. Selain anak-anak sebagai subjek utama, penelitian ini juga melibatkan informan pendukung seperti orang tua, guru, dan tokoh masyarakat yang memiliki keterlibatan langsung dengan kehidupan anak. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pengalaman pribadi, pandangan, serta motivasi anak dan orang tua terhadap kegiatan sekolah. Observasi partisipatif digunakan untuk memahami interaksi dan dinamika sosial yang terjadi di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Sementara itu, studi dokumentasi dimanfaatkan untuk meninjau data sekunder seperti catatan sekolah, laporan komunitas, serta dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis tematik yang meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses ini bertujuan untuk menemukan pola, kategori, dan tema-tema utama yang menggambarkan fenomena rendahnya minat sekolah anak. Keabsahan data diperkuat melalui teknik triangulasi sumber dan metode, sebagaimana dikemukakan oleh Hayes . , untuk memastikan validitas dan reliabilitas hasil penelitian. Dalam pelaksanaannya, peneliti berperan sebagai instrumen utama yang hadir secara langsung di Penelitian dilakukan di wilayah Tegal Alur. Jakarta Barat, selama tiga bulan, mencakup tahap observasi awal, wawancara, dan verifikasi data. Dengan landasan teori pendekatan kualitatif mendalam, eksplorasi fenomena sosial, analisis tematik, serta penerapan triangulasi data, penelitian ini diharapkan mampu memberikan deskripsi yang sistematis, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai faktorfaktor sosial yang berperan dalam rendahnya minat sekolah anak di lingkungan perkotaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Peran Orang Tua. Kondisi Ekonomi, dan Pola Asuh terhadap Minat Sekolah Anak Berdasarkan hasil observasi terhadap sepuluh narasumber anak dan remaja di wilayah Tegal Alur. Jakarta Barat, ditemukan bahwa dinamika keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat sekolah anak. Pola asuh, komunikasi, dan perhatian orang tua komponen menjadi utama dalam membentuk sikap anak terhadap pendidikan (Sugiharto, 2. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi yang terbuka, dukungan emosional yang kuat, serta pengawasan yang memadai menunjukkan minat sekolah yang Sebaliknya, keluarga dengan hubungan yang kurang harmonis dan minim perhatian cenderung melahirkan anak-anak yang kehilangan semangat belajar, bahkan beberapa memilih membantu orang tua bekerja dibandingkan melanjutkan sekolah formal (Putri, 2. Selain faktor internal keluarga, kondisi lingkungan sosial juga memberikan pengaruh terhadap minat sekolah anak (Yanti & Selinaswati, 2. (Selinaswati, 2. ,Lingkungan perkotaan seperti Tegal Alur yang dipenuhi berbagai gangguan, seperti warung internet, tempat hiburan, serta aktivitas ekonomi informal, sering kali mengalihkan fokus anak dari kegiatan belajar. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan kemampuan sosial rendah menunjukkan kecenderungan penurunan minat sekolah. Namun, beberapa anak yang mendapatkan bimbingan dan dukungan dari guru, teman sebaya, atau tokoh masyarakat tetap mampu mempertahankan motivasi belajar mereka meskipun berada di lingkungan yang kurang kondusif (HADI WIJAYA, 2. Hasil observasi ini menunjukkan bahwa dinamika keluarga dan minat sekolah memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Keluarga dengan suasana positif dan komunikasi efektif dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, sehingga menumbuhkan minat dan motivasi anak terhadap pendidikan (Sugiharto, 2. Sebaliknya, dinamika keluarga yang dipenuhi konflik dan minim perhatian berpotensi menurunkan keinginan anak untuk bersekolah. Oleh karena itu, penguatan peran keluarga menjadi aspek penting dalam meningkatkan partisipasi pendidikan anak di wilayah perkotaan yang penuh tantangan sosial (Heriyadi, 2. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1915 Dinamika Keluarga. Lingkungan Urban, dan Minat Sekolah AnakAe Nirmala Cahya Shafira. Riska Nanda. Meidy Ardelia. Khosi Aini Ahmad. Arif Saefudin DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Penelitian ini juga memberikan kontribusi baru dalam kajian sosial pendidikan dengan menegaskan bahwa faktor keluarga, terutama pola asuh, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional, memiliki peran yang lebih besar dibandingkan faktor ekonomi semata-mata dalam mempengaruhi minat sekolah anak (Temuan ini memperkuat kerangka teori perkembangan ekologi yang menempatkan keluarga sebagai lingkungan mikro utama yang membentuk motivasi dan perilaku belajar anak. Oleh karena itu, intervensi yang fokus pada pelibatan orang tua, komunikasi keluarga, serta pendampingan belajar di rumah menjadi kunci untuk menjaga dan meningkatkan minat sekolah anak di wilayah perkotaan seperti Tegal Alur (Silitonga, 2. Pengaruh Karakteristik Lingkungan Perkotaan Jakarta Barat terhadap Motivasi Anak dalam Mengikuti Pendidikan Formal Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah Tegal Alur. Jakarta Barat, ditemukan bahwa karakteristik lingkungan perkotaan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap motivasi anak dalam mengikuti pendidikan formal. Meskipun secara fisik lingkungan perkotaan menyediakan berbagai kemudahan, seperti jarak sekolah yang dekat, fasilitas pendidikan yang memadai, serta sarana transportasi yang mudah diakses, kondisi tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya motivasi anak untuk bersekolah (Ridhani, 2. Dalam konteks sosial, lingkungan perkotaan justru menghadirkan berbagai distraksi, seperti tempat hiburan, warung kopi, dan akses mudah terhadap game online yang sering kali menarik perhatian anakanak dan remaja. Berdasarkan teori motivasi belajar dari Abraham Maslow serta teori ekologi perkembangan dari Bronfenbrenner, motivasi anak tidak hanya ditentukan oleh faktor internal seperti kebutuhan dan keinginan pribadi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan lingkungan sekitar (Selinaswati, 2. Ketika lingkungan tidak memberikan dukungan positif, misalnya kurangnya kontrol sosial, lemahnya interaksi antarwarga, atau minimnya perhatian keluarga, anak akan kehilangan fokus terhadap tujuan pendidikannya. Dalam konteks ini, dukungan emosional dan sosial dari keluarga serta komunitas menjadi faktor penting dalam menjaga dan menumbuhkan motivasi belajar anak di tengah kompleksitas kehidupan perkotaan. Temuan ini memperkaya literatur sebelumnya, seperti yang diungkapkan oleh(Fanani Surahmat. Prasetyo. Hendra Ade. Puji Hastuti. Maya Dwi. Rohim. Bima Nur Fadhilatur. Abdullah. Ahmad Afif. Alfarizi. Akhmad Salman, 2. , bahwa partisipasi pendidikan di wilayah perkotaan cenderung menurun bukan karena keterbatasan fasilitas, melainkan akibat lemahnya dukungan sosial dan rendahnya kontrol masyarakat terhadap perilaku anak. Penelitian ini memperkuat pandangan tersebut dengan menambahkan variabel pola asuh dan minat sekolah sebagai faktor penting yang berinteraksi dengan karakteristik lingkungan perkotaan. Dengan demikian, hubungan antara lingkungan sosial, dinamika keluarga, dan motivasi belajar menjadi semakin jelas dan saling terkait. Secara teoritis, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak di wilayah perkotaan tidak dapat dijelaskan hanya melalui pendekatan infrastruktur seperti penyediaan fasilitas dan infrastruktur Faktor sosial dan psikologis yang berperan dalam membentuk motivasi anak harus mendapat perhatian yang sama besar (Yanti & Selinaswati, 2. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan komunitas lokal dalam menciptakan lingkungan yang kondusif, suportif, dan inspiratif agar anak-anak tetap memiliki semangat untuk bersekolah serta berprestasi di tengah tantangan kehidupan perkotaan yang kompleks. Interaksi Keluarga dan Lingkungan Sekitar dalam Membentuk Persepsi Anak terhadap Pentingnya Sekolah Penelitian ini menyoroti hubungan antara keluarga dan lingkungan dalam membentuk persepsi serta motivasi anak terhadap pendidikan di wilayah perkotaan seperti Tegal Alur. Jakarta Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat bersekolah anak tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi atau kemudahan akses ke fasilitas pendidikan, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara keluarga dan lingkungan sosial di sekitarnya Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1916 Dinamika Keluarga. Lingkungan Urban, dan Minat Sekolah AnakAe Nirmala Cahya Shafira. Riska Nanda. Meidy Ardelia. Khosi Aini Ahmad. Arif Saefudin DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. (Ramdani, 2. Pola asuh orang tua yang terlalu longgar atau permisif, di mana anak diberikan kebebasan tanpa pengawasan dan dukungan yang memadai, terbukti dapat meningkatkan motivasi anak untuk bersekolah secara rutin. Temuan ini memperkuat bukti empiris yang telah ada, yang menunjukkan bahwa gaya pengasuhan otoritatif . espon tinggi dan tuntutan modera. memiliki korelasi positif dengan pencapaian akademik anak. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya literatur sebelumnya tentang dinamika pengasuhan dalam konteks kehidupan perkotaan Indonesia yang memiliki tekanan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang khas (Triana et , 2. Secara teoritis, hasil penelitian ini menegaskan bahwa motivasi belajar anak tidak terbentuk dalam ruang Mengacu pada kerangka teori motivasi Abraham Maslow, kebutuhan dasar seperti keamanan, kesejahteraan ekonomi, dan kenyamanan keluarga harus terlebih dahulu dipenuhi agar anak mampu mencapai tingkat motivasi belajar yang lebih tinggi. Dalam konteks penelitian ini, ditemukan bahwa tekanan ekonomi keluarga, kondisi lingkungan yang kurang mendukung, serta lemahnya pengawasan orang tua dapat membuat anak terjebak pada pemenuhan kebutuhan dasar dan gangguan lingkungan, sehingga perhatian terhadap pendidikan formal menjadi berkurang. Hal ini memperkuat pandangan perkembangan ekologi Bronfenbrenner, yang menjelaskan bahwa perkembangan anak merupakan hasil interaksi simultan antara faktor individu . , lingkungan mikro . , dan lingkungan makro . onteks sosial-ekonomi perkotaa. (Matali, 2. Penelitian ini juga menunjukkan adanya keselarasan dengan literatur mengenai gaya pengasuhan, di mana gaya permisif secara konsisten tidak berdampak negatif terhadap motivasi dan prestasi akademik anak. Sebaliknya, pola asuh yang otoritatif dengan komunikasi terbuka, bimbingan emosional, dan tuntutan yang realistis dapat memperkuat motivasi belajar serta membentuk persepsi positif terhadap pendidikan. Dalam konteks perkotaan seperti Tegal Alur, di mana anak sering terpapar berbagai distraksi sosial seperti hiburan, pekerjaan informal, dan media digital, peran keluarga menjadi semakin krusial dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan dan pengawasan (Herwanto, 2. Faktor Penghambat dan Pendorong Minat Sekolah Anak dalam Konteks Kehidupan Perkotaan Faktor pendorong utama minat sekolah anak di wilayah perkotaan, seperti yang terlihat di Tegal Alur. Jakarta Barat, adalah aksesibilitas dan ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai. Kemudahan menjangkau sekolah, baik dengan berjalan kaki, kendaraan pribadi, maupun angkutan umum, menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi anak untuk hadir secara rutin dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Kondisi lingkungan yang relatif aman dan teratur serta meminimalkan hambatan fisik maupun sosial yang dapat mengganggu proses belajar. Dukungan infrastruktur yang baik ini berperan penting dalam menghilangkan beban logistik dan kekhawatiran orang tua terkait keamanan anak, sehingga pendidikan formal menjadi pilihan yang realistis, praktis, dan mudah diakses oleh keluarga perkotaan. Namun demikian, tekanan ekonomi keluarga dan peluang kerja dini masih menjadi penghambat signifikan terhadap minat dan hilangnya sekolah anak. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, kebutuhan ekonomi jangka pendek sering kali lebih diutamakan dibandingkan investasi pendidikan jangka panjang. Anak-anak yang memiliki kesempatan untuk segera menghasilkan pendapatan, seperti membantu usaha orang tua atau bekerja di sektor informal, cenderung memilih berhenti sekolah karena manfaat ekonomi langsung terasa lebih nyata dan mendesak. Fenomena ini menciptakan dilema antara kebutuhan ekonomi keluarga dan kepentingan pendidikan, di mana peran anak sebagai kontributor ekonomi rumah tangga sering kali dianggap lebih penting dibandingkan keinginan sekolah formal (Rigianti, 2. Selain faktor ekonomi, rendahnya keterlibatan sosial dan dukungan komunitas juga menjadi tantangan penting dalam menumbuhkan minat sekolah anak. Meskipun fasilitas pendidikan telah tersedia dengan baik, minimalnya kegiatan sosial seperti kelompok belajar, bimbingan masyarakat, atau organisasi kepemudaan seperti karang taruna, menyebabkan lingkungan sekitar gagal membangun budaya belajar yang kuat. Ketika dukungan sosial dan kontrol komunitas terhadap anak-anak rendahan, upaya pihak sekolah untuk menarik kembali anak-anak yang putus sekolah menjadi kurang efektif. Meskipun demikian, meskipun hambatan Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1917 Dinamika Keluarga. Lingkungan Urban, dan Minat Sekolah AnakAe Nirmala Cahya Shafira. Riska Nanda. Meidy Ardelia. Khosi Aini Ahmad. Arif Saefudin DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. struktural seperti jarak dan fasilitas sudah teratasi, hambatan sosial dan kultural tetap menjadi faktor penentu dalam menjaga keberlangsungan pendidikan anak di kawasan perkotaan (Ghofur, 2. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa di wilayah perkotaan seperti Tegal Alur, aksesibilitas dan ketersediaan fasilitas pendidikan memang menjadi pendorong utama minat sekolah, namun tekanan ekonomi keluarga dan lemahnya dukungan sosial tetap menjadi penghambat yang signifikan(Matali, 2. Temuan ini mendukung teori pengurangan biaya gesek . riction cost theor. dalam pendidikan, yang menjelaskan bahwa semakin kecil hambatan logistik, semakin tinggi potensi partisipasi pendidikan. Namun, konteks perkotaan di Indonesia menunjukkan adanya pergeseran fokus dari tantangan struktural menuju tantangan motivasional, di mana persoalan utama bukan lagi keterbatasan sarana, melainkan lemahnya agensi sosial dan ekonomi keluarga dalam mempertahankan anak di sekolah (Hasraawati Barlian, 2. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam interpretasi hasilnya. Pertama, cakupan wilayah penelitian yang terbatas hanya pada satu kawasan perkotaan, yaitu Tegal Alur. Jakarta Barat, membuat generalisasi hasil ke konteks perkotaan lain di Indonesia masih bersifat terbatas. Kedua, jumlah sumber yang relatif sedikit, sebanyak sepuluh anak dan remaja, membatasi kedalaman variasi data yang diperoleh, terutama dalam memahami perbedaan antar kelompok usia, latar belakang ekonomi, dan pola pengasuhan keluarga. Ketiga, metode penelitian yang dominan bersifat observatif dan deskriptif belum sepenuhnya mampu mengukur hubungan sebab akibat antara variabel seperti pola asuh, lingkungan sosial, dan motivasi belajar anak (Fitriana rahma. pratama, septiano anggun. lamasitudju, chairunnisa ar, 2. Selain itu, faktor eksternal seperti pengaruh media digital, kebijakan pendidikan daerah, dan interaksi teman sebaya belum dieksplorasi secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian lanjutan perlu menggunakan pendekatan campuran . uantitatif dan kualitati. dengan cakupan lokasi yang lebih luas agar hasilnya dapat lebih komprehensif dan aplikatif dalam pengambilan kebijakan pendidikan di wilayah perkotaan (Wati Muhsin, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika karakteristik keluarga dan lingkungan perkotaan memiliki peran yang signifikan dalam membentuk minat dan motivasi anak untuk bersekolah di wilayah Tegal Alur. Jakarta Barat. Pola pengasuhan yang diterapkan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, serta interaksi sosial di lingkungan sekitar menjadi faktor utama yang menentukan tinggi rendahnya minat anak terhadap pendidikan Keluarga dengan pola asuh demokratis, komunikasi yang terbuka, dan dukungan emosional yang kuat terbukti mampu menumbuhkan semangat belajar anak meskipun berada dalam lingkungan yang padat dan penuh gangguan. Sebaliknya, pola pengasuhan permisif, kelalaian pengawasan, serta lemahnya nilai pendidikan dalam komunitas sosial menyebabkan anak lebih mudah kehilangan minat sekolah. Hal ini menampilkan bahwa dalam konteks perkotaan, minat anak terhadap pendidikan tidak semata-mata dipengaruhi oleh jarak atau akses fisik ke sekolah, melainkan lebih ditentukan oleh kualitas hubungan sosial yang terjalin antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar (Triana et al. , 2. Secara teori, penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan kajian pendidikan perkotaan dengan memperkuat konsep teori sistem ekologi yang dikemukakan oleh Bronfenbrenner . afizha Siti. Andriana. Encep, 2. serta teori Self-Determination yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan (Mane. Penelitian ini memperluas pemahaman bahwa motivasi belajar anak di wilayah perkotaan merupakan hasil interaksi dinamis antara sistem mikro . , meso . ekolah dan lingkungan sosia. , serta makro . truktur sosial perkotaa. Temuan ini melengkapi pemerasan dalam literatur sebelumnya yang cenderung menonjolkan aspek ekonomi sebagai penyebab utama rendahnya partisipasi pendidikan anak di perkotaan (Jasiah, 2. dengan menambahkan dimensi sosial, psikologis, dan kultural sebagai variabel penting dalam membentuk perilaku belajar anak. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya perspektif ilmiah mengenai pendidikan anak di wilayah perkotaan yang kompleks dan heterogen. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1918 Dinamika Keluarga. Lingkungan Urban, dan Minat Sekolah AnakAe Nirmala Cahya Shafira. Riska Nanda. Meidy Ardelia. Khosi Aini Ahmad. Arif Saefudin DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Dari sisi praktis, hasil penelitian ini memberikan pentingnya penguatan kebijakan dan intervensi pendidikan berbasis keluarga dan komunitas di wilayah perkotaan. Pemerintah daerah bersama lembaga pendidikan perlu mengembangkan program pendidikan orang tua untuk meningkatkan kapasitas orang tua dalam menerapkan pola asuh positif dan mendukung aktivitas belajar anak di rumah. Selain itu, penguatan kolaborasi antara sekolah dan masyarakat melalui kegiatan berbasis komunitas seperti taman baca, rumah belajar, dan karang taruna literasi dapat berperan sebagai strategi efektif dalam menumbuhkan budaya belajar di lingkungan perkotaan (Silitonga, 2. Kebijakan pendidikan di perkotaan juga perlu memperhatikan aspek sosial-psikologis anak dengan menciptakan ruang publik yang aman, inklusif, dan mendukung kegiatan Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan minat sekolah anak di wilayah perkotaan tidak hanya bergantung pada penyediaan fasilitas pendidikan, tetapi juga pada upaya kolektif dalam membangun ekosistem sosial yang peduli terhadap nilai pendidikan dan pengembangan anak secara holistik. DAFTAR PUSTAKA