Received: 24 Apr 2026 . Revised: 27 Apr 2026. Published: 26 Mei 2026 LITERASI KEAGAMAAN YANG INKLUSIF: STUDI COGNITIVE FLUENCY PADA DESAIN PANDUAN MEMAKSIMALKAN PUASA RAMADAN BAGI PENGGUNA LANSIA Nurul Fadhillah S1. Nurjayanti2 1,2Prodi Desain Komunikasi Visual. Universitas Negeri Makassar Email: nurul. fadhillah@unm. id, nurjayanti@unm. ABSTRACT This study is grounded in the need for more inclusive religious literacy for older adults, particularly in relation to Ramadan fasting guidance delivered through visual media. Older adults often experience reduced visual function, slower information processing, and lower cognitive speed, making overly decorative infographic designs more likely to hinder readability and increase cognitive load. The study employed a qualitative descriptive-comparative approach using semi-structured interviews with three older adult participants, consisting of one male and two female participants. They were shown two versions of a Guide to Maximizing Ramadan Fasting infographicAione minimalist and one more decorativeAito examine which design was understood more quickly and which elements caused confusion. The findings reveal that the simpler design was generally easier to understand because it produced higher cognitive fluency, whereas the ornament-heavy design generated greater visual cognitive load. Nevertheless, the Ramadan-themed aesthetic remained meaningful as long as it did not compromise message clarity. The study concludes that religious literacy materials for older adults should prioritize readability, a clear visual hierarchy, and a balance between aesthetics and processing efficiency. Accordingly, designers and religious content developers are advised to adopt a user-centered approach and test designs with the target audience from the early stages of development. Keywords: Religious literacy. Cognitive fluency. Older adults. Infographic. Inclusive design. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan literasi keagamaan yang lebih inklusif bagi pengguna lansia, khususnya dalam memahami panduan ibadah puasa Ramadan yang disajikan melalui media visual. Lansia cenderung mengalami penurunan fungsi penglihatan, daya tangkap, dan kecepatan pemrosesan informasi, sehingga desain infografis yang terlalu padat ornamen berpotensi menurunkan keterbacaan dan meningkatkan beban kognitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur terhadap tiga partisipan lansia. Literasi Keagamaan Yang Inklusif: Studi Cognitive Fluency Pada Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan Bagi Pengguna Lansia terdiri atas satu laki-laki dan dua perempuan. Partisipan diperlihatkan dua versi infografis Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan, yaitu desain minimalis dan desain yang lebih dekoratif, untuk mengetahui mana yang lebih cepat dipahami serta bagian mana yang dianggap Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain yang lebih sederhana cenderung lebih cepat dipahami karena memberikan cognitive fluency yang lebih tinggi, sedangkan desain yang padat ornamen memunculkan beban kognitif visual yang lebih besar. Meski demikian, unsur estetika Ramadan tetap memiliki nilai selama tidak mengganggu kejelasan pesan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desain literasi keagamaan untuk lansia perlu mengutamakan keterbacaan, struktur visual yang tegas, dan keseimbangan antara estetika serta efisiensi pemrosesan informasi. Oleh karena itu, desainer dan penyusun materi keagamaan disarankan menerapkan pendekatan user-centered serta menguji desain pada pengguna sasaran sejak awal Kata Kunci: Literasi keagamaan, cognitive fluency, lansia, infografis, desain inklusif. Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 17 Nurul Fadhillah S. Nurjayanti PENDAHULUAN Puasa Ramadan merupakan ibadah yang penting dalam Islam. Tidak hanya menyangkut dimensi spiritual, puasa Ramadan juga menyentuh aspek pengaturan diri, kondisi fisik, dan kesiapan menjalani aktivitas harian. Pada kelompok lansia, praktik ibadah ini membutuhkan dukungan informasi yang lebih jelas karena perubahan fungsi penglihatan, daya tangkap, dan kecepatan mereka dalam memproses informasi. Penjelasan yang panjang dan visualisasi yang berantakan terasa lebih berat untuk dikonsumsi. Wallace et . serta Pagan dan Edgecombe . dalam penelitiannya juga menjelaskan bahwa memperjelas pesan mampu memudahkan lansia memahami isi informasi keagamaan yang mereka perlukan untuk beribadah dengan lebih aman dan nyaman. Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan karena tidak semua bentuk penyajian informasi bekerja dengan cara yang sama bagi lansia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan sensori dan kognitif pada usia lanjut berkaitan erat dengan rendahnya literasi kesehatan dan meningkatnya kebutuhan akan informasi yang lebih sederhana, terarah, dan mudah diproses (Chen et al. , 2022. Wallace et al. , 2. Jika seperti ini, visualisasi bukan sekadar elemen estetika, tetapi juga telah menjadi alat bantu komunikasi yang dapat menjembatani informasi kompleks agar lebih mudah dipahami oleh kelompok usia lanjut. Prinsip ini sejalan dengan gagasan cognitive fluency sebagai salah satu efek psikologis yang sering diaplikasikan pada teks copywriting, yakni informasi yang mudah diproses cenderung terasa lebih jelas, lebih nyaman diterima, dan lebih cepat dipahami. Pada lansia, kemudahan pemrosesan visual menjadi semakin penting karena desain yang terlalu padat atau terlalu dekoratif dapat menambah beban pemahaman. Sejalan dengan itu. Song et . dan Nie et al. dalam penelitiannya melihat bahwa visualisasi dan ikon untuk lansia yang tampilannya sederhana, ada label teks, dan menggunakan struktur visual yang lebih tegas ternyata mampu meningkatkan pemahaman mereka. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini menghadirkan dua versi infografis panduan AuMemaksimalkan Puasa RamadanAy dalam format JPG. Versi pertama dirancang dengan ornamen khas Ramadan dan tipografi berkelok yang menonjolkan sisi estetis, tetapi cenderung lebih kompleks secara visual. Versi kedua disusun dengan tampilan yang jauh lebih bersih, poin-poin yang tegas, dan warna berkontras tinggi untuk memudahkan Perbandingan dua desain ini dimaksudkan untuk melihat | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Literasi Keagamaan Yang Inklusif: Studi Cognitive Fluency Pada Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan Bagi Pengguna Lansia bagaimana lansia merespons perbedaan tingkat kerumitan visual dalam materi keagamaan, terutama ketika informasi disajikan melalui media infografis yang menuntut keterbacaan tinggi. Secara umum, penelitian ini dilakukan melalui wawancara terhadap tiga partisipan lansia, terdiri atas satu pria dan dua wanita. Fokus pertanyaan diarahkan pada dua hal utama, yaitu desain mana yang lebih cepat dipahami dan bagian mana dari desain yang ramai yang terasa paling Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya menangkap dan menemukan pengalaman langsung dari pengguna yang tidak hanya menilai kualitas visual dari perspektif desainer belaka. Data yang dihasilkan nantinya diharapkan mampu memperlihatkan hubungan antara bentuk penyajian informasi dan kemudahan lansia dalam menangkap pesan keagamaan yang disampaikan. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada respons kognitif dan persepsi partisipan terhadap dua versi infografis. Bahasan tentang perubahan perilaku ibadah, aspek kesehatan, ataupun efektivitas desain dalam skala populasi yang lebih luas tidak diakomodir. Batasan tersebut dinilai penting agar pembacaan hasil tetap berada dalam kerangka kualitatif dan kontekstual. Jadi nantinya temuan yang muncul diposisikan sebagai gambaran mendalam tentang cara lansia memahami informasi visual dan bukan generalisasi atas seluruh kelompok lansia. Asumsi yang diusung dalam penelitian ini adalah bahwa desain yang lebih sederhana, terstruktur, dan memiliki kontras visual kuat akan lebih cepat dipahami oleh lansia dibandingkan desain yang penuh ornamen dan tipografi dekoratif. Asumsi ini bertumpu pada temuan-temuan sebelumnya seperti dari Chen et al. Wallace et al. , juga Pagyn & SchmitterEdgecombe . yang menemukan bahwa lansia lebih terbantu oleh media visual yang ringkas, jelas, dan didukung elemen teks yang mudah dibaca. Terlebih lagi jika informasi yang disampaikan praktis dan berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan memberi kontribusi pada pengembangan literasi keagamaan yang inklusif. Fokus diarahkan pada kebutuhan lansia akan media informasi yang tidak hanya indah, tetapi juga fungsional dan mudah dipahami. Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi desainer, pendakwah, dan penyusun materi edukatif agar lebih memerhatikan keseimbangan antara estetika dan Jadi dalam konteks ini, infografis keagamaan yang baik bukan hanya yang menarik secara tampilan, tetapi juga yang mampu menghadirkan pemahaman dengan lebih cepat, lebih ringan, dan lebih manusiawi (Fikri et , 2024. Nie et al. , 2. Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 19 Nurul Fadhillah S. Nurjayanti METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif guna memahami bagaimana lansia memaknai dan membandingkan dua versi infografis Panduan Memaksimalkan Ibadah Puasa Ramadan. Pendekatan ini dipilih karena tujuan penelitian bukan menguji efektivitas secara kuantitatif, melainkan menangkap pengalaman kognitif partisipan saat membaca desain yang berbeda tingkat kerumitannya. Sebab dalam penelitian Hou et al. dan Jiang et al. , audiens lansia sangat membutuhkan desain yang jelas keterbacaannya, ukuran huruf, dan visualisasi yang sesuai agar pemrosesan informasi mereka juga lebih mudah. Partisipan penelitian berjumlah tiga orang lansia, terdiri atas satu lakilaki dan dua perempuan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Jumlah ini dipertahankan karena studi ini bersifat eksploratif dan sangat spesifik pada satu isu, sehingga kedalaman informasi lebih penting daripada besarnya sampel. Hal ini selaras dengan prinsip information power yang menekankan bahwa partisipan yang relevan dan data yang kaya cukup memadai untuk penelitian dengan fokus sempit seperti ini (Malterud et al. Komposisi satu laki-laki dan dua perempuan dipilih untuk memberikan variasi minimal dari perspektif gender. Tujuannya agar perbedaan respons tetap bisa diamati tanpa mengalihkan fokus penelitian pada perbandingan gender yang bukan tujuan utama. Pendekatan ini memastikan bahwa pengalaman kognitif dan persepsi visual lansia dapat tertangkap secara utuh, memberikan gambaran yang representatif bagi target populasi, sekaligus mempertahankan konteks studi yang mendalam dan terarah. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur setelah ketiga partisipan melihat dua desain infografis secara bergantian. Sebelum ditunjukkan kepada partisipan, kedua desain terlebih dahulu dikonsultasikan kepada dua ahli, yakni satu ahli desain komunikasi visual dan satu ahli materi Tujuannya untuk memastikan isi, tata letak, hierarki visual, dan keterbacaan tetap sesuai bagi pengguna lansia. Fokus pertanyaan diarahkan pada desain mana yang lebih cepat dipahami dan bagian mana dari desain yang paling membingungkan, utamanya dalam aspek tipografi, kepadatan ornamen, kontras warna, dan alur baca pada desain yang lebih ramai. Langkah ini sejalan dengan banyak temuan tentang pentingnya presentasi visual yang ramah lansia dan mudah diproses secara visual. Data dianalisis dengan thematic analysis melalui tahapan membaca transkrip berulang, memberi kode pada pernyataan penting, mengelompokkan kode menjadi tema, lalu menafsirkan pola respons Analisis tematik dipilih karena mampu menata pengalaman | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Literasi Keagamaan Yang Inklusif: Studi Cognitive Fluency Pada Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan Bagi Pengguna Lansia partisipan secara sistematis tanpa menghilangkan konteks makna yang muncul dari wawancara mendalam (Ayre & McCaffery, 2. Hasil analisis kemudian disajikan secara naratif dengan kutipan representatif agar dapat dilihat secara langsung bagaimana desain yang lebih sederhana cenderung lebih cepat dipahami dibandingkan desain yang lebih dekoratif dan padat. HASIL DAN PEMBAHASAN Cognitive Fluency dalam Preferensi terhadap Desain yang Lebih Mudah Diproses Secara garis besar, hasil wawancara menunjukkan pola yang cukup tegas, yaitu desain yang lebih sederhana cenderung lebih cepat dipahami oleh ketiga partisipan. Ibu Nia sebagai partisipan pertama menilai poster yang sederhana lebih mudah ditangkap karena tidak dipenuhi terlalu banyak elemen dan tetap memberi bantuan visual secukupnya. Ibu Yani sebagai partisipan kedua juga mengarah ke poster minimalis karena keterbatasan membaca membuatnya lebih bergantung pada elemen yang benar-benar Sementara itu. Bapak Erlan sebagai partisipan ketiga mengatakan, kedua desain sama-sama mudah dipahami, tetapi poster yang ramai secara personal lebih dia sukai karena terasa khas Ramadan. Pola di atas memperlihatkan bahwa preferensi tidak hanya dibentuk oleh selera visual, melainkan juga oleh seberapa ringan desain itu diproses oleh mata dan pikiran. Temuan ini sejalan dengan Zhang et al. yang menjelaskan bahwa stimulus yang lebih mudah diproses cenderung lebih disukai secara estetis karena kelancaran pemrosesan meningkatkan rasa nyaman dan penerimaan visual. Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 21 Nurul Fadhillah S. Nurjayanti Gambar 1. Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan (Sumber: Data penelitian, 2. Poster minimalis dalam konteks ini memperoleh keunggulan bukan karena lebih indah secara mutlak, tetapi karena memberikan cognitive fluency yang lebih tinggi. Partisipan tidak perlu memilah terlalu banyak ornamen, simbol, dan lapisan informasi untuk menemukan pesan utama. Kondisi semacam ini selaras dengan Hou et al. yang menunjukkan bahwa lansia cenderung lebih nyaman dengan teks yang lebih besar dan desain baca yang tidak membebani proses pemahaman mereka. Jadi dengan kata lain, pada kelompok usia lanjut, kemudahan membaca menjadi bagian dari pengalaman estetis itu sendiri. Pada akhirnya, sesuatu yang lebih cepat dipahami terasa lebih ramah, lebih ringan, dan akhirnya lebih mudah Sebaliknya, poster yang ramai memunculkan titik hambat pada kepadatan ornamen, banyaknya simbol, dan penumpukan teks di bagian Hal ini nampak dari jawaban partisipan satu dan dua yang samasama menekankan kebingungan saat harus membagi perhatiannya pada banyak elemen sekaligus. Sementara partisipan ketiga menyebut tata letak tenagh sebagai bagian yang terasa sempit. Temuan ini senada dengan Jiang et al. yang menempatkan visual presentation and readability sebagai faktor penting dalam desain ramah lansia, terutama ketika layout terlalu kompleks dan informasi tidak ditata secara rasional. Song et al. juga menunjukkan bahwa ikon atau simbol yang dirancang dengan prinsip tertentu tetap bisa kurang jelas bagi lansia dan penambahan label teks membantu memperbaiki pemahaman. Artinya, ornamen dan simbol memang dapat memperkuat nuansa, tetapi hanya efektif bila tidak | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Literasi Keagamaan Yang Inklusif: Studi Cognitive Fluency Pada Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan Bagi Pengguna Lansia mengalahkan kejelasan pesan. Jadi dapat disimpulkan bahwa desain yang lebih bersih tampak lebih cocok untuk literasi keagamaan lansia karena menjaga keseimbangan antara estetika dan efisiensi pemrosesan informasi. Poster yang minimalis memberi jalur baca yang lebih stabil, sedangkan poster yang ramai lebih kuat secara atmosferik tetapi berisiko menurunkan keterbacaan. Visualisasi untuk orang dewasa yang lebih tua dalam penelitian Nie et al. menjadi lebih mudah dipahami ketika dikemmbangkan secara user-centered, diuji secara iteratif, dan direvisi berdasarkan hambatan pemahaman yang muncul. Karena itu, dalam konteks panduan ibadah untuk lansia, cognitive fluency bukan sekadar prinsip desain, melainkan prasyarat agar pesan keagamaan dapat diterima dengan cepat, ringan, dan tetap bermakna. Beban Kognitif Visual pada Desain Infografis yang Padat Ornamen Pola yang ditunjukkan dari hasil wawancara memperlihatkan bahwa poster dengan kepadatan ornamen menimbulkan beban visual yang lebih tinggi bagi ketiga partisipan. Partisipan pertama dan kedua sama-sama menilai desain yang ramai lebih sulit dipahami karena terlalu banyak elemen, simbol, dan informasi yang harus dibaca sekaligus. Sementara partisipan ketiga memang tidak menolak desain yang ramai, tetapi ia tetap menyoroti bagian tengah poster yang terasa sempit dan terlalu rapat. Kesimpulannya, data menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada isi pesan, melainkan pada cara pesan itu dikemas secara visual, yaitu ketika elemen terlalu banyak dan saling berebut perhatian, fokus pembaca mudah terpecah. Berdasarkan hasil wawancara. Ibu Nia sebagai informan pertama mengungkapkan kecenderungannya terhadap desain poster yang simpel karena dinilai lebih fokus dalam menyampaikan pesan. Baginya, ketiadaan banyak elemen pembantu justru memudahkan proses pemahaman informasi secara Ia merasa desain yang terlalu ramai sangat membingungkan karena sulit untuk menentukan titik fokus utama, terutama mengingat faktor usia yang membuatnya tidak bisa memproses terlalu banyak informasi atau elemen visual secara sekaligus. Senada dengan hal tersebut. Ibu Yani juga lebih mengandalkan desain minimalis, namun dengan alasan yang lebih personal. Karena keterbatasan dalam kemampuan membaca, ia merasa desain yang sederhana jauh lebih membantu untuk dipahami melalui elemen visual yang ada. Baginya, desain yang ramai justru memicu rasa pusing karena tumpukan simbol dan informasi yang sulit untuk diartikan. Di sisi lain. Bapak Erlan memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan dua informan sebelumnya. Meskipun ia menganggap kedua jenis desain tersebut sama-sama mudah dipahami, ia secara pribadi justru lebih menyukai desain yang Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 23 Nurul Fadhillah S. Nurjayanti ramai karena dianggap mampu menghadirkan nuansa khas Ramadhan yang lebih kental. Walau menyukai estetikanya, ia tetap memberikan catatan kritis pada bagian tata letak. Menurutnya, bagian tengah atau isi dari desain yang ramai tersebut terasa agak membingungkan karena penempatan teks yang terlalu rapat dan sempit, sehingga mengurangi kenyamanan saat dibaca. Secara keseluruhan, narasi dari ketiga informan ini menunjukkan bahwa sementara kesederhanaan menjadi kunci bagi kemudahan akses informasi, unsur suasana tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian audiens. Temuan ini sejalan dengan Majooni et al. yang menjelaskan bahwa layout infografis memberikan pengaruh pemahaman sekaligus beban kognitif kepada pembacanya. Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa susunan visual yang lebih terarah menghasilkan pemahaman yang lebih baik, sekaligus beban yang lebih ringan dibandingkan struktur yang lebih membebani perhatian. Pada poster yang ramai dalam penelitian ini, peletakan ornamen Ramadan, ilustrasi, tipografi dekoratif, dan blok teks yang rapat terlihat bekerja secara bersamaan, tetapi justru menciptakan tambahan beban pemrosesan kepada audiensnya. Jadi dapat dikatakan, elemen visual yang seharusnya memperkaya pesan justru berubah menjadi gangguan ketika hierarki informasi tidak cukup tegas. Jika ditilik dari perspektif usia, kondisi ini menjadi semakin penting. Cassarino & Setti . menekankan bahwa kompleksitas visual cenderung meningkatkan interferensi pada kelompok usia lanjut karena perhatian mereka lebih mudah terganggu oleh stimulus yang tidak relevan. Sejalan dengan itu. Ebaid & Crewther . dalam penelitiannya menemukan, orang dewasa yang lebih tua ternyata memproses informasi visual lebih lambat, utamanya ketika tugas visual menuntut pengenalan dan pengolahan yang lebih kompleks. Karena itu, respons partisipan yang mudah bingung saat berhadapan dengan poster padat ornamen dapat dibaca sebagai konsekuensi dari kombinasi antara kompleksitas desain dan karakteristik pemrosesan visual pada lansia. Terlepas dari itu, hasil ini tidak berarti bahwa ornamen atau nuansa Ramadan harus dihilangkan sepenuhnya. Partisipan ketiga misalnya menjelaskan, desain yang ramai tetap punya daya tarik emosional karena terasa khas dan sesuai suasana Ramadan yang biasanya disambut penuh suka cita. sisi lain, pada audiens lansia, nilai atmosferik itu perlu ditempatkan di bawah kejelasan pesan. Hughes et al. menunjukkan bahwa infografis dapat meningkatkan pemahaman dan daya ingat ketika pesan disajikan secara jelas dan ringkas. Artinya, efektivitas infografis muncul bukan karena ramai secara visual, melainkan karena ia memudahkan pembaca menemukan inti informasi. Jadi dalam konteks penelitian ini, poster yang padat ornamen masih mungkin dipertahankan secara estetis, tetapi hanya sejauh tidak menambah beban kognitif dan tidak mengaburkan jalur baca utama. | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Literasi Keagamaan Yang Inklusif: Studi Cognitive Fluency Pada Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan Bagi Pengguna Lansia Negosiasi antara Estetika Ramadan dan Efisiensi Pemrosesan Informasi Setelah pada bagian sebelumnya terlihat bahwa desain yang lebih sederhana cenderung lebih mudah diproses, temuan berikutnya menunjukkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada soal sederhana atau ramainya sebuah poster. Sebab sebenarnya poster yang dikomparasi tetap memiliki daya tarik tersendiri melalui unsur estetika Ramadan yang memberi suasana religius kuat, namun pada desain yang terlalu dekoratif akan mulai mengganggu efisiensi pembacaan. Jadi dengan kata lain, dalam hal ini yang dinegosiasikan bukan sekadar bentuk visual, melainkan keseimbangan antara pengalaman estetis dan kemudahan memahami pesan. Gagasan ini sejalan dengan Zhang et al. yang menjelaskan bahwa kemudahan pemrosesan dapat meningkatkan preferensi estetis, sehingga sesuatu yang lebih mudah dibaca sering kali terasa lebih menyenangkan untuk dilihat. Pola respons ketiga partisipan yang ditemukan saat wawancara memperlihatkan, poster yang ramai memang lebih kuat secara suasana dan terasa AuRamadan,Ay tetapi sayangnya justru memunculkan titik-titik gangguan pada keterbacaan. Elemen ornamen, simbol, dan tipografi dekoratif membuat perhatian harus terbagi ke banyak arah, sementara pesan utama tidak selalu langsung menonjol. Salah satu partisipan bahkan tetap mengakui poster yang ramai lebih menarik secara estetis, namun ia menyoroti bagian tengah desain yang terasa padat dan sempit. Temuan ini menunjukkan adanya negosiasi yang jelas bahwa sebenarnya estetika masih dihargai, tetapi pada audiens lansia, nilai estetis itu tidak otomatis lebih penting daripada kejelasan informasi. Pembacaan tersebut dapat dijelaskan melalui perspektif desain ramah Hou et al. dalam kajiannya menemukan, orang dewasa yang lebih tua cenderung lebih nyaman dengan ukuran huruf yang lebih besar dan spasi yang lebih mendukung keterbacaan, sedangkan Jiang et al. menegaskan bahwa visual presentation and readability merupakan salah satu faktor penting dalam desain yang ramah usia lanjut. Artinya, ketika poster keagamaan dipadati ornamen dan tipografi dekoratif, yang terganggu bukan hanya rasa nyaman visual, tetapi juga kemampuan lansia untuk mengekstrak informasi secara cepat. Jadi dalam konteks ini, desain yang terlalu AumeriahAy dapat tetap bermakna secara kultural, tetapi kehilangan efektivitas komunikatifnya bila tidak diimbangi dengan struktur visual yang Karena itu, temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa desain keagamaan bagi lansia memerlukan strategi yang lebih user-centered. Hal ini sebelumnya sudah ditekankan oleh Nie et al. yang melihat bahwa jika visualisasi Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 25 Nurul Fadhillah S. Nurjayanti dikembangkan melalui evaluasi berulang dan mendapatkan masukan dari pengguna serta ahli, hasilnya nanti bisa menghadirkan tampilan yang mudah dipahami dan digunakan oleh orang dewasa berusia lebih tua. Jadi dalam kerangka ini, ornamen Ramadan tidak harus dihapus, tetapi perlu ditempatkan sebagai aksen, bukan sebagai pusat dominasi visual. Alhasil, desain pun dapat tetap menghadirkan atmosfer religius tanpa mengorbankan efisiensi pemrosesan Hal ini berimplikasi pada pesan ibadah tetap ringan ditangkap, cepat dibaca, dan tetap berkesan. Implikasi Cognitive Fluency bagi Perancangan Literasi Keagamaan yang Inklusif Temuan penelitian ini menegaskan, cognitive fluency bukan sekadar prinsip estetika atau salah satu efek psikologis yang bisa digunakan dalam copywriting, tetapi menjadi dasar penting dalam merancang literasi keagamaan yang benarbenar inklusif bagi lansia. Ketika pesan visual mudah diproses, partisipan tidak hanya lebih cepat memahami isi, tetapi juga lebih nyaman berinteraksi dengan materi ibadah yang disajikan. Kelancaran pemrosesan berhubungan erat dengan preferensi dan penerimaan visual. Hal ini sejalan dengan kajian Zhang et al. dan Hou et al. yang melihat bahwa saat desain lebih mudah dipahami, saat itu juga desain cenderung terasa lebih menyenangkan dan lebih layak dipakai sebagai media komunikasi keagamaan. Secara praktis, hasil ini mengisyaratkan bahwa materi keagamaan untuk lansia perlu disusun dengan hierarki informasi yang tegas dengan jumlah teks yang ringkas, keterbacaan huruf yang baik, kontras yang cukup, serta tata letak yang tidak menumpuk. Jiang et al. pun menempatkan visual presentation and readability sebagai salah satu faktor kunci dalam desain ramah usia lanjut, sementara Hou et al. menunjukkan, lansia cenderung lebih terbantu oleh ukuran huruf yang lebih besar dan format visual yang mendukung pembacaan. Karena itu, desain panduan ibadah yang inklusif seharusnya mempermudah navigasi mata dan pikiran dan bukan sekadar memadatkan informasi ke dalam satu bidang visual. Pada saat yang sama, penelitian ini juga memperlihatkan bahwa unsur estetika religius tetap memiliki nilai, selama ditempatkan sebagai aksen dan bukan sebagai beban utama visual. Sebab dalam kerangka processing fluency, preferensi estetis justru dapat meningkat ketika stimulus terasa lebih mudah Keindahan tidak harus hadir melalui kerumitan, melainkan melalui keterpaduan, keterbacaan, dan keteraturan visual (Zhang et al. , 2. Ornamen Ramadan, motif khas, atau nuansa simbolik masih dapat dipertahankan, tetapi perlu dikendalikan agar tidak mengaburkan fokus pesan utama. Temuan ini menempatkan rancangan literasi keagamaan sebagai praktik | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Literasi Keagamaan Yang Inklusif: Studi Cognitive Fluency Pada Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan Bagi Pengguna Lansia user-centered dengan catatan bahwa desain sebaiknya diuji pada pengguna lansia, dikonsultasikan pada ahli, lalu disempurnakan berdasarkan hambatan pemahaman yang muncul. Jiang et al. dalam tulisannya menekankan pentingnya pendekatan yang menimbang kegunaan, keterbacaan, dan kejelasan informasi secara bersama-sama. Di sisi lain. Hou et al. menunjukkan, parameter visual yang tepat sangat menentukan pengalaman membaca pada usia lanjut. Implikasi yang dihadirkan jelas. Desain keagamaan yang inklusif adalah desain yang membuat pesan ibadah lebih mudah dijangkau, lebih ringan dibaca, dan lebih manusiawi diterima. KESIMPULAN DAN SARAN Pembahasan di atas mengantarkan penelitian ini pada bagian kesimpulan yang menunjukkan bahwa desain infografis yang lebih sederhana, terstruktur, dan mudah dibaca cenderung lebih cepat dipahami oleh lansia dibandingkan desain yang padat ornamen dan lebih Temuan dari ketiga partisipan memperlihatkan, kemudahan pemrosesan visual menjadi faktor penting dalam penerimaan pesan Poster yang minimalis dipersepsi lebih ringan, lebih jelas, dan lebih nyaman ditangkap, sedangkan poster yang ramai tetap memiliki daya tarik estetis tetapi berpotensi menambah beban kognitif dan mengaburkan pesan utama. Melalui penelitian ini ditegaskan kembali bahwa cognitive fluency merupakan prinsip penting dalam perancangan literasi keagamaan yang ramah lansia. Selain itu, hasil penelitian memperlihatkan bahwa unsur estetika Ramadan tetap memiliki nilai, tetapi harus ditempatkan secara proporsional agar tidak mengganggu efisiensi pemahaman. Keseimbangan antara keindahan visual dan kejelasan informasi dalam konteks ini menjadi kunci utama. Desain keagamaan untuk lansia tidak cukup hanya menarik secara tampilan, tetapi harus mampu membantu pembaca menemukan inti pesan dengan cepat, ringan, dan nyaman. Karena itu, infografis keagamaan yang inklusif adalah infografis yang mengutamakan keterbacaan, hierarki informasi yang tegas, dan penyajian visual yang tidak berlebihan. Penelitian ini menghasilkan beberapa saran kepada beberapa Pertama, desainer materi keagamaan perlu lebih memprioritaskan keterbacaan daripada dekorasi berlebihan ketika target audiensnya adalah lansia. Kedua, penyusun materi dakwah dan edukasi ibadah sebaiknya melibatkan uji coba pengguna sejak tahap awal agar desain yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kemampuan pemrosesan Volume 11. Nomor 1. Mei 2026 p-ISSN 2541-4364, e-ISSN 2541-4732 | 27 Nurul Fadhillah S. Nurjayanti audiens sasaran. Ketiga, penelitian lanjutan dapat memperluas jumlah partisipan, melibatkan rentang usia lansia yang lebih beragam, atau membandingkan media selain poster agar hasilnya semakin kaya dan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan desain literasi keagamaan yang lebih luas. ACKNOWLEDGEMENT Ucapan terima kasih disampaikan kepada sebesar-besarnya kepada mahasiswa mata kuliah Copywriting semester 4 yang telah membantu selama proses penelitian, mulai dari diskusi awal, penyediaan masukan, hingga keterlibatan dalam proses pengujian desain. Dukungan mereka sangat berarti dalam memperkaya proses pengumpulan data dan membantu penelitian ini menemukan respons pengguna secara lebih Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Nia. Ibu Yani, dan Bapak Erlan yang telah bersedia menjadi partisipan dan berkolaborasi dengan penuh dalam penelitian ini. Keterbukaan, waktu, dan pengalaman yang mereka bagikan menjadi bagian penting dalam menghasilkan temuan yang akan berguna bagi penelitian selanjutnya. | MITZAL (Demokrasi. Komunikasi, dan Buday. Jurnal Ilmu Pemerintahan & Ilmu Komunikasi Literasi Keagamaan Yang Inklusif: Studi Cognitive Fluency Pada Desain Panduan Memaksimalkan Puasa Ramadan Bagi Pengguna Lansia DAFTAR PUSTAKA