RITORNERA: JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA Vol 05. No 02. Agustus 2025. Hal: 171-184 ISSN (Online: 2797-717X) (Print:2797-7. Available at: pspindonesia. Sanggahan The Hiddenness of God melalui Inkarnasi: Kajian Historisitas dan Interpretasi Teologis Yohanes 1:14 Daniel Pesah Purwonugroho Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia. Semarang danielpesahedu@gmail. ABSTRACT Divine Hiddenness is an argument that asserts the hiddenness of God. God is hidden in His mysterious place so that He cannot be found by those who seek Him. This hiddenness of God logically implies that God does not exist. However. Christian faith provides a comprehensive answer regarding God's existence. The incarnation stated in John 1:14 provides a historical and theological answer about God. God incarnated in Jesus Christ to build a relationship with His people and be involved in the history of human life. This paper aims to refute the argument of divine hiddenness through incarnation in a historical study and interpretation of John 1:14. Using a descriptive qualitative approach, the author argues that God revealed Himself through the incarnation of Jesus Christ as stated in John 1:14. Thus. John 1:14 provides a final refutation of the hiddenness of God. This paper offers a new integrative approach to responding to the claim of divine hiddenness through a historical theological exploration of John 1:14. addition, this paper affirms that the incarnation is the definitive answer to the accusation of God's absence in history and human existence. Keywords: Divine Hiddenness. Incarnation. Historicity. Theological. John 1:14 ABSTRAK Divine Hiddenness merupakan argumentasi yang menyatakan ketersembunyian Allah. Allah bersembunyi di tempatNya yang misterius sehingga tidak dapat ditemukan oleh para pencariNya. Ketersembunyian Allah tersebut memberikan implikasi logis bahwa Allah itu tidak ada. Namun, iman Kristen memberikan jawaban komprehensif mengenai keberadaan Allah tersebut. Inkarnasi yang dinyatakan di dalam Yohanes 1:14 memberikan jawaban historis dan teologis tentang Allah. Allah berinkarnasi di dalam Yesus Kristus untuk membangun relasi dengan umatNya dan terlibat di dalam sejarah kehidupan manusia. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sanggahan argumentasi divine hiddenness melalui inkarnasi dalam kajian historisitas dan intepretasi Yohanes 1:14. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penulis menyatakan bahwa Allah menyatakan diriNya melalui inkarnas Yesus Kristus sebagaimana yang dinyatakan di dalam Yohanes 1:14. Dengan demikian. Yohanes 1:14 memberikan sanggahan final mengenai ketersembunyian Allah. Tulisan ini memberikan kebaruan yaitu adanya pendekatan integratif untuk merespon klaim divine hiddenness melalui eksplorasi teologis historis Yohanes 1:14. Selain itu, tulisan ini memberikan penegasan bahwa inkarnasi merupakan jawaban definitif atas tuduhan ketidakhadiran Allah dalam sejarah dan eksistensi manusia. Kata kunci: Divine Hiddenness. Inkarnasi. Historisitas. Teologis. Yohanes 1:14 CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia PENDAHULUAN Divine Hiddenness merupakan sebuah argumentasi filosofis yang menjadi perdebatan klasik di dalam ranah filsafat agama dan teologi. Argumen ini terdiri menyatakan bahwa Allah AubersembunyiAy sehingga tidak semua orang dapat mengenal Allah. Schellenberg menegaskan bahwa argumen divine hiddenness menyatakan bahwa ketersembunyian AllahAiyaitu fakta bahwa tidak semua orang percaya atau mengalami kehadiran TuhanAimerupakan bukti terhadap tidak adanya Tuhan, khususnya Tuhan yang maha pengasih dan ingin berelasi dengan 1 Allah seolah AubersembunyiAy di tempatNya yang misteruis. Ketersembunyian Allah ini dimaknai sebagai absennya Allah di dalam kehidupan manusia. Lebih lagi, ketersembunyian Allah terhadap umat manusia menegaskan bahwa Allah tidak berelasi dengan Allah merupakan sebuah hal yang tersembunyi dan tidak dapat dijangkau oleh Hal tersebut membuktikan bahwa memang Allah bersembunyi adanya. Selain itu, argumentasi divine hiddenness merupakan argumentasi yang sering menjadi perdebatan filosofis maupun teologis. Anderson menyatakan bahwa divine hiddenness atau ketersembunyian Allah merupakan salah satu isu klasik yang banyak diperdebatkan dalam filsafat agama dan teologi. Masalah ini muncul dari kenyataan bahwa keberadaan Tuhan tidak tampak jelas bagi semua orang, sehingga menimbulkan pertanyaan mengapa Tuhan tidak membuat diri-Nya lebih nyata atau mudah dikenali oleh manusia. 2 Allah menurut argumentasi divine hiddenness bersifat tersembunyi sehingga tidak dapat ditemukan oleh manusia. Ketidakjelasan Allah dalam ketersembunyiannya memunculkan pertanyaan dan spekulasi di dalam benak manusia. Pertanyaan atas keberadaan Allah mengacu kepada mengapa Allah yang maha kuasa tidak menbuat diriNya nyata. Atau, mengapa Allah yang maha kuasa bersifat tidak jelas sehingga tidak mudah dikenali oleh manusia. Pertanyaann-pertanyaan tersebut kemudian mewarnai diskusi dan perdebatan filosofis dan teologis. Oleh karena itu, argumentasi divine hiddenness merupakan argumentasi yang menyatakan tentang Allah yang tersembunui. Argumen ini menjadi isu yang menggelayut di dalam diskusi filosofis dan teologis karena berangkat dari pertanyaan tentang keberadaan Allah yang misterius. Argumentasi tentang divine hiddenness ini juga berangkat dari pemahaman ateistik. Argumentasi divine hiddeness yang berangkat dari pemahaman ateistik mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi Allah dan kemampuan Allah. Argumentasi tersebut menggarisbawahi bahwa jika Allah itu ada dan maha pengasih, maka Allah akan menyatakan diriNya secara cukup kepada semua makhluk moral. Schellenberg menegaskan pernyataan Schellenberg mengemukakan bahwa jika Allah benar-benar ada dan Maha Pengasih, maka Allah pasti ingin menjalin hubungan pribadi dengan semua makhluk moral yang 3 Argumentasi tersebut menyatakan bahwa jika Allah itu ada, maka Allah menyatakan diriNya di dalam kehidupan umat manusia. Allah yang maha pengasih tidak membiarkan ciptaanNya yaitu manusia hanya sekedar merindukan hubungan dengan Allah secara sepihak Lantas, sifat Allah yang maha kasih harus ditunjukkan dengan kehadiran Allah di dalam Schellenberg. AuDivine Hiddenness: Part 1 (Recent Work on the Hiddenness Argumen. ,Ay Philosophy Compass 12, no. , https://doi. org/10. 1111/phc3. Charity Anderson. AuDivine Hiddenness: An Evidential Argument,Ay Nous-Supplement: Philosophical Perspectives 35, no. : 5Ae22, https://doi. org/10. 1111/phpe. Schellenberg. AuThe Hiddenness Argument Revisited (I),Ay Religious Studies 41, no. : 201Ae 15, https://doi. org/10. 1017/S0034412505007614. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia ciptaanNya sehingga Allah dapat dikenal karena hubungan yang terbentuk antara Allah dengan ciptaanNya. Argument tersebut memiliki sorotan yang utama terhadap ketidakpercayaan kepada Allah. Maitzen menegaskan bahwa argumen divine hiddenness menyoroti bahwa ketidakpercayaan yang tulus dan tidak disengaja . easonable non-belie. menjadi bukti kuat terhadap tidak adanya Tuhan yang Maha Pengasih. 4 Melalui argumentasi tersebut. Allah merupakan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan keberadaannya. Karena Allah tidak menyatakan dirinya kepada umat ciptaanNya, maka Allah itu tidak ada. Bahkan, karena Allah yang maha kasih tidak menyatakan diriNya untuk berhubungan dengan umatNya, maka Allah bukanlah yang maha kasih dan yang maha ada. Oleh karena itu, argumentasi divine hiddenness yang berangkat dari pemahaman ateistik memberikan bukti yang kuat tentang tidak adanya Allah karena Allah AugagalAy menyatakan diriNya kepada umatNya. Dunia kekristenan memberikan klaim terhadap Allah. Kekristenan secara tegas dan jelas menyatakan bahwa Allah tidak bersembunyi. Allah menyatakan diriNya melalui peristiwa inkarnasi dalam pribadi Yesus Kristus (Yohanes 1:. Winarto menyatakan bahwa kekristenan secara tegas mengklaim bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya secara puncak dan final melalui peristiwa inkarnasi dalam pribadi Yesus Kristus. Klaim ini menjadi inti iman Kristen, di mana Yesus dipahami sebagai perwujudan Allah yang hadir di tengah manusia. 5 Allah tidak Allah telah menyatakan diriNya di dalam sejarah kehidupan manusia. Peristiwa inkarnasi Yesus Kristus merupakan penegasan kehadiran Allah. Inkarnasi Yesus Kristus ialah bukti kehadiran Allah di dalam kehidupan umat manusia. Hal tersebut kemudian dipahami menjadi inti iman Kristen. Klaim tersebut menegaskan tentang Allah yang hadir dan nyata serta berinteraksi di dalam kehidupan manusia melalui Yesus Kristus. Selain itu. Allah juga dapat dikenali secara nyata dan jelas secara pribadi di dalam kehidupan umat manusia. Gaine menegaskan bahwa melalui Yesus Kristus. Allah ingin dikenal secara pribadi oleh manusia. Inkarnasi menunjukkan kerinduan Allah untuk berelasi secara intim dengan ciptaan-Nya, bukan sekadar sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai Pribadi yang hadir dan dapat dialami. Inkarnasi Yesus Kristus menunjukkan upaya Allah untuk dapat dikenali secara langsung dan jelas di dalam sejarah kehidupan manusia. Inkarnasi Yesus Kristus menegaskan kerinduan Allah yang ingin berhubungan dengan ciptaanNya. Hal tersebut bukanlah hanya sekedar konsep teologis semata. Hal tersebut ialah sebuah peristiwa nyata yang dapat dialami oleh Dengan demikian, kehadiran Yesus Kristus di dalam dunia ini menyatakan kehadiran Allah di dalam kehidupan manusia. Yohanes 1:14 menyatakan tentang historisitas Allah yang menyatakan diri di dalam kehidupan umat manusia. Ajie berpendapat bahwa Yohanes 1:14 menegaskan bahwa dalam Yesus Kristus. Allah sungguh-sungguh menjadi manusia, hadir di tengah dunia, dan menyatakan kasih serta keselamatan-Nya secara nyata dan historis. Inkarnasi adalah inti iman Kristen yang membedakan kekristenan dari keyakinan lain, karena Allah Stephen Maitzen. AuDivine Hiddenness and the Demographics of Theism,Ay Religious Studies 42, no. : 177Ae91, https://doi. org/10. 1017/S0034412506008274. Heribertus Winarto. AuYesus Auto-Komunikasi Allah,Ay Lux et Sal 1, no. : 11Ae24, https://doi. org/10. 57079/lux. Simon Francis Gaine. AuDID THE SAVIOUR SEE THE FATHER?: Christ. Salvation and the Vision of God,Ay Did the Saviour See the Father?: Christ. Salvation, and the Vision of God (JSTOR, 2. , https://doi. org/10. 5040/9780567664419. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia sendiri masuk ke dalam sejarah manusia untuk menebus dan memulihkan ciptaan-Nya. Yohanes 1:14 mengkomunikasikan sebuah peristiwa sejarah dimana Allah yang misterius dapat hadir di dalam kehidupan umat manusia. Allah melalui inkarnasi Yesus Kristus berinteraksi dengan manusia untuk menyelamatkan manusia. Yesus Kristus merupakan tokoh sejarah yang ada di dalam sejarah umat manusia. Kehadiran Yesus Kristus menegaskan kehadiran Allah dan interaksi Allah di dalam kehidupan manusia. Kehadiran Allah di dalam Yesus Kristus memiliki tujuan utama yaitu memulihkan ciptaanNya yang telah rusak oleh dosa. Hal tersebut menjadi inti iman Kristen yang membuat kekristenan menjadi sebuah keyakinan yang berbeda dari keyakinan yang lain. Oleh karena itu, kekristenan telah memberikan klaim yang jelas mengenai kehadiran Allah. Melalui inkarnasi Yesus Kristus. Allah telah hadir dan berinteraksi ke dalam kehidupan umat manusia. Hal tersebut dinyatakan di dalam Yohanes 1:14 dan menjadi inti dari iman Kristen. Penelitian ini bermaksud untuk menjawab dua rumusan masalah yaitu bagaimana Yohanes 1:14 menjawab klaim tersembunyian Allah ? dan apa signifikansi historis dan teologis dari inkarnasi sebagai bentuk pernyataan Allah ? Penelitian ini juga memiliki dua tujuan Pertama. Penelitian ini menganalisa secara historis dan teologis teks Yohanes 1:14 dalam terang sanggahan terhadap argumen the hiddenness of God. Kedua. Penelitian ini menyajikan sebuah sintesis argumentatif bahwa inkarnasi Kristus merupakan bentuk tertinggi penyataan Allah dalam sejarah umat manusia. Penulis melihat hal tersebut serta penelitian sebelumnya mengenai aspek filsafat analitik kontra divine hiddenness secara epistemologi reformasi8 serta argumentasi Augreater goodAy dalam mengkontra argumentasi divine hiddenness9, masih ada celah untuk dapat diteliti dalam perspektif eksegetikal-teologis untuk menanggapi argumentasi divine hiddenness melalui pendekatan historis dan kristologis pada teks Yohanes 1:14. Penelitian ini menawarkan kebaharuan yaitu adanya pendekatan integratif antara teologi biblika dan analisis teologi untuk merespon klaim divine hiddenness melalui eksplorasi teologis historis Yoahens 1:14. Serta. Penelitian ini menawarkan penegasan bahwa inkarnasi adalah jawaban definitif terhadap tuduhan ketidakhadiran Allah dalam sejarah dan eksistensi manusia. Penulis menyatakan bahwa inkarnasi Yesus Kristus melalui Yohanes 1:14 memberikan sanggahan yang solid terhadap klaim the hiddenness of God. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi Penelitian kualitatif deskriptif mewujudkan paradigma metodologis yang menekankan pentingnya memberikan penggambaran menyeluruh dan rumit dari berbagai fenomena, sambil dengan sengaja menahan diri dari penggabungan data kuantitatif, yang sering berusaha Stefanus Yulli Sapto Ajie. AuInkarnasi Sebagai Dasar Pengembangan Kepemimpinan Gembala Sidang Berdasarkan Yohanes 1:14 Dan Filipi 2:5-11,Ay Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kriste. 5, no. : 65Ae77, https://doi. org/10. 59177/veritas. Tyler M Taber and Tyler Dalton McNabb. AuIs the Problem of Divine Hiddenness a Problem for the Reformed Epistemologist,Ay The Heythrop Journal 59, no. : 783Ae93, https://doi. org/10. 1111/HEYJ. Travis Dumsday. AuDivine Hiddenness and Special Revelation,Ay Religious Studies 51, no. : 241Ae 59, https://doi. org/10. 1017/S0034412514000316. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia mengurangi realitas kompleks ke dalam format numerik. 10 Studi pustaka sangat penting untuk agregasi data, meneliti signifikansi ontologis mereka dan fungsinya dalam ekosistem perpustakaan yang lebih luas, sambil menjelaskan atribut mereka dalam kerangka teoritis yang menonjolkan maksud dan pemahaman informasi mereka. 11 Penulis menggunakan sumber primer yaitu Alkitab, terutama Yohanes 1:14. Penulis kemudian menggunakan sumber sekunder yaitu literatur teologi biblika dan sistematika yang terkait dengan inkarnasi, literatur filsafat yang terkait dengan divine hiddenness serta karya-karya akademik lainnya yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Penullis akan melakukan analisis historis-teologis dengan menelusuri konteks historis Injil Yohanes. Analisis historis-teologi merupakan analisis yang menggunakan pendekatan sejarah serta teologi. Kemudian, penulis akan melakukan analisis eksegetikal yaitu mengekspos frasa Auho logos sarx egenetoAy. Lalu, penulis menganalisis secara sintesis dan teologis untuk menyusun sanggahan terhadap divine hiddenness berdasarkan temuan historis dan teologis dari teks. Temuan dari analisa tersebut kemudian akan disusun dan disimpulakn secara sistematis dan komprehensif. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Divine Hiddenness : Telaah Filsafat Agama Argumen divine hiddenness memiliki definisi dan bentuk argumen yang spesifik. Argumen tersebut menegaskan tentang tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan keberadaan Tuhan. Schellenberg mendefinisikan argumen divine hiddenness sebagai keberadaan nonresistant nonbelief . etidakpercayaan tanpa penolakan akti. pada orang-orang yang tulus mencari Tuhan, namun tidak menemukan bukti atau pengalaman yang cukup tentang keberadaan Tuhan. Jika Tuhan benar-benar ada, mahakuasa, dan penuh kasih, seharusnya tidak ada hambatan bagi orang yang tulus untuk percaya kepada-Nya. Fakta bahwa banyak orang tetap tidak percaya, meski terbuka dan mencari, dianggap sebagai bukti bahwa Tuhan tidak ada atau tidak seperti yang digambarkan dalam teisme klasik. 12 Melalui pendapat tersebut, agumentasi divine hiddenness diproyeksikan tentang Tuhan yang tidak dapat dijangkau oleh manusia yang mencariNya. Ada orang-orang yang tulus berada dalam proses pencarian Tuhan. Namun, ketulusan para pencari Tuhan tersebut tidak membuahkan hasil karena Tuhan tetap berada di area misteri yang tidak tergapaikan. Para pencari Tuhan tersebut tidak menemukan bukti yang cukup bahwa Tuhan itu ada. Sifat tersembunyi Tuhan berkontradiksi dengan sifatnya yang maha ada, maka kasih dan mahakuasa. Jika Tuhan maha ada, semestinya Dia dapat digapai dan ditemui oleh para pencariNya. Di satu sisi. Drange juga mengembangkan argumen divine hiddenness. Drange juga mengembangkan argumen serupa, menyoroti bahwa jika Tuhan ingin semua orang percaya dan diselamatkan, maka Tuhan akan membuat diri-Nya jelas bagi semua orang. Namun, pada kenyataannya banyak orang tidak percaya, sehingga ini menjadi masalah bagi klaim teisme. Drange juga menyatakan bahwa jika Tuhan ingin semua orang percaya, maka Tuhan akan menghilangkan semua hambatan epistemik . Hyejin Kim. Justine S. Sefcik, and Christine Bradway. AuCharacteristics of Qualitative Descriptive Studies: A Systematic Review,Ay Research in Nursing and Health 40, no. : 23Ae42, https://doi. org/10. 1002/nur. Sokolov. AuLibrary Collection Studies within the System of Knowledge,Ay Scientific and Technical Libraries, no. : 160Ae71, https://doi. org/10. 33186/1027-3689-2023-2-160-171. Schellenberg. AuThe Hiddenness Argument,Ay Roczniki Filozoficzne 69, no. : 63Ae66, https://doi. org/10. 18290/rf21693-4. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia agar semua orang bisa percaya. Fakta bahwa masih banyak yang tidak percaya menunjukkan ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas. 13 Argumen dari Drange menggarisbawahi ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas yang terjadi. Ekspektasi bahwa kemahakuasaan Tuhan dapat membuat diriNya jelas dan mudah diketahui tersebut tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Hal tersebut muncul karena pendapat bahwa jika Tuhan ingin semua orang percaya bahwa Dia itu ada dan mahakuasa, maka Tuhan akan dengan sendirinya menyingkirkan hambatan-hambatan apapun yang menghalangi umat manusia untuk bertemu dengan Tuhan. Namun, realita yang terjadi adalah Tuhan masih berada di tempat AutersembunyiAy yang tidak dapat digapai oleh para pencariNya. Oleh karena itu, argumen divine hiddenness memiliki definisi dan bentuk argumen yang menegaskan bahwa ketersembunyian Tuhan sehingga diriNya tidak dapat dijangkau oleh para pencariNya menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Argumen divine hiddenness memiliki implikasi logis dan eksistensialis terhadap Secara logis, argumentasi tersebut langsung berhadapan dengan klaim teisme. Davatos menegaskan bahwa Divine hiddenness . etidakjelasan keberadaan Tuha. digunakan sebagai argumen logis yang menantang klaim teisme, khususnya bahwa Tuhan yang penuh kasih dan mahakuasa seharusnya membuat keberadaan-Nya jelas bagi semua orang. Fakta bahwa banyak orang yang tulus tetap tidak percaya dianggap sebagai bukti logis yang melemahkan teisme, bahkan bisa menjadi argumen ateistik yang lebih kuat daripada problem of evil. 14 Fakta menyatakan bahwa banyak pencari Tuhan tidak menemukan dengan jelas dimana Tuhan Sifat Tuhan yang penuh kasih berkontradiksi dengan AuketersembunyianNyaAy. Jika Tuhan itu penuh kasih, semestinya Dia menyatakan diriNya kepada para pencariNya sebagai ekspresi kasihNya. Jika Tuhan itu maha kuasa, maka Dia berkuasa menghilangkan segala macam hambatan yang ada sehingga membuat diriNya mudah diketahui oleh para pencariNya. Namun yang terjadi adalah para pencari Tuhan tersebut tidak dapat menemukan dengan presisi letak dimana Tuhan berada. Hal tersebut kemudian dianggap sebagai bukti logis yang berkontradiksi dengan klaim teisme. Selain itu, bukti logis divine hiddenness yang lain adalah Divine hiddenness dipandang sebagai bukti . terhadap tidak adanya Tuhan, atau setidaknya sebagai tantangan epistemik bagi teisme. Argumen ini menyatakan bahwa prevalensi ketidakpercayaan dan pengalaman akan ketiadaan Tuhan adalah data yang tidak sesuai dengan ekspektasi teisme klasik. 15 Ekspektasi teisme klasik menegaskan bahwa Tuhan itu ada. Namun, realitas yang ada tidak menunjukkan keberadaan Tuhan. Dengan demikian secara logis, divine hiddenness memberikan sebuah risalah logis mengenai ketidakberadaannya Tuhan. Selain itu, divine hiddenness memberikan sebuah implikasi eksistensial terhadap Ketersembunyian Allah membawa kegelisahan kepada umat manusia. Anderson dan Russell menyatakan bahwa banyak orang mengalami kegelisahan eksistensial karena merasa Tuhan tidak hadir atau tidak jelas, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang nilai dan tujuan hidup mereka. Divine hiddenness menimbulkan pertanyaan tentang sifat iman dan hubungan Theodore M Drange. AuThe Argument from Non-Belief,Ay Religious Studies 29, no. : 417Ae32. Ian Anthony Davatos. AuThe Problem of Divine Hiddenness: A Wojtylian Response,Ay Philosophia (Philippine. : 593Ae603, https://doi. org/10. 46992/PIJP. SI. Charity Anderson and Jeffrey Sanford Russell. AuDivine Hiddenness and Other Evidence,Ay in Oxford Studies in Philosophy of Religion, 2021, 1Ae34. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia personal dengan Tuhan. Jika keberadaan Tuhan tidak jelas, maka iman menjadi lebih menantang dan relasi personal dengan Tuhan menjadi problematis bagi sebagian orang. Ketersembunyian Tuhan tersebut membawa keresahan bagi banyak orang. Keresahan tersebut muncul dalam bentuk keresahan eksistensial. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan Tuhan tidak hadir dan tidak jelas keberadaannya. Banyak orang kemudian mempertanyaakn makna, nilai dan tujuan kehidupan mereka karena keimanan yang dimiliki mereka menjadi blur dikarenakan ketersembunyian Tuhan itu sendiri. Karena ketersembunyian tersebut, relasi dengan Tuhan menjadi problematis. Oleh karena itu, argumentasi divine hiddenness berdampak secara eksistensial bagi banyak orang karena menimbulkan keresahan dan kegelisahan atas ketersembunyian dan ketidakhadiran Tuhan bagi para pencariNya. Inkarnasi sebagai Paradigma Divine Self-Revelation Kekristenan mengenal istilah inkarnasi sebagai puncak penyataan Allah di dalam sejarah kehidupan manusia. Yohanes 1:14 menegaskan bahwa sang Firman menjadi manusia untuk berada di antara umatNya. Yohanes 1:14 dapat dipahami melalui prolog Injil Yohanes yaitu Yohanes 1:1-18. Santos dan Xavier menyatakan bahwa prolog Injil Yohanes (Yohanes 1:1-. berfungsi sebagai pengantar dan ringkasan teologis, menetapkan Yesus sebagai Firman yang sudah ada sebelumnya yang menyatakan Tuhan kepada dunia. 17 Yesus adalah sang Firman yang berinkarnasi menjadi manusia. Keberadaan sang Firman itu sendiri sudah ada semenjak Kemudian, sang Firman dari kekekalan tersebut menyatakan diriNya kepada dunia melalui inkarnasi Yesus Kristus. Lebih lanjut lagi, ungkapan Injil Yohanes 1:14 yaitu AuA uUC EA aAE aEOEA a n - ho logos sarx egeneto kai eskenssen en heminAy memiliki penegasan yang komprehensif mengenai inkarnasi sang Firman tersebut. Ungkapan A uUC EA aAE - ho logos sarx egeneto dalam Yohanes 1:14 memiliki makna yang mendalam mengenai inkarnasi Yesus Kristus. Need menegaskan bahwa ungkapan Auho logos sarx egenetoAy (Firman menjadi dagin. menyoroti Inkarnasi, di mana Logos ilahi mengasumsikan kodrat Hal ini menggarisbawahi keyakinan bahwa Yesus sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusiawi, menjembatani kesenjangan antara Allah dan umat manusia. 18 Inkarnasi sang Firman di dalam Yesus Kristus tidak mendegradasi sifat ontologis divinitasnya. Melalui inkarnasi tersebut, jembatan antara Allah dengan manusia tersebut dapat difasilitasi dengan Dengan kata lain, kodrat Yesus adalah sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusia. Hal tersebut membuat Allah yang maha misterius dapat ternyatakan dengan sempurna melalui Yesus Kristus. Di saat yang sama. Allah yang maha misterius juga dapat dikenali serta dapat dimengerti melalui Yesus Kristus. Selain itu, istilah AuaEOEA a n - eskenssen en hemin dalam Yohanes 1:14 menyatakan kehadiran Allah yang tinggal secara nyata di dalam sejarah kehidupan manusia. Grappe menegaskan bahwa istilah Aueskenssen en heminAy . inggal di antara kit. mengingatkan pada konsep Perjanjian Lama tentang kehadiran Allah yang tinggal bersama Israel, seperti yang terlihat di Kemah Suci atau Shekinah. Hal ini menunjukkan Daniel Howard-Snyder and Paul K. Moser. AuIntroduction: The Hiddenness of God,Ay in Divine Hiddenness, 2009, 1Ae23, https://doi. org/10. 1017/cbo9780511606090. Walyson Santos and Luiz Felipe Xavier. AuAnylise Exegytica Do Prylogo Do Evangelho de Joyo,Ay Davar Polissymica 2, no. : 1Ae16, http://periodicos. br/index. php/DP/article/view/78/61. Stephen W Need. AuRe-Reading the Prologue: Incarnation and Creation in John 1. 1Ae18,Ay Theology 106, 834 . : 397Ae404, https://doi. org/10. 1177/0040571X0310600602. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kelanjutan dan pemenuhan hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya melalui Yesus. Kehadiran Allah yang maha misterius di dalam Yesus menegaskan sebuah pemenuhan perjanjian Allah dengan umatNya. Pada masa perjanjian lama, kehadiran Allah di antara umatNya terlihat di Kemah Suci. Namun, kehadiran Allah di masa perjanjian baru ternyatakan secara utuh dan sempurna di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu, analisa kata A uUC EA aAE aEOEA a n - ho logos sarx egeneto kai eskenssen en hemin menegaskan penyatahan kehadiran Allah di dalam sejarah kehidupan manusia melalui Yesus Kristus. Inkarnasi sang Firman sebagai bentuk penyataan Allah di dalam Yohanes 1:14 harus dipahami dalam terang konteks teologi Yohanes. Ada persinggungan yang lebih dalam antara peristiwa historis dan pewahyuan Allah dalam kehidupan umat manusia. Vale menegaskan bahwa dalam teologi Yohanes, inkarnasi bukan sekadar peristiwa historis di mana Firman (Logo. menjadi manusia, tetapi merupakan pewahyuan Allah yang terus berlangsung. Inkarnasi dipahami sebagai perwujudan Allah yang hadir dan berdiam di tengah manusia, bukan hanya di masa lalu, melainkan juga dalam kehidupan para pengikut Kristus di masa kini. Dengan demikian, inkarnasi adalah kelanjutan dari proyek Allah untuk menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan mereka yang mengikuti Kristus mengambil bagian dalam perwujudan ini. 20 Inkarnasi tidak hanya dipandang sebagai Allah yang menyatakan diri secara historis kepada umat manusia. Inkarnasi dipandang sebagai kontiunasi kehadiran Allah secara nyata di dalam kehidupan manusia. Kehadiran Allah ini memiliki efek transformatif dan progresif bagi kehidupan umatNya. Allah yang hadir melalui inkarnasi Yesus Kristus membawa manusia mengalami regenerasi untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Selain itu, inkarnasi juga tidak dapat dipisahkan dari penderitaan Yesus Kristus dalam terang teologi Yohanes. Azar menyatakan bahwa Inkarnasi dalam Yohanes tidak dapat dipisahkan dari penderitaan Kristus. Pewahyuan identitas Yesus sebagai Firman yang menjadi daging mencapai puncaknya dalam peristiwa salib, di mana kemuliaan, kenaikan, dan penyerahan Roh terjadi secara bersamaan. Inkarnasi bukan sekadar AuepisodeAy dalam biografi Yesus, melainkan misteri kekal yang diungkapkan dalam waktu melalui penderitaan dan kebangkitan-Nya. 21 Melalui inkarnasi Allah di dalam Yesus Kristus. Allah tidak hanya sekedar hadir di dalam kehidupan Allah juga terlibat di dalam kehidupan dan penderitaan manusia. Penderitaan Yesus Kristus merupakan bentuk kepedulian Allah yang maha kasih atas penderitaan manusia. Oleh karena itu, inkarnasi dalam konteks teologi Yohanes menekankan bahwa inkarnasi bukan hanya sekedar kehadiran Allah dalam konteks historis, melainkan juga kepeduliaan Allah dan solidaritas Allah dalam kehidupan serta penderitaan manusia. Inkarnasi Allah melalui kehadiran Yesus Kristus merupakan bentuk pewahyuan Allah secara eskatologi dan ontologi dalam sejarah manusia. Secara ontologis, pewahyuan Allah menunjukkan inisiatif Allah yang mulia dalam sejarah manusia. Kwon menyatakan bahwa pewahyuan Allah dipahami sebagai realitas ontologis yang terbuka dan dinamis, di mana Allah menyatakan diri-Nya dalam sejarah manusia secara puncak melalui Yesus Kristus. Pewahyuan Christian Grappe. AuJean 1,14(-. Dans Son Contexte et y La Lumiyre de La Littyrature Intertestamentaire,Ay Revue dAohistoire et de Philosophie Religieuses 80, no. : 153Ae69, https://doi. org/10. 3406/rhpr. Matthew Z. Vale. AuJohn the Theologian and His Paschal Gospel: A Prologue to Theology by John Behr,Ay Nova et Vetera 20, no. : 989Ae94, https://doi. org/10. 1353/nov. Michael G. Azar. AuJohn the Theologian and His Paschal Gospel: A Prologue to Theology by John Behr,Ay Journal of Orthodox Christian Studies 3, no. : 225Ae28, https://doi. org/10. 1353/joc. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia ini bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan keterlibatan Allah yang aktif dan personal, mengundang manusia untuk merespons cinta ilahi dalam konteks hidupnya masingmasing. Yesus Kristus menjadi arketipe pewahyuan, di mana keilahian dan kemanusiaan bersatu, memperlihatkan atribut-atribut Allah secara sempurna dan nyata dalam sejarah. Pwahyuan Allah yang menyatakan diriNya melalui Yesus Kristus merupakan bentuk inisiatif Allah yang aktif. Allah berkehendak agar manusia secara personal dapat merespon kasih Allah yang Dia nyatakan melalui kehadiranNya di dalam Yesus Kristus. Allah juga terlibat dalam penyelamatan umat manusia melalui penderitaan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus manusia dari dosa. Keterlibatan dan penderitaan Yesus Kristus menunjukkan kepedulian Allah yang maha kasih di dalam sejarah kehidupan manusia. Selain itu, pewahyuan Allah juga dapat dipahami secara eskatologis. Winandar menyatakan bahwa eskatologi Kristen menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat dan puncak sejarah manusia. Kehadiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dipandang sebagai penggenapan janji keselamatan dan harapan akan Kerajaan Allah yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. 23 Pewahyuan Allah di dalam Yesus Kristus menegaskan sebuah janji keselamatan yang sempurna sekaligus penggenapannya. Harapan mendatang mengenai kerajaan Allah yang dijanjikan dalam perjanjian lama juga diteguhkan melalui Yesus Kristus. Umat manusia dapat memiliki pengharapan eskatologis yang aman karena Yesus merupakan penggenapan rencana keselamatan Allah yang berdampak secara eskatologis. Oleh karena itu, pewahyuan Allah dalam sejarah manusia dapat dipahami secara ontologis dan eskatologis dimana Allah hadir, nyata dan memberikan pengharapan masa depan mengenai keselamatan secaar sempurna di dalam Yesus Kristus. Inkarnasi dan Kehadiran Allah dalam Sejarah Inkarnasi di dalam iman Kristen merupakan sebuah antitesis terhadap argumentasi divine hiddenness. Argumentasi divine hiddenness menyatakan bahwa Allah tidak dapat dikenali secara komprehensif karena Allah berada di sebuah tempat yang tersembunyi. Namun, iman Kristen memberikan jawaban yang solid terhadap argumentasi tersebut. Iman Kristen mengemukakan inkarnasi sebagai kontra dari argumen divine hiddenness. WierciEski menyatakan bahwa Inkarnasi dipahami sebagai peristiwa di mana Allah secara aktif menyatakan diri-Nya dalam sejarah manusia melalui kehadiran nyata Kristus. Peristiwa ini menandai keterbukaan dan dialog antara Allah dan manusia, di mana Allah tidak lagi tersembunyi, melainkan hadir secara langsung dan dapat dialami dalam kehidupan manusia. Inkarnasi menjadi momen puncak pewahyuan diri Allah, di mana kasih, komunikasi, dan partisipasi manusia dalam misteri ilahi menjadi nyata dan terbuka. 24 Melalui inkarnasi. Allah bukanlah Allah yang bersembunyi sehingga sukar dikenali. Inkarnasi membuat Allah dapat dikenali karena inkarnasi menyatakan keaktifan Allah dalam menyatakan diriNya melalui Yesus Kristus. Inkarnasi menyatakan bahwa Allah hadir secara langsung dan Allah dapat Young Pa Kwon. AuEschatology as Salvation Fulfilled in History: A Study of SchillebeeckxAos Understanding of History and Eschatology,Ay The Society of Theology and Thought 89 . : 136Ae73, https://doi. org/10. 21731/ctat. Resna Winandar et al. AuDoktrin Akhir Zaman (Ekshatolog. ,Ay Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese Dan Pastoral 3, no. : 20Ae31, https://doi. org/10. 55606/lumen. Andrzej WierciEski. AuThe Holy Spirit Will Overshadow You: Conversation as the Transformative Openness Unknown,Ay Rocznik Teologii Katolickiej . 225Ae38, https://doi. org/10. 15290/rtk. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia berinteraksi di dalam kehidupan manusia. Misteri Allah yang tersembunyi kini tidak lagi menjadi sebuah misteri yang tidak terpecahkan. Kehadiran Allah secara aktif melalui Yesus Kristus menandakan kasih Allah terekspresi dalam kehidupan manusia. Selain itu, inkarnasi memberikan jawaban yang tangguh untuk melawan argumentasi divine hiddenness. Brown menegaskan bahwa argumen divine hiddenness menyatakan bahwa jika Allah benar-benar ada dan menginginkan hubungan dengan manusia, maka Allah seharusnya tidak menyembunyikan diri-Nya. Inkarnasi justru menjadi jawaban terhadap argumen ini, karena melalui Kristus. Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya secara eksplisit, tetapi juga mengundang manusia untuk masuk dalam dialog, kepercayaan, dan partisipasi dalam rencana keselamatan-Nya. Argumentasi divinie hiddenness menyatakan ketersembunyian Allah sehingga Allah tidak dapat ditemui oleh para pencariNya. Namun, inkarnasi memberikan jawaban yang pasti bahwa Allah telah menyatakan diriNya melalui Yesus Kristus. Bahkan. Allah juga memberikan undangan untuk manusia dapat masuk dan terlibat di dalam hubungan antara manusia dengan Allah. Allah menyatakan diriNya melalui Yesus Kristus dalam rangka rencana keselamatanNya semenjak kekekalan. Manusia diundang untuk terlibat di dalam rencana keselamatan Allah yang mulia tersebut. Dengan demikian. Allah tidak lagi bersembunyi di tempat yang tidak Allah telah menyatakan diriNya di dalam sejarah kehidupan umat manusia melalui inkarnasiNya di dalam Yesus Kristus. Selain menjawab argumentasi divine hiddenness, inkarnasi juga menegaskan partisipasi Allah dalam penderitaan manusia. Inkarnasi bukan hanya sekedar manifestasi teofanik semata, melainkan penyataan Allah yang terlibat di dalam kehidupan serta penderitaan manusia. Firmanto menegaskan bahwa Inkarnasi bukan sekadar manifestasi teofanik . enampakan Allah secara sementara atau simboli. , melainkan keterlibatan Allah secara penuh dan nyata dalam realitas manusia, termasuk penderitaan. Melalui inkarnasi. Allah dalam Yesus Kristus tidak hanya menampakkan diri, tetapi benar-benar masuk ke dalam pengalaman manusia, merasakan dan menanggung penderitaan bersama manusia. 26 Melalui inkarnasi. Allah dapat dikenali secara utuh dan mendalam melalui keterlibatanNya dalam kehidupan manusia. Allah melalui Yesus Kristus terlibat dalam pengalaman umat manusia. Yesus Kristus mengalami penderitaan yang seksama dalam rangka menanggung dosa umat manusia. Penderitaan Yesus Kristus tersebut dipandang sebagai kepedulian Allah dalam pengalaman umat manusia. Selain itu, inkarnasi juga menegaskan solidaritas Allah dengan manusia. Gofwan menyatakan bahwa inkarnasi menunjukkan solidaritas Allah dengan manusia yang menderita. Allah tidak lagi jauh atau hanya hadir dalam bentuk tanda-tanda, tetapi benar-benar hadir, mengalami, dan memahami penderitaan manusia dari dalam. Hal ini menjadi sumber harapan dan kekuatan, karena Allah sendiri telah merasakan penderitaan dan mengajak manusia untuk berpartisipasi dalam kasih dan keadilan. 27 Inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus menunjukkan partisipasi aktif Allah dalam penderitaan umat manusia. Yesus Kristus berada di dalam dunia dan Hunter Brown. AuIncarnation and the Divine Hiddenness Debate,Ay Heythrop Journal - Quarterly Review of Philosophy and Theology 54, no. : 252Ae60, https://doi. org/10. 1111/j. Antonius Denny Firmanto. AuSharing On Suffering Experiences As The Secularity Of Incarnation,Ay International Journal of Indonesian Philosophy & Theology 2, no. : 61Ae71, https://doi. org/10. 47043/ijipth. David Gofwan. AuContemporary Theological Relevance of the Incarnation: Addressing Human Suffering in the Nigerian Context,Ay Humanities and Social Sciences 13, no. : 30Ae40, https://doi. org/10. 11648/j. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia berinteraksi secara langsung dengan umat manusia. Yesus Kristus juga mengalami penderitaan dalam rangka menanggung dosa dan kesalahan umat manusia. Penderitaan ini menegaskan kasih Allah yang mendalam terhadap umat manusia. Namun, penderitaan ini juga dalam rangka memuaskan keadilan Allah yang maha kudus. Dengan demikian, inkarnasi dipandang sebagai Allah yang tidak tersembunyi dan menyatakan diriNya bagi manusia. Implikasi Teologis terhadap Argumen Divine Hiddenness Inkarnasi di dalam Yohanes 1:14 merupakan seperangkat jawaban solid untuk melawan argumen divine hiddenness. Inkarnasi secara langsung mematahkan asumsi bahwa Allah telah menjauh dan bersembunyi dari umat manusia. Inkarnasi menunjukkan kehadiran Allah yang nyata di tengah manusia. Parhusip menyatakan bahwa inkarnasi menandai puncak kehadiran Allah yang nyata di tengah manusia. Melalui Yesus Kristus. Allah tidak lagi dipahami sebagai sosok yang jauh, abstrak, atau tersembunyi, melainkan hadir secara langsung, mengambil rupa manusia, dan hidup bersama manusia. Inkarnasi adalah bukti bahwa Allah memilih untuk terlibat secara penuh dalam kehidupan manusia, termasuk penderitaan, pergumulan, dan realitas sosial. 28 Allah bukanlah sebuah konsep abstrak yang tidak dapat diselami dan dikenali. Allah bukanlah sesosok makhluk yang bersembunyi di singgasanaNya. Allah menyatakan diriNya dan inkarnasi itu merupakan puncak kehadiran Allah yang nyata dalam sejarah kehidupan manusia. Inkarnasi menegaskan kehadiran serta keterlibatan Allah secara penuh di dalam penderitaan manusia. Kehadiran Allah melalui Yesus Kristus membuat Allah mengerti penderitaan, pergumulan dan realitas sosial yang terjadi. Hal tersebut menegaskan kepedulian Allah yang mendalam bagi umat manusia. Selain itu, inkarnasi juga menandakan ekspresi kasih Allah yang maha mulia. Nanthambwe menegaskan bahwa kehadiran Yesus di dunia melalui inkarnasi merupakan manifestasi kasih Allah yang membela, membebaskan, dan mengangkat martabat manusia. Inkarnasi bukan hanya peristiwa teologis, tetapi juga pengalaman konkret di mana manusia dapat merasakan kasih, pembelaan, dan kehadiran Allah secara langsung. Hal ini memberi harapan dan pemulihan bagi mereka yang mengalami penindasan, penderitaan, dan ketidakadilan. 29 Apabila argumentasi divine hiddenness menyatakan Allah yang tidak maha kasih karena ketersembunyianNya, inkarnasi justru menunjukkan kemaha kasih Allah yang besar dan mendalam. Inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus serta penderitaanNya bukanlah sebuah peristiwa teologis semata. Penderitaan Yesus Kristus merupakan penderitaan yang termaktub di dalam sejarah kehidupan manusia. Penderitaan Yesus Kristus dalam menanggung segenap dosa dan kesalahan manusia memberikan harapan bagi kehidupa umat Umat manusia memiliki harapan dan pemulihan di dalam kehidupan mereka. Hal ini terjadi karena inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus dan penderitaan Yesus Kristus merupakan bentuk kasih Allah yang sejati. Selain itu, inkarnasi meniadakan dikotomi antara jarak Allah dengan manusia. Zai dan Wijaya menegaskan bahwa Inkarnasi membatalkan dikotomi antara Allah yang transenden dan manusia yang imanen. Allah tidak lagi hanya berkomunikasi Parsaoran Parhusip. AuInkarnasi: Perwujudan Kasih Allah Yang Membela. Membebaskan. Dan Mengangkat Martabat Manusia,Ay Melintas . 316Ae33, https://doi. org/10. 26593/mel. Patrick Nanthambwe. AuEmbodied Grace: The Implications of the Incarnation to Public Practical Theology in Sub-Saharan Africa,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 80, no. https://doi. org/10. 4102/hts. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia melalui tanda atau perantara, tetapi benar-benar menjadi bagian dari sejarah dan pengalaman Dengan demikian, inkarnasi mematahkan asumsi bahwa Allah menjauh atau tidak peduli terhadap manusia, dan justru menegaskan kedekatan, keterlibatan, serta solidaritas Allah dengan ciptaan-Nya. 30 Inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus memotong jarah yang dalam dan luas antara Allah dengan manusia. Allah tidak mengutus perantara untuk berkomunikasi dengan manusia. Allah datang melalui inkarnasiNya di dalam Yesus untuk berkomunikasi dan berelasi dengan umat manusia. Hal tersebut menandakan bahwa Allah memiliki kepedulian yang mendalam serta solidaritas yang dekat dengan ciptaanNya. Sehingga, tidak ada jarak yang memisahkan antara Allah dengan umat ciptaanNya. Oleh karena itu, inkarnasi di dalam Yohanes 1:14 memberikan implikasi teologis terhadap argumen divine hiddenness. Inkarnasi dalam Yohanes 1:14 menunjukkan Allah yang menyatakan diriNya serta terlibat di dalam kehidupan umat manusia melalui Yesus Kristus. KESIMPULAN Divine Hiddenness merupakan argumentasi yang menentang keberadaan Allah dengan argumen bahwa Allah bersembunyi dan tak dapat ditemui oleh para pencariNya yang tulus. Namun, kekristenan memberikan jawaban yang tegas untuk menyanggah argumentasi tersebut. Iman Kristen menegaskan bahwa inkarnasi yang dinyatakan dalam Yohanes 1:14 merupakan bentuk penyataan Allah yang final di dalam sejarah kehidupan manusia. Inkarnasi Allah di dalam Yesus Kristus menegasikan ketersembunyian Allah. Yohanes 1:14 memberikan penjelasan yang komprehensif bahwa inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus menunjukkan kepedulian Allah yang maha kasih. Allah bukan berada di tempat yang jauh, tersembunyi dan tidak dapat dijangkau. Melainkan. Allah secara aktif menyatakan diriNya dengan jalan inkarnasi untuk membangun relasi dan menyatakan solidaritasNya kepada umat manusia. Selain itu, inkarnasi dalam Yohanes 1:14 memberikan nilai signifikansi sercara historis dan Secara historis, inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus menegaskan bahwa Allah berada serta bersinggungan secara aktif dalam sejarah kehidupan manusia. Secara teologis, inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus membawa dampat keselamatan dan harapan eskatologis yang pasti. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus dalam Yohanes 1:14 memberikan sanggahan yang solid bagi argumentasi divine DAFTAR PUSTAKA