Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 EFIKASI DIRI. DUKUNGAN SOSIAL. PEMBERIAN MAKAN BAYI DAN ANAK SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING DI KABUPATEN BONDOWOSO Hasna Siallagan1. Devi Arine Kusumawardani2*. Septi Nur Rachmawati1. Nina Erywiyatno3 Program Studi Gizi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Jember Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Jember Puskesmas Sempol. Kabupaten Bondowoso Corresponding author: deviarine@unej. ABSTRAK Pendahuluan: Stunting menjadi permasalahan gizi prioritas yang perlu dilakukan tindakan pencegahan atau penanggulangan secara optimal karena berdampak terhadap peningkatan risiko terjadinya morbiditas dan mortalitas anak. Tujuan: Menganalisis efikasi diri ibu, dukungan sosial ibu, dan PMBA sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan studi case Sampel penelitian secara keseluruhan adalah 72 orang yang terdiri dari 36 baduta stunting pada sampel kasus dan 36 baduta tidak stunting pada sampel kontrol. Data diperoleh melalui pengukuran menggunakan infantometer dan wawancara dengan responden menggunakan kuesioner yang sudah valid dan reliabel. Data dianalisis menggunakan uji ChiSquare dengan confidence interval 95%. Hasil: Sebagian besar ibu baduta stunting memiliki efikasi diri yang rendah . ,8%), dukungan sosial yang rendah . ,6%) dan melakukan PMBA yang kurang . ,1%). Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara efikasi diri ibu . -value < 0,001. OR = 8,. dukungan sosial . -value < 0,001. OR = 7,. , dan PMBA . -value < 0,001. OR 10,. dengan kejadian stunting. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara efikasi diri ibu, dukungan sosial ibu dan PMBA dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan. Kata kunci: dukungan sosial. efikasi diri. pemberian makan bayi dan anak. ABSTRACT Introduction: Stunting is a priority nutritional problem that requires optimal prevention or management measures because it has an impact on increasing the risk of child morbidity and Objective: Analyzing maternal self-efficacy, maternal social support, and IYCF as risk factors for stunting in children aged 6-23 months. Methods: This research used quantitative research with a case-control study design. The overall research sample consisted of 72 people, 36 stunted toddlers in the case sample and 36 non-stunted toddlers in the control sample. Data was obtained through infantometer measurements and interviews with respondents using valid and reliable questionnaires. Data were analyzed using the Chi-Square test with a confidence interval of 95%. Results: Most of the stunting mothers had low self-efficacy . ,8%), low social support . ,6%), and did not do IYCF less . ,1%). This research showed that there was a relationship between maternal self-efficacy . -value<0,001. OR=8,. , social support . -value < 0,001. OR = 7,. , and IYCF . -value < 0,001. OR=10,. with the incidence of stunting. Conclusion: There was a relationship between maternal self-efficacy, maternal social Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 support, and IYCF with the incidence of stunting in children aged 6-23 months. Keywords: social support. self-efficacy. infant and young child feeding. PENDAHULUAN Stunting pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadi akibat kekurangan gizi secara kronis dan infeksi berulang. Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menyatakan, angka stunting di Indonesia . ,6%). Provinsi Jawa Timur . ,2%). Kabupaten Bondowoso . %) dan Puskesmas Sempol . ,01%) masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan target nasional prevalensi stunting pada tahun 2024 yaitu 14% dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 (Kemenkes RI, 2. Stunting menjadi keluarga, teman, lingkungan sekitar dan Menurut Kusumaningrum et al. , mayoritas ibu yang memiliki dukungan sosial tinggi akan melakukan upaya pencegahan stunting (Putri et al. , 2. Kejadian stunting secara tidak langsung dapat disebabkan oleh pola pengasuhan orang tua terutama peran ibu mengasuh dan merawat anak (Kusumaningrum et al. Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) adalah bagian dari pengasuhan orang tua pada anak. Ibu berperan besar dalam PMBA seperti melakukan inisiasi menyusu dini, memberikan ASI secara eksklusif dan memberikan MP-ASI yang tepat sejak umur 6 bulan sampai dengan 23 bulan(Noorhasanah & Tauhidah, 2. Berdasarkan uraian permasalahan diatas, perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait hubungan antara efikasi diri, dukungan sosial. PMBA dengan kejadian stunting agar dapat dilakukan kebijakan terkait pencegahan stunting pada anak usia 6 Ae 23 permasalahan gizi prioritas yang perlu penanggulangan secara optimal karena berdampak terhadap peningkatan risiko terjadinya morbiditas dan mortalitas anak (Martony, 2. Oleh karena itu, dilakukan di wilayah Puskesmas Sempol. Salah satu faktor kunci yang berperan dalam pencegahan dan penanganan stunting pada anak adalah kapabilitas ibu dalam mengasuh anak termasuk efikasi diri dan dukungan sosial yang diperoleh ibu dalam mengasuh anak. Efikasi diri ibu merupakan faktor internal dari dalam diri ibu sementara dukungan sosial merupakan faktor eksternal yang diterima oleh ibu (Pertiwi et al. , 2. Efikasi diri ibu adalah tingkat kepercayaan diri pada kemampuannya dalam bertanggung jawab terhadap PMBA (Nita et al. , 2. Efikasi diri ibu yang tinggi dapat memotivasi ibu untuk menerapkan PMBA yang sesuai dan optimal sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap stunting (Terok et al. Dukungan sosial adalah dukungan yang diterima dan dirasakan oleh ibu, dapat berupa memberikan akses ibu terhadap informasi dan pengetahuan mengenai PMBA, perhatian dan penghargaan, serta layanan atau bantuan dari anggota METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan case-control. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso pada bulan Maret 2024 hingga Mei 2024. Sampel penelitian ini yaitu sebanyak 36 balita stunting . dan 36 balita tidak stunting . Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan simple random sampling. Kriteria inklusi penelitian ini yaitu ibu balita stunting dan tidak stunting yang bersedia untuk menjadi responden dan mengurus sendiri anaknya. Variabel bebas penelitian ini yaitu efikasi diri, dukungan sosial. PMBA dan variabel terikat yaitu Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Data pada penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer akan diperoleh secara langsung dari responden melalui pengukuran dan wawancara dengan kuesioner. Data primer yang digunakan pada penelitian ini yaitu panjang badan anak, karakteristik anak . sia dan jenis kelami. , karakteristik sosial ekonomi ibu . sia, pengetahuan, dan pendapatan keluarg. , efikasi diri ibu, dukungan sosial ibu. PMBA (IMD. ASI eksklusif, dan MP-ASI). Data sekunder yang digunakan pada penelitian ini adalah data laporan status gizi balita Puskesmas Sempol dan data prevalensi stunting di Kabupaten Bondowoso yang didapatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso. Wawancara untuk menggali data efikasi diri, dukungan sosial dan PMBA dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Berdasarkan hasil uji Pearson Product Moment diketahui bahwa 10 pertanyaan pengetahuan ibu, 12 pernyataan efikasi diri, 21 pernyataan dukungan sosial dan 13 pertanyaan PMBA dinyatakan valid karena nilai r hitung lebih besar daripada nilai r tabel . Uji reliabilias juga dilakukan dengan menggunakan uji CronbachAos Alpha. Hasil dari uji reliabilitas untuk kuesioner pengetahuan ibu, efikasi diri, dukungan sosial dan PMBA diperoleh nilai CronbachAos Alpha berturut-turut sebesar 0,769. 0,784. 0,848. 0,708 yaitu lebih besar dari 0,6 (Ou0,. sehingga kuesioner dinyatakan reliabel. Analisis data dalam penelitian ini dimulai dengan melakukan analisis secara deskriptif, dilanjutkan dengan analisis secara bivariat yaitu untuk mengukur ada tidaknya hubungan antara variabel independen dengan dependen. Uji statistik yang digunakan yaitu uji Chi-Square serta menghitung Odds Ratio (OR) dengan CI Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember 2492/UN25. 8/KEPK/DL/2024. HASIL Berdasarkan Tabel 1 distribusi karakteristik baduta menurut usia bahwa mayoritas baduta masuk pada kategori kelompok usia 12-23 bulan. Sedangkan menurut jenis kelamin, mayoritas baduta yang mengalami stunting adalah laki-laki . ,3%) dan baduta yang tidak mengalami stunting didominasi oleh perempuan . ,1%). Tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik ibu baduta berdasarkan usia didominasi oleh kategori usia 26-35 tahun. Dilihat dari segi pengetahuan, mayoritas ibu pada baduta stunting memiliki . ,4%) mayoritas ibu pada baduta tidak stunting memiliki pengetahuan baik . ,4%). Mayoritas keluarga pada baduta memiliki UMK Kabupaten Bondowoso (Rp2. Tabel 1. Distribusi Karakteristik Baduta dan Ibu Baduta Karakteristik Karakteristik baduta Usia baduta 6-8 bulan 9-11 bulan 12-23 bulan Total Jenis kelamin baduta Laki Ae laki Perempuan Stunting Tidak Stunting Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Karakteristik Stunting Tidak Stunting Total Karakteristik ibu baduta Usia ibu 10 27,8 25 69,4 Total Pengetahuan ibu Kurang 25 69,4 Baik 11 30,6 Total Pendapatan keluarga 35 97,2 < UMK1 > UMK Total UMK = Upah Minimum Kabupaten Bondowoso Tahun 2024 adalah Rp2. Tabel 2 menggambarkan bahwa mayoritas ibu baduta stunting memiliki efikasi diri ibu yang kurang . ,8%), sedangkan pada baduta tidak stunting mayoritas ibu telah memiliki efikasi diri ibu yang tinggi . ,9%). Mayoritas ibu baduta stunting juga memiliki dukungan sosial ibu yang rendah . ,6%), sedangkan pada baduta tidak stunting mayoritas ibu telah memiliki dukungan sosial ibu yang tinggi . ,1%). Tabel 2 juga menunjukkan bahwa mayoritas ibu baduta stunting tidak melakukan inisiasi menyusu dini kepada anak . %), sedangkan pada ibu baduta tidak stunting telah melakukan IMD . ,3%). Mayoritas ibu baduta stunting tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayi . ,3%), sedangkan pada ibu baduta tidak stunting telah memberikan ASI eksklusif 66,7%). Ibu baduta stunting mayoritas tidak tepat dalam memberikan MP-ASI . ,6%), sedangkan ibu baduta tidak stunting telah tepat dalam memberikan MP-ASI . ,4%). Tabel 2. Distribusi frekuensi efikasi diri, dukungan sosial dan PMBA Variabel Stunting Tidak Stunting Efikasi Diri Rendah (O yayayayyayaoy. Tinggi (> media. Dukungan Sosial Rendah (O yayayayyayaoy. Tinggi (> media. Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Variabel Stunting PMBA Kurang (O yayayayyayaoy. Baik (> media. IMD Tidak ASI Eksklusif Tidak Total MP-ASI Tidak Tepat Tepat Total Berdasarkan Tabel 3 diperoleh nilai pvalue = 0,001 . < 0,. , yang berarti dari hasil uji statistik chi-square tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara efikasi diri ibu dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso. Selain itu, juga diperoleh nilai OR (Odds Rati. yaitu sebesar 8,941 (CI: 2,618-30,. yang berarti ibu dengan efikasi diri rendah berisiko 8,941 kali mempunyai anak yang mengalami stunting dibandingkan dengan ibu dengan efikasi diri yang tinggi. Berdasarkan Tabel 3 juga diperoleh nilai p-value = 0,001 . < 0,. , yang berarti dari hasil uji statistik chi-square tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial ibu dengan kejadian stunting pada anak usia 623 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tidak Stunting Sempol Kabupaten Bondowoso. Selain itu, juga diperoleh nilai OR (Odds Rati. yaitu sebesar 7,750 (CI: 2,452-24,. yang berarti ibu dengan dukungan sosial rendah berisiko 7,750 kali lebih besar mempunyai dukungan sosial tinggi. Tabel 3 menyajikan hasil uji statistik chi-square, diperoleh nilai p-value = 0,001 . < 0,. , yang berarti terdapat hubungan antara PMBA dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso. Jika ditinjau berdasarkan nilai OR (Odds Rati. yang hasilnya sebesar 10,969 (CI:3,425-35,. Maka dapat diartikan bahwa anak dengan PMBA yang kurang berisiko 10,969 kali mengalami kejadian stunting daripada anak dengan PMBA yang baik. Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Tabel 3. Hubungan antara Efikasi Diri. Dukungan Sosial dan PMBA dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso Variabel Efikasi Diri Rendah (O yayayayyayaoy. Tinggi (> media. Dukungan Sosial Rendah (O yayayayyayaoy. Tinggi (> media. PMBA Kurang (O yayayayyayaoy. Baik (> media. Total *signifikan uji Chi Square Stunting Tidak Stunting 0,001* 0,001* 7,750 . ,45224,. 0,001* 10,969 . ,42535,. PEMBAHASAN Karakteristik Baduta p-value OR. % CI) 8,941 . ,61830,. sehingga cadangan energi didalam tubuh yang digunakan sebagai pertumbuhan anak akan berkurang. Anak laki-laki memiliki risiko tinggi terkena stunting dibandingkan dengan perempuan pada kelompok usia yang sama (Ardiansyah et al. , 2. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian (Safinatunnaja dan Muliani, 2. yaitu sebagian besar balita stunting berjenis kelamin laki-laki (Safinatunnaja & Muliani, 2. Anak usia 12-23 bulan memerlukan asupan gizi yang lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan baduta 6-8 bulan dan 9-11 bulan (Dwi Kusumayanti & Dewi M Diah Herawati, 2. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar baduta pada kelompok baduta stunting berada pada usia 12-23 bulan. Hal ini dapat terjadi karena MP-ASI yang diberikan oleh ibu kepada anak tidak bertambah, sementara kebutuhan anak semakin meningkat seiring bertambahnya Semakin bertambahnya usia maka Basal Metabolic Rate (BMR) semakin meningkat, sementara asupan gizi pada anak tidak memadai sehingga risiko terjadinya stunting menjadi lebih tinggi (Wanimbo & Wartiningsih, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Fadzila dan Tertiyus, 2. yang menyebutkan bahwa persentase stunting terbanyak ada pada anak usia 12-23 bulan. Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian Fadzila dan Tertiyus . yang menyebutkan bahwa anak usia 12-23 bulan berisiko 6,1 lebih besar mengalami stunting dari usia lainnya (Fadzila & Tertiyus, 2. Berdasarkan Ardiansyah et al. stunting banyak terjadi pada laki-laki karena secara fisik laki-laki lebih aktif Karakteristik Baduta dan Ibu Baduta Berdasarkan penelitian ini, sebagian besar ibu pada baduta stunting berusia 2635 tahun. Usia ibu yang ideal tidak menutup kemungkinan memiliki pola asuh pemberian makan yang kurang baik karena banyak faktor yang dapat menentukan baik atau kurang baiknya praktik pemberian makan (Shodikin et al. , 2. Hal ini ini sejalan dengan penelitian Fadzila dan Tertiyus . , yang menyatakan bahwa sebagian besar ibu berusia 26-35 tahun memiliki anak dengan kejadian stunting. Hal ini dapat terjadi karena usia ibu bukan merupakan penentu terjadinya stunting melainkan dari pengetahuan yang dimiliki Menurut riset ini, sebagian besar ibu baduta stunting memiliki pengetahuan Rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi berisiko mengakibatkan Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 pemberian makan kurang tepat untuk baduta yang akan berpengaruh terhadap kurangnya asupan baduta dan dapat menghambat tumbuh kembangnya di masa golden age (Fallo et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wanimbo dan Wartiningsih . yang menyebutkan bahwa sebagian besar ibu dari baduta memiliki pengetahuan yang Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas keluarga pada baduta stunting memiliki pendapatan keluarga per bulan kurang dari UMK Kabupaten Bondowoso yaitu Rp2. Dengan pendapatan rendah, biasanya makanan yang dikonsumsi kurang bervariasi, sebaliknya pendapatan tinggi umumnya mengkonsumsi makanan yang lebih bervariasi, tetapi penghasilan yang tinggi tidak menjamin tercapainya gizi yang baik (Hastatiarni et al. , 2. Hasil riset ini sejalan dengan penelitian Hastatiarni et al. , mayoritas keluarga responden dengan penghasilan kurang dari UMK mengalami stunting. anak (Solikhah & Ardiani, 2. Ibu yang memiliki efikasi diri tinggi cenderung menerapkan PMBA yang lebih baik jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki efikasi diri rendah (Rosyidah et al. , 2. Efikasi diri adalah faktor penting yang mendukung gizi anak, efikasi diri ibu yang rendah dapat menjadi faktor risiko terjadinya stunting (Ariwati & Khalda. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Solikhah dan Ardiani . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri ibu dengan kejadian Hal ini juga didukung oleh penelitian Putri et al. , efikasi diri ibu berhubungan dengan kejadian stunting. Berbeda dengan hasil penelitian dari (Aulia et al. , 2. yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara efikasi diri ibu dengan kejadian stunting (Aulia et al. , 2. Hubungan Dukungan Sosial dengan Kejadian Stunting Hasil riset ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial ibu dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso. Dukungan sosial ibu dengan stunting berhubungan erat, mayoritas ibu yang memiliki dukungan sosial yang rendah berisiko memiliki anak yang mengalami stunting (Rachmawati et al. Dukungan sosial yang rendah berpeluang 7,750 kali lebih banyak mengalami kejadian stunting dibandingkan anak dengan dukungan sosial ibu yang tinggi, hal ini dapat terjadi karena ibu yang menerima dukungan sosial rendah cenderung memiliki pengetahuan dan sikap yang kurang baik dalam merawat anak, sehingga anak tersebut rentan mengalami masalah gizi dan pertumbuhan yang terhambat (Lestari et al. , 2. Penelitian Cahyani et al. , juga mengemukakan bahwa dukungan sosial Hubungan Efikasi Diri dengan Kejadian Stunting Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa baduta yang mempunyai ibu dengan efikasi diri rendah lebih banyak terjadi pada baduta stunting daripada baduta tidak stunting. Baduta dengan efikasi diri ibu yang rendah lebih berisiko mengalami kejadian stunting dibandingkan baduta dengan efikasi diri ibu yang tinggi. Efikasi diri ibu yang rendah berpeluang 8,941 kali lebih tinggi mempunyai anak stunting dibandingkan dengan ibu dengan efikasi diri yang tinggi. Efikasi diri ibu adalah kemampuan ibu dalam menjalankan peran sebagai ibu dalam mengasuh anak (Kharisma & Safitri. Berdasarkan Solikhah dan Ardiani . efikasi diri ibu yang rendah dalam pemberian makan berkaitan dengan ketepatan pola asuh makan, praktik pemberian makan dipengaruhi oleh efikasi diri atau keyakinan ibu dalam pemberian Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 pemberian intervensi gizi spesifik pada anak usia 6-24 bulan dengan kejadian stunting (Cahyani et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Palowa et al. yaitu dukungan sosial memiliki hubungan dengan kejadian stunting, oleh sebab itu dukungan sosial yang tinggi cenderung memiliki tingkat risiko stunting rendah dan sebaliknya pada dukungan sosial yang rendah cenderung memiliki risiko terjadinya stunting (Palowa et al. , 2. Berbeda dengan penelitian (Mulyana et al. , 2. , yang menyebutkan bahwa tidak terdapat hubungan secara signifikan antara dukungan sosial dengan kejadian stunting pada balita (Mulyana et al. , 2. kurang lebih berisiko 10,969 kali mengalami kejadian stunting dibandingkan baduta dengan PMBA baik. Hasil riset ini menunjukkan bahwa baduta yang memiliki PMBA kurang baik lebih banyak terjadi pada baduta stunting daripada baduta tidak stunting, karena mayoritas baduta stunting tidak mendapatkan IMD. ASI eksklusif, dan MP-ASI yang tepat sehingga menyebabkan baduta tidak mendapatkan asupan gizi yang memicu terjadinya Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunawan et al. , yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PMBA dengan kejadian stunting (Gunawan et al. , 2. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa PMBA baik yang diberikan ibu dapat memberikan hasil tumbuh kembang yang Namun, hasil dari penelitian ini berbeda dengan penelitian MarAoatik dan Muniroh . yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara PMBA dengan kejadian stunting (MarAoatik & Muniroh, 2. Hubungan PMBA dengan Kejadian Stunting Berdasarkan analisis yang dilakukan diketahui bahwa terdapat hubungan antara PMBA dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso. Baduta dengan PMBA SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri, dukungan sosial ibu dan PMBA dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso. Perlu adanya peningkatan efikasi diri dan dukungan sosial dalam PMBA dengan memberikan kegiatan Emotional Demonstration (EmoDem. secara rutin seperti Emo-Demo 4 membayangkan masa depan dan EmoDemo 9 Porsi makan bayi dan anak dengan sasaran ibu dan keluarga. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terimakasih kepada ibu-ibu baduta di wilayah Puskesmas Sempol Kabupaten Bondowoso yang telah bersedia menjadi responden penelitian ini. Penulis juga berterimakasih pada kepala puskesmas Sempol yang telah memberikan izin untuk penelitian ini serta seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA