JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/jis E-ISSN: 2988-0947 Vol. 3 No. : 35-42 DOI: https://doi. org/10. 61341/jis/v3i1. ANALISIS KECERDASAN EMOSIONAL GURU DALAM MEMBINA KARAKTER DISIPLIN SISWA KELAS 1 MADRASAH IBTIDAIYAH MAAoHAD AL-ZAYTUN Huri Salamah1A. Irvan Iswandi2. Dewi Utami3 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia E-mail: hurisalamah572@gmail. com1A, irvan@iai-alzaytun. id2, dewi@iai-alzaytun. 1,2,3 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pemahaman dan penerapan kecerdasan emosional guru dalam membina karakter disiplin siswa kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah MaAohad Al-Zaytun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru kelas 1 telah memiliki pemahaman praktis yang baik terhadap lima aspek kecerdasan emosional yakni kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Guru mampu menerapkan aspek-aspek tersebut dalam membina kedisiplinan siswa, baik melalui keteladanan, komunikasi empatik, pembiasaan, maupun strategi kreatif yang disesuaikan dengan kebutuhan emosional siswa. Disiplin siswa terbentuk melalui pembinaan yang berkesinambungan, kegiatan khas seperti kolosal, apel pagi, tea time, serta pendekatan yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Meskipun sebagian guru belum memiliki pemahaman teoretis yang mendalam mengenai kecerdasan emosional, mereka mampu menerapkannya secara efektif dalam praktik pembelajaran, yang berdampak positif terhadap pembentukan karakter disiplin siswa. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan aspek praktis kecerdasan emosional oleh guru merupakan faktor penting dan strategis dalam keberhasilan pendidikan karakter di jenjang dasar. Kata Kunci: Kecerdasan Emosional Guru. Karakter Disiplin. Sekolah Berasrama Abstract This study aims to analyze the extent of teachersAo understanding and application of emotional intelligence in fostering the character of discipline among first-grade students at Madrasah Ibtidaiyah MaAohad Al-Zaytun. This research employs a descriptive qualitative approach with data collection techniques including observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that first-grade teachers possess a solid practical understanding of the five aspects of emotional intelligence: self-awareness, self-regulation, motivation, empathy, and social skills. Teachers are able to apply these aspects in cultivating student discipline through role modeling, empathetic communication, habituation, and creative strategies tailored to studentsAo emotional needs. Student discipline is developed through continuous guidance, distinctive activities such as mass performances, morning assemblies, tea time, and an approach that combines firmness with gentleness. Although some teachers lack a deep theoretical understanding of emotional intelligence, they are able to apply it effectively in their teaching practices, positively impacting the development of students' disciplinary This demonstrates that mastery of the practical aspects of emotional intelligence by teachers is a crucial and strategic factor in the success of character education at the elementary level. Keywords: TeacherAos Emotional intelligence. Discipline Character. Boarding School 35 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Huri Salamah. Irvan Iswandi. Dewi Utami Vol. No. : 35-42 PENDAHULUAN Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Pendidikan adalah suatu usaha yang sengaja dan sistematis dirancang untuk menciptakan lingkungan dan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi, akhlak, kecerdasan, pengendalian diri, akhlak positif, nilai-nilai agama, dan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat dan diri sendiri. Tanpa pendidikan, manusia akan sulit berkembang dan mencapai tujuan hidupnya (Suarningsih et al. , 2. Pengembangan moral dan karakter siswa sama pentingnya dengan keberhasilan akademik dalam rangka pendidikan dasar, khususnya di tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Hal ini sangat penting karena karakter disiplin yang baik menjadi dasar bagi individu untuk bertindak secara etis dalam kehidupan sosial dan religius mereka. Pembentukan karakter disiplin siswa di usia dini membutuhkan perhatian khusus dari guru karena pada tahap ini mereka sedang membentuk pola perilaku yang akan terus terbawa hingga dewasa. Guru memiliki tanggung jawab besar untuk membimbing dan membentuk kedisiplinan siswa salah satu komponen penting yang berkontribusi pada keberhasilan pembentukan kedisiplinan siswa ini adalah kecerdasan emosional guru (Sudiarta & Porro. Dukungan kecerdasan emosional guru ini sangat penting dalam praktik pendidikan, di mana guru membina hubungan yang positif, memberikan perhatian emosional dan umpan balik yang membangun, serta memenuhi kebutuhan individu siswa dengan menciptakan lingkungan kelas yang aman dan mendukung secara psikologis sehingga bentuk dukungan ini memungkinkan siswa merasa dihargai, dipahami, dan dihormati (Guo & Wang, 2. Guru dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih sukses dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menangani perbedaan karakter siswa, dan menanamkan nilai moral melalui pendekatan yang lebih empatik. Peter Salovey dan John Mayer pertama kali mengusulkan gagasan ini pada awal 1990-an, dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995. Goleman mengungkapkan bahwa bukan hanya kecerdasan intelektual (IQ) yang menentukan keberhasilan seseorang, namun juga kecerdasan emosional (EQ). Menurut (Goleman, 2. , kecerdasan emosional terdiri dari lima komponen utama diantarannya: . Kesadaran diri. Manajemen diri. Motivasi diri. Empati. Keterampilan sosial. Kecerdasan emosional yang baik memungkinkan seseorang untuk lebih sabar, bijaksana, dan adaptif dalam menghadapi berbagai situasi yang dihadapi (Doho et al. Dalam konteks pendidikan islam, telah mengajarkan pentingnya pengelolaan emosi dengan bijak. Al-Qur'an sebagai pedoman utama yang dapat memberi petunjuk tentang pentingnya kecerdasan emosional. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah S. T dalam Surah Ali Imran ayat 134: a ca AEac aOI O eI aA aCO aI a aa a ca Aac OA AIOA a AacEEa aO Ee aI eIA a AIO EeaeO a aOEe a a AE ac aOE acac aOEe aEIA aa a a AIO a aI EIA Lembaga Ma'had Al-Zaytun menawarkan pendidikan dasar, menengah, tinggi, dan pasca sekolah yang dinamakan One Pipe Education dengan motto AuSehat Cerdas dan 36 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Huri Salamah. Irvan Iswandi. Dewi Utami Vol. No. : 35-42 ManusiawiAy dimana dalam pendidikan dasar terdapat Madrasah Ibtidaiyah Al-Zaytun. tingkat Madrasah Ibtidaiyah atau MI, pada umumnya siswa berusia antara 6 hingga 12 tahun. Dimana pada tahapan ini mereka berada dalam fase perkembangan yang sangat penting karena mereka mengalami berbagai perubahan fisik, kognitif, emosional, sosial serta masa ini dijadikan sebagai fondasi atau dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman siswa Sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Madrasah Ibtidaiyah membantu siswa mengembangkan karakter moral selain memberikan mereka informasi akademik. Upaya tersebut antara lain: . membina pengembangan karakter siswa dan memberikan contoh budi pekerti yang baik. mempertimbangkan pengembangan karakter sebagai komponen tanggung jawab pendidikan mereka. mendorong siswa mendiskusikan hal-hal positif dan negatif. menjadikan moralitas sebagai pedoman tanpa bersifat otoriter. mengajarkan siswa berempati terhadap pengalaman orang lain. menerapkan etika moral positif di kelas. membantu siswa dalam mengembangkan karakter yang baik (Rahim et al. , 2. Dalam hal ini, pengendalian karakter siswa sangatlah penting. Siswa di kelas satu, dua, dan tiga termasuk dalam kelompok kelas rendah, yang berusia antara enam hingga sembilan tahun (Suroto, 2. Kelompok ini merupakan bagian dari usia dini dengan periode perkembangan yang singkat, namun memiliki peran penting dalam kehidupan siswa. Pada tahap ini, guru berperan penting dalam membimbing siswa dengan menyampaikan informasi secara jelas dan responsif terhadap kebutuhan individu (Afifah & Utami, 2. Agar pengembangan karakter siswa dapat berjalan semulus mungkin, guru harus memiliki kecerdasan emosional yang kuat agar dapat memahami dan mengatur emosinya secara efektif (Sudiarta & Porro, 2. Guru adalah figur terbaik dalam pandangan anak yang akan dijadikan sebagai teladan untuk mengidentifikasikan dirinya dalam segala aspek kehidupan (Iswandi, 2. Guru diharuskan mampu mengajarkan nilai-nilai kebajikan kepada siswanya seperti integritas, pengendalian diri, akuntabilitas, dan empati. AuSesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, setiap guru harus memiliki kompetensi pedagogik, profesional, personal, dan sosialAy. Mengingat guru merupakan profesi yang erat kaitannya dengan tugas mendidik, memimpin, membina, dan mengajar, maka kepribadian guru dan keterampilan sosialnya sangat penting dalam menunjang kompetensi keseluruhan yang diperlukan. Mirip dengan gambar yang akan ditiru siswa, guru menentukan apakah lukisan itu baik atau buruk. Guru yang digugu dan ditiru siswa, secara otomatis akan menjadi panutan bagi siswa (Wismardi & Marhadi, 2. Mengenali pertumbuhan dan kesuksesan pribadi, karena kecerdasan emosional memungkinkan individu untuk memanfaatkan kekuatan emosi dengan cara yang konstruktif dan bermakna (Setiadi & Sutanto, 2. Kecerdasan emosi juga memiliki peranan penting dalam lingkungan pendidikan dimana strategi ini berkontribusi dalam membina dinamika kelas yang positif dan mendukung pembelajaran siswa yang efektif (Wang & Zai, 2. Guru dengan kecerdasan emosional yang baik memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengatasi tekanan hidup, lebih baik dalam berinteraksi sosial dan lebih mampu 37 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Huri Salamah. Irvan Iswandi. Dewi Utami Vol. No. : 35-42 menangani kecemasan, frustrasi, dan berbagai tantangan yang muncul di dalam kehidupan (Habibulloh & Maunah, 2. Guru adalah tokoh sentral dalam proses pendidikan agar terciptanya lingkungan yang dapat mendukung perkembangan karakter siswa karena selain mengajarkan pengetahuan, guru juga berperan sebagai pembentuk karakter siswa. Pembentukan karakter ini mencakup pengembangan sikap moral, sosial, dan spiritual yang akan membentuk perilaku siswa di masa depan. Untuk membentuk dan mengembangkan karakter siswa dengan baik, guru harus memahami gagasan tentang kecerdasan emosional. Mengingat hal ini, dapat dikatakan bahwa pendidik mempunyai kewajiban untuk bertindak jujur dan bermoral. Akibatnya, tugas pendidik bukan hanya untuk memberikan pengetahuan saja, namun mereka juga perlu menanamkan prinsip-prinsip dasar dan membentuk moralitas dan karakter siswa (Sulistiono, 2. Dalam situasi ini, pendidik harus mengambil pendekatan yang bijaksana terhadap keadaan emosional siswa, yang dapat dibudidayakan secara efektif oleh pendidik dengan kecerdasan emosional tinggi. Sebagaimana firman Allah S. T dalam Surah Ali Imran ayat 159: a aI e s aII NA a A AaUc aEaeO a Ee aC eEA AEA a A aEIe aA eO aI eI a eOEA a A aaEaeI aOEa eO aEeIA a AacEE EeIA a a a a AyMaka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmuAy (Kemenag, 2. Namun, pada kenyataannya, tidak semua guru memiliki kemampuan emosional yang ideal untuk mengajar siswanya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih didapati beberapa guru yang tidak dapat mengendalikan emosi mereka dengan baik ketika mereka menghadapi siswa atau menghadapi tekanan dalam proses pembelajaran. Akibatnya, interaksi yang tidak sehat antara pendidik dan siswa dapat menghambat pertumbuhan karakter disiplin siswa. Terbentuknya lingkungan yang baik bagi karakter disiplin siswa sangat bergantung pada kecerdasan emosional guru. Dengan melihat pentingnya kecerdasan emosional guru dalam membina kedisiplinan siswa, maka peneliti akan menganalisis secara mendalam terkait pemahaman dan penerapan kecerdasan emosional guru dalam membina karakter disiplin siswa kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah MaAohad Al-Zaytun. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara detail fenomena yang terjadi di lapangan khususnya mengenai pemahaman dan penerapan kecerdasan emosional guru kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah MaAohad Al-Zaytun. Penelitian dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah MaAohad Al-Zaytun dan asrama pelajarnya yang berlokasi di Kabupaten Indramayu. Jawa Barat. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan guru kelas 1 dan siswa, serta observasi langsung di lingkungan kelas dan asrama. Adapun data sekunder berasal dari dokumentasi yang mencakup catatan pembelajaran, arsip kegiatan, dan referensi 38 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Huri Salamah. Irvan Iswandi. Dewi Utami Vol. No. : 35-42 tambahan yang mendukung konteks penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan informan, dengan kriteria utama yaitu guru kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah MaAohad Al-Zaytun yang secara aktif terlibat dalam pembinaan karakter disiplin siswa dan menerapkan kecerdasan emosional dalam praktik Proses pemilihan dilakukan melalui observasi awal serta konsultasi dengan penanggung jawab kelas, guna memastikan bahwa informan memiliki pengalaman dan pemahaman yang sesuai dengan fokus penelitian. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh data yang kaya dan mendalam dari sumber yang paling tepat, sehingga mendukung validitas dan keabsahan hasil penelitian. Untuk memastikan validitas data, dilakukan triangulasi sumber, teknik dan waktu. Triangulasi ini dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi dan dokumen dari berbagai sudut pandang. Keabsahan data juga diverifikasi melalui pengecekan anggota dan penggunaan bahan referensi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai pemahaman dan penerapan kecerdasan emosional guru dalam membina karakter disiplin siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Guru Terkait Kecerdasan Emosional Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah MaAohad AlZaytun pada umumnya memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap kecerdasan emosional meskipun belum sepenuhnya didasarkan pada pemahaman teoritis yang Para guru telah menerapkan aspek kecerdasan emosional secara intuitif dan Mereka menyadari bahwa keberhasilan proses pembelajaran dan pembinaan karakter sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam memahami dan mengelola emosi, baik emosi diri sendiri maupun emosi siswa. Para guru juga cenderung memahami kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk mengelola perasaan diri dan siswa dalam proses pembelajaran serta kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan asrama. Hal ini tampak dari jawaban para guru dalam wawancara yang menyebut pentingnya kesabaran, kemampuan memahami perasaan siswa, serta menjaga emosi saat menghadapi perilaku siswa yang beragam. Dari lima aspek kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Goleman . yaitu self-awareness, self-regulation, motivation, empathy, dan social skills. Aspek empati dan pengendalian diri menjadi dua kompetensi yang paling dikenali dan dipraktikkan oleh guru. Mereka menyadari bahwa anak usia 6-7 tahun masih berada dalam masa transisi dari dunia bermain menuju pembelajaran terstruktur, sehingga pendekatan emosional menjadi kebutuhan utama. Hal ini tercermin dari cara mereka merespons berbagai situasi emosional yang muncul di dalam kelas, seperti ketika siswa menangis, menunjukkan perilaku tidak disiplin, atau membutuhkan perhatian lebih. Guru cenderung menggunakan pendekatan yang lembut, sabar, penuh pengertian, serta menghindari tindakan yang bersifat kasar atau menghukum secara berlebihan. Meskipun guru belum secara eksplisit menyebut istilah-istilah seperti 39 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Huri Salamah. Irvan Iswandi. Dewi Utami Vol. No. : 35-42 kesadaran diri atau motivasi, perilaku dan refleksi yang mereka tunjukkan selama wawancara dan observasi mengindikasikan adanya kesadaran akan pentingnya mengenali emosi diri sendiri sebelum bereaksi terhadap siswa. Guru juga menunjukkan adanya motivasi intrinsik untuk menjadi teladan emosional bagi siswa, terutama dalam konteks lingkungan boarding school yang menuntut kedekatan intensif antara guru dan murid. Temuan ini mendukung hasil penelitian Wang . dan Mukhlisa dkk. yang menekankan bahwa pemahaman emosional yang bersifat praktis dan kontekstual sudah cukup memadai untuk menjadi fondasi penerapan kecerdasan emosional dalam pendidikan karakter. Artinya, meskipun belum seluruh guru memiliki bekal akademik terkait teori kecerdasan emosional, kesadaran mereka terhadap pentingnya kendali emosi, pengaruh perasaan terhadap perilaku siswa, serta hubungan yang penuh empati telah menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman kecerdasan emosional yang aktif. Pemahaman mereka terbentuk oleh pengalaman mengajar, nilai-nilai keagamaan, serta budaya sekolah berasrama yang menekankan pentingnya keteladanan dan pembinaan karakter siswa. Dengan demikian, meskipun belum sepenuhnya berbasis teori formal, kecerdasan emosional para guru telah berkembang secara alami melalui interaksi langsung dan refleksi terhadap dinamika kehidupan sekolah. Hal ini sejalan dengan temuan Suarningsih et al. yang menyatakan bahwa pengalaman empiris dan lingkungan pendidikan yang religius turut membentuk kemampuan sosial-emosional guru dalam membimbing siswa. Penerapan Kecerdasan Emosional Guru Dalam Membina Karakter Disiplin Siswa Guru kelas 1 di MI MaAohad Al-Zaytun telah menerapkan kecerdasan emosional dalam berbagai aspek interaksi dan pembinaan disiplin siswa. Dalam aspek kesadaran diri, guru mampu mengenali emosi pribadi serta memahami bagaimana emosi tersebut memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan siswa. Mereka juga menunjukkan pengendalian diri yang baik, dengan tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi siswa yang kurang disiplin, melainkan menanggapi situasi tersebut dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Dari segi motivasi, guru memperlihatkan komitmen tinggi untuk menjadi teladan, misalnya dengan datang tepat waktu dan menunjukkan sikap disiplin yang dapat dicontoh oleh siswa. Pada aspek empati, guru berusaha memahami kondisi emosional siswa, misalnya dengan mendekati mereka secara personal saat tampak murung atau tidak bersemangat. Sementara itu, keterampilan sosial guru tercermin dalam kemampuan mereka membangun komunikasi positif, menjalin kedekatan, serta menumbuhkan rasa percaya diri siswa melalui pendekatan yang humanis dan menyenangkan. Karakter disiplin siswa dibentuk melalui keteladanan guru, pembiasaan yang konsisten, serta kegiatan rutin seperti apel pagi, tea time, dan kegiatan kolosal. Kegiatankegiatan tersebut dirancang untuk menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap aturan yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari siswa. Guru juga mampu menyeimbangkan antara ketegasan dalam aturan dengan kelembutan dalam pendekatan, sehingga siswa merasa aman sekaligus belajar untuk menghargai batasan. Dalam menghadapi pelanggaran tata tertib, guru lebih memilih pendekatan dialogis 40 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Huri Salamah. Irvan Iswandi. Dewi Utami Vol. No. : 35-42 dibandingkan pemberian hukuman langsung. Pendekatan ini merupakan wujud nyata pengendalian emosi dan sikap empati, sehingga proses pembinaan disiplin berlangsung secara humanis dan lebih efektif. Penerapan ini menunjukkan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai figur panutan yang secara emosional hadir dalam kehidupan Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Wang & Zai . serta Mukhlisa dkk. yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional guru berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, terutama dalam pembentukan karakter. Meskipun tidak semua guru memiliki pemahaman mendalam tentang teori kecerdasan emosional, praktik yang mereka terapkan terbukti efektif dalam membentuk sikap disiplin siswa. Lingkungan sekolah berasrama yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi penerapan nilai-nilai kedisiplinan tersebut. Dengan demikian, penerapan kecerdasan emosional guru di MI MaAohad Al-Zaytun terbukti memberikan kontribusi positif dalam membina karakter disiplin siswa. Agar pembinaan ini dapat berjalan lebih sistematis dan adaptif, diperlukan pelatihan profesional yang memperkuat pemahaman guru terhadap teori dan strategi pengelolaan emosi sesuai perkembangan psikologis siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, guru kelas 1 di Madrasah Ibtidaiyah MaAohad AlZaytun telah memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap lima aspek utama kecerdasan Meskipun pemahaman tersebut sebagian besar diperoleh melalui pengalaman praktis dan belum seluruhnya didukung oleh kerangka teori, mereka mampu mengimplementasikan kecerdasan emosional tersebut secara intuitif . dalam proses pembelajaran dan pembinaan kedisiplinan siswa. Selain itu, guru telah menerapkan dan mengintegrasikan kelima aspek kecerdasan emosional seperti kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial dalam praktik pembelajaran dan pembinaan karakter disiplin siswa di lingkungan sekolah dan asrama. Melalui pendekatan yang sabar, komunikatif, dan empatik, guru mampu menciptakan iklim pendidikan yang mendukung pembentukan kedisiplinan siswa secara bertahap dan manusiawi. Strategi seperti penyampaian aturan secara kreatif, penguatan melalui kegiatan kolosal, apel pagi, dan tea time, serta keteladanan dalam kehidupan seharihari menunjukkan bahwa pembinaan disiplin tidak hanya berbasis aturan, tetapi juga pada pemahaman emosional yang mendalam terhadap kondisi siswa. 41 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Huri Salamah. Irvan Iswandi. Dewi Utami Vol. No. : 35-42 DAFTAR RUJUKAN Afifah. , & Utami. Komunikasi Interpersonal Guru dan Siswa di Kelas Rendah Madrasah Ibtidaiyah. JUDIKDAS: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia, 3. , 123-133. Doho. Oktara. , & Indriana. Kecerdasan Emosional (Teori dan Aplikas. Widina Media Utama. Goleman. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligenc. PT Gramedia Pustaka Utama. Guo. , & Wang. The impact of teacher emotional support on learning engagement among college students mediated by academic self-efficacy and academic resilience. Scientific Reports, 15. , 3670. Habibulloh. Muh. , & Maunah. Kecerdasan Emosional Guru Dalam Membina Moralitas Peserta Didik. Realita : Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam, 13. , 125-137. Iswandi. Efektifitas Pendekatan Keteladanan dalam Pembinaan Akhlak Siswa di MIN Bandar Gadang. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 113-136. Rahim. Jabar. Zahira. Nazhif. , & Widodo. Urgensi Pendidikan Karakter Bagi Pelajar MaAohad Al-Zaytun. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7. , 28782883. Setiadi. , & Sutanto. Examining the Roles of Transformational Leadership. Emotional Intelligence, and Work-life Balance in Millennial Employee Engagement. Australasian Accounting. Business Finance Journal, 18. https://w. org/aabfj/article/id/1511/ Suarningsih. Ngurah Santika. , & Bangi Roni. Pendidikan Karakter Di Indonesia Dalam Berbagai Perspektif (Definisi. Tujuan. Landasan dan Praktekny. Vol 2 No 2, 61-63. Sudiarta. , & Porro. Membangun Pendidikan Karakter Yang Bermutu Melalui Peran Guru. JOCER: Journal of Civic Education Research, 1. , 76-84. Sulistiono. Guru Profesional dan Berkualitas. Alprin. Suroto. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah: Karakteristik Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah. Al-Ihtirafiah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 4. , 1-9. Wang. , & Zai. The Impact of Emotion Regulation Strategies on TeachersAo WellBeing and Positive Emotions: A Meta-Analysis. Behavioral Sciences, 15. , 342. Wismardi. , & Marhadi. Kompetensi Sosial: Analisis Berdasarkan Kecerdasan Emosional Guru. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8. , 955-961. 42 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S