Resensi Buku Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 1 Nomor 1 (Oktober 2. WHERE TWO OR THREE ARE GATHERED Transforming the Parish through Communities of Practice Judul Buku : Where Two or Three Are Gathered: Transforming the Parish through Communities of Practice Penulis : Jane E. Regan Bahasa : Inggris ISBN : 978-0-8091-4998-8 Terbit : 2016 Ukuran : 5,9 x 0,5 x 8,9 inci Tebal : vi 184 halaman Penerbit : Paulist Press PAULUS EKO KRISTIANTO Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta paulusekokristianto12@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Gagasan transformasi gereja . tau dalam Katolik bisa dikenal sebagai paroki . ) menjadi hal penting dalam kehidupan menggereja agar senantiasa memperbarui diri. Ini bisa semacam mengembangkan ungkapan ecclesia reformanda quia reformata atau biasa disebut ecclesia reformata semper reformanda yang berarti gereja harus selalu tereformasi sebagaimana dipopulerkan Karl Barth pada 1947 yang berasal dari Agustinus (Koffeman, 2. Tidak heran dengan menggunakan kata kunci AuparokiAy . dan AugerejaAy . , banyak literatur melimpah disajikan di luar Indonesia di antaranya Transforming Parish Ministry: The Changing Roles of Catholic Clergy. Laity, and Women Religious . (Dolan , 1. Transforming the Parish: Models for the Future . (Forster dan Sweetser. Resensi Buku Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. Transforming Congregations for the Future (Once and Future Church Serie. (Mead, 1. Transforming Liberal Congregations for the New Millennium . (Phillips, 1. Transforming Parish Life: Reclaiming a Baptismal Mentality . (Gura, 1. Letting Go: Transforming Congregations for Ministry . (Phillips, 1. Reclaiming the Great Commission: A Practical Model for Transforming Denominations and Congregations . (Payne dan Beazley, 2. Transforming Congregations (Transformation. (Lemler, 2. New Growth in GodAos Garden: Transforming Congregations through Mutual Ministry . (Babcock, 2. Transforming Congregations through Community: Faith Formation from the Seminary to the Church . (Lee, 2. The New Parish: How Neighborhood Churches Are Transforming Mission. Discipleship and Community . (Sparks. Soerens, dan Friesen, 2. Transforming Parish Communications: Growing the Church Through New Media . (Landry 2. Divine Renovation Guidebook: A Step-byStep Manual for Transforming Your Parish . (Mallon, 2. Upcycle Your Congregation: Creative Ideas for Transforming Faith Communities . (Lammert, 2. Neighborhood Church: Transforming Your Congregation into a Powerhouse for Mission . (Tatenhove dan Mueller, 2. Using the Christian DISCA in Your Church and Ministry: Transforming Congregations Through This Powerful Spiritual Assessment Tool . (Williams, 2. Guided by the Directory for Catechesis: Transforming the Vision and Practice of Parish Catechesis . (LaVecchia. Roberto, dan Schaeffler, 2. Bila diklasifikasikan, buku Where Two or Three Are Gathered: Transforming the Parish through Communities of Practice (Regan, 2. yang ditulis Jane E. Regan tergolong di gagasan tersebut. Pertanyaan. AuBagaimana pengalaman terlibat dalam pekerjaan gereja . tau parok. , baik di dalam maupun di luar batas wilayahnya, dapat menjadi konteks yang melaluinya iman umat ditingkatkan dan diperkuat?Ay sebagai basis gagasan transformasi gereja yang ditawarkan Regan (Regan, 2016: . Gagasan Regan memang bergerak bagi orang dewasa. Ia menguraikan gagasannya sebagaimana bagian pertama buku ini mengeksplorasi cara pembelajaran yang terjadi dalam komunitas-komunitas praktik . ommunities of practic. Bagian ini terdiri atas tiga bab. Bab pertama menyajikan refleksi komponen-komponen iman Kristiani dan cara memeliharanya dalam kehidupan menggereja. Ini dinyatakan melalui uraian unsur-unsur mendasar berkenaan hubungan umat Kristen dengan Yesus, afiliasi umat dengan komunitas Kristen, dan komitmen umat terhadap misi gereja yang lebih luas (Regan, 2016: 6, 9Ae. Kemudian, seruan panggilan untuk penginjilan yang bergerak dari iman Kristen, menganalisis istilah AupenginjilanAy dan apa artinya dalam gereja kontemporer, serta bagaimana kaitannya dengan Aupenginjilan baruAy . ew evangelizatio. (Regan, 2016: 6, 18Ae. Paulus Eko Kristianto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Bab kedua menunjukkan bahwa komunitas-komunitas praktik . ommunities of practic. merupakan sebuah pertemuan berkelanjutan dari orang-orang yang interaksinya ditandai oleh keterlibatan bersama di sekitar usaha bersama dengan repertoar umum, dan di mana pembelajaran kolektif yang terlibat dalam berkembang sebagai komunitas mengarah pada praktik yang meningkatkan identitas anggota dan memajukan tujuan kelompok (Regan, 2016: . Dari sini, komunitas praktik menyediakan alternatif pendekatan bagi berbagai komite dan komunitas tempat orang dewasa berkumpul untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan-pekerjaan gerejawi (Regan, 2016: 6, 27Ae. Selain itu, bab ini menyajikan elemen konstitutif kelompok ini dan jenis pembelajaran serta pembentukan identitas yang terjadi di dalamnya berupa usaha bersama . hared enterpris. , keterlibatan bersama . utual engagemen. , dan repertoar bersama . ommon repertoir. (Regan, 2016: 6, 31Ae. Bab ketiga membahas cara membentuk iman. Guna menjawab pertanyaan ini, pembaca perlu menjelajahi intensionalitas dalam cara kelompok-kelompok tersebut diorganisasi dan Lebih jauh, pembaca perlu memeriksa kapasitas pembentukan iman mereka berkaitan peran mereka dalam menyambut anggota baru dan yang memperbarui, hubungan yang dapat dibina di antara komunitas praktik, dan cara-cara di mana karunia dan bakat masing-masing anggota komunitas ini diakui dan ditingkatkan (Regan, 2016: 7, 47Ae. Bagian kedua menawarkan unsur-unsur yang harus membentuk cara-cara di mana komunitas-komunitas praktik . ommunities of practic. dalam gereja melakukan penginjilan yang terlibat secara efektif melalui empat hal. Pertama, keramahtamahan . Ini diuraikan dengan berangkat dari kisah Abraham dan Sarah yang melayani tamu-tamunya (Kejadian 18:1-. (Regan, 2016: 71Ae. , perumpamaan tentang orang yang berdalih (Lukas 14:16-. (Regan, 2016: 74Ae. , dan kambing dan domba dalam penghakiman terakhir (Matius 25:31-. (Regan, 2016: 75Ae. Keramahtamahan ini terimplikasi dengan bahasan menyambut anggota baru, pentingnya komunikasi, menerima ide-ide yang berbeda, menjaga rasa keramahtamahan terhadap orang lain dalam komunitas-komunitas praktik (Regan, 2016: 82Ae. Kedua, percakapan . Regan menunjukkan percakapan merupakan pertukaran pendapat yang berkelanjutan, terlibat, dan kritis antara dua orang atau lebih yang dibentuk oleh mendengarkan secara aktif dan berbicara dengan penuh rasa hormat mengenai isu-isu yang penting (Regan, 2016: . Ini diuraikan dengan berangkat dari kisah Yesus dan orang yang kaya (Markus 10:17-. dan Yesus dan perempuan Samaria (Yohanes 4:1-30, 39-. (Regan, 2016: 93Ae. Dari sini. Regan mengingatkan percapakan sebagai inti pelayanan Yesus yang mana merupakan percakapan yang bermakna, berfokus pada tematema yang penting bagi mereka yang terlibat, yang mengajak mereka yang terlibat untuk Resensi Buku Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. bergerak melampaui topik yang dangkal untuk menemukan kemungkinan komitmen dan perspektif baru (Regan, 2016: 97Ae. Regan memetakan percakapan terimplikasi dalam menimbang waktu, persiapan, proses, karya Roh Kudus (Regan, 2016: 104Ae. Ketiga, pengikut . Regan menunjukkan bahwa pengikut sering dimaknai negatif karena sifatnya yang pasif. Padahal, ini bisa berarti positif karena berkenaan dengan Secara jelas. Regan menyatakan bahwa pemimpin membutuhkan pengikut yang terlibat, setia, dan mampu mengekspresikan visi pemimpin dalam berbagai situasi (Regan, 2016: . Gagasan ini dibangun dengan berpijak pada Yesus memanggil muridmurid-Nya (Yohanes 1:35-. (Regan, 2016: 111Ae. dan Yesus mengutus murid-muridNya (Matius 10:7-. (Regan, 2016: 113Ae. Kemudian berpijak pada Yohanes 13-17. Regan menunjukkan ada tiga elemen inti dari perintah Yesus kepada para pengikutnya yaitu panggilan untuk melayani (Regan, 2016: . , perintah untuk saling mengasihi (Regan, 2016: , dan undangan untuk menjadi umat yang penuh harapan dan persatuan (Regan, 2016: 116Ae. Ia turut mengingatkan bahwa dasar pemuridan dari pengikut Yesus ialah baptisan. Baptisan mengandung panggilan untuk keterlibatan aktif dalam kehidupan dan misi gereja melalui pelayanan kepada masyarakat dan pekerjaan penginjilan (Regan, 2016: 118Ae. Keempat, memilih dan memilah . Memilih dan memilah sering dianggap sebagai proses pengambilan keputusan. Regan menyatakan ini lebih dari sekadar proses. juga merupakan anugerah. Itu lebih dari sekadar keputusan. itu juga merupakan cara hidup. Itu tidak hanya mengandalkan hal-hal rasional. itu juga memperhatikan hal-hal ekstrarasional (Regan, 2016: . Dalam pengertiannya yang paling inklusif, kita dapat berbicara tentang kebijaksanaan sebagai pengelolaan sumber daya hidup kita dalam upaya untuk hidup paling autentik dalam hubungan dengan Tuhan, diri kita sendiri, dan dunia di sekitar kita (Regan, 2016: . Regan menunjukkan contoh refleksi biblis berkenaan memilih dan memilah yaitu kisah Petrus dan Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10 dan kisah Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Yang pertama adalah kisah tentang kebijaksanaan seorang individu dalam hubungannya dengan komunitasnya dan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya (Regan, 2016: 133Ae. Kemudian, yang kedua menceritakan tentang sebuah komunitas yang mencapai keputusan bersama yang akan berdampak pada sifat gereja Kristen di masa mendatang (Regan, 2016: 135Ae. Dalam kehidupan masa kini, memilih dan memilah dimulai dengan mendefinisikan atau menggambarkan kebijaksanaan dengan cara yang cukup luas untuk mencakup semua komponennya namun cukup sempit untuk menjadi bermakna (Regan, 2016: 139Ae. Kemudian, pertimbangan diberikan kepada tiga ekspresi kebijaksanaan yaitu sebagai cara hidup, proses pribadi, dan keterlibatan komunal (Regan, 2016: 141Ae. Dalam kaitan dengan komunitas-komunitas praktik . ommunities Paulus Eko Kristianto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies of practic. Regan mendorong adanya implikasi berupa mengajak orang untuk melakukan memilih dan memilah (Regan, 2016: 149Ae. , memberi orang pilihan (Regan, 2016: 150Ae. , menciptakan ruang bagi semangat memilih dan memilah (Regan, 2016: . , membangun komunitas praktik dalam proses memilih dan memilah (Regan, 2016: 151Ae. Regan membahas masing-masing dari keempat unsur ini dalam bab-bab terpisah yang mengeksplorasi akarnya dalam Kitab Suci dan sejarah Kristen, serta penggunaannya dalam pemikiran dan praktik kontemporer (Regan, 2016: . Regan mengkaji setiap karakteristik ini dan menarik implikasinya untuk menciptakan suatu konteks di mana pertumbuhan iman seumur hidup di seluruh gereja (Regan, 2016: . Bab terakhir menyajikan panduan tentang bagaimana hal ini dapat diperkenalkan di gereja atau lingkungan pastoral lainnya. Bagaimana pakar lain memandang buku yang ditulis Regan? Christopher J. Welch menunjukkan setiap bab buku ini tidak hanya memuat contoh-contoh hipotetis tetapi juga pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pikiran untuk berefleksi dan berdiskusi yang meminta pembaca untuk mengambil prinsip-prinsip yang dibahas dan menerapkannya secara kreatif pada lingkungan pastoral mereka sendiri (Welch, 2018: . Pertanyaan-pertanyaan ini khususnya mendorong pembaca untuk bercakap-cakap dengan pembaca lain. Tidak mengherankan, itu mengingat penilaian Regan terhadap percakapan sebagai elemen paroki yang melakukan penginjilan secara efektif. Pendekatan tersebut membuat buku ini sangat cocok untuk dibaca dalam kelompok. Meskipun kelas-kelas di sekolah-sekolah pembentukan rohaniawan akan menjadi audiens yang jelas untuk buku ini, buku ini juga akan menjadi sumber yang provokatif bagi staf pastoral gereja atau paroki dan rohaniawan kolektif untuk dibaca bersama (Welch, 2018: . Dalam hal ini, peresensi sepakat dengan gagasan Welch mengingat upaya Regan melalui buku ini sungguh provokatif. Dari paparan Regan dan Welch, peresensi menimbang bahwa buku ini memberikan kontribusi yang komprehensif secara konseptual dan contoh empiris dalam mentransformasi gereja yang dapat dikatakan sebagai kelebihan buku. Bagi peresensi, gagasan yang dapat dikembangkan dari buku ini yaitu keramahtamahan . , percakapan . , pengikut . , dan memilih dan memilah . Regan memang meletakkannya pada desain gereja sebagaimana salah satu perwujudan dari komunitaskomunitas praktik . ommunities of practic. Namun, peresensi menilai ini bisa dilakukan di wujud komunitas praktik yang lain, contohnya sekolah, rumah sakit, komunitas sel, dan komunitas basis. Tentu, ini turut mempertimbangkan kekhasan konteksnya. Sebagai contoh, di sekolah, pembaca yang ingin menggunakan gagasan ini bisa mendesainnya dengan melibatkan budaya sekolah, kebijakan pendidikan, pembelajaran dan kurikulum . ksplisit, implisit, dan no. , dan orang-orang yang terlibat . uru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan orang tu. Resensi Buku Volume 5 Nomor 1 (Januari-April 2. Lebih lanjut. Welch menunjukkan salah satu keterbatasan buku ini yaitu dalam mengembangkan gagasan tentang penginjilan. Regan sangat bergantung pada dokumen resmi dari Gereja Katolik Roma. Sementara dasar Regan dalam dokumen Gereja memperkuat bonafiditasnya untuk digunakan di seminari dan paroki Katolik, akan sangat disayangkan jika jangkauan karya ini dibatasi pada lingkungan Katolik. Karakteristik audiens buku ini menunjuk pada orang dewasa yang beriman dan melakukan penginjilan memiliki daya tarik ekumenis yang luas, dan sebagian besar karya lainnya menyatakan dinamika yang dapat dimanfaatkan secara luas di semua jenis gereja (J. Welch 2018:113Ae. Dalam hal ini peresensi sependapat dengan apa yang dinyatakan Welch. Galian segi ekumenis dapat memperkaya gagasan transformasi ini. Kita dapat mengelaborasikannya dengan berbagai buku yang telah peresensi sebut di bagian awal resensi ini. Peresensi menyadari bahwa tidak ada buku yang benar-benar sempurna karena setiap penulis memiliki pertimbangan tersendiri ketika mengelaborasi gagasan ke dalam Kontribusi Regan perlu diberi ruang dalam mentransformasi gereja atau paroki. Ini juga dapat memantik diskusi-diskusi berikutnya sebagaimana dalam konteks Indonesia, buku transformasi gereja atau paroki masih minim. Setidaknya, pembaca dapat menemukan Mereformasi Gereja (Lie 2. Pada akhirnya, peresensi mengucapkan selamat membaca dan mentransformasi gereja. Daftar Pustaka