Berkala Ilmiah Pendidikan Volume 4 Nomor 3. November 2024 scidac plus PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN CACAH MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KARTU DI KELAS V SDN 129 PALEMBANG Melia Hairy Nisa*. Ingge Amanda. Kirana Salsabilla. Levina Fidiya Putri. Kenzi Lodianti. Syafruddin Yusuf. Nora Fransiska Amelia Universitas Sriwijaya Pelembang. Indonesia SDN 129 Palembang melianisa01030@program. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V di SDN 129 Palembang tahun pelajaran 2024/ 2025, pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah melalui penggunaan media kartu angka. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tidakan kelas (PTK) dengan model penelitian Kemmis MC Taggart yang terdiri dari 2 siklus terdapat tahapan seperti tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan refleksi. Subjek penelitian yang digunakan sebanyak 30 peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu lembar observasi dan wawancara terhadap peserta didik. Data yang diproleh pada penelitian akan di analisis secara dekriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil siklus I diperoleh 47% peserta didik sudah memiliki hasil belajar dalam kategori baik dan sangat baik sehingga sangat di perlukan nya di lakukan siklus II karena belum mencapai 75% peserta didik yang memiliki hasil belajar yang baik dan sangat baik. Pada siklus II diperoleh 77% peserta didik yang sudah memiliki hasil belajar dalam kategori baik dan sangat baik. Berdasarkan hasil siklus I dan II dapat di simpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah melalui penggunaan media kartu angka. Kata Kunci: Pendidikan Sekolah Dasar. Media Kartu Angka. Matematika. Bilangan cacah. Hasil belajar. Abstract The aim of this research is to improve the learning outcomes of class V students at SDN 129 Palembang for the 2024/2025 academic year, on the material of adding and subtracting whole numbers through the use of number cards. The research method used is classroom action research (PTK) with the Kemmis MC Taggart research model which consists of 2 cycles, including stages such as the planning stage, implementation stage, observation and reflection stage. The research subjects used were 30 students. The data collection techniques used were observation sheets and interviews with students. The data obtained in the research will be analyzed descriptively quantitatively and descriptively qualitatively. The results of cycle I showed that 47% of students had learning outcomes in the good and very good categories, so it was very necessary to carry out cycle II because 75% of students had not yet achieved good and very good learning outcomes. In cycle II, 77% of Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2024 Melia Hairy Nisa. Ingge Amanda. Kirana Salsabilla. Levina Fidiya Putri. Kenzi Lodianti. Syafruddin Yusuf. Nora Fransiska Amelia students had learning outcomes in the good and very good categories. Based on the results of cycles I and II, it can be concluded that there has been an increase in student learning outcomes in the learning material for adding and subtracting whole numbers through the use of number cards. Keywords: Elementary School Education. Number Card Media. Mathematics. Whole Numbers. Learning Results. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan menjadi bagian terpenting. Kesuksesan sebuah negara terlihat dari perkembangan pendidikannya, karena pendidikan berperan dalam menciptakan manusia yang berkualitas. (Ulul Azmi, 2. Pendidikan dasar sangat diperlukan, hal terpenting dalam bidang pendidikan di suatu lembaga pendidikan untuk menjamin berlangsungnya pembelajaran dan proses pendidikan adalah bagaimana metode, sarana dan strategi yang dipilih dapat membimbing peserta didik mencapai tujuan belajarnya secara Dalam suatu pembelajaran, metode dan media mempunyai pengaruh yang besar terhadap penyampaian isi pelajaran. Sebab jika dalam pembelajaran guru tidak memperhatikan sarana dan metode yang digunakan di kelas, maka seluruh kelas akan menemui kesulitan. Sehingga mata pelajaran akan menjadi kurang menarik dan membosankan. Kondisi ini yang akan membuat kendala bagi peserta didik dalam memanfaatkan pengetahuan yang didapat dan proses belajar. (Santi dkk:2. Media berasal dari kata latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti sesuatu atau sebuah alat (Motto, 2. Media adalah sarana atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan, informasi, atau ide dari satu pihak kepada pihak lainnya. Media bisa berupa berbagai bentuk, seperti tulisan, gambar, suara, video, dan interaksi langsung antara manusia. Menurut (Wulandari dkk, 2. , mengingat kedudukan media dalam konteks pembelajaran, maka media merupakan bagian yang sangat penting, dan unsur ini perlu perhatian dari guru, karena guru dapat memajukan suatu pembelajaran menyadari pentingnya media dalam pembelajaran dan membantu siswa dalam belajar. Oleh karena itu pemilihan media harus benarbenar tepat agar tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai tanpa kendala. Dalam konteks pendidikan, media juga termasuk alat-alat pembelajaran seperti buku, papan tulis, alat peraga, serta teknologi digital seperti komputer dan internet. Tujuan pemilihan media harus terkait dengan tujuan dari memanfaatkan media. Tujuan memakai media bisa beragam, seperti hanya untuk mengisi waktu, sebagai hiburan, untuk mendapatkan informasi umum, dan untuk belajar (Abidin, 2. Tujuan utama media adalah untuk memfasilitasi komunikasi dan transfer pengetahuan antara pengirim dan penerima pesan. (Putri, 2. Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat menimbulkan keinginan dan minat baru, menimbulkan dorongan semangat, merangsang aktivitas belajar bahkan mempengaruhi psikologi Pemanfaatan bahan pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran merupakan kunci penting untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran dan penyebaran pesan serta dokumen pada tahap ini. Selain merangsang motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pemahaman siswa, menyajikan data secara menarik dan kredibel, serta memudahkan dalam menafsirkan dan menyajikan informasi secara akurat. Pemilihan bahan pembelajaran merupakan aspek yang sangat penting dalam dinamika proses belajar mengajar, dimana tujuannya adalah untuk mencapai hasil belajar yang optimal (Sari, 2. Fungsi memanfaatkan media dalam proses pembelajaran menurut (Fadillah, 2. Membangkitkan motivasi dan semangat belajar, meningkatkan minat belajar siswa, dan mengubah pembelajaran yang monoton dan membosankan menjadi pembelajaran yang mengasyikkan melalui media pembelajaran. Mengkaji kembali apa yang telah dipelajari anak agar tidak melupakan materi Mendapatkan ide untuk membuat siswa berpikir lebih penasaran dengan memberikan insentif Mengaktifkan tanggapan siswa dan mendorong untuk aktif di kelas. Guru memberikan umpan balik melalui pertanyaan untuk melihat siswa mana yang memahami materi. Melalui media pembelajaran guru bisa memberikan pelatihan atau evaluasi dalam penilaian. Anak sekolah dasar masuk ke dalam tahap operasional konkrit perkembangan intelektual karena pemikiran logis mereka tergantung bagaimana cara mereka memanipulasi fisik objek. Dengan kata lain penggunaan media . ermasuk alat aja. dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar sangatlah penting, karena cocok untuk setiap tahapan berpikir anak. Dengan menggunakan media dan alat pengajaran tersebut, anak akan belajar matematika dengan lebih jelas dan mudah (Fadillah, 2. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru matematika untuk mengubah abstraksi menjadi kenyataan. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah bahan ajar yang dapat menjelaskan atau mengilustrasikan konsep matematika sehingga siswa dapat memahami materi dengan mudah dan menyenangkan (Wahab & Junaedi, 2. Teori perkembangan intelektual Jean Piaget menganjurkan untuk mengamati tingkat perkembangan intelektual anak sebelum memperbolehkan anak menggunakan materi matematika, terutama menyesuaikan sifat abstrak pembelajaran matematika yang sesuai dengan kemampuan berpikir abstrak anak pada saat itu. Teori ini berpendapat bahwa kemampuan intelektual anak berkembang secara bertahap, yaitu: sensorik-motorik . -2 tahu. , . pra-operasional . -7 tahu. , . aktivitas spesifik . -11 tahu. ) dan . aktif (>11 tahu. Siswa sekolah dasar biasanya berusia antara 7 dan 12 tahun, sehingga tingkat perkembangan intelektual siswa sekolah dasar berada pada tingkat operasional tertentu. Ciri khas anak pada tahap operasi konkrit adalah kemampuan memahami operasi logis dengan menggunakan benda Pada tahap operasional konkrit, anak belajar memahami konsep dengan memanipulasi objek konkrit. Oleh karena itu, tugas pendidik adalah menyajikan konsep pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga dan ilustrasi konkrit yang mengontekstualisasikan kehidupan nyata di sekitar anak. Dengan cara ini anak akan lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak (Nurul Saila, 2. Istilah matematika berasal dari kata Yunani masein atau mantenein yang berarti belajar. Kata tersebut mungkin juga berkaitan erat dengan kata Sansekerta medha atau widya, yang berarti kehati-hatian, pengetahuan, dan kecerdasan. Matematika secara umum diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari pola dan struktur, perubahan dan ruang. Secara informal disebut juga ilmu bilangan. Dari perspektif formalis, matematika adalah studi tentang struktur abstrak yang didefinisikan secara aksiomatis menggunakan logika dan notasi simbolik (Siti Komariyah, 2. Matematika adalah pengetahuan dengan sifat-sifat tertentu, termasuk abstraksi, deduksi, koherensi, hierarki, dan logika (Ulul Azmi, 2. Matematika juga merupakan salah satu mata pelajaran IPA yang memegang peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan karena di dalam matematika terdapat konsep-konsep dari ilmu-ilmu lain seperti teknik, ekonomi, dan ilmu-ilmu sosial. Fakta ini membantu meningkatkan kualitas pengajaran matematika sejak usia dini. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Fatimah, 2. Manfaat belajar matematika adalah siswa dapat mengembangkan pemikirannya secara sistematis, sabar dan cermat, menyelesaikan masalah dengan lebih mudah, mengembangkan pemikirannya, dan tentunya belajar berhitung. Semua itu sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari (Milla Sari, 2. Tujuan dari penting nya mempelajari mata Pelajaran matematika sejak sekolah dasar yakni 1. Menyiapkan siswa untuk mampu menghadapi perubahan dalam kehidupan dan dunia yang terus berkembang, melalui latihan bertindak berdasarkan pemikiran yang logis, rasional, kritis, teliti, jujur, dan efektif. Menyiapkan siswa agar bisa menerapkan matematika dan cara berpikir matematis dalam kehidupan sehari-hari, serta dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu (Telaumbanau,Y, 2. Dalam matematika terdapat operasi hitung yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan materi tersebut pasti sudah diajarkan di sekolah dasar. Operasi hitung tersebut juga melibatkan bilangan bulat, cacah, dan bilangan lainnya. Bilangan cacah memiliki definisi yaitu bilangan yang digunakan untuk menyatakan cacah anggota atau kardinalitas suatu himpunan. Bilangan cacah, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, . (Tanda Au. Ay diartikan sebagai Audan seterusnyaA. Hasil belajar terbagi menjadi dua kata, yaitu hasil dan belajar. Kedua kata ini memiliki makna yang Belajar adalah kegiatan dasar dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan pendidikan tergantung pada pengalaman belajar yang dialami oleh siswa sebagai Belajar adalah perubahan yang berlangsung dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu (Sunarti Rahman, 2. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa ketika menyelesaikan tugas dan kewajiban dalam kegiatan pembelajaran di sekolah (Rapiadi, 2. Menurut (Andriani & Rasto, 2. menunjukkan hasil belajar yang membantu siswa melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat Selain itu, hasil pembelajaran dapat mencerminkan hasil proses pembelajaran, artinya dapat melihat seberapa baik tujuan pembelajaran tercapai. Manfaat hasil belajar tidak hanya untuk menilai seberapa baik siswa memahami materi ajar, tetapi juga untuk mengidentifikasi strategi apa yang perlu diambil oleh guru, siswa, dan orang tua untuk proses pembelajaran di masa yang akan datang. Tentu saja, hasil belajar ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Poni Lestari, 2. Sedangkan menurut (Prasetyo Widyanto, 2. Manfaat dari hasil belajar untuk guru membantu menilai sejauh mana siswa berhasil dalam mencapai tujuan pendidikan, sementara untuk siswa, ini berguna untuk mengevaluasi tingkat keberhasilannya dalam proses pembelajaran yang dipandu oleh guru. Penilaian hasil belajar siswa dilakukan dengan menggunakan metode dan alat ukur hasil belajar. Alat ukur hasil belajar yang digunakan oleh guru bisa berupa penilaian dalam bentuk ujian, observasi, atau tugas individu maupun kelompok. Hasil belajar juga dapat dianggap sebagai apa yang dicapai peserta didik setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran dan menjadi tolak ukur keberhasilannya dalam melanjutkan proses pembelajaran (Julhadi & Kholik, 2. Perubahan atau kemampuan baru yang dicapai peserta didik melalui hasil belajar yang diperoleh setelah melaksanakan kegiatan belajar, karena belajar merupakan perubahan yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman yang dijalani dan dirasakan sebelumnya. Jadi ketika seseorang belajar dari pengalaman, maka akan melihat perubahan atau hasil belajar yang lebih baik. Hasil belajar merujuk pada prestasi, kemajuan, atau perubahan yang terjadi pada diri peserta didik sebagai hasil proses belajar. Meliputi wawasan, keterampilan, sikap dan pengetahuan baru yang diperoleh siswa melalui interaksi dengan isi mata pelajaran, pengajaran dan lingkungan belajar. Secara umum hasil belajar dapat digolongkan menjadi tiga ranah utama: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam penelitian ini, peneliti mengevaluasi hasil belajar siswa dari sudut pandang kognitif (Fatimah, 2. Berdasarkan hasil penelitian sebelum nya yang dilakukan oleh (Gustiana, 2. ditemukan bahwa masih rendahnya hasil belajar matematika khusus nya pada materi pengurangan dan penjumlahan, penelitian nya dilakukan pada peserta didik kelas IV di SDN 2 Blangkejeren, hal ini dapat dilihat dari permasalahan yang ada seperti peserta didik cenderung bosan pada saat pembelajaran, pasif dan tidak semangat dalam belajar sehingga hasil belajar pada materi pengurangan dan penjumlahan tidak mencapai KKM yang ada. Hal ini juga di temukan oleh peneliti pada saat melakukan observasi di kelas V SDN 129 Palembang. Berdasarkan hasil observasi yang didapatkan bahwa permasalahan yang di temukan masih rendah nya hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika materi pengurangan dan penjumlahan bilangan cacah hal ini dapat di lihat dari pada saat proses pembelajaran peserta didik mengantuk, tidak semangat dalam belajar, sulit mengerti materi yang disampaikan oleh guru kelas dan peserta didik tidak fokus dalam pembelajaran, hal ini yang menyebabkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika nya tidak mencapai KKM yang ada. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa peserta didik yakni adapun faktor yang membuat peserta didik tidak bersemangat dalam pembelajaran matematika pengurangan dan penjumlahan bilangan cacah yakni media pembelajaran yang digunakan tidak ada, hanya menggunakan penjelasan metode ceramah dan angka soal yang di tuliskan secara langsung pada papan tulis, sehingga peserta didik merasa bosan, mengantuk dan tidak bersemangat dalam belajar Berdasarkan hasil identifikasi dari permasalahan diatas dan penting nya hasil belajar, maka peneliti sangat merasa perlu mencari solusi untuk memperbaiki permasalahan yang ada, hal ini yang menjadi alasan mengapa peneliti mengangkat judul ini untuk dijadikan sebuah penelitian. Dari hasil identifikasi masalah menyatakan bahwa pembelajaran yang menarik dan melibatkan media dalam proses belajar sangat mempengaruhi hasil belajar bagi peserta didik khusus nya pada mata pelajaran matematika pengurangan dan penjumlahan, hal ini di dukung oleh hasil penelitian sebelumnya. Oleh karena itu peneliti melakukan inovasi dalam proses pembelajaran peserta didik pada mata pelajaran matematika pengurangan dan penjumlahan yakni dengan melibatkan media kartu angka untuk menarik perhatian peserta didik dalam belajar sehingga akan merasa semangat dan mengerti materi yang disampaikan dengan mudah. Penelitian yang dilakukan dengan judul AuPeningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Cacah Melalui Penggunaan Media Kartu AngkaAy, rumusan masalah pada penelitian ini yaitu Auapakah dengan menggunakan media kartu angka dapat meningkatkan hasil belajar pada materi penjumlahan dan pengurangan pada peserta didik kelas V di SDN 129 Palembang. METODE Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek Penelitian yang di gunakan yakni peserta didik kelas V. F di SDN 129 Palembang sebanyak 30 yang terdiri dari 17 siswa laki laki dan 13 siswa perempuan, di laksanakan pada semester ganjil 2024/2025. Penelitian yang dilakukan menggunakan II siklus dengan menggunakan model Kemmis MC Taggart. Setiap siklus nya terdapat tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pada tahap perencanaan peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari modul ajar. LKPD, media berbasis teknologi seperti video pembelajaran. PPT, media kartu dan instrument observasi. Pada tahap pelaksanaan, tim peneliti mengimplementasikan pembelajaran yang sudah di rencanakan seperti modul ajar yang sesuai dengan nyang sudah di rancang pada tahap perencanaan. Pada tahap observasi, semua anggota penelitian melakukan observasi terhadap hasil belajar peserta didik. Selanjut nya pada tahap refleksi bukan hanya sekedar melihat dari hasil observasi hasil belajar peserta didik saja melainkan juga mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama pembelajaran. Ketika pembelajaran yang di lakukan belum berhasil, maka kegiatan pembelajaran di teruskan ke siklus berikut nya. Menurut Nana Sudjana di kutip oleh Dimyati . mengatakan bahwa kegiatan pembelajaran dikatakan berhasil jika lebih dari 75% peserta didik sudah memiliki hasil belajar yang masuk ke dalam kategori baik dan sangat baik. Berikut tahapan penelitian dalam gambar berikut ini: Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas. Model Kemmis MC Taggart Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan wawancara. Teknik pengumpulan data observasi menggunakan lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran, teknik pengumpulan data berikut nya yakni wawancara, teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan data pendukung terkait hal yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah. Pada penelitian ini semua data di analisis secara deskriptif. Data hasil wawancara akan di olah menjadi deskriptif kualitatif sedangkan hasil observasi akan di olah menjadi data deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus: (Skor yang diprole. / (Skor Maksima. x 100% (PTK Sigit Purnama, 2. Indikator dari hasil belajar adalah: . aspek kognitif, . aspek afektif, dan . aspek psikomotorik. Dari indikator tersebut peneliti lebih mendalami mengenai aspek koognitif, hal ini dapat di lihat dan di nilai dari kegiatan pembelajaran dikelas seperti: anak mampu mencerna informasi verbal yang didapat, anak mampu berpikir dengan kemampuan kecakapan intelektual seperti menalar dalam pengerjaan soal, anak mampu mengerjakan atau merancang strategi kognitif dalam mengerjakan tes soal, dan anak mampu memberikan sikap dan keterampilan yang baik selama pembelajaran (E. James. Data hasil observasi yang dilakukan selanjutnya dinyatakan dalam bentuk kategori seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Hasil Belajar Kemampuan Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Cacah Rentang Nilai Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang HASIL DAN PEMBAHASAN SIKLUS 1 PERENCANAAN Siklus I dimulai dengan merencanakan kegiatan perbaikan proses pembelajaran matematika. Pada thap ini, semua tim peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari modul ajar, media pembelajaran, lembar kerja peserta didik dan instrumen evaluasi. Adapun media pembelajaran yang digunakan berupa video pembelajaran materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah sampai 100. dan kartu angka. Lembar kerja yang digunakan yaitu lembar kerja berkelompok dimana peserta didik diminta untuk membuat soal penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah dengan menggunakan kartu angka. Kegiatan ini bertujuan agar peserta didik dapat mengeksplor pemahamannya tentang materi dan dapat bekerjasama dengan kelompoknya. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru tim peneliti menggunakan model pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division (STAD). Dan diharapkan agar peserta didik dapat memicu peserta didik dalam belajar, berdiskusi, bekerja sama, berinteraksi, berkolaborasi dengan teman satu kelompok agar dapat membantu satu sama lain untuk saling memotivasi agar dapat menguasai materi dengan baik. Pada siklus I ini membahas materi tentang bilangan cacah sampai 100. 000 yang bertujuan agar peserta didik dapat melakukan operasi hitung pemjumlahan dan pengurangan bilangan cacah sampai 000 dalam kehidupan sehari-hari. Diakhir perencanaan ini peneliti membuat instrumen soal instrumen observasi yang digunakan pada akhir pembelajaran dan pada akhir. PELAKSANAAN Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2024 di SD Negeri 129 Palembang dengan subjek penelitian anak kelas 5 . Penelitian siklus 1 ini tediri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan diawali dengan salam dan berdoa kemudian guru melakukan kegiatan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada materi AuPenjumlahan dan pengurangan Bilangan Cacah sampai 100. 000Ay. Selanjutnya pada kegiatan inti, guru memberikan pertanyaan pemantik dan menayangkan video pembelajaran tentang AuPenjumlahan dan pengurangan bilangan cacahAy. Dari video, guru dan peserta didik melakukan tanya jawab. Kemudian guru menjelaskan kembali materi dan meminta anak menjawab beberapa persoalan mengenai penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah demi memperdalam pemahaman peserta Setelah itu guru membagi anak menjadi 7 kelompok yang terdiri dari 3-4 siswa. Dimana setiap kelompok diberi 3 kartu angka secara acak dan diberi 2 angka nol. Anak diminta untuk membuat kalimat matematika tentang penjumlahan dan pengurangan dari kartu tersebut dan mencari jawaban mereka sendiri. Media kartu angka digunakan sebagai alat bantu visual untuk membantu peserta didik memahami konsep penjumlahan dan pengurangan dengan bilangan yang lebih besar. Guru membimbing kegiatan peserta didik dan memberi bantuan kepada kelompok yang butuh bantuan. Kemudian kelompok diminta menceritakan hasil temuan mereka di depan kelas dan mempraktikkan cara menghitungnya. OBSERVASI Selama pelaksanaan siklus 1, hasil observasi menunjukkan beberapa temuan pentiing terkait dengan efektivitas penggunaan media kartu angka. Peserta didik terlihat antusias mengacak-acak kartu untuk mendapatkan bilangan yang mereka inginkan. Meskipun terdapat peningkatan dalam pemahaman materi di sebagian besar peserta didik, masih ada beberapa peserta didik yang nilainya dibawah KKM yang telah Dari observasi terlihat masih ada peserta didik yang kurang fokus, masih ada yang mengobrol dan mengganggu proses pembelajaran. Kemudian kesediaan waktu untuk menyelesaikan aktivitas pembelajaran kurang memadai, sehingga beberapa peserta didik tidak bisa menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Hal ini mengidentifikasi perlunya penyesuaian dalam pengelolaan waktu dan strategi pengajaran. HASIL OBSERVASI SIKLUS I Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siklus I mendapatkan hasil bahwa hasil belajar peserta didik kelas V pada pelajaran matematika materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah masih dapat dikatakan belum baik nilai hasil belajar nya, karena peserta didik yang mendapatkan kategori baik dan sangat baik baru mencapai 47% sedangkan untuk kategori cukup, kurang, sangat kurang mencapai 53%. Berikut data observasi hasil belajar peserta didik pada siklus I: Tabel 2. Hasil Belajar Kemampuan Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Cacah Siklus I Rentang Nilai Kategori Banyak Peserta Didik Persentase Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Total REFLEKSI Berdasarkan hasil observasi pada siklus 1, beberapa tindak lanjut perlu dilakukan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran di siklus selanjutnya. Pertama yang akan dilakukan adalah penyesuaian dalam pengelolaan waktu dengan merancang rencana pembelajaran yang lebih realistis dan memungkinkan semua peserta didik untuk menyelesaikan aktivitas tanpa terburu-buru. Kedua, akan diterapkan strategi dalam penyampaian materi agar lebih efektif, seperti memberikan presentasi interaktif dimana peserta didik tidak perlu menulis di papan tulis namun soal sudah dalam bentuk kuis online. Ketiga, menyediakan dukungan tambahan untuk peserta didik yang belum mencapai KKM. Penggunaan kartu angka dioptimalkan dengan penyesuaian yang diperlukan seperti langsung memberikan 5 kartu angka acak kepada peserta didik, dengan tujuan akhir untuk mencapai hasil belajar yang lebih merata dan efektif di siklus selanjutnya. SIKLUS II PERENCANAAN Pada siklus II perencanaan yang dilakukan masih sama dengan perencanaan pada siklus I yang dimana peneliti menyiapkan video pembelajaran, media kartu angka, perangkat pembelajaran seperti bahan bacaan, lembar kerja peserta didik dan lembar observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. PELAKSANAAN Siklus 2 dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2024 di kelas yang sama. Pelaksan penelitian dilanjutkan dengan memperbaiki strategi berdasarkan hasil evaluasi siklus 1. Pada siklus 2 ini dilakukan beberapa perubahan yaitu 1. Penyesuaian waktu, waktu yang dialokasikan untuk setiap aktivitas diperpanjang. Mulai dari aktivitas penyampaian materi, aktivitas kelompok, dan evaluasi. Memastkan bahwa semua peserta didik memiliki kesempatan yang cukup untuk menyelesaikan tugas dan berlatih dengan media kartu angka. Menyampaikan materi secara interaktif untuk efektifitas waktu pembelajaran. Memberikan dukungan tambahan untuk membantu mereka memahami materi dengan lebih baik. Membedakan penggunaan kartu angka dengan siklus sebelumya, yaitu pada siklus sebelumnya, kelompok diberikan 3 kartu secara acak dan 2 angka nol. Pada siklus ini, peserta didik diberi 5 kartu angka secara acak. Pelaksanaan siklus 2 mengikuti struktur yang sama dengan siklus 1, tetapi dengan penekanan pada penyesuaian yang telah dibuat. Aktivitas pembelajaran menggunakan kartu angka diterapkan dengan cara yang telah diperbaiki. OBSERVASI Observasi selama siklus 2 menunjukkan beberapa perubahan yang positif. Peserta didik dapat menyelesaiakan tugas dan evaluasi dengan lebih baik. Namun memang masih ada dua peserta didik yang memerlukan dukungan tambahan untuk mengatasi kesulitan tertentu, meskipun perbaikan signifikan terlihat. Penyampaian materi dengan media interktif dapat membuat peserta didik termotivasi dan dapat mempersingkat waktu. Terjadi peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar peserta didik, dengan sebagian besar peserta didik mencapai atau melapaui KKM. Penggunaan kartu angka tetap efektif dalam membantu peserta didik memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah sampai 100. HASIL OBSERVASI SIKLUS II Setelah siklus II selesai di terapkan dan penelitian mendapatkan hasil observasi bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan. Pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran siklus II terdapat 64% peserta didik yang memiliki hasil belajar dalam kategori baik dan sangat baik. Berikut tabel data hasil belajar peserta didik pada siklus II: Tabel 3. Hasil Belajar Kemampuan Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Cacah Siklus II Rentang Nilai Kategori Banyak Peserta Didik Persentase 91-100 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Total REFLEKSI Setelah dilakukan nya pembelajaran matematika pengurangan dan penjumlahan bilangan cacah melalui penggunaan media kartu angka, maka di buatlah refleksi siklus II yang tujuan nya untuk melihat proses peningkatan hasil belajar peserta didik kelas V dari siklus I ke Siklus II. Berdasarkan hasil observasi dan penerapan pembelajaran yang dilakukan bahwa peserta didik mengalami peningkatan pada siklus II dibandingkan siklus I. Peserta didik kelas V mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 77% dalam kategori baik dan sangat baik. Peningkatan yang dilakukan sudah berhasil karena sudah lebih dari 75% peserta didik yang berhasil masuk ke dalam kategori baik dan sangat baik. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pelaksanaan siklus I dan siklus II dengan menggunakan media kartu angka dalam pembelajaran matematika pengurangan dan penjumlahan bilangan cacah memperlihatkan adanya peningkatan atau keberhasilan dalam hasil belajar yang diproleh oleh peserta didik. Dari data yang didapatkan maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti mengalami peningkatan selama dilaksanakan nya sebanyak 2 siklus. Berikut rekapitulasi persentase hasil belajar yang diproleh peserta didik siklus I dan siklus II: Berdasarkan gambar diagram diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan yakni pada siklus I terdapat 47% peserta didik kategori baik dan sangat baik, meningkat menjadi 77% kategori baik dan sangat baik pada siklus II. Peningkatan hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh pembelajaran pengurangan dan penjumlahan dengan menggunakan media kartu angka. Media kartu angka dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh (Rivai, 2. yang mengatakan bahwa dengan menggunakan media kartu angka dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Menurut (Damayanti, 2. mengatakan bahwa Kartu angka atau media kartu merupakan alat dan perlengkapan yang digunakan guru dalam mengajar dalam bentuk kartu bernomor sesuai dengan topik yang diajarkan. Media kartu merupakan alat untuk membantu anak mengingat pembelajarannya. Alat peraga kartu angka dapat membekas di hati anak agar tidak mudah lupa. Berdasarkan ingatan anak terhadap materi pendidikan, anak juga teringat akan pelajaran yang diajarkan gurunya. Semakin muda anak, semakin visual/spesifik kebutuhannya . nak membutuhkan lebih banyak aksesori. dapat disentuh, dilihat, dirasakan dan didengar. Menurut (Lestari, 2. menambahkan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk meningkatkan hasil belajar, yang ditunjukkan dengan selesainya kegiatan belajar oleh siswa, yang sering kali mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan suatu proses perubahan kemampuan intelektual . siswa, kemampuan menikmati atau merasakan emosi . , serta kemampuan motorik halus dan kasar . Perubahan kemampuan siswa selama proses pembelajaran, khususnya pada satuan dasar pengajaran, harus sejalan dengan tahap perkembangannya, yaitu tahap operasional konkrit. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah melalui penggunaan media kartu angka di kelas V SDN 129 Palembang. Persentase hasil belajar peserta didik kategori baik dan sangat baik mengalami peningkatan dari awal nya 47% mengalami peningkatan menjadi 77%. Penggunaan media kartu dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah sangat tepat dan sesuai untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. DAFTAR PUSTAKA