CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Efektivitas Pelatihan Simulasi Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung Dasar Siswa SMA di Daerah 3T Risky Richlos Sarapung1. Akmal Hi Dahlan2. Anuwar Kadir Abdul Gafur3. Dyah Safitri Qammariyah Kharie4. Almukmin Umar5 Kata Kunci: Berhitung Dasar. Simulasi. Numerasi. Pelatihan. Morotai Jaya. Keywords: Basic Arithmetic. Simulation. Numeracy. Training. Morotai Jaya. Corespondensi Author Pendidikan IPA. Universitas Pasifik Morotai Alamat: Sopi Majiko. Morotai Jaya. Kabupaten Pulau Morotai. Maluku Utara Email: riskyrichlossarapung@gmail. Article History Received: 15-08-2025. Reviewed: 12-10-2025. Accepted: 24-11-2025. Available Online: 15-12-2025. Published: 29-12-2025 Abstrak. Kemampuan berhitung dasar merupakan fondasi utama dalam pembelajaran matematika, namun siswa di daerah 3T seperti Kecamatan Morotai Jaya. Kabupaten Pulau Morotai masih menunjukkan kompetensi numerasi yang rendah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berhitung dasar siswa SMA melalui pelatihan simulasi Metode pelaksanaan dilakukan dalam tiga tahap utama, yaitu: . persiapan melalui identifikasi kebutuhan, penyusunan modul, dan instrumen evaluasi. pelatihan simulasi selama dua hari dengan pendekatan individu dan kelompok. evaluasi melalui pretestAeposttest dan observasi. Peserta kegiatan berjumlah 60 siswa dari dua SMA di Kecamatan Morotai Jaya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan berhitung dasar dengan rata-rata skor meningkat dari 47,8 menjadi 78,6 atau sebesar 64,4%. Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek operasi campuran, kecepatan, dan ketelitian. Selain peningkatan kognitif, pelatihan juga berdampak positif terhadap motivasi dan kepercayaan diri siswa. Dengan demikian, pelatihan simulasi interaktif terbukti efektif sebagai strategi penguatan literasi numerasi di daerah 3T dan berpotensi direplikasi pada wilayah dengan karakteristik serupa. Abstract. Basic arithmetic skills are fundamental to underdeveloped, frontier, and outermost . T) areas such as Morotai Jaya Subdistrict. Pulau Morotai Regency, still demonstrate low numeracy competence. This community service program aimed to improve high school studentsAo basic arithmetic skills through interactive simulation training. The implementation method consisted of three main stages: . preparation, including needs analysis, module development, and evaluation instrument design. simulation-based training conducted for two days using individual and group activities. evaluation through pretestAe posttest and observation. The participants were 60 students from two senior high schools in Morotai Jaya. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 The results showed a significant improvement in studentsAo arithmetic skills, with the average score increasing from 47. 8 to 78. n improvement of 64. 4%). The highest gains were found in mixed operations, speed, and accuracy. In addition to cognitive improvement, the training also enhanced studentsAo motivation and self-confidence. In conclusion, interactive simulation training is proven to be an effective strategy for strengthening numeracy literacy in 3T areas and has strong potential to be replicated in regions with similar characteristics. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License PENDAHULUAN Kemampuan pembelajaran matematika dan prasyarat untuk memahami materi yang lebih kompleks seperti (Burkholder et al. , 2021. Fuchs et al. , 2. Secara global, krisis numerasi masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan (Aini et al. , 2023. Grawe, 2. Di Indonesia, hasil Asesmen Nasional menunjukkan bahwa sekitar 70% siswa sekolah menengah masih berada pada kategori dasar dalam literasi numerasi (KEMENDIKBUD, 2. Kondisi ini diperkuat oleh hasil PISA 2022 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 69 dari 81 negara dengan skor matematika 366, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 472 (OECD 2023, 2. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan numerasi bukan hanya isu lokal, tetapi juga merupakan masalah nasional dan global yang memerlukan intervensi nyata (UNICEF, 2. Permasalahan rendahnya numerasi semakin kompleks ketika terjadi di wilayah 3T . erdepan, terluar, dan tertingga. yang memiliki keterbatasan sarana, prasarana, serta sumber daya pendidikan (Annur & Febriansyah, 2023. United Nations, 2. Salah satu wilayah yang menghadapi tantangan tersebut adalah Kecamatan Morotai Jaya. Kabupaten Pulau Morotai. Maluku Utara. Berdasarkan laporan sekolah dan temuan lapangan, sebagian besar siswa SMA masih mengalami kesulitan dalam menguasai operasi berhitung dasar, khususnya pada aspek ketelitian, kecepatan, dan operasi campuran (Amalina et al. , 2. Kondisi ini berdampak menurunnya kepercayaan diri siswa, serta berkurangnya motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Bahrun & Dasari, 2023. Boadu & Boateng. Walker et al. , 2. Temuan ini menegaskan urgensi perlunya intervensi pembelajaran yang kontekstual, efektif, dan sesuai dengan karakteristik sosial-geografis Morotai Jaya (Cahyono et al. , 2023. Listiawati et al. , 2. Sejumlah penelitian nasional juga menunjukkan bahwa kemampuan numerasi siswa di berbagai daerah masih berada pada kategori rendah. Penelitian di SMAN 1 Banuhampu kemampuan pemecahan masalah numerasi AKM hanya mencapai rata-rata 29,60% (Fauziah & Pipit Firmanti, 2. Studi di SMP Negeri 6 Semarang juga memperlihatkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami numerasi berbasis fungsi (Huda et , 2. Temuan serupa dilaporkan oleh (Pranata et al. , 2. yang menyatakan bahwa rendahnya numerasi berimplikasi langsung terhadap hasil belajar matematika siswa. Hal ini mempertegas bahwa persoalan numerasi masih menjadi masalah sistemik dalam pendidikan Indonesia (UNICEF, 2. Sebagai permasalahan tersebut, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode simulasi, game edukatif, dan media interaktif terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi. Sarapung, et al. Efektivitas Pelatihan Simulasi Interaktif untuk Meningkatkan. kecepatan, ketelitian, serta pemahaman konsep matematika siswa (Egara et al. , 2. Studi kuasi-eksperimental di Bhutan juga melaporkan bahwa kombinasi simulasi dan game mampu meningkatkan prestasi belajar matematika secara signifikan dibandingkan metode konvensional (Debrenti, 2024. Dorji & Rigdel, 2. Bahkan, integrasi teknologi berbasis simulasi direkomendasikan sebagai solusi pendidikan di negara berkembang untuk pembelajaran (Responses, 2. Temuantemuan tersebut menjadi dasar pemilihan simulasi sebagai pendekatan utama dalam kegiatan pengabdian ini. Namun demikian, meskipun berbagai penelitian telah membuktikan efektivitas simulasi dalam pembelajaran matematika, belum banyak program atau penelitian yang secara spesifik mengkaji pelatihan simulasi berhitung dasar pada konteks daerah 3T, khususnya di wilayah kepulauan seperti Morotai Jaya. Intervensi yang dilakukan dalam kegiatan ini dirancang berbasis konteks lokal, melibatkan dosen, mahasiswa, dan guru secara kolaboratif, serta mengintegrasikan simulasi digital dan manual secara simultan. Dengan digunakan dalam kegiatan ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pendekatan pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan di wilayah tersebut. Pelaksanaan kegiatan ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menempatkan literasi numerasi sebagai prioritas utama dalam pendidikan (AKM. Wijaya Dewayani. Rekomendasi Asesmen Nasional 2024 juga menunjukkan bahwa kesenjangan capaian numerasi antarwilayah masih sangat tinggi, terutama di daerah terpencil dan 3T (Laurensi br Kaban et al. , 2023. Li et al. , 2. Oleh karena itu, intervensi berbasis simulasi menjadi relevan sebagai strategi penguatan numerasi yang bersifat kontekstual dan Selain berkontribusi pada peningkatan kemampuan siswa, kegiatan pengabdian ini juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjalankan tridharma pendidikan melalui kolaborasi dengan sekolah (Lestari & Hardini, 2. Universitas Pasifik Morotai pengetahuan dan penguatan kapasitas guru melalui pendekatan berbasis simulasi. Berdasarkan permasalahan utama dalam kegiatan ini adalah rendahnya kemampuan berhitung dasar siswa SMA di Kecamatan Morotai Jaya dan belum optimalnya penerapan metode pembelajaran inovatif berbasis simulasi di daerah 3T. Tujuan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi awal kemampuan berhitung dasar siswa, menganalisis efektivitas pelatihan simulasi dalam meningkatkan kemampuan tersebut, serta mengidentifikasi pelaksanaan kegiatan. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model praktik baik . est practic. yang dapat direplikasi di daerah 3T lainnya dalam upaya penguatan literasi numerasi secara berkelanjutan. METODE Desain Kegiatan dan Pendekatan Penelitian Kegiatan menggunakan pendekatan pre-eksperimental dengan desain one-group pretestAeposttest design, yaitu satu kelompok peserta diberi perlakuan berupa pelatihan simulasi berhitung dasar yang diawali dengan pengukuran kemampuan awal . dan diakhiri dengan pengukuran kemampuan akhir . Desain ini dipilih karena sesuai untuk mengukur efektivitas langsung suatu intervensi pembelajaran dalam konteks pengabdian masyarakat, terutama pada wilayah 3T yang memiliki keterbatasan kontrol eksperimen. Secara skematis, desain penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut: OCA Ae X Ae OCC Keterangan: OCA = Pretest X = Perlakuan . elatihan simulasi berhitung OCC = Posttest Peserta dan Setting Kegiatan Kegiatan Kecamatan Morotai Jaya. Kabupaten Pulau Morotai. Provinsi Maluku Utara, yang termasuk dalam kategori daerah 3T . erdepan, terluar, dan tertingga. Lokasi dipilih Rendahnya hasil belajar matematika berdasarkan laporan sekolah. Keterbatasan sarana pembelajaran. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Belum pernah dilaksanakan program pelatihan numerasi berbasis simulasi Dukungan aktif pihak sekolah terhadap pelaksanaan kegiatan. Peserta kegiatan berjumlah 60 siswa SMA, yang berasal dari dua sekolah, yaitu: SMTK LPM Sopi, dan SMA BPD Sopi. Distribusi peserta terdiri dari: Kelas X: 22 siswa. Kelas XI: 20 siswa. Kelas XII: 18 siswa Seluruh peserta dipilih berdasarkan rekomendasi guru matematika dengan kriteria: Memiliki kemampuan numerasi heterogen . endah, sedang, tingg. Bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Aktif mengikuti pembelajaran matematika di sekolah. Selain siswa, kegiatan ini juga melibatkan 4 orang guru matematika yang berperan sebagai: Observer . engamat keaktifan sisw. Pendamping kelompok, dan Fasilitator refleksi pembelajaran bersama tim Tabel 1. Tahapan Pelatihan Simulasi Sesi Bentuk Aktivitas Pemberian materi konsep berhitung Demonstrasi strategi cepat berhitung Simulasi individu . peed gam. Simulasi kelompok . rill soal Diskusi penyelesaian soal Refleksi dan penguatan konsep Model simulasi yang digunakan A Simulasi digital interaktif. A Kartu berhitung. A Lembar kerja berbasis permainan numerik. A Speed game berhitung cepat. Tahap Pendampingan Dilakukan dalam bentuk: A Bimbingan kelompok kecil. A Peer tutoring antar siswa. A Pendampingan intensif oleh guru dan tim pengabdian terhadap siswa dengan kemampuan numerasi rendah. Tahap Evaluasi Evaluasi dilakukan melalui: A Pretest sebelum pelatihan. A Posttest setelah pelatihan. A Observasi keaktifan siswa. A Kuesioner respon siswa dan guru. A Refleksi bersama pihak sekolah. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sistematis dalam lima tahapan utama, sebagai Tahap Persiapan Kegiatan persiapan meliputi: A Identifikasi kebutuhan mitra melalui diskusi dengan guru matematika. A Penyusunan modul simulasi berhitung A Penyusunan instrumen pretestAeposttest. A Penyusunan lembar observasi keaktifan A Penyiapan media simulasi digital dan Tahap Sosialisasi Dilakukan kepada: A Kepala sekolah. A Guru matematika. A Siswa peserta. Sosialisasi memuat penjelasan tujuan, jadwal kegiatan, mekanisme pelaksanaan, serta manfaat kegiatan bagi peserta. Tahap Pelatihan Simulasi Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari . y 180 meni. dengan rincian aktivitas sebagai berikut: Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan meliputi: Tes PretestAePosttest Berisi soal berhitung dasar mencakup: o Penjumlahan dan pengurangan, o Perkalian dan pembagian, o Operasi campuran, o Kecepatan dan ketelitian. Lembar Observasi Keaktifan Siswa, dengan indikator: o Partisipasi bertanya, o Keaktifan diskusi, o Ketepatan menyelesaikan soal, o Kerja sama dalam kelompok. Angket Respons Siswa dan Guru Untuk mengetahui persepsi terhadap kebermanfaatan kegiatan. Sarapung, et al. Efektivitas Pelatihan Simulasi Interaktif untuk Meningkatkan. Persentase ycEyceycuycnycuyciycoycaycycaycu (%) . cEycuycycycyceycyc Oe ycEycyceycyceycy. ycEycyceycyceycyc y 100% Desain Evaluasi Evaluasi pendekatan: Evaluasi formatif selama proses pelatihan melalui observasi. Evaluasi sumatif melalui perbandingan hasil pretest dan Efektivitas berdasarkan: Peningkatan skor individu. Peningkatan rata-rata kelas. Peningkatan setiap aspek numerasi. Analisis Kualitatif Data observasi dan angket dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan: A Motivasi belajar siswa. A Respons siswa terhadap metode simulasi. A Peran guru dalam pendampingan. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan melalui: Statistik Deskriptif Untuk menghitung: Rata-rata nilai. Persentase peningkatan kemampuan. Distribusi skor tiap aspek numerasi. Gain Score dan Persentase Peningkatan Gain dihitung menggunakan rumus: ycEycuycycycyceycyc Oe ycEycyceycyceycyc yci= 100 Oe ycEycyceycyceycyc Alur Metode Pelaksanaan Secara konseptual, alur pelaksanaan kegiatan mengikuti Gambar 1: Alur Metode Pelaksanaan Kegiatan Simulasi Berhitung Dasar Matematika Alur ini menggambarkan keterkaitan logis antara perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi hasil kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan berhitung dasar matematika berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh 60 siswa dari dua SMA di Kecamatan Morotai Jaya, yakni SMTK LPM Sopi dan SMA BPD Sopi. Kegiatan dihadiri pula oleh empat guru matematika sebagai pendamping. Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah serta pemerintah kecamatan. Gambar 2: Pelaksanaan Simulasi Berhitung Dasar Matematika Sebelum pelatihan, peserta mengikuti pretest untuk mengukur kemampuan awal Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 berhitung dasar. Nilai rata-rata pretest sebesar 47,8 dari 100 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih kesulitan pada operasi campuran dan pembagian pecahan. Setelah pelatihan menggunakan pendekatan simulasi dan latihan intensif, peserta mengikuti posttest dengan tingkat kesulitan setara. Rata-rata nilai meningkat menjadi 78,6, yang berarti terdapat peningkatan sebesar 30,8 poin atau sekitar 64,4% peningkatan relatif dibanding nilai Tabel 2. Hasil Pretest dan Posttest Kemampuan Berhitung Dasar Siswa Aspek yang Diukur Penjumlahan dan Pengurangan Perkalian dan Pembagian Operasi Campuran Kecepatan dan Ketelitian Rata-rata Keseluruhan Nilai Rata-rata Pretest Hasil peningkatan yang konsisten di seluruh aspek numerasi dasar. Aspek dengan peningkatan tertinggi terdapat pada operasi campuran . ,1%), menandakan efektivitas simulasi dalam membantu siswa mengintegrasikan Nilai Rata-rata Posttest Peningkatan (%) beberapa operasi dalam satu konteks soal. Untuk memperjelas perbandingan peningkatan hasil belajar antar aspek numerasi, disajikan grafik perbandingan hasil pretest dan posttest pada Gambar 3. Gambar 3: Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest Kemampuan Berhitung Dasar Siswa Berdasarkan Gambar 3, tampak bahwa seluruh aspek kemampuan berhitung dasar Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek operasi campuran . ,1%), sedangkan peningkatan terendah terdapat pada aspek penjumlahan dan pengurangan . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan simulasi efektif dalam membantu siswa memahami keterkaitan antar operasi dan memperbaiki ketelitian perhitungan. Gambar 4: Aktivitas Siswa dalam Simulasi Kelompok Sarapung, et al. Efektivitas Pelatihan Simulasi Interaktif untuk Meningkatkan. kecepatan, ketelitian, serta pemahaman konsep berhitung dasar. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa simulasi dan game edukatif mampu meningkatkan performa akademik dan keterlibatan siswa dalam (JaramilloMediavilla et al. , 2024. Usman et al. , 2. Berdasarkan data hasil, peningkatan tertinggi terjadi pada aspek operasi campuran . ,1%). Peningkatan yang sangat tinggi ini pembelajaran yang terjadi selama fase simulasi kelompok dan diskusi pemecahan masalah Operasi campuran menuntut konsep sekaligus, dan melalui simulasi berbasis masalah nyata, siswa belajar menyusun langkah penyelesaian secara Aktivitas keterampilan berpikir logis dan keterkaitan antaroperasi, sebagaimana dijelaskan dalam teori experiential learning (Kolb, 1984. Uyen et al. , 2. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Egara et al. , 2. yang menunjukkan bahwa simulasi komputer konseptual matematika secara signifikan. Aspek perkalian dan pembagian juga menunjukkan peningkatan tinggi sebesar 79,9%. Peningkatan ini dipengaruhi oleh penerapan speed game berhitung cepat dan drill berulang, yang memperkuat otomatisasi perhitungan siswa. Strategi ini sesuai dengan temuan (Lestari & Hardini, 2. bahwa menyenangkan seperti GASING efektif meningkatkan keterampilan berhitung dasar. Selain itu, penguatan motivasi belajar melalui media interaktif juga berkontribusi pada peningkatan konsistensi latihan siswa (Egara et al. , 2. Pada aspek kecepatan dan ketelitian, terjadi peningkatan sebesar 78,0%. Aspek ini berkembang seiring dengan penerapan simulasi berbatas waktu, koreksi langsung oleh fasilitator, serta kompetisi kelompok yang Mekanisme ini meningkatkan fokus, konsentrasi, dan self-efficacy siswa dalam menyelesaikan soal matematika (Zakariya. Hal ini sejalan dengan temuan (Destiniar et al. , 2. serta (Cahyono et al. Listiawati et al. , 2. yang menegaskan bahwa motivasi belajar memiliki hubungan kuat dengan peningkatan hasil belajar Selain peningkatan kognitif, hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar dan rasa percaya diri siswa. Sebagian besar siswa menyatakan bahwa model simulasi membantu mereka memahami langkah-langkah berhitung secara sistematis. Guru pendamping juga melaporkan bahwa metode simulasi memudahkan siswa dalam menerapkan konsep berhitung pada konteks soal cerita dan numerasi berbasis AKM. Hasil kuesioner akhir menunjukkan bahwa: 92% siswa menyatakan kegiatan pelatihan sangat bermanfaat, 88% siswa menilai metode simulasi lebih mudah dipahami dibanding metode konvensional, 85% guru berkomitmen untuk pembelajaran reguler. Faktor keberhasilan kegiatan antara lain adalah keterlibatan aktif siswa, desain pelatihan yang kontekstual, serta dukungan guru pendamping. Adapun kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan sarana seperti proyektor di beberapa sekolah dan perbedaan tingkat kemampuan awal antar siswa. Solusi menyediakan media visual alternatif seperti lembar kerja manual dan simulasi berbasis kartu berhitung. Secara keseluruhan, kegiatan ini meningkatkan kemampuan berhitung dasar, memperkuat keterampilan numerasi, serta menumbuhkan minat belajar matematika di kalangan siswa SMA di Kecamatan Morotai Jaya. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan simulasi tidak hanya meningkatkan hasil belajar matematika secara signifikan, tetapi juga membuka peluang pengembangan model pelatihan serupa di sekolah-sekolah lain yang memiliki keterbatasan sumber daya. Pembahasan Hasil pelaksanaan simulasi berhitung dasar matematika menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap kemampuan numerasi siswa SMA di Kecamatan Morotai Jaya. Rata-rata nilai posttest meningkat sebesar 30,8 poin atau sekitar 64,4% dibandingkan nilai pretest. Peningkatan ini berbasis simulasi Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Adapun aspek penjumlahan dan pengurangan mengalami peningkatan paling rendah yaitu 54,6%. Meskipun demikian, peningkatan ini tetap bermakna karena kemampuan awal siswa pada aspek ini relatif lebih baik dibandingkan aspek lainnya. Dengan kata lain, efek ceiling turut memengaruhi besaran persentase peningkatan. Hal ini sejalan dengan temuan (Pranata et al. dan (Lestari & Hardini, 2. bahwa peningkatan numerasi paling besar biasanya terjadi pada aspek yang sebelumnya paling Setiap fase pelatihan memiliki kontribusi yang berbeda terhadap hasil yang Fase demonstrasi dan simulasi individu berperan dalam penguatan konsep Fase simulasi kelompok dan diskusi memperkuat keterampilan integrasi konsep dan pemecahan masalah. Sementara fase pendampingan dan peer tutoring berperan penting dalam membantu siswa dengan kemampuan awal rendah melalui interaksi sosial sesuai konsep Zone of Proximal Development (ZPD) dari Vygotsky. Temuan ini sejalan dengan (Darnawati et al. , 2023. Frei-Landau & Levin, 2. serta (Debrenti. Jaramillo-Mediavilla et al. , 2. yang menekankan bahwa kolaborasi dosen, mahasiswa dan guru mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah mitra. Pendekatan berbasis konteks lokal juga memperkuat relevansi pembelajaran. Soal-soal yang dikaitkan dengan aktivitas jual beli, nelayan, dan ekonomi lokal Pulau Morotai membuat siswa lebih mudah memahami makna matematika dalam kehidupan nyata. Strategi ini sejalan dengan pendekatan local wisdom dalam pembelajaran matematika (Cahyono et al. , 2023. Listiawati et al. , 2. Keberhasilan pelatihan ini juga sejalan dengan arah kebijakan Merdeka Belajar dan implementasi AKM yang menekankan literasi numerasi sebagai kompetensi esensial (AKM. Wijaya & Dewayani, 2. Temuan ini memperkuat rekomendasi hasil Asesmen Nasional 2024 bahwa penguatan numerasi di wilayah 3T memerlukan pendekatan inovatif, kontekstual, dan berbasis aktivitas. Instrumen pretest dan posttest yang digunakan dalam kegiatan ini disusun berdasarkan indikator kompetensi numerasi tingkat SMA dan telah melalui validasi isi . ontent validit. oleh dua dosen pendidikan matematika dan satu guru matematika sekolah Validasi dilakukan untuk memastikan kesesuaian soal dengan indikator kemampuan berhitung dasar. Namun demikian, uji reliabilitas secara statistik belum dilakukan secara terpisah, sehingga potensi bias pengukuran masih mungkin terjadi. Dari sisi sampel, jumlah peserta terdiri dari 60 siswa yang berasal dari dua sekolah dengan proporsi yang relatif seimbang. Meskipun jumlah ini memadai untuk analisis masyarakat, keterbatasan jumlah sekolah mitra menjadi faktor yang membatasi generalisasi hasil ke konteks yang lebih luas. Selain itu, durasi pelatihan yang hanya berlangsung selama dua hari juga menjadi keterbatasan dalam mengukur dampak jangka panjang terhadap retensi kemampuan numerasi siswa. Variasi kemampuan awal siswa yang cukup lebar juga berpotensi memengaruhi variasi hasil peningkatan. Keterbatasan sarana pembelajaran digital di beberapa sekolah turut menjadi tantangan teknis yang memengaruhi kelancaran simulasi. Meskipun demikian, penggunaan media manual dan kartu direkomendasikan oleh (Listiawati et al. Dengan keterbatasan tersebut, hasil kegiatan ini tetap memberikan indikasi kuat efektivitas simulasi sebagai strategi peningkatan numerasi di daerah 3T, namun interpretasi temuan perlu ditempatkan dalam konteks keterbatasan desain pre-eksperimental tanpa kelompok Secara memperkuat relevansi model experiential learning dalam penguatan numerasi dasar (Kolb, 1984. Uyen et al. , 2. serta efektivitas simulasi dalam pembelajaran matematika (Egara et al. , 2. (Debrenti, 2024. JaramilloMediavilla et al. , 2. Secara praktis, kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis simulasi dapat menjadi solusi kontekstual untuk mengatasi kesenjangan numerasi di wilayah 3T. Selain berdampak pada siswa, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah dalam kerangka tridharma (Qorib, 2. Sarapung, et al. Efektivitas Pelatihan Simulasi Interaktif untuk Meningkatkan. pendidikan di wilayah 3T, direkomendasikan untuk mengadopsi pendekatan pembelajaran berbasis simulasi dan kontekstual dalam pengajaran matematika, karena terbukti mampu meningkatkan pemahaman konsep serta motivasi belajar siswa. Penerapan model ini secara berkelanjutan diharapkan tidak hanya memperkuat kemampuan numerasi dasar, tetapi juga membentuk generasi pelajar yang bernalar kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan masyarakat berupa Efektivitas Pelatihan Simulasi Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung Dasar Siswa SMA di Daerah 3T telah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan numerasi Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata sebesar 30,8 poin antara merepresentasikan peningkatan sebesar 64,4% dibandingkan kemampuan awal. Peningkatan ini terutama terjadi pada aspek operasi Selain peningkatan kognitif, kegiatan ini juga berhasil menumbuhkan motivasi belajar, rasa percaya diri, dan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran Keterlibatan guru sebagai pendamping turut memperkuat keberhasilan program, karena terjadi proses transfer pengetahuan dan pengalaman antara dosen, mahasiswa, dan guru sekolah mitra. Pelatihan ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis simulasi dan konteks lokal efektif diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berhitung dasar siswa di daerah Model kegiatan ini sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar yang menekankan penguatan literasi dan numerasi melalui Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pelibatan perguruan tinggi secara langsung dalam kegiatan peningkatan mutu pendidikan dapat menjadi bentuk nyata implementasi tridharma perguruan tinggi yang berdampak langsung pada masyarakat. Untuk disarankan agar model pelatihan simulasi berhitung dasar ini dikembangkan menjadi program pendampingan rutin bagi guru matematika di tingkat SMA melalui pembentukan community of practice berbasis Perguruan tinggi dapat berperan sebagai mitra akademik dalam penyediaan materi, pelatihan lanjutan, serta evaluasi dampak kegiatan. Pemerintah daerah juga diharapkan memberikan dukungan kebijakan dan fasilitas agar kegiatan serupa dapat diterapkan secara lebih luas di sekolah-sekolah lain di Kabupaten Pulau Morotai maupun daerah 3T lainnya. Bagi UCAPAN TERIMA KASIH