Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Disiplin Diri Siswa di UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang Agustina Irawati Longge1 & Maria Erlinda2 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Indonesia, 85220 Telp: 6282155419775 E-mail: agustinairawati571@gmail. Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Indonesia, 85221 Tel: 6281216347770 RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-01 Revised : 2025-11-17 Accepted: 2025-11-24 KEYWORDS self-discipline. study habits. parental supervision. KATA KUNCI disiplin diri. kebiasaan siswa pengaruh teman. pengawasan keluarga teknologi pendidikan teman sebaya ABSRACT Low self-discipline among junior high school students remains a significant challenge that affects the quality of learning. This study aims to identify the factors contributing to the low level of self-discipline among seventh-grade students at UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang by examining daily habits, family supervision, peer influence, school regulations, and technology use. This descriptive qualitative research employed semi-structured interviews with five purposively selected students considered representative of low-discipline cases. The results reveal that irregular study habits, limited parental supervision, peer dynamics, inconsistent enforcement of school rules, and excessive use of digital devices interact and collectively reduce studentsAo self-discipline. The study offers new insights within the Kupang context by highlighting how the combination of weak external control and high exposure to digital technology intensifies studentsAo disciplinary issues. ABSTRAK Tingkat disiplin diri siswa yang masih rendah menjadi persoalan yang berdampak pada efektivitas proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya disiplin diri siswa kelas VII K di UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang, dengan memberi perhatian khusus pada aspek kebiasaan harian, peran keluarga, pengaruh teman sebaya, penerapan aturan sekolah, serta pemanfaatan teknologi. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan melalui wawancara terhadap lima siswa yang dipilih secara purposive sebagai contoh kasus khas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakteraturan kebiasaan belajar, lemahnya pengawasan keluarga, pengaruh kelompok teman, penerapan tata tertib yang belum optimal di sekolah, serta penggunaan gawai yang berlebihan saling berkaitan dan memperkuat perilaku tidak disiplin. Temuan ini memberikan kontribusi baru dalam konteks Kota Kupang dengan menegaskan bahwa perpaduan antara teknologi dan lemahnya pengawasan lingkungan turut memperbesar tantangan kedisiplinan siswa. Pendahuluan Disiplin merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter dan keberhasilan akademik Pada masa remaja awal, banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam mengontrol perilaku, mengatur waktu, serta mematuhi aturan yang Berbagai menegaskan bahwa kebiasaan belajar dan motivasi internal sangat memengaruhi kedisiplinan siswa (Amelia & Dafit, 2. , sementara faktor eksternal seperti pola asuh dan kultur sekolah turut (Elvina, 2. Selain 84 | JPI. Vol. No. November 2025 perkembangan teknologi digital menghadirkan distraksi baru yang membuat siswa semakin sulit mempertahankan fokus (Ramadhani & Suyoto. Meski sudah banyak penelitian membahas kedisiplinan, sebagian besar hanya memfokuskan diri pada satu faktor dominan, seperti pola asuh atau kebiasaan belajar. Masih diperlukan penelitian yang menelaah bagaimana berbagai faktor internal dan eksternal bekerja secara simultan, terutama dalam konteks daerah tertentu seperti Kota Kupang yang mempunyai dinamika sosial dan pola pengawasan keluarga yang khas. Selain itu, peran teknologi dan media sosial belum banyak dikaji sebagai faktor yang berinteraksi dengan iklim sekolah dan relasi Studi ini menawarkan pembaruan dengan menggabungkan analisis lima faktor utama secara terpadu, yaitu kebiasaan individu, pengaruh teman, pengawasan keluarga, penerapan aturan sekolah, serta penggunaan teknologi. Penelitian ini juga menyoroti bagaimana konteks sosial Kota Kupang dengan banyaknya orang tua yang bekerja di luar rumah mendorong terbentuknya kebiasaan belajar yang kurang terarah. Temuan terkait pengaruh kuat teknologi dalam melemahkan kontrol diri siswa turut menjadi nilai tambah penelitian ini. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam faktor-faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya disiplin diri siswa kelas VII K di UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter baik. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik siswa, tetapi juga dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan seharihari. Salah satu sikap yang menjadi pilar utama dalam pembentukan karakter adalah disiplin. Menurut (Arodani et al. , n. , disiplin adalah suatu sikap yang tercermin dalam perilaku patuh terhadap aturan, norma, dan tata tertib yang berlaku, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun Hal serupa ditegaskan oleh (Yulia Evania & Ramadani, n. , bahwa disiplin merupakan proses pembelajaran untuk melatih kontrol diri, kepatuhan, dan tanggung jawab dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Disiplin diri pada siswa sekolah menengah pertama sangatlah penting karena usia remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju Pada fase ini, siswa sedang berada dalam proses pencarian jati diri, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan sering menghadapi kesulitan dalam mengendalikan diri. Siswa yang memiliki disiplin diri yang baik cenderung lebih teratur dalam belajar, mampu mengelola waktu, mengerjakan tugas dengan tepat, serta menaati tata tertib sekolah. Sebaliknya, siswa dengan disiplin diri rendah akan mudah lalai terhadap kewajibannya, sering menunda pekerjaan, serta rentan terlibat dalam perilaku melanggar aturan (Nurfebrianti et al. , n. Fenomena rendahnya disiplin diri masih banyak dijumpai di sekolah-sekolah. Beberapa perilaku yang sering muncul antara lain keterlambatan datang ke sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, hingga berbicara atau bermain saat pembelajaran Hal ini sejalan dengan pendapat (Aisyah & Rahman, n. ) yang menyatakan bahwa disiplin adalah bagian penting dari pembentukan kepribadian anak, dan jika tidak dibiasakan sejak dini, anak akan tumbuh dengan kebiasaan yang kurang bertanggung jawab. Permasalahan rendahnya disiplin diri siswa dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi motivasi belajar, pengendalian diri, dan kesadaran pribadi. Banyak siswa yang lebih memilih kesenangan sesaat, seperti bermain bersama teman atau menggunakan media sosial, dibandingkan belajar. Faktor eksternal antara lain pola asuh orang tua, pengaruh teman sebaya, serta penerapan aturan di sekolah. Menurut (Junaidi, ) keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi anak, sehingga pola asuh yang tidak konsisten akan berdampak pada rendahnya kedisiplinan anak. Sementara itu, (Gunawan, n. menegaskan bahwa kelompok sebaya juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku remaja karena pada usia ini siswa cenderung lebih banyak berinteraksi dengan teman. Gejala rendahnya disiplin diri juga terlihat di UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang, khususnya pada kelas VII K. Berdasarkan pengamatan awal, masih terdapat siswa yang terlambat datang ke sekolah, tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, kurang memperhatikan saat pembelajaran, serta lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain daripada belajar. Sebagian siswa juga mengaku jarang mendapat pengawasan dari orang tua, sehingga kebiasaan belajar di rumah tidak terbentuk. Guru sebenarnya telah berupaya memberikan peringatan maupun arahan, namun hasilnya belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Jika kondisi ini dibiarkan, maka rendahnya disiplin diri akan berdampak serius, baik terhadap hasil belajar maupun pembentukan karakter siswa. Siswa yang tidak terbiasa disiplin akan sulit Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 85 berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan teratur. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian yang mendalam untuk mengetahui faktorfaktor yang memengaruhi rendahnya disiplin diri Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya disiplin diri siswa kelas VII K di UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab rendahnya disiplin siswa, serta menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah, guru, dan orang tua dalam menyusun strategi pembinaan kedisiplinan yang lebih efektif. Metode Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali pengalaman pribadi siswa mengenai kedisiplinan. 22 siswa kelas VII K dipilih secara purposive karena telah menunjukkan kecenderungan rendah disiplin berdasarkan pengamatan awal guru. Jumlah informan yang terbatas dipandang memadai dalam penelitian kualitatif karena memungkinkan peneliti menggali detail dan kedalaman makna dari setiap subjek. Pengumpulan Data. Wawancara semi-terstruktur digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar, interaksi sosial, peran keluarga, dan pengalaman siswa terkait aturan sekolah. Observasi dilakukan sebagai data pendukung untuk melihat perilaku siswa secara langsung di lingkungan sekolah. disiplin diri siswa melalui cerita, kebiasaan, serta pandangan mereka sendiri. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih kaya mengenai pola perilaku dan latar belakang yang mengungkapkan pengalaman secara bebas. Subjek penelitian ditetapkan sebanyak 22 orang siswa kelas VII K UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang, yaitu Graciani K. Eoh. Elsyfa Theresia Manu. Delvi Jesika Nabunome. Kevin Solo. Kristiani Betseba Manafe. Azriel Missa. Irfan Pratama Kofi. Maria Elisember Kause. Marten Riansis Lakafila. Arkilaus Nufa. Freslie Kim Teti. Febrianti Trifen Benu, audryn zidan junior dano, olivia mariana ndolu ribka femriana sallau, rafa arjuna kalaki, belandina likan, olivia mariana ndolu, kelvin juventus bako, amel once tenis tuan, audryn zidan junior dano. dasar teoretis analisis. teori digunakan sebagai kerangka kerja dalam menganalisis data, antara lain: Teori Pola Asuh Baumrind, untuk memahami bagaimana gaya pengasuhan memengaruhi kontrol diri anak. Teori Kontrol Sosial Hirschi, untuk menilai hubungan antara kepatuhan siswa dan ikatan mereka terhadap sekolah. Teori Pembentukan Kebiasaan (Habit Formatio. , untuk menjelaskan bagaimana kebiasaan belajar terbentuk dan memengaruhi Pemilihan mereka dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa kelima siswa menunjukkan kecenderungan rendahnya disiplin diri dalam kegiatan belajar maupun perilaku sehari-hari di sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, di mana peneliti menyiapkan sejumlah pertanyaan pokok tetapi tetap memberi keleluasaan kepada siswa untuk menjelaskan pengalaman mereka. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi ringan, seperti memperhatikan sikap siswa saat mengikuti pelajaran atau mematuhi tata tertib, sehingga data yang diperoleh lebih bervariasi dan saling melengkapi. Analisis Data. Proses analisis meliputi reduksi data, penyajian hasil, serta penarikan kesimpulan. Triangulasi membandingkan informasi wawancara antar siswa serta hasil observasi untuk meningkatkan kredibilitas data. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, n. Pada tahap reduksi data, informasi hasil wawancara dan observasi diseleksi serta dikategorikan sesuai tema, misalnya pengaruh keluarga, pengaruh teman sebaya, dan pengaruh lingkungan sekolah. Selanjutnya data disajikan dalam bentuk uraian naratif agar lebih mudah dipahami, lalu ditarik kesimpulan untuk menemukan faktor dominan yang memengaruhi rendahnya disiplin diri siswa. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dengan cara membandingkan hasil wawancara antar subjek dan mengaitkannya dengan hasil observasi di lapangan. Dengan proses ini, hasil penelitian diharapkan memberikan gambaran yang jelas, komprehensif, dan dapat dijadikan masukan bagi pihak sekolah maupun orang tua dalam meningkatkan kedisiplinan siswa. Hasil Dan Pembahasan Hasil Faktor Kebiasaan Pribadi Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa, terlihat jelas bahwa kebiasaan pribadi menjadi faktor utama yang memengaruhi rendahnya disiplin diri. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 86 | JPI. Vol. No. November 2025 Kebiasaan ini berkaitan dengan pola hidup seharihari siswa, seperti pola tidur, cara mengatur waktu, kebiasaan belajar, dan penggunaan gawai. Ketidakmampuan siswa mengelola kebiasaan tersebut berdampak langsung pada kedisiplinan mereka, baik di rumah maupun di sekolah. Salah satu contoh nyata dituturkan oleh Graciani Eoh. Ia mengaku sering terlambat masuk sekolah karena kesulitan bangun pagi. Ia mengatakan: AuSaya biasa bangun agak siang, kak, kadang jam enam lebih baru bangun. Jadi kalau buru-buru siapsiap, pasti terlambat. Malam juga saya lebih suka main HP daripada belajar, soalnya lebih seru liat video sama main game. Ay Kutipan ini menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan gawai pada malam hari membuat Graciani kurang tidur dan sulit bangun pagi. Akibatnya, ia tidak mampu memulai hari dengan tertib, yang berimbas pada keterlambatan datang ke sekolah serta ketidakteraturan dalam mengerjakan Hal serupa juga dialami oleh Elsyfa Theresia Manu, meskipun dengan pola kebiasaan yang Ia menuturkan bahwa sering menunda mengerjakan PR karena lebih tertarik melakukan aktivitas lain yang menyenangkan. Menurutnya: AuKalau PR itu saya kadang malas, kak. Soalnya kalau teman-teman ajak main atau jalan-jalan, saya ikut saja. Kalau belajar itu bikin ngantuk, jadi saya pikir nanti saja, tapi ujung-ujungnya lupa. Ay Dari pernyataan ini terlihat bahwa Elsyfa memiliki kebiasaan menunda kewajiban dan lebih Kebiasaan ini jika berlangsung terus-menerus akan menurunkan rasa tanggung jawab dan melemahkan kemampuan mengendalikan Dua pernyataan siswa tersebut menunjukkan bahwa faktor kebiasaan pribadi sangat erat kaitannya dengan kedisiplinan diri. Pola tidur yang tidak teratur, kebiasaan menunda pekerjaan, dan lebih mendahulukan hiburan daripada kewajiban menjadi penyebab utama lemahnya disiplin siswa. Faktor ini dapat diperbaiki melalui pembiasaan yang lebih baik, seperti mengatur jadwal harian, membatasi penggunaan gawai, dan menanamkan kesadaran pentingnya menyelesaikan tugas tepat waktu. Pengaruh Teman Sebaya Selain faktor kebiasaan pribadi, teman sebaya juga memiliki pengaruh besar terhadap rendahnya disiplin diri siswa kelas VII K di UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang. Pada masa remaja, keberadaan teman sering kali menjadi pusat perhatian dan cenderung lebih diutamakan dibandingkan arahan guru atau orang tua. Hal ini menyebabkan siswa lebih mudah mengikuti perilaku teman meskipun tidak selalu positif, seperti mengobrol saat pelajaran berlangsung, menunda tugas, atau mengabaikan aturan sekolah. Dalam wawancara. Beni Oktavianus Ndoen mengakui bahwa dirinya sering tidak fokus belajar karena lebih memilih mengikuti obrolan dengan teman di kelas. Ia mengatakan: AuKalau guru lagi jelaskan, saya kadang ikut cerita sama teman di belakang. Jadi tidak tahu apa yang dijelaskan. Teman-teman juga banyak yang begitu, jadi saya ikut saja, kak. Ay Hal senada juga diungkapkan oleh Maria Yohana Benu. Ia menyampaikan bahwa pergaulan dengan teman membuatnya sulit membagi waktu antara belajar dan bermain. Menurutnya, jika ada ajakan teman untuk melakukan aktivitas di luar sekolah, ia lebih memilih ikut bersama mereka. Maria AuSaya suka ikut main sama teman. Kalau mereka ajak jalan atau main game, saya ikut. Jadi PR kadang saya lupa kerjakan, baru ingat besok pagi. Ay Pernyataan Beni dan Maria memperlihatkan bahwa teman sebaya berperan besar dalam membentuk perilaku disiplin siswa. Saat lingkungan pertemanan lebih dominan pada kegiatan yang mengabaikan aturan atau tanggung jawab, siswa cenderung menuruti hal tersebut karena ingin diterima dalam kelompok. Akibatnya, kedisiplinan yang seharusnya terbangun justru melemah, baik dalam proses belajar di kelas maupun dalam menyelesaikan tugas sekolah. Kurangnya Pengawasan Keluarga Faktor lain yang memengaruhi rendahnya disiplin diri siswa adalah kurangnya pengawasan dari pihak keluarga, khususnya orang tua. Pada usia remaja awal, siswa masih membutuhkan bimbingan, pengawasan, dan penguatan kebiasaan positif dari Namun, berdasarkan wawancara yang dilakukan, ditemukan bahwa sebagian orang tua sibuk bekerja sehingga tidak selalu memantau aktivitas belajar anak di rumah. Kondisi ini membuat siswa lebih bebas mengatur dirinya sendiri, tetapi sering kali kebebasan tersebut justru dimanfaatkan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Hal ini disampaikan oleh Kevin Solo, salah satu siswa kelas VII K. Ia mengatakan: AuKalau di rumah, mama sama papa sibuk kerja. Jadi saya biasa belajar kalau mau saja. Kadang saya lebih banyak main HP karena tidak ada yang suruh belajar. Ay Sementara itu. Kristiani Betseba Manafe mengaku bahwa dirinya jarang diperiksa pekerjaan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 87 rumahnya oleh orang tua. Menurutnya, orang tuanya percaya ia bisa mengurus diri sendiri, padahal sering kali ia menunda-nunda mengerjakan tugas. Kristiani AuOrang tua saya tidak pernah cek PR. Mereka bilang saya sudah besar, harus tanggung jawab Tapi kadang saya lupa kerjakan PR, baru panik kalau besoknya guru tanya. Ay Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa minimnya keterlibatan orang tua dalam mengawasi belajar anak berdampak pada rendahnya kedisiplinan siswa. Anak cenderung kehilangan dorongan eksternal untuk konsisten belajar dan lebih mudah terbawa oleh kesenangan sesaat, seperti bermain gim atau menunda pekerjaan sekolah. Pengawasan keluarga yang kurang bukan hanya mengurangi kontrol terhadap perilaku anak, tetapi juga membuat siswa kurang memiliki teladan dalam membangun kebiasaan disiplin di rumah. Faktor Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kedisiplinan siswa. Peraturan, tata tertib, dan keteladanan dari guru seharusnya mampu menumbuhkan kebiasaan disiplin dalam diri Namun, menunjukkan bahwa penerapan aturan di sekolah terkadang masih kurang konsisten, sehingga membuat siswa merasa bebas melanggar tanpa konsekuensi yang berarti. Ketika pengawasan dari guru tidak ketat atau hukuman tidak dijalankan secara tegas, siswa cenderung menyepelekan aturan dan memilih untuk melakukan hal-hal yang disukai meskipun bertentangan dengan tata tertib sekolah. Hal ini diungkapkan oleh Delvi Jesika Nabunome, yang menuturkan: AuKadang kalau terlambat datang sekolah, guru cuma suruh masuk saja. Jadi teman-teman banyak yang datang telat, karena tahu tidak ada hukuman. Ay Selain itu. Elsyfa Theresia Manu juga mengeluhkan kurangnya perhatian guru terhadap perilaku siswa di dalam kelas. Menurutnya, ada guru yang hanya fokus pada materi tanpa memperhatikan apakah siswa memperhatikan atau tidak. Elsyfa AuAda guru yang kalau mengajar tidak peduli kalau kita ngobrol. Jadi kita bisa cerita sama teman tanpa dimarahi. Akhirnya saya tidak dengar Ay Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa ketidakdisiplinan siswa tidak hanya dipengaruhi faktor pribadi dan keluarga, tetapi juga lingkungan sekolah yang belum sepenuhnya menegakkan aturan dengan tegas. Inkonsistensi dalam pemberian sanksi maupun kurangnya pengawasan di kelas membuat siswa terbiasa mengabaikan aturan. Dengan demikian, sekolah sebagai institusi pendidikan perlu meningkatkan ketegasan dalam menegakkan tata tertib serta memberikan teladan yang konsisten agar dapat membentuk karakter disiplin pada siswa. Faktor Media Sosial dan Teknologi Kemajuan teknologi membawa dampak besar bagi kehidupan remaja, termasuk siswa SMP. Media sosial, permainan daring, dan penggunaan gawai yang berlebihan sering kali menjadi salah satu penyebab utama menurunnya disiplin diri. Siswa lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel daripada mengerjakan tugas sekolah atau mempersiapkan diri untuk pelajaran. Berdasarkan wawancara, sebagian siswa mengakui bahwa mereka sulit mengendalikan diri ketika menggunakan ponsel karena lebih tertarik pada hiburan daripada belajar. Hal ini diungkapkan oleh Graciani K. Eoh, yang AuKalau sudah pegang HP, saya lupa belajar. Saya biasa buka TikTok sama nonton YouTube sampai malam, jadi PR kadang saya tidak Ay Selain itu. Kevin Solo juga menyampaikan bahwa bermain gim di ponsel sering kali Menurutnya, meskipun sudah diingatkan orang tua, ia tetap sulit mengendalikan diri. Kevin menuturkan: AuSaya suka main game Mobile Legends. Kalau sudah main, susah berhenti. Mama sudah marahmarah, tapi saya tetap main. Jadi PR saya kadang terlambat kumpul. Ay Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa media sosial dan teknologi menjadi faktor signifikan yang memengaruhi rendahnya disiplin diri siswa. Ketergantungan pada hiburan digital membuat siswa kesulitan mengatur waktu, mengabaikan tanggung jawab belajar, bahkan menunda pekerjaan sekolah. Jika tidak dikendalikan dengan baik, penggunaan teknologi yang berlebihan dapat mengurangi fokus, merusak kebiasaan belajar, serta semakin memperburuk masalah kedisiplinan di sekolah. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya disiplin diri siswa kelas VII K UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang saling berinteraksi. Kebiasaan pribadi siswa, seperti menunda pekerjaan rumah, kurang fokus belajar, dan kecenderungan dibandingkan kewajiban akademik, menjadi salah satu faktor dominan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Amelia & Dafit, n. yang Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 88 | JPI. Vol. No. November 2025 menekankan bahwa kebiasaan belajar berulang sangat memengaruhi tingkat kedisiplinan siswa. Kebiasaan yang terbentuk sejak dini akan menjadi pola perilaku berulang sehingga ketika siswa terbiasa menunda pekerjaan, mereka kesulitan membangun disiplin diri yang konsisten. Hal ini diperkuat oleh (Hanifa et al. , n. yang menyatakan bahwa perilaku belajar sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari, dan perubahan perilaku hanya mungkin terjadi jika siswa mampu melatih dirinya secara konsisten. Lingkungan pertemanan turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kedisiplinan Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa sering menyesuaikan perilaku dengan teman sebaya, bahkan ketika perilaku tersebut tidak sesuai dengan aturan sekolah. Penelitian (Ristiana et al. , n. menemukan bahwa remaja cenderung menyesuaikan diri dengan kelompok sosialnya karena kebutuhan untuk diterima dan diakui oleh teman sebaya. (Hestikasari & Ediyono, n. menambahkan bahwa pada masa remaja, teman sebaya memiliki peran dominan dalam membentuk identitas dan perilaku, termasuk dalam hal kedisiplinan. Oleh karena itu, pengaruh teman yang lebih menekankan kesenangan atau aktivitas non-akademik berpotensi menurunkan disiplin siswa. Peran keluarga juga menjadi faktor penting. Beberapa siswa menyampaikan bahwa orang tua jarang memantau atau mengingatkan aktivitas belajar mereka karena kesibukan kerja. Hal ini membuat siswa bebas mengatur diri sendiri, tetapi kebebasan tersebut seringkali dimanfaatkan untuk hal-hal yang kurang produktif. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Elvina, n. yang menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam kegiatan belajar anak sangat berpengaruh terhadap Anak yang mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari orang tua lebih mampu mengendalikan diri dibandingkan anak yang dibiarkan bebas. Teori pola asuh (Baumrind, 2. juga menegaskan bahwa pola asuh permisif cenderung menghasilkan anak yang kurang disiplin dan memiliki kontrol diri rendah. Lingkungan sekolah pun memengaruhi tingkat kedisiplinan siswa. Inkonsistensi dalam penerapan tata tertib, seperti guru yang tidak menegakkan aturan secara tegas atau sanksi yang tidak jelas, membuat siswa merasa aman untuk melanggar (Diasworo & Hanif, n. menekankan bahwa penerapan aturan yang tegas dan konsisten sangat penting untuk menumbuhkan kedisiplinan. Ketika sekolah tidak mampu memberikan kontrol yang efektif, perilaku tidak disiplin cenderung Teori kontrol sosial (Schreck & Hirschi, n. ) juga menjelaskan bahwa lemahnya ikatan sosial dengan institusi, dalam hal ini sekolah, meningkatkan kemungkinan individu melanggar Selain faktor internal dan lingkungan sosial, kemajuan teknologi dan penggunaan media sosial turut memengaruhi disiplin siswa. Banyak siswa mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain gim, menonton video, atau berselancar di media sosial dibandingkan mengerjakan tugas Hal ini sesuai dengan penelitian (Ramadhani & Suyoto, n. yang menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berdampak negatif terhadap konsentrasi belajar dan kedisiplinan siswa. (Padamai & Loe, n. juga menekankan bahwa ketergantungan pada gawai membuat anak sulit membagi waktu dan mengatur diri, sehingga kebiasaan menunda pekerjaan dan perilaku impulsif meningkat. Secara keseluruhan, rendahnya disiplin diri siswa merupakan hasil interaksi kompleks antara kebiasaan pribadi, pengaruh teman sebaya, pengawasan keluarga, lingkungan sekolah, dan penggunaan teknologi. Temuan ini memperkuat kesimpulan penelitian terdahulu bahwa disiplin bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Masalah disiplin pada era digital saat ini semakin kompleks karena distraksi dari media sosial dan gawai menambah tantangan bagi siswa untuk tetap fokus dan konsisten dalam belajar. Upaya peningkatan kedisiplinan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk pembentukan kebiasaan positif, penguatan peran orang tua, penerapan aturan sekolah yang konsisten, serta pendampingan penggunaan teknologi agar siswa mampu mengembangkan kontrol diri secara optimal. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya disiplin diri siswa kelas VII K UPTD SMP Negeri 11 Kota Kupang merupakan akibat dari interaksi berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi kebiasaan pribadi yang tidak teratur, seperti menunda tugas dan penggunaan gawai yang berlebihan. pengaruh teman sebaya yang mendorong perilaku kurang disiplin. pengawasan keluarga terhadap aktivitas belajar. inkonsistensi penerapan aturan di sekolah. tingginya paparan teknologi yang mengganggu fokus belajar. Kombinasi faktor-faktor ini Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 89 membentuk pola perilaku tidak disiplin yang berulang dan sulit dikendalikan siswa. Saran Untuk sekolah: perlu meningkatkan ketegasan dalam menerapkan aturan dan memperkuat pengawasan saat pembelajaran berlangsung. Untuk orang tua: penting meningkatkan penggunaan gawai di rumah. Untuk siswa: perlu membangun kebiasaan belajar yang lebih teratur dan mengurangi penggunaan ponsel pada waktu belajar. informan atau mengombinasikan metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperkuat Referensi