Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 KESIAPAN INFRASTRUKTUR DAN AKSESIBILITAS TERHADAP DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN WISATA ALAM BERKELANJUTAN DI KECAMATAN BONE Sry Ayu Kaino 1. Sri Maryati2. Daud Yusuf 3 Program Studi Pendidikan Geografi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Gorontalo. Indonesia kainorahayu@gmail. com1, sri. maryati@ung. id2, daud@ung. Abstract Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan infrastruktur dan aksesibilitas terhadap daya dukung lingkungan dalam pengembangan wisata alam berkelanjutan di Kecamatan Bone. Kabupaten Bone Bolango. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, serta kuesioner kepada pengunjung, masyarakat, dan pemerintah desa. Analisis dilakukan menggunakan pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) yang dimodifikasi sesuai fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan tiga objek wisata yang dikaji, yaitu Pantai Taludaa. Kolam Bidadari, dan Air Terjun Ilohuuwa, memiliki tingkat kesiapan berbeda. Kolam Bidadari memperoleh skor tertinggi . 150 atau 80%) dengan kategori Sangat Siap dan Berkelanjutan berkat kondisi lingkungan alami, aksesibilitas baik, dan ketersediaan air bersih. Sementara Pantai Taludaa . 69%) dan Air Terjun Ilohuuwa . 70%) termasuk kategori Cukup Siap namun Memerlukan Penguatan terutama pada aspek infrastruktur dan fasilitas Secara umum, daya dukung lingkungan ketiga lokasi masih baik dan berpotensi dikembangkan dengan pendekatan konservasi serta partisipasi masyarakat. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola wisata diperlukan untuk menyeimbangkan pembangunan dan pelestarian lingkungan menuju destinasi ekowisata unggulan. Kata Kunci: infrastruktur, aksesibilitas, daya dukung lingkungan, wisata alam, keberlanjutan. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan nasional pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan masyarakat (Fadilla, 2. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009, wisata didefinisikan sebagai kegiatan perjalanan individu atau kelompok ke suatu tempat tertentu untuk rekreasi, keunikan daya tarik wisata. Dalam konteks Indonesia yang kaya sumber daya alam dan budaya, pariwisata berpotensi menjadi motor (Arisman. Keberagaman seni, tradisi, dan keindahan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya alam menjadi aset penting yang dapat Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 lingkungan menjadi prinsip utama pariwisata dikembangkan menjadi daya tarik unggulan berwawasan lingkungan. Konsep daya dukung lingkungan berperan memastikan aktivitas wisata tidak Kabupaten Bone Bolango di Provinsi melampaui kapasitas ekosistem (Sana, 2. Gorontalo memiliki potensi wisata alam Aspek fisik, sosial, dan ekologis menentukan melimpah, terutama di Kecamatan Bone yang sejauh mana kawasan dapat dikembangkan memiliki destinasi menarik seperti Air Terjun tanpa menimbulkan degradasi lingkungan Ilohuuwa. Kolam Bidadari, dan Pantai Taludaa. Ketiga destinasi tersebut memiliki Ketidakseimbangan karakter geografis dan ekosistem beragam fasilitas dan keterbatasan daya dukung dapat mempercepat kerusakan ekosistem. Oleh Namun, karena itu, analisis hubungan antara kesiapan infrastruktur, aksesibilitas, dan daya dukung keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, dan perhatian terhadap daya dukung lingkungan, sehingga kawasan wisata belum mampu berkelanjutan di Kecamatan Bone. bersaing di tingkat daerah maupun nasional. Kesiapan Selain pengembangan wisata juga dipengaruhi oleh aksesibilitas menjadi faktor kunci dalam pengembangan pariwisata (Ardiansyah et al. Pemerintah berperan sebagai Infrastruktur transportasi, dan fasilitas umum mendukung berorientasi keberlanjutan (Singgalen & kenyamanan wisatawan (Hantari & Azima. Prasadja, 2. , sedangkan keterlibatan 2. , sedangkan aksesibilitas menentukan masyarakat memperkuat rasa memiliki serta kemudahan menuju lokasi wisata (Ardanasti & Putri, 2. Namun, pembangunan yang lingkungan (Ferdiansyah, 2. Sinergi tidak memperhatikan aspek lingkungan dapat antara pemerintah, masyarakat, dan pihak menimbulkan kerusakan ekosistem seperti swasta diperlukan agar pembangunan tidak erosi, pencemaran air, dan gangguan habitat hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi Karena itu, keseimbangan antara juga menjaga keseimbangan ekologi dan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Berdasarkan penelitian ini bertujuan menilai sejauh mana Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 wisata di Kecamatan Bone. Kabupaten Bone Bolango. kesiapan infrastruktur dan aksesibilitas di Kecamatan Bone berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan dalam pengembangan wisata alam berkelanjutan. Hasil penelitian komprehensif mengenai hubungan antara lingkungan, serta menjadi dasar penyusunan Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian kebijakan pariwisata yang berorientasi pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Variabel dan Indikator Penelitian METODE PENELITIAN Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian Kecamatan Bone. Kabupaten Bone Bolango, kesiapan infrastruktur, aksesibilitas, dan daya Provinsi Gorontalo, yang secara administratif dukung lingkungan, yang diturunkan dari terletak antara 00A18Ao25AyAe00A48Ao21Ay Lintang Utara dan 123A03Ao41AyAe123A33Ao06Ay Bujur Timur. Fokus penelitian mencakup tiga objek mencakup penilaian terhadap ketersediaan wisata alam potensial, yaitu Pantai Taludaa di Desa Taludaa. Air Terjun Ilohuuwa, dan seperti jalan, fasilitas umum, air bersih. Kolam Bidadari di Desa Ilohuuwa, yang akomodasi, serta jaringan komunikasi dan dipilih karena mewakili karakteristik wisata kemudahan wisatawan menjangkau lokasi pengembangan tinggi. Kegiatan penelitian melalui indikator jarak, kondisi dan kualitas dilakukan selama tiga bulan, dari Januari transportasi, ketersediaan moda angkutan hingga Maret, mencakup tahap observasi umum, petunjuk arah, serta waktu dan lapangan, pengumpulan data primer dan sekunder, serta analisis hasil. Sebaran lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1 yang kemampuan kawasan menampung aktivitas menunjukkan posisi masing-masing objek wisata tanpa merusak ekosistem, dengan Kesiapan sarana-prasarana Variabel Adapun Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya indikator meliputi kualitas Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Teknik Pengumpulan Data kebersihan, kapasitas lahan terhadap jumlah Pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama yang saling melengkapi, masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Jenis Data Observasi dilakukan langsung di tiga objek Penelitian ini menggunakan data wisata alam di Kecamatan BoneAiPantai primer dan data sekunder yang saling Taludaa. Air Terjun Ilohuuwa, dan Kolam BidadariAiuntuk memperoleh data faktual hubungan antara kesiapan infrastruktur, mengenai kondisi infrastruktur, aksesibilitas, aksesibilitas, dan daya dukung lingkungan dan daya dukung lingkungan. Aspek yang diamati meliputi kualitas jalan, fasilitas berkelanjutan di Kecamatan Bone. Data umum, jaringan air dan listrik, kebersihan, primer diperoleh melalui observasi lapangan, kemudahan akses, serta kondisi ekologis seperti kualitas air, vegetasi, dan pengelolaan pengunjung, masyarakat, serta pemerintah Selain itu, diamati pula aktivitas Data ini mencakup kondisi fasilitas, sosial ekonomi masyarakat sekitar dan aksesibilitas, dan aspek lingkungan seperti keterlibatan mereka dalam kegiatan wisata. kebersihan, ketersediaan air, dan vegetasi. Data Wawancara mendalam dilakukan untuk wawancara semi-terstruktur dan kuesioner berbasis skala Likert yang disebarkan kepada wisatawan, masyarakat, dan pemerintah desa atau pengelola wisata. Wawancara menggali memberikan informasi terkait motivasi dan persepsi, kebijakan, serta partisipasi dalam pelestarian lingkungan, sedangkan kuesioner diperoleh dari studi pustaka dan dokumen digunakan untuk menilai tingkat kesiapan resmi seperti RPJMD. RTRW, dan RIPPDA infrastruktur, aksesibilitas, dan daya dukung Kabupaten Bone Bolango, serta literatur ilmiah yang digunakan untuk memperkuat Subjek Penelitian Data penelitian lapangan. Subjek penelitian terdiri atas tiga kelompok utama yang berperan langsung dalam aktivitas pariwisata di Kecamatan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Bone, yakni pengunjung . Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 alam berkelanjutan. Pendekatan masyarakat lokal, serta pemerintah desa dan kuantitatif digunakan untuk memberi skor terhadap kondisi infrastruktur, aksesibilitas. Pengunjung menggunakan metode Accidental Sampling (Sugiyono, 2. , yaitu siapa pun yang secara kebetulan ditemui dan memenuhi kriteria, seperti berusia minimal 15 tahun dan mampu memberikan penilaian terhadap fasilitas wisata. Masyarakat lokal dipilih pelestarian alam. Tahapan analisis meliputi Purposive Sampling sekitar lokasi wisata minimal lima tahun, infrastruktur dan aksesibilitas dengan sistem skoring yang dimodifikasi dari pedoman . (Sugiyono, 2. dengan kriteria tinggal di pelestarian lingkungan, serta memahami ADO-ODTWA dampak sosial ekonomi akibat pariwisata. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Sementara itu, responden dari pemerintah 2. , . analisis daya dukung lingkungan desa dan pengelola wisata dipilih secara berdasarkan parameter fisik, sosial, dan manajerial, serta . integrasi hasil analisis keterlibatan dalam pengelolaan kawasan. untuk menentukan tingkat keseimbangan Ketiga kelompok ini memberikan pandangan pembangunan dan keberlanjutan ekologis. Penilaian tabulasi nilai dan pembobotan mengacu pada (Direktorat ADO-ODTWA Jenderal lingkungan di kawasan wisata Kecamatan penyesuaian terhadap konteks penelitian agar Bone. Analisis Data indikator terhadap keberlanjutan pariwisata. Analisis pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk menilai hubungan antara kesiapan infrastruktur dan aksesibilitas terhadap daya dukung lingkungan dalam pengembangan Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Tabel 1. Penilaian Kesiapan Infrastruktur. Aksesibilitas, dan Daya Dukung Lingkungan Berbasis ADO-ODTWA Unsur Penilaian Skor Maksimal Skor Minimal Kriteria Kelayakan Infrastruktur dan Sangat Siap: 150Ae240Cukup Siap: Sarana Prasarana 100Ae150 Belum Siap: <100 Aksesibilitas Sangat Siap: 613Ae1150Cukup Siap: (Kondisi jalan, jarak, 434Ae613 Belum Siap: <434 transportasi umu. Ketersediaan Air Sangat Siap: 682Ae900 Cukup Siap: Bersih dan Sanitasi 492Ae682Belum Siap: <492 Kondisi Lingkungan Sangat Siap: 424Ae600Cukup Siap: Sekitar Kawasan 337Ae424Belum Siap: <337 Daya Dukung Sangat Siap: 243Ae450Cukup Siap: Kawasan (Ekologis 174Ae243Belum Siap: <174 & Sosia. Sumber: Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam . Rumus perhitungan skor mengacu Skor akhir hasil penilaian kemudian pada formula: diklasifikasikan ke dalam empat kategori ycI=ycAycuyaA tingkat kesiapan pengembangan wisata alam Keterangan: berkelanjutan seperti yang digambarkan pada S= skor total suatu kriteria. Tabel 2. N= nilai hasil observasi dan wawancara. B= bobot kriteria sesuai tingkat pengaruhnya. Tabel 2. Klasifikasi Kesiapan Pengembangan Wisata Alam Berkelanjutan Rentang Skor Total . ari skor maksimum 3. Kategori Kesiapan > 3. 000 Ae 3. Sangat Siap 400 Ae 3. Cukup Siap 800 Ae 2. Kurang Siap Interpretasi Kawasan memiliki infrastruktur memadai, aksesibilitas tinggi, dan daya dukung lingkungan sangat baik. layak dikembangkan sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Kawasan sudah memiliki dasar infrastruktur dan akses yang baik, namun masih perlu peningkatan fasilitas dan penguatan pengelolaan lingkungan. Infrastruktur dan aksesibilitas masih terbatas, pengelolaan lingkungan belum optimal, perlu intervensi kebijakan dan investasi infrastruktur. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya < 1. Belum Siap . Interpretasi dan Deskripsi Hasil Mongondow Selatan di sebelah timur. Teluk Hasil akhir analisis disajikan secara Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Kawasan belum layak dikembangkan karena keterbatasan infrastruktur dasar dan risiko terhadap kelestarian lingkungan masih tinggi. keterkaitan antara kesiapan infrastruktur dan Tomini di sebelah selatan, dan Kecamatan Bone Raya di sebelah barat. Sebagian aksesibilitas terhadap kapasitas daya dukung Kecamatan sebagai nelayan dan petani. Komoditas utama Pendekatan yang dihasilkan antara lain cengkeh dan berbagai jenis tanaman sayuran. Aktivitas tentang bagaimana pengembangan pariwisata ekonomi masyarakat juga didukung oleh di Kecamatan Bone dapat diarahkan menuju potensi pariwisata alam, terutama Pantai model pengelolaan wisata alam yang berdaya Taludaa. Kolam Bidadari, dan Air Terjun Ilohuuwa, yang menjadi daya tarik utama mengorbankan kelestarian lingkungan serta wilayah ini. Namun, meskipun memiliki kesejahteraan masyarakat lokal. potensi wisata yang tinggi, pengembangan Bone sektor pariwisata di Kecamatan Bone masih HASIL DAN PEMBAHASAN terkendala oleh keterbatasan infrastruktur. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Bone merupakan salah satu kecamatan di wilayah pesisir Kabupaten Bone Bolango yang berbatasan langsung Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan data BPS Kabupaten Bone Bolango tahun 2023. Kecamatan Bone memiliki 14 desa, dengan Desa Taludaa sebagai wilayah terluas . ,84%) dan Desa Cendana Putih sebagai wilayah terkecil . ,59%). Secara administratif. Kecamatan Bone berbatasan dengan Kecamatan Suwawa Timur di sebelah utara. Kabupaten Bolaang pengelolaan daya dukung lingkungan. Analisis Kesiapan Aksesibilitas. Infrastruktur. Daya Dukung Lingkungan Penilaian infrastruktur, aksesibilitas, dan daya dukung lingkungan di Kecamatan Bone dilakukan pada tiga objek wisata utama, yaitu Pantai Taludaa. Kolam Bidadari, dan Air Terjun Ilohuuwa. Penilaian ini mengacu pada Analisis Daerah Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Tabel 4. Hasil Penilaian Kesiapan Infrastruktur. Aksesibilitas, dan Daya Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Dukung Lingkungan di Wisata Kolam Konservasi Alam . Bidadari Dari 15 komponen yang terdapat dalam pedoman ADO-ODTWA, penelitian ini memfokuskan pada enam komponen utama yang relevan dengan tujuan studi, yaitu: aksesibilitas, kondisi sekitar kawasan, ketersediaan air bersih, dan daya dukung Keenam komponen ini dipilih karena paling mencerminkan keterkaitan Variabel Nilai Aksesibilitas Kondisi Sekitar Kawasan Akomodasi Sarana dan Prasarana Ketersediaan Air Bersih Daya Dukung Kawasan Sumber: Data primer, 2024 Skor Total antara kesiapan infrastruktur dan aksesibilitas Tabel 5. Hasil Penilaian Kesiapan terhadap daya dukung lingkungan dalam Infrastruktur. Aksesibilitas, dan Daya Dukung mendukung pengembangan wisata alam Lingkungan di Wisata Air Terjun Ilohuuwa Berikut masing lokasi wisata. Tabel 3. Hasil Penilaian Kesiapan Infrastruktur. Aksesibilitas, dan Daya Dukung Lingkungan di Wisata Pantai Taludaa Variabel Aksesibilitas Kondisi Sekitar Kawasan Akomodasi Sarana dan Prasarana Ketersediaan Air Bersih Daya Dukung Kawasan Sumber: Data primer, 2024 Variabel Nilai Aksesibilitas Kondisi Sekitar Kawasan Akomodasi Sarana dan Prasarana Ketersediaan Air Bersih Daya Dukung Kawasan Sumber: Data primer, 2024 Skor Total Skor Total Berdasarkan hasil penilaian pada ketiga lokasi wisata, dapat disimpulkan bahwa tingkat daya dukung lingkungan di Kecamatan Bone tergolong cukup baik, meskipun masih terdapat Nilai kesiapan infrastruktur dan aksesibilitas terhadap perbedaan tingkat kesiapan antar objek wisata. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Pantai Taludaa menunjukkan hasil Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 kawasan tergolong baik . karena penilaian yang relatif tinggi pada aspek tingkat kunjungan masih rendah dan kondisi lingkungan sekitar kawasan vegetasi alami di sekitar air terjun tetap . dan ketersediaan air bersih . Hal ini menandakan bahwa lingkungan terletak pada keterbatasan akses jalan pesisir masih cukup terjaga dan sumber menuju lokasi yang masih berupa tanah air alami di sekitar kawasan dapat dan bebatuan, serta fasilitas umum yang dimanfaatkan dengan baik. Namun, belum memadai. nilai rendah pada akomodasi . dan Secara umum. Kolam Bidadari dapat sarana prasarana . menunjukkan dikategorikan sebagai kawasan wisata yang keterbatasan fasilitas penunjang wisata, paling siap dikembangkan menuju konsep sehingga kawasan ini baru dapat wisata alam berkelanjutan, diikuti oleh Pantai dikategorikan sebagai cukup siap untuk Taludaa dan Air Terjun Ilohuuwa yang masih memerlukan peningkatan infrastruktur dasar. Namun. Kolam Bidadari memiliki skor tertinggi Meskipun demikian, ketiga lokasi memiliki pada ketersediaan air bersih . dan daya dukung lingkungan yang baik, sehingga kondisi sekitar kawasan . Lokasi masih berpotensi besar dikembangkan asalkan ini memiliki potensi besar untuk peningkatan aksesibilitas dan fasilitas dilakukan dikembangkan sebagai wisata alam secara bertahap dan berbasis konservasi lingkungannya masih sangat alami dan Dengan wisata alam di Kecamatan Bone perlu Namun, seperti halnya Pantai Taludaa, fasilitas penunjang seperti tempat keseimbangan antara peningkatan infrastruktur parkir, toilet umum, dan akomodasi dan kelestarian lingkungan sebagai dasar masih minim. pembangunan sektor pariwisata daerah. Air Terjun Ilohuuwa menunjukkan pola penilaian yang mirip dengan Kolam Analisis Komponen Kesiapan Infrastruktur. Bidadari. Aksesibilitas, aksesibilitas . dan ketersediaan air Lingkungan bersih . Daya dukung ekologis Aksesibilitas Daya Dukung Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Aksesibilitas merupakan faktor penting Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek yang menentukan kemudahan wisatawan dalam aksesibilitas di Kecamatan Bone berada pada menjangkau lokasi wisata. Menurut Lidiarti tingkat cukup siap, namun perlu dilakukan . , akses yang sulit bukan selalu menjadi peningkatan kualitas jalan, pemasangan rambu hambatan, melainkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menyukai transportasi wisata agar lebih layak dikunjungi Penilaian aspek aksesibilitas dalam oleh wisatawan umum. penelitian ini meliputi kondisi jalan darat, jarak Kondisi Sekitar Kawasan tempuh, tipe jalan, dan waktu perjalanan dari pusat kota maupun kecamatan. Kondisi lingkungan sosial ekonomi dan sumber daya alam di sekitar kawasan wisata Hasil pengamatan menunjukkan bahwa akses menuju Kecamatan Bone secara umum pengembangan wisata alam berkelanjutan. cukup baik, meskipun masih terdapat beberapa Partisipasi masyarakat setempat berperan besar titik jalan yang dalam tahap perbaikan. Berdasarkan sekaligus mendukung kesejahteraan ekonomi diperoleh sebesar 100 dengan skor total 500. Kondisi jalan dari Kota Gorontalo Hasil menuju Kecamatan Bone tergolong perbedaan kondisi antar objek wisata sebagai sebagian ruas sudah diaspal dan dicor, namun beberapa masih berupa A Wisata Pantai Taludaa: Sebagian besar tanah dan menjadi berlumpur saat masyarakat berprofesi sebagai nelayan Jarak perjalanan sekitar A45 km, dan petani. Sumber daya alam di dengan nilai indikator 40. kawasan ini kurang potensial karena Kondisi jalan dari pusat Kecamatan Bone ke lokasi wisata relatif baik Namun, dukungan masyarakat terhadap karena sebagian besar telah beraspal. pengembangan wisata sangat tinggi. Namun, beberapa ruas mengalami dengan nilai 160 dan skor total 800. kerusakan ringan dan jalan menuju A Wisata Kolam Bidadari: Terletak di pemukiman Desa Ilohuuwa masih Desa Ilohuuwa, dengan penduduk mayoritas lulusan SD dan berprofesi kendaraan roda empat. sebagai petani. Sumber daya alam masih terjaga baik, dan masyarakat Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 pemerintah daerah. Saat ini, pemerintah terhadap pengembangan wisata karena dianggap membuka peluang ekonomi pembangunan sarana pendukung di sekitar baru tanpa merusak hutan. Nilai yang kawasan wisata untuk meningkatkan daya tarik diperoleh 135 dengan skor 675. wisatawan dan lama tinggal mereka di wilayah Wisata Air Terjun Ilohuuwa: Berada di Sarana dan Prasarana Kolam Bidadari, sehingga hasil penilaian dan Sarana dan prasarana merupakan faktor tanggapan masyarakat relatif sama, dengan nilai 135 dan skor 675. wisatawan dalam beraktivitas. Komponen Secara sarana yang dinilai meliputi rumah makan, pusat perbelanjaan, bank, toko cenderamata, partisipasi dan kesadaran lingkungan yang baik, dan angkutan umum. Sementara prasarana meliputi kondisi jalan, jembatan, area parkir. Bone Kecamatan pengembangan wisata berbasis konservasi. Akomodasi jaringan listrik, dan air bersih. Akomodasi Pantai Taludaa memiliki beberapa sarana penunjang seperti rumah makan, pendukung penting bagi wisatawan agar dapat kios, bank mini, dan akses angkutan memperoleh kenyamanan selama berkunjung. Berdasarkan empat sarana Penilaian terhadap akomodasi didasarkan pada tersebut, nilai yang diperoleh sebesar ketersediaan penginapan dan jumlah kamar dalam radius 15 km dari lokasi wisata. Hasil Kolam Bidadari dan Air Terjun Ilohuuwa memiliki prasarana dasar seluruh objek wisata di Kecamatan Bone belum berupa jalan, jembatan, jaringan listrik, memiliki fasilitas penginapan yang memadai. dan air minum, dengan nilai 30, namun Tidak terdapat hotel, homestay, maupun losmen tidak memiliki sarana ekonomi atau di sekitar lokasi wisata. Nilai yang diperoleh untuk komponen ini sebesar 10 dengan skor Kondisi Ketiadaan fasilitas akomodasi disebabkan telekomunikasi di beberapa lokasi oleh belum adanya kebijakan promosi dan wisata juga masih terbatas. Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya jaringan operator tertentu yang dapat Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 Total nilai yang diperoleh dari seluruh indikator sebesar 115, dengan skor total 690. Secara keseluruhan, skor penilaian yang menunjukkan bahwa ketersediaan air untuk komponen ini masih rendah, yaitu 50 bersih di kawasan wisata Kecamatan Bone untuk Pantai Taludaa dan 35 untuk dua lokasi tergolong baik dan mendukung pengembangan Hal ini menunjukkan perlunya wisata berkelanjutan. pembangunan fasilitas dasar dan perawatan Daya Dukung Kawasan infrastruktur untuk menunjang kenyamanan Daya pengunjung dan meningkatkan daya saing menggambarkan kemampuan suatu ekosistem Ketersediaan Air Bersih menyebabkan degradasi lingkungan. Unsur- Ketersediaan air bersih menjadi faktor esensial dalam mendukung kegiatan wisata unsur yang dinilai meliputi jumlah pengunjung, jenis kegiatan wisata, dan luas area kegiatan. (Rengganis et al. , 2. Penilaian dilakukan Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan volume air, jarak sumber air, jumlah pengunjung di Air Terjun Ilohuuwa dan kemudahan penyaluran, kelayakan konsumsi. Kolam Bidadari masih kurang dari 50 orang per dan kontinuitas pasokan. hari, tergantung musim dan kondisi cuaca. Hal Hasil observasi menunjukkan bahwa ini berarti risiko kerusakan ekosistem akibat sumber air di Desa Taludaa dan Ilohuuwa aktivitas wisata masih sangat kecil. Jenis berasal dari hulu Sungai Bone, yang mengalir kegiatan yang dilakukan wisatawan umumnya sepanjang tahun dan dimanfaatkan oleh bersifat rekreatif seperti berfoto, berkemah, dan masyarakat serta wisatawan. Volume air tergolong banyak, dengan jarak sumber air antara 1Ae2 km dari lokasi wisata, sehingga memperoleh Skor penilaian untuk komponen ini nilai 30 untuk indikator volume dan 25 adalah 110 (Pantai Taluda. dan 90 (Kolam untuk jarak. Bidadari dan Air Terjun Ilohuuw. Hasil Air dapat dikonsumsi setelah dimasak tersebut menunjukkan bahwa daya dukung kawasan wisata alam di Kecamatan Bone masih berada dalam kategori aman, namun tetap ketersediaan sepanjang tahun . memerlukan pengawasan dan pengaturan . ilai Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 sepanjang tahun, serta kondisi lingkungan yang keberlanjutan lingkungan di masa mendatang. masih alami dan terjaga. Kawasan ini juga Rekapitulasi dan Analisis Hasil Penilaian Kesiapan Infrastruktur. Aksesibilitas, dan Daya Dukung Lingkungan Berdasarkan hasil penilaian pada ketiga objek wisata alam di Kecamatan Bone, yaitu Pantai Taludaa. Kolam Bidadari, dan Air Terjun Ilohuuwa, diperoleh total skor yang mencerminkan tingkat kesiapan masing-masing kawasan terhadap pengembangan wisata alam Rekapitulasi perbandingan total skor dapat dilihat pada tabel berikut: menunjukkan dukungan masyarakat yang kuat terhadap kegiatan wisata, sehingga potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam berkelanjutan sangat besar. Sementara itu. Pantai Taludaa dan Air Terjun Ilohuuwa sama-sama berada dalam kategori AuCukup Siap namun Memerlukan PenguatanAy, dengan skor masing-masing 2. %) dan 2. %). Kedua kawasan ini keterbatasan infrastruktur dasar seperti fasilitas umum, jalan yang belum sepenuhnya layak. Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Penilaian Kesiapan serta minimnya akomodasi bagi wisatawan. Infrastruktur. Aksesibilitas, dan Daya Dukung Meskipun Lingkungan Lokasi Wisata Total Skor potensi lingkungan yang baik dan daya dukung Persentase Kesiapan (%) Pantai Taludaa Kolam Bidadari Air Terjun Ilohuuwa Sumber: Data primer, 2024 ekologis yang masih terjaga. Secara keseluruhan, hasil analisis mengindikasikan bahwa kawasan wisata di Kecamatan Bone memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan, terutama apabila dilakukan peningkatan pada aspek infrastruktur, sarana penunjang, dan pengelolaan lingkungan. Diperlukan kolaborasi Hasil rekapitulasi menunjukkan bahwa antara pemerintah daerah, masyarakat lokal. Kolam Bidadari memiliki tingkat kesiapan dan pengelola wisata dalam merancang strategi tertinggi dengan skor 3. %), sehingga pembangunan yang selaras dengan prinsip dikategorikan AuSangat Siap dan BerkelanjutanAy. Dengan perbaikan berkelanjutan Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, pada aspek fisik dan kelembagaan, seluruh antara lain akses jalan yang relatif baik, kawasan wisata alam di Kecamatan Bone berpeluang menjadi destinasi unggulan yang Jurnal Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi di Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 dukung dan kapasitas pengunjung secara tingkat regional. kuantitatif, serta penilaian ekonomi lingkungan guna mengetahui nilai manfaat ekologis dan KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapan infrastruktur, aksesibilitas, dan sosial dari pengembangan wisata alam di wilayah ini. daya dukung lingkungan pada tiga objek wisata REFERENCES