Syntax Admiration: p-ISSN 2722-7782 | e-ISSN 27225356 Vol. No. Oktober 2024 Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Tungku Dapur Norwilistini. Maria Ulfah Institut Agama Islam (IAI) Darul Ulum Kandangan. Indonesia Email: norwilistiniwilis@gmail. Abstrak Bisnis kerajinan tungku dapur ini pada dasarnya dibatasi oleh modal, bahan baku, dan kesulitan memasarkannya. Pengrajin tungku dapur hanya bergantung pada permintaan pengepul, sehingga sulit bagi mereka untuk membuat produk tungku dapur dengan harga Selain itu pembeli lebih tertarik tertarik dengan produk yang lebih modern. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesejahteraan pengrajin tungku dapur di desa Banjar Baru Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan atau field research dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjeknya adalah para pengrajin tungku dapur, objeknya adalah kesejahteraan pengrajin tungku dapur. Sedangkan sumber datanya adalah responden dan informan dari berbagai pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan pengrajin tungku dapur di desa Banjar Baru Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang masuk kategori keluarga Pra Sejahtera (KPS) berjumlah 3 keluarga. Kategori Keluarga Sejahtera I berjumlah 13 keluarga. Kategori Keluarga Sejahtera II berjumlah 2 keluarga. Dan masuk kategori Keluarga Sejahtera i berjumlah 5 keluarga. Dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan pengrajin tungku dapur di desa Banjar Baru Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan didominasi oleh tahapan Keluarga Sejahtera I. Hal ini membuktikan bahwa para pengrajin tungku dapur belum bisa mencukupi indikator kebutuhan psikologis mereka. Kata kunci: Kesejahteraan. Pengrajin. Tungku dapur Abstract This kitchen stove craft business is basically limited by capital, raw materials, and difficulties in marketing. Kitchen stove craftsmen only depend on the demand of collectors, making it difficult for them to make kitchen stove products at high prices. addition, buyers are more interested in more modern products. This study aims to describe the welfare of kitchen stove craftsmen in Banjar Baru village. South Daha subdistrict Hulu Sungai Selatan Regency. This research is a field research using a qualitative descriptive approach. The subject is the kitchen stove craftsmen, the object is the welfare of the kitchen stove craftsmen. While the data sources are respondents and informants from various related parties. The results showed that the welfare of kitchen stove craftsmen in Banjar Baru Village. South Daha Sub-district. Hulu Sungai Selatan Regency, who were categorised as Pre-Prosperous families, totalled 3 families. The Prosperous Family I category totalled 13 families. The Prosperous Family II category totalled 2 families. And in the Prosperous Family i category, there were 5 families. can be concluded that the welfare of kitchen stove craftsmen in Banjar Baru Village. Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Tungku Dapur South Daha Sub-district. Hulu Sungai Selatan Regency is dominated by the Prosperous Family I stage. This proves that the kitchen stove craftsmen have not been able to fulfil their psychological needs indicators. Keywords: Welfare. Craftsmen. Kitchen stoves Pendahuluan Kesejahteraan merupakan konsep yang sangat umum di Indonesia dan memiliki hubungan kuat dengan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Pembangunan nasional bertujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak krisis ekonomi tahun 1998 banyak upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi tidak ada yang secara nyata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kualitas hidup rumah tangga ditentukan oleh tingkat kesejahteraan masyarakat. Keluarga dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik, yang pada gilirannya memungkinkan mereka menciptakan kondisi yang lebih mendukung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka (Dirdjosisworo, 2. Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa ada delapan indikator yang digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan, yaitu pendapatan, pengeluaran atau konsumsi rumah tangga, kondisi tempat tinggal, fasilitas hunian, kesehatan anggota keluarga, kemudahan akses layanan kesehatan, akses pendidikan, serta akses ke sarana transportasi (Badan Pusat Statistik, 2. Indonesia merupakan negara berkembang dengan angka kemiskinan yang tinggi, yang berdampak pada rendahnya kesejahteraan keluarga. Tingginya jumlah penduduk miskin membuat pencapaian tujuan negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat semakin sulit, meskipun pemerintah terus berupaya mengurangi kemiskinan. Pemerintah telah membuat banyak peraturan untuk mengatasi masalah ini, seperti bantuan konsumtif masyarakat dan bantuan produktif, tetapi disayangkan sekali bahwa kebijakan tersebut belum mampu mengatasi masalah penyakit sosial yang rumit ini (Meniarta et al. , 2. Memberikan bantuan langsung tidak cukup untuk menyelesaikan masalah kemiskinan karena bantuan biasanya hanya dapat memenuhi kebutuhan jangka Untuk mendorong masyarakat miskin mengubah nasibnya dilakukan berbagai upaya dengan memaksimalkan potensi-potensi sumber daya yang tersedia, usaha yang berorientasi jangka panjang harus memberi prioritas utama pada pembinaan sumber daya manusia dan sumber daya alam (Rojia et al. , 2. Kesuksesan pembangunan suatu wilayah dapat diukur melalui berbagai indikator kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat suatu negara dari sudut pandang (Oktriawan et al. , 2. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana mengklasifikasikan tingkat kesejahteraan keluarga ke dalam 5 tingkatan yakni tingkatan keluarga pra sejahtera. Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Norwilistini. Maria Ulfah tingkatan keluarga sejahtera I, tingkatan keluarga sejahtera II, tingkatan keluarga sejahtera i dan tingkatan keluarga sejahtera i . Tingkatan keluarga pra sejahtera yaitu keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan dasar . andang, pangan, papa. Keluarga sejahtera tingkat I memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Keluarga tingkat II memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan sosial psikologis seperti pendidikan, kesehatan, dan agama. Keluarga tingkat i memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis, dan kebutuhan pengembangan seperti tabungan, pendidikan khusus, dan akses ke Keluarga dalam tingkat kesejahteraan i memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan sosial dan psikologis, serta kebutuhan untuk berkembang dan aktualisasi diri ((BKKBN), 2. Pendapatan yang rendah setiap hari menyebabkan orang miskin biasanya tidak merasakan kesejahteraan atau kualitas pemenuhan kebutuhannya. Akibatnya sulit bagi mereka untuk bertahan hidup. Keluarga miskin harus membelanjakan pendapatannya terutama untuk makanan dan tempat tinggal (Samuelson, 2. Terpenuhinya kebutuhan yang diinginkan seseorang semakin mendekatkannya pada pencapaian kesejahteraan. Semakin tinggi pendapatan maka semakin besar kemungkinan untuk mencapai kesejahteraan yang tinggi. Pengertian kebahagiaan sangatlah luas dan relatif, karena standar pengukuran kebahagiaan seseorang berbeda-beda. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang tidak pernah puas dan oleh karena itu akan mengejar kesejahteraan tanpa batas waktu meskipun dengan penghasilan yang sedikit. Dari sudut pandang ekonomi, kesejahteraan dapat ditandai dengan tingkat pendapatan yang sebenarnya. Jika pendapatan riil seseorang atau masyarakat meningkat, maka kesejahteraan ekonomi orang atau masyarakat tersebut juga meningkat (Sitio, 2. Mencapai kesejahteraan merupakan dambaan setiap orang. Pertanyaannya adalah apa sebenarnya arti kebahagiaan dan bagaimana menerapkannya. Pertumbuhan ekonomi merupakan sarana untuk mencapai keadilan distributif karena menciptakan lapangan kerja baru. Dengan terciptanya lapangan kerja baru maka pendapatan riil masyarakat akan Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif mandiri yang dijalankan oleh perseorangan atau unit ekonomi yang bukan merupakan anak perusahaan atau afiliasi dari perusahaan yang secara langsung memiliki, mengendalikan, atau ikut serta dalam usaha besar dan menengah. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Kriteria Usaha Mikro. Kecil dan Menengah. Usaha mikro, kecil, dan menengah mempunyai peranan penting dalam perekonomian dan pendapatan nasional. UMKM terlibat langsung dalam penyelesaian berbagai permasalahan sosial ekonomi seperti pengangguran dan tingginya angka kemiskinan. UMKM sendiri memberikan lapangan kerja baru kepada Usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi alternatif taraf hidup masyarakat. Menurut (Rakib, 2. mengatakan bahwa mengembangkan potensi alam, budaya, dan kebudayaan melalui pengembangan industri kreatif berbasis kearifan lokal adalah konsep. Tradisi adalah milik masyarakat setempat, dan setiap masyarakat dapat secara langsung berkontribusi pada potensi yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan dengan menghasilkan uang. Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Tungku Dapur Ekonomi kreatif bukan hanya diukur dari segi ekonomi tetapi juga dapat diukur dari segi dimensi budaya. Dewasa ini, ide-ide kreatif yang muncul pada dasarnya bersumber dari kearifan lokal daerah. Produk yang dibuat dari berbagai bahan oleh pengrajin disebut kerajinan tangan. Pendapatan rumah tangga menunjukkan tingkat kesejahteraan mereka. Kerajinan tungku dapur adalah salah satu bidang industri skala Di mana kerajinan adalah hasil dari proses produksi manual yang melibatkan keterampilan tangan untuk membuat benda-benda sehari-hari yang berguna dan memiliki nilai estetika. (Gusni & Afdhal, 2. Salah satunya yaitu usaha kerajinan tungku dapur yang berlokasi di desa Banjar Baru Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Selatan. Pemilihan Desa Banjar Baru sebagai lokasi penelitian ini karena memiliki karakteristik unik, yaitu mayoritas penduduknya bekerja sebagai pengrajin tungku dapur, sebuah kerajinan tradisional yang masih dipertahankan hingga kini. Desa ini juga merupakan daerah dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah dibandingkan daerah lainnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kondisi ini menjadikan Desa Banjar Baru representatif untuk meneliti kesejahteraan pengrajin dalam konteks ekonomi mikro, terutama usaha kecil berbasis keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Banyak orang disini menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai pengrajin tungku dapur sebagai penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sebagian besar yang bekerja sebagai pengrajin tungku dapur adalah perempuan. Kerajinan tungku dapur merupakan kerajinan tradisional berupa alat dapur yang berbahan bakar arang kayu. Demikian juga dalam produksi kerajinan tungku dapur ini mengalami kendala dalam hal keterbatasan bahan baku dan persaingan pasarnya. Dengan latar belakang ini. Desa Banjar Baru menawarkan potret masyarakat pengrajin tradisional yang mengalami dinamika ekonomi dan sosial yang khas. Penelitian ini berfokus pada kesejahteraan pengrajin yang bukan hanya terkait dengan pendapatan, tetapi juga melibatkan aspek-aspek lain seperti akses pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian ini dapat memberikan panduan bagi pengambil kebijakan untuk merancang program-program yang lebih tepat sasaran dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pengrajin tradisional di wilayah pedesaan. Menurut (Yunani, 2. Penggunaan tenaga kerja dengan pendidikan rendah disebabkan oleh jenis pekerjaan yang merupakan ketrampilan, bakat alami, atau bakat turun temurun. Tenaga kerja ini sangat artistik, terampil, dan kreatif. Industri kecil dan menengah (UMKM), seperti industri kerajinan, tidak membutuhkan tenaga kerja dengan pendidikan tinggi. Karena itu, ada banyak lapangan kerja yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja seperti itu dan memberikan peluang kepada masyarakat di sekitar perusahaan. Para pengrajin tungku dapur memiki kendala dengan modal yang cukup tinggi dan penghasilan yang tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Para pengrajin tungku dapur biasanya hanya mampu menghasilkan produk tungku dapur yang setengah jadi karena modal terbatas, kemudian menjualnya ke distributor yang membeli produk yang dijualnya. Para pengrajin biasanya diberikan harga untuk satu buah produk tungku Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Norwilistini. Maria Ulfah dapur rata-rata senilai Rp. 000,00 per buah. Tiap bulannya para pengrajin hanya mampu membuat produk tungku dapur sebanyak 150 buah dengan modal Rp. 000,00 dan memperoleh penghasilan sebanyak Rp. 000,00. Untuk menghasilkan produk tungku dapur diperlukan ketelatenan yang tinggi dalam pembuatannya dan mengandalkan sinar matahari dalam proses pengeringan untuk menghasilkan produk tungku dapur yang Distributor hanya membakar tungku dapur dari setengah jadi tadi, namun dapat menjualnya dengan harga rata-rata senilai Rp. 000,00. Oleh sebab itulah hal ini merupakan suatu permasalahan yang dihadapi oleh para pengrajin tungku dapur akan kesejahteraan mere Metode Penelitian Metode analisis data yang digunakan penulis dalam menganalisis permasalahan adalah analisis data deskriptif kualitatif. Menurut (Arikunto, 2. penelitian deskriptif kualitatif adalah jenis penelitian yang bertujuan mengumpulkan teori atau pengetahuan mengenai subjek penelitian pada waktu tertentu. Penelitian ini lebih menekankan pada pemahaman mendalam terhadap suatu masalah, bersifat deskriptif, dan cenderung menggunakan analisis yang fokus pada proses serta makna. Proses penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data, menganalisis data melalui studi, observasi, serta analisis dokumen yang relevan dengan objek penelitian, dan diakhiri dengan pembuatan Data dan Sumber Data Data primer diperoleh melalui wawancara dengan subjek penelitian serta observasi atau pengamatan langsung di lapangan, yang dilakukan dengan para pengrajin tungku dapur di Desa Banjar Baru. Kecamatan Daha Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Data sekunder didapatkan dari berbagai sumber sekunder, seperti literatur, penelitian sebelumnya, buku, dan laporan kegiatan yang berkaitan dengan para pengrajin tungku dapur di Desa Banjar Baru. Kecamatan Daha Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Teknik Pengumpulan Data Selanjutnya, jika ditinjau dari metode atau teknik pengumpulan data, maka data dapat dikumpulkan melalui beberapa cara berikut: Triangulasi Triangulasi merupakan salah satu teknik dalam pengumpulan data untuk mendapatkan temuan dan interpretasi data yang lebih akurat dan kredibel. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu (Yusuf, 2. Wawancara Wawancara adalah pertemuan di mana dua orang bertemu untuk bertukar ide dan informasi melalui tanya jawab, sehingga memberikan makna tentang masalah tertentu (Sugiyono. Dokumentasi Teknik dokumentasi berfungsi untuk menyimpan catatan tentang kejadian yang telah terjadi. Dokumen dapat berupa tulisan, gambar, atau karya seni monumental seseorang, contohnya adalah catatan harian, sejarah kehidupan, peraturan, dan kebijakan. gambar, misalnya foto. Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Tungku Dapur sketsa, dan sebagainya. atau karya seni, misalnya patung, gambar, film, dan sebagainya (Mudrajat, 2. Penggunaan metode deskriptif kualitatif memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap indikator kesejahteraan ini. Pengumpulan data melalui wawancara terstruktur memberikan wawasan langsung tentang kehidupan sehari-hari para pengrajin, sementara observasi terhadap kondisi tempat tinggal melengkapi temuan ini. Misalnya, data mengenai kondisi tempat tinggal dikumpulkan dengan menilai secara visual setiap rumah tangga, yang memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan laporan verbal dari para pengrajin. Hasil dan Pembahasan Indikator kesejahteraan masyakakat merupakan ukuran capaian suatu masyarakat dimana suatu masyarakat dapat dikatakan sejahtera atau tidak. Kesejahteraan adalah tujuan dari seluruh keluarga. Kesejahteraan adalah tercapainya keadaan aman, tentram, dan sejahtera yang dialami oleh masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan material seperti sandang, pangan, kebutuhan spiritual seperti kebutuhan keagamaan dan kebutuhan sosial warga negara untuk hidup layak. Besar harapan seluruh keluarga untuk hidup yang sejahtera dari sisi penghasilan, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, kebutuhan primer dan sekunder lainnya. Berdasarkan alat ukur dengan enam indikator BKKBN tingat kesejahteraan pengrajin tungku dapur dapat dilihat seperti indikator berikut: Tempat Tinggal Menurut BKKBN secara umum rumah yang di tinggali mempunyai atap dan Rumah yang ditinggali oleh keluarga memiliki lantai dan dinding yang baik, sehingga layak untuk dihuni sebagai tempat berlindung dan beristirahat. Luas lantai setiap penghuni harus tidak kurang dari 8 m2, dan luas total rumah harus tidak kurang dari 8 Sebanyak 15 orang pengrajin tungku dapur memiliki luas lantai rumah kurang dari 8 m2 dan orang 8 pengrajin tungku dapur memiliki luas lantai rumah lebih dari 8 m2. Tabel 1 Data indikator tempat tinggal Kondisi Rumah Frekuensi Presentase (%) Layak huni Kurang layak Jumlah Pendidikan Indikator pendidikan oleh BKKBN mengatakan bahwa jenjang pendidikan yang harus dijalani adalah seluruh anak usia 7-15 tahun di dalam keluarga bersekolah. Seluruh anggota keluarga yang usianya 7-15 tahun agar dapat melaksanakan pendidikan dengan mengikuti wajib belajar 9 tahun. Anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa baca tulis latin. Dari 23 orang pengrajin terdapat 13 orang pengrajin tungku dapur yang putus sekolah di tingkat SD/Sederajat, 8 orang dapat menyelesaikan sekolah di tingkat Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Norwilistini. Maria Ulfah SD/Sederajat, dan 2 orang yang mampu menyelesaikan sekolah di tingkat SMP/Sederajat. Sementara itu dari 14 orang keluarga pengrajin yang memiliki anak yang berusia 7-15 tahun bersekolah. Dan 9 orang pengrajin tungku dapur yang berumur 10-60 tahun tidak bisa baca tulis latin. Tabel 2 Data indikator pendidikan Tingkat pendidikan Frekuensi Presentase (%) Tidak lulus SD/sederajat Lulus SD/sederajat Lulus SMP Jumlah Alasan dari rendahnya tingkat pendidikan pengrajin dikarenakan pada saat itu orang tua para pengrajin tidak memiliki cukup biaya untuk memberikan pendidikan kepada mereka. Akses jalan menuju tempat-tempat sekolah pun cukup sulit dan transportasi yang tidak memadai. Kesehatan Kesehatan dalam indikator BKKBN memiliki beberapa kategori, pertama apabila ada anggota keluarga sakit maka harus di bawa ke sarana kesehatan. Kedua keluarga harus sehat sehingga dapat melakukan tugas dan tanggung jawab mereka dalam tiga bulan terakhir, dan ketiga pasangan usia subur yang ingin melakukan KB harus pergi ke fasilitas perawatan kontrasepsi. Tabel 3 Data indikator Kesehatan Frekuensi Presentase (%) Berobat Ke Pelayanan Kesehatan Tidak Berobat Ke Pelayanan Kesehatan Jumlah Masih Menggunakan KB Pernah enggunakan KB Tidak Menggunakan KB sama Jumlah Ada 23 orang dalam kategori pertama, yang berarti bahwa salah satu anggota keluarga harus dibawa ke rumah sakit jika mereka sakit. 17 orang dalam kategori kedua yang dapat melakukan tugas dan fungsi mereka dalam tiga bulan terakhir dan 6 orang keluarga mengalami sakit. Adapun yang memenuhi kategori poin ketiga terdapat 5 orang yaitu dan apabila pasangan usia subur ingin ber KB pergi ke sarana pelayanan Sementara 17 orang lainnya sudah tidak mengunakan KB ataupun pergi ke sarana layanan kontrasepsi dikarenakan sudah lanjut usia dan 1 orang memilih untuk tidak menggunkan KB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pengrajin tungku dapur di Desa Banjar Baru. Kecamatan Daha Selatan, masuk dalam kategori Keluarga Sejahtera I Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Tungku Dapur . %), dengan proporsi lebih kecil yang termasuk dalam Keluarga Pra-Sejahtera . %) dan Keluarga Sejahtera i . %). Klasifikasi ini ditentukan berdasarkan enam indikator yang ditetapkan oleh BKKBN. Tempat Tinggal: Sebagian besar responden . %) tinggal di rumah yang dikategorikan layak huni menurut standar BKKBN, dengan atap dan lantai yang Namun, 13% pengrajin tinggal di rumah yang tidak memenuhi standar tersebut, menunjukkan adanya kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar tempat tinggal (Tabel . Pendidikan: Tingkat pendidikan para pengrajin tergolong rendah, dengan 56,5% tidak menyelesaikan sekolah dasar. Rendahnya tingkat pendidikan ini dapat menjadi penghambat dalam meningkatkan kondisi ekonomi mereka (Tabel . Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan umum terjadi di industri kecil berbasis keterampilan (Yunani, 2. Kesehatan: Dalam hal kesehatan, 74% keluarga melaporkan mencari perawatan medis saat diperlukan, sedangkan 26% lainnya tidak, kemungkinan karena kendala finansial atau akses (Tabel . Hal ini menunjukkan adanya kerentanan kesehatan yang signifikan dalam komunitas tersebut. Pola Konsumsi (Makan. Lauk. Pakaian, dan Interaksi dalam Keluarg. Pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan, dan interaksi sangat penting bagi Pola hidup sehat merupakan gaya hidup yang memperhatikan semua aspek kesehatan, mulai dari asupan makanan dan minuman, nutrisi yang dikonsumsi, hingga perilaku sehari-hari. Ini termasuk rutinitas olahraga yang membantu menjaga kondisi tubuh serta mencegah berbagai faktor yang dapat menyebabkan penyakit (Asri et al. Menurut BKKBN pola konsumsi yang harus dipenuhi yaitu makan dua kali sehari atau lebih, makan daging, telor, atau ikan setidaknya sekali seminggu, melakukan kebiasaan makan bersama seminggu sekali untuk berkomunikasi, dan semua anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja, sekolah, dan bepergian. Tabel 4. Data Pola Konsumsi Indikator Frekuensi Presentase (%) Makan 2x sehari Makan 3x sehari Jumlah Melakukan interaksi bersama Tidak Melakukan interaksi Jumlah Membeli pakaian tiap tahun Tidak membeli pakaian tiap Jumlah Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Norwilistini. Maria Ulfah Hasil di lapangan diketahui terdapat 9 orang keluarga pengrajin tungku dapur yang makan 2x sehari dan 14 orang keluarga yang makan 3x sehari. Pada umumnya seluruh keluarga pengajin paling kurang seminggu sekali seluruh anggota keluarga makan dengan ayam, ikan dan telor. 20 orang keluarga pengrajin tungku dapur melakukan kebiasaan makan bersama yang dimanfaatkan sebagai media interaksi dalam keluarga. Sementara 3 orang lainnya tidak mempunyai keluarga atau hidup sendiri. Pada umumnya seluruh keluarga pengajin dan anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian. Sementara 17 orang keluarga pengrajin tungku dapur dapat membeli pakaian paling kurang satu stel pakaian dalam setahun pada saat hari raya. Dan 6 orang keluarga pengrajin tungku dapur tidak mampu membeli pakaian dalam satu tahun sekali dan hanya memperoleh pakaian dari saudara dekat maupun dari anaknya. Adapun juga hanya mampu membeli pakaian bekas. Kagamaan dan Sosial (Saran Informas. Pemenuhan kebutuhan spiritual dan sosial merupakan bagian penting dalam Menurut Badan Keagamaan dan Sosial (BKKBN), keagamaan dan sosial . arana informas. adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh Setiap keluarga berusaha untuk belajar tentang agama mereka, sebagian besar anggota keluarga beribadah sesuai dengan agama mereka, terlibat dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka, dan ada anggota keluarga yang aktif bertanggung jawab atas perkumpulan sosial, yayasan, atau institusi masyarakat. Tabel 5 Data Informasi Sumber informasi Frekuensi Media Online Televisi Jumlah Presentase (%) Seluruh pengrajin dan anggota keluarga berusaha meningkatkan pengetahuan agama dengan pergi ke pengajian di sekitar desa mapun diluar desa. Dan pada umumnya setiap anggota keluarga juga telah melaksanakan ibadah sesuai dengan agama masingmasing. Seluruh anggota pengrajin tidak bisa secara teratur dengan suka rela memberikan sumbangan materil untuk kegiatan sosial. 19 orang pengrajin dapat memperoleh sarana informasi melalui media Handphone maupun TV. Dan 4 orang tidak dapat memperoleh informasi melalui media seperti Handphone. TV, radio, surat kabar dan lainnya. Pendapatan Pendapatan keluarga merujuk pada rata-rata penghasilan yang diperoleh oleh anggota keluarga. Namun, menilai tingkat kesejahteraan berdasarkan pendapatan sering kali sulit dilakukan. Oleh karena itu, sebagai alternatif . untuk mengukur pendapatan keluarga, digunakan pendekatan pengeluaran per kapita keluarga (Sugiharto et al. , 2. Menurut BKKBN indikator pendapatan yang harus dipenuhi yaitu ada Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Tungku Dapur seseorang atau lebih anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh pendapatan dan sebagian sisanya ditabung. Tabel 6 Data pendapatan Frekuensi Presentase (%) 1 orang yang bekerja 2 orang atau lebih yang bekerja Jumlah Dari 23 orang pengrajin tungku dapur terdapat 19 orang dari keluarga pengrajin yang memiliki 1 orang atau lebih dalam keluarga yang bekerja untuk memperoleh Dan 4 orang keluarga pengrajin tidak memiliki anggota lainnya yang bekerja. Ada 4 orang dari 19 orang keluarga pengrajin tungku dapur yang memiliki 1 orang atau lebih anggota keluarganya yang bekerja dan memiliki tabungan Berdasarkan semua indikator yang sudah disebutkan sebelumnya tingkat kesejahteraan pengrajin tungku dapur di desa Banjar Baru Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatandapat dilihat sebagai berikut: Tabel 7 Data tingkat kesejahteraan Frekuensi Presentase (%) Keluarga pra sejahtera Keluarga sejahtera I (KS I) Keluarga sejahtera II (KS II) Keluarga sejahtera i (KS . Jumlah Dari semua indikator BKKBN yang ada dapat dinyatakan bahwa pengrajin tungku dapur di desa Banjar Baru Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang masuk kategori keluarga Pra Sejahtera (KPS) sebesar 13,04%. Tahapan Keluarga Pra Sejahtera (KPS) adalah keluarga yang belum mampu memenuhi salah satu dari 6 . indikator Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator "kebutuhan dasar keluarga" . asic need. Sebanyak 56,52% pengrajin tungku dapur di Desa Banjar Baru. Kecamatan Daha Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan termasuk dalam kategori Keluarga Sejahtera I (KS I). Tahapan Keluarga Sejahtera I adalah keluarga yang mampu memenuhi 6 . indikator kesejahteraan tahap I, namun belum dapat memenuhi salah satu dari 8 . indikator Keluarga Sejahtera II, yaitu indikator "kebutuhan psikologis" . sychological Sebanyak 8,69% pengrajin tungku dapur di Desa Banjar Baru. Kecamatan Daha Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan termasuk dalam kategori Keluarga Sejahtera II (KS II). Tahapan Keluarga Sejahtera II adalah keluarga yang mampu memenuhi 6 . indikator Keluarga Sejahtera I dan 8 . indikator Keluarga Sejahtera II, namun Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Norwilistini. Maria Ulfah belum dapat memenuhi salah satu dari 5 . indikator Keluarga Sejahtera i (KS . , yaitu indikator "kebutuhan pengembangan" . evelopmental need. Sebanyak 21,73% pengrajin tungku dapur di Desa Banjar Baru. Kecamatan Daha Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan termasuk dalam kategori Keluarga Sejahtera i (KS . Tahapan Keluarga Sejahtera i mencakup keluarga yang mampu memenuhi 6 . indikator Keluarga Sejahtera I, 8 . indikator Keluarga Sejahtera II, dan 5 . indikator Keluarga Sejahtera i, namun belum dapat memenuhi salah satu dari 2 . indikator Keluarga Sejahtera i Plus (KS i Plu. , yaitu indikator "aktualisasi diri" . elf-estee. Kesimpulan Pengrajin tungku dapur di desa Banjar Baru Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang masuk kategori keluarga Pra Sejahtera (KPS) berjumlah 3 keluarga atau keluarga yang belum bisa memenuhi salah satu dari indikator dasar Kategori Keluarga Sejahtera I berjumlah 13 keluarga atau keluarga yang belum bisa memenuhi salah satu indikator kebutuhan psikologis. Kategori Keluarga Sejahtera II berjumlah 2 keluarga atau keluarga yang belum bisa memenuhi salah satu indikator kebutuhan pengembangan. Dan masuk kategori Keluarga Sejahtera i berjumlah 5 keluarga atau keluarga yang belum bisa memenuhi salah satu indikator kebutuhan aktualisasi diri. Beberapa temuan utama dari penelitian ini antara lain: Kondisi Tempat Tinggal: Sebagian besar pengrajin tinggal di rumah yang layak huni, meskipun masih ada sebagian kecil . %) yang tinggal di rumah yang tidak memenuhi standar kelayakan. Pendidikan: Tingkat pendidikan pengrajin tergolong rendah, dengan lebih dari setengah pengrajin tidak menyelesaikan pendidikan dasar, yang berkontribusi pada keterbatasan ekonomi mereka. Kesehatan: Sebagian besar keluarga pengrajin mencari perawatan medis saat diperlukan, namun ada 26% yang tidak memiliki akses atau kemampuan untuk mendapatkan perawatan kesehatan, menunjukkan adanya kerentanan kesehatan dalam kelompok ini. Pendapatan dan Konsumsi: Mayoritas pengrajin memiliki anggota keluarga yang bekerja, namun pendapatan mereka masih rendah, yang menyebabkan pola konsumsi yang sederhana dan keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pengrajin tungku dapur di Desa Banjar Baru masih belum sepenuhnya mencapai kesejahteraan yang optimal, terutama dalam pemenuhan kebutuhan sosial, psikologis, dan pengembangan. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut dari pemerintah dan pihak terkait untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, serta menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik bagi para pengrajin ini. Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024 Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Tungku Dapur Bibliografi (BKKBN). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Arikunto. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. (No Titl. Asri. Lestarini. Husni. Muspita. , & Hadi. Edukasi Pola Hidup Sehat Di Masa Covid-19. Jurnal Abdi Populika, 2. , 56Ae63. Badan Pusat Statistik. Badan Pusat Statistik. https://w. id/pressrelease: https://w. id/pressr Dirdjosisworo. Pengantar Ilmu Hukum. Raja Grafindo Persada. Gusni. , & Afdhal. Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Anyaman Mensiang Di Jorong Taratak Nagari Kubang Kecamatan Guguak Kabupaten 50 Kota. Jurnal Buana, 3. , 590. https://doi. org/10. 24036/student. Meniarta. MasAo udi. , & Dwipayana. Dinamika sistem kesejahteraan dan modal sosial di masyarakat Banjar Pakraman-Bali. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 13. , 231Ae248. Mudrajat. Penelitian Kualitatif. Bumi Aksara. Oktriawan. Adriansah. , & Alisa. Tingkat Kesejahteraan Masyarakat di Desa Campakasari Kecamatan Campaka Kabupaten Purwakarta. Lisyabab : Jurnal Studi Islam Dan Sosial, 2. , 199Ae210. https://doi. org/10. 58326/jurnallisyabab. Rakib. Strategi Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Penunjang Daya Tarik Wisata. Journal of Chemical Information and Modeling, 8. , 1Ae58. Rojia. Maya. , & Santi. Pemetaan Tingkat Kesejahteraan di Desa Tangaran Kabupaten Sambas Kalimantan Barat Menurut Indikator Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Jurnal Global Futuristik: Kajian Ilmu Sosial Multidisipliner, 1. , 8Ae14. Samuelson. Ilmu Makro Ekonomi (H. Munandar . )). Media Global Edukasi. Sitio. Koperasi : Teori dan Praktik,. Erlangga. Sugiharto. Hartoyo. , & Muflikhati. Strategi nafkah dan kesejahteraan keluarga pada keluarga petani tadah hujan. Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, 9. , 33Ae42. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Yunani. The Potential Analysis of Micro Economic Development in District Hulu Sungai Tengah. EcoPlan, 1. , 36Ae46. Yusuf. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif & Penelitian Gabungan. Kencana. Copyright holder: Norwilistini. Maria Ulfah . First publication right: Syntax Admiration This article is licensed under: Syntax Admiration. Vol. No. Oktober 2024