Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. ISSN 2549-3353 Asupan biokimia, dankolesterol status sindrom Jus tomat tetapi metabolik tidak berefek tekanan darah Diyah Candra Anita Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Jalan Siliwangi (Ring Road Bara. No. 63 Nogotirto. Gamping. Sleman. Yogyakarta 55292. Indonesia candra@gmail. *corresponding author Tanggal Submisi: 2 November 2019. Tanggal Penerimaan: 20 Desember 2019 Abstrak Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perbedaan tekanan darah dan kadar kolesterol responden yang diberikan dan tidak diberikan jus tomat. Metode penelitian ini adalah eksperimen semu. Sampel yang digunakan 20 orang, dengan 10 orang kelompok kontrol dan 10 orang berikutnya kelompok perlakuan. Pemberian 200 cc jus tomat dilakukan selama 14 hari dan diberikan setiap pagi hari sebelum makan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna kadar kolesterol darah . =0,. , namun tidak terdapat perbedaan bermakna tekanan darah baik sistolik . =0,. maupun diastolik . =0,. pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan setelah pemberian jus tomat 14 hari. Kata kunci: tekanan darah. kolesterol darah. jus tomat Abstract The purpose of this study was to evaluate differences in blood pressure and cholesterol levels of respondents who were given and not given tomato juice. This research method is quasi-experimental. The sample used 20 people, with 10 people in the control group and the next 10 people in the treatment group. Giving 200 ccs of tomato juice is done for 14 days and is offered every morning before eating. The results showed there were significant differences in blood cholesterol levels . =0. , but there were no significant differences in both systolic blood pressure . =0. and diastolic . =0. in the control group and the treatment group after 14 days of tomato juice Keywords: blood pressure. blood cholesterol. tomato juice PENDAHULUAN Aterosklerosis merupakan penyebab kematian utama laki-laki dan wanita di seluruh dunia. Aterosklerosis adalah suatu penyakit yang mengenai pembuluh darah arteri, yang diawali dengan pembentukan plak aterosklerotik pada dinding arteri, sehingga menyebabkan penebalan dinding dan penyempitan lumen. Aterosklerosis 31101/jhes. doihttps://doi. org/10. 31101/jhes. Doi: This is an open access article under the CCAeBY-SA license. Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. ISSN 2549-3353 dan penyakit Asupan gizi, status dan seperti status stroke (Nasution, 2. Banyak faktor yang dapat menyebabkan aterosklerosis. Faktor risiko tersebut adalah faktor genetik, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, usia, kelamin pria, kebiasaan merokok, hiperkolesterol, hipertensi, obesitas, diabetes mellitus, kurang aktivitas fisik, dan menopause (Anwar, 2. Hiperkolesterol pada darah mampu menyebabkan perkembangan aterosklerosis baik pada hewan maupun manusia, bahkan tanpa adanya faktor risiko yang lain (Samson. Mundkur, & Kakkar, 2. Angka penderita hiperkolesterolemia semakin meningkat setiap tahunnya. Menurut penelitian, angka penderita hiperkolesterolemia di Indonesia mengalami peningkatan yaitu sebesar 13,4% menjadi 16,2% untuk wanita dan 11,4% menjadi 14,0% untuk pria. Pada tahun 2004, prevalensi hiperkolesterolemia di Indonesia mencapai 10,9% dari total populasi penduduk (Anwar, 2. Menurut penelitian Seprianti . , kadar kolesterol yang tinggi khususnya pada pria, sangat berisiko terjadi peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Penelitian yang dilakukan oleh Margarita et al. , . menyimpulkan bahwa menjaga kadar kolesterol total dalam batas normal merupakan salah satu upaya untuk mencegah Kadar kolesterol darah yang tinggi atau sering disebut hiperkolesterolemia cenderung dipengaruhi oleh gaya hidup yang salah. Gaya hidup tersebut antara lain pola makan yang tinggi kandungan lemak dan kolesterol, kurang mengkonsumsi makanan berserat . uah dan sayu. , kebiasaan merokok, minum kopi, pola makan yang tidak teratur, stres emosional, dan jarang berolahraga (Nasution, 2. Sebagai salah satu bentuk pencegahan penyakit kardiovaskular yang berkelanjutan, maka pengendalian terhadap kadar kolesterol mutlak kita perlukan untuk mencapai derajat sehat. Rekomendasi kadar kolesterol total yang baik menurut American Heart Association (AHA) adalah kurang dari 200 mg/dL, dan akan diklasifikasikan hiperkolesterol apabila kadarnya lebih dari 240 mg/dL (Palozza et al. Pengendalian kadar kolesterol dapat dilakukan dengan terapi farmakologi dan non-farmakologi guna mengurangi risiko berkembangnya aterosklerosis. Terapi farmakologi yang sering digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol darah adalah statin dan niasin. Kedua obat tersebut mampu menghambat sintesis kolesterol, namun keduanya memiliki efek samping yang merugikan bagi tubuh. Statin dapat mengakibatkan miopati dan kerusakan hati (Palozza et al. , 2. , sedangkan niasin dapat menimbulkan mual dan nyeri abdomen pada sebagian orang, serta meningkatkan kadar asam urat (Dwijayanti, 2. Dikarenakan besarnya risiko akibat terapi farmakologi, maka diperlukan terapi lain yang murah, mudah, dan minim risiko untuk mengendalikan kadar kolesterol darah. Salah satu zat yang mampu menghambat sintesis kolesterol adalah lycopene. Lycopene merupakan pigmen karotenoid alami yang paling banyak ditemukan pada tomat serta produk olahan tomat. Lycopene juga terdapat pada buah-buahan lainnya, seperti pepaya, semangka, jambu, dan jeruk, namun kadarnya tidak setinggi pada tomat (Palozza et al. , 2. Ried & Fakler . menyebutkan bahwa konsumsi tinggi lycopene dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk aterosklerosis, infark miokard, dan stroke. Mekanisme biokimia yang mendasari efek protective lycopene terhadap perkembangan penyakit kardiovaskular adalah menurunkan kandungan kolesterol-LDL . ow density lipoprotein, bertindak sebagai antioksidan alami sehingga mampu mengurangi oksidasi lipid dan lipid peroksidase, mengatur Diyah Candra Anita. Fina Dyah Pramesti (Jus tomat mampu menurunkan kolesterol tetapi tidak berefek A) ISSN 2549-3353 Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. yang terlibat Asupan gizi, status dan status perkembangan penyakit kardiovaskular, dan menurunkan kadar kolesterol total (Navarro-Gonzylez et al. , 2. Lycopene merupakan agen hipokolesterolemik karena mampu memodulasi aktivitas enzim hydroxyl-3methylglutaryl-CoA reductase (HMGCR), yang terlibat dalam jalur biosintesis kolesterol. Penghambatan HMGCR yang dilakukan oleh lycopene menyerupai efek yang dilakukan oleh obat statin dalam menurunkan kadar kolesterol total (Navarro-Gonzylez et al. , 2. Lycopene juga mampu meningkatkan pengambilan dan degradasi LDL oleh makrophag, dan dapat meningkatkan pengaturan reseptor LDL, sehingga kadar LDL dalam darah dapat berkurang (Preedy & Waston. Selain lycopene, buah tomat juga kaya akan senyawa fenolik, yaitu asam klorogenik, rutin, dan naringenik. Senyawa fenolik tersebut mampu menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol total, menekan aktivitas sitokin pro-inflamasi, dan menekan aktivitas HMGCR (Navarro-Gonzylez et al. , 2. Lycopene yang terkandung dalam tomat, mampu menjaga elastisitas tunika intima dan tunika media pembuluh darah sehingga mampu menurunkan peningkatan tekanan perifer yang menyebabkan hipertensi (Li & Xu, 2. Mengingat manfaat akan kandungan tomat cukup banyak, maka konsumsi tomat secara teratur dipercaya mampu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol dengan disertai efek samping yang minimal. Tomat akan lebih mudah dikonsumsi jika diolah dalam bentuk jus, sehingga penyerapan tubuh terhadap tomat akan lebih mudah dan cepat. Tomat yang dibuat dalam bentuk jus akan lebih enak dikonsumsi jika ditambahkan madu sebagai pemanis Madu merupakan bahan alami yang memiliki khasiat untuk menurunkan hiperglikemia, bilirubin, trigliserid. VLDL, dan LDL, serta mampu meningkatkan HDL dalam darah (Erejuwa, 2. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perbedaan tekanan darah dan kadar kolesterol total responden yang diberikan dan tidak diberikan jus tomat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik komparasi terhadap kadar kolesterol dan tekanan darah dengan penggunaan metode penelitian eksperimen Pemberian jus tomat dibuat dari tomat sebanyak 200 gram yang dicuci bersih, lalu potong tomat menjadi beberapa bagian kemudian masukkan ke dalam blender, berikan 21 gram madu atau setara dengan 1 sendok makan dan tambahkan air sebanyak 125 cc, kemudian blender tomat tersebut. Dari 200 cc jus tomat untuk sekali minum selama 2 minggu atau 14 hari (Anggraeni. Rosalina, & Aniroh, 2. Pemberian jus tomat dilakukan satu kali setiap pagi hari sebelum makan. Pengukuran tekanan darah dilakukan pukul 06. 00 WIB. Pengukuran kadar kolesterol sebelum dan sesudah pemberian jus tomat dengan menggunakan alat GCU digital merek Easytouch. Sebelum pengukuran, responden dianjurkan berpuasa selama 9 jam, mulai dari jam 22. 00 sampai dengan 07. 00 WIB. Pengukuran tekanan darah maupun kolesterol diukur pada hari ke-0 dan hari ke-15. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh responden Dusun Ngrame Tamantirto Kasihan Bantul, yang berusia dewasa (>18 tahun - 59 tahu. dan memiliki kadar kolesterol >200 mg/dL. Jumlah populasi adalah 20 orang. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling, yang terbagi menjadi dua kelompok. Diyah Candra Anita. Fina Dyah Pramesti (Jus tomat mampu menurunkan kolesterol tetapi tidak berefek A) Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. ISSN 2549-3353 10 orang 10 orang Asupan gizi,merupakan status biokimia. Analisis hasil untuk penelitian ini menggunakan program statistik. Skala data yang digunakan adalah skala numerik yang disajikan dalam bentuk rerata A Standard Error of Mean (SEM). Sebelum analisis, dilakukan uji normalitas data terlebih dahulu. Data yang berdistribusi normal diuji dengan statistik parametrik. Uji statistik independent t-test digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan tekanan darah dan kadar kolesterol pada responden yang diberikan dan yang tidak diberikan jus tomat. Penelitian ini dilakukan di RT 02 Dusun IV Ngrame Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta, pada tanggal 5-19 September 2016. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Usia 45-50 Tahun 51-55 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Total Tabel 1. Karakteristik responden Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Presentase (%) 65,00 35,00 40,00 60,00 15,00 45,00 20,00 15,00 5,00 100,00 Berdasarkan hasil penelitian . yang dilakukan di wilayah RT 02 Dusun IV Ngrame Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta selama 14 hari, diketahui bahwa responden yang memiliki kadar kolesterol >200 mg/dL banyak dialami pada usia 45-55 tahun yaitu sebanyak 13 orang . %). Menurut Info Datin Kemenkes . pada usia tersebut mulai terjadi proses penuaan dan metabolisme menjadi lambat, sehingga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Pada usia 45-55 tahun akan terjadi proses penuaan pembuluh darah. Faktor usia mempengaruhi kemunduran fungsi tubuh termasuk kekakuan pembuluh darah . engkerut dan menu. Bertambahnya usia juga mempengaruhi penurunan fungsi hormon estrogen dan testosteron dalam mendistribusikan lemak, sehingga memungkinkan terjadinya penumpukan lemak dalam tubuh. Bahayanya jika penumpukan lemak ini menempel pada dinding pembuluh darah maka penimbunan ini akan mempersempit aliran darah, apalagi jika pembuluh darah telah menua. Kondisi ini akan mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah jantung dan penyakit jantung koroner (Handajani, 2. Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 12 orang . %). Penelitian Handajani . menyebutkan bahwa pada usia ini perempuan biasanya sedang mencapai puncak karir, dan justru pada masa tersebut mereka akan mengalami menopause . sia 45Ae55 tahu. Kondisi menopouse dapat menurunkan produksi hormon wanita . strogen dan progestero. Dengan penurunannya, maka distribusi lemak tubuh mulai terganggu. Penimbunan lemak yang tidak terdistribusi dengan baik akan mempengaruhi metabolisme tubuh. Diyah Candra Anita. Fina Dyah Pramesti (Jus tomat mampu menurunkan kolesterol tetapi tidak berefek A) Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. ISSN 2549-3353 Bila proses gizi, ini diikuti pola makan, gaya hidup, dan aktivitas tidak pegawai sehat secara Asupan dan status berkepanjangan, maka setelah usia 60 tahun individu akan rentan terhadap serangan penyakit degeneratif. Sebagian besar responden berpendidikan Sekolah Dasar yaitu 9 orang . %). Menurut Rahmawati . , tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan menerima dan mengolah informasi yang diperoleh menjadi suatu perlakuan yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Tingkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi kemampuan mendengar, menyerap informasi, menyelesaikan masalah, perilaku dan gaya hidup. Latar belakang pendidikan akan mempengaruhi pola pikir seseorang tentang kesehatan guna menjaga kesehatannya. Rahmawati . mengemukakan bahwa orang yang mempunyai pendidikan rendah lebih berisiko stroke 6,2 kali dibanding orang yang berpendidikan tinggi. Tabel 2. Hasil pengukuran kadar kolesterol pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pre-test dan post-test Kadar Kolesterol Kadar Kolesterol . g/dL) . g/dL) Subyek Subyek Kelompok Perlakuan Selisih Selisih Kelompok Kontrol Penelitian Penelitian Pre Test Post Test Pre Test Post Test -38,6 Rerata Rerata Sumber: data primer Tabel 3. Hasil uji normalitas Kadar Kolesterol Darah (KKD) pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol Variabel Signifikansi Saphiro Wilk Keterangan Pre-test KKD kelompok perlakuan 0,808 Terdistribusi normal Post-test KKD kelompok perlakuan 0,634 Terdistribusi normal Pre-test KKD kelompok kontrol 0,666 Terdistribusi normal Post-test KKD kelompok kontrol 0,922 Terdistribusi normal Sumber: data primer Tabel 4. Hasil uji statistik paired t-test dan independent t-test Kadar Kolesterol Darah (KKD) pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol Uji Statistik Kelompok Perlakuan Paired t-test Kontrol Independent ttest Perlakuan vs Kontrol pValue 16,921 0,006 13,385 0,177 186,30 29,334 227,50 18,969 Variabel Mean Pre-test KKD Post-test KKD Pre-test KKD Post-test KKD Post-test KKD Post-test KKD kontrol 186,30 224,90 227,50 220,60 0,002 Interpretasi Berbeda Tidak berbeda NBbermakna Berbeda Sumber: data primer Diyah Candra Anita. Fina Dyah Pramesti (Jus tomat mampu menurunkan kolesterol tetapi tidak berefek A) Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. ISSN 2549-3353 Asupan gizi, status biokimia, dan status sindrom metabolik pegawai pre-test pre-test post-test pre-test post-test post-test 3-hydroxy-3-methylglutaryl-CoA reductase 9-oxo-ODA Peroxisome Proliferator-Activated Receptor pre-test pre-test post-test post-test et al. genomwide linkage Diyah Candra Anita. Fina Dyah Pramesti (Jus tomat mampu menurunkan kolesterol tetapi tidak berefek A) Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. ISSN 2549-3353 Tabel 5. Hasil tekanan darah sistolik pada kelompok dan kelompok Asupan gizi,pengukuran status biokimia, dan status pre-test dan post-test Subyek Penelitian TD Sistolik . Kelompok Perlakuan Pre-test Rerata Sumber: data primer Post-test Selisih Subjek Penelitian -14,6 Rerata TD Sistolik . Kelompok Kontrol Pre-test Post-test Selisih Tabel 6. Hasil pengukuran tekanan darah diastolik pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pre-test dan post-test TD Diastolik TD Diastolik . Kelompok Subyek Subyek Kelompok Perlakuan Selisih Selisih Kontrol Penelitian Penelitian Pre-Test Post-Test Pre-Test Post-Test -0,7 Rerata Rerata Sumber: data primer Tabel 7. Hasil uji normalitas tekanan darah sistolik dan diastolik pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol Variabel Signifikansi Saphiro Wilk Keterangan pre-test Sistolik kelompok perlakuan 0,275 Terdistribusi normal post-test Sistolik kelompok perlakuan 0,002 Tidak terdistribusi normal pre-test Diastolik kelompok perlakuan 0,129 Terdistribusi normal post-test Diastolik kelompok perlakuan 0,001 Tidak terdistribusi normal pre-test Sistolik kelompok kontrol 0,824 Terdistribusi normal post-test Sistolik kelompok kontrol 0,218 Terdistribusi normal pre-test Diastolik kelompok kontrol 0,189 Terdistribusi normal post-test Diastolik kelompok kontrol 0,006 Tidak terdistribusi normal Sumber: data primer Diyah Candra Anita. Fina Dyah Pramesti (Jus tomat mampu menurunkan kolesterol tetapi tidak berefek A) Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. ISSN 2549-3353 Tabel 8. Hasil statistik wilcoxon dan paired darah pada kelompok perlakuan Asupan gizi,ujistatus dan t-test Uji Statistik Wilcoxon Kelompok Perlakuan Paired t-test Kontrol Wilcoxon Variabel kelompok kontrol Mean pre-test Sistolik post-test Sistolik pre-test Diastolik post-test Diastolik pre-test Sistolik post-test Sistolik pre-test Diastolik post-test Sistolik 142,60 128,00 82,00 81,30 137,90 144,60 83,50 137,90 20,228 26,712 9,226 16,600 18,876 22,147 13,134 Z/t pValue 1,601 0,109 0,280 0,779 1,105 0,298 1,429 0,153 Interpretasi Tidak berbeda Tidak berbeda Tidak berbeda Tidak berbeda 18,876 Sumber: data primer Tabel 9. Hasil uji statistik mann whitney selisih rerata tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok perlakuan dan kelompok kelompok kontrol Variabel Mean p-Value Interpretasi post-test TD sistolik 136,30 25,355 -1,925 0,054 Tidak berbeda bermakna post-test TD diastolik Tidak berbeda bermakna 85,35 14,492 -1,815 0,070 Sumber: data primer Hasil penelitian . menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan dari pemberian jus tomat terhadap perubahan tekanan darah sistolik . =0,. dan tekanan darah diastolik . =0,. pada responden dewasa di Dusun Ngrame Tamantirto Yogyakarta. Pemberian jus tomat mampu menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik hingga -14,6 mmHg dan tekanan darah diastolik hingga -0,70 mmHg pada kelompok perlakuan . Sementara itu pada kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan, tidak ditemukan adanya perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik, justru terjadi peningkatan rerata 6,7 mmHg pada tekanan sistolik dan 5,9 mmHg . pada tekanan diastolik . Tidak adanya perbedaan bermakna pada responden kelompok perlakuan dikarenakan ada 2 responden yang memiliki peningkatan tekanan darah sistolik setelah perlakuan dan 1 orang responden yang tetap tekanan darahnya Sedangkan pada tekanan darah diastolik, terdapat 3 responden yang mengalami peningkatan dan 1 responden yang tetap. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Kailaku. Dewandari, dan Sunarmani . , yang juga menemukan adanya pengaruh signifikan dari pemberian jus tomat terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada perempuan postmenopause. Pada penelitian Gajendragadkar et al. , jus tomat dapat memberikan efek penurunan tekanan darah sistolik hingga -11,76 mmHg dan penurunan tekanan darah diastolik hingga -8,82 mmHg. Beberapa dugaan yang mampu menjelaskan mengapa tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok perlakuan yang pertama adalah pemberian jus tomat baru dilakukan selama 14 hari. Penelitian yang dilakukan oleh Bhowmik et al . menyebutkan bahwa pemberian tomat sebanyak 200 gr/hari mampu menurunkan tekanan darah setelah diberikan selama 3-6 minggu. Tomat dapat menurunkan tekanan darah karena tomat kaya akan kandungan kalium, flavonoid, likopen yang dikenal dapat menurunkan tekanan darah. Kalium dalam tomat memiliki khasiat diuretik sehingga konsumsi tomat yang kaya akan kalium akan meningkatkan retensi natrium, hal tersebut Diyah Candra Anita. Fina Dyah Pramesti (Jus tomat mampu menurunkan kolesterol tetapi tidak berefek A) ISSN 2549-3353 Journal Health of Studies Vol 4. No. 1 Maret 2020, pp. Kalium juga berguna untuk menghambat Asupan gizi, menurunkan status biokimia, renin sehingga dalam sistem renin angiotensin, agiotensinogen tidak dapat diubah menjadi angiotensin I. Tekanan darah sistolik berkurang 0,9 mmHg dan diastolik dapat berkurang 0,8 mmHg jika asupan kalium mencapai 1000mg per hari. Efek antihipertensif kalium dilakukan melalui beberapa mekanisme yaitu natriuresis, menghambat reabsorpsi natrium di tubulus renal proksimal dan menekan sekresi renin, menormalkan kadar substansi digitalis plasma, meningkatkan volume ekskresi urin, relaksasi otot halus melalui produksi oksida nitrat, menekan pembentukan radikal bebas, dan melindungi pembuluh darah dari luka akibat hipertensi (Chauhan et al. Alasan kedua,disebabkan karena responden tidak dikelola dietnya. Hal ini disebabkan peneliti lebih berfokus pada pencarian responden dengan kadar kolesterol yang tinggi, bukan pada tekanan darahnya yang tinggi. Karena rerata tekanan darah responden normal tinggi, sehingga responden tidak dilakukan pengendalian diet rendah Menurut Lorenz et al . , bahwa penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologi dan non-farmakologi. Penatalaksanaan farmakologi menggunakan obat-obatan anti hipertensi, penatalaksanaan non-farmakologi meliputi penurunan berat badan untuk responden yang obesitas, diet sesuai anjuran DASH (Dietary Approach to Stop Hypertentio. , diet rendah garam, dan meningkatkan aktivitas fisik. Alasan ketiga, faktor yang mempengaruhi tekanan darah ada beberapa macam. Salah satunya adalah stres. Penelitian ini tidak mampu mengkondisikan pasien terhindar dari stres, baik stres individu maupun stres dari lingkungannya. Hubungan antara tingkat stres dengan tekanan darah diduga melalui aktivitas saraf simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Stres atau ketegangan jiwa . asa tertekan, murung, bingung, cemas, berdebar-debar, rasa marah, dendam, rasa takut dan rasa bersala. , dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepas hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat (Mike & Kravitz, 2. Penderita hipertensi yang mendapatkan penatalaksanaan hipertensi atau tidak, cenderung memiliki tekanan darah yang tinggi meski ada kalanya tekanan darah berada dalam batas normal. Kondisi akan diperburuk dengan adanya peningkatan tekanan darah akibat stres, maka tekanan darah akan menjadi semakin tinggi. Apabila kondisi ini terjadi terus menerus dalam waktu yang lama tanpa penanganan yang tepat maka tekanan darah tinggi tersebut akan sulit dikontrol. Tekanan darah yang tidak terkontrol, akan menjadikan penyebab utama penyakit stroke (Prasetyorini, 2. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna kadar kolesterol darah responden pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan setelah pemberian jus tomat 14 hari . =0,. , namun tidak terdapat perbedaan bermakna tekanan darah baik sistolik . =0,. maupun diastolik . =0,. pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan setelah pemberian jus tomat selama 14 hari. SARAN