Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 ANALYSIS OF WRITTEN MATHEMATICAL COMMUNICATION SKILLS VIA PROBLEM BASED LEARNING IN STORY PROBLEMS Makrifatul Khoiriyah1. Yus Mochamad Cholily*2. Alfiani Athma Putri Rosyadi3. Akhsanul InAoam4 Pendidikan Matematika. Universitas Muhammadiyah Malang. Indonesia e-mail: 1rifamk1704@gmail. com, 2*yus@umm. id, 3alfi_rosyadi@umm. id, 4akhsanul@umm. ABSTRAK Kemampuan komunikasi matematis sangat penting untuk pembelajaran matematika, terutama dalam memahami dan menyelesaikan soal cerita, yang membutuhkan pemahaman konsep dan penyampaian ide secara sistematis. Salah satu cara untuk membantu siswa memperoleh kemampuan tersebut adalah dengan menerapkan metode pembelajaran berbasis masalah (PBL), yang memungkinkan mereka untuk terlibat secara aktif dalam proses pemecahan masalah dan eksplorasi masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan komunikasi matematis tulisan siswa melalui penerapan PBL pada penyelesaian soal cerita. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek sebanyak 8 siswa kelas VII. Data dikumpulkan melalui tes tertulis, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis berdasarkan tiga indikator utama: visualisasi konsep, penggunaan simbol matematika, dan kemampuan menulis penjelasan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa secara umum berada dalam kategori tinggi dalam komunikasi matematis tulisan, dengan rata-rata skor 78, tetapi ada perbedaan di antara siswa: empat siswa berada dalam kategori tinggi . , satu siswa dalam kategori sedang . , dan tiga siswa dalam kategori rendah . Siswa dalam kategori tinggi mampu menuliskan solusi dengan runtut dan jelas, sementara siswa dalam kategori rendah masih mengalami kesulitan menyusun argumen matematis. Dengan demikian. PBL dapat membantu siswa dalam komunikasi matematis tulisan, terutama dalam memahami dan menyelesaikan soal cerita. Kata kunci: Komunikasi Matematis Tulisan. Problem-Based Learning (PBL). Soal Cerita. Matematika ABSTRACT Mathematical communication skills are crucial for mathematics learning, especially in understanding and solving word problems, which require conceptual understanding and systematic delivery of ideas. One way to help students acquire these skills is by implementing problem-based learning (PBL) methods, which enable them to be actively involved in the problem-solving and exploration process. This study aims to analyze students' written mathematical communication skills through the application of PBL to solving word problems. Subjects and Methods: The research method used was descriptive qualitative with 8 seventh-grade students as subjects. Data were collected through written tests, observations, and documentation, then analyzed based on three main indicators: concept visualization, use of mathematical symbols, and the ability to write explanations systematically. Results: According to the study, students were generally in the high category in written mathematical communication, with an average score of 78, but there were differences among students: four students were in the high category . , one student in the medium category . , and three students in the low category . Students in the high category were able to write solutions coherently and clearly, while students in the low category still had difficulty constructing mathematical arguments. PBL can help students in written mathematical communication, especially in understanding and solving story problems. Keywords: Written Mathematical Communication. Problem-Based Learning (PBL). Story Problems. Mathematics PENDAHULUAN Dalam pembelajaran matematika, soal cerita sering menjadi tantangan tersendiri bagi Banyak menyelesaikan soal cerita karena mereka tidak hanya harus memahami konsep matematika, tetapi juga mampu menafsirkan informasi dari narasi soal, memilih strategi yang tepat, dan mengkomunikasikan penyelesaiannya secara Untuk mengatasi hal ini, siswa perlu memiliki kemampuan komunikasi matematis, yaitu menyampaikan ide, memahami konsep, serta menginterpretasikan informasi melalui gambar, grafik, simbol, dan bahasa matematika (Putri and Musdi 2. Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kemampuan ini karena menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dan mendorong keterlibatan aktif melalui pemahaman dan diskusi masalah PBL matematis siswa. Komunikasi ini terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu lisan dan Komunikasi lisan mencakup diskusi, matematika, sedangkan komunikasi tertulis melibatkan penyajian ide menggunakan simbol, gambar, atau bahasa sendiri (Maryati et , 2022. Nugraha and Pujiastuti, 2. https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 412 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Kemampuan memahami dan menyampaikan konsep matematika dengan cara yang jelas dan sistematis, baik secara lisan maupun tulisan. Indikator matematis menurut (Putri and Musdi 2. menampilkan konsep matematika dalam bentuk yang sesuai dengan masalah, seperti gambar, tabel, diagram, grafik, atau ekspresi aljabar, . menggunakan bahasa dan simbol matematika yang sesuai dengan masalah, dan . memilih serta menulis strategi (Dalimunthe. Mulyono, and Syahputra 2. menambahkan indikator lain, yaitu . menggambarkan masalah sehari-hari dalam . menuliskan data dari pernyataan ke dalam model atau bahasa matematika. Dalam penelitian ini, indikator komunikasi matematis tertulis mengacu pada (Putri and Musdi 2. , yaitu . menampilkan konsep matematika dalam bentuk yang sesuai dengan masalah, seperti gambar, tabel, diagram, grafik, atau ekspresi aljabar, . menggunakan bahasa dan simbol matematika yang sesuai dengan masalah, dan . memilih serta menulis strategi Komunikasi matematis berperan penting dalam pembelajaran, terutama dalam penyelesaian Soal mengharuskan siswa memahami masalah dalam bentuk narasi sebelum menerapkannya ke dalam perhitungan matematis. Dalam proses ini, siswa perlu menafsirkan informasi, menyusun strategi penyelesaian, serta mengomunikasikan jawaban secara tertulis maupun lisan (Nasruddin and Jahring 2. Soal cerita juga sering dikaitkan dengan situasi kehidupan nyata. Hal ini membantu siswa menghubungkan konsep matematika dengan pengalaman sehari-hari mereka (MaAorifah dkk. Untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami konsep matematika tetapi juga dapat menyelesaikan soal cerita dengan baik, metode pembelajaran yang tepat Guru memiliki peran penting dalam merancang pembelajaran yang kreatif dan Perancangan pembelajaran yang tepat membuat pelajaran lebih mudah dipahami siswa (Lubis and Rahayu 2. PBL adalah salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara matematis (Utami. Anwar, and Muksar 2. PBL mendorong siswa untuk menyelesaikan masalah nyata melalui eksplorasi, diskusi, dan kolaborasi dengan teman sebaya (Mawarni and Hidayat 2. Metode ini berbeda dengan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 metode konvensional yang berpusat pada PBL menekankan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya mencari jawaban. Mereka juga memahami proses berpikir yang digunakan dalam menyelesaikan masalah (Aprila and Fajar Pendekatan ini sejalan dengan tujuan komunikasi matematis. PBL membantu siswa menyusun dan menyampaikan konsep matematis secara tulis (Ramadhan et al. Berdasarkan latar belakang, penelitian perlu dilakukan tentang kemampuan siswa untuk komunikasi matematis dan tulisan ketika PBL menyelesaikan soal cerita. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan siswa dalam komunikasi matematis dan tulisan saat PBL menyelesaikan soal cerita. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas PBL dalam matematis siswa. Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan pendekatan pembelajaran yang paling efektif untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan lebih baik dan hasil belajar siswa dimaksimalkan. METODE Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita dengan model PBL. Oleh karena itu, desain penelitian ini dipilih sebagai penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini berfokus matematis tertulis saat menyelesaikan soal Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Plumpang. Kabupaten Tuban. Jawa Timur, pada semester genap tahun akademik 2024/2025. Subjek penelitian terdiri dari 8 siswa kelas VII yang dipilih secara purposive kemampuan akademik. Teknik pengumpulan data meliputi tes tulis, observasi, dan Selama proses pembelajaran, observasi digunakan untuk melacak aktivitas siswa, test tulis digunakan untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis mereka, dan dokumentasi digunakan sebagai data Instrumen penelitian terdiri dari lembar observasi, soal tes uraian, dan dokumentasi pekerjaan siswa. Proses penelitian terdiri dari empat tahap utama: persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan analisis data (Faizah and Sugandi 2. Pada tahap persiapan, peneliti https://ejournal. id/index. php/mp | 413 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . melakukan studi literatur, merumuskan tujuan penelitian, serta menyusun instrumen utama berupa soal tes tertulis yang dirancang untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis siswa secara tertulis. Menyusun modul ajar berbasis PBL, yang digunakan dalam proses pembelajaran materi garis dan sudut, adalah bagian dari tahap perencanaan. Penulis juga E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 membuat metrik komunikasi matematis tertulis yang akan digunakan untuk menganalisis pekerjaan siswa. Penelitian ini menggunakan indikator kemampuan komunikasi matematis tertulis dari (Putri and Musdi 2. yang disajikan pada Tabel berikut: Tabel 1. Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis Tertulis. No. Indikator Gambaran: konsep dari masalah bentuk nyata seperti diagram atau gambar. Ekspresi atau simbol matematika untuk mengekspresikan sebagai bentuk ide atau sehari-hari. Menulis: kegiatan yang menjelaskan ide atau A A A A A A A A A A Deskripsi Penilaian Gambar segitiga siku-siku yang menunjukkan situasi batang kayu lengkap dengan label panjang sisi dan sudut sesuai informasi soal. Gambar segitiga siku-siku dibuat lengkap, tetapi beberapa label panjang sisi atau sudut kurang tepat atau tidak sesuai. Gambar segitiga siku-siku dibuat, tetapi informasi panjang sisi atau sudut tidak Tidak ada gambar atau gambar tidak relevan dengan soal. Simbol dan notasi matematika digunakan dengan benar untuk menyelesaikan masalah . ontoh: penerapan teorema Pythagora. Simbol dan notasi matematika digunakan, tetapi terdapat sedikit kesalahan dalam perhitungan atau penerapan konsep. Simbol atau notasi digunakan dengan banyak kesalahan, tetapi masih relevan dengan penyelesaian soal. Tidak menggunakan simbol atau notasi matematika yang sesuai dalam Penjelasan langkah-langkah dan jawaban akhir sangat jelas, runtut, menggunakan bahasa sendiri, dan mudah dipahami. Penjelasan cukup jelas, tetapi kurang runtut atau terdapat beberapa kesalahan dalam penggunaan bahasa yang tidak memengaruhi pemahaman inti. Penjelasan kurang jelas atau tidak menggunakan bahasa sendiri, tetapi ide utama dapat dipahami. Tidak ada penjelasan atau penjelasan sangat sulit dipahami. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran berbasis PBL yang terdiri dari dua kali pertemuan. Siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan soal cerita berbasis konteks, lalu diberi tes tertulis secara individu untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi matematis tertulis. Pada tahap analisis data, jawaban siswa dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Setiap indikator diberi skor dengan skala 0Ae4. Selanjutnya, skor tiap indikator dikonversikan ke dalam bentuk persentase menggunakan yaya = Keterangan: ycu y 100 ycAycA Nilai rata-rata tiap indikator Jumlah nilai yang diperoleh seluruh siswa pada setiap indikator Nilai maksimal tiap indikator Hasil rata-rata tiap indikator kemudian berdasarakan tabel berikut: Tabel 2. Konversi Kategori Kualitas berdasarkan Persentase Kriteria Ket Tinggi Rata-rata nilai tes Ou ycUI 0,5yc ycUI 0,5yc O ycycaycyca Oe ycycaycyca ycuycnycoycaycn ycyceyc < ycUI 0,5yc Sedang Rata-rata nilai tes < ycUI Oe 0,5yc Rendah Sumber: (Adaptasi dari Aldona, 2. Selanjutnya, rumus berikut digunakan untuk matematis rata-rata: ycIya = ycycycoycoycaEa ycuycnycoycaycn ycyceycoycycycEa ycycnycycyca ycaycaycuycycayco ycycnycycyca Keterangan: RK: rata-rata kemampuan komunikasi matematis Nilai perhitungan rata-rata kemampuan komunikasi matematis siswa dapat disesuaikan dengan tabel berikut untuk menentukan standar kemampuan mereka: Tabel 3. Kriteria Konversi Kemampuan Komunikasi Siswa Kriteria Rata-rata nilai tesOu ycUI 0,5yc Keterang Tinggi ycUI 0,5yc O ycycaycyca Oe ycycaycyca ycuycnycoycaycn ycyceyc < ycUI 0,5yc Sedang Rata-rata nilai tes < ycUI Oe 0,5yc Rendah Sumber: (Adopsi dari Aldona, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penulis menjelaskan bagaimana penggunaan PBL untuk menyelesaikan soal cerita meningkatkan kemampuan https://ejournal. id/index. php/mp | 414 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . siswa dalam komunikasi matematis dan Analisis dilakukan berdasarkan tiga indikator: gambaran . isualisasi konse. , ekspresi matematika . enggunaan simbol dan notas. , dan menulis . enjelasan bahasa sendir. Subjek penelitian terdiri dari tiga siswa: F . ategori tingg. M . ategori sedan. , dan H . ategori renda. Berikut ini hasil analisis berdasarkan masing-masing kategori siswa. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 bahasa sendiri, dan mudah dipahami. Hasil ini menghubungkan visualisasi, simbolisasi, dan penjelasan matematis dengan baik. Siswa dengan Kemampuan Sedang (M) Table 4. Hasil Data Tes Soal No. Nama Total Keseluruhan Nilai Rata-Rata Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Rendah Rendah Rendah Tinggi Siswa dengan Kemampuan Tinggi (F) Gambar 2. Siswa dengan Kemampuan Sedang Siswa M menunjukkan kemampuan komunikasi matematis tulisan yang cukup baik, namun masih perlu ditingkatkan. Pada indikator gambaran. M membuat gambar segitiga sikusiku, tetapi beberapa label sisi kurang lengkap dibandingkan siswa F. Dalam indikator ekspresi matematika. M sudah menggunakan simbol dan notasi matematika dengan benar, meskipun terdapat sedikit kekurangan dalam sistematika perhitungan. Pada indikator menulis. M dapat menjelaskan penyelesaian soal, namun penjelasannya kurang runtut dan penggunaan bahasa sendiri belum maksimal. Secara keseluruhan. M mampu memahami konsep dasar, tetapi perlu meningkatkan ketelitian dan kerapian dalam penyajian. Siswa dengan Kemampuan Rendah (H) Gambar 1. Siswa dengan Kemampuan Tinggi Siswa F menunjukkan kemampuan komunikasi tulisan matematis yang luar biasa. Indikator gambaran F memiliki kemampuan untuk menghasilkan gambar segitiga siku-siku yang lengkap dengan label panjang sisi dan sudut yang sesuai dengan data yang diberikan. Pada indikator ekspresi matematika. F menggunakan simbol dan notasi matematika secara tepat tanpa adanya kesalahan. Pythagoras. Dalam indikator menulis. F menuliskan langkah-langkah penyelesaian dengan sangat jelas, runtut, menggunakan https://ejournal. id/index. php/mp | 415 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Gambar 3. Siswa dengan Kemampuan Rendah Siswa H masih kurang dalam berkomunikasi secara tulisan dan matematis. Tidak ada visualisasi konsep pada indikator gambaran karena H tidak membuat gambar atau segitiga. Dalam indikator ekspresi matematika. H mencoba menggunakan simbol dan notasi matematika, namun terdapat banyak kesalahan dalam penerapan konsep. Pada indikator menulis. H memberikan penjelasan yang kurang jelas, tidak runtut, dan ide utama sulit dipahami. Ini menunjukkan bahwa H masih kesulitan menghubungkan informasi soal dengan representasi matematika dan menyusun informasi secara sistematis. Tabel 5. Representasi Kemampuan Komunikasi Matematis Tulis Siswa Indikator Gambaran Ekspresi Matematika Menulis Siswa F (Tingg. Gambar Simbol Sangat jelas dan Siswa (Sedan. Gambar label tidak Siswa (Renda. Tidak Simbol Cukup jelas Simbol Kurang tidak runtut Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis tulisan siswa bervariasi sesuai dengan kategori Siswa dengan kategori tinggi (F) mampu menampilkan gambaran masalah, menggunakan simbol matematika dengan tepat, serta menjelaskan penyelesaian soal secara sistematis menggunakan bahasa Siswa dalam kategori sedang (M) sudah mampu memahami konsep, namun Sementara siswa dalam kategori rendah (H) masih mengalami kesulitan dalam mengekspresikan ide secara sistematis. Secara keseluruhan, penerapan PBL efektif dalam membantu meningkatkan komunikasi matematis siswa, meskipun tetap diperlukan pendampingan intensif bagi siswa dengan kemampuan rendah. Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya (Putri & Musdi, 2020. Dalimunthe et al. , 2. yang menekankan pentingnya aspek visualisasi, penggunaan simbol, dan penulisan bahasa sendiri dalam komunikasi matematis. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan kategori kemampuan siswa, kemampuan komunikasi matematis dan tulisan siswa kelas VII berbeda saat menggunakan PBL untuk menyelesaikan soal cerita. Siswa kategori tinggi memiliki pemahaman konsep yang cukup baik, tetapi kurang dalam ketelitian penyajian gambar dan runtutan penulisan. Mereka juga mampu menampilkan visualisasi masalah, menggunakan simbol matematika dengan benar, dan menjelaskan solusi dengan bahasa sendiri secara sistematis. Siswa kategori rendah mengalami kesulitan dalam simbol matematika secara tepat, dan menyusun penjelasan dengan bahasa sendiri. Secara umum, siswa memiliki kemampuan komunikasi matematis tulisan yang baik, ini menunjukkan bahwa PBL efektif dalam matematis tulisan mereka. DAFTAR PUSTAKA