https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Hubungan Harga Diri dan Empati dengan Perilaku Schadenfreude Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X Angkatan 2018 Indah Wulandari1 dan Tanti Susilarini2 Fakultas Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. Jl. Diponegoro No. 74 Jakarta Pusat Indonesia Email: indahwlndri18@gmail. com1, tanti. gestalt@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri dan empati dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 200 mahasiswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 121 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tiga skala, yaitu skala perilaku schadenfreude, harga diri, dan Hasil analisis multivariate correlation antara harga diri dan empati dengan perilaku schadenfreude diperoleh nilai R = 0. 775 dengan p = < 0. < 0. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif dengan taraf signifikan antara harga diri dan empati dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018. Pada analisis data reggresion dengan metode enter menunjukkan bahwa harga diri dan empati memberikan kontribusi sebesar 60% pada perilaku schadenfreude. Sedangkan hasil analisis data reggression dengan metode stepwise, menunjukkan bahwa variabel empati memiliki kontribusi yang lebih dominan sebesar 44% terhadap perilaku schadenfreude. Kata kunci: Perilaku Schadenfreude. Harga Diri, dan Empati. ABSTRACT This study aims to determine the relationship between self-esteem and empathy with schadenfreude behavior in students of the Faculty of Communication Sciences University X batch 2018. The population in this study amounted to 200 students. The sampling technique used in this study was purposive sampling with a total sample of 121 students. The data collection technique used three scales, namely the Schadenfreude behavior scale, self-esteem, and empathy. The results of the multivariate correlation analysis between self-esteem and empathy with schadenfreude behavior obtained a value of R = 0. 775 with p = < 0. < 0. This shows that there is a negative relationship with a significant level between self-esteem and empathy with schadenfreude behavior in students of the Faculty of Communication Sciences. University X batch 2018. The regression data analysis using the enter method showed that self-esteem and empathy contributed 60% to schadenfreude behavior. While the results of the regression data analysis using the stepwise method, show that the empathy variable has a more dominant contribution of 44% to Schadenfreude's Keywords: Schadenfreude Behavior. Self-Esteem, and Empathy. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive PENDAHULUAN Pada hakikatnya, setiap manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian di dunia ini dan akan senantiasa membutuhkan manusia lain beserta lingkungannya sebagai salah satu upaya mempertahankan hidup. Sehingga dalam diri manusia akan muncul dorongan untuk menjalin hubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Seiring dengan adanya perkembangan dalam berinteraksi antar individu, kerap terjadi permasalahan sosial yaitu hasil dari situasi tertentu yang dicerminkan pada tingkah laku individu dan kelompok, atau wujud perilaku yang muncul di suatu lingkungan dengan ciri-ciri tertentu (Wiryokusumo, 2. Sehingga dengan adanya permasalahan sosial tersebut, individu sering mendapatkan problematika kehidupan yang ada kalanya diwarnai dengan berbagai macam perilaku manusia yang tidak sesuai dengan harapan individu. Hal ini sering terjadi tidak terkecuali pada bidang pendidikan, salah satunya yaitu pada mahasiswa (Zulvikar, 2. Mahasiswa dalam menjalankan tugas maupun kewajibannya dianggap tidak mudah karena adanya salah satu kelemahan pada mahasiswa yang membuat dirinya tidak mampu dalam mengendalikan setiap emosi dan tingkah laku, salah satunya yaitu perilaku schadenfreude (Lestari & Setiowati, 2. Kilapong . berpendapat bahwa schadenfreude tanpa disadari sering terjadi di sekitar individu, salah satunya terjadi pada subjek penelitian ini yaitu mahasiswa. Sikap iri yang sering dirasakan oleh membandingbandingkan diri atas pencapaian yang telah dimiliki oleh orang lain menjadi salah satu schadenfreude tersebut. Schadenfreude mulai muncul pertama kalinya di Jerman dalam sebuah karya tulis yang telah disusun oleh Christian Heinrich Spiess pada tahun 1739 dengan judul Biographies Suicides. Kata schadenfreude merupakan bahasa Jerman yang berasal dari kata schaden yang memiliki arti kegagalan atau malapetaka dan kata freude yang memiliki arti gembira dan sukacita (Aurelia, 2. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku schadenfreude yaitu harga diri. Schadenfreude dapat terjadi pada setiap individu yang mempunyai penilaian diri yang rendah terhadap dirinya sendiri. Hal tersebut saling berhubungan karena di saat individu memiliki harga diri rendah, maka dapat menimbulkan perasaan rendah diri. Sehingga muncul kecenderungan individu untuk mencari suatu hal lain yang dapat menaikan harga dirinya sendiri. Dengan demikian, kemalangan yang diterima oleh orang lain bisa dijadikan alasan untuk menaikan harga dirinya, karena individu merasakan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain (Firdaus, 2. Ketika individu yang mempunyai harga diri rendah cenderung lebih mudah mengalami perilaku schadenfreude, maka timbulnya perasaan bahagia maupun tertawa di atas penderitaan orang lain mencerminkan adanya empati pada diri Karena salah satu yang dapat membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya adalah adanya kepekaan dari rasa empati dan dapat saling mengasihi terhadap sesamanya (Anggraini, 2. Dapat diketahui bahwa banyak peneliti telah menganggap empati sebagai sisi berlawanan dari koin yang sama dengan perilaku schadenfreude. Bukti empiris hingga saat ini mengungkapkan adanya korelasi negatif antara schadenfreude dan empati, sehingga individu dapat secara bersamaan mengalami schadenfreude yang tinggi dan perasaan empati yang rendah Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive ketika melihat kemalangan orang lain (Cikara et al. dalam Liu & Wei, 2. Hal tersebut dapat terjadi karena ketika orang lain mengalami nasib buruk, individu akan cenderung untuk menunjukan kemampuan berempati dengan berbagi rasa sakit emosional dan merasa iba kepada orang Namun, akan berbeda dan tidak mengherankan bagi individu yang memiliki empati rendah karena dirinya akan lebih cenderung menikmati kemalangan orang lain (Greenier, 2. Berdasarkan hasil wawancara peneliti Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018 bahwa umumnya mahasiswa cenderung diantaranya yaitu merasa senang saat melihat temannya mendapatkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan dirinya, merasa senang ketika mengetahui bahwa temannya sedang mengalami kesulitan, seperti tidak mau mendahulukan menolong temannya saat terjatuh, melainkan menertawakannya terlebih dahulu. Hal tersebut dapat terjadi karena mahasiswa merasakan ada kepuasan tersendiri ketika mengalami perilaku schadenfreude dan mahasiswa menilai bahwa individu yang sedang mengalami kemalangan dirasa pantas untuk mendapatkan hal tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai AuHubungan Harga Diri dan Empati dengan Perilaku Schadenfreude Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018Ay. LANDASAN TEORI Perilaku Schadenfreude Smith . memberikan definisi dari perilaku schadenfreude sebagai perasaan senang yang muncul ketika melihat kemalangan orang lain. Hal tersebut didukung oleh Heider . alam Muhammad, 2. yang juga mendefinisikan perilaku Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 schadenfreude sebagai suatu respon emosional yang sumbang terhadap orang lain, yang dimana dalam hal ini individu schadenfroh . ebutan individu dengan perilaku schadenfreud. muncul perasaan positif . atas peristiwa buruk yang terjadi pada orang lain. Selanjutnya Ortony. Clore, dan Collins . alam Abdillah, 2. mengemukakan bahwa schadenfreude adalah kesenangan yang jahat diatas kesengsaraan yang dialami oleh orang lain. Dalam hal ini diklasifikasikan sebagai jenis kesenangan, tetapi suatu jenis kesenangan yang tidak khas karena kesenangan ini cenderung merujuk pada situasi di mana individu merasakan kesenangan di saat melihat orang lain mengalami kesengsaraan. Selain itu, ada Smith & Dijk . yang juga berpendapat bahwa schadenfreude merupakan rasa senang yang muncul pada kemalangan yang menimpa individu atau kelompok lain dimana peristiwa tersebut melukai fisik maupun perasaan pihak Contohnya kekalahan, jatuh atau cedera, perpisahan, nilai yang buruk, kebangkrutan, maupun skandal, dan lain Sehingga hal tersebut akan dirasa menyenangkan dan karenanya James. Kavanagh. Jonason. Conody, dan Scrutton . mengemukakan bahwa faktor-faktor mempengaruhi perilaku schadenfreude. Kebencian (Resentmen. Kebencian merupakan suatu perasaan yang dimiliki individu ketika tidak suka melihat orang lain berhasil dengan cara menganggap bahwa orang lain tidak pantas untuk mendapatkannya Kelayakan (Deservingnes. Kemalangan yang terjadi pada orang lain akan memuaskan bagi individu yang memiliki perilaku schadenfreude. Karena E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive dari faktor kelayakan mampu mengarahkan pada sejauh mana orang lain pantas memperoleh hasil dari yang apa yang telah Iri hati (Env. Adanya iri hati dapat menimbulkan schadenfreude di saat individu tidak mempunyai keunggulan, pencapaian, merasa tidak lebih baik daripada yang miliki orang lain dan adanya suatu keinginan atau harapan pada orang lain agar tidak tidak bisa mendapatkannya. Harga Diri (Self-estee. Dalam faktor harga diri terdapat perbedaan antara individu yang mengalami perilaku schadenfreude, yaitu pada individu yang memiliki tingkat harga diri yang rendah akan lebih cenderung untuk mengalami perilaku schadenfreude di saat melihat kemalangan yang terjadi pada orang yang lebih berprestasi, dibanding dengan individu yang memiliki harga diri Persaingan (Competitio. Ketika persaingan terjadi maka membuat individu merasakan perilaku Karena pada saat kondisi sedang saling bersaing, maka kekalahan yang terjadi pada pihak lawan akan tertuju langsung pada keuntungan pribadi yang diman hal tersebut dapat menimbulkan perilaku schadenfreude. Empati (Emphat. Greenier . alam Syahid. , dkk, 2. mengungkapkan bahwa individu yang mudah mengalami perilaku schadenfreude dapat diketahui melalui perasaan empati dan sikap ramah yang lebih rendah, tingkat ciri-ciri kepribadian sisi gelap yang lebih tinggi, serta mengarahkan perilaku schadenfreude sebagai suatu kedinginan emosional dan sikap yang senantiasa mengedapankan diri sendiri. Ben-ZeAoev . alam Van Dijk & W. Ouwerkerk, 2. menjelaskan bahwa terdapat tiga karakteristik dari perilaku schadenfreude, diantaranya yaitu: Orang mendapatkan kemalangan Keyakinan bahwa orang lain pantas mendapatkan kemalangannya merupakan ungkapan individu sebagai bentuk keadilan telah berhasil dilakukan dan membuat individu senang dalam situasi di mana individu dituntut untuk bersedih. Selain itu, keyakinan ini menghadirkan individu sebagai orang bermoral yang tidak ingin menyakiti orang lain karena orang lain akan mendapatkan balasannya sendiri. Sehingga semakin pantas kemalangan tersebut, maka semakin dibenarkan juga kesenangannya. Kemalangan relatif kecil Dalam hal ini dapat diartikan bahwa jika terjadi kemalangan yang parah, maka unsur kelayakan akan hilang. Individu biasanya tidak ingin menganggap orang di sekitarnya layak mengalami kemalangan yang besar. Orang-orang tersebut mungkin pantas dihukum karena telah melakukan suatu hal, tetapi ini tidak membenarkan kemalangan parah yang menimpa pada orang yang dekat dan sayang kepadanya. Ketika suatu peristiwa tidak lagi dikatakan sebagai kemalangan yang kecil, tetapi melibatkan penderitaan yang sesungguhnya, maka perilaku schadenfreude memberi jalan untuk mengasihani. Individu pasif dalam menghasilkan kemalangan orang lain Dalam karakteristik ini individu dikatakan pasif dalam menghasilkan kemalangan orang lain karena kemalangan yang terjadi pada orang lain bukan dilakukan oleh . elaku schadenfreud. , tetapi kemalangan yang terjadi itu dinilai sebagai akibat kebetulan. Sehingga salah satu kontribusi besar dari kesenangan yang dirasakan individu ketika melihat kemalangan orang lain adalah perasaan bahwa kegagalan yang terjadi pada pihak lawan bukan karena perilaku jahat individu, tetapi karena nasib yang tidak bisa terhindarkan. Harga Diri Merriam Webster . alam Rahmi. Raudhoh & Fitri, 2. mengungkapkan harga diri sebagai wujud menghargai diri. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive kemampuan diri, dan suatu kepercayaan maupun kepuasan kepada diri sendiri. Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Santrock . alam Istiana, 2. harga diri adalah suatu bentuk evaluasi individu pada dirinya sendiri dari segi tingkatan tinggi maupun rendah, yang dapat dilihat kebermaknaan dirinya sendiri. Selanjutnya Rosenberg . alam Zahra & Wulandari, 2. harga diri merupakan hasil penilaian positif atau negatif individu mengenai dirinya sendiri serta bagaimana individu dapat menilai dirinya sendiri. Individu yang memiliki harga diri tinggi dapat ditandai seperti mampu menghargai diri sendiri, merasa dirinya cukup baik, dan merasa dirinya Frey dan Carlock . alam Ghufron & Risnawita, 2. mengemukakan ciri-ciri individu yang memiliki harga diri tinggi, yaitu sebagai berikut: Mampu menghargai dirinya sendiri Mampu menghormati dirinya sendiri Cenderung tidak menjadi sempurna Mengenali keterbatasan diri Berharap untuk tumbuh E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Sejalan dengan itu. Iis . alam Astuti. Nugroho & Dewi, 2. mengemukakan bahwa empati adalah kemampuan individu dalam memahami isi hati dan menangkap perspektif orang lain dengan berbagai masalahnya, serta mampu menghargai berbagai jenis perasaan. Davis . alam Taufik, mengemukakan bahwa terdapat empat aspek dari empati, diantaranya yaitu: Perspective Taking Kemampuan individu untuk dapat memahami orang lain dengan meletakan pandangan pada posisi orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Empathic Concern Kemampuan individu dalam merasakan pengalaman yang berhubungan dengan rasa iba terhadap kemalangan yang terjadi pada orang lain. Personal Distress Reaksi emosional yang dirasakan individu berupa perasaan cemas ketika melihat ketidaknyamanan pada emosi orang Fantasy Kecenderungan menempatkan diri ke dalam perasaan dan tingkah laku dari karakter-karakter fiksi. Misalnya seperti yang terdapat dalam novel, film, dan situasi-situasi fiksi lainnya. Empati Kohut . alam Taufik, mendefinisikan empati sebagai suatu proses di mana individu berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan-akan dirinya berada pada posisi orang tersebut. Sedangkan Hurlock . alam Sofwana. Rosiana & Haryanto, 2. mendefinisikan empati sebagai suatu proses individu dalam memahami perasaan maupun emosi orang lain, serta dapat menempatkan diri sebagai orang lain. Oleh karena itu, individu yang mampu berempati dapat diartikan sebagai individu yang mampu bertoleransi, dapat mengontrol dirinya, dan mampu memiliki jiwa humanistik yang baik. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, yang terdiri dari tiga variabel yaitu variabel bebas meliputi harga diri dan empati, serta variabel terikat yaitu perilaku Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018, yang berjumlah 200 mahasiswa. Jumlah sampel menggunakan sample size calculator yaitu sebanyak 121 mahasiswa. Serta teknik E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 purposive sampling. https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Metode pengumpulan data berupa kuesioner dengan model skala Likert yang berisikan sejumlah pernyataan yang tertulis dan disebar melalui google form kepada responden dengan memberikan lima alternatif jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS). Sesuai (S). Ragu-ragu (R). Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala penelitian ini adalah skala perilaku schadenfreude, skala harga diri, dan skala Skala perilaku schadenfreude terdiri dari 30 pernyataan terbagi menjadi 15 pernyataan favorable dan 15 pernyataan unfavorable, serta diperoleh hasil uji daya beda item yang terseleksi sebanyak 21 item. Skala harga diri terdiri dari 30 pernyataan yaitu 15 pernyataan favorable dan 15 pernyataan unfavorable, serta diperoleh hasil uji daya beda item yang terseleksi sebanyak 12 item. Skala empati terdiri dari 32 pernyataan yang terbagi dalam 16 pernyataan favorable dan 16 pernyataan unfavorable, dan diperoleh hasil uji daya beda item yang terseleksi sebanyak 19 item. Pengujian statistik dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan JASP versi 0 for windows. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Normalitas Berdasarkan uji normalitas, maka diperoleh nilai signifikasi untuk skala harga diri 247 . >0,. , nilai signifikasi untuk skala empati sebesar 0. >0,. , dan nilai signifikasi untuk skala perilaku schadenfreude sebesar 0. <0,. Hal ini menunjukkan bahwa data penelitian pada skala harga diri dan empati berdistribusi normal, sedangkan data penelitian skala perilaku schadenfreude tidak berdistribusi normal. Tabel 1. Uji Normalitas Uji Kategorisasi Skala perilaku schadenfreude memiliki kategorisasi skor rendah dengan X < 60. kategorisasi skor sedang 60. 1 O X O 65. dan kategorisasi skor tinggi X > 65. Hasil mean temuan yang dimiliki oleh skala perilaku schadenfreude sebesar 72. 48 yaitu tergolong kategori AutinggiAy. Skala harga diri memiliki kategorisasi skor rendah X O 28, kategorisasi skor sedang 28 < X < 44, dan kategorisasi skor tinggi X Ou 44. Hasil mean temuan yang dimiliki oleh skala harga diri sebesar 27. yaitu tergolong kategori AurendahAy. Skala empati memiliki kategorisasi skor rendah dengan X O 44. 3, kategorisasi skor 3 < X < 69. 7, dan kategorisasi skor tinggi X Ou 69. Hasil mean temuan yang dimiliki oleh skala empati sebesar 41 yaitu tergolong kategori AusedangAy. Uji Hipotesis Dari hasil penelitian uji hipotesis dengan metode correlations bivariate antara harga diri dengan perilaku korelasi r = -0. 356 dengan p = <0. < Maka diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan arah yang negatif antara harga diri dengan perilaku Dengan demikian Ha1 yang Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 berbunyi AuAda hubungan antara harga diri dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018Ay, diterima. Dari hasil penelitian uji hipotesis dengan metode correlations bivariate schadenfreude, maka diperoleh koefesien korelasi r = -0,663 dengan p = <0. <0. Maka diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan arah yang negatif antara empati dengan perilaku Dengan demikian Ha1 yang berbunyi AuAda hubungan antara empati dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018Ay, diterima. Tabel 2. Bivariate Correlations X1 dengan Y dan X2 dengan Y Selanjutnya, hasil uji analisis dengan metode multivariate correlations antara harga diri dan empati dengan perilaku schadenfreude diperoleh nilai R = 0. dengan p = < 0. <0. Sehingga Ha1 yang berbunyi AuAda hubungan antara harga diri dan empati dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018Ay, diterima. Selain itu, berdasarkan hasil analisis data reggression dengan metode stepwise, menunjukkan bahwa variabel empati yang bernilai R square 0,440 memiliki kontribusi yang lebih dominan sebesar 44% terhadap Sedangkan variabel harga diri memiliki kontribusi yang Tabel 4. Hasil Regresi Metode Stepwise Sedangkan hasil dari analisis data memperoleh R square sebesar 0,600. Dengan demikian harga diri dan empati memberikan kontribusi sebesar 60% pada perilaku schadenfreude, sedangkan sisanya 40% menyangkut sumbangan dari faktor lain yang tidak dimasukan dalam penelitian Tabel 5. Hasil Regresi Metode Enter Tabel 3. Multivariate Correlations X1 dan X2 dengan Y Linear Regression Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Berdasarkan uraian di atas, maka hasil penelitian ini dapat memperkuat jawaban dari hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa ada hubungan antara harga diri dan empati dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018. Kenapa? Tirto. Id. https://tirto. id/melihat-orang-lainmenderita-itu-menyenangkankenapaei6Q Ghufron & Risnawita S. Teori-teori Psikologi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. KESIMPULAN Ada hubungan negatif antara harga diri dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018. Ada hubungan negatif antara empati dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018. Ada hubungan yang signifikan dengan arah negatif antara harga diri dan empati dengan perilaku schadenfreude pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas X angkatan 2018. DAFTAR PUSTAKA