Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. Available at: https://journal. id/index. php/griyawidya EISSN: 2809-6797 Adakah Hubungan antara Persepsi Kontrol Perilaku dan Niat dengan Perilaku Konsumsi Pornografi Online? Wintanti Ardi1* & Kismi Mubarokah2 Kesehatan Masyarakat. Universitas Dian Nuswantoro. Semarang. Indonesia *Email: wintantiardi66@gmail. Submitted: 2024-03-04 Accepted: 2024-06-27 Published: 2024-06-29 Keywords: Pornography Student Planned Behavior DOI: 10. 53088/griyawidya. Abstract Background: Advances in internet technology have made it easy for students to find online pornography. The purpose of this study was to determine the relationship between perceived behavioral control and intention with online pornography consumption behavior among college students in Semarang City. Methodology: This research uses Quantitative method. With a cross sectional study design with an observational approach. Questionnaire research The sample calculation uses the Probability Sampling method with the Multi Stage Sampling approach. The collection technique uses Purposive Sampling via Google Form. With a sample of 399 respondents. Data analysis used the Spearman rho statistical test. Result: The results showed the characteristics of the respondents' gender, age, marital status, residence status, employment status and sexual orientation. Also, there is a relationship between perceived behavioral control and intention with online pornography consumption behavior. Recommendation: It is recommended that universities create communities to be aware and concerned about the dangers of pornography PENDAHULUAN Pornografi sudah ada dimuka bumi sejak jaman dahulu. Sejarah mengenai eksistensi pornografi ditemukan dalam budaya barat sejak lama pada masa Yunani kuno dalam bentuk nyanyian cabul yang dipersembahkan untuk menghormati salah satu dewa kepercayaan Yunani Kuno yakni Dewa Dionyius. (Mustika 2. dibuktikan jejak pembuatan konten porno baik berupa foto maupun video baru ditemukan jauh setelah itu, sekitar tahun 19071912 di Argentina dan tersebar secara besar besaran kisaran rahun 1980. an, dimana produsen konten porno dilegalkan di beberapa negara dan dapat disebarluaskan dengan memanfaatkan berbagai jenis media yang tersedia saat itu seperti media cetak, audio, audiovisual yang di sebar dan di perdagangkan baik secara legal maupun ilegal. (Taufik A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 Perkembangan dan persebaran konten pornografi semakin luas seiring dengan kemajuan teknologi seperti internet di awal tahun 2000-an. pornografi online lebih mudah didapatkan yang didukung dengan menggunakan teknologi dan internet. Menurut data yang dibagikan pornhub sebagai menyedia situs pornografi online. Pada tahun 2017 5 miliar mengakses pornografi online, pada tahun 2018 terdapat 33. 5 miliar mengakses pornografi online. Hal ini dapat menjadi perhatian bahwa dalam 1 tahun sudah meningkat dalam mengakses sebanyak 5 miliar di seluruh dunia. Pada tahun 2017 dalam 1 hari ada 81 juta pasang mata yang menonton pornografi, pada tahun 2018 terdapat 92 juta pasang mata setiap harinya. (Pornhubinsighgt 2. Di Indonesia internet berkembang pada tahun 1990-an, diawali saat di daftarkan Internet protokol (IP) yang pertama oleh universitas indonesia pada tahun 1988. Selanjutnya, pada tahun 1988 diikuti munculnya IndoNet sebagi Internet Service Provide (ISP) komersial pertama di Indonesia denfan sistem dial-up untuk menghubungkan User pada internet. (Mustika 2. Saat ini Indonesia sebagai negara yang mengakses internet sebanyak 171,17 juta jiwa pada tahun 2018. Menurut survei APJII alat yang sering digunakan untuk mengakses internat yakni smartphone atau genggam pribadi dan dekstop atau laptop (APJII 2. Bebasnya akses internet memungkinkan user untuk mengakses situs-situs dengan berbagai fasilitas dan saran yang dapat mempermudah user untuk mendapatkan informasi dalam bentuk video, foto, teks dan suara secara multimedia interaktif. Termasuk didalamnya situs yang menyajikan konten pornografi atau seks secara eksplisit dan tidak pantas untuk di konsumsi oleh remaja. (Yulianto 2. Penetrasi pengguna internet berdasarkan pekerjaan didominasi oleh pelajar dan mahasiswa sebanyak 99,26%. (Indonesia 2. Faktor yang mendasari remaja mengakses konten pornografi online karena adanya fasilitas yang terhubung dengan internet, serta kemudahan dalam mendapatkan konten pornografi online di dukung dengan adanya rasa ingin tahu yang tinggi, konformitas dan dorongan seksual. (Mustika 2. Waktu favorit untuk menonton pornografi online yaitu hari minggu pukul 11 -12 malam. Peralatan yang digunakan untuk mengakses pornografi online paling banyak menggunakan handphone sebanyak 83% pengguna. Dekstop sebanyak 14% dan tablet sebanyak 3%. Rentan umur yang banyak mengakses konten pornografionline kebanyakan adalah Gen Z dengan umur 18-24 tahun. (Pornhubinsighgt 2. Menonton pornografi memberikan dampak sangat buruk bagi pelakunya seperti kecanduan, kerusakan otak, dan muncul niat untuk melakukan apa yang di lihat di film porno serta dapat berbuat pelecehan seksual. Tayangan pornografi mempengaruhi kerusakan otak pada Pre Frontal Cortex (PFC). Secara ilmiah, seseorang yang kecanduan menonton tayangan pornografi akan mengalirkan dopamin melampaui batas, kemudian akan membanjiri PFC sehinga Otak tidak bisa bekerja dengan baik. Otak akan merekam tayangan pronografi sehingga seseorang membayangkan dan mempunyai keinganan melakukan hal dilihatnya. Fungsi PFC sangat penting dalam pengaruh membentuk perilaku dan keputusan yang akan di ambil. (Indrianto. Arifianto, and Triposa 2. Bahaya pornografi mampu memberikan dorongan seseorang untuk melakukan seperti Jika tidak mampu dilampiaskan dapat menjadi kejahatanseksual seperti pemerkosaan, kekerasan seksual. Aduan seperti jenis kekerasan seksual dalam ranah personal dari survei 129 lembaga di indonesia terdapat fakta bahwa percobaan pemerkosaan dan marital rape masing-masing memiliki presentasi 25%, kasus insect sebanyak 18%, pelecehan seksual sebanyak 16%, di susul dengan persetubuhan dan persetubuhan yang masing-maisng memiliki presentase sebanyak 7%, ranah siber 4%, pencabulan 3%, dam perbudakan seksual 1%. (KOMNAS PEREMPUAN 2. Selain Data Nasional. Kasus KBG terhadap perempuan tahun 2021 dari aduan 34 provinsi di dapatkan 3 urutan provinsi yang memiliki kasus aduan kekerasan terbanyak yakni provinsi jawa barat Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 395 kasus, provinsi jawa timur sebanyak 53. 865 kasus dan di susul provinsi jawa tengah sebanyak 52. 901 kasus. (KOMNAS PEREMPUAN 2. Menurut BPS provinsi jawa tengah data kekerasan seksual dalam 3 tahun terahkir terdapat penurunan jumlah kasus. Terdapat 1031 kasus tahun 2019, 809 Kasus tahun 2020 dan 945 Kasus tahun 2021. (BPS 2. Kota Semarang menyumbang kasus terbesar setiap Dari tahun 2019 sebanyak 231 kasus, 172 kasus pada tahun 2020 dan 107 kasus Angka kasus 3 tahun terahkir mengalami penurunan kasus, namun di bandingkan dengan kota dan kabupaten lain di jawa tengah. Kasus dari Semarang sangat besar dan butuh penanganan yang tepat. (BPS 2. Dari laporan tahunan Komnas Perempuan dalam karakteristik pekerjaan korban paling banyak di alami oleh mahasiswa/ pelajar menjadi urutan ke 2 terbesar menjadi pelaku kekerasan seksual sebanyak 2621 kasus. Kasus yang di adukan seperti fenomena gunung es, karena pada umunya kasus-kasus kekerasan di lingkungan pendidikan tidak diadukan atau dilaporkan. (KOMNAS PEREMPUAN 2. Kasus yang pernah terjadi Alumni mahsiswa UII Yogyakarta di duga lecehkan 30 Perempuan (Amindoni 2. Kasus mahasiswa melakukan pemerkosaan terhadap sahabatnya sendiri karna terangsang saat menonton flim porno. (Desi 2. Kasus hampir serupa dimana mahasiswa mengamcam pacarnya untuk mencarikan seorang gadis untuk ia setubuhi karna flim porno. (TribunJakarta 2. Mahasiswa sebagai remaja akhir mulai memusatkan diri dalam perilaku yang berhubungan dengan hal-hal dewasa seperti merokok, minuman keras, obat-obatan dan juga perilaku seksual. Menurut hurlock dalam bukunya mengatakan dorongan untuk melakukan perilaku seksual datang dari tekanantekanan sosial tetapi terutama dari minat seks dan keingintahuan tentang seks. Karna besarnya minat terhadap seks remaja selalu mencari informasi mengenai seks. (Hurlock. Faktor eksternal perilaku seksual yang mendorong mahasiswa melakukan perilaku seksual sebanyak 57% dari populasi mengakses situs yang berbau seksual dan flim porno sehingga memperngaruhi perilaku seksual yang di lakukanya. (Wulandari 2. Faktor internal berasal dari kontrol perilaku menjadi kendali seseorang dalam mengontrol, mengatur dan memutuskan suatu perilaku dengan adanya pertimbangan dari setimulus yang ada. (Leonardhi 2. Dalam Theory planned of bihaviour proses terjadinya perilaku di dukung oleh adanya niat yang berhubungan dengan sikap, norma subjektif, kontrol perilaku, dalam diri mahasiswa untuk memutuskan suatu perilaku. (Ajzen 1. Dalam penelitian terdahulu oleh Leonardi menggunakan teori yang sama membahas mengenai kontrol perilaku dalam mengakses pornografi hasilnya menunjukan korelasi negatif antara kontrol perilaku dengan mengakses pornografi online. Semakin rendah kontrol perilaku di dapatkan hasil akan semakin tinggi seseorang mengakses pornografi (Leonardhi 2. Dalam penelitian Safitri di jelaskan mengenai hubungan perilaku menonton pornografi dengan kontrol perilaku dengan perilaku seks di dapatkan hasil ditemukan signifikan intensitas dalam mengakses pornografi dengan kontrol perilaku, maka dengan mengurangi intensitas mengakses pornografi dan semakin baiknya kontrol perilaku sseseorang akan menentukan perilaku seks. (Safitri 2. Kontrol perilaku di sertai dengan Niat merupakan proses kesiapan mahasiswa dalam melakukan tindakan atau perilaku. Sehingga niat menjadi perilaku di bawah mengaturan kontrol perilaku mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki niat untuk melakukan. (Amanta 2. Dari fenomena yang terjadi dimana perilaku dapat terjadi dengan adanya faktor Dari uraian latar belakang yang telah di jelaskan dapat di tarik kesimpulan peneliti tertarik untuk menelititi Au Hubungan persepsi kontrol perilaku dan niat dengan perilaku mengkonsumsi pronografi online pada mahasiswa di kota SemarangAy dengan populasi 13 Universitas negeri dan swasta di kota Semarang. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. METODE Jenis dan Desain Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis hubungan antara variabel independen dan dependen secara statistik. Desain penelitian yang diterapkan adalah Observasional dengan pendekatan Cross-Sectional, di mana data dikumpulkan pada satu waktu tertentu untuk mengevaluasi hubungan antara persepsi kontrol perilaku dan niat terhadap perilaku konsumsi pornografi online. Data dan Sumber Data Populasi dalam penelitian ini adalah 217. 531 mahasiswa dari enam perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Semarang. Berdasarkan perhitungan sampel menggunakan Probability Sampling dengan metode Multi-Stage Sampling, didapatkan sampel sebanyak 399 responden yang dianggap representatif untuk populasi tersebut. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui Purposive Sampling menggunakan Google Form, untuk menjangkau responden yang sesuai dengan kriteria penelitian. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, yang mencakup: A 5 pertanyaan terkait perilaku konsumsi pornografi A 4 pertanyaan mengenai persepsi kontrol perilaku A 7 pertanyaan mengenai niat konsumsi. Teknik Keabsahan Data Validitas dan reliabilitas instrumen diuji sebanyak dua kali. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua pertanyaan pada instrumen adalah valid. Namun, beberapa item pada persepsi kontrol perilaku dinyatakan tidak reliabel sehingga perlu dicermati dalam analisis lebih lanjut. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik Spearman rho untuk menguji hubungan antara persepsi kontrol perilaku, niat, dan perilaku konsumsi pornografi online. Teknik ini sesuai untuk data ordinal dan distribusi yang tidak normal, yang diharapkan dapat memberikan hasil yang akurat terkait hubungan antar variabel. HASIL Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan sebanyak 67,6%. Dari rentan usia 18-21 tahun responden terbanyak sebesar 53,1%usia 21 tahun. Status pernikahan responden belum menikah sebanyak 98,5%. Status tinggal responden paling banyak tinggal kos dengan penjaga sebanyak 35,6%. Status pekerjaan responden mayoritas mahasiswa tidak bekerja sebanyak 87,4%, serta orientasi seksual responden paling banyak dengan penyuka sesama jenis . sebanyak 98,1%. Perilaku konsumsi pornografi online Pada variable perilaku menonton pornografi online sebanyak 96% responden pernah menonton pornografi. Dengan kondisi tidak sengaja menemukan konten pornografi sebanyak 57,9%. Usia saat pertama kali menontonpornografi pada remaja usia 12-21 tahun sebanyak 84,2%. Platfrom yang digunakan saat pertama kali menemukan tayangan Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 pornografi pada flim sebesar 35,8%. Frekuensi menonton pornografi responden jarang sebesar 78,9%. Persepsi kontrol perilaku Pada Variable persepsi kontrol perilaku responden tidak mampu menahan keinginan menonton pornografi sebanyak 18,3%. Responden tidak dapat melakukan aktifitas lain saat ingin menonton pornografi sebesar 9,5%. Responden kepercayan dalam urusanya menonton pornografi adalah pribadi menjawab sangat setuju sebesar 60,4%. Saat keluarga melarang tetap menonton pornografi sebesar 16,6%. Niat Pada variable niat responden berencana melihat pornografi suatu saat nanti sebesar 14,8%. Responden memiliki niat untuk berhenti menonton pornografi sebesar 70,9%. Responden berniat menonton setelah mendapati informasi pornografi yang didapat dari teman sebanyak 18,1%. Saat tidak sengaja menemukan pornorgrafi, responden tetap menonton sampai ahkir sebesar 40,7%. Saat responden menemukan pornografi berencana menontonya kembali sebesar 21,2%. Responden berniat menonton pornografi karena adanya dorongan seksual sebesar 62,3%. Responden menonton pornografi untuk memuaskan hasrat seksualsebesar 24,9%. Tabel 1. Karakteristik Responden Variable Bebas Persepsi kontrol Variable Terikat P value Keterangan 0,001 0,425 Ada Hubungan 0,001 0,524 Ada Hubungan Perilaku konsumsi pornografi online Niat Sumber: Data Primer Terolah . PEMBAHASAN Hubungan persepsi kontrol perilaku dengan perilaku konsumsi pornorgafi online Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dibagikan kepada 525 responden dan data yang telah diolah. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan antara persepsi kontrol perilaku dengan perilaku mengkonsumsi pornografi online. Nilai koefisien korelasi di dapatkan nilai . 0,452 dengan syarat nilai rho 0,26 Ae 0,50 dan nilai signifikansi sebesar 0,001 maka tingkat kekuatan hubungan perilaku konsumsi pornografi online dengan persepsi kontrol perilaku dapat dikatakan memiliki hubungan yang cukup kuat. Serta memiliki arah korelasi yang searah artinya semakin tinggi persepsi kontrol perilaku dalam mengakses konten pornografi online maka semakin rendah perilaku dalam mengkonsumsi pornorgrafi online. Dalam teori yang di paparkan Azjen dimana kontrol perilaku yang dirasakan mengacu pada persepsi seseorang tentang kemudahan atau kesulitan melakukan perilaku yang Kontrol perilaku yang dirasakan didukung dengan adanya sumber daya dan peluang yang tersedia bagi individu dengan batas tertentu dapat memicu kemungkinan mencapai suatu perilaku. (Ajzen 1. Kemudahan internet yang dapat digunakan di segala tempat dan kondisi serta media yang tersedia dalam berbagai macam platfrom menjadi sumber daya yang mendukung mahasiswa untuk menonton pornografi. Dalam penelitian Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 ini terdapat 84,2% responden mengatakan menemukan pornografi online pada saat remaja. Mahasiswa mendapati pornografi sebanyak 35,8% dalam Film (Netflix. We TV. Youtube. Viu,Video, lainny. , serta sebanyak 28,6% sosial media (Tik Tok. Instagram. Facebook. Twitter. Whatsapp. Telegram lainnya ). Hal ini didukung oleh penelitian Eryanti yang menjelaskan bahwa internet dan kemudahan teknologi menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi remaja untuk menonton pornografi. (Novita 2. Perlunya pengawasan untuk pengendalian konten pornografi serta klasifikasi pengakses pornografi oleh lembaga Pemerintahan. Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan sudah memblokir 1 juta konten pornorgafi pada sosial media pada tahun 2020 (KEMKOMINFO 2. Serta Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah melakukan pemblokiran 2,5 juta konten dewasa pada situs internet pada tahun 2021. (Kompas 2. Hal ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga generasi muda dari paparan Namun, masih ada konten dimedia sosial yang belum terdeteksi dan dapat Walaupun sudah di blokir remaja masih dapat mengakses menggunakan VPN. Dibuktikan dalam penelitian Puwanto et al dalam kajiannya yang mengatakan konten pornografi mudah tersebar dan diakses menggunakan kuota , wifi dan VPN. (Mubarokah 2. Dalam penelitian Andriyani et al salah satu informanya mengatakan sebagai awalnya informan menemukan pornografi pada media sosial secara tidak sengaja, setelah sering menontonya informan menjadi kecanduan dan saat memiliki waktu luang informan akan mencari konten pornografi dimedia sosial. (Andriyani and Ardina 2. Selain itu, dalam membentuk suatu perilaku terdapat faktor internal yang menjadi mengendali apakah mahasiswa akan menerima peluang untuk menonton pornografi atau tidak, hal ini mendorong kontrol dalam diri yang bertindak dan memutuskan untuk menonton pornografi. Dalam penelitian Eryanti mengatakan bahwa diri sendiri menjadi faktor utama dalam pengendalian menonton pornografi. (Novita 2. Kekuatan persepsi kontrol perilaku dalam membentuk suatu perilaku secara langsung tergantung pada cerminan kontrol aktual yang ada. (Ajzen 1. Jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi kontrol perilaku memiliki peranan dalam membentuk perilaku mengkonsumsi pornografi online secara langsung. Menonton pornografi dapat muncul saat mahasiswa memiliki waktu luang. Dalam penelitian ini mayoriritas mahasiswa tidak bekerja sebanyak 87,4% dan dengan dorongan keinginan seksual memanfaatkan untuk menonton pornografi. Dalam penelitian ini terdapat 64% responden mengatakan bahwa menonton pornografi adalah urusanya. Sehingga pornografi dianggap sebagai kebebasan dalam menonton. Dalam penelitian Kartika et al yang membahas mengenai teori kontrol sosial terhadap pornografi dan pornoaksi pada asrama polri didapatkan hasil bahwa saat pulang kuliah, mahasiswa yang tidak memilki kesibukan dan memiliki banyak waktu luang setelah pulang sekolah sehingga menghabiskan waktunya untuk menonton pornografi sendirian. Menonton pornografi secara intens mengakibatkan mahasiswa kecanduan dan sulit berhenti. (Kartika and Zaky Bagi remaja menonton pornografi dianggap sebuah hiburan yang dapat diperoleh untuk kesenangan, mengisi waktu luang dan melepas penat. Sebanyak 9,5% responden tidak dapat mengalihkan keinginanya dari pornografi. Hal ini dibuktikan pada penelitian Alifah et al dalam kajiannya yang membahas mengenai motif pengguanan sosial media konten instagram mengatakan hiburan merupakan salah satu alasan untuk menonton pornografi. Informanya secara sadar mengakses pornografi pada konten dea onlyfans ketika sedang bersantai dan mengisi waktu luang. (Septyani. Danadharta, and Kusumaningrum 2. Selain itu dalam penelitian Dwilestari dan Dini dalam motif penggunaan aplikasi bigo live dikalangan mahasiswa didapatkan hasil yang sama. Dimana motif hiburan menjadi alasan mengapa informan mengakses konten pornografi. Informan mengatakan kebutuhan untuk mendapatkan hiburan saat memiliki waktu luang dan melepas kejenuhan dari rasa Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 (Dwilestari and Fithrah 2. dalam penelitian Ghofur et al mengatakan kecanduan pornografi merupakan dorongan self healing seseorang. Kecanduanya dapat mengobati diri sendiri dari stress tanpa mengeluarkan biaya mahal cukup dengan membuka smartphone dan bebas mengakses sendirian. (Ghofur. Rahman, and Kattani 2. Mahasiswa sebagai remaja ahkir dalam fase ingin mencoba dan memiliki keingintahuan Didukung dengan kemudahan teknologi menjadikan remaja lebih leluasa untuk menjelajah internet dalam hal negatif maupun positif. Sehingga, pentingnya kontrol diri dalam mengontrol penyalahgunaan teknologi internet untuk mengakses pornografi. Ketika hal ini terus berlanjut otak akan merekam aktifitas yang ditonton sehingga munculah keinginan atau hasrat dorongan seksual untuk mencoba. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Surobhi et al mengatakan pornografi online berbahaya, tidak wajar dan mengambarkan perilaku seksual yang ekstrem yang dapat meningkatan kemungkinan tayangan tersebut terekam oleh pikiran remaja sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi. (Chatterjee and Kar 2. Selain itu, dalam penelitian Priyanto yang membahas mengenai kontrol perilaku dan loneliness dengan perilaku adiksi pornografi mengatakan pentingnya seseorang dalam mengontrol diri dalam menonton pornografi sehingga dapat menekan dorongan nafsu dan dorongan seksual yang timbul akibat pornografi. (Priyanto 2. Remaja yang telah terjerumus dalam kecanduan pornorgafi, cenderung terus mencari untuk memperoleh konten pornografi, jika hal ini terus berlangsung akan terjadi peningkatan kebutuhan dan pada ahkirnya remaja dapat terjerumus pada seks bebas. (Mahameruaji and Hafiar 2. Selain itu, dampak intens menonton tayangan pornografi dapat membangkitkan gairah seksual pada remaja, apabila remaja tidak memiliki kontrol diri yang baik dalam mengontrol keinginan untuk melakukan seperti yang ditontonya. Dalam penelitian ini sebanyak 18,3% artinya 96 mahasiswa tidak dapat menahan keinginanya untuk menonton pornografi. Remaja akan rentan melakukan seks pranikah. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Fetty dan Yuliani yang mengatakan bahwa remaja yang menonton pornografi rentan melakukan sek pranikah bila tidak dapat mengontrol dirinya. (Anggraeni and Winarti 2. Selain itu, dalam kajian Rumapea. Andayani, & Syahrial . mengatakan semakin sering seseorang terpapar pornografi maka seseorang akan beranggapan posistif pada hubungan seks bebas. Penelitian lain mengatakan dorongan seksual muncul karena adanya stimulus dan kerja hormon gonadropik dimana remaja tidak dapat mengendalikan dorongan seksual maka terjadilah perilaku seksual yang beresiko. (Mubarokah 2. Dalam pembahasan yang telah dijabarkan perlunya peran pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam pengendalian situs pornografi. Dengan cara lebih masif untuk melakukan pengawasan, memblokir konten pornografi dan melarang penayangan dalam produk media online lainya. Perlunya lembaga di Universitas untuk meningkatkan minat dan bakat mahasiswa sehingga mahasiswa memiliki aktifitas lain yang bermanfaat. Bagi mahasiswa agar tidak terjebak dalam kecanduan pornografi dan dampak pornografi dapat melakukan aktifitas lain yang dapat menyibukan diri seperti olahraga, serta dapat mengurangi intensitas menonton pornografi dengan memfilter atau mencegah konten yang mengandung pornografi serta memblokir konten dan situs pornorgafi secara mandiri. Hubungan niat dengan perilaku konsumsi pornografi online Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dibagikan kepada 525 responden dan data yang telah diolah. Diperoleh hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan antara niat dengan perilaku mengkonsumsi pornografi online. Nilai koefisien korelasi di dapatkan nilai . 0,524 dengan syarat nilai rho 0,51 Ae 0,75 dan nilai signifikansi sebesar 0,001 maka tingkat kekuatan hubungan niat dengan perilaku konsumsi pornografi online dapat dikatakan memiliki hubungan yang kuat. Serta memiliki arah korelasi positif yang searah Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 artinya semakin rendah niat dalam mengakses konten pornografionline maka semakin rendah pula perilaku dalam mengkonsumsi pornorgrafi online. Hal tersebut juga berlaku apabila terdapat niat yang tinggi dalam mengakses pornografi maka perilaku dalam mengkonsumsi pornografi online semakin rendah. Dalam teori perilaku yang direncanakan Azjen mengatakan niat merupakan keinginan seseorang untuk mencoba, seberapa banyak upaya untuk merencakan perilaku. Dengan aturan dimana semakin kuat niat untuk terlibat dalam suatau perilaku, maka semakin besar kemungkinan kinerjanya. (Ajzen 1. Seperti yang diketahui dalam teori perilaku yang direncanakan dalam memprediksi niat didukung oleh adanya sikap, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku dalam membentuk suatu niat untuk melakukan perilaku. Sebuah aturan yang di paparkan ajzen dimana lebih menguntungkan sikap dan norma subjektif sehubungan dengan perilaku pertama dan semakin besar kontrol perilaku yang dirasakan, seharusnya semakin kuat menjadi niat individu untuk melakukan perilaku yang sedang (Ajzen 1. Dalam kajian penelitian azjen niat sebagai perdiktor perilaku terkadang ditemukan dalam waktu yang singkat dalam suatu perilaku. (Ajzen 2. Dalam perspektif dari theory planned of behaviour mengatakan dalam pengaruh dan emosi bahwa suatu perilaku mengarah pada pengalaman rasa sakit, penyesalan, kesenangan, ketakutan, kegembiraan atau emosinya hanyalah keyakinan perilaku sebagai keyakinan tentang kemungkinan konsekuensi dan perilaku tersebut. (Ajzen 2. Dalam menonton pornografi dengan adanya sikap dan norma subjektif di dukung oleh peluang dan kesempatan yang ada sehingga memperkuat persepsi kontrol perilaku sehingga niat semakin kuat untuk menonton pornografi. Hal ini dapat dikatakan untuk membentuk suatu keinginan menonton pornografi yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan diri. Niat dapat terjadi dalam keadaan spontan bila ada sumber daya dan kesempatan sehingga membentuk motivasi yang kuat untuk menonton pornografi. Niat disini dapat dikatakan sebagai proses perencanaan dan keyakinan perilaku tersebut dalam dapat berhasil terjadi pada waktu yang singkat. Hal ini bisa terjadi karna, awalnya remaja menggunakan fasilitas media online untuk tujuan yang posistif namun dalam proses tersebut, muncul secara tidak sengaja konten pornografi sehingga memicu rasa penasaran untuk menonton lebih lanjut, bahkan mencari konten yang serupa. Dibuktikan dalam hasil penelitian ini sebanyak 57,9% mahasiswa mengaku tidak sengaja dalam menonton Saat merasa terjebak telah menemukan pornografi online mahasiswa menontonya sampai ahkir sebanyak 40,7% dan pada 10,7% mahasiswa berencana untuk menonton pornografi kembali. Hal ini sejalan dengan penelitian Sri Mutia mengatakan bahwa remaja secara tidak sengaja menemukan konten pornografi, selanjutnya muncul rasa ingin tahu lebih lanjut dengan tayangan yang serupa dalam mengakses media (Sitopu 2. Sebagaimana sifat remaja ahkir yang dicetuskan Hurlock dimana ada peningkatan minat seks, remaja selalu mencari lebih banyak informasi mengenai (Hurlock, n. Ada pun dalam kalangan mahasiswa kebanyakan adalah mahasiswa yang berasal dari luar daerah atau perantauan dimana tinggal indekos. Dalam penelitian ini sebanyak 35,6% mahasiswa tinggal indekos dengan penjaga dan 23,6% indekos tanpa penjaga. Hal itu membuat mahasiswa memiliki kebebasan dalam kehidupan sehari-hari serta tidak ada pengawasan dari orang tua. Bahkan apabila orang tua tahu dan melarang mahasiswa dalam penelitian ini mahasiswa tetap akan menonton pornografi sebanyak 16,6%. Menurut lenny dalam kajiannya mengatakan bahwa mahasiswa yang indekos cenderung dapat dengan leluasa melakukan aktivitas seksual. (Irmawaty 2. Pada penelitian ini mahasiswa menonton pornorgafi karena adanya dorongan seksual sebesar 31% serta memiliki tujuan untuk memuaskan hasrat seksual sebesar 24. Hal ini didukung oleh penelitian Purwanto Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 et al informanya mengatakan sulit berhenti menonton pornografi karena adanya dorongan (Mubarokah 2. Aktivitas seksual akibat menonton pornografi seperti mastrubasi hingga melakukan hubungan seks bebas. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Priangga mengatakan dampak penikmat pornografi yakni mengalami kecanduan pornografi, mengoleksi pornografi berlebihan, melakukan mastrubasi , sampai ditahap melakukan hubungan seks. (Anindhita 2. Menurut penelitian Arbi and Umam . mengatakan awalnya menonton pornografi dapat meningkatkan hasrat seksual, dari rangsangan tersebut timbulah keinginan untuk meraba daerah sensitifnya sendiri, berikutnya mendorong pada perilaku seksual seperti touching . erpelukan, berpegangan tanga. , kissing . encium kening, menicum bibi. , petting . eraba area sensiti. , dan sexual Adapun dampak yang didapat setelah menonton pornografi. Menurut Kajian Diana et al dalam studi kasus kecanduan pornografi memaparkan mahasiswa yang terus menonton pornografi dapat mempengaruhi gangguan kognitif dimana hal ini dapat menganggu aktifitas berfikir yang melibatkan proses perolehan, penyimpanan, pemprosesan dan pencarian mahasiswa dalam mengambilan keputusan. (Diana 2. selain itu, menurut penelitian adam safron dalam kajiannya yang membahas mengenai otak dan kecanduan mengatakan bahwa kecanduan pornografi online berlebihan akan menimbulkan konsekuensi yang dapat merusak fungsi seksual seseorang. (Safron 2. Pornografi memberikan dampak yang tidak sedikit, berikutnya dampak kerusakan syaraf yang di paparkan oleh Donald dalam kajiannya mengatakan efek adiktif yang kuat mampu mempengaruhi kinerja syaraf. (Hilton 2. penelitian Kendra et al dalam kajiannya yang membahas mengenai dampak kerusakan otak pada korteks prefrontal mengalami penyusutan terlalu banyak menerima hormon dopamin karna kecanduan pornografi, korteks prefrontal merupakan bagian otak yang bertugas sebagai pengambilan keputusan dan pengendalian diri sehingga apabila terjadi kerusakan, maka fungsinya akan (Muller 2. SIMPULAN Kebaruan dan Kontribusi Penelitian ini menawarkan kontribusi baru dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi pornografi online di kalangan mahasiswa, khususnya dengan menyoroti peran persepsi kontrol perilaku dan niat. Temuan menunjukkan bahwa faktor eksternal . eperti kemudahan akses interne. dan faktor internal . eperti kemampuan individu untuk menerima atau menolak kesempata. dapat memengaruhi intensitas niat dan perilaku konsumsi pornografi. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya literatur terkait faktor-faktor internal dan eksternal yang mendukung atau menghambat perilaku risiko pada generasi muda. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, penggunaan Purposive Sampling melalui platform daring (Google For. mungkin membatasi keragaman data karena tidak semua mahasiswa memiliki akses atau ketertarikan untuk berpartisipasi. Kedua, desain Cross-Sectional tidak memungkinkan analisis perubahan persepsi atau niat dari waktu ke waktu. Selain itu, instrumen penelitian yang dinyatakan tidak reliabel pada beberapa butir pertanyaan mengenai persepsi kontrol perilaku dapat memengaruhi hasil pengukuran. Keterbatasan ini perlu diperhatikan dalam interpretasi hasil. Implikasi dan Saran Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 3. 2024 Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pencegahan perilaku berisiko, khususnya konsumsi pornografi online di kalangan mahasiswa. Pihak kampus dan pembuat kebijakan disarankan untuk meningkatkan literasi digital dan membatasi akses internet di lingkungan kampus yang mendukung konten berisiko. Intervensi yang dapat menumbuhkan kemampuan pengendalian diri, pemahaman terhadap dampak negatif pornografi, dan penguatan moral diharapkan dapat membantu mengurangi intensitas niat dan perilaku konsumsi tersebut. Studi lanjutan dapat mempertimbangkan pendekatan longitudinal untuk memahami perkembangan niat dan perilaku dalam jangka waktu lebih panjang. DAFTAR PUSTAKA