Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 1493-1500 The Effect of Structured Booklet-Based Education on Medication Adherence. Quality of Life, and Random Blood Glucose Levels in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus at Primary Health Centers in Tasikmalaya City. Jawa Barat. Indonesia Pengaruh Edukasi Terstruktur Berbasis Booklet Terhadap Kepatuhan. Kualitas Hidup. Dan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Jawa Barat. Indonesia Listya Permatasari a,b*. Tri Murti Andayani a,b and Fita Rahmawati a,b a Department of Pharmacy. Faculty of Pharmacy. University of Gadjah Mada. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia. b Master of Clinical Pharmacy Program. Faculty of Pharmacy. University of Gadjah Mada. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia. *Corresponding Authors: listyapermatasari@mail. Abstract This study aimed to analyze the effect of structured booklet-based education on medication adherence, quality of life, and random blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus at primary health care centers in Tasikmalaya City. This research employed a quasi-experimental design with a pretestAeposttest control group approach. A total of 72 respondents were divided into an intervention group . and a control group . Medication adherence was assessed using the Morisky Green Levine Scale (MGLS), quality of life was measured using the Diabetes Quality of LifeAe Brief Clinical Inventory (DQoL-BCI), and clinical outcomes were evaluated using random blood glucose levels. The results showed that the intervention group experienced a significant improvement in medication adherence . <0. and a significant reduction in random blood glucose levels . <0. Quality of life also improved significantly within the intervention group . <0. however, the difference in posttest quality of life between groups was not statistically significant . =0. The improvement in quality of life observed in both groups may have been influenced by routine primary health care services, repeated attention during the study (Hawthorne effec. , as well as support from health cadres or the surrounding environment that was not specifically measured. ANCOVA analysis demonstrated that after controlling for confounding variables, structured booklet-based education had a significant effect on medication adherence . <0. and random blood glucose levels . =0. , but not on quality of life . =0. In conclusion, structured bookletbased education was effective in improving medication adherence and reducing random blood glucose levels, but it did not show a statistically significant effect on quality of life in patients with type 2 diabetes mellitus. Keywords: Type 2 diabetes mellitus, structured education, booklet, medication adherence, quality of life. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi terstruktur berbasis booklet terhadap kepatuhan pengobatan, kualitas hidup, dan kadar glukosa darah sewaktu pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan rancangan pretestAeposttest with control group. Sebanyak 72 responden dibagi menjadi kelompok intervensi . dan kelompok kontrol . Kepatuhan diukur menggunakan Morisky Green Levine Scale (MGLS), kualitas hidup menggunakan Diabetes Quality of LifeAeBrief Clinical Inventory (DQoLBCI), dan luaran klinis dinilai dengan glukosa darah sewaktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi terjadi peningkatan kepatuhan yang signifikan . <0,. , disertai penurunan kadar glukosa darah sewaktu yang signifikan . <0,. Kualitas hidup juga membaik secara signifikan dalam kelompok intervensi . <0,. , namun perbedaan kualitas hidup antar kelompok pada posttest tidak bermakna . =0,. Perbaikan kualitas hidup pada kedua kelompok kemungkinan dipengaruhi oleh pelayanan rutin Puskesmas, perhatian berulang selama penelitian . awthrone effec. , serta dukungan kader atau lingkungan yang tidak terukur secara khusus. Analisis ANCOVA menunjukkan bahwa setelah mengontrol variabel perancu, edukasi terstruktur berbasis booklet berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan pengobatan . <0,. dan kadar glukosa darah sewaktu . =0,. , tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup . =0,. Disimpulkan bahwa edukasi terstruktur berbasis booklet efektif meningkatkan kepatuhan pengobatan dan memperbaiki kadar glukosa darah sewaktu, namun belum menunjukkan pengaruh yang bermakna terhadap kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2. Keywords: Diabetes melitus tipe 2. Edukasi terstruktur. Booklet. Kepatuhan pengobatan. Kualitas hidup. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NC-SA . License Article History: Received: 14/04/2026. Revised: 27/05/2026. Accepted: 27/05/2026. Available Online: 29/05/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi tantangan penting dalam pelayanan kesehatan, terutama di tingkat primer . Penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan hiperglikemia persisten, tetapi juga dengan kebutuhan pengobatan jangka panjang, perubahan gaya hidup, serta pencegahan komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. International Diabetes Federation . melaporkan bahwa prevalensi diabetes pada populasi dewasa usia 20Ae 79 tahun secara global mencapai 11,1%. Dalam konteks pelayanan primer, keberhasilan pengelolaan diabetes sangat dipengaruhi oleh kemampuan pasien dalam memahami penyakit, menjalani terapi secara konsisten, dan melakukan perawatan diri secara mandiri. Edukasi kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 karena terbukti dapat meningkatkan pengetahuan, kepatuhan, dan pengendalian glikemik pasien. Edukasi yang diberikan secara terencana dan sistematis juga berpotensi memperbaiki kualitas hidup pasien melalui peningkatan kemampuan self-management . Di fasilitas kesehatan tingkat pertama, apoteker memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kefarmasian yang berfokus pada penggunaan obat yang tepat, peningkatan kepatuhan, dan pencegahan komplikasi . Namun, praktik edukasi di puskesmas masih sering bersifat singkat, tidak terstruktur, dan belum didukung media edukasi yang dapat digunakan pasien secara berkelanjutan di luar kunjungan pelayanan. Dalam hal ini, booklet menjadi salah satu media yang potensial karena praktis, mudah dipahami, dan dapat dibaca ulang sesuai kebutuhan pasien . Ae. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan manfaat edukasi pada pasien diabetes melitus tipe 2, sebagian besar masih berfokus pada satu luaran tertentu, seperti pengetahuan, kepatuhan, atau kontrol glikemik saja. Penelitian yang secara simultan mengevaluasi pengaruh edukasi berbasis booklet terhadap kepatuhan pengobatan, kualitas hidup, dan luaran klinis pada pasien diabetes melitus tipe 2 di fasilitas kesehatan tingkat pertama masih terbatas, khususnya dalam konteks Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolani. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh edukasi terstruktur berbasis booklet terhadap kepatuhan pengobatan sebagai outcome utama, serta kualitas hidup dan glukosa darah sewaktu sebagai outcome pendukung pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan studi quasi-eksperimental dengan desain pretestAeposttest with control group yang dilakukan secara prospektif pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Kota Tasikmalaya. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kawalu sebagai kelompok intervensi dan Puskesmas Purbaratu sebagai kelompok kontrol pada periode bulan Februari Ae Maret 2026. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-random sampling dengan pendekatan convenience sampling . Jumlah sampel minimum dihitung menggunakan rumus Lemeshow dan diperoleh kebutuhan minimal 30 subjek per kelompok. Untuk mengantisipasi kehilangan subjek selama penelitian, jumlah sampel ditambah 20%, sehingga diperoleh 36 responden pada masing-masing kelompok. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2 peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolani. yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu berusia >18 tahun, terdaftar sebagai peserta Prolanis, telah menjalani pengobatan minimal 6 bulan, menggunakan obat antidiabetes oral dengan atau tanpa insulin, serta Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. memiliki kadar glukosa darah yang belum terkendali. Pasien dengan kondisi lemah, gangguan kognitif, komplikasi berat, bekerja sebagai tenaga kesehatan, atau mengundurkan diri selama penelitian dikeluarkan dari studi. Pemilihan Lokasi Penelitian dan Strategi Minimalisasi Bias Pemilihan Puskesmas Kawalu sebagai kelompok intervensi dan Puskesmas Purbaratu sebagai kelompok kontrol didasarkan pada pertimbangan kesamaan karakteristik pelayanan primer, cakupan wilayah kerja, jumlah peserta Prolanis, serta pelaksanaan kegiatan Prolanis rutin pada kedua fasilitas. Penelaah awal terhadap karakteristik fasilitas kesehatan, seperti jumlah kader, jadwal Prolanis dan ketersediaan tenaga kefarmasian, dilakukan untuk memastikan bahwa kedua lokasi memiliki karakteristik operasional yang relatif sebanding. Untuk meminimalkan bias antar lokasi, penelitian ini menerapkan prosedur pengambilan data, instrumen, waktu evaluasi dan pelatihan petugas yang sama pada kedua Selain itu, kesetaraan karakteristik dasar responden dianalisis pada awal penelitian, dan analisis multivariat menggunakan ANCOVA dilakukan untuk mengontrol variabel perancu yang dapat memengaruhi outcome penelitian. Instrumen Penelitian Outcome primer penelitian adalah kepatuhan pengobatan, yang diukur menggunakan Morisky Green Levine Scale (MGLS) . Outcome sekunder meliputi kualitas hidup, yang diukur menggunakan Diabetes Quality of LifeAeBrief Clinical Inventory (DQoL-BCI) versi Bahasa Indonesia, serta kadar glukosa darah sewaktu (GDS) yang diukur pada rentang waktu 2Ae4 jam setelah makan. Pengukuran dilakukan pada awal penelitian . dan pada minggu ke-7 setelah intervensi . Data karakteristik responden yang dikumpulkan meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menderita diabetes, efek samping obat, komorbiditas, jumlah obat, dan konsumsi herbal. Booklet yang digunakan dalam penelitian disusun berdasarkan hasil need assessment dan telaah literatur, kemudian divalidasi menggunakan content validity oleh empat pakar. Seluruh item booklet menunjukkan nilai AikenAos V 0,92Ae1,00, yang menunjukkan validitas isi yang baik. Instrumen MGLS dan DQoL-BCI yang digunakan telah tersedia dalam versi Bahasa Indonesia dan memiliki validitas serta reliabilitas yang dapat Alur Penelitian Kelompok intervensi mendapatkan edukasi terstruktur berbasis booklet yang diberikan oleh apoteker dan dilanjutkan edukasi secara tatap muka selama A15 menit pada minggu ke-0, disertai pemberian booklet cetak sebagai media edukasi. Tindak lanjut edukasi dilakukan satu kali setiap minggunya yaitu pada minggu ke-1 s. d minggu ke-6 melalui kunjungan rumah bersama kader kesehatan selama A15 menit untuk memperkuat pemahaman pasien. Selama periode intervensi, pasien dianjurkan membaca kembali booklet secara mandiri. Kelompok kontrol memperoleh pelayanan informasi obat standar puskesmas tanpa booklet dan tanpa tindak lanjut edukasi terjadwal. Pengkuran Glukosa Darah Sewaktu Pengendalian glikemik merupakan salah satu target utama dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 untuk mencegah komplikasi jangka panjang . Pengukuran Glukosa Darah Sewaktu (GDS) dilakukan pada rentang waktu 2-4 jam setelah makan terakhir. Sebelum pemeriksaan, seluruh responden diinstruksikan untuk mengonsumsi makanan seperti biasa sesuai pola makan harian dan tidak diminta mengubah jenis maupun jumlah asupan. Untuk meningkatkan keterbandingan hasil pengukuran, responden juga diminta untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman manis tambahan, tidak merokok dan tidak melakukan aktivitas fisik berat minimal 30 menit sebelum pemeriksaan. Waktu makan terakhir dicatat melalui wawancara singkat sebelum pengukuran dilakukan, sehingga interval antara makan dan pemeriksaan GDS dapat dipantau pada setiap responden. Pengkuran Kepatuhan terhadap Intervensi Pelaksanaan intervensi pada kelompok intervensi menunjukkan fidelity yang baik, dengan seluruh sesi edukasi awal dan kunjungan rumah terlaksana sesuai protokol . /252 sesi. 100%). Durasi rerata tiap sesi berkisar antara 13,47 Ae 13,97 menit, dengan total durasi 96,10 A 7,1 menit. Sebanyak 69,44% responden melaporkan membaca booklet minimal 3 kali per minggu, dan seluruh responden membawa booklet saat Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. evaluasi serta menyatakan booklet mudah dipahami. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi terstruktur berbasis booklet terlaksana secara konsisten dan diterima dengan baik oleh responden. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS. Uji normalitas dilakukan dengan uji ShapiroAeWilk. Analisis bivariat untuk membandingkan perubahan pretest dan posttest dalam kelompok dilakukan menggunakan paired t-test atau Wilcoxon, sedangkan perbandingan antar kelompok dilakukan menggunakan independent sample t-test atau MannAeWhitney, sesuai distribusi data. Analisis multivariat menggunakan Analysis of Covariance (ANCOVA) dilakukan untuk menilai pengaruh intervensi setelah mengontrol variabel Seluruh analisis statistik menggunakan tingkat kepercayaan 95% dengan nilai signifikansi p < 0,05. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Responden Sebanyak 72 pasien diabetes melitus tipe 2 mengikuti penelitian ini, masing-masing 36 responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Tabel 1. Data karakteristik pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Kota Tasikmalaya menunjukkan hasil analisis karakteristik awal menunjukkan bahwa kedua kelompok relatif homogen karena tidak terdapat perbedaan bermakna pada variabel demografis dan klinis . > 0,. Kondisi ini menunjukkan bahwa kedua kelompok layak dibandingkan untuk menilai pengaruh edukasi terstruktur berbasis booklet. Tabel 1. Data karakteristik Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Kota Tasikmalaya. Karakteristik Jumlah Subjek Tiap Kelompok (N=. Kelompok Kontrol Kelompok Uji Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia <60 Tahun >=60 Tahun Pendidikan Sd/Belum Tamat Smp Sma Perguruan Tinggi 1 Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Lama Pengobatan Dm <5 Tahun 5-10 Tahun >10 Tahun Efek Samping Obat Ada Tidak Ada Komorbid Ada Tidak Ada Jumlah Obat Tunggal Kombinasi Konsumsi Herbal Tidak Total P-Value 0,571 0,157 0,208 0,475 0,824 0,453 0,759 0,527 0,586 Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Kepatuhan Pengobatan Rendahnya kepatuhan pengobatan dapat menyebabkan kontrol glikemik yang buruk dan meningkatkan risiko komplikasi diabetes melitus. Edukasi terstruktur berbasis booklet dapat meningkatkan pemahaman pasien mengenai pentingnya penggunaan obat secara teratur sehingga membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan . Variabel kepatuhan pengobatan terlihat pada Tabel 2. Hasil analisis edukasi terhadap kepatuhan terjadi penurunan skor MGLS baik pada kelompok kontrol maupun kelompok intervensi, namun penurunan pada kelompok intervensi lebih besar. Pada kelompok kontrol, rerata skor menurun dari 2,14 A 1,27 menjadi 1,92 A 1,25 . = 0,. , sedangkan pada kelompok intervensi menurun dari 1,64 A 1,29 menjadi 0,69 A 0,86 . < 0,. Karena skor MGLS yang lebih rendah menunjukkan kepatuhan yang lebih baik, hasil ini menunjukkan bahwa edukasi terstruktur berbasis booklet efektif meningkatkan kepatuhan Pada perbandingan antarkelompok, tidak terdapat perbedaan pada saat pretest . = 0,. , tetapi terdapat perbedaan bermakna pada posttest . < 0,. Hasil ANCOVA juga menunjukkan bahwa kelompok intervensi tetap berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan setelah dikontrol variabel perancu . < 0,. Edukasi yang diberikan secara terstruktur dan berulang dapat meningkatkan motivasi pasien dalam menjalankan terapi diabetes secara konsisten . Peningkatan kepatuhan pada kelompok intervensi kemungkinan terjadi karena edukasi yang diberikan membantu pasien memahami pentingnya penggunaan obat secara teratur serta pengobatan penyakit secara mandiri . Tabel 2. Hasil analisis pengaruh edukasi terhadap kepatuhan. Kelompok Kontrol Intervensi P-Value Pretest (Rerata C S. 2,14 C 1,27 1,64 C 1,29 0,097b Posttest (Rerata C S. 1,92 C 1,25 0,69 C 0,86 <0,001b Selisih iASd P-Value -0,22 C 0,72 -0,94 C 0,89 0,010a <0,001a Kadar Glukosa Darah Sewaktu Variabel glukosa darah sewaktu pada Tabel 3. Hasil analisis pengaruh edukasi terhadap kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS) menunjukkan bahwa kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna, dengan rerata 223,39 A 115,07 mg/dL pada pretest menjadi 233,00 A 125,79 mg/dL pada posttest . = 0,. Sebaliknya, kelompok intervensi mengalami penurunan dari 231,80 A 51,27 mg/dL menjadi 198,14 A 30,16 mg/dL . < 0,. Pada saat pretest, tidak terdapat perbedaan antarkelompok . = 0,. , tetapi pada saat posttest terdapat perbedaan yang signifikan . < 0,. Hasil ANCOVA menunjukkan bahwa edukasi berbasis booklet tetap berpengaruh signifikan terhadap kadar glukosa darah sewaktu setelah dikontrol variabel perancu . = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi tidak hanya berdampak pada perilaku pasien, tetapi juga memberikan manfaat klinis. Penurunan kadar glukosa darah sewaktu pada kelompok intervensi kemungkinan tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan kepatuhan pengobatan, tetapi juga oleh perubahan perilaku pasien dalam mengatur pola makan setelah mendapatkan edukasi . Perubahan perilaku Kesehatan setelah edukasi dapat membantu pasien lebih patuh terhadap pengobatan dan pengelolaan diabetes sehingga berdampak pada perbaikan control glikemik . Tabel 3. Hasil analisis pengaruh edukasi terhadap kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS). Kelompok Kontrol Uji P-Value Pretest (Rerata C S. 223,39 C 115,07 231,80 C 51,27 0,188b Posttest (Rerata C S. 233,00 C 125,79 198,14 C 30,16 <0,001b Selisih iASd P-Value 9,61 C 121,69 -33,69 C 38,64 0,455a <0,001a Kualitas Hidup Variabel kualitas hidup ditampilkan pada Tabel 4. Hasil analisis pengaruh edukasi terhadap kualitas hidup menunjukkan bahwa, kedua kelompok sama-sama mengalami perbaikan. Pada kelompok kontrol, skor DQoLAeBCI menurun dari 43,39 A 17,93 menjadi 30,75 A 16,05 . = 0,. , sedangkan pada kelompok intervensi menurun dari 45,61 A 17,88 menjadi 25,36 A 9,14 . < 0,. Karena skor yang lebih rendah menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik, hasil ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas hidup pada kedua Namun, perbandingan antarkelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna baik pada pretest . = 0,. maupun posttest . = 0,. Hasil ANCOVA juga menunjukkan bahwa pengaruh Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. intervensi terhadap kualitas hidup belum signifikan setelah dikontrol variabel perancu . = 0,. Dengan demikian, edukasi berbasis booklet tampak lebih kuat memengaruhi kepatuhan pengobatan dan glukosa darah sewaktu dibandingkan kualitas hidup. Perbaikan kualitas hidup pada kelompok intervensi kemungkinan berkaitan dengan meningkatnya kemampuan pasien dalam melakukan self-management diabetes setelah mendapatkan edukasi . Tabel 4. Hasil analisis pengaruh edukasi terhadap kualitas hidup. Kelompok Kontrol Uji P-Value Pretest (Rerata C S. 43,39 C 17,93 45,61 C 17,88 0,600b Posttest (Rerata C S. 30,75 C 16,05 25,36 C 9,14 0,317c Selisih iASd P-Value -12,33 C 22,39 -33,69 C 38,64 0,002a <0. Analisis subgrup eksploratif menggunakan ANCOVA dilakukan untuk menilai kemungkinan adanya perbedaan efek intervensi booklet terhadap kualitas hidup berdasarkan usia, pendidikan dan status komorbid. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang signifikan antara kelompok intervensi dan usia . =0,. , pendidikan . =0,. , maupun komorbid . =0,. Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat bukti kuat bahwa manfaat booklet terhadap kualitas hidup berbeda menurut karakteristik pasien tersebut. Meskipun demikian, secara deskriptif adjusted mean skor DQoL posttest pada kelompok intervensi cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol pada hampir semua subgrup, terutama pada pasien usia < 60 tahun, tanpa komorbid dan berpendidikan SD/tidak sekolah. Hasil kualitas hidup dalam penelitian ini juga perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan keterbatasan instrumen yang digunakan. DQoL-BCI merupakan instrumen ringkas yang berguna untuk menilai kualitas hidup secara umum, tetapi kemungkinan belum cukup sensitif untuk menangkap aspek yang sangat dipengaruhi oleh konteks budaya dan sosial ekonomi pasien di Tasikmalaya, seperti pola makan tradisional, aktivitas harian dan dukungan keluarga. Keterbatasan ini dapat menjadi salah satu alasan mengapa perbedaan kualitas hidup antar kelompok belum bermakna secara statistik. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan instrumen yang lebih spesifik, seperti Indonesian Version of Diabetes-39 atau ADDQoL, serta mempertimbangkan wawancara kualitatif singkat pada sub sampel untuk mengeksplorasi dimensi kualitas hidup yang belum terukur oleh kuesioner. Hubungan Variabel Perancu terhadap Kepatuhan Pengobatan. Glukosa Darah Sewaktu, dan Kualitas Hidup Analisis multivariat menggunakan ANCOVA dilakukan untuk menilai hubungan variabel perancu, yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, lama pengobatan, efek samping obat, komorbid, jumlah obat, konsumsi herbal, dan nilai pretest, terhadap kepatuhan pengobatan, glukosa darah sewaktu, dan kualitas Tabel 5 Hasil analisis hubungan variabel perancu terhadap kepatuhan, kadar glukosa darah sewaktu dan kualitas hidup menunjukkan bahwa nilai pretest merupakan satu-satunya variabel yang berhubungan signifikan dengan seluruh outcome penelitian, yaitu kepatuhan . < 0,. , glukosa darah sewaktu . < 0,. , dan kualitas hidup . = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi awal pasien sebelum intervensi berperan penting dalam menentukan hasil pengukuran akhir. Sebagian besar variabel demografis dan klinis lainnya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap ketiga outcome penelitian . eluruh p > 0,. Pada kepatuhan pengobatan, konsumsi herbal menunjukkan kecenderungan mendekati signifikan . = 0,. Pada glukosa darah sewaktu, lama pengobatan . = 0,. dan jumlah obat . = 0,. juga tampak mendekati signifikan, namun belum memenuhi batas kemaknaan statistik. Sementara itu, pada kualitas hidup, seluruh variabel perancu selain pretest tidak berhubungan signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan kepatuhan, glukosa darah sewaktu, dan kualitas hidup dalam penelitian ini lebih dipengaruhi oleh kondisi awal pasien dan intervensi yang diberikan dibandingkan oleh karakteristik demografis dan klinis responden. Walaupun analisis utama menunjukkan bahwa pengaruh intervensi terhadap kualitas hidup belum bermakna pada model utama setelah pengendalian faktor perancu, analisis subgroup eksploratif pada table 5 memberikan gambaran awal bahwa booklet mungkin lebih bermanfaat pada pasien tertentu, khususnya pasien yang lebih muda, tanpa komorbid dan dengan pendidikan rendah. Hasil subgrup ini bisa dijadikan sebagai hipotesis awal untuk penelitian selanjutnya dengan ukuran sampel yang lebih besar dan kekuatan uji yang Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 5. Hasil analisis hubungan variabel perancu terhadap kepatuhan, kadar glukosa darah sewaktu dan kualitas hidup Variabel Perancu Pretest Jenis Kelamin Usia Pendidikan Pekerjaan Lama Pengobatan Efek Samping Obat Komorbid Jumlah Obat Konsumsi Herbal Kepatuhan < 0,01 0,344 0,203 0,569 0,248 0,201 0,217 0,219 0,687 0,053 P-Value Glukosa Darah Sewaktu < 0,01 0,789 0,787 0,393 0,595 0,088 0,620 0,359 0,098 0,145 Kualitas Hidup 0,01 0,979 0,537 0,823 0,357 0,900 0,363 0,971 0,184 0,189 *Keterangan: Uji Ancova. Sig (P<0,. Tabel 6. Analisis subgroup eksploratif pengaruh edukasi terstruktur berbasis booklet terhadap kualitas Subgrup Usia <60 tahun Usia Ou60 tahun Ada komorbid Tidak ada komorbid SD/Tidak sekolah SMP SMA Perguruan tinggi Mean kontrol 30,868 31,205 31,159 30,487 31,576 26,103 32,188 28,922 Mean intervensi 22,621 25,621 25,309 20,114 23,412 28,100 25,443 21,969 Selisih efek . ntervensi Oe kontro. -8,247 -5,584 -5,850 -10,373 -8,164 1,997 -6,745 -6,953 p interaksi 0,685 0,685 0,580 0,580 0,757 0,757 0,757 0,757 Keterangan: Skor DQoL-BCI yang lebih rendah menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik. seilish efek negatif menunjukkan hasil yang lebih baik pada kelompok intervensi Keterbatasan Penelitian Generalisasi hasil penelitian ini perlu dilakukan secara hati-hati, karena responden didominasi oleh pasien perempuan dengan tingkat pendidikan rendah yang berasal dari fasilitas kesehatan primer di wilayah Priangan Timur. Dengan demikian, temuan ini terutama merefleksikan karakteristik populasi tersebut dan belum tentu berlaku pada kelompok pasien dengan latar sosiodemografi yang berbeda. Penelitian selanjutnya perlu mereplikasi studi ini pada populasi yang lebih beragam, termasuk pasien laki-laki, wilayah industri atau perkotaan, serta puskesmas dengan pelaksanaan Prolanis yang lebih matang. Kesimpulan Pemberian edukasi terstruktur berbasis booklet berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kota Tasikmalaya secara signifikan . < 0,. dengan peningkatan kepatuhan yang ditandai dengan penurunan skor nilai rata-rata sebelum edukasi 1,64C1,29 menjadi 0,69C0,86 setelah diberikan edukasi. Pemberian edukasi terstruktur berbasis booklet berpengaruh terhadap perubahan glukosa darah sewaktu pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kota Tasikmalaya secara signifikan . < 0,. dengan penurunan kadar glukosa darah sewaktu rata rata sebelum edukasi 231,80C51,27 mg/dl menjadi 198,14C30,16 setelah diberikan edukasi. Pemberian edukasi terstruktur berbasis booklet tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna secara statistik terhadap kualitas hidup pasien dibandingkan dengan kelompok kontrol setelah dikontrol variabel perancu . =0,. Meskipun terjadi perbaikan dalam kelompok intervensi, perbaikan serupa juga terjadi pada kelompok kontrol. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak terdapat konflik kepentingan dalam penelitian ini. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada dr. Budy Nugraha. MM. Kes. , selaku Kepala UPTD Puskesmas Kawalu Kota Tasikmalaya dan Bapak Eka Priana. Si. Apt. selaku Apoteker Penanggung Jawab UPTD Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya atas bantuan teknis, penyediaan tempat penelitian, serta dukungan dalam pengumpulan data dan karakterisasi. Materi Suplemen Materi suplemen berikut tersedia secara daring di . ttps://bit. ly/MateriTambahanEdukasiBerbasisBookle. File Suplemen S1, kuesioner need assessment. File Suplemen S2, materi edukasi berbasis booklet. File Suplemen S3, kuesioner Morisky Green Levine Scale (MGLS). dan File Suplemen S4, kuesioner Diabetes Quality of LifeAeBrief Clinical Inventory (DQoL-BCI). References