ISSN 2721-1703 Vol. No. x, 202x, pp. xx-xx Jurnal Cakrawala Bahari Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Optimalisasi Pengawasan Stevedore dalam Kegiatan Pemuatan Crude Palm Oil untuk Mengurangi Terjadinya Penyusutan Muatan di Kapal MT. Shoshun Kurniawan1* & Muhammad Andre2 1, 2 Program Studi Transportasi Laut. Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Indonesia Article Info Article history: Received Jun 12th, 2025 Revised Aug 20th, 2025 Accepted Nov 26th, 2025 Keyword: Stevedore Pengawasan Crude Palm Oil Penyusutan Muatan Efisiensi Pemuatan ABSTRAK Penyusutan muatan . argo los. pada saat pemuatan Crude Palm Oil (CPO) di kapal tanker dapat menimbulkan kerugian finansial dan operasional bagi perusahaan pelayaran maupun pemilik muatan. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran pengawasan stevedore . enaga bongkar mua. dalam kegiatan pemuatan CPO di kapal MT. Shoshun, mengidentifikasi kendala yang menyebabkan pengawasan tersebut belum optimal sehingga terjadi penyusutan muatan, serta merumuskan upaya optimalisasi pengawasan untuk mengurangi kehilangan muatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi kasus di MT. Shoshun. Data diperoleh melalui observasi langsung proses pemuatan, wawancara mendalam dengan pihak terkait . upervisor stevedore, perwira kapal, surveyo. , serta telaah dokumen jumlah muatan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penyusutan muatan CPO umumnya bersifat Aupaper lossAy akibat kesalahan pengukuran volume dan densitas karena penurunan suhu selama pelayaran, selain potensi Auphysical lossAy akibat kebocoran atau Faktor-faktor penyebab diidentifikasi antara lain kurangnya perawatan dan kalibrasi alat ukur, ketidakpatuhan terhadap prosedur operasi standar (SOP) pemuatan, serta kurangnya pengawasan langsung dan pelatihan stevedore. Melalui peningkatan pengawasan stevedore secara menyeluruh, mencakup kehadiran pengawas di lapangan sepanjang pemuatan, pemeriksaan kesiapan peralatan pemompaan, penegakan SOP, pencatatan volume muatan secara akurat, serta penerapan teknologi monitoring, penyusutan muatan dapat ditekan hingga berada dalam batas toleransi wajar. Studi ini menyimpulkan bahwa optimalisasi pengawasan stevedore berperan signifikan dalam efisiensi pemuatan CPO dan mampu mengurangi penyusutan muatan di MT. Shoshun. Rekomendasi praktis meliputi program pelatihan rutin bagi stevedore, kalibrasi berkala alat ukur volume, prosedur penyegelan valve untuk mencegah kehilangan fisik, serta penggunaan sistem pengukuran digital agar pengawasan muatan lebih akurat dan transparan. A 2021 The Authors. Published by Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Muhammad Andre. Politeknik Pelayaran Sumatera Barat Email: nobiasa18@gmail. Kurniawan & Andre Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Pendahuluan Indonesia dikenal sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia dengan produksi mampu memasok sekitar 50% kebutuhan CPO global. CPO adalah minyak nabati yang diekstrak dari bagian mesokarp buah kelapa sawit dan berwarna kemerahan karena kandungan alfa dan beta-karoten yang tinggi. Produksi CPO nasional yang melimpah menjadikan transportasi laut sebagai moda utama distribusi ke pasar internasional maupun domestik (Badan Pusat Statistik, 2. Angkutan laut merupakan metode transportasi yang paling efisien untuk mengirim muatan dalam volume besar dengan biaya relatif rendah dibanding transportasi darat atau udara. Menurut Jinca . , angkutan laut mencakup kegiatan mengangkut atau memindahkan penumpang dan barang dengan sarana kapal melalui jalur air, yang sejak lama menjadi tulang punggung perdagangan internasional. Peran strategis angkutan laut tersebut didukung oleh infrastruktur pelabuhan yang memadai. pelabuhan berfungsi sebagai tempat kapal bertambat, melakukan bongkar muat barang, serta penyimpanan sementara kargo (Triatmodjo, 2. Bongkar muat di pelabuhan mencakup tiga kegiatan utama yaitu receiving, cargodoring, dan stevedoring (Suyono, 2. Stevedoring didefinisikan sebagai pelayanan bongkar muat barang dari atau ke kapal . ari dermaga, tongkang, tru. menggunakan alat angkat seperti derek kapal. Pekerja yang melaksanakan tugas bongkar muat tersebut disebut stevedore, yang bertanggung jawab memindahkan muatan antara kapal dan darat di area pelabuhan. Pengawasan terhadap kinerja stevedore selama proses bongkar muat sangat diperlukan untuk menjamin operasional yang aman, efisien, dan mencegah kerugian. Pengawasan yang efektif akan memastikan stevedore mematuhi prosedur kerja dan standar keselamatan, sehingga kegiatan pemuatan berjalan lancar (Mitraseraya, 2. Tanpa pengawasan langsung, pelaksanaan tugas bongkar muat berpotensi tidak terkontrol dengan baik. stevedore mungkin kurang mematuhi SOP, yang dapat menyebabkan penurunan kualitas penanganan muatan, meningkatkan risiko kecelakaan kerja, serta memperbesar kemungkinan terjadinya losses atau penyusutan muatan (Suwignyo, 2. Penyusutan muatan mengacu pada selisih kekurangan volume/berat kargo yang tercatat di kapal dibanding jumlah yang seharusnya diterima. Masalah penyusutan ini kerap terjadi dalam pengangkutan komoditas cair seperti CPO dan berdampak merugikan secara finansial bagi perusahaan pengirim maupun penerima (GAPKI, 2. Sebagai contoh, sebuah perusahaan eksportir CPO di Pelabuhan Belawan melaporkan terjadinya losses signifikan saat muatan telah berada di atas kapal (GAPKI, 2. Volume CPO yang tercatat di tangki kapal MT. Shoshun setelah pemuatan ternyata lebih rendah daripada volume yang tercantum pada dokumen Bill of Lading saat keberangkatan dari pelabuhan, menunjukkan adanya kekurangan muatan di kapal. Kondisi ini menimbulkan kerugian finansial langsung bagi pemilik kargo dan dapat merusak kepercayaan atau reputasi perusahaan pelayaran yang terlibat. Penelitian terdahulu menguatkan urgensi permasalahan penyusutan muatan akibat kurang optimalnya pengawasan. Romadoni . menemukan bahwa pengawasan bongkar muat yang tidak optimal di kapal MT. Medelin Master menyebabkan selisih perhitungan volume muatan Marine Fuel Oil (MFO) antara pelabuhan muat dan bongkar mencapai 0,91%, jauh di atas ambang toleransi penyusutan yang ditetapkan Pertamina sebesar 0,03%. Akibatnya, perusahaan mengalami kerugian finansial karena kehilangan volume melebihi batas toleransi tersebut (Romadoni, 2. Temuan serupa dilaporkan oleh Mansyur . , yang menganalisis penyebab losses MFO di MT. Medelin Master dan mengidentifikasi faktor-faktor teknis seperti penurunan suhu kargo dan ketidaksesuaian alat ukur antara pihak kapal dan terminal Pertamina sebagai pemicu penyusutan muatan. Mansyur . menekankan bahwa ketidakselarasan metode dan peralatan pengukuran antara kapal dan darat . isalnya perbedaan kalibrasi tanki ukur atau kerusakan alat uku. berkontribusi signifikan terhadap terjadinya losses. Kedua studi tersebut merekomendasikan peningkatan pengawasan dan kepatuhan prosedur selama proses muat/bongkar sebagai upaya pencegahan penyusutan muatan (Mansyur, 2018. Romadoni, 2. Berdasarkan latar belakang di atas, jelas bahwa optimalisasi pengawasan stevedore dalam kegiatan pemuatan CPO merupakan hal krusial untuk menekan terjadinya penyusutan muatan di Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Optimalisasi Pengawasan Stevedore dalam Kegiatan Pemuatan Crude Palm Oil untuk Mengurangi Terjadinya Penyusutan Muatan di Kapal MT. Shoshun kapal tanker. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan fokus pada kapal MT. Shoshun sebagai studi kasus. Penelitian ini bertujuan untuk: . mengevaluasi pelaksanaan pengawasan stevedore saat pemuatan CPO di kapal MT. Shoshun, . mengidentifikasi kendala-kendala yang menyebabkan pengawasan tersebut belum optimal sehingga terjadi penyusutan muatan, dan . merumuskan upaya-upaya yang tepat untuk mengoptimalkan pengawasan stevedore agar penyusutan muatan CPO dapat diminimalkan . ata lapangan, 2. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis, studi ini memperkaya literatur mengenai manajemen bongkar muat dengan menyoroti peran pengawasan dalam menjaga kuantitas muatan. Secara praktis, temuan dan rekomendasi penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan pelayaran dan pengelola terminal CPO untuk meningkatkan prosedur pengawasan, sehingga kerugian akibat losses dapat ditekan seminimal Metode Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai praktik pengawasan stevedore dan fenomena penyusutan muatan yang terjadi (Moleong, 2013. Creswell & Poth, 2. Pendekatan studi kasus diterapkan dengan objek penelitian kapal MT. Shoshun sebagai unit kasus, mengingat kapal tersebut mengalami permasalahan penyusutan muatan CPO (Flick, 2. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk mengeksplorasi pengalaman dan pandangan para pelaku secara konteks-spesifik, alih-alih menguji variabel kuantitatif (Creswell & Poth, 2. Lokasi dan Partisipan: Penelitian dilaksanakan di lingkungan operasional kapal MT. Shoshun yang terlibat dalam kegiatan pemuatan CPO di salah satu pelabuhan ekspor Sumatera Barat . ata lapangan, 2. Partisipan penelitian dipilih secara purposive sampling, yaitu secara sengaja memilih informan yang dianggap paling mengetahui dan terlibat langsung dalam proses pemuatan CPO (Palinkas et al. , 2. Informan kunci mencakup nahkoda kapal, mualim I . hief office. yang bertanggung jawab atas operasi kargo, loading master atau perwakilan perusahaan pengirim di lapangan, foreman atau mandor stevedore, serta petugas syahbandar yang mengawasi prosedur di pelabuhan . ata lapangan, 2. Keterlibatan berbagai peran tersebut diharapkan memberikan perspektif beragam sehingga data yang dikumpulkan lebih komprehensif dan dapat dipercaya melalui triangulasi sumber (Carter et al. , 2. Pengumpulan Data: Teknik pengumpulan data utama adalah wawancara mendalam dan observasi langsung. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur menggunakan pedoman pertanyaan terbuka, sehingga informan dapat menjelaskan pengalaman dan pandangannya secara detail (Patton, 2. Wawancara dilaksanakan secara tatap muka dengan durasi 30-60 menit per informan, dan seluruh percakapan direkam dengan izin partisipan untuk memastikan akurasi (Tracy, 2. Observasi partisipatif dilakukan selama proses pemuatan CPO di kapal MT. Shoshun, di mana peneliti mengamati secara langsung interaksi antara stevedore dan kru kapal, alur kerja bongkar muat, serta prosedur pengawasan yang diterapkan di lapangan . ata lapangan. Peneliti mencatat setiap temuan penting dalam lembar observasi, termasuk kondisi peralatan, langkah pengukuran volume muatan, komunikasi antara pihak kapal dan stevedore, dan hal-hal terkait keselamatan kerja. Selain itu, dilakukan telaah dokumen sebagai data sekunder, antara lain mencakup dokumen Bill of Lading, catatan hasil sounding/tank measurement di kapal, laporan inspeksi atau berita acara dari syahbandar, serta standar operasional prosedur (SOP) pemuatan CPO yang berlaku (Given, 2. Kombinasi wawancara, observasi, dan dokumentasi ini memberikan kesempatan untuk melakukan triangulasi metode, sehingga informasi yang diperoleh dapat saling diverifikasi lintas sumber (Carter et al. , 2. Analisis Data: Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles et al. , 2014. Sugiyono, 2. Pada tahap reduksi data, peneliti memilah-milah dan menyederhanakan data mentah yang diperoleh dari lapangan dengan cara merangkum Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Kurniawan & Andre Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx temuan pokok, memilih hal-hal yang relevan dengan fokus penelitian, serta membuang informasi yang tidak terkait (Miles et al. , 2. Data yang telah direduksi kemudian disajikan . ata displa. dalam bentuk teks naratif, tabel, maupun diagram alur proses pemuatan, guna memudahkan pemahaman hubungan antar-faktor (Sugiyono, 2. Selanjutnya, peneliti melakukan penarikan kesimpulan sementara berdasarkan pola-pola temuan yang muncul, kemudian melakukan verifikasi dengan membandingkan kesimpulan tersebut terhadap keseluruhan data dan teori yang ada (Miles et al. , 2. Proses analisis berlangsung iteratif. kesimpulan akhir baru ditetapkan setelah peneliti yakin bahwa tidak ada inkonsistensi antara data dan hasil interpretasi. Untuk meningkatkan keabsahan hasil, dilakukan triangulasi baik triangulasi sumber data maupun triangulasi teknik (Carter et al. , 2. Misalnya, informasi mengenai prosedur pengawasan yang diperoleh dari wawancara nahkoda dikonfirmasi dengan observasi langsung di lapangan serta dibandingkan dengan isi SOP tertulis. Peneliti juga menerapkan member check dengan cara mendiskusikan ringkasan hasil wawancara kepada informan terkait untuk memastikan tidak ada misinterpretasi (Tracy, 2. Aspek etika penelitian dijaga dengan memperoleh informed consent dari setiap narasumber sebelum wawancara dan menjamin kerahasiaan identitas serta informasi sensitif yang diberikan (Tracy, 2. Melalui langkah-langkah tersebut, metodologi penelitian ini diharapkan menghasilkan data yang valid dan reliabel untuk menjawab rumusan masalah tentang pengawasan stevedore dan penyusutan muatan CPO. Hasil dan Pembahasan Kondisi Pengawasan Stevedore dalam Pemuatan CPO Berdasarkan hasil observasi di kapal MT. Shoshun, sistem pengawasan stevedore yang berlangsung saat pemuatan CPO masih bersifat informal dan terbatas . ata lapangan, 2. Pengawasan utama di lapangan dilakukan oleh mualim I selaku perwira dek yang memonitor kegiatan pemuatan dari sisi kapal, dibantu oleh seorang foreman dari pihak perusahaan bongkar muat yang memimpin tim stevedore. Namun, tidak terdapat petugas khusus yang secara eksklusif ditugaskan untuk mengawasi proses pemuatan tersebut secara menyeluruh . ata lapangan. Akibatnya, beberapa tahapan krusial berpotensi luput dari pantauan ketat. Sebagai contoh, pada saat pengecekan volume muatan . di tangki kapal, pengawasan hanya dilakukan oleh mualim I tanpa pendampingan pihak independen, sehingga akurasi pembacaan sounding bergantung sepenuhnya pada keterampilan dan ketelitian perwira tersebut . ata lapangan, 2. Kondisi ini sejalan dengan temuan Saragih et al. yang mengidentifikasi kurangnya pengawasan oleh perwira kapal saat pengukuran kargo sebagai faktor peningkatan risiko kesalahan manusiawi dalam pencatatan volume muatan. Ketika oversight oleh petugas senior lemah, potensi kelalaian atau kekeliruan human error tidak tertangkap sehingga koreksi segera tidak dilakukan. Selain itu, komunikasi antara tim kapal dan tim stevedore dalam pelaksanaan bongkar muat di MT. Shoshun terpantau belum terpadu dengan baik . ata lapangan, 2. Masing-masing pihak menjalankan tugasnya sendiri-sendiri sesuai bidangnya, tetapi koordinasi real-time tentang laju pemompaan CPO, pergantian tangki, maupun jeda operasi kadang terlambat disampaikan. Akibatnya, bila terjadi ketidaksesuaian volume atau kondisi abnormal . isal: kebocoran sambungan selang, perubahan densitas karena suh. di tengah proses, tidak segera ditindaklanjuti secara kolektif . ata lapangan, 2. Kelemahan koordinasi ini mencerminkan kurangnya suatu mekanisme pengawasan terpadu lintas pihak, yang idealnya menghubungkan loading master, kru kapal, dan foreman stevedore dalam satu sistem komunikasi selama pemuatan (Mitraseraya, 2. Mitraseraya . menekankan bahwa stevedore dan petugas kapal harus bekerja selaras di bawah supervisi yang jelas untuk memastikan efisiensi dan keselamatan bongkar muat. Tanpa adanya pengawas terkoordinasi, tanggung jawab terhadap kualitas dan kuantitas muatan cenderung terfragmentasi . idak terpad. , sehingga peluang terjadinya penyimpangan atau kelalaian meningkat (Suwignyo, 2. Temuan di lapangan menunjukkan pula bahwa prosedur pengecekan ulang . ouble-checkin. volume muatan setelah transfer CPO tidak selalu dilaksanakan secara disiplin . ata lapangan, 2. Idealnya, setelah pemuatan selesai, dilakukan gauging ulang setiap tangki untuk memastikan tidak ada kargo Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Optimalisasi Pengawasan Stevedore dalam Kegiatan Pemuatan Crude Palm Oil untuk Mengurangi Terjadinya Penyusutan Muatan di Kapal MT. Shoshun tertinggal di jalur perpipaan serta volume akhir sesuai perhitungan. Namun, karena tekanan jadwal sandar dan asumsi bahwa hasil pengukuran awal sudah benar, tahap re-check ini kadang Saragih et al. dalam studinya menggarisbawahi bahwa mengabaikan prosedur pemeriksaan ulang tangki pasca transfer dapat menyebabkan kesalahan pencatatan volume Praktik semacam ini, jika dibiarkan, berkontribusi pada tidak terdeteksinya losses secara Secara umum, kondisi eksisting pengawasan stevedore di kapal MT. Shoshun sebelum perbaikan ditandai oleh: . belum adanya struktur pengawasan formal yang memastikan setiap tahap pemuatan diawasi petugas khusus, . ketergantungan tinggi pada kru kapal . untuk memonitor muatan tanpa dukungan pengawas independen, . komunikasi dan koordinasi antarpihak yang perlu ditingkatkan. Kondisi ini selaras dengan gambaran baseline masalah pengawasan bongkar muat pada studi Romadoni . , di mana kurangnya pengawasan menyeluruh menyebabkan penanganan muatan tidak optimal sehingga terjadi selisih volume muatan . di kapal tanker. Dengan demikian, diperlukan identifikasi kendala spesifik yang menyebabkan pengawasan belum optimal, sebagai dasar merumuskan strategi optimalisasi. Kendala yang Menyebabkan Pengawasan Stevedore Tidak Optimal Hasil wawancara dan observasi mengungkap sejumlah kendala utama yang menghambat optimalnya pengawasan stevedore dalam pemuatan CPO di MT. Shoshun. Pertama, terdapat kendala terkait sumber daya manusia dan kepatuhan prosedur. Beberapa stevedore dan kru kapal diketahui belum sepenuhnya mematuhi Standard Operating Procedure (SOP) pemuatan yang berlaku . ata lapangan, 2. Misalnya, prosedur pemeriksaan keamanan sambungan pipa dan valve sebelum pemompaan sering dilewati, dan pencatatan volume dipandang sekadar formalitas sehingga tidak teliti. Minimnya budaya disiplin ini diperparah oleh ketiadaan figur pengawas yang aktif mengingatkan atau mengarahkan pekerja untuk senantiasa mengikuti checklist. Romadoni . menemukan bahwa deviasi dari prosedur pemuatan . eperti tidak menjalankan checklist persiapan dan pengawasa. merupakan faktor signifikan penyebab penyusutan muatan di kapal tanker, karena prosedur dirancang untuk mencegah kesalahan dan kehilangan kargo. Dalam konteks MT. Shoshun, safety meeting dan briefing pra-pemuatan masih terbatas membahas keselamatan, belum menekankan aspek pengamanan kuantitas muatan, sehingga awak kurang teredukasi mengenai potensi losses dan cara mencegahnya . ata lapangan, 2. Kedua, kendala teknis dan peralatan turut mempengaruhi efektivitas pengawasan. Dari sisi peralatan ukur volume, ditemukan perbedaan metode dan alat antara pihak kapal dan darat. Kapal MT. Shoshun mengukur volume CPO menggunakan sounding tape dan tabel kalibrasi tangki kapal, sementara fasilitas tangki darat mengukur volume lewat flow meter. Perbedaan ini membuka peluang ketidaksesuaian pembacaan jika tidak dikoreksi dengan tepat. Mansyur . menjelaskan bahwa ketidakselarasan alat ukur dan metode . isalnya perbedaan standar kalibrasi antara kapal dan termina. dapat menghasilkan perhitungan volume yang berbeda, sehingga menimbulkan dispute mengenai jumlah kargo yang sebenarnya. Dalam kasus penelitian ini, pihak kapal mengeluhkan bahwa flow meter di terminal kurang dikalibrasi setelah sekian lama dipakai, sedangkan pihak terminal meragukan keakuratan tabel volume kapal yang mungkin tak ter-update pasca modifikasi tangki . ata lapangan, 2. Ketiadaan pengawas independen . yang memfasilitasi verifikasi silang antara kedua metode ini merupakan celah dalam sistem Selain itu, kondisi fisik peralatan di kapal turut menjadi kendala: beberapa thermometer tanki tidak berfungsi optimal sehingga pencatatan suhu kargo kurang akurat . ata lapangan, 2. Padahal, suhu sangat memengaruhi volume CPO . ang bersifat liqui. penurunan suhu bisa menyebabkan penyusutan volume akibat kontraksi termal (Mansyur, 2. Ketidakakuratan pengukuran suhu dan densitas dapat membuat perhitungan volume standar (Gross Standard Volum. menjadi meleset. Saragih et al. juga menekankan pentingnya koreksi faktor-faktor seperti trim, heel, dan suhu dalam pengukuran muatan cair. Jika kru kapal tidak mengaplikasikan tabel ASTM atau koreksi secara tepat, hasil perhitungan bisa undervalue sehingga terlapor terjadi losses padahal sebagian karena kesalahan kalkulasi. Dengan demikian, keterbatasan alat ukur dan ketidakcukupan penerapan teknik pengukuran yang tepat merupakan kendala teknis yang nyata di lapangan. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Kurniawan & Andre Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Ketiga, muncul kendala lingkungan operasional yang turut menyulitkan pengawasan. Pemuatan CPO sering dilakukan nonstop hingga larut malam untuk mengejar efisiensi sandar. Kondisi penerangan malam hari yang kurang memadai di dek dan area manifold menyulitkan pengamatan visual oleh pengawas . ata lapangan, 2. Dalam situasi cahaya redup, kebocoran kecil CPO dari flange atau sambungan selang mungkin tidak segera terdeteksi. Tumpahan minor yang tidak tertangani ini secara akumulatif dapat menjadi salah satu sumber losses. Di samping itu, faktor cuaca seperti hujan deras dapat mengganggu konsentrasi petugas dan menghambat akses ke sounding pipe, sehingga pemeriksaan volume berlangsung tergesa-gesa di sela hujan . ata lapangan, 2. Kondisi lingkungan yang menantang ini seharusnya diantisipasi dengan protokol tambahan, misalnya penambahan frekuensi inspeksi oleh petugas saat kondisi gelap atau hujan, namun hal tersebut belum tertuang jelas dalam prosedur pengawasan yang ada. Bhattacharya . dalam konteks keselamatan maritim menyatakan bahwa lingkungan kerja yang sulit . isal cuaca buruk, malam har. meningkatkan risiko kelalaian manusia jika tidak diimbangi pengawasan ekstra. Hal ini relevan dengan situasi pengawasan stevedore di kapal MT. Shoshun dimana tantangan lingkungan belum diimbangi perubahan pola pengawasan . isal giliran jaga ekstra atau alat bantu pengawasan seperti kamera CCTV mala. Keberadaan faktor-faktor kendala di atas Ae yakni aspek manusia/prosedur, teknis peralatan, dan lingkungan Ae saling berinteraksi memperburuk kinerja pengawasan stevedore. Misalnya, ketika disiplin SOP lemah . aktor manusi. , petugas mungkin tidak teliti mengukur suhu kargo . aktor tekni. , apalagi jika situasi pemuatan berlangsung di malam hari dengan penerangan kurang . aktor lingkunga. Kombinasi kondisi tersebut sangat rentan memicu terjadinya losses. Oleh sebab itu, strategi optimalisasi pengawasan harus dirancang komprehensif untuk mengatasi setiap jenis kendala secara simultan. Upaya Optimalisasi Pengawasan Stevedore untuk Mengurangi Penyusutan Muatan Berdasarkan identifikasi kendala, penelitian ini merekomendasikan beberapa upaya strategis guna mengoptimalkan pengawasan stevedore saat pemuatan CPO, dengan tujuan akhir meminimalkan penyusutan muatan di kapal MT. Shoshun. Rekomendasi disusun dengan merujuk pada praktik terbaik dari literatur maupun masukan para informan yang berpengalaman . ata lapangan, 2. Penegakan SOP dan Checklist Pemuatan Perusahaan pelayaran dan operator terminal perlu memperketat implementasi Standard Operating Procedure (SOP) pemuatan CPO. Setiap tahapan krusial dalam proses bongkar muat sebaiknya dilengkapi checklist yang harus ditandatangani petugas penanggung jawab Sebelum pemuatan dimulai, lakukan briefing khusus untuk menegaskan kembali langkah-langkah SOP, termasuk prosedur pengukuran dan pengawasan (Romadoni, 2. Romadoni . menegaskan pentingnya prosedur persiapan dan pengawasan muatan dijalankan sesuai checklist agar potensi kehilangan muatan dapat dieliminasi sejak awal. Penerapan checklist akan membantu memastikan tidak ada tahap yang terlewat, misalnya memastikan valve sudah diatur benar, tangki dalam kondisi siap, dan komunikasi sudah Selama operasi, checklist tersebut dijadikan panduan oleh pengawas untuk melakukan inspeksi rutin setiap jam Ae misalnya memeriksa tidak ada kebocoran di titik sambungan, memastikan laju aliran sesuai rencana, dan mencatat suhu serta volume interim. Setelah selesai muat, checklist juga mencakup pengecekan ulang . e-soundin. semua tangki. Penegakan SOP semacam ini harus didukung manajemen dengan memberi wewenang penuh kepada petugas pengawas untuk menghentikan operasi bila menemukan ketidaksesuaian prosedur (Tracy, 2. Dengan demikian, budaya kepatuhan dan keselamatan . afety and quantity compliance cultur. dapat terbentuk. Penunjukan Pengawas Khusus dan Pelibatan Surveyor Independen Optimalisasi pengawasan menuntut adanya petugas yang fokus dan kompeten mengawasi jalannya pemuatan. Oleh karena itu, disarankan perusahaan menugaskan Pengawas Muat Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Optimalisasi Pengawasan Stevedore dalam Kegiatan Pemuatan Crude Palm Oil untuk Mengurangi Terjadinya Penyusutan Muatan di Kapal MT. Shoshun Kargo khusus yang tidak merangkap tugas lain . ata lapangan, 2. Petugas ini dapat berasal dari perwira kapal tambahan atau personel darat perusahaan yang memahami teknis pemuatan CPO. Tugasnya mengawasi kerja stevedore, memantau kondisi peralatan transfer, dan berkoordinasi dengan semua pihak selama operasi. Kehadiran pengawas khusus ini di dek selama pemuatan akan meningkatkan akuntabilitas stevedore, karena ada figur otoritas yang terus memonitor kinerja mereka (Mitraseraya, 2. Selain pengawas internal, keterlibatan surveyor independen patut dipertimbangkan untuk verifikasi kuantitas muatan. Pihak ketiga seperti marine surveyor dapat melakukan pengukuran volume secara paralel menggunakan tools tersertifikasi, sehingga data muatan lebih terjamin akurasinya (Mansyur, 2. Mansyur . merekomendasikan sinkronisasi alat ukur antara kapal dan darat. keberadaan surveyor independen dapat menjembatani hal ini dengan melakukan cross-check hasil sounding kapal versus bacaan flow meter terminal. Surveyor juga dapat membantu mengidentifikasi sumber losses apabila terjadi selisih, misalnya memeriksa kemungkinan clingage . isa muatan di pip. atau free water . ontaminan ai. yang bisa memengaruhi perhitungan. Dengan kombinasi pengawas internal dan surveyor independen, sistem pengawasan menjadi berlapis, kecil kemungkinan adanya penyimpangan yang luput dari perhatian. Peningkatan Kapabilitas dan Kesadaran SDM Upaya lainnya adalah melalui pelatihan rutin dan sosialisasi kepada seluruh personel terkait . ru kapal maupun stevedor. tentang pentingnya pencegahan losses dan tata cara pengawasan yang baik. Program pelatihan dapat mencakup simulasi prosedur muat CPO sesuai SOP, teknik pengukuran volume yang benar, penggunaan alat ukur . hermometer, calibration chart, dll. ), serta penekanan aspek safety dan environment (Suwignyo, 2. Suwignyo . menyatakan bahwa pengendalian losses tidak lepas dari peningkatan kompetensi petugas dalam menangani kargo dan kesadaran akan dampak kerugian muatan. Dengan pelatihan, diharapkan stevedore lebih memahami bahwa kelalaian kecil . isal tumpahan beberapa liter CPO) bila terakumulasi dapat merugikan semua pihak, sehingga mereka terdorong bekerja lebih teliti. Disarankan pula diadakan refreshment training menjelang musim hujan atau periode sibuk, mengingat kondisi operasi yang lebih menantang memerlukan kewaspadaan ekstra (Bhattacharya, 2. Selain pelatihan formal, perlu dibangun budaya pengawasan di tempat kerja: contohnya, menerapkan buddy system di mana sesama stevedore saling mengingatkan untuk cek ulang tindakan krusial, atau reward and punishment bagi kinerja bongkar muat (Hasan, 2. Kesadaran kolektif bahwa Auzero losses is a shared responsibilityAy akan sangat membantu menurunkan angka penyusutan. Optimalisasi Teknologi dan Peralatan Solusi teknis juga berperan dalam menunjang pengawasan. Pertama, perusahaan sebaiknya memastikan kalibrasi peralatan ukur baik di kapal maupun di darat dilakukan secara periodik sesuai standar Pertamina atau internasional (Mansyur, 2. Misalnya, tabel kalibrasi tangki kapal diverifikasi ulang . llage calibration ) setahun sekali, dan flow meter terminal diuji akurasi setiap akan memuat CPO dalam jumlah besar. Kedua, penerapan digital monitoring dapat dipertimbangkan, seperti pemasangan sensor level dan suhu tangki yang terintegrasi sistem komputer kapal. Dengan sistem digital, petugas pengawas bisa memantau volume real-time dan bahkan mengatur alarm jika terdeteksi anomali . isal laju penurunan volume tidak wajar yang mengindikasikan kebocora. (Panagiotou et al. , 2. Teknologi lain adalah penggunaan kamera CCTV di area kritis . anifold, flange connectio. untuk membantu pengawasan visual terutama di malam hari atau cuaca buruk, di mana pengawas manusia sulit berada di semua titik sekaligus. Ketiga, memperbaiki infrastruktur penunjang: contohnya menambah penerangan lapangan saat operasi malam dan menyediakan portable lighting di geladak kapal . ata lapangan, 2. Dengan pencahayaan cukup, pengawas dapat melihat tanda-tanda kebocoran kecil sekalipun. Upaya teknis ini sejalan dengan rekomendasi Saragih et al. yang menunjukkan perlunya perawatan peralatan . eperti memastikan perangkat ukur berfungsi bai. untuk mencegah kesalahan perhitungan volume muatan. Kombinasi pendekatan teknologi dan procedural enforcement diyakini mampu meningkatkan efektivitas pengawasan stevedore secara signifikan. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Kurniawan & Andre Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Melalui implementasi keempat aspek upaya optimalisasi di atas Ae penegakan SOP, penunjukan pengawas khusus, peningkatan SDM, dan dukungan teknologi Ae diharapkan tingkat penyusutan muatan CPO pada kapal MT. Shoshun dapat ditekan hingga mendekati nol . ero Rekomendasi ini pada dasarnya memperkuat prinsip manajemen kargo bahwa pencegahan lebih baik daripada penanganan. artinya dengan pengawasan ketat dan proaktif, potensi losses dapat dicegah sebelum terjadi, alih-alih baru disadari setelah kapal berlayar dan dilakukan perhitungan ulang di pelabuhan tujuan. Penerapan strategi tersebut perlu komitmen dari manajemen perusahaan pelayaran maupun operator terminal, termasuk dalam menyediakan sumber daya . enaga pengawas, waktu sandar cukup untuk inspeksi, biaya kalibrasi alat, dll. Meskipun mungkin ada tantangan implementasi awal, manfaat jangka panjang berupa terjaganya kuantitas muatan, reputasi perusahaan, dan hubungan baik dengan pelanggan akan jauh melebihi biaya yang dikeluarkan (Abdullah, 2. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengawasan stevedore memegang peranan vital dalam mencegah terjadinya penyusutan muatan CPO di kapal tanker. Studi kasus pada kapal MT. Shoshun menunjukkan bahwa pengawasan yang kurang optimal Ae ditandai dengan lemahnya penegakan SOP, minimnya petugas khusus pengawas, serta kurangnya sinkronisasi pengukuran antara pihak kapal dan darat Ae berhubungan langsung dengan terjadinya losses muatan (Romadoni, 2019. Mansyur, 2. Kendala-kendala seperti disiplin kerja yang rendah, perbedaan kalibrasi alat ukur, dan kondisi operasional yang menantang telah diidentifikasi sebagai penyebab pengawasan tidak berjalan optimal . ata lapangan, 2. Akibatnya, volume CPO yang tercatat di kapal bisa berkurang signifikan dibanding jumlah yang dikirim, sebagaimana dialami perusahaan X di Belawan (GAPKI, 2. dan kasus-kasus pada kapal tanker lain. Upaya optimalisasi pengawasan stevedore yang diusulkan terbukti dapat mengurangi penyusutan muatan secara Penerapan pengawasan berbasis SOP dengan checklist, penunjukan petugas pengawas khusus dan penggunaan surveyor independen, peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan rutin, serta dukungan teknologi monitoring telah diidentifikasi sebagai langkah efektif untuk mencapai zero loss (Romadoni, 2019. Suwignyo, 2. Melalui simulasi prosedur di lapangan, implementasi rekomendasi ini menunjukkan peningkatan kepatuhan dan ketelitian dalam proses pemuatan. Indikator keberhasilannya antara lain: tidak ada tahapan penting yang terlewat, kesesuaian hasil pengukuran volume antara kapal dan darat meningkat, serta tidak ditemukan selisih volume di atas ambang toleransi pada pengapalan CPO berikutnya. Hal ini sejalan dengan teori manajemen risiko operasional yang menyatakan bahwa kontrol dan pengawasan yang ketat akan menurunkan kemungkinan kerugian operasional (Moenir, 2. Secara teoretis, temuan penelitian ini menegaskan pentingnya faktor manusia dan proses . uman and process factor. dalam manajemen rantai pasok komoditas cair. Optimalisasi pengawasan stevedore bukan hanya isu kepatuhan prosedur, tetapi bagian dari strategi manajemen risiko untuk melindungi nilai ekonomi muatan. Dengan kata lain, kepatuhan operasional . perational complianc. dalam bongkar muat CPO memiliki dampak langsung terhadap kinerja bisnis perusahaan pelayaran dan kepuasan pelanggan (Abdullah, 2. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan panduan bagi industri pelayaran dan terminal bongkar muat CPO untuk melakukan evaluasi dan perbaikan sistem pengawasan mereka. Perusahaan pelayaran disarankan untuk menginvestasikan sumber daya dalam peningkatan kualitas pengawasan di lapangan, karena biaya pengawasan relatif kecil dibanding potensi kerugian akibat losses muatan yang dapat mencapai ratusan ribu dolar. Otoritas pelabuhan dan pemangku kepentingan terkait juga perlu mendorong standar pengawasan yang lebih tinggi, misalnya melalui regulasi yang mewajibkan kehadiran surveyor independen atau sertifikasi bagi foreman stevedore. Penelitian ini terbatas pada satu studi kasus kapal dan pelabuhan tertentu, sehingga karakteristik temuan mungkin berbeda di konteks lain. Namun demikian, inti rekomendasi yang diberikan bersifat umum dan dapat diadaptasi secara luas: yaitu perlunya sistem pengawasan Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Optimalisasi Pengawasan Stevedore dalam Kegiatan Pemuatan Crude Palm Oil untuk Mengurangi Terjadinya Penyusutan Muatan di Kapal MT. Shoshun stevedore yang proaktif, terstruktur, dan terintegrasi untuk menekan penyusutan muatan. depan, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan melibatkan lebih banyak kapal atau perusahaan, serta mengkaji efektivitas implementasi teknologi digital . eperti IoT sensor untuk pemantauan muatan real-tim. dalam kerangka pengawasan bongkar muat. Dengan langkah bersama dari sisi prosedural. SDM, dan teknologi, target Zero Losses dalam operasional pemuatan CPO bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai (Romadoni, 2. Daftar Pustaka