The Indonesian Journal of Health Science Volume 17. No. Juni 2025 Hubungan Workload dengan Occupational Stress Level Perawat Ruang Intensif RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso 1,2,3 Novalda Dwi Gita Fitria1*. Asmuji2. Dwi Yunita Haryanti3 Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Jember. Jember 68121. Indonesia *Penulis Korespondensi: Novalda Dwi Gita Fitria Email: novaldafitria18@gmail. Diterima: 05 Juni 2025 | Disetujui: 19 Juni 2. Dipublikasikan: 28 Juni 2025 Abstrak Workload ialah sebuah tuntutan kerja yang meliputi aspek fisik, mental, dan emosional yang dapat memengaruhi kinerja tenaga kerja. Occupational stress level merupakan keadaan ketegangan yang menimbulkan disfungsi fisik, mental, dan psikologis. Beban kerja yang tinggi akibat kompleksitas tugas dan sumber daya yang tidak memadai berpotensi meningkatkan stres kerja pada perawat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional cross-sectional. Populasi berjumlah 41 perawat ICU dan ICCU RSUD dr. Koesnadi Bondowoso, dengan sampel sebanyak 37 perawat yang ditentukan menggunakan rumus slovin. Instrumen pengumpulan data adalah Job Content Questionnaire untuk variabel independen dan New Job Stress Scale untuk variabel dependen. Analisis data menggunakan uji Spearman rho. Hasil analisis data menunjukkan bahwa p value = 0,001 < 0,05 dengan koefisien korelasi . = 0,503 yang menunjukkan hubungan yang positif dalam kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan tingginya tuntutan kerja di ICU dan ICCU berkontribusi terhadap meningkatnya stres kerja perawat. Manajemen rumah sakit perlu mengoptimalkan distribusi tugas, meningkatkan dukungan psikososial, serta menyediakan sumber daya yang memadai untuk menjaga kesejahteraan mental perawat. Kata kunci: ICU. ICCU. Occupational Stress Level. Perawat. Workload Sitasi: Fitria. Asmuji, & Haryanti. Hubungan workload dengan occupational stress level perawat ruang intensif RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso. The Indonesian Journal of Health Science. , 1-9. DOI: 10. 32528/tijhs. Copyright: A2025 Fitria. , et. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original author and source are credited. Diterbitkan Oleh: Universitas Muhammadiyah Jember ISSN (Prin. : 2087-5053 ISSN (Onlin. : 2476-9614 32528/tijhs. The Indonesian Journal of Health Science Volume 17. No. Juni 2025 Abstract Workload refers to job demands encompassing physical, mental, and emotional aspects that can affect employee performance. Occupational stress level is a state of tension that causes physical, mental, and psychological dysfunction. A high workload resulting from task complexity and limited resources has the potential to increase work-related stress among This study used a quantitative method with a correlational cross-sectional approach. The population consisted of 41 nurses working in the ICU and ICCU of RSUD dr. Koesnadi Bondowoso, with a sample of 37 nurses determined using SlovinAos formula. Data collection instruments included the Job Content Questionnaire for the independent variable and the New Job Stress Scale for the dependent variable. Data were analyzed using the Spearman rho test. The analysis showed a p-value of 0. 001 < 0. 05 with a correlation coefficient . = 0. indicating a moderate positive relationship between workload and occupational stress level. Discussion: These findings suggest that high job demands in ICU and ICCU contribute to increased work stress among nurses. Hospital management should optimize task distribution, enhance psychosocial support, and ensure adequate resource provision to maintain nursesAo mental well-being. Keywords: ICU. ICCU. Nurse. Occupational stress level. Workload PENDAHULUAN Komponen inti dari sistem pelayanan kesehatan adalah peran seorang perawat, terutama dalam menjamin kontinuitas dan kualitas asuhan kepada pasien. Mendampingi pasien selama 24 jam penuh dan diharapkan memberikan pelayanan yang berkualitas dengan cepat, akurat, dan teliti meskipun dalam situasi yang rumit atau kompleks (Fadilla et al. , 2024. Veri. Andriati and Listiana, 2. Kompleksitas tugas yang dihadapi perawat dan harus diselesaikan dalam batasan waktu dan sumber daya yang terbatas. Kondisi ini menyebabkan beban kerja . perawat semakin meningkat. Beban kerja yang tinggi dapat memberikan tekanan fisik dan mental yang signifikan, sehingga berisiko menimbulkan stres kerja . ccupational stres. (Okuhara. Sato and Kodama, 2. Stres tersebut tidak hanya berdampak pada kesejahteraan perawat secara pribadi, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kesalahan dalam tindakan medis (Hunawa. Jusuf and Wunani, 2023. Asmuji et al. , 2. Pada tahun 2020. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) melaporkan bahwa 50,9% perawat yang bekerja di rumah 32528/tijhs. sakit di Indonesia mengalami stres sehubungan dengan pekerjaan mereka. Manifestasi yang sering muncul pada tenaga kesehatan ini antara lain sakit kepala, kelelahan fisik, serta kurangnya waktu istirahat (Jundillah. Wardani and Trisnowati. Occupational stress pada perawat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tuntutan mental, workload, lingkungan kerja, konflik peran ganda, keterbatasan dalam pemanfaatan keterampilan, serta faktor eksternal dan aspek individual seperti usia, jenis kelamin, dan lama bekerja. Workload merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling signifikan. Workload tercipta dari interaksi antara tuntutan tugas dan kemampuan individu. Ketika beban kerja melebihi kapasitas fisik dan mental perawat atau tidak sebanding dengan kekuatan fisiknya akan dapat menyebabkan masalah kesehatan dan dapat memicu timbulnya occupational stress level (Bunyamin, 2021. Hatmanti et al. , 2. Meningkatnya jumlah pasien yang memerlukan layanan kesehatan dirumah sakit menyebabkan tantangan yang dihadapi rumah sakit juga semakin kompleks. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi adalah beban kerja yang berat dibebankan kepada tenaga kesehatan, khususnya perawat yang The Indonesian Journal of Health Science Volume 17. No. Juni 2025 bertugas di ruang perawatan intensif seperti ICU dan ICCU. Occupational stress level yang dialami perawat merupakan hambatan yang signifikan terhadap manajemen sumber daya manusia di rumah sakit. Berdasarkan fenomena yang melaksanakan penelitian guna memahami permasalahan terkait hubungan workload dengan occupational stress level perawat ruang intensif di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain korelasi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan pada 25 April 2025 hingga 2 Mei 2025. Populasi penelitian ini terdiri dari 41 perawat yang bekerja di ICU dan ICCU Rumah Sakit Umum Daerah dr. Koesnadi Bondowoso, dengan sampel sebanyak 37 perawat yang terdiri atas 22 sampel perawat ICU dan 15 sampel perawat ICCU. Instrumen Instrumen yang digunakan untuk menilai variabel independen dan dependen Workload menggunakan Job Content Questionnaire (JCQ) dengan 3 indikator utama yakni job demans, job control, dan sosial support. Kuesioner ini menunjukkan validitas dan reliabilitas yang baik dengan koefisien alpha cronbach untuk sebagian besar skala berkisar antara 0,65 hingga 0,79 (Sasaki et al. , 2. Occupational Stress Level diukur menggunakan New Job Stress Scale oleh Shukla dan Srivastava . yang mencakup 4 indikator yakni job stress, role expectation conflict, coworker support, dan worklife Kuesioner ini menunjukkan validitas dan reliabilitas yang baik dengan koefisien alpha cronbach berkisar antara 0,70 hingga 0,94 (Leite et al. , 2. Analisis Data Analisis data dilakukan secara univariat responden dan distribusi variabel, serta 32528/tijhs. analisis bivariat menggunakan uji Spearman Rank guna menguji hubungan antara workload dan occuupational stress level dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Persetujuan Etik Penelitian persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember. NO. 0003/KEPK/FIKES/I/2025 yang di keluarkan pada tanggal 17 Januari 2025 dengan prinsipAeprinsip diantaranya informed consent, confidentiality, beneficence, justice, serta non-maleficence. HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia <25 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun >45 Tahun Tingkat Pendidikan Diploma i Diploma IV Sarjana Magister Tempat Bekerja ICU ICCU Lama Bekerja <6 Bulan >6 Bulan Total Berdasarkan tabel 1 di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden . 2%) berjenis kelamin laki Ae laki. Berada pada rentang usia 33-44 tahun . 1%). Adapun tingkat pendidikan terakhir yang paling banyak dimiliki responden adalah Diploma i Keperawatan . 4%). Sebagian besar responden . 5%) merupakan perawat yang bekerja di ruang ICU yang seluruhnya The Indonesian Journal of Health Science Volume 17. No. Juni 2025 . %) memiliki masa kerja lebih dari 6 Tabel 2. Workload dan Occupational Stress Level Perawat di Ruang ICU dan ICCU Variabel Workload Tinggi Sedang Rendah Occupational Stress Level Berat Sedang Ringan Total Berdasarkan menunjukkan bahwa mayoritas responden . %) menyatakan workload perawat diruang ICU dan ICCU RSUD dr. Koesnadi Bondowoso Mayoritas responden dengan workload sedang adalah perawat laki-laki dan perawat yang berusia 35Ae44 tahun. Data yang sama juga memperlihatkan bahwa sebagian besar responden . menyatakan diruang ICU dan ICCU RSUD Koesnadi Bondowoso mengalami occupational stress level dalam kategori Mayoritas responden dengan occupational stress level sedang adalah perawat laki-laki dan perawat yang berusia 35Ae44 tahun. Tabel 3 Hubungan Workload dengan Occupational Stress Level Perawat di Ruang Perawatan Intensif RSUD dr. Koesnadi Bondowoso Variabel Sig. Koefisien Korelasi . Workload dengan Occupational Stress Level Hasil uji statistik Spearman rho menunjukkan hasil bahwa p value = 0,001 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara workload dengan occupational stress level perawat ICU dan ICCU di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso. Koefisien korelasi . = 0,503 menunjukkan hubungan yang kuat namun dalam kategori sedang. Nilai korelasi yang posistif mengindikasikan bahwa peningkatan beban kerja sejalan dengan peningkatan stres kerja yang dialami perawat di ruang ICU dan ICCU. DISKUSI Workload Perawat Ruang Intensif di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat di ruang ICU dan ICCU mengalami beban kerja yang berada pada tingkat sedang. Hal ini menandakan bahwa mayoritas perawat menghadapi tuntutan kerja yang cukup signifikan, namun 32528/tijhs. masih dalam batas toleransi baik secara fisik, mental, maupun emosional. Beban kerja perawat di ruang intensif sangat berbeda dari unit rawat inap biasa, karena memerlukan ketelitian tinggi, respons cepat, dan tanggung jawab profesional yang besar terhadap keselamatan pasien. Oleh karena itu, persepsi terhadap beban kerja bisa sangat subjektif, tergantung pada pengalaman kerja, tingkat stres, dan dukungan lingkungan (Riana. Nina and Rindu, 2022. Faeni. Syeikholbi and Husada, 2. Teori Job Demand-Resource (JD-R) yang dikemukakan oleh Bakker dan Demerouti . menyatakan workload termasuk dalam job demands yang apabila tidak diimbangi dengan sumber daya yang memadai . ob resource. , maka dapat mengarah pada kelelahan emosional, stres, bahkan burnout. Sumber daya yang dimaksud meliputi dukungan sosial dari rekan kerja dan atasan, kejelasan peran, pengakuan atas kinerja, serta otonomi dalam pengambilan keputusan (Almenyan. Albuduh and AlAbbas, 2. The Indonesian Journal of Health Science Volume 17. No. Juni 2025 Penelitian ini menunjukkan bahwa perawat laki-laki cenderung lebih banyak berada dalam kategori workload sedang dibandingkan perawat perempuan. umumnya mereka mendapat tugas fisik atau teknis yang lebih berat. Perawat perempuan cenderung menghadapi tekanan emosional dari tanggung jawab komunikasi dan dokumentasi (Tou. Sumarni and Putri, 2. Selain itu, usia juga memengaruhi persepsi terhadap workload perawat muda mungkin lebih terbebani secara psikologis, sedangkan perawat senior lebih rentan kelelahan fisik (Saskia. Idris and Sumiaty, 2. Tidak ditemukannya beban kerja mengindikasikan bahwa sistem pengelolaan beban kerja di rumah sakit cukup efektif atau perawat memiliki mekanisme coping yang Namun, kemungkinan adanya bias persepsi juga perlu dipertimbangkan, di mana beban kerja tinggi mungkin dianggap wajar karena telah menjadi rutinitas, sehingga dinilai sebagai beban kerja sedang meskipun secara objektif bisa saja melebihi batas Occupational Stress Level Perawat Ruang Intensif di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat di ruang ICU dan ICCU mengalami occupational stress level dalam kategori sedang. Tingkat stres berada pada kategori sedang mencerminkan bahwa perawat menghadapi tekanan yang cukup besar, namun masih berada dalam batas toleransi psikologis (Pratama. Fitriani and Juliandi, 2. Namun, hal ini juga menjadi sinyal penting bagi manajemen rumah sakit untuk tidak menganggapnya sebagai kondisi aman, karena stres sedang yang berlangsung terus-menerus tetap dapat berdampak pada performa kerja, keselamatan pasien, dan kesehatan mental perawat (Sabil, 2. Occupational stress level merupakan suatu kondisi tekanan psikologis yang dapat memicu gangguan fungsi fisik maupun mental serta berdampak pada aspek emosional, kognitif, dan kesejahteraan psikologis individu (Amin. Ekwinaldo and 32528/tijhs. Novrianti, 2. Bakker dan Demerouti . menjelaskan stres kerja muncul ketika tuntutan pekerjaan tidak seimbang dengan Ketidakseimbangan tersebut akan memicu stres kerja yang berpotensi berkembang menjadi burnout apabila berlangsung secara terus-menerus tanpa intervensi (Rahayu, 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa baik perawat laki-laki maupun perempuan samasama mengalami stres kerja, meskipun tingkat intensitasnya tidak jauh berbeda. Perbedaan terletak pada sumber stres, di mana perawat laki-laki lebih sering menghadapi tekanan fisik dan teknis, sedangkan perawat perempuan cenderung mengalami stres dari multitugas, interaksi interpersonal, dan beban Namun penelitian yang dilakukan oleh Aulia & Rita . perempuan lebih rentan mengalami stres kerja dan burnout karena mereka harus membagi waktu antara pekerjaan di tempat kerja dan tanggung jawab rumah tangga. Pembagian peran ini dapat menyebabkan kelelahan yang meningkatkan risiko terjadinya stres kerja. Perempuan cenderung memiliki aktivitas sistem limbik . agian otak yang mengatur emos. yang lebih kuat saat menghadapi stres emosional. Ketika sistem limbik aktif, sinyal ke kelenjar adrenal meningkat, sehingga produksi kortisol pun lebih tinggi. Peningkatan kadar kortisol yang berlebihan dapat meningkatkan sensitivitas terhadap stres yang menyebabkan kelelahan, gangguan tidur, dan burnout. Perempuan tidak dapat secara mutlak dikatakan lebih kuat atau lebih lemah dalam menghadapi stres, namun secara umum menunjukkan respons yang lebih tinggi secara emosional dan hormonal dalam menghadapi Mereka cenderung memiliki mekanisme koping yang adaptif, seperti mengekspresikan emosi secara terbuka. Sedangkan laki-laki sebaliknya, cenderung menggunakan strategi menghindar atau memendam stres, yang bisa memperburuk kondisi dalam jangka panjang. The Indonesian Journal of Health Science Volume 17. No. Juni 2025 Berdasarkan usia, perawat berusia 35Ae 44 tahun umumnya berada pada fase pertengahan karier dengan pengalaman yang cukup serta tanggung jawab yang lebih besar. Mereka sering dipercaya menangani kasus menghadapi ekspektasi tinggi dari berbagai pihak, yang semuanya dapat menjadi faktor pemicu stres kerja pada tingkat sedang. Hubungan Workload dengan Occupational Stress Level Perawat Ruang Intensif di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara workload dan occupational stress level pada perawat ICU dan ICCU. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi beban kerja yang dirasakan oleh perawat, maka semakin tinggi pula tingkat stres kerja yang dialami. Perawat dituntut untuk memberikan pelayanan profesional tanpa celah kesalahan dan juga dihadapkan dengan tekanan emosional dari pasien maupun keluarga pasien, serta ritme kerja yang tidak menentu dapat berkontribusi meningkatkan beban kerja yang berpotensi memicu stres. Temuan penelitian ini sejalan dengan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara beban kerja dan stres kerja perawat. Penelitian oleh Rahmawati dan Vellyana, 2022. Saefullah et al. , 2023, dan Adelia et al. 2023 menemukan korelasi yang kuat antara tingginya beban kerja dengan meningkatnya stres pada perawat, khususnya di unit intensif dan rawat inap. Penelitian Sunarti et al. , 2023 dan Kusumaningrum et al. , 2022 juga mendukung temuan ini dengan menunjukkan hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut, terutama dalam konteks unit IGD, yang memiliki karakteristik kerja serupa dengan ICU dan ICCU. Nasirizad Moghadam et al. , 2021 dalam penelitiannya juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara keduanya . < 0,. yang memiliki makna semakin tinggi beban kerja fisik yang 32528/tijhs. dialami perawat, semakin tinggi pula beban kerja mentalnya. Tidak semua penelitian menunjukkan hasil yang konsisten. Studi Ardiansyah & Kariyani, 2022 menemukan bahwa meskipun perawat di ruang rawat inap menghadapi beban kerja tinggi, tidak terdapat hubungan signifikan dengan stres kerja. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain seperti persepsi individu terhadap tantangan dan kemampuan coping juga memengaruhi tingkat stres. Dalam beberapa kasus, beban kerja justru dapat memotivasi perawat, sehingga menurunkan potensi stres. Perbedaan hasil tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik unit kerja. ICU dan ICCU memiliki beban kerja yang lebih kompleks dan dinamis dibanding ruang rawat inap, sehingga tekanan yang dihadapi lebih Jika tidak didukung oleh manajemen organisasi dan kemampuan pribadi yang baik, beban kerja ini dapat meningkatkan risiko stres kerja, yang berdampak negatif pada kesehatan mental, kepuasan kerja, dan kualitas pelayanan perawat. Penelitian yang dilakukan oleh Biganeh et al. , 2022 menambahkan dimensi biologis terhadap stres kerja. Mereka menemukan bahwa perawat dengan workload tinggi MDA . sebagai penanda stres oksidatif, dan penurunan TAC . otal antioxidant capacit. , yang menunjukkan Ini membuktikan bahwa stres kerja tidak hanya berdampak psikologis, tapi juga fisiologis. Kondisi ini mendukung Teori Job Demand-Resource (JD-R) yang menyatakan bahwa keseimbangan antara tuntutan kerja dan sumber daya sangat memengaruhi hasil Ketidakseimbangan antara beban kerja tinggi dan minimnya dukungan dapat meningkatkan stres kerja, sedangkan keseimbangan yang baik memungkinkan perawat mengelola beban kerja secara lebih adaptif dan meningkatkan kualitas layanan (Rahayu and Partina, 2. Mengatasi occupational stress level di ICU dan ICCU, perlu dilakukan penyesuaian The Indonesian Journal of Health Science Volume 17. No. Juni 2025 beban kerja secara proporsional, pemberian pengurangan tugas administratif nonkeperawatan. Di sisi lain, peningkatan sumber daya dapat dilakukan melalui dukungan sosial, pelatihan kompetensi, peningkatan otonomi, dan akses ke layanan kesehatan Strategi-strategi tersebut bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan psikologis perawat, serta menjaga mutu pelayanan keperawatan di unit perawatan SIMPULAN Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa Workload perawat ICU dan ICCU di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso dalam kategori sedang. Occupational stress level perawat ICU dan ICCU di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso dalam kategori sedang, serta workload berhubungan dengan occupational stress level perawat ICU dan ICCU di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso. SARAN Manajemen rumah sakit disarankan untuk melakukan audit beban kerja secara rutin dengan mempertimbangkan jumlah pasien, jumlah tenaga, pembagian tugas yang seimbang, serta sistem shift yang adil untuk memastikan distribusi kerja yang seimbang guna mengurangi tekanan kerja berlebih pada Selain itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan dukungan psikososial dan menyediakan sumber daya yang memadai, sebagai langkah strategis dalam menjaga kesejahteraan mental perawat di ruang ICU dan ICCU. DAFTAR PUSTAKA