Ekasakti Pareso Jurnal Akuntansi e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Website: https://ejurnal-unespadang. id/EPJA Pengaruh Siklus Oprasi. Laba Akuntansi Serta Tingkat Hutang Terhadap Persistensi Laba pada Perusahaan Teknologi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2023 Weni Septia Wulandari1*. Desi Ilona2. Yulia Syafitri3 Fakultas Ekonomi. Universitas Ekasakti. Padang. Indonesia Fakultas Ekonomi. Universitas Ekasakti. Padang. Indonesia Fakultas Ekonomi. Universitas Ekasakti. Padang. Indonesia Corresponding Author: Weniwulan347@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh siklus operasi, laba akuntansi, dan tingkat utang terhadap persistensi laba pada perusahaan teknologi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021Ae2023. Populasi penelitian terdiri dari 46 perusahaan, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang menghasilkan 11 perusahaan sebagai sampel penelitian dengan total 33 data observasi. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui dokumentasi serta studi kepustakaan dari situs resmi Bursa Efek Indonesia . dan laman resmi masingmasing perusahaan. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, koefisien determinasi, serta pengujian hipotesis melalui uji t dan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba, sedangkan laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Sementara itu, tingkat utang tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Namun, hasil uji F mengindikasikan bahwa siklus operasi, laba akuntansi, dan tingkat utang secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Kata Kunci : Siklus Operasi. Laba Akuntansi. Tingkat Hutang. Persistenis Laba Abstract: This study aims to analyze the effect of operating cycles, accounting profits, and debt levels on profit persistence in technology companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2021Ae2023 period. The research population consisted of 46 companies, with a sampling technique using purposive sampling which resulted in 11 companies as research samples with a total of 33 observation data. This research is quantitative and uses secondary data obtained through documentation and literature studies from the official website of the Indonesia Stock Exchange . and the official website of each company. The data analysis methods used included descriptive statistical analysis, classical assumption test, multiple linear regression analysis, determination coefficient, and hypothesis testing through ttest and F-test. Meanwhile, the debt level did not show a significant effect on profit persistence. However, the results of the F test indicate that the operating cycle, accounting profit, and debt level simultaneously have a significant effect on profit persistence. DOI: https://doi. org/10. 31933/epja. Licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 327 | Page e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Keywords: Operating Cycle. Accounting Profit. Debt Level. Persistent Profit PENDAHULUAN Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi barang maupun jasa dengan tujuan memperoleh laba atau keuntungan. Pada masa modern saat ini, perkembangan perekonomian suatu negara sangat ditentukan oleh peran lembaga keuangan. Baik sekarang maupun di masa depan, pertumbuhan ekonomi dapat didorong melalui peningkatan investasi yang berasal dari individu maupun institusi, baik yang bergerak di bidang sosial maupun usaha. Meningkatnya jumlah perusahaan perdagangan dan jasa di Indonesia turut membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat. Oleh sebab itu, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas serta memiliki integritas tinggi agar perusahaan dapat dikelola secara optimal dan berkelanjutan. Sekarang teknologi memegang peran penting dalam perusahaan guna menunjang kegiatan Seperti yang telah kita amati, seiring berjalannya waktu, banyak perusahaan di bidang teknologi sering berlomba-lomba dan terus berinovasi serta memperbaiki teknologi yang Fenomena yang terjadi pada sektor teknologi di pasar saham Indonesia adalah kinerja yang terus melemah sepanjang tahun 2023, meskipun sektor lain mengalami pertumbuhan. Indeks sektor teknologi . mengalami penurunan sebesar 14,98%, lebih buruk dibandingkan dengan sektor energi (-9,36%). Penyebab utama penurunan ini adalah penurunan saham-saham teknologi besar seperti GoTo. Bukalapak, dan Blibli, yang masih mencatatkan kerugian meskipun telah melakukan efisiensi biaya. Meskipun beberapa emiten berhasil memangkas kerugian mereka, investor masih bersikap hati-hati terhadap prospek sektor ini, terlihat dari pergerakan saham yang tetap stagnan atau bahkan turun setelah mengalami kenaikan sesaat. Merujuk pada laporan keuangan, penurunan dari laba bersih atau kerugian bersih menunjukkan perubahan pada penjualan bersih, yang naik sebesar 102,35% menjadi 6,88 triliun rupee dalam enam bulan, jika dibandingkan dengan 3,40 triliun rupee di periode yang sama tahun lalu. Beberapa biaya berkurang selama enam bulan pertama tahun ini, termasuk biaya penjualan dan pemasaran, yang dikurangi sebesar 48% menjadi 3,30 triliun rupee, dibandingkan dengan 6,35% keberlanjutan pemulihan sektor teknologi akan sangat bergantung pada efektivitas strategi efisiensi perusahaan, pertumbuhan pendapatan, serta faktor eksternal seperti inflasi dan kebijakan suku bunga global. Fenomena menurunnya kinerja sektor teknologi pada tahun 2023 berkaitan erat dengan beberapa variabel keuangan utama. Siklus operasi perusahaan teknologi yang cenderung panjang menyebabkan arus kas lebih lambat kembali, sementara laba akuntansi yang dicatat seringkali tidak mencerminkan profitabilitas riil karena tingginya beban operasional. Di sisi lain, tingkat hutang yang tinggi akibat ketergantungan pada pendanaan eksternal menambah tekanan keuangan. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh biasanya tidak bersifat permanen atau langgeng, yang menunjukkan rendahnya kualitas keuntungan dalam industry ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu laporan keuangan tahunan perusahaan. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdapat di sektor teknologi di bursa efek indonesia (BEI) pada tahun 2021-2023. Penelitian ini melibatkan 13 perusahaan sebagai sampel yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Page 328 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Teknik Analisis Data Teknik analisi yang digunakan adalah: Statistik Deskriptif Uji Asumsi Klasik, terdiri dari uji normalitas (Komolgorov-smirno. Uji Autokorelasi, dan uji Heteroskedastisitas (Uji Glejse. Uji Hipotesis, menggunkan uji regresi linear berganda. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Statistik Deskriptif Tabel 1 Hasil Uji Statistik Deskripif Descriptive Statistics Minimum Maximum - 0,214 1,626 - 0,122 0,257 0,181 0,771 - 0,110 0,151 Siklus Operasi Laba Akuntansi Tingkat Hutang Persistensi Laba Valid N . Mean 0,211 0,026 0,431 0,018 Std. Deviation 0,421 0,064 0,164 0,054 Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, dapat diketahui bahwa variabel siklus operasi memiliki nilai minimum sebesar -0,214 dan nilai maksimum sebesar 1,626. Nilai rata-rata siklus operasi tercatat sebesar 0,211 dengan standar deviasi sebesar 0,421, di mana nilai standar deviasi tersebut lebih besar dibandingkan nilai rata-ratanya. Variabel laba akuntansi menunjukkan nilai minimum sebesar -0,122 dan nilai maksimum sebesar 0,257. Rata-rata laba akuntansi adalah 0,026 dengan standar deviasi sebesar 0,064, yang juga lebih tinggi daripada nilai rata-ratanya. Selanjutnya, variabel rasio utang memiliki nilai terendah sebesar 0,181 dan nilai tertinggi sebesar 0,771. Nilai rata-rata rasio utang adalah 0,431 dengan standar deviasi sebesar 0,164, di mana standar deviasi ini lebih besar dibandingkan nilai rata-ratanya. Variabel persistensi laba memiliki nilai minimum sebesar -0,110 dan nilai maksimum sebesar 0,151. Rata-rata persistensi laba tercatat sebesar 0,018 dengan standar deviasi sebesar 0,054, yang menunjukkan bahwa nilai standar deviasi lebih tinggi daripada nilai rata-ratanya. Hasil Uji Asumsi Klasik Hasil Uji Normalitas Tabel 2 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Unstandardized Residual 0,000 0,017 0,117 0,085 -0,117 0,117 0,200 Page 329 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Dari tabel 2 diatas dapat disimpulkan bahwa uji normalitas komolgorov smirnov menujukan nilai signifikan 0,200. Nilai tersebut lebih dari 0,05 maka dapat disimpulkan data berdistribusi normal. Hasil Uji Autokorelasi Tabel 3 Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 0,949 0,900 0,890 0,018 Predictors: (Constan. Tingkat Hutang. Laba Akuntansi. Siklus Operasi Dependent Variable: Persistensi Laba 2,078 Pengujian autokorelasi dengan metode Durbin-Watson memberikan hasil nilai 1,651. 078 < 2,349 dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terdapat autokorelasi antara residual . esalahan penggangg. dari satu periode ke periode lain. Hasil Uji Heteroskedastisitas Model (Constan. Dependent Variable: ABS Tabel 4 Hasil Uji Glejser Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta 0,010 0,005 -0,008 0,055 0,007 0,005 0,028 0,012 -0,323 0,327 0,107 Sig. 1,928 0,064 -1,735 1,941 0,572 0,093 0,062 0,572 Pengujian heteroskedastisitas melalui uji Glejser menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,093 untuk siklus operasi, 0,062 untuk laba akuntansi dan 0,572 untuk tingkat hutang. Seluruh nilai tersebut berada di atas batas signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan tidak menunjukkan adanya gejala heteroskedastisitas. Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda Model (Constan. Tabel 5 Hasil Uji Regresi Linear Berganda Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta -0,013 0,009 0,006 0,008 0,043 0,799 0,050 0,950 Sig. -1,389 0,665 16,095 0,175 0,512 0,000 Page 330 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 0,020 Dependent Variable: Persistensi Laba 0,022 0,061 0,933 0,359 Analisis regresi linier ganda menghasilkan persamaan berikut: PL = -0,013 0,006 (SO) 0,799 (LA) 0,020(TH) yce. Dimana. Nilai konstanta sebesar -0,013 Hal ini menunjukkan bahwa apabila variabel independen, yaitu siklus operasi, laba akuntansi, dan tingkat utang, bernilai nol, maka nilai konstanta tetap sebesar -0,013 satuan. Koefisien regresi untuk aspek siklus operasi adalah 0,066 Siklus operasi berpengaruh positif terhadap persistensi laba, apabila siklus operasi naik sebesar satu satuan maka nilai Siklus operasi mengalami kenaikan sebesar 0,006 unit. Dengan asumsi seluruh variabel independen lainnya bernilai nol, koefisien regresi laba ditahan sebesar 0,799 menunjukkan bahwa laba ditahan berpengaruh positif terhadap keberlangsungan laba. Setiap kenaikan satu satuan laba ditahan akan meningkatkan keberlangsungan laba sebesar 0,799, dengan asumsi variabel independen lainnya berada pada nilai nol. Koefisien regresi untuk rasio utang terhadap ekuitas adalah 0,020, yang menandakan bahwa rasio ini juga berkontribusi positif terhadap keberlangsungan laba. Kenaikan satu unit pada keberlangsungan laba menghasilkan peningkatan lebih jauh sebesar 0,020 unit, dengan syarat semua variabel independen lainnya bernilai nol. Hasil Uji Koefisien Determinasi Tabel 6 Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,949 0,900 0,890 Predictors: (Constan. Tingkat Hutang. Laba Akuntansi. Siklus Operasi Dependent Variable: Persistensi Laba 0,018 Nilai koefisien determinasi (Adjusted R Squar. sebesar 0,890 atau 89,0% menunjukkan bahwa variabel siklus operasi, laba akuntansi, dan tingkat utang mampu menjelaskan variasi pada variabel persistensi laba sebesar 89,0%. Sementara itu, sisanya sebesar 11% . % Oe 89,0%) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan atau tidak dianalisis dalam penelitian ini. Hasil Uji Hipotesis Hasil Pengujian t Model (Constan. Tabel 7 Hasil Pengujian t Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta -0,013 0,009 0,006 0,799 0,020 Dependent Variable: Persistensi Laba 0,008 0,050 0,022 0,043 0,950 0,061 Sig. -1,389 0,175 0,665 16,095 0,933 0,512 0,000 0,359 Page 331 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan menggunakan uji t dengan tingkat signifikansi 0,05, nilai t tabel sebesar 1,699, dan nilai t hitung sebesar 0,665. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa laba akuntansi memiliki pengaruh yang signifikan. Hasil Perhitungan Uji-F Tabel 8 Hasil Pengujian F ANOVAa Model Regression Sum of Squares Mean Square Sig. 0,085 0,028 87,066 0,000 Residual 0,009 0,000 Total 0,094 Dependent Variable: Persistensi Laba Predictors: (Constan. Tingkat Hutang. Laba Akuntansi. Siklus Operasi Pengujian hipotesis secara simultan dilakukan menggunakan uji F, dengan nilai F tabel sebesar 2,930. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 87,066, yang lebih besar dibandingkan nilai F tabel, serta memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari nilai alpha 0,05. Oleh karena itu, hipotesis keempat yang menyatakan bahwa siklus operasi, laba akuntansi, dan tingkat utang secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba dapat diterima. PEMBAHASAN Pengaruh Siklus Operasi Terhadap Persistesi Laba Berdasarkan hasil uji t pada variabel siklus operasi, diperoleh nilai t hitung sebesar 0,665 dengan tingkat signifikansi di atas 0,05. Apabila nilai t hitung lebih kecil dari t tabel dan tingkat signifikansi melebihi 0,05, maka hipotesis H1 dinyatakan ditolak. Lemahnya pengaruh siklus operasi terhadap persistensi laba dapat disebabkan oleh ketergantungan pendapatan perusahaan pada proyek-proyek tertentu. Sebagai ilustrasi, proyek yang berlangsung lebih dari satu periode umumnya memiliki waktu pengembalian yang relatif panjang. Kondisi tersebut menyebabkan perusahaan belum mampu menghasilkan laba pada tahun berjalan, meskipun laba tersebut diharapkan dapat mencerminkan keuntungan di masa depan. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh menjadi tidak pasti. Hal ini bertentangan dengan teori sinyal yang menyatakan bahwa semakin panjang siklus operasi suatu perusahaan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan arus kas, sehingga menurunkan keberlanjutan laba dan pada akhirnya memberikan sinyal negatif kepada investor (Agustin, 2. Pengaruh Laba Akuntansi Terhadap Persistensi Laba Berdasarkan hasil uji t pada variabel laba akuntansi, diperoleh nilai t hitung sebesar 16,095 yang lebih besar dibandingkan t tabel sebesar 1,699, dengan tingkat signifikansi 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan laba akuntansi akan diikuti oleh peningkatan persistensi Dengan kata lain, semakin tinggi laba akuntansi yang dihasilkan perusahaan, semakin besar pula kemungkinan laba tersebut bersifat berkelanjutan atau persisten di masa mendatang. Laba akuntansi mencerminkan hasil operasional perusahaan yang diukur berdasarkan prinsip akuntansi tertentu dan sering digunakan sebagai indikator utama dalam menilai kinerja Konsistensi laba akuntansi dari tahun ke tahun menandakan bahwa perusahaan memiliki pola pendapatan dan biaya yang stabil serta mampu mempertahankan tingkat profitabilitas secara berkelanjutan. Oleh karena itu, laba akuntansi yang tinggi dan stabil dapat Page 332 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 menjadi indikator bahwa laba perusahaan bersifat persisten dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Selain itu, laba akuntansi yang berkualitas umumnya memberikan informasi yang relevan dan andal bagi investor maupun pemangku kepentingan dalam memprediksi kinerja laba di masa depan. Laba yang persisten juga memberikan sinyal bahwa manajemen perusahaan mampu mengelola sumber daya serta risiko secara efektif sehingga menghasilkan pendapatan yang tidak bersifat sementara. Sebaliknya, laba akuntansi yang tidak konsisten atau berfluktuasi dapat menurunkan tingkat persistensi laba dan menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan kinerja keuangan perusahaan di masa depan. Dengan demikian, laba akuntansi memiliki peran yang sangat penting dalam mencerminkan serta memengaruhi tingkat persistensi laba perusahaan (Nursita, 2. Pengaruh Tingkat Hutang Terhadap Persistensi Laba Berdasarkan hasil uji t pada variabel tingkat utang, diperoleh nilai t hitung sebesar 0,933 dengan tingkat signifikansi 0,05. Apabila nilai t hitung lebih kecil dibandingkan nilai t tabel dan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05, maka hipotesis H3 dinyatakan ditolak. Hasil ini sejalan dengan teori stewardship yang menyatakan bahwa manajer bertindak demi kepentingan kolektif Dengan demikian, rasio utang tidak berpengaruh pada apakah laba mengalami penurunan atau peningkatan, sebab manajer biasanya memberikan kinerja yang sama tanpa memperhatikan level utang. Alasan lainnya adalah bahwa para investor cenderung melihat perusahaan dengan utang yang tinggi sebagai entitas yang lebih fokus pada keuntungan, berdasarkan asumsi bahwa penggunaan utang membawa konsekuensi berupa pembayaran bunga, sehingga menuntut perusahaan untuk mengelola utang mereka dengan baik demi menjaga keberlanjutan profitabilitas yang stabil (Mariani dan Suryani, 2. Dapat disimpulkan hasil perhitungan tingkat hutang, tingkat hutangnya terlalu tinggi sehingga itu mempengaruhi terhadap biaya yang di keluarkan oleh perusahaan, semakin banyak hutang maka semakin banyak juga biaya yang di keluarkan. Contohnya biaya bunga karena banyaknya biaya yang dikeluarkan maka kemampuan untuk mendapatkan labanya juga semakin rendah atau bahkan tidak bisa mendapatkan laba yang diinginkan perusahaan. Pada hasil perhitungan tingkat hutang banyak perusahaan yang memiliki tingkat hutangyang tinggi, oleh karena itu tidak menyebabkan pengaruh terhadap persistensi laba (Gunawan dan Gurusinga, 2. Pengaruh Siklus Operasi. Laba Akuntansi dan Tingkat Hutang Terhadap Persistensi Laba Berdasarkan pada pengujian F, angka F yang diperoleh adalah 87,066, melebihi F-tabel yang sebesar 2,93, yang ditentukan dengan tingkat signifikansi 0,000. Tingkat signifikansi menunjukkan bahwa hipotesis keempat, atau H4, diterima, yang berarti bahwa siklus operasi, laba buku, dan rasio utang secara bersamaan mempengaruhi kesinambungan laba. Pengujian ini juga menghasilkan nilai R-squared yang disesuaikan sebesar 0,890. Ini menunjukkan bahwa siklus operasional, laba yang dilaporkan, dan perbandingan utang dengan ekuitas dapat menggambarkan 89,0% dari nilai perusahaan, sementara sisanya 100% - 89,0% = 11% Variasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Erwinsyah dan rekan-rekannya . yang menyatakan bahwa siklus operasi, laba yang dilaporkan, serta rasio utang terhadap ekuitas secara simultan memiliki pengaruh terhadap persistensi laba. Page 333 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 DAFTAR PUSTAKA