Volume 1 No 1 Tahun 2019 Hlmn. Artikel Masuk: 7 Juli 2019 | Artikel Diterima: 6 September 2019 Rencana pembelajaran . peradaban Elana Era Yusdita Universitas PGRI Madiun. Jl. Setia Budi no 85 Madiun. Indonesia, 63118 elaradita@unipma. *surel korespondensi: elaradita@unipma. Abstrak Hilangnya kedaulatan pendidik untuk mendidik menjadi pertanyaan akan hilangnya AunilaiAy pada proses pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk memberi pencerahan terhadap praktek pendidikan akuntansi, dan bahkan bidang lainnya, dengan memakai ideologi bangsa yaitu Pancasila dan cara yang telah ditempuh Rasulullah S. sebagai guru. Peneliti menggunakan logika spiritual untuk merasakan AukesalahanAy, mencari tumpuan, serta mengajukan solusi. Hasilnya adalah cara mengajar filosofis-praktis yang menjaga habluminnallah dan habluminannas. Ada sederet cara sarat nilai yang dapat dilakukan pendidik daripada harus mengutuk fenomena perilaku anak yang terdegradasi. Kata Kunci: pendidikan akuntansi. akuntansi Pancasila. metode Rasulullah S. Abstract The loss of educator sovereignty to educate is a question of the loss of "value" in the learning process in the classroom. This study aims to enlighten the practice of accounting education, and even other fields, by using the ideology of the nation, namely Pancasila and the ways taken by Rasulullah S. as a teacher. Researchers use spiritual logic to feel "mistakes", seek support, and propose solutions. The result is a philosophical-practical teaching method that maintains habluminnallah and There are a number of value-laden ways that educators can do rather than condemn degraded child behavior phenomena. Keywords: accounting education. accounting of Pancasila. Rasulullah S. The Nature of Man yang mulai ditulis oleh Jensen dan Meckling pada 1970 menjadi begitu populer dan dijadikan induk bagi ilmu akuntansi. Adalah baik-baik saja menurut Jensen dan Meckling . seorang manusia mengorbankan sesuatu dalam dirinya untuk mendapatkan hal lebih besar, walupun tak ada sangkut pautnya dengan uang. Teori ini dikenal dengan REMM. Manusia dimaklumkan jika selalu ingin lebih dan utilitarian. Teori ini merintis pembentukan mata kuliah yang hadir dalam ruang-ruang kelas akuntansi, tentunya bahkan sudah disesuaikan dengan kebutuhan kerja This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Rencana pembelajaran . Yusdita. karena tuntutan bahwa kelas dimana anak ditempa menjadi rahmatan lil Aoalamin, justru dijadikan ladang pencetak pekerja . aca: robo. Pendidik dapat memilih: pasrah atau menyadarkan. Banyak kita jumpai kalimat sindiran bahwa koruptor justru dicetak dari kaum intelektual . isalnya Akbar, 2. Setidaknya sindiran ini bukan hanya kepada koruptor yang merupakan Auhasil produksiAy kelas, namun juga menyentuh proses. Pak Tjokro pernah berpidato pada 1916. Au Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan oleh susunya. Ay1 Semangat ini kata Tim Redaksi TEMPO merupakan penggeloraan persamaan, tapi menurut saya ada lebih dari itu: Kedaulatan. Ya, kedaulatan diri ini sebenarnya sedang mengalami degradasi. Tawar menawar dari yang seharusnya menjadi sebuah hal yang wajar. Padahal menurut Jean Bodin, kedaulatan harus terdapat kedaulatan, yaitu bahwa yang berdaulat harusnya memiliki hak dan kewajiban tertentu yang tak dapat dipertanyakan lagi (Lombok, 2. Ada beberapa unggahan video di media sosial yang menurut saya amat Pertama, ada seorang guru di Jawa Tengah yang tampak bertengkar dengan murid-muridnya yang pada akhirnya diklarifikasi bahwa itu hanyalah bercanda. Hati saya berkata, definisi bercanda antara guru dan murid kini mengalami pergeseran. Kalau dulu pada tahun 1950an zaman orang tua saya, guru adalah seseorang yang menakutkan dan sangat dihormati, lalu pada 1990an, era saya mengenyam pendidikan, bercanda dengan guru adalah sesuatu mahal, kini bercanda seolah sudah mengusung semangat liberal. Boleh sebebas-bebasnya dan sekasar-kasarnya. Jikalau itu sungguhan, maka guru berhak menegur. Tapi zaman saling pelintir ini ala pendukung capres sudah diadaptasi oleh orang tua murid. Pelajaran untuk murid agar tidak mengulang kekerasan dianggap sebagai sebuah kekerasan terhadap anak. Fenomena kedua, ada video yang menayangkan seorang guru perempuan yang mengajar di depan, namun hanya dua siswa yang Siswa yang lain sibuk memvideo teman-temannya yang merokok dan bermain handphone di deretan belakang. Subhanallah! Saya menyebut nama Allah tidak lagi karena kelakuan bocah-bocah itu, tapi sang guru menjelaskan tanpa henti, tak menegur bahkan begitu lempeng seolah tak punya kedaulatan atas dirinya, tiada pemberlakuan sistem di kelas, maupun kendali atas anak didiknya. Guru semakin tak dianggap guru. Rupanya ada yang salah di kelas. Pada diskusi di Neo Insight 2018 yang membahas metode pembelajaran ilmu sosial berbasis kesadaran dan menciptakan pembaharuan di era industrialisasi, kami berdiskusi bagaimana cara mengarahkan anak didik kami menjadi manusia yang kembali pada penciptanya. Kemampuan intelektual bukan lagi pusat dari pembelajaran (Kamayanti, 2012. Mulia. Triyuwono, 2. Jika berbekal pada intelektualitas saja, realita sejarah berkata Boedi Oetomo sebagai kumpulan orang terpelajar hanya mampu bertahan 4 tahun (Oktober 1908 sampai dengan Agustus 1. karena banyaknya benturan dan perbedaan di kaumnya karena hanya ada TEMPO Seri Bapak Bangsa: Tjokroaminoto, hlmn. Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 1 Tahun 2019 Hlmn. kecerdasan intelektual. Jadi, harus ada sesuatu yang lebih mendasar yang ditetapkan sebagai tujuan dari pendidikan. Prof. Iwan Triyuwono saat Neo Insight mengusulkan metode Innalillahi waAoinnaillaihi rojiun untuk pembelajaran, yaitu mengembalikan peserta didik kembali kepada Tuhan. Dr. Aji Dedi Mulawarman mengusulkan perombakan total dari sistem pendidikan kita dan menyucikan jalan yang ditempuh, sedangkan Dr. Ari Kamayanti memberi contoh bagaimana menjadikan anak didik lebih manusia dengan menujukan pembelajaran berdasarkan nilai-nilai luhur. Dengan demikian, jelas bahwa pendidik harusnya memiliki kuasa dan berdaulat atas sistem pembelajaran yang ia rancang di kelas untuk mengarahkan peserta didik ke jalan yang semestinya. Tapi rancangan yang seperti apa yang seharusnya Peneliti menggunakan ideologi Indonesia dan mencontoh apa yang pernah dilakukan Rasulullah S. untuk menyinergikan hubungan dengan Tuhan dan sesama mahluk hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mencerahkan dunia pendidikan akuntansi, tapi tak terbatas pada bidang ini saja, agar tidak menganggap nilai-nilai luhur yang dipraktikkan Rasulullah dan Pancasila sebagai kekakuan atau bahkan local foolness di negara Tulisan ini ingin membahas mengenai nilai-nilai luhur yang seharusnya diangkat dalam pendidikan vis a vis kenyataan. Jika metode pengajaran nilai luhur sebelumnya banyak berkutat pada metode dialogis yang sudah dipraktekkan di kelas pada mata kuliah tertentu . Kamayanti, 2012. Yusdita, 2. , berupa pengakuan ketidaketisan pendidik yang terpaksa oleh keadaan (Setiawan. Kamayanti, & Mulawarman, 2. , kini penulis mencoba mengangkat nilai luhur Pancasila yang dapat diintegerasikan masuk ke dalam pembelajaran secara umum dan cara Rasulullah yang beliau praktekkan semasa hidupnya untuk mengajar. Nilai yang diangkat Pancasila dan Rasulullah S. memiliki kesamaan secara garis besar, yaitu hubungan vertikal (Sang Pencipt. dan horizontal . esama ciptaan-Ny. METODE Berangkat dari permasalahan sehari-hari, maka peneliti membahas konsep dasar nilai-nilai luhur Pancasila dan apa yang telah dipraktikkan Rasulullah S. untuk kemudian dipraktikkan dalam keseharian. Sesuai dengan tujuan mengangkat nilai luhur Pancasila dan Rasulullah S. dalam kelas, maka peneliti ini bukan merupakan positivisme yang bebas nilai, mengamati permukaannya saja, dan memecah realitas menjadi hubungan antarvariabel (Sudarma, 2. Setiawan et al. pernah menggunakan solipsismish untuk menampung curhatan para dosen untuk mencari penjelasan atas tergantinya kesadaran pendidik dengan kepentingan Peneliti merasa bukti yang akan ditampilkan untuk mendukung metode solipsismish dalam menghindari subjektivitas . ihat penjelasan solipsism dan solipsismish pada Kamayanti, 2. dalam penelitian ini sangat Inspirasi selanjutnya. Kamayanti . telah menunjukkan metode dialogis yang beliau lakukan di kelas untuk membangkitkan kesadaran Rencana pembelajaran . Yusdita. secara masif tentang kelima nilai dalam Pancasila. Beliau menunjukkan bukti percakapan keseluruhan sebagai bukti. Namun hal ini sulit dilakukan untuk mahasiswa yang cenderung pasif (Yusdita, 2. Peneliti merasa metode dzikir seperti yang dilakukan oleh Briando. Triyuwono, & Irianto . dan Triyuwono . adalah metode yang paling sesuai. Alat yang digunakan adalah logika spiritual, yaitu logika yang hadir begitu saja secara spiritual sehingga peneliti dapat menganalisis data yang ia dapatkan (Triyuwono, 2. Berawal dari apa yang disaksikan dan dirasakan secara pribadi, peneliti berdoa untuk mencari solusi: konsep dan Langkah-langkah yang dilakukan sedikit berbeda. Pertama, peneliti bertasbih . engucap Subhanalla. saat melihat realitas betapa berani anakanak zaman sekarang terhadap guru dan dosen. Kedua, peneliti berusaha menghilangkan kesombongan diri dengan beristighfar . engucap Astaghfirulla. karena peneliti adalah dosen yang bisa jadi ikut berperan mencetak anak-anak AufenomenalAy itu. Ketiga, peneliti melihat video di youtube tentang kajian Maiyah oleh Cak Nun dan terpikirkan antithesis dari REMM Jensen & Meckling . , lalu membaca artikel peneliti terdahulu tentang Pancasila yang berimbas mencari artikel lain dengan tema sama. Keempat, benang merah tercipta saat menemukan fenomena ketidakpedulian rekan sejawat terhadap Pancasila serta proses transfer ilmu dan nilai dari peneliti kepada anak-anak di kelas dan bimbingan skripsi. Untuk kesekian kalinya peneliti bertasbih. Kelima, setelah konsep terkumpul, peneliti berdoa agar diberi petunjuk untuk apa yang akan disampaikan di kelas, untuk kemudian mempraktekkan transfer nilai kepada . HASIL DAN PEMBAHASAN Akuntansi dan Ketidakpercayaan. Cak Nun dalam salah satu wejangannya di Tulungagung pada 2017, membahas tentang sistem dan ketidakpercayaan. Beliau memberi contoh restoran yang mewajibkan konsumen membayar sebelum makan, bukan membayar setelah makan. Padahal niat konsumen ke restoran adalah untuk makan, bukan untuk mencuri. Beliau lebih lanjut membahasnya pada 2018 mencontohkan seorang pemilik pedagang keliling di Jogjakarta bernama Mbah Wongso . tau dapat dibaca di Nadjib, 2. dan pedagang warung tahu guling yang melayani pelanggannya dengan terkantuk-kantuk2, melakukan perhitungan atas makanan dan minuman di akhir dengan berdasarkan pengakuan si pelanggan. Praktik Akuntansi Angkringan ini merdeka dari rasa tidak percaya ala REMM Jensen dan Meckling. Azas percaya tersebut berada dalam kutipan monolog yang beliau sampaikan dalam Gambang Syafaat Cak Nun. AuBu, sampun bu. (Bu, sudah bu. )Ay AuNggih. (Y. Ay AuTahu guling sekawan. (Tahu gulingnya lima pors. Ay Video lengkap dapat ditonton di https://w. com/watch?v=pitIaMrc6oA&list=WL&index=6&t=351s Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 1 Tahun 2019 Hlmn. AuNggih. (Y. Ay AuTeh panas sekawan tambah kopi kalih. (Teh panas lima gelas dan kopi dua )Ay AuNggih. (Y. Ay AuTempene pitu. (Tempe tujuh buah. )Ay AuNggih. (Y. Ay AuKrupuke rong puluh. (Kerupuknya dua puluh rupiah. )Ay AuNggih. (Y. Ay AuSampun, bu. Pinten? (Sudah, bu. Bayar berapa?)Ay AuNggih. Hmm. , nopo wau? (Iya. Hmm. , apa tadi?)Ay (Pedagang lalu menghitung ulang jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh pelanggan tanpa rasa curiga. Cak Nun mengajari kita bahwa orang tidak jujur adalah urusan dia dengan Tuhan, sedangkan rezeki pengganti bagi si korban adalah urusan orang tersebut pula dengan Tuhan. Ketidakpercayaan terhadap sesama adalah keanjlokan peradaban. Karena ketidakpercayaan muncul dari semangat mencari laba, padahal hidup bukan mengenai mencari laba, tapi menjalankan darma bakti sebagai hamba Allah. Posisi Sistem Informasi Akuntansi sebagai bagian dari Sistem Pengendalian Manajemen mengajari anak didik akuntansi dan memaksa pendidik untuk masuk dalam pola pikir perlindungan aset. Rasa ketidakpercayaan karena keyakinan dasar REMM yaitu setiap manusia terlahir untuk mencari manfaat sebesar-besarnya mendasari hal ini, sadar maupun tidak. Bahkan Sistem Informasi Akuntansi menjadi mata kuliah syarat untuk menempuh Pengauditan. Pengauditan itu sendiri adalah buah dari rasa tidak percaya prinsipal terhadap agen terhadap laporan tahunan yang disampaikan dan jasa yang lahir atas permintaan pasar untuk memunculkan AuPERCAYAAy. Pola pikir yang diajarkan di kelas tentu akan ditiru dan bahkan dikembangkan oleh peserta didik di keseharian di luar Mengajar di Kelas: Sebuah Realitas. Hati saya mencelos saat memaparkan makalah tentang memasukkan nilai Pancasila ke dalam pembelajaran . ihat Yusdita, 2. di sebuah konferensi, ada yang menanggapi dengan,AyAnda terlalu memaksakan Pancasila masuk ke dalam pembelajaran. Ay. Tanggapan lain juga tak kurang menyakitkan,AySaya lho nggak pakai Pancasila pas Ngapain???Ay saat ada calon peneliti muda memaparkan idenya kepada seorang dosen. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah Pancasila itu? Apakah ideologinya dianggap lelucon atau sekedar hanya untuk dibaca saat upacara? Sebegitu abstraknyakah atau justru terlalu kaku untuk diterapkan dalam pembelajaran? Berarti kuasa Pancasila hanya sebatas di lapangan upacara, tak berhak masuk ke kelas, bolehpun hanya sekedar mampir pada mata kuliah tertentu. Padahal Pancasila dapat menjadi pembebas para akuntan dari imperialisme mengingat sejarah penciptaannya yang hanya beberapa saat sebelum deklarasi kemerdekaan Indonesia sehingga kaya akan Rencana pembelajaran . Yusdita. nilai spiritual, kemanusiaan, kebersamaan, dan nilai-nilai sosial (Ludigdo & Kamayanti, 2. Akuntansi sebagai salah satu bidang ilmu diturunkan dari grand theory ciptaan Jensen & Meckling . yang menyatakan bahwa manusia berhak tukar menukar segala yang ia punyai untuk sesuatu lain yang bernilai Manusia adalah mahluk REMM yang memandang manfaatmemanfaatkan adalah segalanya. Hal ini diekstraksi ke dalam mata kuliah di kelas-kelas akuntansi yang mencetak guru-guru, yang nantinya mengajarkan hal serupa dari kelas ke kelas level SMA dan SMK. Efek domino! Akuntansi manajemen sebagai salah satu mata kuliah yang ada di kelas pendidikan akuntansi maupun akuntansi murni mengajarkan adanya penggolongan penting dan tidak penting. Mereka yang tak bernilai tambah dikategorikan tidak penting dan wajib dibuang (Mulyadi, 2. Hal ini tertuang jelas dalam konsep activity based costing (ABC) yang tidak cocok dengan kepribadian Indonesia karena metode itu mengajarkan nilai individualistik (Prof. Iwan Triyuwono dalam Konferensi Akuntansi Pancasila 2014 sebagaimana yang diabadikan dalam Yusdita, 2. Setali tiga uang, para praktisi pun dicetak dari perguruan tinggi, mengingat bangku kuliah sekarang dilabeli sebagai pabrik penghasil pekerja yang tunduk pada pasar. Mereka hanya diajarkan agama pada satu mata kuliah saja dan etika pada satu waktu yang lain atau bahkan hanya AunyantolAy di satu bab etika bisnis atau penelitian. Selebihnya, akuntansi ya akuntansi. Mata kuliah ya mata kuliah, habluminallah dan habluminnanas adalah lain soal. Itu adalah kotak yang lain, yang jika dicampurkan akan menjadi lelucon. Jika terjadi hal memilukan hati di kelas, orang-orang sibuk menghujat dan mempertanyakan etika. Pancasila Tak Hanya di Lapangan Upacara: Mengajar Ala Saya. Pancasila terdiri dari lima sila, yaitu . Ketuhanan Yang Maha Esa, . kemanusiaan yang adil dan beradab, . Persatuan Indonesia, . Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila pertama merupakan berwujudan dari nilai Ketuhanan yang merupakan asal dari segalanya (Yusdita, 2. Nilai Ketuhanan haruslah menjadi keyakinan bagi seluruh bagian dari bangsa baik untuk misi kemanusiaan, kebangsaan, dasar dalam memimpin, dan mencari kesejahteraan dengan pencapaian prestasi (Ludigdo, 2. Berbeda dengan paham lain, misal kapitalisme yang dituduh sebagai penyebab masalah etis . ihat Knights & Leary, 2. , nilai Ketuhanan dalam Pancasila tidak mengizinkan individu untuk hanya mencari kebahagiaan materi dan duniawi (Sitorus, 2. Demikian dengan murid di kelas, yang seharusnya tidak hanya hadir untuk kepentingan duniawi berupa nilai atau ranking, namun lebih dari itu. Tentunya hal ini berkaitan erat dengan dosen sebagai penentu arah pembelajaran (Setiawan et al. , 2. Saat Tuhan menjadi awal dan akhir, asal dan tujuan, maka ada baiknya setiap dosen dan guru tidak membiarkan anak-anaknya berdoa dalam diam hanya sekedar penggugur kewajiban berdoa sebelum pelajaran. Dosen dapat mendoakan Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 1 Tahun 2019 Hlmn. anak-anaknya dengan tulus namun lantang untuk menunjukkan arah pembelajaran, misalnya dengan menyebut,AyYa Tuhan kami. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, berikanlah kami ilmu yang bermanfaat, dan jadikanlah kami sebagai rahmat untuk semesta. Jangan izinkan kami menjadi pribadi sombong hanya karena ilmu yang kami pelajari. Ay Hal ini berguna untuk mengasah kecerdasan spiritual . siswa, tidak hanya berfokus pada intelektual yang selama ini selalu dianggap inti pembelajaran (Triyuwono, 2. (Mah. siswa yang tampak diam, menunduk sambil menengadahkan tangan, dan mengucapkan Auaamiin. aamiinAAy setiap akhir kalimat yang diucapkan oleh dosen merupakan pertanda mereka merespon apa yang diucapkan dosen. Hal serupa juga terdapat dalam Metode Pembelajaran Pembebasan Diri pada Triyuwono et al. Nilai kemanusiaan yang di sila kedua mengandung maksud bahwa individu memiliki hubungan dengan sesama, tidak hanya kepentingan diri Pendidik dalam akuntansi dapat memasukkan kemanusiaan ke dalam akuntansi dengan tidak hanya menyerah dan mengadaptasi untuk aturan, kurikulum, atau apapun itu yang berlabel internasional (Yusdita, 2. Hendaknya hal tersebut disesuaikan dengan karakter bangsa Indonesia, yaitu dengan memasukkan Pancasila ke dalam akuntansi. Indonesia bukan negara individualis, melainkan negara dengan kolektivitas yang tinggi. Hasil riset Hofstede. Hofstede, & Minkov . menunjukkan bahwa Indonesia memiliki nilai indeks individualis paling kecil di antara negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara3. Artinya. Indonesia menjunjung tinggi prinsip gotong Sekaligus mempertegas setiap negara memiliki karakteristiknya masing-masing yang akan mempengaruhi praktik yang berlangsung di dalamnya (Ludigdo & Kamayanti, 2. Dosen dapat memberikan contoh kepada mahasiswa tentang praktek akuntansi berkearifan lokal, misalnya akuntansi dalam acara pemakaman (Paranoan, 2. , akuntansi dalam lamaran (Rahayu & Yudi, 2. , akuntansi dalam klub sepak bola (Triyuwono, 2. , dan masih banyak lagi. Selain itu, cara untuk meneliti dapat diceritakan di dalam kelas untuk membiasakan . siswa mengapresiasi apa yang mereka lihat dan tidak terkungkung dalam kekakuan paradigma tertentu (Sriwinarti & Triyuwono, 2. Pengenalan cara pandang yang berbeda diharapkan akan menjadikan anak sebagaipribadi yang luwes dan tetap kritis dalam memandang dunia. Dosen dan guru juga bisa menceritakan pengalaman pribadi untuk mengajak anak-anak berolah rasa, menghadirkan rasa kemanusiaan atas sesuatu, misalnya masalah etika dengan memberi contoh tentang apa yang buruk dan yang baik beserta Pemberian contoh ini bermaksud menunjukkan bahwa pendidikan tidak sama dengan Aumie instanAy yang cukup direbus lima menit langsung jadi, namun merupakan proses pembangunan diri menjadi manusia Pemberitahuan atas apa saja yang dipelajari namun tidak sesuai dengan pribadi bangsa juga kewajiban pendidik (Ludigdo, 2. , karena Indeks individualis Indonesia adalah 14. Negara yang dibandingkan adalah Malaysia . Hongkong . Bangladesh . Cina . Singapura . Thailand . Vietnam . Korea Selatan . , dan Taiwan . Rencana pembelajaran . Yusdita. akuntansi selama ini hanya menyentuh tehniknya tanpa memperdulikan nilai sosial (Carmona, 2. Hasil olahrasa yang nyata adalah . siswa ikut menangis saat proses olah rasa di kelas. Nilai ketiga dalam sila ketiga yaitu persatuan dapat ditunjukkan dengan menyambung tali persaudaraan dalam segala aktivitas, termasuk dalam urusan ekonomi (Sitorus, 2. Pasar tak pelak menembus segala relung kehidupan hingga ruang kelas, yaitu sistem pendidikan dibuat untuk melayani kebutuhan pasar (Triyuwono, 2. Dosen dan guru dapat menunjukkan bahwa transaksional dalam dalam kelas seharusnya ditiadakan. Dengan pemenuhan syarat administrasi hanya berupa sks, absen, sekedar mengumpulkan tugas dan mengikuti ujian, seorang . siswa tidak boleh menuntut kelulusan. Lebih dari itu, dosen dan guru berperan sebagai orang tua yang tidak boleh menghalangi aliran ilmu dan kasih sayang kepada ia yang membutuhkan. (Mah. siswa seharusnya disayangi layaknya seorang anak yang harus bisa berpikir kritis dan berkarakter baik. Nilai kerakyatan dan semangat musyawarah hadir dalam sila keempat. Jika dalam akuntansi, hal ini ditujukan untuk pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dan bukan untuk segelintir golongan (Sitorus, 2. Akibatnya, kapitalisme identik dengan dua kutub yang saling bertentangan yaitu golongan kaya dan golongan termarjinalkan (Sitorus, 2. Kapitalisme ini tanpa kita sadari masuk ke dalam kelas. Ada dua golongan yang tercipta, yaitu manusia pintar dan Aumanusia bodohAy. Yang dimaksud Aumanusia bodohAy adalah anak dianggap objek pasif yang pasrah menerima apapun yang diberikan guru atau dosennya (Triyuwono, 2. Hal ini menciptakan golongan penindas baru karena sifat meniru anak terhadap orang tua, apalagi sebagian anak akan menjadi guru dan dosen di kemudian Dampak dari penindasan ini adalah munculnya manusia yang tidak kreatif, inovatif, dan mandiri (Triyuwono, 2. Guru dan dosen dapat membebaskan anak dari kekakuan-kekakuan sistem pendidikan, misalnya mengajak anak untuk berpikir kritis terhadap suatu masalah, sekecil apapun Pencarian solusi bersama-sama dan tidak menang sendiri juga dapat diterapkan untuk memancing kreativitas . siswa di kelas. Tidak ditolerirnya penjiplakan karya baik dalam pengerjaan tugas dan skripsi, apalagi sekarang sudah ada software untuk memeriksa tingkat plagiasi, akan membantu . siswa mandiri. Penjelasan penuh kasih sayang di kelas atas apa yang boleh dan tidak, serta dampaknya terhadap orang lain dan diri sendiri dibutuhkan untuk mengajari anak agar selalu berpikir dan merasa bahwa ia tidak hidup sendiri di dunia. Tidak hanya ilmu, kelas juga merupakan tempat bertukarnya kesadaran (Setiawan et al. , 2. Sila kelima merupakan pencerminan dari kebersinambungan hubungan individu dengan Tuhan dan sesamanya, penyeimbangan kebutuhan jasmani dan rohani (Sitorus, 2. Selama ini, dikotomisasi antara dunia dan akhirat biasa terjadi di dalam masyarakat hingga dalam pendidikan yang mengakibatkan kekakuan pada . siswa karena yang dia pelajari hanya Auitu-ituAy saja dari textbook (Mulia, 2. Ludigdo . memberikan penjelasan contoh sikap keadilan sosial yang harus diterapkan Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 1 Tahun 2019 Hlmn. oleh akuntan, yaitu dengan memberdayakan pihak yang bekerjasama dengannya, bukan melemahkan atau mengalahkan, serta mempromosikan sebuah sistem ekonomi, konsep bisnis, serta konsep dan standar akuntansi yang berlandaskan semangat kekeluargaan. Dengan demikian, dosen dan guru memiliki kewajiban untuk mengajarkan apa yang sesuai dengan praktik sehari-hari, lalu menyampaikan pandangan lain atasnya. Misalnya saja, praktik akuntansi pada UMKM yang tidak mengikuti standar internasional yang bertahan dengan caranya sendiri . isalnya Sugiono. Ludigdo, & Baridwan, 2. Guru Utusan Allah: Mengajar Ala Nabi Muhammad. Selama ini tujuan pembelajaran di kelas adalah pilihan para pendidik. Sistem yang diatur Kemenristekdikti dapat dimodif sedemikian rupa di kelas sehingga anak didik berkarakter, tidak hanya sebagai calon pekerja yang terampil. Pendidik dapat memilih, terutama bidang akuntansi, untuk mengarahkan ke jalur sebebas-bebasnya ala kapitalis, mengekang ala sosialis, atau spiritualis. Jika pendidik meyakini Islam sebagai cara untuk membawa anak didiknya kembali kepada Sang Pencipta, maka cara yang diterapkan Nabi Muhammad SAW ketika mengajarkan Islam dan ilmu kehidupan kepada penduduk Arab dapat menjadi contoh. Allah telah berfirman bahwa Muhammad adalah teladan yang baik bagi umat-Nya dan Rasulullah juga mengklaim bahwa dirinya adalah guru (Ghuddah, 2018: i. Oleh karena itu, berikut terdapat cara-cara Rasullullah dalam mengajar. Pertama, bercanda seperlunya agar mengarah konsentrasi peserta didik, namun ada batasan bercandaan yang dilontarkan bukanlah yang diadaadakan (Ghuddah, 2. Pembedaan bercanda terniatkan belajar dan sia-sia merupakan hal penting mengingat sekarang semakin banyak hiburan di televisi yang mengada-adakan sesuatu agar dianggap lucu dan melayani kepentingan pasar semata dengan indikator jumlah penonton dan/atau Kedua, melakukan sumpah atas nama Allah untuk menggambarkan penyampaian yang dilakukan setelahnya merupakan kebenaran, mengingat Rasulullah juga terkenal dengan sifat jujur (Ghuddah, 2. Hal ini juga berguna untuk mencontohkan kejujuran kepada . siswa karena pada zaman sekarang kecurangan akademik marak . isalnya pada Murdiansyah. Sudarma, & Nurkholis, 2. Ketiga, mengulangi ucapan tiga kali untuk memperjelas, dengan tidak menganggap peserta didik tersebut bodoh dengan penjelasan dari umum ke khusus, dan jika perlu mengubah posisi dan mimik muka saat berbicara, serta menguji pengetahuan murid dengan menunda jawaban atau menyamarkan sesuatu sehingga rasa ingin tau sang murid terpantik (Ghuddah, 2. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari anggapan anak di kelas sebagai Aumanusia bodohAy sehingga mengerdilkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka (Triyuwono, 2. Rencana pembelajaran . Yusdita. Keempat, mendekatkan jarak antara guru dan murid serta apabila si murid sudah memiliki kedekatan, dimungkinkan untuk memegang tangan atau menepuk bahu untuk memancing perhatian murid (Ghuddah, 2. Kelima, memberi nasihat dan peringatan yang isi nasihat itu benar dilaksanakan oleh si pemberi nasihat (Ghuddah, 2. atau berupa kisah Niat pemberian motivasi untuk membuat orang tidak membuat lari karena merasa terancam dan peringatan diniatkan untuk menghindari si murid dari sifat bermalas-malasan. Guru harus melepaskan dari pendapat pribadinya saat mengajar, penjelasannya meyakinkan, ucapannya mendalam, dan tidak melenceng dari tujuan pembelajaran. Hal ini juga dapat digunakan untuk olah rasa . Keenam, berhak marah dan bereaksi keras saat mengajar pada situasi tertentu (Ghuddah, 2. Kedaulatan seorang pendidik ada karena ia merupakan orang tua . siswa di kelas. Untuk hal-hal yang melewati batas, baik aturan tertulis, norma, maupun kesepakatan, sang orang tua berhak memarahi anaknya. Perlu diingat bahwa niat marah di sini bukan untuk ego atau menunjukkan kuasa guru atau dosen semata, namun mengembalikan anak ke jalan yang benar. Ketujuh, tulisan sebagai salah satu alat peraga saat mengajar atau mengajak orang lain untuk mengikuti ajaran tersebut (Ghuddah, 2. Pada zaman revolusi industri 4. 0 ini, tulisan seringkali terdigitalisasi, tergantikan oleh slide presentasi dan media lainnya. Untuk merekam dan menyampaikan apa yang kita ajarkan, guru / dosen sebenarnya memiliki sarana jurnal. Apalagi dosen memiliki tridharma perguruan tinggi: mengajar, meneliti, dan Saat meneliti dan menulis, dosen dapat memilih paradigma dan menyampaikan AukeyakinanAynya kepada dunia secara tertulis. Kedelapan, belajar bahasa asing untuk tujuan berkomunikasi (HR. Bukhari dan Tirmidzi dalam Ghuddah, 2. Pembelajaran bahasa asing ini bukan sebagai bagian dari pasrahnya kita kepada internasionalisasi, namun dapat menjadi sarana penyampaian maksud kita kepada dunia. SIMPULAN Metode pembelajaran Pancasila dan Rasulullah S. dapat dipraktekkan di kelas untuk transfer nilai dan ilmu dari pendidik kepada . siswa, sekaligus menjadi justifikasi bagi guru dan dosen bahwa dia sebenarnya memiliki kuasa untuk mengarahkan anak didik ke jalan yang Hal ini penting dilakukan karena pada khususnya, akuntansi sudah memuat asumsi dasar yang menyesatkan dan tidak sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia, dan peserta didik meremehkan transfer nilai di kelas apapun bidang ilmunya. Penelitian ini membawa kebaruan untuk praktek mengajar di kelas dengan menjaga sinergi hubungan dengan Yang Maha Kuasa dan sesama ciptaanNya. DAFTAR RUJUKAN Akbar. Kaum Intelektual Turut Langgengkan Praktik Korupsi di Pemerintah. Retrieved May Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 1 Tahun 2019 Hlmn. https://w. id/berita/nasional/umum/12/05/25/m4kpqwkaum-intelektual-turut-langgengkan-praktik-korupsi-di-pemerintah Briando. Triyuwono. , & Irianto. Gurindam Etika Pengelola Keuangan Negara. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 8. , 1Ae17. https://doi. org/10. 18202/jamal. Carmona. Accounting curriculum reform? The devil is in the detail. Critical Perspectives Accounting, 24. , 113Ae119. https://doi. org/10. 1016/j. Ghuddah. Muhammad Sang Guru: Menyibak Rahasia Cara Mengajar Rasulullah. Jakarta: Penerbit Akses. Hofstede. Hofstede. , & Minkov. Culture & Organizations: software of the mind: intercultural cooperation and its importance for survival (Thir. New York: McGraw-Hill International. Jensen. , & Meckling. The Nature of Man. Management Learning, 7. , 4Ae19. https://doi. org/10. 1177/135050768801900104 Kamayanti. Cinta: Tindakan Berkesadaran Akuntan (Pendekatan Dialogis Dalam Pendidikan Akuntans. Simposium Nasional Akuntansi XV. Kamayanti. Metodologi Penelitian Kualitatif Akuntansi: Pengantar Religiositas Keilmuan. Jakarta: Yayasan Rumah Peneleh. Knights. , & Leary. Reflecting on corporate scandals : the failure of ethical leadership. Business Ethics: A European Review Reflecting, 14. , 359Ae366. Lombok. Kedaulatan Negara vis a vis Keistimewaan dan Kekebalan Hukum Organisasi Internasional dalam Sebuah Intervensi Kemanusiaan. Pandecta: Research Law Journal, 9. , 50Ae75. https://doi. org/10. 15294/pandecta. Ludigdo. Memaknai Etika Profesi Akuntan Indonesia dengan Pancasila. Pidato Pengukuhan Guru Besar, (Apri. , 1Ae70. Ludigdo. , & Kamayanti. Pancasila as Accountant Ethics Imperialism Liberator. World Journal of Social Sciences, 2. , 159Ae168. Mulia. Mengungkap Pemahaman Tentang Akuntansi dari Kecerdasan Emosional. Spiritual dan Sosial Mahasiswa. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 3. , 334Ae501. Mulyadi. Akuntansi Manajemen: Konsep. Manfaat, dan Rekayasa. Jakarta: Salemba Empat. Murdiansyah. Sudarma. , & Nurkholis. Pengaruh Dimensi Fraud Diamond Terhadap Perilaku Kecurangan Akademik (Studi Empiris Pada Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Brawijay. Jurnal Akuntansi Aktual, 4. , 121Ae133. Nadjib. Wongso,The Legend. Retrieved June 1, 2019, from https://w. com/2017/wongso-the-legend/ Paranoan. Akuntabilitas dalam upacara adat pemakaman. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6. , 214Ae223. Rahayu. , & Yudi. Uang NaAoi: Antara Cinta dan Gengsi. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6. , 224Ae236. Rencana pembelajaran . Yusdita. Setiawan. Kamayanti. , & Mulawarman. Pengakuan Dosa [Sopi. tan1 Pendidik: Studi Solipsismish. Jurnal Pendidikan Akuntansi, 2. Sitorus. Membawa pancasila dalam suatu definisi akuntansi. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6. , 175Ae340. Sriwinarti. , & Triyuwono. Pemilihan Paradigma Penelitian Akuntansi: Analisis Berdasarkan Pewarigaan dan Kecerdasan Manusia. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 1. , 1Ae19. Sudarma. Paradigma Penelitian Akuntansi dan Keuangan. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 1. , 97Ae108. Sugiono. Ludigdo. , & Baridwan. Makna Pajak dan Retribusi: Perspektif Wajib Pajak Pedagang Kaki Lima. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6. , 53Ae78. https://doi. org/10. 18202/jamal. Triyuwono. AuMata KetigaAy: Se Laen. Sang Pembebas Sistem Pendidikan Tinggi Akuntansi. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 1. , 1Ae23. Triyuwono. Akuntansi Malangan: Salam Satu Jiwa dan Konsep Kinerja Klub Sepak Bola. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6. , 290Ae Triyuwono. Djamhuri. Ludigdo. Rahman. Mulawarman. Kamayanti. A Rahmanty. Insight (Inspiring. Enlightening, and Emancipatin. : Filosofi & Konsep Pendidikan serta Metode Pembelajaran Pascasarjana Akuntansi . st ed. Malang: Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Yusdita. Pendebetan Etika Dalam Jiwa Akuntan Indonesia: Pemupukan Nilai Pancasila Oleh Pendidik. Media Mahardhika, 12. , 28Ae40. Yusdita. Inserting Pancasila on Accounting Education. International Conference on Education and Science (ICONS 2. , 1237Ae1244. Pengurus Besar PGRI.