Ganesha Civic Education Journal Volume 8. Number 1. April 2026, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index PENERAPAN PROGRAM CONSCIOUSNESS BASED EDUCATION UNTUK MEMBENTUK KARAKTER SISWA KELAS X DI SMA NEGERI BALI MANDARA Ni Nengah Juni Ardani1 *. I Made Yudana2. I Putu Windu Mertha Sujana3 1,2,3 Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 19 Januari 2026 Accepted 8 April 2026 Available online 16 April 2026 Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hasil dari implementasi Program Pendidikan Berbasis Kesadaran . onsciousness based educatio. dalam membentuk karakter siswa di SMA Negeri Bali Mandara, menganalisis faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan Program CBE Kata Kunci: dalam membentuk karakter siswa di SMA Negeri Bali Mandara, serta Consciousness Based Education. mendeskripsikan solusi alternatif yang dirancang mengatasi berbagai Pendidikan Karakter. Sekolah hambatan dalam pelaksanaan Program CBE , sehingga mampu memperkuat Berasrama. Pembinaan Karakter dampak positif dan meminimalisasi dampak negatif terhadap pembentukan Keywords: karakter siswa di SMA Negeri Bali Mandara. Penelitian ini menggunakan Consciousness Based Education. metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui Character Education. Barding observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam proses analisis data secara School. Self-awareness. Character Development kualitatif menggunakan teknik analisis menurut Miles dan Hubermen yaitu melalui langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian, dan Kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah pelaksanaan Program Pendidikan Berbasis Kesadaran (Consciousness-Based Educatio. telah terlaksana sejak tahun 2012. Dalam mendukung keberhasilan program ini terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu Transcendental Meditation dan Kesamaptaan yang telah berhasil diterapkan hingga sekarang dalam membentuk karakter peserta didik terkhusus kelas X di SMAN Bali Mandara, selain itu terdapat faktor-faktor bahwa Program Consciousness-Based Education didukung komitmen sekolah, sarana memadai, dan pendampingan intensif, program menghadapi hambatan berupa adaptasi awal peserta didik, keterbatasan konsentrasi, dan kepadatan jadwal. Dalam menghadapi hambatan tersebut terdapat solusi alternatif yang telah dirancang dan dijalankan berupa orientasi awal, penataan jadwal, dan penguatan pendampingan yang telah terbukti dalam meningkatkan efektivitas pembentukan karakter peserta didik kelas X di SMAN Bali Mandara. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi praktis bagi satuan pendidikan, khususnya sekolah berasrama, dalam mengimplementasikan Program Pendidikan Berbasis Kesadaran (Consciousness-Based Educatio. untuk memperkuat pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab siswa. ABSTRACT The purpose of this study is to determine the results of the implementation of the Consciousness-Based Education Program in shaping the character of students at SMA Negeri Bali Mandara, analyze the factors that support and hinder the implementation of the CBE Program in shaping the character of students at SMA Negeri Bali Mandara, and describe alternative solutions designed to overcome various obstacles in the implementation of the CBE Program, so as to strengthen the positive impact and minimize the negative impact on the formation of student character at SMA Negeri Bali Mandara. This study employed a qualitative descriptive method, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The qualitative data analysis process employed the analysis techniques according to Miles and Hubermen, namely data collection, data reduction, presentation, and conclusions. The results of this study indicate that the Consciousness-Based Education Program has been implemented since 2012. To support the success of this program, several activities are implemented, including Transcendental Meditation and Physical Fitness, which have been successfully implemented to date in shaping the character of students, particularly in grade 10 at SMAN Bali Mandara. Furthermore, the Consciousness-Based Education Program, supported by school * Corresponding author. E-mail addresses: juni. ardani@student. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. commitment, adequate facilities, and intensive mentoring, faces obstacles such as initial student adaptation, limited concentration, and a busy schedule. To address these obstacles, alternative solutions have been designed and implemented, including initial orientation, schedule restructuring, and strengthened mentoring. These have been proven to increase the effectiveness of character development in grade 10 students at SMAN Bali Mandara. This research is expected to provide practical contributions for educational institutions, particularly boarding schools, in implementing the Consciousness-Based Education (CBE) program to strengthen the development of studentsAo discipline and responsibility character. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. Pendahuluan Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab fundamental dalam membentuk karakter peserta didik. Tantangan pendidikan di era modern ditandai oleh meningkatnya berbagai permasalahan karakter pada remaja, seperti rendahnya disiplin, lemahnya tanggung jawab, kurangnya pengendalian diri, serta kesulitan mengelola emosi dan tekanan sosial. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan yang berfokus pada aspek kognitif semata belum sepenuhnya mampu menghasilkan individu yang berkarakter utuh. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi agenda strategis dalam sistem pendidikan nasional maupun global (Lickona. Dalam konteks Indonesia, pendidikan karakter telah ditegaskan sebagai bagian integral dari tujuan pendidikan nasional. Namun, implementasinya di satuan pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada fase transisi peserta didik dari jenjang pendidikan sebelumnya. Tilaar . menegaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus dilaksanakan secara holistik, berkelanjutan, dan terintegrasi dalam keseluruhan sistem pendidikan, sehingga nilai-nilai karakter tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diinternalisasikan melalui pembiasaan dan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan karakter tersebut tampak secara nyata pada peserta didik kelas X yang baru meranjak dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Masa transisi ini merupakan fase krusial dalam perkembangan remaja, karena siswa dihadapkan pada tuntutan akademik yang lebih tinggi, lingkungan sosial yang baru, serta sistem disiplin yang berbeda dari jenjang sebelumnya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa fase transisi pendidikan sering kali disertai dengan penurunan disiplin, meningkatnya tekanan emosional, serta kesulitan adaptasi terhadap budaya sekolah baru (Wentzel & Muenks, 2016. Roziqin et al. , 2. Dalam konteks sekolah berasrama, tantangan adaptasi siswa kelas X menjadi lebih kompleks karena peserta didik tidak hanya beradaptasi dengan sistem pembelajaran SMA, tetapi juga dengan kehidupan asrama yang menuntut kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang lebih tinggi. Penelitian Triyono . dan Salim et al. menunjukkan bahwa meskipun sistem boarding school memiliki potensi besar dalam pembinaan karakter, siswa baru sering mengalami kesulitan pada tahap awal, khususnya dalam menyesuaikan diri dengan pola hidup terstruktur dan aturan yang ketat. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan pendidikan karakter yang tidak bersifat koersif, melainkan berbasis kesadaran dan pendampingan intensif. Salah satu pendekatan yang relevan dalam menjawab permasalahan tersebut adalah Consciousness Based Education (CBE). Pendekatan ini menempatkan pengembangan kesadaran diri sebagai fondasi utama proses pendidikan, melalui praktik refleksi dan meditasi yang bertujuan menumbuhkan ketenangan batin, fokus, serta keseimbangan emosional peserta didik (Maharishi Mahesh Yogi, 2. CBE sejalan dengan paradigma pendidikan holistik yang memandang peserta didik sebagai individu yang utuh, mencakup aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual (Haidar et al. , 2. Berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa praktik meditasi dan mindfulness dalam pendidikan memberikan kontribusi positif terhadap regulasi emosi, konsentrasi belajar, serta perilaku prososial peserta didik, khususnya pada remaja yang berada pada fase perkembangan transisional (Phan et al. , 2022. Delavari et al. , 2. Kabat-Zinn . menegaskan bahwa kesadaran penuh memungkinkan individu mengenali kondisi internal dirinya secara lebih jernih, sehingga mampu merespons tantangan secara lebih adaptif dan bertanggung jawab. Konteks siswa kelas X, kemampuan ini menjadi sangat penting untuk membantu proses penyesuaian diri terhadap lingkungan SMA dan kehidupan berasrama. SMA Negeri Bali Mandara merupakan sekolah menengah atas berasrama yang menerapkan Program Consciousness Based Education sebagai bagian integral dari sistem pendidikannya. Program ini dilaksanakan secara rutin melalui praktik Transcendental Meditation, pembinaan disiplin berbasis kesadaran, serta pendampingan intensif oleh guru dan pembina Berdasarkan hasil pengamatan awal, permasalahan karakter seperti ketidakdisiplinan, kesulitan mengelola emosi, dan rendahnya tanggung jawab lebih dominan ditemukan pada siswa kelas X yang baru Ni Nengah Juni Ardani / Penerapan Program Consciousness Based Education Untuk Membentuk Karakter Siswa Kelas X Di SMA Negeri Bali Mandara Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. memasuki lingkungan sekolah dan asrama. Berdasarkan kondisi tersebut, permasalahan utama dalam penelitian ini difokuskan pada bagaimana implementasi Program Consciousness Based Education dalam membentuk karakter siswa kelas X di SMA Negeri Bali Mandara yang sedang berada pada fase transisi dari SMP ke SMA, serta bagaimana program tersebut berkontribusi dalam membantu siswa beradaptasi dengan tuntutan akademik dan kehidupan berasrama. Sebagai rencana pemecahan masalah, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk menggali secara mendalam proses implementasi Program CBE, pengalaman siswa kelas X, serta peran guru dan pembina asrama dalam mendampingi proses adaptasi karakter siswa. Pendekatan ini dipandang relevan karena mampu memberikan pemahaman komprehensif mengenai dinamika pembentukan karakter dalam konteks nyata kehidupan sekolah berasrama (Creswell & Creswell, 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus kajian yang secara spesifik menempatkan siswa kelas X sebagai subjek utama dalam analisis implementasi Consciousness Based Education di sekolah menengah berasrama negeri. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya mengkaji pendidikan karakter atau mindfulness secara umum, penelitian ini menekankan fase transisi pendidikan sebagai titik kritis pembentukan karakter, sekaligus memposisikan CBE sebagai pendekatan preventif dan adaptif dalam mengatasi permasalahan karakter siswa baru. Terkait pendidikan karakter yang terbentuk memiliki hubungan erat dengan segala bentuk peristiwa dan kejadian yang mempengaruhi aktivitas dan bentuk kegiatan yang dilakukan, melalui penanaman terhadap pentingnya pendidikan karakter akan lebih diberikan bagaimana gambaran terkait materi mengenai pendidikan karakter yang sangat penting untuk kedepannya namun melalui program yang diterapkan tersebut lebih ke praktek yang dilakukan oleh siswa dengan adanya program yang ada di SMA Negeri Bali Mandara tentunya menjadi jalan dalam menciptakan generasi yang memiliki akhlak dan sikap luhur berbudi pekerti dengan landasan rmoral serta mentaati segala aturan agar memiliki sikap dan menjadi pribadi yang sesuai dengan visi dari SMA Negeri Bali Mandara yaitu AuTo Become The Leading School in Creating Future LeaderAy atau bermakna dapat menjadi sekolah terdepan dan menghaslkan seseorang pemimpin masa depan. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implementasi Program Consciousness Based Education dalam membentuk karakter siswa kelas X di SMA Negeri Bali Mandara, menganalisis dampaknya terhadap disiplin, tanggung jawab, dan pengendalian diri siswa pada masa transisi dari SMP ke SMA, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program sebagai dasar perumusan rekomendasi pengembangan pendidikan karakter berbasis kesadaran di sekolah berasrama. Metode Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Creswell . , yang menjelaskan bahwa metode kualitatif merupakan pendekatan yang mengeksplorasi makna dari suatu fenomena sosial dengan cara mendeskripsikan hasilnya secara kompleks dan Metode penelitian deskriptif bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena, peristiwa, atau kejadian yang sedang berlangsung. Jenis penelitian ini berupaya memberikan gambaran langsung mengenai suatu kejadian dengan sifat yang nyata, realistis, serta aktual (Rukajat, 2. Dalam penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan fenomena dan peristiwa yang menjadi fokus studi tanpa melakukan intervensi terhadap kejadian tersebut. Penelitian kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk menggambarkan hasil pengamatan terhadap subjek dalam bentuk deskriptif atau melalui kata-kata yang diperoleh dari pernyataan individu yang diamati Metode penelitian deskriptif bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena, peristiwa, atau kejadian yang sedang berlangsung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan program serta perilaku siswa dalam kegiatan pembelajaran, asrama, meditasi, dan kesamaptaan. Wawancara dilakukan secara mendalam kepada subjek penelitian yang meliputi Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah, guru, pembina asrama, dan siswa guna memperoleh informasi terkait pelaksanaan program dan dampaknya terhadap pembentukan karakter. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa arsip, foto, jadwal kegiatan, serta dokumen sekolah yang relevan dengan penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara interaktif dan berkesinambungan, yang meliputi tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan Pengumpulan data dilakukan secara sistematis selama proses penelitian berlangsung. Reduksi data dilakukan dengan memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif untuk GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. memudahkan pemahaman terhadap temuan penelitian, sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan pola, keterkaitan, dan makna data yang telah dianalisis. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan dua teknik triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari berbagai informan, sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan mencakup: . Implementasi Program Pendidikan Berbasis Kesadaran (Consciousness-Based Educatio. di SMA Negeri Bali Mandara, . Cara mengukur efektivitas Program Pendidikan Berbasis Kesadaran dalam membentuk karakter siswa di SMA Negeri Bali Mandara, dan . Faktor- faktor yang mendukung serta menghambat pelaksanaan Program Pendidikan Berbasis Kesadaran dalam membentuk karakter siswa di SMA Negeri Bali Mandara. Hasil dan Pembahasan Implementasi Program Consciousness Based Education dalam Pembentukan Karakter Siswa Hasil Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMA Negeri Bali Mandara, ditemukan bahwa Program Consciousness-Based Education (CBE) dilaksanakan secara rutin dan terstruktur dalam kehidupan sekolah dan asrama. Observasi menunjukkan bahwa kegiatan Transcendental Meditation (TM) dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, di mana siswa mengikuti kegiatan dengan tertib dan mematuhi instruksi pembina, meskipun pada sebagian siswa kelas X masih ditemukan keterlambatan dan kurangnya konsistensi fokus pada tahap awal Selain itu, kegiatan kesamaptaan dilaksanakan secara teratur dan diikuti siswa dengan disiplin, terlihat dari kepatuhan terhadap komando, kerapian, serta kesiapan fisik dalam mengikuti rangkaian kegiatan. Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah mengungkapkan bahwa Program CBE dirancang untuk membentuk kesadaran diri siswa melalui pembiasaan yang konsisten, sedangkan wawancara dengan guru dan pembina menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa, khususnya dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab dalam mengikuti kegiatan sekolah dan asrama. Sementara itu, hasil wawancara dengan siswa kelas X menunjukkan adanya proses adaptasi terhadap pelaksanaan program, di mana pada awalnya siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti aturan dan kegiatan, namun secara bertahap menjadi lebih terbiasa dan sadar akan tanggung jawab pribadi. Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa penerapan Program CBE tercermin dalam aktivitas keseharian siswa, seperti kebiasaan hadir tepat waktu, kepatuhan terhadap aturan asrama, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan wajib sekolah yang dilaksanakan secara berjenjang sesuai jenjang kelas Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Consciousness Based Education (CBE) di SMA Negeri Bali Mandara dilaksanakan secara terencana, sistematis, dan terintegrasi dalam keseluruhan kehidupan sekolah berasrama. Program ini tidak hanya diterapkan dalam kegiatan pembelajaran formal, tetapi juga diinternalisasikan melalui berbagai aktivitas pembiasaan harian di asrama, seperti praktik Transcendental Meditation (TM), pembinaan disiplin, pendampingan personal oleh pembina asrama, serta kegiatan refleksi diri yang dilakukan secara berkelanjutan. Pola implementasi tersebut menunjukkan bahwa CBE tidak diposisikan sebagai program tambahan, melainkan sebagai kerangka filosofis yang menjiwai seluruh proses pendidikan di Temuan ini sejalan dengan pandangan Tilaar . yang menegaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus bersifat holistik dan terintegrasi dalam sistem pendidikan, bukan sekadar disisipkan dalam mata pelajaran tertentu. Implementasi CBE di SMA Negeri Bali Mandara juga mencerminkan pendekatan pendidikan holistik yang menekankan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik (Haidar et al. , 2. Dengan demikian, proses pembentukan karakter tidak hanya terjadi melalui transfer nilai secara verbal, tetapi melalui pengalaman hidup sehari-hari yang membentuk kesadaran dan kebiasaan siswa secara Praktik Transcendental Meditation yang menjadi inti dari Program CBE berperan sebagai sarana pengembangan kesadaran diri dan pengendalian emosi siswa. Berdasarkan hasil Ni Nengah Juni Ardani / Penerapan Program Consciousness Based Education Untuk Membentuk Karakter Siswa Kelas X Di SMA Negeri Bali Mandara Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. observasi dan wawancara, siswa yang mengikuti praktik meditasi secara rutin menunjukkan sikap yang lebih tenang, mampu mengelola emosi dengan lebih baik, serta memiliki fokus yang lebih tinggi dalam kegiatan belajar. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian Phan et al. dan Delavari et al. yang menyimpulkan bahwa praktik meditasi dan mindfulness dalam konteks pendidikan berkontribusi positif terhadap regulasi emosi, perhatian, dan kesejahteraan psikologis peserta didik. Dalam konteks pendidikan karakter, kesadaran diri . merupakan fondasi utama terbentuknya perilaku moral yang bertanggung jawab. Lickona . menyatakan bahwa karakter yang baik tidak hanya ditandai oleh pengetahuan moral, tetapi juga oleh kemauan dan kebiasaan untuk bertindak sesuai nilai moral tersebut. Program CBE di SMA Negeri Bali Mandara memperkuat aspek ini dengan menyediakan ruang refleksi batin bagi siswa, sehingga mereka tidak hanya memahami aturan dan nilai secara kognitif, tetapi juga menyadari makna dan konsekuensi dari setiap perilaku yang dilakukan Dampak Program terhadap Disiplin. Tanggung Jawab, dan Pengendalian Diri Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Program CBE memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan disiplin dan tanggung jawab siswa, khususnya siswa kelas X yang berada pada masa transisi dari jenjang pendidikan sebelumnya. Disiplin siswa tercermin dalam kepatuhan terhadap jadwal kegiatan, ketaatan pada tata tertib sekolah dan asrama, serta kesadaran dalam menjalankan tugas akademik dan nonakademik tanpa pengawasan ketat. Hal ini mengindikasikan bahwa disiplin yang terbentuk bukan sematamata karena kontrol eksternal, melainkan telah berkembang menjadi kesadaran internal Temuan ini memperkuat teori behavioristik modern yang menekankan pentingnya lingkungan terstruktur dalam pembentukan perilaku (Bandura, 2. Sistem sekolah berasrama di SMA Negeri Bali Mandara menyediakan stimulus yang konsisten melalui rutinitas harian, aturan yang jelas, serta keteladanan pendidik dan pembina asrama. Namun, berbeda dengan pendekatan disiplin konvensional yang bersifat koersif. CBE menekankan disiplin berbasis kesadaran, di mana siswa memahami alasan dan tujuan dari setiap aturan yang diterapkan. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Triyono . yang menyatakan bahwa pendidikan karakter dalam sistem boarding school akan lebih efektif apabila dikombinasikan dengan pembinaan kesadaran dan refleksi diri. Selain disiplin. Program CBE juga berdampak pada peningkatan tanggung jawab siswa. Siswa menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap kewajiban pribadi, baik dalam menjaga kebersihan lingkungan, menyelesaikan tugas belajar, maupun dalam berinteraksi sosial dengan teman sebaya. Tanggung jawab ini tidak hanya dipahami sebagai kewajiban formal, tetapi sebagai bagian dari nilai moral yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini selaras dengan penelitian Salim et al. yang menunjukkan bahwa pembinaan karakter di sekolah berasrama berkontribusi signifikan terhadap pembentukan sikap tanggung jawab dan kemandirian siswa. Lebih lanjut, hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pengendalian diri siswa, khususnya dalam mengelola emosi dan konflik sosial. Siswa cenderung lebih mampu menahan diri dari perilaku impulsif dan menunjukkan sikap yang lebih reflektif dalam menghadapi permasalahan. Hal ini menguatkan hasil penelitian Roziqin et al. yang menemukan bahwa praktik mindfulness dan refleksi diri berperan penting dalam meningkatkan self-regulation dan kestabilan emosional peserta didik. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Program Keberhasilan penerapan Program CBE di SMA Negeri Bali Mandara tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung yang saling berkelindan. Faktor utama yang mendukung efektivitas program adalah sistem sekolah berasrama yang memungkinkan pembinaan karakter dilakukan secara intensif dan berkesinambungan. Lingkungan asrama menyediakan ruang interaksi sosial yang luas serta kesempatan bagi pendidik dan pembina untuk melakukan pendampingan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Simbolon . yang menyatakan bahwa lingkungan pendidikan yang kondusif merupakan prasyarat utama keberhasilan pendidikan karakter. Selain itu, komitmen pimpinan sekolah, guru, dan pembina asrama menjadi faktor krusial dalam menjaga konsistensi pelaksanaan Program CBE. Keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik memperkuat internalisasi nilai karakter pada diri siswa, sebagaimana ditegaskan oleh GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Bandura . bahwa proses pembelajaran sosial sangat dipengaruhi oleh model perilaku yang diamati peserta didik. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah faktor penghambat dalam pelaksanaan Program CBE. Hambatan utama berasal dari perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan kebiasaan siswa yang berasal dari berbagai daerah. Kondisi ini menyebabkan adanya perbedaan tingkat adaptasi siswa terhadap sistem disiplin dan praktik meditasi yang diterapkan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Alinafiah et al. yang menunjukkan bahwa heterogenitas latar belakang siswa dapat memengaruhi efektivitas pembinaan karakter di sekolah berasrama. Hambatan lainnya adalah resistensi awal sebagian siswa kelas X terhadap rutinitas Program CBE, terutama pada tahap awal pelaksanaan. Resistensi ini umumnya bersifat sementara dan berkurang seiring dengan meningkatnya pemahaman siswa mengenai manfaat program. Oleh karena itu, pendekatan persuasif dan pendampingan intensif menjadi strategi penting untuk mengatasi hambatan tersebut. Implikasi Teoritis dan Praktis Secara teoretis, temuan penelitian ini memperkuat pandangan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus berangkat dari pengembangan kesadaran diri peserta didik. Program CBE menunjukkan bahwa praktik refleksi batin dan meditasi dapat menjadi strategi pedagogis yang relevan dalam konteks pendidikan modern, khususnya dalam upaya membangun karakter yang Hal ini sejalan dengan kajian Barus et al. yang menegaskan bahwa pendekatan mindfulness memiliki potensi besar dalam manajemen pendidikan karakter. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi pengelola pendidikan, khususnya sekolah berasrama, untuk mengintegrasikan pendekatan pendidikan berbasis kesadaran dalam pembinaan karakter siswa. Penguatan pendampingan siswa kelas X, peningkatan literasi siswa mengenai tujuan program, serta keterlibatan orang tua menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan keberhasilan Program CBE di masa mendatang. Bentuk kebaruan solusi dalam menghadapi berbagai hambatan pelaksanaan Program Pendidikan Berbasis Kesadaran (Consciousness-Based Educatio. , peneliti merekomendasikan penerapan Penunjukan Siswa Teladan Berbasis Kesadaran (Peer Role Mode. sebagai strategi penguatan karakter disiplin dan tanggung jawab. Solusi ini dirancang dengan menjadikan peserta didik yang menunjukkan konsistensi dalam kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengendalian diri sebagai agen perubahan di lingkungan sebaya. Kebaruan pendekatan ini terletak pada pergeseran peran siswa dari sekadar objek pembinaan menjadi subjek aktif dalam proses pendidikan karakter berbasis Melalui mekanisme ini, internalisasi nilai disiplin dan tanggung jawab tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada otoritas guru atau pembina, tetapi diperkuat melalui interaksi horizontal antarsiswa yang lebih egaliter dan kontekstual. Pengaruh teman sebaya yang kuat pada fase remaja dimanfaatkan secara positif untuk membangun iklim kesadaran kolektif, di mana perilaku disiplin dan bertanggung jawab dipersepsikan sebagai kebutuhan bersama, bukan sekadar kewajiban institusional. Dengan demikian, solusi ini diyakini mampu meminimalisasi hambatan berupa resistensi peserta didik, ketergantungan pada kontrol eksternal, serta inkonsistensi perilaku ketika pengawasan berkurang, sekaligus memperkuat dampak positif Program Pendidikan Berbasis Kesadaran secara berkelanjutan di lingkungan sekolah dan asrama Simpulan dan saran Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Program Consciousness-Based Education (CBE) di SMA Negeri Bali Mandara telah dilaksanakan secara terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan berasrama. Program ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan pembinaan kesadaran diri, seperti Transcendental Meditation E. TM Sidhi. Yogic Flying, kesamaptaan, serta kegiatan pembiasaan lainnya yang mendukung pembentukan karakter siswa. Hasil implementasi Program CBE menunjukkan dampak positif terhadap pembentukan karakter siswa, khususnya dalam aspek disiplin, tanggung jawab, pengendalian diri, dan kesadaran sosial. Meskipun pada siswa kelas X masih ditemukan kendala dalam proses adaptasi dan konsistensi penerapan nilai karakter, program ini secara bertahap mampu membentuk karakter siswa secara holistik melalui pengalaman langsung dan pembiasaan berkelanjutan. Keberhasilan pelaksanaan Program CBE didukung oleh komitmen Ni Nengah Juni Ardani / Penerapan Program Consciousness Based Education Untuk Membentuk Karakter Siswa Kelas X Di SMA Negeri Bali Mandara Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. pimpinan sekolah, peran aktif guru dan pembina asrama, sistem boarding school yang kondusif, serta budaya sekolah yang berorientasi pada kesadaran diri. Adapun hambatan yang ditemukan meliputi perbedaan latar belakang karakter siswa, keterbatasan pemahaman awal terhadap program, serta keterbatasan waktu dan stamina siswa. Untuk mengatasi hambatan tersebut, diperlukan penguatan orientasi dan pendampingan siswa kelas X, peningkatan pemahaman konseptual mengenai Program CBE, serta penguatan kolaborasi antara sekolah, pembina asrama, dan orang tua agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih optimal. Saran