AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2024 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Analisis Manajemen Risiko Konstruksi Pada Proyek Konstruksi Bendungan Berdasarkan Konsep ISO 31000:2018 1,2,3 Agastya Fauzan Septianugraha 1. Fitri Nugraheni 2. Sri Amini Yuni Astuti3 Program Magister Teknik Sipil,Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,Universitas Islam Indonesia,Yogyakarta, 55584 fauzan@gmail. nugraheni@uii. amini_yuni@uii. Abstract Indonesia is the most populous country in the world and this is a challenge for the government in building adequate One of the government's programs in infrastructure development is the National Strategic Project (PSN) program spread throughout Indonesia, one of which is the dam project. This research was conducted at the Bener Dam Construction project in Purworejo Regency in Package 3 work. This research was conducted with the ISO 31000:2018 concept which identifies risks from the perspective of service users . and service providers . based on the possibility of risk and risk impact. The results of the risk identification will be validated by each party and will be assessed by respondents who are directly involved in the implementation of the work. The results of the risk assessment will be explained using a risk The risk response from each party will be carried out by interviewing based on each risk variable. 11 risk variables from the perspective of service users . and 21 risk variables from the perspective of service providers . The results of the risk assessment from the service user side obtained risks with a high risk category of 8 risks, a medium risk category of 3 risks. Meanwhile, the service provider gets 18 high risk risks, 2 medium risk risks, and 1 low risk category. The risk response based on the interview results obtained is 3 risks, namely risk reduction, 1 risk is risk avoidance, 4 risks are risk transfer, 2 risks are risk avoidance transfer, and 1 risk is risk reduction transfer. Then for the service provider, there are 6 risks, namely risk reduction, 7 risks are risk avoidance, 2 risks are risk transfer, 3 risks are risk retention, 2 risks are risk reduction transfer, 1 risk avoidance-transfer. Keywords: Dam Risk. Risk Management. ISO 31000:2018 Abstrak Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke empat di dunia dan hal ini menjadi tantangan pemerintah dalam membangun infrastruktur yang memadai. Salah satu program pemerintah dalam pembangunan infrastruktur adalah program Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tersebar di seluruh Indonesia yang salah satunya adalah proyek bendungan. Penelitian ini dilakukan di proyek Pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo pada pekerjaan Paket 3. Penelitian ini dilakukan dengan konsep ISO 31000:2018 yang mengidentifikasi risiko dari sudut pandang pengguna jasa . dan penyedia jasa . berdasarkan kemungkinan kejadian risiko dan dampak risiko. Hasil identifikasi risiko akan divalidasi oleh masing-masing pihak dan akan dilakukan penilaian oleh responden yang terlibat langsung dengan pelaksanaan pekerjaan. Hasil penilaian risiko akan dianalisis menggunakan matriks risiko. Respon risiko dari masing-masing pihak akan dilakukan dengan wawancara berdasarkan tiap variabel risiko. 11 variabel risiko dari sudut pandang pengguna jasa . dan 21 variabel risiko dari sudut pandang penyedia jasa . Hasil penilaian risiko dari pihak pengguna jasa didapatkan risiko dengan kategori high risk sebanyak 8 risiko, kategori medium risk sebanyak 3 risiko. Sedangkan pihak penyedia jasa didapatkan risiko dengan kategori high risk sebanyak 18 risiko, kategori medium risk sebanyak 2 risiko, kategori low risk sebanyak 1 Respon risiko berdasarkan hasil wawancara didapatkan sebanyak 3 risiko yaitu risk reduction, 1 risiko yaitu risk avoidance, 4 risiko yaitu risk transfer, 2 risiko yaitu risk avoidance-transfer, dan 1 risiko yaitu risk reduction-transfer. Kemudian untuk penyedia jasa adalah 6 risiko yaitu risk reduction, 7 risiko yaitu risk avoidance, 2 risiko yaitu risk transfer, 3 risiko yaitu risk retention, 2 risiko yaitu risk reduction-transfer, 1 risiko yaitu risk avoidance-transfer. Kata Kunci: Risiko Bendungan. Manajemen Risiko. ISO 31000:2018 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia dengan jumlah penduduk 267,7 juta dan laju pertumbuhan 1,1% (BPS, 2. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, maka pemerintah melakukan pembangunan di sektor infrastruktur guna meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah melalui program Proyek Strategis Nasional. Proyek Strategis Nasional (PSN) merupakan program yang dilaksanakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan badan usaha yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Setiap proyek konstruksi baik berskala besar maupun berskala kecil pasti akan melibatkan risiko dengan dampak yang bervariasi (Poon dkk, 2. Proyek SEPTIANUGRAHA/ANALISIS A. /1083 - 1090 konstruksi akan berhasil jika mencapai tiga tujuan mendasar yaitu . mengendalikan risiko proyek, . menyelesaikan proyek tepat waktu, dan . melakukan pelaksanaan sesuai dengan rencana kerja yang telah disepakati (Hamazaoui dkk, 2. Risiko merupakan suatu kemungkinan yang tidak terduga, bersifat merugikan, dan dapat mempengaruhi waktu, biaya, dan mutu selama pelaksanaan proyek (Sandyavitri, 2. Manajemen risiko merupakan sistem yang digunakan di perusahaan konstruksi maupun nonkonstruksi untuk mengendalikan setiap risiko yang berpotensi terjadi. Manajemen risiko merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi risiko proyek, menganalisis setiap risiko, dan menentukan tindakan yang tepat untuk mencegah ancaman pada proyek (Mhetre dkk, 2. Tujuan utama manajemen risiko dalam proyek adalah mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengevaluasi risiko untuk keberhasilan proyek (Lee dkk, 2. Secara AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2024 keseluruhan langkah-langkah dalam manajemen risiko yaitu . perencanaan risiko. identifikasi risiko. assessment risiko . ualitatif dan kuantitati. respon risiko. monitoring risiko. pelaporan manajemen risiko (ISO 31000, 2009. Baloi & Price, 2. Berkaitan dengan manajemen risiko pada proyek konstruksi, saat ini Pemerintah Indonesia memiliki program PSN 2020-2024 dengan proyek bendungan dan irigasi menjadi proyek terbanyak berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021. Salah satu proyek di bawah naungan Kementrian PUPR Ae BBWS SO (Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opa. adalah Proyek Bendungan Bener yang berlokasi di Kabupaten Purworejo. Jawa Tengah. Bendungan Bener merupakan salah satu bendungan bertipe Concrete Face Rockfill Dam (CFRD) yang akan direncanakan memiliki ketinggian 169 meter, panjang timbunan 534 meter, dan lebar bawah sekitar 470 meter. Secara keseluruhan volume timbunan untuk Bendungan Bener adalah 8,46 juta m3. Dalam rangka mengkaji manajemen risiko terkait potensi risiko yang yang berpotensi munvuk maka perlu dilakukan kajian analisis risiko pada proyek Pembangunan Bendungan Bener Paket 3 (MYC) dengan pedoman berdasarkan ISO 31000:2018. Penelitian ini akan berfokus identifikasi risiko baik secara teknis, operasional, dan sosial. ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. risiko yang umumnya muncul dalam proyek konstruksi, serta observasi lapangan untuk mengamati risiko yang terjadi secara langsung. Pengumpulan Data Identifikasi mengumpulkan risiko-risiko kemudian dilakukan validasi risiko oleh responden baik dari pengguna jasa dan penyedia Validasi risiko dan penilaian risiko dilakukan melalui kuesioner yang dibagikan kepada responden. Validasi risiko dari pengguna jasa dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan dari penyedia jasa dilakukan oleh Project Manager. Penilaian risiko dari pengguna jasa dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen. Direksi Teknis, dan Direksi Lapangan. Penilaian risiko dari penyedia jasa dilakukan oleh Project Manager. Site Engineering Manager. Site Operation Manager. Site Engineer. Method Engineer. Staf CARM, dan kepala pelaksana lapangan. Analisis Risiko Analisis risiko dilakukan setelah didapatkan nilai probabilitas dan dampak dari masing-masing variable Angka-angka tersebut dihitung menggunakan rumus Severity Index untuk mendapatkan presentase yang mewakili dari setiap variable risiko baik untuk nilai probabilitas dan nilai dampak. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Penelitian ini mengambil studi kasus pada Proyek Pembangunan Bendungan Bener Paket 3 (MYC) yang berlokasi di Kecamatan Bener. Kabupaten Purworejo. Jawa Tengah. Studi Literatur Pada tahap ini dilakukan studi literatur atas dasar landasan teori, metode analisis data, dan perbandingan hasil-hasil penelitian terdahulu yang memiliki kaitan dan mendukung penelitian ini. Tujuan dari studi literatur adalah memperoleh dasar-dasar ilmu dan tahapan-tahapan untuk merancang, mengambil, dan mengolah data penelitian. Data Penelitian Penelitian dilakukan menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil observasi lapangan untuk identifikasi risiko, wawancara dan penyebaran kuesioner untuk validasi variable risiko, penilaian tingkat risiko setiap variable risiko oleh responden dari pihak pengguna jasa dan peneyedia jasa, dan wawancara bersama responden untuk mengetahui tindakan perlakuan terhadap variable risiko. Data sekunder yang digunakan adalah data overview proyek, dokumen ISO 31000:2018, dan data lingkup tanggung jawab dari pengguna jasa dan penyedia jasa. Identifikasi dan Rumusan Masalah Proyek yang menjadi fokus adalah Pembangunan Bendungan Bener Kabupaten Purworejo Paket 3 (MYC). Kemudian identifikasi risiko awal dengan menggunakan studi literatur dilakukan untuk mengidentifikasi variabel SEPTIANUGRAHA/ANALISIS A. /1083 - 1090 = nilai konstanta penilaian = nilai frekuensi responden = 0,1,2,3,4AAn = frekuensi responden mengatakan Ausangat kecilAy atau a1 = 1 = frekuensi responden mengatakan AukecilAy atau a2 = frekuensi responden mengatakan AusedangAy atau a3 = 3 = frekuensi responden mengatakan AubesarAy atau a4 = frekuensi responden mengatakan Ausangat besarAy atau a5 = 5 Setelah didapatkan nilai presentase severity index (SI) kemudian dilakukan konversi nilai ke skala likert. Berikut Tabel 1 untuk konversi nilai SI ke skala likert. Tabel 1. Konversi Nilai Severity Indeks ke Skala Likert Uraian Sangat Besar Besar Sedang Kecil Sangat Kecil Kode Skala SI (%) >80 Ae 100 >60 Ae 80 >40 Ae 60 >20 Ae 40 O 20 Sumber: Zulfa . AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2024 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Setelah konversi nilai SI ke skala likert akan didapatkan nilai skala. Nilai konversi ini menjadi nilai yang digunakan untuk menghitung nilai tingkat risiko (R) dengan mengkalikan nilai probabilitas (P) dan nilai dampak (I). Nilai tingkat risiko menjadi nilai yang akan digunakan untuk mengetahui posisi risiko pada matriks risiko berdasarkan besarnya nilai tingkat risiko yang didapatkan (R). =Tingkat Risiko =Tingkat Kemungkinan (Probability/Likelihoo. Tabel 3. Skala Tingkat Penilaian Dampak Tingkat Probabilitas Sangat Besar Skala Keterangan Dampak dengan pengaruh sangat besar dan jangka Panjang serta memerlukan tanggap darurat seta biaya tambahan yang sangat besar Dampak besar terhadap proyek konstruksi dan memerlukan perhatian segera serta biaya tambahan yang besar Dampak yang masih rasional dengan memerlukan upaya dan perhatian yang cukup serta biaya yang cukup signifikan Dampak yang terbatas dan dapat diatasi dengan upaya serta biaya yang terbatas Dampak yang tidak signifikan terhadap proyek dan dapat diatasi dengan biaya yang sedikit atau tanpa biaya Besar Sedang Kecil Sangat Kecil Risiko yang Terjadi =Tingkat Dampak (Impac. Risiko yang Terjadi Hasil penilaian risiko kemudian diplotting ke dalam matriks probabilitas dan dampak untuk dilakukan metode evaluasi dari setiap variabel risiko (Robin, 2. Berikut skala tingkat penilaian probabilitas pada Tabel 2 dan skala tingkat penilaian dampak pada Tabel 3. Respon Risiko Menurut ISO 31000:2018, penanganan risiko adalah proses untuk memodifikasi risiko. Tujuan dari penanganan risiko adalah untuk mengurangi kemungkinan dan meningkatkan dampak risiko, yang dapat menghasilkan hasil positif bagi aktivitas proyek. Respon risiko dari setiap variabel risiko dapat ditentukan berdasarkan hasil nilai probabilitas dan dampak yang dimasukkan ke dalam matriks threshold of risk levels. Penilaian respon risiko dilakukan melalui wawacara dengan responden yang memberikan penilaian pada respon risiko sehingga dapat mengetahui bentuk penanganan secara rinci dari respon risiko setiap variable risiko. Hasil wawancara akan dibandingkan dengan matriks threshold of risk levels. Berikut respon risiko berdasarkan ISO 31000:2018. Menghindari Risiko (Risk Avoidanc. Mengurangi Risiko (Risk Reductio. Pengalihan Risiko (Risk Transfe. Meretensi Risiko (Risk Retentio. Gambar 1. Matriks Risiko Sumber: Suseno. Wibowo. Setiadji . Tabel 2. Skala Tingkat Penilaian Probabilitas Tingkat Probabilitas Sangat Besar Besar Skala Keterangan Kejadian hampir pasti terjadi atau hampir pasti terjadi di setiap proyek Kemungkinan kejadian cukup besar atau frekuensi yang cukup sering Kemungkinan terjadi secara berkala atau pernah kejadian serupa Kejadian jarang terjadi atau terjadi dalam jangka waktu tertentu Kejadian yang sangat jarang terjadi atau mungkin terjadi sekali Sedang Kecil Sangat Kecil Gambar 2. Matriks Threshold of Risk Levels Sumber: Cahyono . HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Risiko Identifikasi risiko merupakan tahapan awal untuk melakukan penilaian risiko dengan cara melalui studi Tujuan tahapan ini adalah untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang umumnya terjadi pada Proyek Pembangunan Bendungan Bener Paket 3 (MYC). Risiko SEPTIANUGRAHA/ANALISIS A. /1083 - 1090 AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2024 diidentifikasi dengan memberikan kuesioner survei pendahuluan kepada responden pihak pengguna jasa . dan penyedia jasa . Tujuan dari langkah ini adalah untuk memvalidasi, menambahkan, dan/atau menghilangkan variabel risiko ynag telah ditemukan melalui sudi literatur dan observasi. Berikut hasil identifikasi risiko yang sudah divalidasi berdasarkan pihak pengguna jasa . pada Tabel 4 dan penyedia jasa . pada Tabel 5. Tabel 4. Hasil Identifikasi Risiko dari Pengguna Jasa A10 A11 Peristiwa Risiko Perubahan desain bendungan dan rekayasa penyesuaian kondisi Permasalahan kondisi geologi di lokasi pekerjaan bendungan yang tidak sesuai data perencanaan . oor bedroc. Material timbunan tidak sesuai spesifikasi teknis Kerusakan instrumentasi di tubuh bendungan Cofferdam overtopped akibat debit banjir yang tinggi Rusaknya bangunan fasilitas di hilir bendungan Erosi internal di struktur timbunan bendungan hingga pondasi Dam break pada struktur timbunan bendungan akibat gempa Keretakan pada permukaan beton bendungan . oncrete fac. akibat deformasi timbunan Permasalahan sosial pada area kerja yang berdekatan dengan Penambahan biaya untuk kondisi geologi yang diluar estimasi Tabel 5. Hasil Identifikasi Risiko dari Penyedia Jasa Peristiwa Risiko Perubahan desain bendungan dan rekayasa penyesuaian kondisi eksisting Permasalahan kondisi geologi di lokasi pekerjaan bendungan yang tidak sesuai data perencanaan . oor bedroc. Material timbunan tidak sesuai spesifikasi teknis Keretakan pada permukaan beton . oncrete fac. akibat deformasi timbunan Munculnya air tambang dari hasil galian quarry Flying rock dan getaran pelaksanaan blasting yang berlebih Overbreak area saat pelaksanaan blasting Lanjutan Tabel 5. Hasil Identifikasi Risiko dari Penyedia Jasa B10 B11 B12 B13 B14 B15 B16 B17 B18 B19 B20 B21 Peristiwa Risiko Kebisingan dan getaran alat drilling yang mengganggu aktifitas warga sekitar Kurangnya material batu andesit di quarry untuk timbunan struktur bendungan Charging blasting tidak dilakukan oleh master blaster Jalan akses licin dan/atau rusak sehingga tidak dapat dilalui Perubahan desain bendungan dan rekayasa penyesuaian kondisi Permasalahan kondisi geologi di lokasi pekerjaan bendungan yang tidak sesuai data perencanaan . oor bedroc. Material timbunan tidak sesuai spesifikasi teknis Kerusakan instrumentasi di tubuh bendungan Cofferdam overtopped akibat debit banjir yang tinggi Rusaknya bangunan fasilitas di hilir bendungan Erosi internal di struktur timbunan bendungan hingga pondasi Dam break pada struktur timbunan bendungan akibat gempa Keretakan pada permukaan beton bendungan . oncrete fac. akibat deformasi timbunan Permasalahan sosial pada area kerja yang berdekatan dengan ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. kuesioner yang berisi assessment variabel risiko dan dihitung menggunakan skala likert untuk mencari angka Severity Index (SI). Penilaian risiko dilakukan oleh 3 orang dari pihak pengguna jasa . dan 7 orang dari pihak penyedia jasa . Berikut hasil analisis risiko dari pengguna jasa pada Tabel 6 dan penyedia jasa pada Tabel7. Tabel 6. Hasil Analisis Risiko dari Pengguna Jasa A10 A11 Skala Probabilitas Skala Dampak Tingkat Risiko Tabel 7. Hasil Analisis Risiko dari Penyedia Jasa B10 B11 B12 B13 B14 B15 Skala Probabilitas Skala Dampak Tingkat Risiko Lanjutan Tabel 7. Hasil Analisis Risiko dari Penyedia Jasa B16 B17 B18 B19 B20 B21 Skala Probabilitas Skala Dampak Tingkat Risiko Evaluasi Risiko Evaluasi risiko merupakan bagian terakhir dari penilaian risiko . isk assessmen. sebelum dilakukan penanganan atau pengendalian risiko. Evaluasi risiko merupakan tahapan untuk membandingkan hasil analisis risiko dengan kriteria risiko yang didapatkan sehingga evaluasi risiko membantu dalam proses pengambilan keputusan untuk penanganan setiap risiko. Analisis Risiko Analisis risiko yang dilakukan adalah menilai probabilitas/dampak dan dampak untuk setiap variabel Penilaian ini diperoleh melalui penyebaran form SEPTIANUGRAHA/ANALISIS A. /1083 - 1090 AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2024 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. pengguna jasa . harus memperhatikan dari segi desain struktur bendungan dan teknis metode pelaksanaan di lapangan. Tinjauan evaluasi risiko dari pihak pengguna jasa . bahwa terdapat risiko tinggi . igh ris. sebesar 73% dan risiko menengah . edium ris. sebesar 28%. A1. A10, A11 A2. A3. A4, A5. B14 A7. Probabilitas Probabilitas B5. B11. B12. B13. B16. B19 B1. B15, B20 B3. B4. B8, B9. B18, B21 B17 Dampak Gambar 3. Matriks Risiko dari Pengguna Jasa (Owne. Berdasarkan Gambar 3 dapat ditarik pembahasan bahwa terdapat 8 variabel risiko masuk kategori high risk dan 3 variabel risiko masuk kategori medium risk. Kemudian untuk variabel risiko dengan nilai tingkat risiko tertinggi atau pada peringkat pertama adalah variabel risiko A1 yaitu AuPerubahan desain bendungan dan rekayasa penyesuaian kondisi eksistingAy. A10 yaitu AuPermasalahan sosial pada area kerja yang berdekatan dengan MasyarakatAy, dan A11 yaitu AuPenambahan biaya untuk kondisi geologi yang diluar estimasi rencanaAy dengan nilai tingkat risiko ketiga variabel risiko tersebut sebesar 16. Variabel risiko tersebut merupakan risiko dengan kategori risiko tinggi . igh ris. sehingga sangat berpotensi mempengaruhi progres pelaksanaan fisik pekerjaan. Risiko yang dihadapi pengguna jasa . dalam hal ini harus dapat ditindak lanjuti dengan segera dan tindakan yang tepat baik secara regulasi atau teknis di lapangan agar pelaksanaan pekerjaan tidak terlambat yang diakibatkan variabel risiko A1 dan A10 serta tidak menambah anggaran pelaksanaan pekerjaan yang diluar rencana pada variabel risiko A11. Tentunya dalam pengambilan keputusan harus didasari dengan data lapangan dan aturan hukum yang terkait agar penanganan risiko tersebut dapat sesuai target dan tidak menambah risiko tambahan. Kemudian di peringkat kedua terdapat 5 variabel risiko dengan nilai tingkat risiko 12 yang masih masuk dalam kategori risiko tinggi . igh ris. yaitu variabel risiko A2. A3. A4. A5, dan A9. Kelima risiko tersebut harus menjadi perhatian dari pengguna jasa . dikarenakan terdapat dampak yang tinggi walaupun probabilitasnya masih masuk kategori sedang. Variabel risiko A5 yaitu AuCofferdam overtopped akibat debit banjir yang tinggiAy harus diperhatikan khusus mengingat kondisi cofferdam merupakan bangunan penting untuk mengelakkan Sungai eksisting selama pelaksanaan timbunan tubuh bendungan Dari sudut pandang pengguna jasa harus memperhatikan pentingnya bangunan ini secara perhitungan teknis hidrologi dari desain cofferdam harus dapat mengelakkan aliran sungai dengan kondisi debit banjir tahunan yang tepat. Selanjutnya terdapat 3 variabel risiko dengan kategori risiko sedang . edium ris. adalah variabel risiko A6 yaitu AuRusaknya bangunan fasilitas di hilir bendunganAy di peringkat 3. A7 yaitu AuErosi internal di struktur timbunan bendungan hingga pondasi bendunganAy di peringkat 4, dan A8 yaitu AuDam break pada struktur timbunan bendungan akibat gempaAy. Variabel risiko A7 dan A8 walaupun tingkat kemungkinan terjadinya rendah tetapi memiliki dampak risiko yang tinggi sehingga pihak SEPTIANUGRAHA/ANALISIS A. /1083 - 1090 B10 Dampak Gambar 4. Matriks Risiko dari Penyedia Jasa (Kontrakto. Berdasarkan Gambar 4 dapat ditarik pembahasan bahwa terdapat 18 variabel risiko masuk kategori high risk, 2 variabel risiko masuk kategori medium risk, dan 1 variabel risiko masuk dalam kategori risiko rendah . ow Variabel risiko dengan nilai tingkat risiko tertinggi atau pada peringkat pertama adalah variabel risiko B14 yaitu AuTraffic alat kerja yang padat di area timbunan bendunganAy. Variabel risiko tersebut merupakan risiko dengan tingkat probabilitas yang sangat tinggi dengan dampak yang sangat tinggi. Risiko tersebut perlu dilakukan perencanaan metode kerja yang tepat dari pihak kontraktor dan pengaturan sumber daya yang tepat agar risiko tersebut dapat direduksi sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak menimbulkan kecelakaan kerja, progress pekerjaan tepat waktu, dan tidak terjadi overhead biaya akibat pengelolaan jumlah alat berat untuk pekerjaan timbunan yang tidak Kemudian di peringkat dua terdapat variabel risiko B1. B2. B15, dan B20. Variabel risiko B1 dan B2 merupakan risiko dari aspek teknis sehingga kontraktor perlu melakukan perencanaan lebih lanjut agar tidak terjadi kesalahan desain atau kondisi batuan yang tidak sesuai spek saat proses pelaksanaan pekerjaan struktur timbunan Kemudian variabel risiko B15 dan B20 merupaka risiko yang harus direduksi dengan penerapan metode pelaksanaan pekerjaan yang tepat agar risiko tersebut dapat dihindari. Kemudian terdapat variabel risiko yang perlu menjadi perhatian khusus yaitu variabel risiko B17 yaitu AuPelaksanaan pengecoran face slab yang tidak menerus hingga crest damAy dengan nilai probabilitas sedang tetapi dampak dari risiko tersebut sangat tinggi. Hal ini perlu diperhatikan dikarenakan berdasarkan International Commission of Large Dams (ICOLD) pelaksanaan pekerjaan concrete face slab merupakan titik kritis yang harus dilaksanakan menerus dari elevasi bawah hingga puncak bendungan. AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2024 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Respon Risiko Gambar 5. Matriks Respon Risiko dari Pengguna Jasa Berdasarkan Gambar menggunakan matriks threshold of risk levels didapatkan 3 variabel risiko dengan perlakuan risiko risk avoidance dan 8 variabel risiko dengan perlakuan risiko risk transfer. Berikut rekap kesamaan respon risiko pengguna jasa pada Tabel 8. transfer sedangkan berdasarkan hasil wawancara didapatkan hasil respon risiko risk avoidance dan risk Peran pengguna jasa dengan respon risiko risk avoidance adalah pengguna jasa melakukan kajian dengan tim internal yaitu Komisi Keamanan Bendungan untuk melakukan koordinasi terkait metode kerja pelaksanaan yang dilakukan oleh 2 penyedia jasa yang berbeda. Risiko permasalahan sosial pada area kerja yang berdekatan dengan Masyarakat (A. merupakan risiko sosial yang harus dihindari . isk avoidanc. dengan cara pendampingan secara berkala dengan warga setempat. Hal lain yang dilakukan adalah dengan melakukan sosialaisasi terkait manfaat kedepannya yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat dengan adanya proyek pembangunan bendungan. Tabel 8. Kesamaan Respon Risiko dari Pengguna Jasa Respon Risiko Hasil Respon Risiko Matriks Threshold of Wawancara Risk Levels Total Risiko Total Respon Presentase Risiko yang Kesamaan Sama Risk Avoidance A1. A10. A11 A5. A8. A10 Risk Transfer A2. A3. A4, A5. A6. A7, A8. A9. A20 A3. A4. A6, A7. A1. A2. A11 Risk Reduction Risk Retention Jumlah Hasil respon risiko berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa terdapat kesamaan respon risiko sebesar 55%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 45% variabel risiko yang tidak sama dan juga menandakan bahwa respon risiko dari hasil wawancara dengan responden yang sesuai dengan teori dari sisi pengguna jasa . proyek Pembangunan Bendungan Bener Paket 3 (MYC) sebesar 55%. Risiko cofferdam overtopped akibat debit banjir yang tinggi (A. dilakukan pengendalian khusus dengan melakukan percepatan pelaksanaan konstruksi cofferdam sebelum terjadinya hujan intensitas tinggi. Berdasarkan hasil teori didapatkan respon risiko risk transfer sedangkan berdasarkan hasil wawancara didapatkan respon risiko risk avoidance dan risk Hal ini perlu dipertimbangkan dikarenakan untuk meminimalisir adanya potensi debit banjir yang lebih tinggi dari rencana desain sehingga pihak pengguna jasa melakukan review design untuk memastikan bahwa desain cofferdam dapat menampung debit banjit minimal Q25. Risiko dam break pada struktur timbunan bendungan akibat gempa (A. menjadi risiko yang perlu menjadi catatan khusus mengingat pelaksanaan pekerjaan timbunan dilakukan oleh 2 penyedia jasa . berbeda untuk timbunan sisi kiri dan timbunan sisi Secara teori didapatkan hasil respon risiko risk SEPTIANUGRAHA/ANALISIS A. /1083 - 1090 Gambar 6. Matriks Respon Risiko dari Pemyedia Jasa Berdasarkan hasil analisa menggunakan matriks threshold of risk levels didapatkan 12 variabel risiko dengan perlakuan risk avoidance, 8 variabel risiko dengan perlakuan risk transfer, 1 variabel risiko dengan perlakuan risk reduction. Berikut rekap kesamaan respon risiko pengguna jasa pada Tabel 9. Tabel 9. Kesamaan Respon Risiko dari Penyedia Jasa Respon Risiko Risk Avoidance Risk Transfer Risk Reduction Risk Retention Hasil Respon Risiko Matriks Threshold of Wawancara Risk Levels B1. B2. B5. B4. B9. B11. B12. B13. B11. B14. B14. B15. B16. B15. B16. B17. B19. B20 B17. B20 B3. B4. B6, B7. B8. B9, B6. B18. B21 B1. B2. B3, B5. B12, B10 B18. B19, B21 B8. B10, B13 Jumlah Total Risiko Total Respon Presentase Risiko yang Kesamaan Sama Hasil respon risiko berdasarkan Tabel 9 menunjukkan bahwa terdapat kesamaan respon risiko sebesar 39%. Kondisi ini tentunya menyesuaikan dengan kondisi setiap proyek konstruksi yang dikerjakan oleh penyedia jasa dan keptusuan manajemen terkait penanganan Respon risiko yang berbeda berdasarkan hasil teori dengan hasil wawancara merupakan salah satu langkah sebagai penyedia jasa untuk meminimalisir terjadinya dampak yang lebih buruk ataupun timbulnya risiko yang AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2024 baru serta menjalin koordinasi yang baik dengan pengguna jasa agar tidak terjadi kesalahan teknis maupun non-teknis. Risiko traffic alat kerja yang padat di area timbunan bendungan (B. adalah risiko yang muncul karena percepatan pelaksanaan pekerjaan sehingga produksi pekerjaan khususnya pekerjaan timbunan secara perhitungan harus dilakukan dengan banyaknya alat berat yang beroperasi. Berdasarkan hasil teori dan wawancara didapatkan hasil respon risiko yaitu risk Pelaksanaan percepatan pekerjaan merupakan risiko yang muncul akibat lahan yang belum bebas saat mulai pelaksanaan pekerjaan. Pelaksanaan percepatan pekerjaan mennyebabkan muncul risiko traffic alat kerja dimana penyedia jasa menargetkan progres pekerjaan dengan perhitungan produktifitas alat berat sesuai dengan durasi kontrak Sebagai upaya untuk menghindari adanya traffic alat kerja yang padat, maka perlu dilakukan pengkajian sequence pelaksanaan pekerjaan yang efektif untuk memastikan alat yang bekerja optimal dan tidak menyebabkan pergerakan alat berat yang terbatas. Risiko pelaksanaan pengecoran face slab yang tidak menerus hingga puncak bendungan (B. Hasil respon risiko berdasasrkan matriks risiko adalah risk Tindakan ini dilakukan oleh penyedia jasa yaitu untuk menghindari bahwa pelaksanaan penegecoran face slab berhenti di tengah segmen atau dengan kata lain tidak menerus. Pelaksanaan face slab harus dilakukan menerus untuk mengurangi adanya construction joint yang menyebabkan titik lemah permukaan beton, sehingga pihak kontraktor harus memastikan alat slipform mampu melaksanakan pengecoran face slab secara menerus. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah kesiapan supply beton yang mampu produksi secara menerus untuk kebutuhan pengecoran face slab. Risiko erosi pada area tepi timbunan bendungan (B. adalah risiko yang disebabkan area sisi timbunan tidak padat dan berpotensi ter-erosi. Berdasarkan hasil teori didapatkan perlakuan risk transfer. Tindakan yang dilakukan penyedia jasa adalah melakukan risk reduction yaitu dengan dilakukannya metode khusus desain lapisan dibawah face slab menggunakan cement stabilized (CS2B). CS2B merupakan lapisan campuran semen dengan material 2B yang berfungsi mirip sebagai lean concrete sebagai material penghubung antara face slab dengan material 2B dibawahnya. Sisi tepi timbunan perlu dilakukan pemadatan dengan metode khusus yaitu dengan melakukan desain khusus pada bagian CS2B sehingga dapat dilakukan pemadatan bagian tepi timbunan dan dilakukan pengetesan kepadatan untuk memastikan timbunan area tepi padat. KESIMPULAN Hasil identifikasi risiko yang sudah divalidasi adalah 11 variabel risiko dari sudut pandang pengguna jasa . dan 21 variabel risiko dari sudut pandang penyedia jasa . Pihak pengguna jasa SEPTIANUGRAHA/ANALISIS A. /1083 - 1090 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. memiliki variabel risiko yang lebih banyak dibanding dengan pengguna jasa dikarenakan banyak risiko dari aspek operasional dan aspek teknis pelaksanaan Selain itu terdapat risiko dengan aspek sosial Masyarakat baik dari pihak pengguna jasa dan penyedia jasa. Berdasarkan hasil penilaian risiko dari pihak pengguna jasa didapatkan risiko dengan kategori high risk sebanyak 8 risiko, kategori medium risk sebanyak 3 Sedangkan pihak penyedia jasa didapatkan risiko dengan kategori high risk sebanyak 18 risiko, kategori medium risk sebanyak 2 risiko, kategori low risk sebanyak 1 risiko. Respon risiko berdasarkan hasil wawancara didapatkan sebanyak 3 risiko yaitu risk reduction, 1 risiko yaitu risk avoidance, 4 risiko yaitu risk transfer, 2 risiko yaitu risk avoidance-transfer, dan 1 risiko yaitu risk reduction-transfer. Kemudian untuk penyedia jasa adalah 6 risiko yaitu risk reduction, 7 risiko yaitu risk avoidance, 2 risiko yaitu risk transfer, 3 risiko yaitu risk retention, 2 risiko yaitu risk reduction-transfer, 1 risiko avoidance-transfer. Pelaksanaan untuk tahapan pemantauan dan peninjauan risiko tahapan pencatatan dan pelaporan risiko, dan tahapan komunkasi dan konsultasi risiko dilakukan oleh pihak owner dan kontraktor pada pekerjaan Pembangunan Bendungan Bener Kabupaten Purworejo Paket 3 (MYC) khususnya pada variabel risiko yang saling terkait. Respon risiko yang dianalisis berdasarkan hasil teori threshold of risk levels dan hasil wawancara terdapat Presentase kesamaan respon risiko pengguna jasa sebesar 55% dan presentase kesamaan respon risiko penyedia jasa sebesar 39%. Hasil respon risiko dari pengguna jasa secara teori lebih banyak melakukan risk transfer, tetapi hasil secara wawancara pengguna jasa tidak sepenuhnya melakukan risk transfer kepada penyedia jasa sebagai salah satu langkah pengguna jasa untuk meminimalisir timbulnya risiko baru. Hasil respon risiko dari penyedia jasa secara teori lebih banyak melakukan risk avoidance, tetapi hasil wawancara penyedia jasa tidak sepenuhnya melakukan risk avoidance sebagai langkah penyedia jasa untuk menangani risiko yang efektif dan efisien baik secara biaya dan waktunya serta tidak menimbulkan risiko baru DAFTAR PUSTAKA