Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Diterima Pada 11 Agustus 2021 Disetujui Pada 13 September 2022 Vol. No. PEMBELAJARAN GAMELAN SELONDING STYLE BEBANDEM DI SANGGAR SARATI SVARA BANJAR PANDE TUNGGAK DESA BEBANDEM Agus Surananggana1. I Gede Mawan2. I Wayan Diana Putra3 Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Denpasar surananggana02@gmail. 1,2,3 Halaman E-ISSN Abstrak Sanggar Sarati Svara merupakan salah satu sanggar seni yang aktif di bidang seni Karawitan Bali khususnya pada gamelan golongan tua seperti gamelan Selonding yang ada di desa Bebandem. Gamelan Selonding merupakan seni musik tradisional yang diperkirakan hidup sejak zaman Bali kuno dan merupakan peninggalan dari kegiatan berkesenian nenek moyang di masa silam dan merupakan salah satu contoh peninggalan dari leluhur. Sanggar Sarati Svara berupaya melestarikan seni budaya Bali dan memperkenalkan kesenian tersebut melalui pembelajaran praktek Gamelan Selonding kepada peserta didik yang dalam hal ini ditunjukkan kepada generasi muda yang masih awam dengan kesenian yang ada di Bali serta menjadikan cambuk semangat dalam mengembangkan potensi intelegensi peserta didik terhadap seni budaya Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tiga aspek, yaitu proses pembelajaran, metode pembelajaran dan faktor pendukung dan penghambat pembelajaran. Pada pengumpulan data mengunakan metode atau teknik penelitian yang meliputi observasi, wawancara, dekumentasi dan studi kepustakaan. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dengan demikian hasil analisis data akan disajikan dengan cara naratif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa proses pembelajaran Gamelan Selonding syle Bebandem di Sanggar Sarati Svara menggunakan empat tahapan meliputi tahap persiapan . , tahap penyampaian . , tahap latihan . dan tahap penampilan . Dalam pendukung dan penghambat dalam pembelajaran Gamelan Selonding syle Bebandem dipengaruhi oleh dua faktor meliputi faktor internal dan faktor Faktor internal: tingkat intelegensi peserta didik, emosi, bakat, motivasi. Faktor eksternal: pendidik, lingkungan. Kata Kunci: Pembelajaran. Gamelan Selonding. Sanggar PENDAHULUAN Kehidupan berkesenian di Bali tidak dapat dipisahkan keberadaanya dengan adat, agama dan budaya. Masing-masing dari aspek tersebut saling mengisi, membutuhkan dan terkait satu sama Salah satu seni di Bali yang kini masih lestari dan berkembang yaitu Gamelan. Gamelan Bali dapat digolongkan Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra menjadi 3 yaitu gamelan golongan wayah, gamelan golongan madya, dan gamelan golongan anyar. Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan ada sebelum abad XV, umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang. Meskipun ada kendang, dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol. Beberapa gamelan golongan wayah yaitu: Angklung. Baleganjur. Bebonangan. Caruk. Gambang. Gender Wayang. Genggong. Gong Beri. Gong Luang dan Selonding (Dibia,1999. Salah satu dari beragam jenis barungan yang disebutkan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji Gamelan Selonding sebagai salah satu warisan bangsa Indonesia sepatutnya dilestarikan dan dijaga dalam era globalisasi saat ini. Gamelan Selonding merupakan gamelan yang terbuat dari besi yang berlaras pelog tujuh nada, tergolong ke dalam barungan alit yang langka dan sangat disakralkan oleh masyarakat desa Tenganan Pegringsingan dan Bongaya (Kabupaten Karangase. Gamelan ini dimainkan untuk mengiringi berbagai upacara adat di Bali Aga yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dan untuk mengiringi tari Abuang. Perang Pandan . dan lain-lain (Dibia, 1999:. Ketertarikan peneliti dalam mengkaji proses pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem ini karena dalam perkembangan kesenian khususnya gamelan kuno yang ada di Kabupaten Karangasem. Gamelan Selonding style Tenganan yang lebih mendominan karena popularitas dan perhatian akan budaya leluhur lebih kental di kawasan Desa Tenganan hingga kini keberadaanya dapat dijumpai di luar daerah Kabupaten Karangasem, dengan perhatian yang masih kurang dan informasi mengenai Gamelan Selonding dalam perkembangan kesenian yang ada di Desa Bebandem khususnya Gamelan Selonding style Bebandem peneliti berharap dengan dikajinya proses pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara dapat memberikan informasi bagaimana proses pembelajaran dan sedikit ulasan mengenai Gamelan Selonding style Bebandem itu sendiri. Sanggar Sarati Svara yang berlokasi di Br. Pande Tunggak Desa Bebandem Kabupaten Karangasem. Sanggar Sarati Svara merekrut seniman-seniman muda yang ada di daerah Desa Bebandem yang masih aktif dan mau belajar berkesenian untuk melestarikan gending-gending dari gamelan tersebut hingga sampai ke generasi-generasi Gamelan Selonding ini sangat disakralkan dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memainkan gamelan tersebut, oleh karena itu dibuatkan duplikat Gamelan Selonding tersebut sehingga dalam proses pembelajaran Gamelan Selonding menjadi lebih mudah. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara Desa Bebandem. Kabupaten Karangasem. Gamelan Selonding style Bebandem ini sangat jarang dijumpai di luar daerah Karangasem, lain halnya dengan barungan Gamelan Selonding style Tenganan yang keberadaannya dapat dijumpai hampir di seluruh Bali, oleh karena itu penting diadakan pembelajaran Gamelan Selonding Style Bebandem yang nantinya dapat diterapkan dalam kaitannya dengan upacara piodalan, dan sebagai sumber pembelajaran untuk menstimulus minat remaja di zaman sekarang mencintai dan melestarikan kebudayaan Gamelan Selonding style Bebandem ini. METODE Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Pemilihan dan penggunaan metode yang sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti akan memudahkan untuk mendapatkan data yang valid dan objektif, sehingga dapat menghasilkan sebuah karya ilmiah yang baik dan dapat Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakkan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dan merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mencari jawaban dari permasalahan yang akan dibahas, serta merupakan suatu cara atau jalan yang harus dilakukan dalam melakukan kegiatan penelitian ilmiah secara sistematis agar tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik. Berikut metode yag digunakan dalam penelitian ini diantaranya: Rancangan Penelitian. Penelitian ini merupakan proses yang dilakukan secara bertahap, yakni dari perencanaan dan perancangan penelitian, menentukan fokus penelitian, waktu penelitian, pengumpulan data, analisis, dan penyajiann hasil penelitian, . Lokasi Penelitian, penelitian berlokasi di Sanggar sarati Svara Banjar Pande Tunggak Desa Bebandem Karangasem, . Jenis Sumber Data. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif dan data kuantitatif yang terkait dengan proses pembelajaran Gamelan Selonding Style Bebandem di Sanggar Sarati Svara. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan beberapa pelaku seni, seniman, komposer dokumentasi berupa foto-foto yang diambil langsung saat pembelajaran berlangsung, . Instrumen Penelitian. Instrumen utama dalam penelitian proses pembelajaran Gamelan Selonding Style Bebandem di Sanggar Sarati Svara adalah peneliti sendiri, karena secara langsung mengamati dan mencari data tersebut. Alat bantu penelitian dalam mengumpulkan data digunakan kamera, buku tulis, pulpen, handphone. Teknik Pengumpulan Data, pada teknik pengumpulan data terdapat bagaian-bagian diantaranya teknik observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka. Teknik Analisis Data, pada kegiatan analisis data, hal yang sangat perlu diperhatikan adalah pemeriksaan data secara terus menerus untuk meyakinkan bahwa analisis data ini tetap berdasarkan pada data yang objektif . pa adanya di lapanga. Analisis deskriptif kualitatif, untuk menggambarkan data digunakan kalimat guna memperoleh keterangan yang jelas dan terperinci. Penyajian Hasil Penelitian. Penyajian hasil analisis data disajikan melaui narasi katakata yang dirangkai sesuai kaidah penulisan ilmiah berupa skripsi. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara Pembelajaran Gamelan Selonding di Sanggar Sarati Svara merupakan beberapa pembelajaran yang ada pada sanggar Selain pembelajaran Gamelan Selonding, terdapat juga pembelajaran Gamelan Selonding style Tenganan. Gamelan Semarpegulingan. Gender Wayang. Rindik. Gong Gede. Angklung dan lainlainnya. Sebelum membahas proses pembelajaran Gamelan Selonding Style Bebandem di Sanggar Sarati Svara, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai . sejarah singkat Sanggar Sarati Svara dan . sejarah Gamelan Selonding style Bebandem. Sejarah Singkat Sanggar Sarati Svara Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Menurut pemaparan I Wayan Pande Widiana. Sanggar seni Sarati Svara sudah mulai aktif melakukan kegiatan seni sejak tahun 2010, pemilihan nama Sanggar Sarati Svara diambil dari kata Sarati dan Svara. Sarati jika dilihat dari sastra bahasa kawi yang berarti sesaji/sesajen dengan esensi membuat sajian untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Svara diartikan sebagai bunyi. Jadi Sarati Svara itu dapat diartikan sebuah upaya penyajian melalui media bunyi yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesama dan untuk alam semesta yang dalam hal ini masuk kedalam konsep Tri Hita Karana. Namun jika dilihat dari idealisme musikal. Sarati merupakan penggabungan dari kata sarat dan arti yang memiliki arti penuh dengan makna, sedangkan kata svara sendiri berarti bunyi-bunyian. Jadi Sarati Svara artinya, menjadikan bunyi . usik/gamela. sebagai sebuah vibrasi Dalam konteks ini, makna yang tersirat dalam karya-karya musik gamelan yang sudah ada dan yang akan ada, dijadikan sebagai tuntunan edukasi dalam menumbuhkembangkan potensi diri berbasis kearifan lokal. Sejarah Gamelan Selonding Style Bebandem Berbicara masalah Gamelan Selonding sebenarnya tidak lebih daripada mengetahui instrumen gamelan Selonding yang diwarisi sekarang di Bebandem. Di Bebandem. Selonding disebutkan telah ada pada zaman pemerintahan Sri Jaya Sakti yaitu kurang lebih pada abad XI dalam prasasti Bebandem tahun 1050-1072. Dari isi prasasti di atas, kesenian gamelan Selonding disebutkan pernah hidup dan berekembang di Desa Bebandem, namun tidak dipaparkan secara mendetail mengenai gamelan Selonding tersebut, dan bukti-bukti nyata dari gamelan Selonding tidak ditemukan. Hal ini menyebabkan seorang Sri Mpu Sri Dharmapala Vajrapani ingin merekontruksi kembali gamelan Selonding yang ada di Desa Bebandem. Rekontruksi dilakukan berdasarkan hasil dari penelitian melalui bukti-bukti arkeologis seperti prasasti, sastra, adat istiadat, benda-benda sakral yang ada di seluruh Bali. Deskripsi Gamelan Selonding style Bebandem Gamelan ini memiliki peranan yang khusus dalam kehidupan adat setempat. Kebermaknaannya sebagai tata nilai yang begitu terkesan mendalam dan khusuk dalam ritual keagamaan. Gamelan ini secara khusus disajiakan dalam upacara Dewa Yadnya pada setiap usaba desa, usaba dalem dan upacara lainnya (Widiana,2019:. Dalam Gamelan Selonding style Bebandem terdapat susunan nada, jumlah instrumentasi dan teknik gegebug yang berbeda dari beberapa gamelan selonding Berikut perbedaan Gamelan Selonding style Bebandem dengan Gamelan Selonding style Tenganan meliputi: Susunan Nada. Dalam perspektif musikal, gamelan selonding Bebandem memiliki ciri khas yang secara eksplisit dapat terlihat dari grafik nada instrumentasi dan teknik permainan yang dimiliki. Gamelan selonding Bebandem seluruhnya berbentuk bilah sama seperti gaemlan Selonding pada umumnya di Bali. Namun dari jumlah bilahnya sebanyak 68 yang terpasang menjadi lima jenis tungguhan dengan susunan nada masing-masing. Lima jenis tungguhan yang ada meliputi tungguhan Suir. Gangsa Pemade. Penanga. Kebyog, dan Jegog. Secara keseluruhan gamelan ini memiliki susunan nada yang sama pada setiap instrumennya kecuali pada Kebyog yang memiliki empat bilah nada (Widiana,2019:. Susunan nada setiap tungguhannya dapat dilihat pada tabel 1. Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Tabel 4. 1 Susunan Nada Gamelan Selonding Style Bebandem (Sumber. Pande Widiana. Karakteristik Gamelan Selonding Bebandem Dan Selonding Tenganan AuStudi Komparasi Intramusika. Pada Gamelan Selonding Style Tenganan memiliki ciri khusus dalam susunan nada yang terdapat pada setiap instrumennya. Secara musikal penempatan nada dalam susunan nada Gamelan Selonding Style Tenganan akan mempengaruhi repertoar yang sedang dimainkan dan akan berbeda teknik permainnya dengan Gamelan Selonding Style Bebandem. Berikut tabel susunan nada pada Gamelan Selonding Style Tenganan. Tabel 4. 2 Grafik susunan nada Gamelan Selonding Style Tenganan (Sumber. Pande Widiana. Karakteristik Gamelan Selonding Bebandem Dan Selonding Tenganan AuStudi Komparasi Intramusika. Jumlah Instrumentasi. Instrumentasi yang dipergunakan pada Gamelan Selonding Style Bebandem dan Gamelan Selonding Style Tenganan jumlahnya tidak jauh berbeda dan penyebutan dalam masing-masing instrumen juga berbeda. Pada Gamelan Selonding Style Bebandem terdapat 9 . instrumen yang diantaranya 2 . tungguh instrumen Suir , 2 . tungguh instrumen Gangsa Pemade, 2 . tungguh instrumen Penanga, 1 . tungguh instrumen Kebyog, dan 2 tungguh instrumen Jegog (Suryawan,2015:. Selonding Tenganan terdiri dari 8 jenis tungguhan yaitu Gong Ageng. Gong Alit. Kempul Ageng. Kempul Alit. Penem. Petuduh. Nyong-nyong Ageng. Nyongnyong alit. Salah satu ke-khasan yang ada pada barungan Selonding Tenganan ialah fleksibelitas dari rangkaian setiap Maksudnya setiap fungsi dan rangkaian tungguhan yang ada tidak bersifat absolut. Dilihat secara teknik permainan, tungguhan yang satu dengan yang lainnya memiliki fungsi yang berbedabeda yang disesuaikan dengan repertoar yang disajikan (Widiana,2019:. Teknik Gegebug. Teknik permainan pada gamelan Selonding disebut dengan istilah gegebug. Dalam repertoar barungan Selonding Bebandem memiliki empat jenis gegebug sebagai komponen musikalnya. Adapun gegebug yang dimiliki yaitu Lelungidan. Nyogcag. Ngundir. Ngubit. Selonding Tenganan memiliki ciri khas tersendiri dalam hal teknik permainan. Dilihat dari susunan nada pada Selonding Tenganan memiliki struktur dan angkepan . ada oktaf pada setiap tungguha. yang berbeda pada setiap Hal tersebut yang menjadi dasar implikasi dari sebuah teknik khas yang dimiliki. Selonding Tenganan memiliki empat jenis teknik permainan yaitu gegebug Ngerejeg. Nerompong. Sekati, dan Rereongan (Widiana,2019:. Proses Pembelajaran Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Meier . menyatakan bahwa semua pembelajaran manusia pada hakikatnya mempunyai empat unsur yakni, persiapan . , penyampaian . , latihan . , penampilan hasil . Tahap persiapan merupakan tahapan untuk mempersiapkan segela aspek yang diperlukan dalam proses pembelajaran baik itu dari materi pembelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran, peserta didik dan pendidik. Tahap penyampaian, merupakan tahapan dimana pendidik menyampaikan dan memperkenalkan materi kepada peserta didik dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Tahap latihan, merupakan proses pembelajaran keterampilan peserta didik dalam menerima materi yang diajarkan oleh pendidik. Tahap penampilan, merupakan tahapan terakhir dari 3 . tahapan sebelumnya yang dimana peserta didik menampilkan materi secara utuh dan pendidik dapat melihat seberapa besar perkembangan peserta didik dalam menguasai materi sejauh mengikuti proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem materi yang diajarakan adalah materi TabuhRejang Bandem dan Tabuh Anda Sahat, berikut notasi materi yang diajarkan: Tabuh Rejang Bandem Pengawit (Penang. || 4 7 4 6 3 4 3 . 4 3 4 4 3 3 3 3 4 2 3 4 . 3 4 6 . 4 6 || Suir pola 1 6 || 6 || Suir pola 2 6 || 6 || Penanga || . 6 6 4 6 3 4 6 7 6 4 . 7 6 7 . 6 4 7 6 4 6 6 6 4 6 3 4 6 7 6 4 . 7 6 7 . 6 4 7 6 4 6 3 3 3 3 4 6 7 6 . 4 3 4 4 3 3 3 3 3 4 2 3 4 . 3 4 6 Jegog 6 || . 6 || Keterangan : Notasi di baca dengan cara pembacaan notasi ding dong 2 = 3 . , 3 = 4 . , 4 = 5 . , 6= 7 . , 7= 1 . Tabuh Anda Sahat Pengawit (Penang. 2 || . 4 3 2 7 7 . 7 4 7 6 4 6 7 6 4 3 4 6 4 3 4 6 3 4 6 4 3 4 6 . 3 4 6 7 6 4 3 2 || Bagian 1 Suir 2 || . Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Pemade polos . 2 || 1 || 2 1 2 1 2 4 2 1 || Pemade . Pemade sangsih . 2 || . 4 3 2 7 7 . 7 4 7 6 4 || 8 . 6 7 6 4 3 4 6 4 3 Jegog 4 6 3 4 6 4 3 4 6 . 3 4 1 || . 1 || 7 6 4 3 2 || Keterangan : Pemade . Notasi di baca dengan cara pembacaan |. 4 3 2 2 . 7 6 7 4 6 7 4 6 7 4 notasi ding dong. 2 = 3 . , 3 = 4 . , 6 7 4 6 3 4 63 4 63 42 4 = 5 . , 6= 7 . , 7= 1 . 3 3 4 4 6 6 3 3 4 4 6 4 6 3 4 . 6 6 3 Pada transisi gending Anda Sahat dari 3 4 4 6 6 7 . 6 4 6 4 3 . bagian 2 ke bagian 3 terdapat Jegog modulasi/perpindahan nada dasar, yang 2 || . dimana pembacaan tersebut menjadi, 1=7. , 2= 1 . , 4= 3 . , 5= 4 . , 6= 5 . , 8= 7. 2 || Metode yang Digunakan Dalam Bagian 2 Pembelajaran Gamelan Selonding style Suir Bebandem di Sanggar Sarati Svara. 2 || 2 6 2 || Menurut Sanjaya . menyatakan Penanga metode adalah cara yang digunakan untuk 2 || . mengimplementasikan rencara yang sudah 2 || disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan Pemade . yang telah disusun tercapai secara optimal. 2 || 4 . 2 4 2 4 . 2 4 2 4 . 2 4 2 Keberhasilan implementasi strategi 2 4 2 || pembelajaran sangat tergantung dengan Pemade . cara guru menggunakan metode 7 || 6 7 . 6 7 6 7 . 6 7 6 7 . pembelajaran, karena suatu strategi 6 7 . 6 7 || pembelajaran hanya mungkin dapat Jegog diimplementasikan melalui penggunaan 2 || . metode pembelajaran. 2 || Bagian 3 Pembelajaran Gamelan Selonding style Suir . Bebandem di Sanggar Sarati Svara 8 || 8 8 8 8 6 4 5 8 || menggunakan beberapa metode Suir (Sangsi. pembelajaran dalam menyampaikan materi, |. metode-metode yang dimaksud diantaranya Penanga metode ceramah, imitasi, demonstrasi dan 8 || . 8 5 4 5 8 || tanya jawab. Pemade polos . 1 |. 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 1 4 1 || Metode Ceramah Pemade sangsih . 8 |. 8 6 8 6 8 6 8 6 8 6 8 6 8 6 8 || Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara penyajian pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra sekelompok siswa (Sanjaya, 2006:. Peranan siswa dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok penting yang dikemukakan oleh guru (Sagala, 2009:. Dokumentasi Penerapan Metode Imitasi pada proses pembelajaran Gamelan Selonding (Dokumentasi Surananggana, 2. Metode Demonstrasi Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan (Sanjaya, 2006:. Dokumentasi Penerapan Metode Ceramah pada proses pembelajaran Gamelan Selonding (Dokumentasi Surananggana 2. Dokumentasi Penerapan Metode Metode Imitasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Imitasi diartikan sebagai tiruan/meniru, jadi dalam metode imitasi pada proses pembelajaran Gamelan Selonding ini, dimaksudnya pendidik memberikan satu contoh praktek yang nantinya dapat ditiru oleh peserta didik sebagai langkah dalam penyampaian materi pendidik kepada peserta didik. Pada proses pembelajaran Gamelan Selonding pendidik akan mengambil posisi di depan peserta didik saling berhadapan dan memberikan contoh pukulan-pukulan pada instrumen yang dimainkan lalu setelah itu peserta didik menirukan apa yang sudah dicontohkan oleh pendidik. Demonstrasi pada proses pembelajaran Gamelan Selonding (Dokumentasi Surananggana, 2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara. Faktor Pendukung. Faktor Internal: Tingkat Kecerdasan (Intelegensi Sisw. Dalam pembelajaran Gamelan Selonding, tingkat kecerdasan peserta didik tidak semata-mata dilihat dari pintarnya peserta didik dalam menguasai materi dengan sigap dan cepat, melainkan dari bagaimana proses peserta didik belajar dan memiliki keinginan dalam diri sendiri untuk mengikuti proses pembelajaran dan yang terpenting keaktifan peserta didik sangat diharapkan dalam proses pembelajaran. Emosi Siswa Emosi sebagaimana fungsi psikis, sangat mempengaruhi proses pembelajaran dan aktivitas belajar. Dalam suatu kegiatan yang dilakukan dan menghasilkan sesuatu, akan Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra jauh lebih baik jika disertai dengan suasana emosional yang positif. Sebaliknya, jika kegiatan yang secara umum menarik untuk dilakukan, namun dalam suasana emosi yang negatif, kegiatan tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Penampakan emosi. dapat dilihat dari gerak-gerik individu antara lain: raut muka, gerak tubuh, keadaan tubuh secara menyeluruh dan rasa percaya Pada proses pembelajaran Gamelan Selonding, disini pendidik memiliki peran yag sangat penting dalam menjaga suasana belajar agar tetap hangat dan nyaman selama proses pembelajaran. Bakat Siswa Potensi dasar yang dimiliki berupa bakat akan sangat mempengaruhi proses belajar. Bakat rendahnya prestasi belajar siswa di bidang studi yang mereka tekuni. Sedangkan bakat juga dapat dipengaruhi melalui lingkungan yang mereka tempati. Dalam proses pembelajaran Gamelan Selonding style. Bebandem, pendidik membebaskan peserta instrumen Seloding yang akan peserta didik inginkan dan setelah proses pembelajaran berlangsung pendidik akan mengetahui kemampuan masing-masing peserta didik lalu pendidik akan menempatkan peserta didik sesuai dengan bakat individu peserta . Motivasi Dalam konteks pembelajaran, motivasi berarti upaya untuk mendorong peserta didik untuk bergerak melakukan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan Motivasi penting diketahui oleh seorang pendidik sebagai manfaat antara lain : membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat peserta didik untuk belajar dan mencapai tujuan belajar. Pada. pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem kedua motif ini haruslah seimbang, karena selain dari kemauan atau dorongan dari peserta didik sendiri, peran orang tua sangatlah penting dalam membangkitkan semangat anak-anaknya. Faktor Eksternal: Lingkungan Keluarga Faktor keluarga merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh pada peserta didik dalam mengikuti suatu proses Faktor keluarga juga merupakan pondasi paling kuat untuk membentuk dan mendorong sikap peserta didik sesuai dengan perkembangan diri anak secara baik dalam menentukan potensi, bakat serta Karena dapat diketahui bahwa, pendidikan utama adalah pendidikan informal yaitu pendidikan dalam lingkungan Peran orang tua dalam pendidikan anak sudah seharusnya berada pada urutan Orang tualah yang paling anak-anaknya kepribadian, karakter. Lingkungan Sanggar Proses pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara, penyediaan sarana dan prasarana sangat membantu kelancaran proses belajar Sarana yang telah disiapkan Gamelan Selonding style Bebandem seperti tempat latihan, gamelan serta panggul. Dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang sudah ada diharapkan proses pembelajaran berjalan sesuai dengan yang Dalam hal kegiatan ngayahngayah ke pura, sanggar juga menyedian transportasi untuk keperluan mengangkut gamelan dan transportasi untuk pengayah jika diperlukan. Semua itu bertujuan untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan berkesenian yang di lakukan oleh Sanggar Sarati Svara. Lingkungan Masyarakat Faktor masyarakat yang mempengaruhi pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem diantaranya adalah pentingnya Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra seni tabuh di lingkungan masyarakat,. mengingat banyaknya upacara keagamaan yang ada di Bali pada setiap prosesi upacaranya selalu diiringi tetabuhan. Selain dalam pembelajaran, pada sisi pariwisata Gamelan Selonding sudah menjadi ikon Kabupaten Karangasem dimana di setiap daerahnya terdapat barungan Gamelan Selonding sesuai dengan ciri khasnya masing-masing dan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi penggiat seni yang ingin mengetahui sejarahnya ataupun menambah wawasan dan kegiatan tersebut dapat di jumpai pada setiap kegiatan upacara adatnya seperti contoh di desa Tenganan. Ngis. Bugbug. Jasi. Timbrah. Asak. Bungaya. Bebandem. Seraya dan desa adat lainnya yang ada di Kabupaten Karangasem. Faktor Penghambat Faktor Internal: Disiplin Dalam proses pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem yang menjadi faktor penghambat salah satunya disiplin Sering kali peserta didik lambat dalam kehadiran dengan berbagai alasan yang imbasnya akan sangat buruk jika itu terus terjadi. Pendidik memberikan sangsi tegas dengan memberi hukuman menyapu di tempat proses latihan agar peserta didik yang tidak disiplin waktu merasakan efek jera dengan apa yang sudah ia dilakukan dan tidak akan dijadikan tontoh oleh temantemannya yang lain. Perhatian Saat Gamelan Selonding style Bebandem, tidak semua peserta didik mau mengikuti arahan dari pendidik karena kurangnya perhatian mereka terhadap pembelajaran. Peserta didik yang tidak memperhatikan akan lebih suka bercanda dengan teman disampingnya dan kadang mengganggu teman yang lain. Faktor Eksternal: Lingkungan. Faktor cuaca yang sering menghambat proses pembelajaran Cuaca hujan di daerah yang wilayahnya termasuk dalam dataran tinggi menjadikan cuaca kadang hujan dan menghambat kegiatan belajarar peserta didik hingga proses pembelajaran menjadi tidak dapat terlaksana. Kemudian dengan keadaan situasi pandemi virus Covid-19 saat ini, dimana pembatasan kegiatan-kegiatan di masyarakat harus dibatasi agar penyebaran virus tidak meluas, menjadikan kegiatan proses pembelajaran menjadi terhambat dengan durasi waktu proses pembelajaran PENUTUP Mendeskripsikan aspek-aspek pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara merupakan tujuan dari penelitian ini. Proses pembelajaran ini terwujudnya kembali kelestarian budaya tuntunan, budaya tatanan dan budaya tontonan masyarakat Bali sebagai benteng pertahanan dalam rangka menghadapi dan multikulturalisme era globalisasi, serta mempertahankan taksu . akna, nilai dan identita. seni dan budya Bali pada khususnya, serta budaya nasional pada Dalam pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara ini mengkaji 3 . aspek pembelajaran yaitu. proses pembelajaran, . metode pembelajaran, . faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem. Hasil penelitian pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara menggunakan empat tahap meliputi. tahap persiapan . merupakan tahapan untuk mempersiapkan segela aspek Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra yang diperlukan dalam proses pembelajaran, . tahap penyampaian . merupakan tahapan dimana pendidik menyampaikan dan memperkenalkan materi kepada peserta didik dengan cara yang menarik dan menyenangkan, . pembelajaran keterampilan peserta didik dalam menerima materi yang diajarkan oleh pendidik dan . tahap penampilan . pada tahap ini peserta didik menampilkan materi secara utuh dan pendidik dapat melihat seberapa besar kecil menguasai materi sejauh mengikuti proses Pada penerapan metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara menggunakan beberapa metode pembelajaran dalam menyampaikan materi, metode-metode yang dimaksud diantaranya metode ceramah, metode imitasi, metode demonstrasi dan metode tanya jawab. Faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran Gamelan Selonding style Bebandem di Sanggar Sarati Svara dipengaruhi oleh dua faktor meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa tingkat intelegensi, emosi, bakat, dan motivasi peserta didik. Faktor eksternal berupa pendidik, dan lingkungan. DAFTAR RUJUKAN Aminuddin. Rasyat. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Uhamka Press dan Yayasan PEP-Ex 8. Anurrahman. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Adi Baskara. Ida Bagus. AuProses Pembelajaran Seni Karawitan di Sekolah Dasar Negeri 1 Wanasari TabananAy. Skripsi untuk memperoleh gelar S-1. Denpasar: Program Studi Sendratasik Fakultas Seni Pertunjukan . ISI Denpasar. Bandem. I Made. Gamelan Diatas Panggung Sejarah. BP Stikom Bali. Bandem. I Made. PRAKEMPA Sebuah Lontar Gamelan Bali. Denpasar: Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar. Bungin. Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Budiningsih. Asri. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Dibia. I Wayan. Pengantar Karawitan Bali. Denpasar: Proyek Peningkatan/Pengembangan ASTI Denpasar. Dibia. I Wayan. Geliat Seni Pertunjukan Bali. Denpasar. Buku Arti Dibia. I Wayan. Ilen-Ilen Pertunjukan Bali. Denpasar. Bali Mangsi Dimyanti. Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah. Syaiful Bahri. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press. Djelantik. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Djelantik. Dr. Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Hamruni. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani Handika Andryana. Putu. AuStudi Tindak Pembelajaran Kesenian Jegog Pada Ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Negara JembranaAy. Skripsi untuk memperoleh gelar S-1. Denpasar: Program Studi Sendratasik Fakultas Seni Pertunjukan . ISI Denpasar. Hamalik. Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Hijab. Asep. Haris. Abdul. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Agus Surananggana. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Iriaji. Konsep dan Strategi Pembelajaran Seni Budaya. Malang: Universitas Negeri Malang. Karwono dan Heni. Belajar dan Pembelajaran. Depok: PT Raja Grafindo Persada. Khairani. Maknum. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Meier. The Accelerated Learning Handbook: Panduan Kreatif dan Efektif Meranacang Program Pendidikan & Pelatihan. Bandung: Kaifa Mundi. Yudhi. Media Pembelajaran. Jakarta: Refrensi (GP Press Grou. Mudyaharjo. Redja. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pande Widiana. I Wayan. Karakteristik Gamelan Selonding Bebandem Dan Selonding Tenganan AuStudi Komparasi Intramusikal. MUDRA Jurnal Seni Budaya. Volume 34: 61-72. Purwanto. Ngalim. Prinsip dan Teknik Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya. Rohman. Amir Sofan. Strategi dan Desain Pengembangan Sistem Pembelajaran. Surabaya: Prestasi Pustakarya.