SARGA: JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 19 NO 2 JULY 2025 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga KEBUTUHAN RUANG UNTUK SUBSEKTOR EKONOMI KREATIF DI BOGOR CREATIVE CENTER Space Requirements for Creative Economy Subsectors in Bogor Creative Center | Received March 20, 2025 | Accepted July 17, 2025 | Available online July 31, 2025 | | DOI 10. 56444/sarga. 2765 | Page 90 - 98 | Diky Pangestu1*. Raziq Hasan2. Lia Rosmala Schiffer3. Yonav Partana4 dipangestu103@gmail. Program Studi Teknik Arsitektur. Universitas Gunadarma. Depok1* raziqhasan@gmail. Program Studi Teknik Arsitektur. Universitas Gunadarma. Depok2 schiffer@gmail. Program Studi Teknik Arsitektur. Universitas Gunadarma. Depok3 partana@gmail. Program Studi Teknik Arsitektur. Universitas Gunadarma. Depok4 ABSTRAK Pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat kota menuntut tersedianya ruang yang mendukung aktivitas produksi, kolaborasi, dan pengembangan komunitas kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan ruang berdasarkan subsektor ekonomi kreatif dominan di Kota Bogor, dengan fokus pada Bogor Creative Center (BCC) sebagai fasilitas utama. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur dengan pengelola, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subsektor kuliner, musik, dan kriya merupakan sektor dengan komunitas terbanyak dan aktivitas yang paling Namun, fasilitas ruang yang tersedia belum sepenuhnya mendukung kebutuhan spesifik masing-masing Seperti pada ruang workshop kuliner belum tersedia, studio musik belum memenuhi standar akustik dan peredaman suara, dan ruang kriya belum dilengkapi zona kerja yang memadai. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan desain ruang yang lebih adaptif dan partisipatif, termasuk penyediaan dapur terbuka, studio terinsulasi, serta ruang kriya semi terbuka yang mendukung kegiatan produksi dan edukasi. Penyesuaian desain ruang yang berbasis kebutuhan subsektor diharapkan dapat meningkatkan efektivitas Bogor Creative Center sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Kata kunci: Pusat Kreatif. Kebutuhan Ruang. Ekonomi Kreatif. Bogor Creative Center ABSTRCT The growth of the creative economy at the city level demands the availability of spaces that support production activities, collaboration, and the development of creative communities. This research aims to identify space needs based on the dominant creative economy subsectors in Bogor City, with a focus on the Bogor Creative Center (BCC) as the main facility. The method used is descriptive qualitative through field observations, semistructured interviews with managers, and literature studies. The results show that the culinary, music, and craft subsectors are the sectors with the most communities and the most active activities. However, the available space facilities do not fully support the specific needs of each subsector. Culinary workshop spaces are not yet available, music studios do not meet acoustic and soundproofing standards, and craft spaces are not equipped with adequate work zones. Based on these findings, this research recommends a more adaptive and participatory space design, including the provision of open kitchens, insulated studios, and semi-open craft spaces that support production and education activities. The adjustment of space design based on subsector needs is expected to increase the effectiveness of Bogor Creative Center as an inclusive and sustainable creative economy development center. Keywords: Creative Hub. Space Needs. Creative Economy. Bogor Creative Center Kebutuhan Ruang untuk Subsektor Ekonomi Kreatif di Bogor Creative Center PENDAHULUAN Dalam perkembangan ekonomi modern, istilah "ekonomi kreatif" semakin sering digunakan, dengan penekanan pada pentingnya kreativitas dan informasi sebagai sumber utama pertumbuhan Ekonomi kreatif dapat didefinisikan sebagai proses ekonomi yang mengandalkan ide kreatif, konsep inovatif, dan kemampuan intelektual dalam kegiatan produksi dan distribusi barang maupun jasa. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif, sektor ini merupakan perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari kreativitas manusia berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Untuk mendukung pengembangan sektor ekonomi kreatif di tingkat kota, diperlukan keberadaan fasilitas atau wadah yang memungkinkan para pelaku kreatif berkolaborasi, berinovasi, dan mengekspresikan kreativitas mereka secara optimal. Creative Hub berperan sebagai platform yang menyediakan ruang untuk pameran, pertunjukan, dan promosi karya, serta menjadi sarana pengembangan proyek kolaboratif antarindividu maupun kelompok. Selain itu. Creative Hub menawarkan fasilitas dan sumber daya yang terpusat dan terkoordinasi, yang tidak hanya memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing, tetapi juga membantu mengatasi berbagai kendala yang sering dihadapi pelaku ekonomi kreatif, seperti keterbatasan akses terhadap pasar, modal, dan infrastruktur pendukung. Kota Bogor memiliki kekayaan alam, budaya, serta potensi sumber daya manusia yang mendukung pertumbuhan sektor ekonomi kreatif secara signifikan. Mengingat potensi tersebut. Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat bertindak sebagai pengelola serta mendirikan Gedung Bogor Creative Center (BCC). Bogor Creative Center (BCC) terletak di Jl. Ir. Juanda. No. Rt. 03/RW. Kelurahan Pabaton. Kecamatan Bogor Tengah. Kota Bogor. Letak dari gedung ini berada di lokasi yang strategis pada pusat kota dan berada di sebelah utara Gedung Kepresidenan Kota Bogor/Kebun Raya Bogor. Dalam mengoptimalkan peran fasilitas ini, diperlukan identifikasi kebutuhan ruang yang sesuai dengan karakteristik dan potensi subsektor ekonomi kreatif di Kota Bogor. Penyediaan ruang yang tepat sasaran diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing para pelaku ekonomi kreatif di wilayah tersebut. Selain itu, identifikasi kebutuhan ruang ini juga bertujuan merumuskan tata ruang yang ideal, sehingga mampu menunjang pertumbuhan sektor ekonomi kreatif berdasarkan kekayaan sumber daya lokal yang dimiliki Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi subsektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi terbesar di Kota Bogor, menganalisis kebutuhan ruang yang spesifik untuk subsektor tersebut, serta mengevaluasi sejauh mana fasilitas eksisting mendukung aktivitas kreatif yang Dengan memahami karakteristik dan kebutuhan masing-masing subsektor, dapat dirumuskan rekomendasi perbaikan desain ruang yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan pengguna. Optimalisasi ruang diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan, produktivitas, serta memperkuat posisi Bogor Creative Center sebagai pusat kolaborasi, inovasi, dan promosi sektor ekonomi kreatif di tingkat lokal maupun regional. METODOLOGI Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai identifikasi kebutuhan ruang berdasarkan potensi subsektor ekonomi kreatif di Bogor Creative Center. Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak berfokus pada pengukuran angka statistik, melainkan pada eksplorasi makna, pengalaman, dan fenomena yang terjadi di Melalui pendekatan ini, data dikumpulkan secara komprehensif untuk menggambarkan kondisi eksisting fasilitas, kebutuhan pengguna, serta tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatan ruang kreatif. Pemilihan metode ini juga memungkinkan adanya fleksibilitas dalam pengumpulan data, sehingga berbagai aspek ruang yang terkait dengan aktivitas subsektor kuliner, musik, dan kriya dapat dianalisis secara kontekstual. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Diky Pangestu. Raziq Hasan. Lia Rosmala Schiffer. Yonav Partana Kajian Pustaka Ekonomi kreatif merupakan sektor yang bertumpu pada ide, kreativitas, serta nilai tambah dari kekayaan intelektual, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019. Untuk mendukung perkembangan sektor ini, keberadaan ruang kolaboratif seperti Creative Hub sangat Menurut Matheson dan Easson . dalam Creative HubKit, ruang kreatif yang ideal harus memiliki sifat fleksibel, terbuka untuk kolaborasi, serta mampu memfasilitasi interaksi antar pelaku industri kreatif. Setiap subsektor ekonomi kreatif memiliki kebutuhan ruang yang berbeda seperti subsektor kuliner memerlukan ruang praktik memasak yang lengkap, subsektor musik membutuhkan studio dengan sistem akustik dan peredaman yang baik, sementara subsektor kriya membutuhkan ruang kerja yang nyaman dan ruang pamer untuk menampilkan hasil karya. Konsep ruang kreatif ini sejalan dengan teori third place dari Oldenburg . , yang menjelaskan pentingnya ruang informal antara rumah dan tempat kerja sebagai tempat berkembangnya ide dan jejaring sosial. Selain itu, pendekatan adaptive space yang dikemukakan Dovey . menekankan pentingnya desain ruang yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pengguna dan dinamika komunitas, sehingga rancangan ruang dalam Creative Hub perlu disesuaikan dengan karakter dan potensi subsektor kreatif yang dominan di suatu wilayah. Metode Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan studi literatur. Observasi dilakukan secara langsung di Bogor Creative Center dengan pendekatan non-partisipatif untuk mengamati kondisi fisik ruang, pola penggunaan ruang, serta hubungan antar ruang dalam mendukung aktivitas subsektor kreatif. Wawancara semiterstruktur dilakukan dengan pihak pengelola Bogor Creative Center untuk memperoleh informasi mendalam mengenai pengelolaan fasilitas, kebutuhan ruang yang belum terpenuhi, serta tantangan yang dihadapi dalam mendukung subsektor dominan, yaitu kuliner, musik, dan kriya. Selain itu, studi literatur dilakukan dengan mengkaji berbagai sumber sekunder seperti jurnal ilmiah, buku, dokumen regulasi pemerintah, dan laporan perencanaan, guna memperkaya landasan konseptual penelitian serta memperkuat analisis data yang diperoleh dari lapangan. Ketiga teknik ini saling melengkapi untuk memastikan akurasi, validitas, dan kedalaman informasi yang dianalisis dalam penelitian ini. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Analisis Kebutuhan Ruang di Bogor Creative Center Gambar 1. Denah Lantai Satu dan Lantai Dua. Bogor Creative Center Sumber: Penulis, 2024 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Kebutuhan Ruang untuk Subsektor Ekonomi Kreatif di Bogor Creative Center Ruang pada Bogor Creative Center difokuskan untuk menjadi ruang yang mendukung kegiatan ekonomi kreatif seperti ruang pameran, ruang kerja atau diskusi, ruang galeri, ruang kelas dan ruang auditorium. Berdasarkan beberapa ruang berikut dapat diketahui bahwa bangunan Bogor Creative Center hanya difungsikan sebagai bangunan yang mendukung kegiatan ekonomi kreatif dan tidak berlaku untuk industri diluar ekonomi kreatif. Penataan ruang pada Bogor Creative Center terbagi menjadi beberapa zonasi yang memiliki fungsi berbeda, zonasi tersebut yaitu, ruang kerja, ruang kegiatan seni pertunjukan, auditorium, ruang pengelola, galeri seni rupa, cafe dalam ruangan/luar ruangan, dan fasilitas umum. Bogor Creative Center memiliki banyak ruangan yang dipergunakan untuk kegiatan, setiap ruang memiliki fungsi dan kegunaan yang lebih spesifik. Perancangan ruang secara spesifik sesuai dengan kegiatan ekonomi kreatif akan memberikan pengalaman yang baik dan nyaman dalam bekerja. Berdasarkan gambar denah . ihat Gambar . maka dapat diketahui ruang-ruang yang terdapat pada Bogor Creative Center, berikut adalah jenis ruang yang terdapat pada setiap lantainya: Tabel 1. Daftar Ruang Bogor Creative Center Nama Ruang Ruang Galeri & Seni Rupa Auditorium Cafe Indoor & Outdoor Desk Space Creative Hub Basecamp Komunitas Fotografi Digital Class Basecamp Komunitas Musik Studio Musik dan Ruang Kontrol Basecamp Komunitas Penerbit Kantor Pengelola dan Ruang Informasi Mushola dan Toilet Fungsi Utama Pameran karya seni Pertunjukan dan acara Kuliner dan interaksi Co-working space Aktivitas komunitas Pelatihan digital Aktivitas komunitas Produksi dan latihan musik Aktivitas penerbitan Administrasi Fasilitas umum Lantai Sumber: Penulis, 2024 Berdasarkan jenis ruang yang terdapat di Bogor Creative Center maka dapat diketahui zonasi dari ruang yang dibentuk berdasarkan fungsi kegiatannya. Terdapat zona Ruang kerja. Auditorium. Ruang Pengelola. Ruang Galeri dan Kafetaria, berikut merupakan diagram hubungan ruangan yang dihasilkan sebagai berikut: Gambar 2. Buble Diagram Makro dan Mikro. Bogor Creative Center Sumber: Penulis, 2024 Berdasarkan diagram hubungan ruang yang telah disajikan, dapat dianalisis bahwa terdapat keterkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung antar ruang yang ada di Bogor Creative Center. Hubungan ini menunjukkan pola alur aktivitas serta konektivitas antar fungsi ruang yang mendukung jalannya kegiatan ekonomi kreatif. Selain itu, terlihat bahwa setiap ruang yang dirancang sebagai penunjang aktivitas kreatif memiliki hubungan fungsional yang saling terintegrasi. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Diky Pangestu. Raziq Hasan. Lia Rosmala Schiffer. Yonav Partana mencerminkan perencanaan ruang yang mendukung kolaborasi antar subsektor. Selanjutnya, uraian mengenai pembagian zona di dalam Bogor Creative Center akan dijelaskan lebih rinci untuk memberikan gambaran struktur organisasi ruang secara menyeluruh. Gambar 3. Gambaran Interior Ruang. Bogor Creative Center Sumber: Penulis, 2024 Identifikasi Subsektor Ekonomi Kreatif Dominan Perencanaan kebutuhan ruang dalam sebuah Creative Hub memiliki peran strategis, mengingat keberhasilan sektor ekonomi kreatif sangat dipengaruhi oleh tersedianya ruang yang mendukung kolaborasi dan aktivitas kreatif secara optimal. Setiap daerah umumnya memiliki subsektor ekonomi kreatif yang lebih menonjol dibandingkan subsektor lainnya, sehingga identifikasi subsektor dominan menjadi langkah penting dalam menentukan jenis dan karakteristik ruang yang Oleh karena itu, desain ruang dalam Creative Hub sebaiknya disesuaikan secara spesifik dengan kebutuhan subsektor dominan di wilayah tersebut, guna memastikan efektivitas pemanfaatan ruang dan mencegah munculnya area yang tidak aktif atau kurang berfungsi. Pemahaman terhadap potensi subsektor kreatif lokal tidak hanya memperkuat relevansi perencanaan ruang, tetapi juga berkontribusi pada optimalisasi fungsi Creative Hub sebagai pusat kegiatan ekonomi kreatif. Berikut ini disajikan data komunitas ekonomi kreatif di Kota Bogor berdasarkan dokumen rencana kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kota Bogor sebagai dasar analisis kebutuhan ruang. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Kebutuhan Ruang untuk Subsektor Ekonomi Kreatif di Bogor Creative Center Tabel 2. Komunitas Ekonomi Kreatif Kota Bogor Subsektor Ekonomi Kreatif Nama Komunitas Kuliner Pakirnabo Komunitas Tukang Masak Bogor Indonesia Chef Associaton Komunitas Kopi Kongkow Bunga Potong Batik Bogor Rancage Komunitas Kayu Bogor RF Craft Bogor Bogor Rain City Komunitas Musik Koes Bogor (KMKB) Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Komunitas Musik Keroncong Komunitas Musik Indie Gambus Komunitas Musik Bogor Bersatu (KMBB) Kamar Kreasi Cineclub Buitenzong Bogor Cinema CLP Concept Creation Komunitas Pelukis Bogor Komunitas Mozaiq Komunitas Mural Teater Karoeng Dipokersen Sinar Kencana Teater Prabu Komunitas Sanggar Seni Noname Documentary Photography Bogor Kelas Rakyat Keliling Bogor Kola Neotodea Architect Studio Komunitas Penulis Kota Bogor (KPKB) Aspedi Kriya Desain Komunikasi Visual Musik Film Animasi dan Video Seni Rupa Seni Pertunjukan Fotografi Periklanan Arsitektur Penerbit Desain Interior Jumlah Anggota Sumber: Penulis, 2024 Berdasarkan data komunitas ekonomi kreatif di Kota Bogor, subsektor kuliner tercatat sebagai yang paling dominan dengan jumlah anggota mencapai 330 orang, disusul oleh subsektor musik sebanyak 207 anggota, dan kriya sebanyak 147 anggota. Temuan ini menjadi acuan utama dalam merancang kebutuhan ruang, karena setiap subsektor memiliki karakteristik dan tuntutan ruang yang berbeda. Dengan mengutamakan subsektor yang paling aktif, perencanaan ruang dapat diarahkan secara lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan spesifik masing-masing komunitas. Adapun subsektor lainnya tetap perlu difasilitasi melalui rancangan ruang yang fleksibel dan disesuaikan dengan kapasitas lahan maupun ketersediaan anggaran yang ada. Berdasarkan data tersebut telah diketahui bahwa subsektor ekonomi kreatif yang berpotensi di Kota Bogor yaitu kuliner, musik, dan Subsektor tersebut merupakan subsektor yang sangat spesifik, sehingga perlu adanya ruangan khusus untuk memberikan fasilitas yang lengkap dan nyaman kepada para peminjam ruang. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Diky Pangestu. Raziq Hasan. Lia Rosmala Schiffer. Yonav Partana RANCANGAN RUANG SUBSEKTOR EKONOMI KREATIF DOMINAN Subsektor Kuliner Subsektor kuliner merupakan bidang dengan jumlah komunitas terbanyak di Kota Bogor, yaitu mencapai 330 anggota. Aktivitas yang dilakukan dalam subsektor ini meliputi kelas memasak, demonstrasi kuliner, pelatihan bagi pelaku UMKM, hingga produksi makanan skala kecil. Berdasarkan karakteristik tersebut, ruang yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan kuliner idealnya berupa ruang workshop memasak seluas 40Ae60 mA, dilengkapi dengan fasilitas seperti pantry, kompor industri, meja kerja, wastafel . , sistem ventilasi mekanik, dan saluran pembuangan asap yang memadai (British Council, 2. Saat ini. Bogor Creative Center belum menyediakan ruang khusus dengan fasilitas tersebut, sehingga kegiatan kuliner masih bersifat sementara dan kurang efektif. Oleh karena itu, perancangan yang disarankan mencakup penyediaan dapur terbuka . pen kitche. semi permanen yang terintegrasi dengan area kafe indoor, serta penggunaan modul meja kerja yang fleksibel agar dapat mengakomodasi berbagai jenis pelatihan kuliner, baik yang bersifat tradisional maupun kontemporer. Gambar 4. Ruang Kelas Memasak. Bogor Creative Center Sumber: Penulis, 2024 Subsektor Musik Subsektor musik di Kota Bogor memiliki sebanyak 207 anggota komunitas dan saat ini telah difasilitasi dengan ruang komunitas studio musik, serta ruang kontrol di Bogor Creative Center. Namun demikian, kondisi studio yang tersedia belum memenuhi standar akustik dan peredaman suara yang ideal, sehingga belum sepenuhnya mendukung aktivitas rekaman atau latihan secara Studio musik yang baik setidaknya memerlukan ruang rekaman seluas 20Ae25 mA dan ruang kontrol seluas 10Ae15 mA, dilengkapi dengan panel insulasi suara, diffuser, serta material peredam seperti rockwool, gypsum, dan karpet akustik untuk mengurangi pantulan dan kebocoran suara (Everest & Pohlmann, 2. Gambar 5. Ruang Komunitas Musik. Bogor Creative Center Sumber: Penulis, 2025 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Kebutuhan Ruang untuk Subsektor Ekonomi Kreatif di Bogor Creative Center Denah ruang ideal terdiri dari dua ruang terpisah, yaitu ruang kontrol dan ruang rekaman, yang dipisahkan oleh dinding kedap suara dan dilengkapi jendela kaca ganda . ouble-glaze. sebagai jalur visual. Rekomendasi perancangan meliputi peningkatan insulasi akustik, pengaturan zonasi ruang menggunakan koridor sebagai buffer, serta penggunaan material lantai kayu guna menstabilkan frekuensi rendah yang dihasilkan dari instrumen musik. Subsektor Kriya Subsektor kriya menempati posisi ketiga sebagai subsektor dengan jumlah komunitas terbanyak di Kota Bogor, yakni sebanyak 147 anggota. Kegiatan dalam subsektor ini meliputi berbagai bentuk kerajinan tangan seperti batik, anyaman, ukir kayu, hingga seni rajut, yang masingmasing memerlukan kondisi ruang kerja dengan karakteristik khusus. Dalam proses produksi kriya membutuhkan pencahayaan alami yang cukup, sirkulasi udara yang baik, serta meja kerja yang ergonomis untuk mendukung kenyamanan dan produktivitas pengrajin. Rekomendasi ruang untuk kegiatan kriya adalah ruang workshop dengan luas sekitar 30Ae50 mA yang dapat dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan jenis kerajinan. Gambar 6. Ruang Galeri dan Seni. Bogor Creative Center Sumber: Penulis, 2025 KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa subsektor kuliner, musik, dan kriya merupakan tiga subsektor ekonomi kreatif paling dominan di Kota Bogor yang berperan penting dalam menghidupkan ekosistem kreatif lokal. Meskipun Bogor Creative Center telah menyediakan beberapa fasilitas penunjang, masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan spesifik masing-masing subsektor dengan ruang yang tersedia. Tidak tersedianya ruang workshop kuliner, ketidaksesuaian akustik dalam studio musik, serta minimnya fasilitas ruang kerja untuk kriya menjadi indikator bahwa perancangan ruang yang ada belum sepenuhnya berbasis kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyesuaian desain ruang yang bersifat adaptif, fleksibel, dan partisipatif, dengan mempertimbangkan dimensi aktivitas, karakter komunitas, serta prinsip desain ruang kreatif. Rekomendasi ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan, produktivitas, dan kolaborasi di lingkungan Bogor Creative Center, serta memperkuat perannya sebagai wadah pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA