PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Volume 1 November 2023 . PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IPS DI SMA SWASTA PGRI KUPANG Johana Lakafing Universitas Muhammadiyah Kupang. Indonesia Corresponding Author: johanalakafing@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah dengan penerapan model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas XI SMA SwastaPGRI Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dimaksud kan untuk mengatasi permasalahan yang ada dikelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS semester ganjil tahun ajaran 2021/2022 yang berjumlah 10 orang siswa dengan perincian 4 orang siswa laki-laki dan 6 orang siswa perempuan. Penelitianini di lakukan dalam dua siklus dan setiap akhir siklus dilakukan refleksi terhadap tindakan yang diberikan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dokumentasi, wawancara, dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: Penerapan model pemebelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Swasta PGRI Kupang, hal ini dapat diketahui pada Siklus I pertemuan I sebesar 50% dengan kategori Sedang, pada pertemuan ke 2 menjadi 60% dengan kategori Sedang, dan siklus II pertuman I sebesar 70% dengan kategori Cukup Baik, dan meningkat pada pertemuan 2 dengan presentase sebesar 90% dengan kategori Sangat Baik. Kata Kunci: Discovery Learning. Hasil belajar. Sosiologi ABSTRACT This study aims to determine the implementation of discovery learning model can improve sociology learning outcomes of XI IPS students in SMA PGRI Kupang. This study is classroom action research (CAR) which is intended to overcome problems in teaching learning process. The subjects of this study were 10 students from XI IPS, which consist of 4 male students and 6 females. This study was conducted in two phases, with a reflection on the actions given at the end of each. In this study, data was collected through documentation, interviews, and observation. Based on the findings and discussions, it is reasonable to conclude that: The application of the discovery learning model can improve sociology learning outcomes of students in XI Social Sciences at SMA PGRI Kupang with the detail percentages of each phase. First phase with 30% at the first meeting and 50% at the second meeting, and . In the second Phase, 70% in first meeting and 90% in the Very Good category. Keywords: Discovery Learning Model. Learning Outcomes. Sociology PENDAHULAN Pendidikan merupakan faktor penting dalam menciptakan kondisi suatu negara, karena pendidikan memiliki andil yang besar terhadap kemajuan bangsa baik secara ekonomi maupun Hal ini sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 tentang sistem pendidikan nasional. E-ISSN: 3026-6416 isinya yaitu pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Anonim, 2. Pendidikan bukan hal asing lagi bagi kita semua, karena pendidikan sudah menjadi hal yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang mampu mendukung dimasa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problem kehidupan yang dihadapinya (Trianto, 2. Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berimplikasi pada tingkat kemajuan suatu bangsa. Kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas guru. Sebaik apapun kurikulum yang ada, tetapi bila mutu guru masih belum memadai maka pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan harapan. Maka dari itu, guru merupakan kunci utama untuk meningkatkan mutu pendidikan. Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi proses pembelajaran dalam kelas sebagai unsur dari suatu keberhasilan Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah proses pengajaran. Pengajaran yang baik adalah pengajaran yang merangkul pengalaman belajar tanpa batas mengenai bagaimana gagasan dan emosi berinteraksi dengan suasana kelas dan bagaimana keduanya dapat berubah sesuai suasana yang juga turut berinteraksi (Bruce Joyce, 2. Proses ini tidak terlepas dari adanya guru. Menurut (Purwanto 2. Auguru adalah orang yang diserahi tanggung jawab sebagai pendidik didalam lingkungan sekolahAy. Guru mempunyai peranan penting dalam menciptakan pembelajaran yang baik dan ekfektif. Salah satu diantaranya adalah penggunaan model pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa disekolah. Berdasarkan hasil observasi di SMA Swasta PGRI Kupang oleh peneliti sekaligus sebagai guru mata pelajaran sosiologi bahwa masih banyak siswa yang belum memenuhi KKM, masih banyak kekurangan dalam proses pembelajaran. Saat proses belajar mengajar sebagian siswa mengalami kesulitan dalam pemahaman konsep, karena tidak terdorong untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya. Dalam proses belajar mengajar sebagian besar materi disampaikan dengan menggunakan model ceramah dan tanya jawab sehingga siswa kurang antusias dalam pembelajaran dan kurang memahami materi. Selain itu siswa cenderung pasif, kurang percaya diri jika diberi kesempatan untuk bertanya, jika melakukan kesalahan siswa akan cenderung putus asa, dan takut membuat kesalahan jika diminta menyampaikan pendapat serta kebanyakan siswa meniru PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN jawaban dari jawaban siswa lain jika diberi pertanyaan. Dalam pembelajaran ini konsep yang diterima siswa hampir semuanya berasal dari apa yang dikatakan oleh guru. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa setiap tahunnya melalui ujian nilai siswa masih tergolong rendah. Peningkatan hasil belajar yang baik tidak hanya didukung oleh kemauan siswa untuk mau belajar dengan baik, tetapi metode pembelajaran yang digunakan oleh guru juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satunya adalah model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran discovery learning. Menurut Menurut (Hosnan 2. Discovery Learning adalah Ausuatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapiAy. Sedangkan menurut Bruner . alam Thbroni, 2. menyebutkan AuModel pembelajaran Discovery Learning adalah metode belajar yang mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dari pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan model pembelajaran Discovery Learning adalah model pembelajaran yang berfokus pada siswa dengan penemuan masalahmasalah yang berasal dari pengalaman- pengalaman kemudian untuk dianalisis dan ditarik Menurut Yunus Abidin . Penemuan . merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam prosespembelajaran. Sund . alam Roestiyah, 2012:. Juga mengatakan Discovery adalah peroses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau perinsip. proses mental yang di maksud, antara lain mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Penggunaan model pembelajaran sangat diutamakan guna menimbulkan gairah belajar, motivasi belajar, merangsang siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran dirancang untuk tujuan-tujuan tertentu, pengajaran konsep-konsep informasi, cara-cara berfikir, studi nilai-nilai sosial, dan sebagainya dengan meminta siswa untuk terlibat aktif dalam tugas-tugas kognitif dan sosial tertentu (Miftahul Huda 2. Melalui model pembelajaran Discovery Learning diharapkan dapat lebih PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN mempermudah pemahaman materi pelajaran yang diberikan dan nantinya dapat mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang selanjutnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian tentang pembelajaran Discovery Learning, telah diteliti oleh peneliti sebelumnnya yaitu peneliti (Tabun, 2. AuJudul Penilitian Model pembelajaran Discovery Learning melalui tanya jawab , diskusi kelompok dan penugasan dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi materi pembelajaran kelompok sosial kelas XI-IIS-1 DI SMA NEGERI 3 KUPANG TIMUR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Discovery learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sosiologi kelas XI IIS-1 SMA Negeri 3 Kupang Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery learning pada mata pelajaran sosiologi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Kelompok Sosial. Sedangkan Peneliti Selanjutnya (Medianty, 2. , dengan judul penilitianAy Penerapan Model Discovery Learning Dengan Menggunakan Media Vidio Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA 1 SMAN 1 Kota Bengkulu. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Discovery Learning menggunakan media video terbukti mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia siswa. METODE Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penilitian ini adalah Penilitian Tindakan Kelas (PTK) Penelitian tindakan kelas adalah peneliti yang dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran Penelitian tindakan kelas ini dipilih karena penulis ingin memperbaiki proses pembelajaran di kelas, dalam hal ini penulis ingin menerapkan model pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Swasta PGRI Kupang. Model PTK yang digunakan adalah model Kemmis dan Taggart. Pelaksanaan tindakan melalui empat tahap yakni perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tempat dan waktu penelitian Tempat Penelitian Tempat Penelitian ini dilaksanakan di SMA Swasta PGRI Kupang. Merupakan salah satu sekolah swasta yang berada Di Jl. Swakarya. No. 1 Kuanino. Kec Kota Raja. Waktu Penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu 6 bulan . atu semeste. Subjek penelitian ini adalah Guru PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN sosiologi dan Murid, di SMA Swasta PGRI Kupang. Kecamatan Kota Raja, yang berjumlah 10 siswa terdiri dari 4 siswa putra dan 6 siswa putri. Skenario Tindakan Sebelum melakukan penelitian tindakan kelas terlebih dahulu melakukan observasi ke sekolah SMA Swasta PGRI Kupang sebagai tempat penelitian ,menelaah kurikulum . sesuai dengan mata pelajaran , menyiapkan materi sebagai pokok Bahasa yang di bahas, kemudian membuat RPP (Rencana pelaksanaan pembelajara. Skenario tindakan untuk masing-masing siklus dijelaskan dibawah ini: Siklus I Perencanaan Tindakan (Plannin. Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana tindakan berupa penyiapan pembelajaran dengan Model Discovery Learning. Kegiatan yang dilakukan meliputi : Menelah kurikulum SMA dan Sederajat kelas XI semester 2 mata pelajaran sosiologi. Menentukan pembahasan materi yang akan diberikan. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. Membuat skenario pembelajaran untuk melaksanakan tindakan dengan menerpkan model pembelajaran discovery learning. Membuat instrument penilitian berupa hasil tes belajar untuk melakukan evalusi disetiap akhir . Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi siswa dikelas saat mengajar berlangsung selalu menggunakan model pembelajaran discovery learning. Menyediakan /menyiapkan alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran. Membuat alat evalusi berupa soal-soal yang disusun berdasarkan materi-materi yang telah Pelaksanaan (Actin. Mengindetifikasi kesiapan siswa untuk mengikuti mata pelajaran. Membahas materi pelajaran melalui model pembelajaran discovery learning dengan cara : Menentukan konsep-konsep yang perlu diajarkan. Mengenal dan memilih konteks yang sesuai dengan konsep. Merumuskan menjadi masalah kontekstual. PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Melaksanakan (Mengamati. Menanya, mengumpulkan, dan komunikas. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan strategi yang ia ketahui baik secara perorangan maupun kelompok. Memberikan umpan balik positif terhadap tanggapan siswa dan menekankan konsep dari materi yang di berikan. Melakukan penugasan kepada siswa sesuai dengan bahan yang telah dikembangkan baik secara individual maupun kelompok. Dengan memberikan motivasi dan menciptakan interaksi yang harmonis antara guru dan . Pada akhir siklus di berikan tes dari materi yang diajarkan. Pengamatan (Observin. Pada tahap observasi ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan: Siswa yang hadir. Banyak siswa yang memperhatikan penjelasan materi pembelajaran. Siswa yang mengajukan tanggapan dan jawaban. Siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Siswa yang tampil menyelesaikan soal. Siswa yang aktif dalam kelompoknnya. Banykannya kelompok yang melakukan diskusi yang baik. Siswa yang bertanya kepada kelompok lain. Kelompok yang dapat menyelesaikan tugas atau soal dengan benar . Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat proses pembelajaran berlangsung. Refleksi (Reflectin. Hasil yang dicapai pada saat observasi dikumpulkan dan dianalisis. Refleksi yang dimaksud adalah pengkajian terhadap keberhasilan atas siswa yang belum memahami dan menguasai materi pada siklus I dan kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk merumuskan perbaikan ketuntasan hasil belajar pada siklus II. Teknik Dan Instrumen Pengumpulan Data PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Instrumen pada penelitian ini digunakan untuk mengukur dan mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnnya lebih baik sehingga mudah diolah. Instrumen yang akan diguanakan dalam penilitian ini adalah instrument tes, yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. Dalam hal ini, suatu isntrumen dapat dikatakan baik apabila bersifat falid dan Untuk memperoleh data penelitian, maka digunakan instrumen penelitian berupa: Observasi Observasi merupakan instrument yang digunakan untuk menyimpulkan data psikomotorik dan efektif siswa. Tujuannya adalah untuk mengobservasi dan mengukur tingkat keberhasilan atau ketercapaian tujuan pembelajaran pada kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran Discovery Learning. Wawancara Wawancara merupakan sejumlah daftar pertanyaan dalam melakukan tanya jawab dengan informan untuk mendpatkan keterangan yang dibutuhkan. Teknik wawancara ini diperlukan untuk menambah data atau informasi sebelum dan sesudah penilitian dilakukan. Subyek yang diwawancarai oleh peneliti adalah siswa sebagai subyek penelitian berdasrkan pedoman wawancara, sedangkan guru sebagai pelaksana tindakan. Dokumentasi Metode dokumentasi yaitu mengumpulkan data dengan cara mencatat atau mengambil dokumen - dokumen yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, selain itu dengan melakukan pencatatan data-data yang dibutuhkan pada format yang digunakan peneliti, sehingga dapat mengembangkan materi yang terkait pada penelitian ini. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penilitian ini yaitu analisis data kualitatif dan kuantitatif yang dijabarkan sebagai berikut: Analisi Kualitatif Analisi data secara kualitatif dalam penelitian ini menggunakan analisis interaktif model miles dan Huberman dalam Salirawati, 2011, yaitu dilakukan dengan cara merefleksi hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa didalam kelas, serta bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui peristiwa, aktifitas sosial, siakp, persepsi, pemikiran orang atau peserta PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN didik secara individual maupun kelompok. Model analisis data yang dilakukan tersebut berua reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi Data Reduksi data merupakan langkah awal menganalisis data. Reduksi data adalah proses yang meliputi kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan, meringkas semua data yang diperoleh mulai dari awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan penelitian. Tujuan dari mereduksi data yaitu untuk memudahkan pemahaman terhadap data yang diperoleh. Pada tahap ini, peneliti memilih data mana yang relevan, dan kurang relevan dengan tujuan dan masalah penelitian, kemudian meringkas atau merangkum hasil observsi, wawancara, memberi kode, selanjutnya mengelompokkan sesuai dengan tema-tema yang ada sehingga menjadi bentuk yang mudah dipahami. Sehingga dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Reduksi data dalam penelitian ini akan memfokuskan pada hasil belajar siswa dan keaktifan siswa. Penyajian Data Setelah melakukan reduksi terhadap data yang dikumpulkan, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Bentuk penyajian data yang akan digunakan adalah bentuk teks-naratif. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa setiap data yang muncul selalu berkaitan erat dengan data Oleh karena itu, diharapkan setiap data bias dipahami dan tidak terlepas dari latarnya. Penyajian data ini digunakan sebagai bahan untuk menafsirkan dan mengambil simpulan yang merupakan makna terhadap data yang terkumpul dalam rangka menjawab permasalahan terlepas dari latarnya. Penyajian data ini digunakan sebagai bahan untuk menafsirkan dan mengambil simpulan yang merupakan makna terhadap data yang terkumpul dalam rangka menjawab Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi Data Langkah terakhir dalam analisis data ini adalah menarik simpulan dan verifkasi. Simpulan tersebut merupakan permaknaan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kemudian dilakukan verifikasi data agar data yang diperoleh lebih tepat dan objektif. Verifikasi atau konfirmasi yang mengarah kepada penarikan kesimpulan, merupakan kegiatan penting lainnya dari komponen analisis data. Pada tahap penarikan kesimpulan ini kegiatan yang dilakukan adalah memberikan kesimpulan terhadap data hasil penafsiran. Analisis Kuantitatif PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Analisis kuantitatif dalam penelitian ini akan digunakan untuk mengidentifikasikan berbagai dinamika kemajuan kualitas hasil belajar siswa dan penguasaan materi oleg guru. Data yang tergolong kuantitatif diperoleh melalui hasil tes pada setiap akhir siklus. Hal ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa selama diterapkannya model pembelajaran Discovery Learning pada mata pelajaran sosiologi. Keterangan: F= Frekuensi yang sedang dicari presentasennya N= Jumlah frekuensi / banyaknya individu P= Angka presentase 100% = Bilangan Tetap P = F x 100% Indikator Keberhasilan Penelitian ini dikatakan berhasil apabila keberhasilan siswa secara klasikal telah mencapai mencapai 50%. Sedangkan kriteria ketuntasan minimal pada siswa keal XI IPS di SMA Swsta PGRI Kupang adalah 75%. HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning meningkatkan hasil belajar siswa Berdasrkan hasil penilitian yang dilakukan di SMA Swasta PGRI Kupang diketahui dengana adanya penerapan model pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dalam pembelajaran sosiologi dengan pokok pembahasan konflik, kekerasaan dan perdamaian di masyarakat yang dilaksanakan dengan menggunakan LKPD pada setiap pertemuan sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang aktif. Penerapan model pembelajaran discovery learning pada mata pelajaran Sosiologi siswa kalas XI IPS SMA Swasta PGRI Kupang dapat meningkat hasil belajar. Discovery learning adalah pembelajaran mencari dan menemukan sendiri dalam sistem pembelajaran, dan guru hanya menyajikan pembelajaran tidak dalam bentuk final. Tetapi peserta didik diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan masalah Djamarah dan Zain, . Model pembelajaran discovery learning menurut Rohani . , adalah model pembelajaran yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN objek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Seperti yang diungkapkan oleh Roestiyah . , yaitu menekankan bahwa model pembelajaran discovery learning adalah suatu proses pembelajaran mental dimana siswa mengasimulasi sebuah konsep, kemudian menggolongkan. Sehingga dengan penerapan model tersebut siswa akan cenderung lebih aktif. Dalam penerapan discovery learning ini siswa lebih aktif untuk membaca dan mencari informasi, pengetahuan serta pemecahan terhadap masalah yang diberikan guru Sehingga dengan model pembelajaran tersebut siswa memiliki pengetahuan awal melalui membaca, serta ingatan dan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari jauh lebih lama dibandingkan dengan siswa memperoleh informasi hanya dengan mendengarkan ceramah dari guru. Jika siswa telah memahami suatu materi yang dipelajari maka mereka tidak perlu untuk menghapal dari materi yang telah ia pelajari sebelumnya, sehingga saat menjawab tes hasil belajar siswa hanya mengingat kembali pemahamannya terhadap materi-materi atau pengetahuan yang sudah ia baca dan ia temukan sendiri. Sehingga dengan penerapan model belajar seperti ini maka hasil belajar siswa dapat meningkat. Hasil penelitian relevan yang menunjukkan keberhasilan model pembelajaran Discovery learning Medianty, . menyatakan bahwa hasil belajar siswa meningkat dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning, adapun hasil penilitian Elvinawati . ,juga mengungkapkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning juga dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa meningkat. Sedangkan Peneliti Tabun, . , juga menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran sosiologi materi pembelajaran kelompok sosial kelas XI-IPS-1 DI SMA Negeri 3 Kupang Timur. Peningkatan hasil belajar ini diperoleh kerena adanya upaya strategi perbaikan untuk menemukan langkah-langkah dan teknik agar proses pembelajaran tersebut berlangsung lebih kondusif sehingga perhatian siswa menjadi fokus terhadap tujuan pembelajaran. Usaha yang dilakukan tersebut antara lain pemanfaatan bahan ajar yang lebih dominan jadi penerapan model pembelajaran dengan basis menemukan sendiri tersebut dapat berlangsung, kebebasan siswa dalam mengemukakan masalah yang dihadapi, mengupayakan belajar mandiri siswa ditingkatkan, serta memberdayakan efektifitas diskusi kelompok. PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Dalam pelaksaan penelitian tindakan kelas ini yang menerapkan model pembelajaran discovery learning yang efektif untuk meningkatkan hasi belajar siswa dengan metode belajar yang sifatnya mandiri dimana siswa yang cenderung lebih aktif untuk mencari dan menemukan informasi melalui bahan ajar. Akan tetapi dalam penerapan model pembelajaran discovery learning bukanlah tanpa hambatan. Mulai awal pertemuan yaitu saat siklus I dimulai sudah terlihat kendala yang dihadapi yaitu sulitnya membiasakan siswa untuk membaca buku atau bahan ajar yang ia miliki karena siswa masih terbiasa dibelajarkan oleh guru bukan siswa yang aktif, kemudian sangat sulit bagi guru untuk mengeksplorasi respon-respon siswa dan kalaupun ada siswa yang merespon harus ditunjuk mereka belum berani untuk mengangkat tangan dan menyampaikan pendapatnya, tidak hanya itu guru sangat sulit memfokuskan perhatian siswa saat proses pembelajaran sehingga saat proses belajar berlangsung siswa masih ada yang bermain kemudian saat diskusi kelompok siswa yang aktif hanya beberapa kelompok saja dan yang lainya tidak mau memperhatikan. Berdasarkan hasil temuan saat peneliti dengan menerapkan model yang di paparkan di atas bahwa dengan penerapan pembelajaran Sosiologi dengan model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar akan tetapi terlepas dari keberhasilan tesebut tentunya terdapat kendala yang menghambat namun di dalam mensukseskan pelaksanaan pembelajaran ini upaya yang dilakukan oleh guru. Guru berupaya menemukan solusi guna meminimlisir kendala yang dihadapi saat penerapan model pembelajaran tersebut sehingga pembelajaran bisa mendapatkan hasil yang Adapun upaya yang dilakukan disetiap fase pelaksanaan pembelajaran yaitu dilakukan dengan mengoptimalkan proses pembelajaran di setiapa fase pembelajaran yang dilakukan dengan sintak model pembelajaran discovery learning. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sebanyak II siklus yang terdiri dari tahap perencanan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi. Kempat tahap tersebut telah dilakukan dalam tiap kali Siklus I dan siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yaitu pertemuan pertama pemberian materi dan juga tugas dan pertemuan kedua tes akhir siklus. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar siswa terlihat dari hasil belajar siswa yang meningkat pada setiap Setelah melaksanakan model pembelajaran discovery learning pada siklus I hasil belajar meningkat hal in terlihat dari peningkatan kriteria ketuntasan yang diperoleh siswa dari para Berdasrkan keterangan di bawah ini dapat diketahui bahwa Hasil belajar yang dimilki siswa dalam megikuti pembelajaran sosiologi mengalami peningkatan pada setiap siklus. Berikut PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN peneliti sajikan perbandingan presentase rata-rata hasil belajar siswa kelas XI IPS pada pelajaran Rekaptulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II adalah sebagai berikut . Sebelum menggunakan model pembelajaran discovery learning pra siklus hasil belajar peserta didik mencapai 10%, yang dimana hanya terdapat satu orang siswa yang dapat mencapai ketuntasan hasil belajar yang sesuai dengan KKM yang ditentukan dan 9 siswa yang belum mencapai ketuntasan hasil belajar. Pelaksanaa siklus 1 dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan yang dimana siklus I pertemuan pertama. Hasil belajar siklus 1 mendapatkan mencapai 30%, yang mana hanya 3 orang siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar sesuai dengan KKM yang ditentukan. Pada pertemuan kedua siklus I terdapat 50% ketuntasan hasil belajar terdapat 5 orang siswa yang mencapai KKM yang ditentukan dan 50% atau 5 siswa yang belum mencapai ketuntasan hasil belajar sesuai dengan KKM yang ditentukan. Pelaksanaa siklus II juga dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan yang di aman pertemuan pertama siklus II hasil belajar siswa mencapai 70% atau sebanyak 7 orang siswa yang mencapai KKM. Dan pada pertemuan kedua siklus II terdapat peningkatan dari 90% atau 9 orang siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar dan 10% atau 1 orang siswa yang belum mencapai KKM yang ditentukan. Sehingga data dismpulkan bahwa Disiklus I ini peneliti melakukan penilitian dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning pada mata pelajaran sosiologi pada siklus I ini sudah terlihat kentuntasan hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan yang cukup baik dengan dua kali pertemuan dan pertemuan pertama mendapatkan 30% dan kedua 50% hasil belajar siswa masih terlihat rendah pada siklus I maka di perlukan perbaikan ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning di lajutkan pada siklus II. Pada siklus II ini sudah terlihat mengalami peningkatan yang sangat sangat tinggi dengan mencapai presentase 70 % pada pertemuan pertama dan 90% pada pertemuan kedua terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan model pemebelajaran discovery learning. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat di simpulkan bahwa Penerapan model pemebalajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Swasta PGRI Kupang. Hal ini dapat diketahui pada pertemuan pertama sebelum menggunakan model pembelajaran discovery learning hasil belajar siswa mencapai presentase PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN 10%, dan siklus 1 pertemuan pertama mencapai 30% sedangkan pada siklus 1 pertemuan kedua mencapai kategori 50%. Sedangkan pada kategori siklus II pertemuan pertama mencapai kategori 70% dan pada pertemuan kedua siklus II hasil belajar siswa meningkat hingga mencapai presentase 80% pada mata pelajaran sosiologi. (Adur, 2022. Anggraini & Asrin, 2021. Eglitis. Buntman, & Alexander, 2016. Forsey, 2014. Garcya-Carriyn. Lypez de Aguileta. Padrys, & Ramis-Salas, 2020. Luna & Winters, 2017. Mangmani, 2022. Molina & Garip, 2019. Nahak, 2022. Sastri, 2021. Scheel, 2002. Vergys Bosch. Freude, & Camps Calvet, 2. (Maswi. Syahrul, & Datuk, 2022. Syahrul, 2021. Syahrul. Arifin, & Datuk, 2021. Syahrul. Yusuf. Julyyanti. Nautu, & Arifin, 2023. Syahrul & Datuk, 2020. Zahrawati. Aras. Syahrul. Jumaisa, & Nzobonimpa, 2. DAFTAR PUSTAKA