Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume. Nomor. 2 April 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. DOI: https://doi. org/10. 59841/miftahulilmi. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/MiftahulIlmi Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta Widia Alawiyah1*. Septi Gumiandari2 Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon. Indonesia widiaalawiyah69@gmail. com1, septigumiandari@uinssc. *Penulis korespondensi: widiaalawiyah69@gmail. Abstract. The muhadoroh activity in schools should serve to enhance students' self-confidence and social interaction skills. However, many students still experience anxiety and difficulty in communicating effectively in This indicates that muhadoroh activities have not yet fully optimized their role in supporting students' personal and social development. This study aims to explore students' experiences in participating in muhadoroh, describe its contribution to increasing self-confidence, analyze its role in developing social interaction, and identify the correlation between both. The study uses a qualitative approach with a descriptive design, collecting data through interviews and observations of eight informants, including students. OSIS administrators. OSIS advisors, and the principal at SMPIT Al Bina Purwakarta. The findings show that: . nervousness decreases through habituation and repeated practice, . muhadoroh activities contribute significantly to enhancing students' self-confidence, . it strengthens social interactions through collaboration and discussion, and . there is a positive relationship between self-confidence and the quality of social interactions. This research enriches the study of experiential learning in Islamic education and is expected to serve as a reference for optimizing muhadoroh activities in schools. Keywords: Experiential Learning. Islamic Education. Muhadoroh Activity. Self-Confidence. Social Interaction Abstrak. Kegiatan muhadoroh di sekolah seharusnya berfungsi untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan interaksi sosial peserta didik. Namun, banyak siswa masih merasa cemas dan kesulitan berkomunikasi secara efektif di depan umum. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan muhadoroh belum sepenuhnya optimal dalam mendukung perkembangan pribadi dan sosial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman siswa dalam mengikuti kegiatan muhadoroh, mendeskripsikan kontribusinya terhadap peningkatan kepercayaan diri, menganalisis perannya dalam mengembangkan interaksi sosial, dan mengidentifikasi keterkaitan antara keduanya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi terhadap delapan informan, termasuk siswa, pengurus OSIS, pembina OSIS, dan kepala sekolah di SMPIT Al Bina Purwakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . rasa gugup berkurang melalui pembiasaan dan latihan, . kegiatan muhadoroh berkontribusi dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa, . memperkuat interaksi sosial melalui kerja sama dan diskusi, dan . ada hubungan positif antara kepercayaan diri dan kualitas interaksi sosial. Penelitian ini memperkaya kajian pembelajaran berbasis pengalaman dalam pendidikan Islam dan diharapkan dapat menjadi rujukan untuk mengoptimalkan kegiatan muhadoroh di sekolah. Kata kunci: Interaksi Sosial. Kegiatan Muhadoroh. Kepercayaan Diri. Pembelajaran Berbasis Pengalaman. Pendidikan Islam LATAR BELAKANG Pendidikan mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh, meliputi aspek kognitif, afektif, dan Pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan sosial, serta kemampuan komunikasi yang menjadi bekal peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat (Kisworo, 2. Kemampuan berkomunikasi, khususnya berbicara di depan umum, merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan sejak dini karena berkaitan erat dengan rasa percaya diri, keberanian menyampaikan pendapat, dan kualitas interaksi sosial peserta didik di Naskah Masuk: 17 Februari 2026. Revisi: 27 Maret 2026. Diterima: 24 April 2026. Terbit: 30 April 2026 Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta lingkungan sekolah maupun di luar sekolah (Marjuni, 2020. Syamhari, 2. Dalam pendidikan di Indonesia, kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler kerap dijadikan sarana untuk melatih berbagai aspek non-akademik peserta didik (Novita et al. Salah satu kegiatan yang memiliki peran strategis adalah muhadoroh, yakni latihan berbicara di depan umum yang sering dilakukan di sekolah berbasis keagamaan, khususnya madrasah (Lay et al. , 2. Melalui muhadoroh, peserta didik bukan hanya belajar menyampaikan gagasan, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai agama yang terkandung dalam materi yang disampaikan (Hidayatullah et al. , 2. Muhadoroh menjadi wadah pembelajaran yang bersifat aplikatif karena melibatkan pengalaman langsung. Peserta didik berlatih mempersiapkan materi, mengatur intonasi suara, menyesuaikan bahasa tubuh, serta berhadapan dengan audiens (Siti et al. , 2. Aktivitas ini sangat penting dalam membangun keterampilan komunikasi yang pada gilirannya akan meningkatkan rasa percaya diri (Kuncoro et al. , 2. Dengan kata lain, muhadoroh tidak hanya melatih kemampuan berbicara, tetapi juga mengasah aspek afektif dan sosial peserta Rasa percaya diri merupakan modal utama yang dibutuhkan peserta didik dalam proses belajar dan kehidupan sosial di sekolah (Thursan, 2. Seseorang yang memiliki tingkat percaya diri baik cenderung lebih mudah mengekspresikan pendapat, berani tampil, serta lebih siap menghadapi tantangan. Sebaliknya, rendahnya rasa percaya diri sering kali menjadi penghambat dalam proses belajar maupun interaksi sosial (Rosyida et al. , 2. Oleh karena itu, kegiatan muhadoroh dapat dilihat sebagai media pendidikan yang membantu menumbuhkan keyakinan diri peserta didik secara bertahap dan konsisten. Selain itu, muhadoroh juga berkontribusi terhadap peningkatan interaksi sosial. Saat berlatih maupun tampil, peserta didik akan berkomunikasi dengan teman sebaya, pembina, dan Situasi ini menuntut adanya kerja sama, dukungan, serta kepekaan terhadap respon orang lain. Dengan demikian, muhadoroh bukan hanya membentuk kepercayaan diri secara individual, tetapi juga memperluas kemampuan berinteraksi sosial dan membangun jejaring pertemanan di lingkungan sekolah. Nilai-nilai yang terkandung dalam materi muhadoroh, yang umumnya berhubungan dengan akhlak dan keagamaan, berperan dalam membentuk karakter mulia peserta didik (Nasywa et al. , 2. Pesan moral yang disampaikan dalam muhadoroh bukan hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga dipraktikkan dalam sikap sehari-hari, seperti menghargai guru, bersikap sopan kepada teman, dan memiliki kepedulian sosial. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki fungsi ganda: sebagai latihan berbicara dan sebagai media pendidikan karakter MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. (Yuyun et al. , 2. Di SMPIT Al Bina Purwakarta masih ditemukan sejumlah permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan muhadoroh. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan guru pembina OSIS, diketahui bahwa sebagian siswa masih menunjukkan kegugupan ketika tampil di depan umum, bahkan ada yang berupaya menghindari giliran karena merasa kurang percaya diri. Guru pembina menyatakan. AuMasih ada siswa yang enggan maju karena takut salah dan belum berani bicara di depan teman-temannya. Ay (Kutipan Wawancara dengan Pembina OSIS SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Selain itu, beberapa siswa belum mampu menyampaikan materi secara runtut dan sistematis. Seorang siswa kelas Vi mengungkapkan. AuKalau sudah di depan sering lupa urutan materi, jadi ngomongnya loncat-loncat. Ay (Kutipan Wawancara dengan Pembina OSIS SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Permasalahan juga terlihat pada aspek interaksi sosial selama persiapan kegiatan. Kerja sama antarsiswa belum berjalan optimal, ditandai dengan minimnya diskusi dan kurangnya saling memberi dukungan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan salah satu pengurus OSIS yang mengatakan. AuMasih ada yang menyiapkan sendiri-sendiri, belum semua mau saling Ay (Kutipan Wawancara dengan Pembina OSIS SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Di sisi lain, sikap audiens juga belum sepenuhnya kondusif. Beberapa siswa kurang memperhatikan saat temannya tampil, sehingga suasana menjadi kurang mendukung. Seorang siswa menyampaikan. AuKadang teman-teman masih ribut, jadi yang tampil makin grogi. Ay (Kutipan Wawancara dengan Pembina OSIS SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Kondisi ini menunjukkan perlunya kajian mendalam mengenai peran kegiatan muhadoroh dalam membentuk kepercayaan diri serta meningkatkan kualitas interaksi sosial siswa di SMPIT Al Bina Purwakarta Penelitian yang dilakukan oleh Mariana et al. dengan judul AuPeran Kegiatan Muhadhoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Peserta Didik SD Muhammadiyah InovatifAy menunjukkan bahwa kegiatan muhadoroh di SD Muhammadiyah Inovatif Mlarak mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta didik melalui latihan rutin dan pembiasaan tampil di depan umum. Namun, penelitian tersebut hanya berfokus pada aspek keberanian tanpa melihat bagaimana proses interaksi sosial terbentuk selama kegiatan berlangsung. Perbedaan ini menjadi celah bagi penelitian ini karena tidak hanya menyoroti peningkatan kepercayaan diri, tetapi juga melihat dinamika sosial siswa dalam konteks pelaksanaan muhadoroh di tingkat SMP. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada fokus kajian, yaitu sama-sama menelaah peran kegiatan muhadoroh dalam meningkatkan Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta kepercayaan diri peserta didik melalui praktik berbicara di depan umum. Namun, terdapat perbedaan mendasar. Penelitian Mariana et al. hanya menitikberatkan pada aspek keberanian dan kepercayaan diri peserta didik di jenjang sekolah dasar, tanpa mengkaji secara mendalam bagaimana proses interaksi sosial terbentuk selama kegiatan berlangsung. Sementara itu, penelitian ini tidak hanya mengkaji peningkatan kepercayaan diri, tetapi juga menganalisis dinamika interaksi sosial antarsiswa, seperti kerja sama, dukungan sosial, dan sikap audiens, dalam konteks pelaksanaan muhadoroh di jenjang SMP. Dengan demikian, penelitian ini melengkapi dan memperluas temuan sebelumnya dengan menghadirkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai peran muhadoroh dalam pembentukan aspek personal dan sosial peserta didik Kedua. Nurmartha et al. yang berjudul AuImplementasi Kegiatan Muhadharah dalam Meningkatkan Percaya Diri pada Dimensi Kreatif Siswa Kelas 4 di MIN 2 Bengkulu TengahAy menemukan bahwa muhadoroh dapat meningkatkan kreativitas dan rasa percaya diri siswa kelas 4 MIN 2 Bengkulu Tengah melalui belajar mandiri dan pemahaman materi. Meskipun demikian, penelitian tersebut berfokus pada jenjang madrasah ibtidaiyah dan belum mendeskripsikan pengalaman siswa secara mendalam. Penelitian ini berbeda karena menggali pengalaman personal siswa SMP melalui wawancara mendalam serta dampaknya pada hubungan sosial antarteman. Ketiga. Penelitian Yuyun et al. berjudul AuPenguatan Akhlak Melalui Kegiatan Muhadharah di Pondok Pesantren Entrepreneur MuhammadiyahAy menekankan bahwa muhadoroh di pondok pesantren berfungsi sebagai sarana penguatan akhlak dan pemahaman Namun penelitian tersebut tidak mengkaji keterkaitan antara muhadoroh, kepercayaan diri, dan interaksi sosial secara bersamaan. Oleh karena itu, penelitian ini mengisi kekosongan kisworo tersebut dengan menganalisis bagaimana ketiga aspek tersebut saling berhubungan dalam konteks sekolah formal tingkat SMP. Berdasarkan uraian penelitian terdahulu tersebut, dapat disimpulkan bahwa kajian mengenai muhadoroh umumnya masih terfokus pada peningkatan kepercayaan diri atau pembentukan akhlak secara terpisah. Penelitian yang secara khusus mengkaji keterkaitan antara pengalaman mengikuti muhadoroh, peningkatan kepercayaan diri, dan perkembangan interaksi sosial peserta didik di tingkat sekolah menengah pertama masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan dengan menghadirkan analisis yang lebih komprehensif mengenai peran kegiatan muhadoroh dalam membentuk aspek personal dan sosial peserta didik secara simultan. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: . menggali pengalaman peserta didik dalam mengikuti kegiatan muhadoroh, . mendeskripsikan kontribusi kegiatan muhadoroh terhadap peningkatan kepercayaan diri peserta didik, . menganalisis peran muhadoroh dalam mengembangkan interaksi sosial peserta didik, serta . menginterpretasikan keterkaitan antara kepercayaan diri dan interaksi sosial sebagai hasil keterlibatan siswa dalam kegiatan muhadoroh. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara teoritis dalam memperkaya kajian pembelajaran berbasis pengalaman dalam pendidikan Islam, serta manfaat praktis bagi sekolah dan pendidik dalam mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan muhadoroh sebagai sarana pembentukan karakter dan kemampuan sosial peserta METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam pengalaman dan makna yang diberikan peserta didik terhadap kegiatan muhadoroh. Pendekatan kualitatif dipilih karena fokus penelitian ini adalah menggali persepsi, pengalaman personal, serta kontribusi kegiatan terhadap pembentukan rasa percaya diri dan interaksi sosial (Sugiyono, 2. Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di SMPIT Al Bina Purwakarta. Subjek penelitian adalah peserta didik yang secara rutin mengikuti kegiatan muhadoroh di sekolah. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu memilih siswa yang dianggap memiliki pengalaman relevan dengan kegiatan tersebut (Sugiyono, 2. yaitu siswa kelas 82A, pengurus Organisasi Intra Sekolah (OSIS) 3 siswa yang menjadi penanggung jawab terlaksananya kegiatan muhadoroh dan pembina Osis serta Kepala Sekolah. Jumlah informan disesuaikan dengan kebutuhan hingga data mencapai titik jenuh . Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (In Depth Intervie. terhadap 8 orang menggunakan instrumen pertanyaan yang telah disusun sesuai tujuan Selain itu, peneliti juga melakukan observasi terhadap jalannya kegiatan muhadoroh, termasuk interaksi peserta dengan teman sebaya dan pembina, guna melengkapi data Dokumentasi berupa catatan lapangan turut digunakan sebagai data pendukung. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman yang meliputi tiga tahap, yaitu: reduksi data . enyeleksi dan menyederhanakan data hasil wawancara dan observas. , penyajian data . engorganisasi informasi dalam bentuk narasi atau tem. , dan penarikan kesimpulan/verifikasi . enginterpretasikan makna temuan secara menyeluru. Untuk menjaga validitas data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber dan metode Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta (Handayani et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang diperoleh melalui wawancara dan menunjukkan bahwa kegiatan muhadoroh memiliki peran dalam meningkatkan kepercayaan diri dan interaksi sosial peserta didik di SMPIT Al Bina Purwakarta. Pengalaman Peserta Didik dalam Mengikuti Muhadoroh Pengalaman peserta didik dalam mengikuti kegiatan muhadoroh menunjukkan bahwa tahap awal keterlibatan mereka ditandai oleh perasaan cemas, gugup, dan takut melakukan kesalahan saat harus berbicara di depan umum. Kondisi ini muncul karena sebagian siswa belum terbiasa tampil di hadapan audiens dan merasa khawatir akan penilaian dari teman Situasi tersebut menjadi pengalaman emosional pertama yang cukup menantang bagi peserta didik, namun sekaligus menjadi pintu awal proses pembelajaran keberanian dan pengendalian diri. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta, salah satu siswa mengungkapkan bahwa pada pengalaman pertama tampil, ia merasakan ketegangan fisik dan mental yang cukup kuat. AuWaktu pertama kali maju ke depan, tangan saya gemetar dan suara juga bergetar karena gugup,Ay ungkap siswa kelas Vi (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengalaman awal muhadoroh memunculkan respon kecemasan yang nyata, baik secara psikologis maupun fisiologis, pada diri peserta didik. Selain rasa gugup, peserta didik juga mengungkapkan kekhawatiran akan lupa materi yang akan disampaikan. Seorang siswa menyampaikan bahwa tekanan saat berada di depan audiens sering membuatnya kehilangan fokus. AuTakut lupa materi, apalagi haditsnya, jadi rasanya ingin mundur saja,Ay ujar siswa kelas Vi lainnya (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Data ini menunjukkan bahwa pengalaman awal mengikuti muhadoroh bukan hanya berkaitan dengan keberanian tampil, tetapi juga kesiapan mental dalam mengelola tekanan saat berbicara di depan umum. Meskipun demikian, pengalaman awal yang penuh kecemasan tersebut tidak bersifat Sebagian besar siswa menyatakan bahwa setelah beberapa kali mengikuti kegiatan muhadoroh, perasaan gugup mulai berkurang dan mereka menjadi lebih terbiasa tampil. AuKalau sekarang sudah lebih biasa, tidak segugup dulu,Ay ungkap salah satu siswa (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman berulang dalam muhadoroh memberikan proses MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. adaptasi yang membantu siswa mengelola kecemasan secara bertahap. Dengan demikian, pengalaman peserta didik dalam mengikuti kegiatan muhadoroh dapat dipahami sebagai proses pembelajaran emosional yang dimulai dari rasa takut dan cemas, kemudian berkembang menuju penerimaan diri dan keberanian. Tahap awal yang menantang justru menjadi fondasi penting dalam membentuk kesiapan mental siswa untuk berkembang pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, pengalaman mengikuti muhadoroh memiliki peran signifikan dalam proses pembentukan keberanian peserta didik secara bertahap. Persiapan Materi dan Latihan Persiapan materi menjadi tahap penting bagi peserta didik sebelum tampil dalam kegiatan muhadoroh karena sangat menentukan kesiapan dan kelancaran penyampaian. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar siswa menyatakan bahwa mereka melakukan persiapan melalui membaca, menghafal, serta berdiskusi dengan teman sebaya. Salah satu siswa kelas Vi mengungkapkan. AuBiasanya kami diskusi dulu sama teman dan saling memberi semangat sebelum tampilAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Pernyataan ini menunjukkan bahwa persiapan materi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga melibatkan interaksi sosial yang memberi dukungan emosional. Selain itu, keterbatasan waktu pendampingan guru mendorong siswa untuk belajar secara mandiri. Seorang siswa menyampaikan. AuGuru membimbing, tapi kadang waktunya terbatas, jadi kami harus nyiapin sendiriAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Kondisi ini membuat siswa berinisiatif melakukan latihan mandiri di rumah, baik untuk menghafal materi maupun melatih teknik Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan bahwa persiapan materi dan latihan menjadi tahap awal yang membentuk kesiapan mental dan rasa percaya diri peserta didik sebelum mengikuti pelaksanaan muhadoroh. Pelaksanaan Muhadoroh Pelaksanaan kegiatan muhadoroh menjadi pengalaman langsung bagi peserta didik dalam menghadapi situasi berbicara di depan umum. Pada tahap ini, siswa menyampaikan materi di hadapan teman sebaya dan pembina, sehingga muncul berbagai respon emosional yang dirasakan secara nyata. Berdasarkan hasil wawancara, siswa mengungkapkan bahwa saat pertama kali tampil mereka masih merasakan ketegangan. Salah satu siswa kelas Vi menyatakan. AuWaktu pertama kali maju ke depan, tangan saya gemetar dan suara juga bergetar karena gugupAy Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul Temuan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan muhadoroh menjadi momen krusial yang menguji kesiapan mental peserta didik. Selain itu, tekanan saat tampil juga berkaitan dengan kekhawatiran akan lupa materi. AuTakut lupa materi, apalagi haditsnya, jadi rasanya ingin mundur saja,Ay ungkap siswa kelas Vi lainnya (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Meskipun demikian, pengalaman tampil secara langsung membantu siswa belajar mengendalikan emosi dan menyesuaikan diri dengan situasi audiens. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan bahwa pelaksanaan muhadoroh berperan sebagai sarana pembelajaran nyata dalam melatih keberanian dan pengelolaan emosi peserta didik. Respon dan Perasaan Peserta Didik Respon dan perasaan peserta didik setelah mengikuti kegiatan muhadoroh menunjukkan adanya perubahan yang positif. Berdasarkan hasil wawancara, siswa menyatakan bahwa perasaan gugup yang dialami pada awalnya mulai berkurang setelah beberapa kali mengikuti kegiatan. Salah satu siswa kelas Vi mengungkapkan. AuKalau sekarang sudah lebih biasa, tidak segugup duluAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengalaman berulang dalam muhadoroh membantu siswa beradaptasi dan mengelola kecemasan secara bertahap. Selain berkurangnya rasa gugup, siswa juga merasakan perasaan lega dan bangga setelah berhasil menyelesaikan penampilan. Dukungan dan apresiasi dari teman sebaya turut memperkuat perasaan positif tersebut. Respon emosional ini menjadi dorongan bagi peserta didik untuk lebih percaya diri dan termotivasi mengikuti kegiatan muhadoroh pada kesempatan Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan bahwa respon dan perasaan peserta didik setelah mengikuti muhadoroh berkembang ke arah yang lebih positif sebagai bagian dari proses pembelajaran emosional yang berkelanjutan. Kontribusi Kegiatan Muhadoroh terhadap Peningkatan Kepercayaan Diri Peserta Didik Kegiatan muhadoroh memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kepercayaan diri peserta didik melalui pembiasaan berbicara di depan umum dan penguatan kesiapan Kepercayaan diri tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk melalui proses latihan, pengalaman tampil, serta evaluasi berkelanjutan yang dialami siswa dalam kegiatan Muhadoroh menjadi ruang yang memungkinkan siswa untuk belajar menghadapi ketakutan dan membangun keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. Keberanian Berbicara di Depan Umum Berdasarkan hasil wawancara, peserta didik menunjukkan peningkatan keberanian untuk berbicara di depan umum setelah rutin mengikuti kegiatan muhadoroh. Salah satu siswa kelas Vi menyampaikan. AuSekarang saya lebih berani bicara di depan kelas dan tidak terlalu takut salahAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan sikap dari rasa takut menuju keberanian dalam menampilkan diri di hadapan audiens. Pengalaman tampil secara berulang dalam kegiatan muhadoroh membuat siswa lebih terbiasa menghadapi situasi publik dan mengurangi rasa cemas saat berbicara. Kemampuan Menyampaikan Pendapat Peningkatan kepercayaan diri peserta didik juga tercermin dari kemampuan mereka dalam menyampaikan pendapat secara lisan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa merasa lebih yakin untuk mengungkapkan ide, baik dalam kegiatan muhadoroh maupun dalam pembelajaran di kelas. Seorang siswa kelas Vi mengungkapkan. AuSekarang kalau disuruh menjawab atau menyampaikan pendapat, saya lebih beraniAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang terbentuk melalui kegiatan muhadoroh berdampak pada keberanian siswa dalam berkomunikasi secara lebih luas di lingkungan sekolah. Pengendalian Rasa Gugup Kontribusi kegiatan muhadoroh terhadap kepercayaan diri peserta didik juga terlihat pada kemampuan mereka dalam mengendalikan rasa gugup. Meskipun perasaan gugup masih dirasakan, intensitasnya cenderung menurun seiring dengan pengalaman tampil yang berulang. Pembina OSIS menyampaikan bahwa perubahan tersebut terlihat dari sikap dan penampilan siswa saat berbicara. AuAnak-anak yang dulu takut, sekarang sudah mulai berani dan suaranya lebih tegas,Ay ungkap Pembina OSIS (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik mulai mampu mengelola emosi dan tampil dengan lebih tenang dan percaya diri. Dengan demikian, hasil wawancara menunjukkan bahwa kegiatan muhadoroh berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kepercayaan diri peserta didik, yang tercermin melalui keberanian berbicara di depan umum, kemampuan menyampaikan pendapat, serta pengendalian rasa gugup. Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Mengembangkan Interaksi Sosial Peserta Didik. Kegiatan muhadoroh tidak hanya berperan dalam membangun kepercayaan diri peserta didik, tetapi juga memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan kemampuan interaksi Melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan ini, peserta didik belajar berkomunikasi, bekerja sama, serta membangun hubungan sosial yang positif dengan teman sebaya. Kerja Sama dan Solidaritas Antar Peserta Didik Hasil wawancara menunjukkan bahwa kegiatan muhadoroh mendorong terjalinnya kerja sama dan solidaritas antar peserta didik, terutama pada tahap persiapan dan pelaksanaan. Peserta didik saling membantu dalam menyiapkan materi, memberikan masukan, serta memberi dukungan sebelum dan sesudah tampil. Salah satu siswa kelas Vi menyampaikan. AuKalau ada teman yang mau tampil, biasanya kami saling menyemangati dan membantu mengingatkan materiAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. hal ini menunjukkan bahwa muhadoroh menjadi sarana interaksi sosial yang memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian antar siswa. Kerja sama yang terbangun melalui kegiatan ini membantu peserta didik belajar menghargai peran orang lain serta membangun hubungan sosial yang harmonis di lingkungan sekolah. Kemampuan Berkomunikasi dengan Teman Sebaya Keterlibatan dalam kegiatan muhadoroh juga berdampak pada peningkatan kemampuan komunikasi peserta didik dengan teman sebaya. Berdasarkan hasil wawancara, siswa merasa lebih terbuka dan percaya diri dalam berinteraksi setelah mengikuti muhadoroh. Seorang siswa kelas Vi mengungkapkan. AuSekarang lebih mudah ngobrol dan menyampaikan pendapat ke teman-temanAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Pernyataan ini menunjukkan bahwa latihan berbicara di depan umum melalui muhadoroh tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi formal, tetapi juga memperkuat keterampilan komunikasi interpersonal dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berkomunikasi yang semakin baik ini membantu peserta didik membangun hubungan sosial yang lebih efektif, baik dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun dalam aktivitas nonakademik di lingkungan sekolah. Sikap Saling Menghargai dalam Interaksi Sosial Peran muhadoroh dalam mengembangkan interaksi sosial peserta didik juga terlihat dari tumbuhnya sikap saling menghargai antar siswa. Selama kegiatan berlangsung, peserta didik dibiasakan untuk mendengarkan teman yang berbicara, tidak mengganggu jalannya penyampaian, serta memberikan apresiasi setelah penampilan selesai. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. Pembina kegiatan muhadoroh menyampaikan. AuAnak-anak sekarang lebih bisa menghargai temannya yang tampil, tidak menertawakan, dan mau mendengarkan sampai selesaiAy (Kutipan Wawancara dengan Pembina OSIS SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Temuan ini menunjukkan bahwa muhadoroh berfungsi sebagai media pembelajaran sosial yang menanamkan nilai empati dan etika berkomunikasi. Kegiatan muhadoroh berperan dalam mengembangkan interaksi sosial peserta didik melalui penguatan kerja sama, peningkatan kemampuan komunikasi, serta pembentukan sikap saling menghargai dalam lingkungan sekolah. Keterkaitan antara Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik dalam Kegiatan Muhadoroh Kegiatan muhadoroh tidak hanya berdampak pada peningkatan kepercayaan diri dan interaksi sosial secara terpisah, tetapi juga membentuk keterkaitan yang saling memengaruhi antara keduanya. Keterlibatan siswa secara aktif dalam muhadoroh menciptakan pengalaman belajar sosial yang mendorong keberanian, komunikasi, serta hubungan interpersonal yang lebih positif. Kepercayaan Diri dan Keaktifan Sosial Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kepercayaan diri peserta didik berbanding lurus dengan keaktifan mereka dalam kehidupan sosial di sekolah. Siswa yang merasa lebih percaya diri setelah mengikuti muhadoroh cenderung lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi, kegiatan kelompok, serta interaksi dengan teman sebaya. Berdasarkan hasil wawancara, salah satu siswa kelas Vi mengungkapkan. AuSekarang jadi lebih berani ikut diskusi dan ngobrol sama teman-temanAy (Kutipan Wawancara dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang terbentuk melalui muhadoroh mendorong siswa untuk lebih terlibat secara sosial. Keaktifan sosial ini menjadi indikator bahwa siswa mulai merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Pengaruh Kepercayaan Diri terhadap Interaksi Sosial Kepercayaan diri yang dimiliki peserta didik memberikan pengaruh positif terhadap kualitas interaksi sosial mereka. Siswa yang lebih percaya diri cenderung mampu berkomunikasi dengan lebih terbuka, menyampaikan pendapat, serta menjalin hubungan yang lebih baik dengan teman sebaya. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa tampil dalam muhadoroh lebih mudah beradaptasi dalam situasi sosial. Seorang siswa menyampaikan. AuKalau sudah sering tampil, jadi tidak canggung lagi berinteraksi dengan temanAy (Kutipan Wawancara Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta dengan siswa kelas Vi SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri berperan sebagai modal psikologis yang memperkuat kemampuan interaksi sosial peserta didik. Muhadoroh sebagai Media Pengembangan Sosial Kegiatan muhadoroh berfungsi sebagai media yang efektif dalam mengembangkan aspek sosial peserta didik. Melalui proses persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, siswa belajar bekerja sama, saling mendukung, serta menghargai peran dan penampilan teman lainnya. Pengurus OSIS menyampaikan bahwa kegiatan muhadoroh mendorong siswa untuk lebih peduli dan terlibat secara sosial. AuAnak-anak jadi lebih saling membantu dan memperhatikan temannya yang tampilAy (Kutipan Wawancara dengan Pengurus OSIS SMPIT Al Bina Purwakarta. Purwakarta. Pukul 12. Hal ini menunjukkan bahwa muhadoroh tidak hanya melatih kemampuan individu, tetapi juga membangun iklim sosial yang positif dan Dengan demikian, keterlibatan siswa dalam kegiatan muhadoroh menjadikan kegiatan ini sebagai sarana strategis dalam mengembangkan kepercayaan diri sekaligus interaksi sosial. Muhadoroh menciptakan ruang belajar sosial yang memungkinkan siswa tumbuh secara personal dan sosial secara simultan. Pembahasan Pengalaman Peserta Didik dalam Mengikuti Muhadoroh Persiapan Materi dan Latihan Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan materi dan latihan menjadi pengalaman awal yang penting bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan muhadoroh. Proses membaca, menghafal, berdiskusi, dan latihan mandiri membantu siswa membangun kesiapan mental sebelum tampil. Temuan ini sejalan dengan pandangan Harianto . yang menyatakan bahwa persiapan yang terstruktur dalam kegiatan berbicara di depan umum dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa kontrol diri peserta didik. Selain itu, keterlibatan teman sebaya dalam proses persiapan memperkuat pengalaman belajar siswa. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang menekankan bahwa interaksi dan dukungan sosial berperan penting dalam membentuk kesiapan dan kepercayaan diri individu (Marjuni, 2. Dengan demikian, persiapan materi dan latihan tidak hanya berfungsi sebagai tahap teknis, tetapi juga sebagai proses pembelajaran sosial dan emosional. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. Pelaksanaan Muhadoroh Pelaksanaan muhadoroh menjadi pengalaman langsung yang menantang bagi peserta didik karena menempatkan mereka pada situasi berbicara di depan audiens. Rasa gugup, cemas, dan takut melakukan kesalahan yang muncul pada tahap ini menunjukkan adanya kecemasan komunikasi, sebagaimana dijelaskan oleh Syamhari . , bahwa situasi berbicara di depan umum sering memicu tekanan psikologis, terutama bagi individu yang belum terbiasa. Namun, pengalaman tampil secara langsung juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran berbasis pengalaman. Experiential learning ini memberi kesempatan pada peserta didik untuk menentukan pengalaman yang akan mereka perbaiki, membuat konsep dari pengalaman yang mereka dapatkan, dan mengembangkan keterampilan-keterampilan yang mereka ingin kembangkan (Rasyidin, 2. Oleh karena itu, pelaksanaan muhadoroh menjadi tahap penting dalam proses adaptasi psikologis siswa. Respon dan perasaan peserta didik Respon dan perasaan peserta didik setelah mengikuti muhadoroh menunjukkan perubahan ke arah yang lebih positif. Rasa gugup yang berkurang dan munculnya perasaan lega serta bangga setelah tampil menandakan adanya proses adaptasi emosional. Temuan ini sejalan dengan Rosyida et al. yang menyatakan bahwa pembiasaan tampil di depan umum dapat membantu peserta didik mengelola kecemasan dan meningkatkan kenyamanan Begitupun dengan temuan Aqilah et al. bahwa keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan berbicara di depan umum mampu menumbuhkan rasa percaya diri, memperkuat kontrol emosi, serta membangun sikap berani dalam mengekspresikan gagasan secara lisan. Perubahan respon emosional ini menunjukkan bahwa pengalaman mengikuti muhadoroh berkontribusi pada pembentukan ketahanan mental peserta didik. Dengan demikian, pengalaman muhadoroh dapat dipahami sebagai proses pembelajaran emosional yang berkelanjutan dan berperan dalam pengembangan karakter siswa. Kontribusi Kegiatan Muhadoroh terhadap Peningkatan Kepercayaan Diri Peserta Didik Keberanian berbicara di depan umum Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan muhadoroh berkontribusi signifikan dalam meningkatkan keberanian peserta didik berbicara di depan umum. Peserta didik yang sebelumnya merasa takut dan ragu untuk tampil mulai menunjukkan kesiapan dan keberanian menyampaikan materi di hadapan audiens. Keberanian ini terlihat dari kesiapan siswa untuk maju, menyampaikan hadits, serta berbicara dengan suara yang lebih Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta jelas dan terarah. Temuan ini sejalan dengan pendapat Harianto . yang menyatakan bahwa latihan berbicara secara terstruktur dan berkelanjutan dapat meningkatkan keberanian serta keyakinan diri peserta didik dalam situasi publik. Begitupun dengan temuan Aqilah et al. bahwa muhadoroh berperan sebagai wadah latihan dan membentuk kepecayaan diri serta ketahanan mental saat tampil di depan umum. Dengan demikian, muhadoroh berfungsi sebagai wahana latihan yang efektif dalam menumbuhkan keberanian berbicara di depan umum melalui pembiasaan dan pengalaman langsung. Kemampuan menyampaikan pendapat Peningkatan kepercayaan diri peserta didik juga tercermin dalam kemampuan mereka menyampaikan pendapat, baik dalam kegiatan muhadoroh maupun dalam proses pembelajaran di kelas. Peserta didik yang terbiasa tampil dalam muhadoroh menunjukkan keberanian bertanya, menjawab pertanyaan guru, serta terlibat aktif dalam diskusi. Hal ini menguatkan pandangan Marjuni . yang menyatakan bahwa kepercayaan diri merupakan modal psikologis penting yang memengaruhi partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Sejalan dengan temuan Jainudin . bahwa kemampuan menyampaikan pendapat menjadi indikator bahwa peserta didik tidak hanya berani berbicara, tetapi juga mampu mengekspresikan gagasan dan pemikirannya secara lebih terbuka. Pengendalian rasa gugup Kegiatan muhadoroh juga berkontribusi dalam membantu peserta didik mengendalikan rasa gugup saat tampil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa gugup yang dialami peserta didik pada awalnya berangsur berkurang seiring dengan rutinitas dan pengalaman mengikuti muhadoroh. Temuan ini sejalan dengan penelitian Nurmartha et al. yang menyatakan bahwa latihan berbicara dan penguasaan materi dapat membantu peserta didik mengelola kecemasan dan meningkatkan rasa percaya diri. Proses refleksi dan dukungan sosial yang terjadi selama kegiatan muhadoroh turut memperkuat kemampuan peserta didik dalam mengendalikan emosi saat berbicara di depan umum. Menurut Jainudin . bahwa lingkungan pembelajaran yang suportif dan memberikan ruang aman bagi peserta didik untuk melakukan kesalahan berperan penting dalam menurunkan tingkat kecemasan serta membangun keberanian tampil di hadapan audiens. Dengan demikian, kegiatan muhadoroh berperan sebagai sarana pembentukan kepercayaan diri yang bersifat holistik, mencakup aspek keberanian tampil, kemampuan menyampaikan pendapat, serta MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. pengendalian rasa gugup peserta didik. Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Mengembangkan Interaksi Sosial Peserta Didik Interaksi antar peserta didik Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan muhadoroh mendorong terjadinya interaksi yang lebih intens antar peserta didik. Interaksi ini terlihat pada proses persiapan materi, diskusi antarsiswa, serta komunikasi yang terjalin sebelum dan sesudah pelaksanaan muhadoroh. Melalui keterlibatan bersama dalam kegiatan tersebut, peserta didik memiliki kesempatan untuk saling berinteraksi secara aktif. Temuan ini sejalan dengan pandangan Marzuki & Haq . yang menyatakan bahwa kegiatan berbasis kelompok mampu meningkatkan frekuensi dan kualitas interaksi sosial peserta didik. Sudrajat . juga berinteraksi dan berkomunikasi adalah penyampaian menerima gagasan melalui pengirim kepada sang penerima. Dengan demikian, muhadoroh menjadi ruang sosial yang memungkinkan siswa membangun hubungan interpersonal secara alami melalui pengalaman bersama. Kerja sama dan saling menghargai Kegiatan muhadoroh juga berperan dalam menumbuhkan sikap kerja sama dan saling menghargai antar peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa saling membantu dalam mempersiapkan materi, memberi dukungan saat teman tampil, serta memberikan apresiasi setelah pelaksanaan muhadoroh. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang menekankan pentingnya kerja sama dan sikap saling menghargai dalam membentuk perilaku sosial yang positif (Marjuni, 2. Namun demikian, temuan penelitian Jainudin . menunjukkan bahwa sikap audiens yang belum sepenuhnya kondusif menjadi tantangan dalam pengembangan interaksi sosial. Oleh karena itu, diperlukan penguatan nilai disiplin dan saling menghargai agar tujuan sosial kegiatan muhadoroh dapat tercapai secara optimal. Komunikasi interpersonal Selain membangun interaksi dan kerja sama, kegiatan muhadoroh turut berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik. Melalui latihan berbicara, diskusi, dan interaksi langsung, siswa belajar menyampaikan pesan secara jelas serta merespons orang lain dengan lebih baik. Temuan ini sejalan dengan teori dukungan sosial yang menyatakan bahwa lingkungan sosial yang positif dapat meningkatkan rasa aman dan keberanian individu dalam berkomunikasi (Rahman et al. , 2. Dukungan teman sebaya dalam kegiatan muhadoroh membantu siswa merasa lebih nyaman dan percaya diri, sehingga komunikasi Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta interpersonal dapat berkembang secara lebih efektif (Mariana, 2. Dengan demikian, kegiatan muhadoroh berperan sebagai sarana pendidikan sosial yang tidak hanya melatih keterampilan berbicara, tetapi juga mengembangkan interaksi, kerja sama, dan komunikasi interpersonal peserta didik secara berkelanjutan. Keterkaitan antara Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial dalam Kegiatan Muhadoroh Kepercayaan diri dan keaktifan sosial Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kepercayaan diri peserta didik berkontribusi terhadap keaktifan sosial mereka dalam lingkungan sekolah. Peserta didik yang merasa lebih percaya diri setelah mengikuti kegiatan muhadoroh cenderung lebih berani berinteraksi, terlibat dalam diskusi, serta menjalin komunikasi dengan teman Temuan ini sejalan dengan pandangan psikologi sosial yang menyatakan bahwa kepercayaan diri menjadi salah satu faktor internal yang mendorong individu untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan sosialnya (Rosyida et al. , 2. Menurut Sudrajat . kepercayaan diri pada diri meningkat dikarenakan kemampuan dalam menyampaikan pesan yang baik dalam menyelesaikan permasalahan dan dapat meningkatkan keterampilan komunikasi. Dengan demikian, kepercayaan diri yang terbentuk melalui muhadoroh berperan sebagai modal awal bagi berkembangnya keaktifan sosial peserta Pengaruh kepercayaan diri terhadap interaksi sosial Kepercayaan diri yang dimiliki peserta didik juga berpengaruh terhadap kualitas interaksi sosial yang terjalin. Peserta didik yang lebih percaya diri menunjukkan kemampuan berkomunikasi yang lebih terbuka, tidak ragu menyampaikan pendapat, serta mampu merespons teman sebaya dengan lebih positif. Selaras dengan Social support theory, yaitu dukungan dari lingkungan sekitar dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kemampuan individu dalam mengatasi stress (Aqilah et al. , 2. Temuan ini memperkuat hasil penelitian Nurmartha et al. yang menekankan bahwa dukungan sosial dan keberanian berbicara berperan penting dalam meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik. Dalam konteks ini, kepercayaan diri berfungsi sebagai faktor penguat yang memungkinkan interaksi sosial berlangsung secara lebih efektif dan bermakna. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. Muhadoroh sebagai media pengembangan sosial Kegiatan muhadoroh dapat dipahami sebagai media pengembangan sosial yang mengintegrasikan pembentukan kepercayaan diri dan interaksi sosial peserta didik. Melalui proses persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, peserta didik belajar bekerja sama, saling mendukung, serta membangun hubungan sosial yang positif. Pandangan ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang menekankan bahwa pengalaman belajar bersama dalam lingkungan yang suportif dapat membentuk perkembangan personal dan sosial secara simultan (Kisworo, 2. Keberhasilan kegiatan Muhadharah tidak semata-mata bergantung pada aspek teknik berbicara, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh aspek psikososial yang mendukung keberhasilan serta media pengembangan (Sari, 2. Oleh karena itu, muhadoroh tidak hanya berfungsi sebagai latihan berbicara di depan umum, tetapi juga sebagai wahana pendidikan sosial yang strategis dalam pengembangan karakter peserta didik di sekolah menengah pertama. Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa kegiatan muhadoroh memiliki peran penting dalam membangun hubungan timbal balik antara kepercayaan diri dan interaksi sosial. Kedua aspek tersebut berkembang secara bersamaan melalui keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan muhadoroh, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan personal dan sosial peserta didik. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menemukan bahwa pengalaman awal peserta didik dalam mengikuti muhadoroh ditandai oleh rasa gugup, takut salah, dan kecemasan ketika pertama kali tampil, namun kondisi ini perlahan membaik seiring pembiasaan dan latihan yang berulang. ini juga memberikan kontribusi penting terhadap peningkatan rasa percaya diri siswa, terlihat dari keberanian mereka berbicara di depan umum, kemampuan mengatur suara, serta kesiapan menjawab pertanyaan guru di kelas. selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa muhadoroh berperan dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial melalui kerja sama saat mempersiapkan materi, saling memberi dukungan sebelum tampil, dan membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan teman sebaya. dan akhirnya, penelitian ini mengungkap bahwa terdapat keterkaitan erat antara kepercayaan diri dan interaksi sosial, di mana meningkatnya pemahaman materi serta keberanian tampil membuat siswa lebih mudah berinteraksi, sementara hubungan sosial yang positif memperkuat rasa percaya diri mereka dalam kegiatan muhadoroh. Peran Kegiatan Muhadoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Interaksi Sosial Peserta Didik SMPIT Al Bina Purwakarta Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan temuan. Pengumpulan data hanya dilakukan pada jumlah informan yang terbatas sehingga variasi pengalaman siswa belum tergambar secara menyeluruh. Waktu penelitian yang relatif singkat juga membuat peneliti tidak dapat mengamati perubahan perilaku peserta didik dalam jangka panjang, khususnya perkembangan kepercayaan diri dan interaksi sosial yang bersifat progresif. Selain itu, observasi pelaksanaan muhadoroh hanya dilakukan pada beberapa sesi sehingga dinamika kegiatan yang berbeda antarsesi mungkin belum sepenuhnya Penelitian ini juga tidak membahas faktor-faktor eksternal seperti pengaruh keluarga, lingkungan belajar lain, atau kepribadian siswa yang mungkin mempengaruhi hasil secara signifikan. Dengan demikian, interpretasi temuan perlu mempertimbangkan keterbatasan ruang lingkup dan durasi penelitian DAFTAR REFERENSI Aqilah. Peran kegiatan Muhadharah dalam membentuk kepercayaan diri santriwati di Pondok Pesantren Putri Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang. Global Research Innovation Journal (GREAT), 3358Ae3367. https://doi. org/10. 33558/kinerja. Handayani. Elisabeth Christiana, & Bakhrudin All Habsy. Analisis Validitas dan Reliabilitas Kuisioner Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik di SMK Teknologi dan Rekayasa. Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, 15. , 278Ae https://doi. org/10. 23887/jibk. Harianto. Metode Bertukar Gagasan dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 9. , 411Ae422. https://doi. org/10. 58230/27454312. Hidayatullah. Rizky. Saputra. , & Universitas. The Impact of Muhadharah Program on Students Ao Public speaking Skills at Islamic Centre Al-Quds . Dewan Da Ao West Sumatra. Jurnal UIN Antasari, 24. , 57Ae73. https://doi. org/10. 18592/alhadharah. Jainudin. Hamdanah, & Hidayati. Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan sebagai media membangun kepercayaan diri siswa kelas VII di MTs Nurul Zholam Kabupaten Seruyan. Jurnal Media Informatika (JUMIN), 6. , 857Ae862. Kong. The role of experiential learning on studentsAo motivation and classroom Jurnal Frontiers Psychology, 1Ae4. https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Lay. Marbun. , & Ndoa. Pengembangan Model Kegiatan Ekstrakurikuler Untuk Meningkatkan Prestasi Non-Akademik Siswa di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Kependidikan, 14. , 1017Ae1028. Mariana. Laksana. Sumaryanti. , & Qomariyah. Peran Kegiatan Muhadhoroh dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Peserta Didik SD Muhammadiyah Inovatif Mlarak. DIMAR: Jurnal Pendidikan Islam, 6. , 246Ae260. https://doi. org/10. 58577/dimar. Marjuni. Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pembinaan Karakter Peserta Didik. Al Asma : Journal of Islamic Education, 2. , 210-223. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. https://doi. org/10. 24252/asma. Marzuki. , & Haq. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Religius Dan Karakter Kebangsaan di Madrasah Tsanawiyah Al Falah Jatinangor Sumedang. Jurnal Pendidikan Karakter, 9. , 84Ae94. https://doi. org/10. 21831/jpk. Nasywa. Rose. Adinda. Talia. Azmi. Sari. Hidayah. Aryanto. Syani. Isfaeni. , & Komala. Nilai Nilai Agama dan Moral Pada Pembelajaran Teks Non Fiksi Siswa SD Inpres Pallangga Kabupaten Gowa. Panthera : Jurnal Ilmiah Pendidikan Sains Dan Terapan, 1. , 1Ae11. https://doi. org/10. 36312/panthera. 300https://ejournal. com/in php/panthera/ Novita. Nurdin. , & Munir. Peningkatan Prestasi Non Akademik dengan Pengelolaan Sarana Prasarana Pendahuluan. Jurnal Konsepsi, 13. , 160Ae168. Nurmartha. Handayani. , & SaAoadah. Implementasi Kegiatan Muhadharah dalam Meningkatkan Percaya Diri pada Dimensi Kreatif Siswa Kelas 4 di MIN 2 Bengkulu Tengah. PPSDP Undergraduate Journal of Educational Sciences, 1. , 77Ae85. Prio Kuncoro. Mujiburrohma, & Abdullah. Penerapan Metode Al Arabiyyah Baina Yadaik Dalam Pembelajaran Bahasa Arab Di MaAoHad Al Birr. Al-Isyraq:Jurnal Bimbingan. Penyuluhan. Dan Konseling Islam, 6. , 453Ae470. Rahman. Munandar. Fitriani. Karlina. , & Yumriani. Pengertian Pendidikan. Ilmu Pendidikan dan Unsur-Unsur Pendidikan. Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam, 2. , 1Ae8. Rosyida. Anjelika. , & Septiyanto. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Siswa Sekolah Dasar Melalui Permainan Bingo yang Menyenangkan dan Interaktif. Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia, 3. , 5Ae12. Rasyidin. , & Flurentin. Penerapan experiential learning untuk meningkatkan kemampuan sosial emosional pada peserta didik. Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 4. , 1Ae10. https://doi. org/10. 17977/um063. Siti. Mariyatul. Amaly. , & Zhafirah. Optimalisasi Muhadharah dalam Pembentukan Retorika Dakwah Santriwati di Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri. Risani, 43. , 1Ae17. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Sudrajat. Hidayati. , & Abdullah. Membangun keterampilan komunikasi peserta didik madrasah: Eksplorasi pelibatan kegiatan muhadharah dalam proses Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 10. , 253Ae???. https://doi. org/10. 25299/al-thariqah. Syamhari. Pembelajaran Keterampilan Berbicara Dengan Menerapkan Metode Curah Gagasan (Brainstormin. Jurnal Adabiyah. XII, 54Ae69. Thursan. Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri. Puspa Swara. Yuyun. Bakhrudin. , & Mulyono. Penguatan Akhlak Melalui Kegiatan Muhadharah di Pondok Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 8. SE-Article. , 189Ae199. https://doi. org/10. 25299/althariqah.