Model Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MTsN Sumber Bungur Pamekasan ST. Fatimah MTs Negeri Sumber Bungur Pamekasan stfatimah0708@gmail. Indari Program Studi S2 Pendidikan Ilmu Sosial dan Hukum. Universitas Negeri Surabaya ndhaindari@gmail. Dalilah Madrasah Aliyah Swasta Sumber Bungur Pakong dalilahjihan080@gmail. Abstrak Tulisan ini membahas tentang model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi siswa adalah guru 30%, faktor internal 23. 4%, fasilitas belajar 41. 4%, lingkungan 0. 032%, kecerdasan 7% bakat 43%, minat belajar 74. 76%, motivasi 0. 379%, emosional 49. Oleh sebab itu, model Jigsaw Learning digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di MTsN Sumber Bungur Pamekasan. Metode menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) deskriptif kualitatif pada 40 siswa masing-masing 21 siswa dan 19 orang siswi yang didampingi oleh 29 tim ahli guru. Hasil Jigsaw Learning menggunakan PTK menunjukkan bahwa siklus I menghasilkan motivasi belajar sebesar 69. Sedangkan pembelajaran siswa dengan siklus II mengalami peningkatan 70. Penerapan Jigsaw Learning dapat meningkatkan motivasi belajar secara siginikan pada siklus II dengan nilai rata-rata siswa Ou 68. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif. Jigsaw Learning. PTK. Motivasi Belajar Cooperative Learning Model to Increase Student Motivation at MTsN Sumber Bungur Pamekasan Abstract This article discusses cooperative learning models to increase student learning motivation. One of the factors that influence student motivation is teachers 30%, internal factors 4%, learning facilities 41. 4%, environment 0. 032%, intelligence 12. 7% talent 43%, interest in learning 74. 76%, motivation 0. 379%, emotional 49. Therefore, the Jigsaw Learning model is used to increase student learning motivation at MTsN Sumber Bungur Pamekasan. The method used descriptive qualitative Classroom Action Research (PTK) on 40 students, 21 students and 19 female students each, accompanied by a team of 29 expert The results of Jigsaw Learning using PTK show that cycle I produces learning motivation of 69. Meanwhile, student learning in cycle II experienced an increase of The application of Jigsaw Learning can significantly increase learning motivation in cycle II with an average student score of Ou 68. Keywords: Cooperative Learning. Jigsaw Learning. PTK. Motivation of Learning PENDAHULUAN Kemampuan siswa mempengaruhi keberhasilan belajar (Kapitan & Aseng. Kemampuan siswa terlihat aktif dalam kegiatan belajar pada awal proses pembelajaran (Noviyanti et al. , 2. Siswa yang memiliki kemampuan kurang aktif nampak belum siap dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, sehingga guru memberikan inovasi atau model materi (Ramanta & Widayanti, 2. Kemampuan belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu guru, internal, fasilitas atau sarana, lingkungan, kecerdasan, bakat, minat belajar, motivasi belajar, emosional, dan psikologis (Mawardi & Indayani, 2. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa dalam belajar salah satunya adalah guru dengan presentase sebesar 30%. Karena guru menjadi fasilitator dalam menentukan cara belajar dan setiap siswa mempunyai cara belajar yang berbeda (Sudiwito et al. , 2. Faktor internal mempengaruhi dari segi minat, motivasi, perhatian dan kesiapan belajar sebesar 23. 4% (Angraini. Faktor fasilitas dalam kemampuan belajar yaitu mencapai 41. 4% (Hidayana. Faktor lingkungan memberikan dampak hasil belajar yaitu 0. 032% (Berutu & Harsono, 2. Sedangkan faktor kecerdasan dalam hasil belajar siswa yaitu 12. (Pramiswari, 2. , faktor bakat juga mempengaruhi hasil belajar pada siswa sebesar 43% (Awliah, 2. , faktor minat belajar dihasilkan rata-rata sebesar 76% (Hulu & Telaumbanua, 2. , faktor motivasi belajar diperoleh nilai 379% dalam meningkatkan belajar siswa (Lukita & Sudibjo, 2. , dan emosional dalam prestasi belajar memiliki pengaruh yaitu 49. 3% (Arafa et al. , 2. Emosional siswa yang memiliki prestasi menunjukkan cepat jenuh pada saat guru menyampaikan materi. Selain itu, interaksi antara guru dan siswa menyebabkan siswa tidak percaya diri dalam mengungkapkan pertanyaan dan pendapat di dalam kelas. Namun, prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tersebut. Metode mengajar di dalam kelas menjadi faktor penyebab motivasi belajar siswa Beberapa metode belajar yang sudah diterapkan diantaranya metode kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) (Fadli & Sudarso, 2. , problem-basedlearning (PBL) (Arief et al. , 2. , (Elisabet et al. , 2. , game education (Pratiwi et , 2. , teknologi database google scholar (Salomo Leuwol et al. , 2. , media video (AlFath & Sugito, 2. , (Syaparuddin & Elihami, 2. , ice breaking (Muharrir Syahruddin et al. , 2. , teaching aids (Febrita & Ulfah, 2. U-Eco (Alfarabi, 2. , aplikasi mobile learning (Rahmat et al. , 2. Dari metode yang diterapkan tampak bahwa peningkatan motivasi belajar siswa menggunakan model pembelajaran kelompok, berbagi informasi dan pengalaman, ide, sikap serta pendapat untuk memberikan pemahaman secara mudah pada anggota kelompok belum diimplementasikan. Oleh sebab itu, model Jigsaw Learning diusulkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas ViPA di MTsN Sumber Bungur Pamekasan. Metode Jigsaw Learning disebut sebagai pembelajaran kooperatif tim ahli, dimana setiap siswa dibentuk dalam kelompok dan dihadapkan pada permasalahan yang tidak sama. Kemudian hasil diskusi kelompok dijelaskan oleh salah satu perwakilan dengan tujuan mendorong siswa aktif serta membantu dalam memahami materi pembelajaran. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) deskriptif kualitatif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian dilakukan di MTsN Sumber Bungur Pamekasan pada siswa kelas VII-IPA mata pelajaran Fisika tahun pelajaran 2015-2016. Subjek penelitian yaitu 40 siswa masing-masing 21 siswa dan 19 orang siswi yang didampingi oleh 29 tim ahli Selanjutnya, prosedur penelitian menggunakan perencanaan (RPP dan Instrume. , tindakan, observasi dan refleksi (Amin, 2. Pengumpulan data menggunakan angket terkait model Jigsaw Learning pada materi pengukuran panjang, instrumen kinerja kelompok, dan instrumen kinerja guru oleh teman sejawat. Kemudian, teknik pengumpulan data menggunakan non-sampling dengan menyebarkan angket pada model Jigsaw Learning materi Fisika yaitu pengukuran panjang. Analisis data menggunakan hasil angket dan survey pengalaman secara langsung dengan ujicoba 2 siklus. Ujicoba 2 siklus menggunakan indikator yang ditetapkan oleh PTK tentang motivasi belajar siswa (Pusvita Kartikasari et al. , 2. Gambar 1. Model Penelitian Jigsaw Learning HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil peningkatan motivasi belajar dijelaskan dalam siklus I dan siklus II. Siklus I menjelaskan bahwa pembelajaran guru memotivasi siswa dengan memberikan apersepsi berupa pertanyaan yang berkaitan dengan pengukuran panjang pada mata pelajaran Fisika. Jawaban masing-masing siswa bervariasi, kemudian guru menyampaikan inti tujuan pembelajaran. Kegiatan inti pada pembelajaran dilakukan dengan membagi kelompok kooperatif yang terdiri dari 5-6 orang. Setiap kelompok diberikan siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan kemampuan rendah. Pembentukan kelompok dilakukan sebelum proses Berdiskusi tentang pengukuran panjang alat, mistar, jangka sorong, mikrometer, skrup, dan roll meter untuk memahami konsep pengukuran. Selanjutnya, guru meminta siswa untuk melakukan kegiatan di dalam lembar kegiatan siswa (LKS) yang telah diberikan secara kelompok dan guru mengamati aktivitas siswa yang mengalami kesulitan. Pada saat diskusi, tidak semua anggota kelompok bekerja walaupun semua siswa dalam 1 kelompok. Sebagian besar kelompok bergantung pada bantuan guru dalam melakukan diskusi dan kegiatan, sehingga membutuhkan waktu yang lama dan siswa melakukan diskusi sampai selesai. Pembelajaran dilanjutkan dengan presentasi hasil kegiatan dari kelompok tim ahli yang sudah kembali pada kelompok masing-masing dan guru meminta setiap kelompok untuk mepresentasikan dari apa yang telah dilakukan, kemudian membahas hasil sesuai dengan LKS dan kelompok lainnya memberikan tanggapan. Pembelajaran dilanjutkan dengan pembimbingan siswa secara singkat untuk merumuskan kesimpulan dari materi pelajaran yang telah diterima dengan tanya jawab antara Guru memberikan penghargaan kepada masing-masing kelompok berdasarkan urutan tingkat kerjasama yang baik. Selama kegiatan belajarmengajar berlangsung, guru melakukan pengamatan pembelajaran kooperatif. Pengamatan dilakukan oleh guru mata pelajaran, hasil penilaian lembar pengamatan instrumen diperoleh hasil pengelolaan pembelajaran kooperatif pada siklus pertama sebagai berikut. Hasil pengelolaan pembelajaran kooperatif pada siklus I yaitu sebesar 69. Hal ini menunjukkan bahwa guru dalam mengelola pembelajaran kategori cukup, namun perlu ditingkatkan pada siklus berikutnya. Setiap tahap kegiatan dan pengamatan diperoleh gambaran mengenai kekurangan yang terjadi pada siklus Kekurangan pada siklus I dijadikan saran untuk direvisi pada pertemuan Hasil angket pada siklus I diperoleh nilai siswa yaitu siswa belum terbiasa dengan pembelajaran kooperatif. Selanjutnya siklus II dilakukan untuk memperbaiki hasil motivasi belajar siswa dengan tahapan sebagai berikut. Pada putaran ini dilakukan perancangan berdasarkan revisi putaran siklus I diantaranya . kemampuan guru dalam motivasi siswa, . kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif Jigsaw Learning, . kemampuan guru dalam memberikan tanggapan pada siswa, . kemampuan guru dalam membimbing siswa untuk mempersiapkan presetasi, . majemen waktu tentang materi. RPP. LKS, instrumen guru. Pada awal pembelajaran, guru memberikan motivasi siswa dengan meminta salah satu siswa maju dan guru memberikan suatu kasus, dan guru menyampaikan inti tujuan dalam pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok kooperatif yang terdiri dari 4-5 orang. Setiap kelompok harus ada yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah . enis kelamin kelas X-6 homogen, karena kelas X-6 adalah kelas putr. Kemudian guru meminta siswa melakukan kegiatan yang ada di LKS seperti yang dilakukan sebelumnya diberikan secara berkelompok dan guru mengamati aktivitas serta membimbing siswa dalam melakukan kegiatan jika mengalami kesulitan. Pembelajaran dilanjutkan dengan presentasi hasil kegiatan, dan guru meminta setiap kelompok untuk memaparkan dan diskusi hasil yang sudah dilakukan oleh siswa, kemudian siswa membahas kegiatan sesuai dengan LKS dan kelompok lainnya memberikan Guru bersama dengan siswa membuat rangkuman cara memberikan pertanyaan pada kelompok lain tentang materi yang sudah diperoleh pada Kemudian, guru memberikan penghargaan berdasarkan masingmasing kelompok sesuai urutan tingkat kerjasama yang baik dengan pujian. Selama kegiatan belajar mengajar, pengamatan dilakukan oleh guru program Hasil pengelolaan pembelajaran kooperatif pada siklus II meningkat jika dibandingkan dengan siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa guru dalam mengelola pembelajaran dengan baik. Tahapan kegiatan dan pengamatan siklus II dijelaskan sebagai berikut. guru sudah memberikan motivasi lebih baik dengan pembagian kelompok dan instruksi yang jelas, sehingga siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran. berdasarkan hasil siklus II terlihat bahwa 30 siswa tuntas dengan nilai Ou 68 dari 39 siswa, dengan demikian presentase siswa mendapatkan nilai Ou 68. Pembelajaran siswa dengan siklus II mengalami SIMPULAN Penerapan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dilakukan dengan beberapa 2 siklus. Model Jigsaw Learning digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di MTsN Sumber Bungur Pamekasan. Metode menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) deskriptif kualitatif pada 40 siswa masing-masing 21 siswa dan 19 orang siswi yang didampingi oleh 29 tim ahli guru. Hasil Jigsaw Learning menggunakan PTK menunjukkan bahwa siklus I menghasilkan motivasi belajar sebesar 69. Sedangkan pembelajaran siswa dengan siklus II mengalami peningkatan 70. Penerapan Jigsaw Learning dapat meningkatkan motivasi belajar secara siginikan pada siklus II dengan nilai rata-rata siswa Ou 68. REFERENSI