Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 MODAL DAN PELANGGENGAN KEKUASAAN ARLINDA DI DARUBIAH, BULUKUMBA CAPITAL AND PERPETRATION OF ARLINDA'S POWER IN DARUBIAH, BULUKUMBA Fadlan Akbar 1. Abu Bakar2*. Muhammad Saleh Tajuddin 3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Indonesia fadlanakbar80@gmail. com, 2*abu. bakar@uin-alauddin. id, 3Muhammad. tajuddin@uin-alauddin. ABSTRAK: Pelanggengan kekuasaan di Indonesia adalah fenomena yang jamak. Studi tentang pelanggengan banyak memberikan kesimpulan bahwa keluarga memiliki andil yang dominan. Studi ini sedikit berbeda, bahwa keluarga punya pengaruh adalah keniscayaan, namun modal dari fugur politik juga menjadi factor lain yang menentukan. Artikel ini kami uraikan secara kualitatif deskriptif dengan meminjam teori habitus, modal dan ranah sebagai alat analisis. Kami menemukan bahwa modal simbolik yang dimiliki oleh Arlinda atas pengaruh orang tuanya telah berkembang jauh menjadi modal sosial. Arlinda memiliki modal sosial yang merupakan hasil akumulasi dari modal simbolik yang ia miliki sehingga mampu melanggengkan kekuasaannya di Darubiah. Kepemimpinan Arlinda membuat nalar politik masyarakat Darubiah dalam hal kepemimpinan cenderung untuk mengesampingkan masalah gender. Kepemimpinan Arlinda ditambah pengaruh historis dimana masyarakat Darubiah yang dimekarkan dari Desa Bira juga pernah dipimpin oleh perempuan dan juga bagian dadri dinasti politik di desa tersebut di masa lalu. Kata Kunci: Modal. Habitus. Pilkades. Politik Dinasti ABSTRACT: The perpetuation of power in Indonesia is a common phenomenon. Many studies on perpetuation conclude that the family has a dominant role. This study is slightly different, that the family has influence is a necessity, but the capital of the political fugur is also another determining We describe this article in a descriptive qualitative way by borrowing the theory of habitus, capital and domain as an analytical tool. We find that the symbolic capital that Arlinda has from the influence of her parents has developed far into social capital. Arlinda's social capital, which is the result of the accumulation of her symbolic capital, has enabled her to perpetuate her power in Darubiah. Arlinda's leadership has made the political reasoning of the Darubiah community in terms of leadership tend to override gender issues. Arlinda's leadership was also influenced by the historical fact that the Darubiah community, which was expanded from Bira Village, had also been led by women and was part of a political dynasty in the village in the past. Keyword: Capital. Habitus. Pilkades. Dynastic Politics PENDAHULUAN Tulisan ini mendiskusikan tentang pelanggengan kekuasaan yang terjadi di Desa Darubiah. Bonto Bahari. Bulukumba. Sulawesi Selatan. Sekalipun studi tentang pewarisan kekuasaan telah banyak ditulis kesarjanaan Indonesia, namun studi ini masih perlu dilakukan untuk memahami bahwa keterlibatan keluarga dalam pelanggengan kekuasaan tidak menjadi faktor tunggal, tetapi modal yang dimiliki figur juga dapat menjadi faktor lain yang dapat mempengaruhi lestarinya kekuasaan. Dalam banyak studi, pelanggengan kekuasaan selalu diidentikkan dengan politik dinasti (Lagabuana. Sukri, & Haryanto, 2. , yang cenderung mempertahankan kekuasaan melalui jaringan keluarga (Kenawas, 2. , patronase, kontrol sumber daya ekonomi, dan manipulasi sistem pemilihan (Aspinall & AsAoad. , 2. Di Indonesia, upaya pelanggengan kekuasaan telah banyak dipraktikkan baik nasional maupun lokal. Pada tingkat nasional, pelanggengan kekuasaan yang paling nyata di mulai sejak era otoritarianisme rezim Soeharto (Noventari, 2. Di ranah lokal, fenomena pelanggengan kekuasaan juga telah dipraktikkan di berbagai daerah, seperti Sulawesi Selatan Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 (Rusnaedy & Purwaningsih, 2. Banten (Sukri, 2. , dan Kalimantan Tengah (Aspinall & AsAoad. Di level bawah seperti desa, fenomena pelanggengan kekuasaan melalui jaringan keluarga juga terjadi seperti di Desa Kepuh. Nganjuk (Hermansyah, 2. Desa Mangaledang Lama. Padang Lawas Utara (Siregar. Nasution, & Sihombing, 2. Desa Nyogan. Muaro Jambi (Susanti & Beriansyah, 2. , dan Desa Merah Mata. Banyuasin (Marzuki & Munandar, 2. Fenomena di atas menjelaskan bahwa pelanggengan kekuasaan politik, tidak dapat lepas dari persoalan bagaimana strategi pemimpin dalam melanggengkan masa kekuasaannya, salah satu strategi yang paling umum terjadi adalah pelanggengan kekuasaan dengan melibatkan relasi keluarga atau kerabat (Haboddin, 2. Berikut ini adalah penyebab yang jelas dari politik dinasti, sebagaimana terungkap dari temuan analisis yang dilakukan dengan mengamati fenomena sosial dan politik. Pertama, adanya upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kelanggegan kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dealam berbagai cara dan strategi yang dilakukan oleh petahana atau pemangku kebijakan agar kekuasaan tetap berada di tangannya dan keluarganya. Kedua, berusaha menutupi kekurangan dalam Fakta bahwa ada kelompok terorganisir yang telah mencapai konsensus tentang bagaimana mengganti kepemimpinan menunjukkan hal ini. Upaya tersebut dilakukan supaya kepemimpinan tetap ada dalam genggaman anggota keluarganya sehingga kekurangan-kekurangan saat ia memimpin tidak telihat ke permukaan dan publik tidak mengetahui kelemahan-kelemahan yang Ketiga, adanya keinginan membangun kekuatan politik. Hal dapat dilihat ini dari terjadinya usaha untuk mempatkan anggota keluarga atau kerabatnya pada jabatan-jabatan yang Jika usaha tersebut berhasil dilakukan maka akan terbangun kekuatan politik yang memberikan keuntungan pada dirinya. Keempat, upaya memperoleh keuntungan pribadi dan Hal ini terlihat dari strategi yang digunakan untuk mendapatkan kekuatan politik dari anggota keluarganya melalui penempatan jabatan strategis yang menjadi otoritasnya maka keuntungan personal dan keluarga dengan sendirinya akan tercapai sesuai harapan dirinya. Kelima, usaha untuk menutup peluang pihak lain mendapatkan kekuasaan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya daya upaya yang dilakukan secara sistematis membuat kerja sama politik yang menutup peluang pihak lain di luar kekerabatan masuk pada bagian dari kekuasaan politik (Dedi, 2. Di Desa Darubiah. Kabupaten Bulukumba. Sulawesi Selatan adalah contoh lain bagaimana kekuasaan dipertahankan melalui pengaruh keluarga. Namun kami juga tidak dapat mengesampingkan bahwa modal yang dimiliki Arlinda menjadi faktor lain dan berpengaruh atas pelanggengan kekuasaannya tersebut. Argumen ini sekaligus menjadi pembeda dari studi-studi yang kami kemukakan di atas. Bahwa figur yang memiliki modal politik yang baik, berkontribusi bagi pelanggengan kekuasaan yang berdampingan dengan pengaruh keluarga. Kedua hal ini tidak dapat Pengaruh keluarga tidak menjadi faktor tunggal dalam pelanggenan kekuasaan di Arlinda adalah kepala desa di Desa Darubiah selama tiga periode berturut turut, sejak tahun Terpilihnya Arlinda sebagai kepala desa dilatarbelakangi oleh ayahnya yaitu Ahmad yang merupakan kepala desa sebelumnya yang menjabat pada tahun1988-1998. Ahmad adalah sosok pemimpin yang menginisiasi pemerkaran Desa Persiapan Darubiah dari Desa Bira. Namun di tengah kepemimpinan Ahmad, ia kemudian meniggal dunia lalu digantikan oleh Camat Bontobahari. Andi Cawa Miri sebagai Plt. Kepala Desa. Baru pada tahun 2000 ketika dilakukan pemungutan suara. Arlinda terpilih menjadi kepala desa Darubiah periode 2000-2008 yang menjadi awal karir Arlinda melanggengkan kekuasaannya di Desa Darubiah. Tercatat bahwa Arlinda telah melanggengkan kekuasaannya selama 22 tahun mulai dari awal ia menjabat sebagai kepala desa tahun 2000 hingga ia tidak bisa lagi mencalonkan sebagai kepala desa tahun 2022. Pada pemilihan kepala desa (Pilkade. tahun 2014 terdapat tiga calon kepala desa yang masing-masing perempuan, lalu kejadian yang sama terulang kembali pada Pilkades tahun 2022 dimana tiga calon kepala desa adalah perempuan. Itu artinya sepeninggal Ahmad sebagai pemimpin pertama sekaligus kepala desa pria terakhir yang menjabat sebagai kepala desa, itupun dia tidak terpilih melalui proses pemungutan suara melainkan hanya ditunjuk saat pemekaran Desa Darubiah dari Desa Bira. Berbeda dengan anaknya Arlinda yang terpilih sebagai kepala desa melalui proses pemungutan suara, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa terpilihnya Arlinda dipengaruhi sosok ayahnya selaku mantan kepala desa. Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 Keterpilihan Arlinda selama tiga periode menarik bagi kami untuk mengetahui apa saja modal yang dimiliki oleh Arlinda dalam melanggengkan kekuasaannya dan bagaimana dampak dari modal politik Arlinda dalam membentuk nalar politik masyarakat di Darubiah. Bulukumba? Pertanyaan ini akan kami jawab dengan meminjam konsep Pierre Bourdieu tentang habitus, modal dan ranah. Konsep Habitus. Modal dan Arena Secara umum habitus dapat diartikan sebagai kebiasaan, penampilan atau mengarah pada pembawaan seseorang yang terkait dengan kondisi fisik tubuh. Jika artikan secara epistimologis, istilah habitus sering digunakan untuk menunjukkan komponen atau bagian sesuatu yang bersifat substansial. Perspektif kapital, kelas, dan individu ketika memilih jalan untuk mempersiapkan diri menghadapi AupertempuranAy atau praktik sosial di sebuah ranah atau arena, semuanya terkait erat dengan sistem Interaksi habitus sangat berbelit-belit, tidak mungkin dipisahkan, dan saling mempengaruhi dan menyatu (Laksana, 2. Habitus dalam pandangan Bourdieu merupakan suatu sistem melalui perpaduan struktur objektif dan sejarah pribadi, yang cenderung cair dan bertahan lama serta berperan sebagai landasan kongrit bagi perilaku-perilaku yang terstruktur dan terintegrasi secara objektif. Habitus adalah sesuatu yang bertahan lama, tetapi mempunyai kecenderungan yang dapat berganti, struktur yang dapat Di sisi lain, habitus adalah susunan yang tersusun, yaitu struktur yang distrukturisasi oleh dunia sosial (Siregar, 2. Dalam pengertian yang lebih sederhananya, habitus adalah hasil dari proses keterampilan yang berupa tindakan praktis . isadari ataupun tida. ia muncul secara alami dan tumbuh dalam lingkungan sosial tertentu (Rusnaedy, 2. Untuk memahami bagaimana habitus bekerja, dapat dilihat bagaimana masyarakat memahami posisi sosial Arlinda. Masyarakat mengaggap Arlinda sebagai anak dari orang berpengaruh. Ahmad, mantan kepala desa. Namun terlepas dari pengaruh ayahnya. Arlinda juga dianggap memiliki kemampuan dalam memimpin. Posisis sosial ini menjadi struktur yang membentuk persepsi masyarakat terhadap Arlinda. Menurut Bourdieu, habitus demikian tidak cukup untuk memastikan menang dalam pertarungan politik. Jadi habitus mesti dikombinasikan dengan modal dan arena. Dalam pandangan Bourdieu, modal adalah sekumpulan sumber kekuatan yang benar-benar dapat dipergunakan. Dalam konsep pemikiran Bourdieu modal adalah sebuah hasil pekerjaan yang terakumulasi. Modal tersebut berada dalam wujud yang AoterbendakanAo atau AomenubuhAo dalam istilah lainnya. Menurutnya modal merupakan hasil pekerjaan yang terakumulasi tersebut terjiwai dalam diri seseorang. Dalam ranah atau field dan kontestasi atau pertarungan sosial, modal menjadi penting untuk seseorang dalam memperluas jangkauan kekuasaan atau membuat perubahan struktur lingkungan atau sosialnya (Haerussaleh & Huda, 2. Dalam pemikiran Bourdieu, modal adalah alat untuk melancarkan dominasi sosial yang bertujuan untuk memengang kendali atas dirinya dan orang lain. Terdapat perbedaan di setiap pembagian modal diantara kelas tertentu. Ketika mencoba dominasi, penting bagi seorang individu untuk memiliki modal karena banyaknya modal yang dimiliki akan berbanding lurus dengan peluang yang dimiliki oleh individu tersebut, memungkinkan dengan mudah bagi suatu untuk mendominasi individu atau kelompok lainnya (Laksana, 2. Dalam pemikiran Bourdieu, setidaknya modal dapat dibedakan menjadi empat kategori, di antaranya adalah modal ekonomi . apat berupa harta, uang,), modal kultural . erupa intelektualitas, gelar akademik, dan bahas. , modal sosial . ubungan yang mempunyai nilai dengan pihak lain yang bermakna, dan jaringan ataupun koneks. dan modal simbolik . emisal prestise, kehormatan, kharisma, dan keturunan bangsawa. Kemampuan bertransisi antar bentuk merupakan salah satu modal terpenting karena memberikan kekuatan sosial dasar bagi individu (Bourdieu, 1. Konsep modal ini membantu kita untuk melacak modal apa saja yang dimiliki Arlinda sehingga mampu melanggengkan kekuasaan. Selain habitus dan modal, ranah merupakan arena kontestasi di mana setiap kontestan yang mampu melewatinya bisa mempertahankan sekaligus mengubah jalannya kekuasaan yang ada. Dalam konteks penelitian ini, ranah adalah Pilkades Darubiah yang menempatkan kontestan termasuk Arlinda mempertaruhkan modalnya. Dalam konsep yang dicetuskan oleh Bourdieu ini, ranah diilustrasikan sebagai suatu arena atau field untuk AubertarungnyaAy berdasarkan apa yang dimiliki individu atau kelompok tersebut. Mereka yang mempunyai nilai lebih dalam hal ini gabungan antara berbagai modal Aumodal khususAy. Strategi yang digunakan masing-masing individu atau kelompok memiliki caranya Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 sendiri untuk mempertahankan atau memperkuat posisinya guna memenangkan ranah di mana ia berada dibentuk dan diwarnai oleh struktur penting ini (Laksana, 2. Penempatan modal dalam suatu arena atau ranah sangat menentukan besar kecilnya presentasi individu atau kelompok, sehingga diperlukan strategi dalam hal alokasi modal dalam suatu ranah. Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mekanisme distribusi dan variasi modal, khususnya jumlah modal yang dimiliki dan struktur modalnya, menentukan hierarki ruang Di dalam masyarakat sendiri, terdapat berbagai macam arena yang seperti arena pendidikan, arena bisnis, dan yang pastinya arena politik. Jika seorang aktor ingin memenangkan pertarungan dalam sebuah arena maka aktor tersebut harus memiliki habitus dan modal yang sesuai. Apabila seseorang tidak memiliki habitus atau modal yang cukup, dipastikan mereka akan kesulitan untuk menang di arena manapun ia berkompetisi (Lagabuana. Sukri, & Haryanto, 2. METODE PENELITIAN Tulisan ini kami uraikan secara kualitatif deskriptif dalam menjelaskan bagaimana Arlinda menggunakan modalnya dalam melanggengkan kekuasaan. Data-data yang kami kumpulkan bersumber hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka. Kami melaksanakan penelitian di Desa Darubiah. Kecamatan Bonto Bahari. Kabupaten Bulukumba. Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2023, dengan mewawancarai informan kunci, seperti: Arlinda. Saidi. Bahrul. Dg. Mattara. Opu, dan Ahmad Nur. Informan ini merupakan informan yang berdomisili di Desa Darubiah dan sangat membantu memahami secara mendalam terkait dengan topik yang sedang kami teliti. Selain hasil wawancara, kami juga melakukan observasi dan studi pustaka untuk mendukung argumen-argumen Hasil studi pustaka kami cantumkan dalam tulisan ini sebagai sumber rujukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Desa Darubiah sebagai Konteks Desa Darubiah merupakan sebuah desa yang secara geografis terletak di Kecamatan Bonto Bahari. Kabupaten Bulukumba. Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Darubiah adalah salah satu dari 4 desa yang ada di Kecamatan Bonto Bahari. Kabupaten Bulukumba dengan pembagian wilayah secara administratif terbagi menjadi 3 dusun. Pergantian pemangku kebijakan di Desa Darubiah baru terjadi sebanyak 4 kali sejak desa tersebut dimekarkan dari Desa Bira. Sejak tahun 1988. Pilkades pertama baru dilaksanakan pada tahun 2000 dan Andi Arlinda keluar sebagai pemenang. Arlinda berkuasa sampai tahun 2022 setelah memengakan 3 kali Pilkades. Karena Arlinda tidak dapat mencalonkan Kembali setelah 3 periode, maka kepemimpinan di Darubiah diteruskan oleh Dewi Asniar setelah mengalahkan pesaingnya. Hasil tersebut juga mengakhiri rentetan kekuasaan dari Arlinda. Saat ini jabatan kepala dusun dipegang oleh Neno Herdiansyah selaku kepala Dusun Biralohe. Renal Erfandi selaku kepala Dusun Dauhe dan Ahmad Nur selaku kepala Dusun Kasuso. Berikut ini adalah tabel terkait dengan pergantian kepala desa di Desa Darubiah sejak tahun 1988: Tabel 1. Kepala Desa Darubiah dari Masa ke Masa Nama Jabatan Periode Ahmad. Kepala Desa Andi Cawa Miri. SH. Plt. Kepala Desa Andi Arlinda Kepala Desa Dewi Asniar. SE. Kepala Desa Modal dalam Pelanggengan Kekuasaan Arlinda Pelanggengan kekuasaan dilakukan oleh penguasa agar praktik politik dinasti dapat terus diwariskan kepada anggota keluarga ataupun kerabatnya. Genealogi politik dinasti tidak lepas dari pengalaman di masa lalu dengan sistem feodalisme dan tradisi kerajaan-kerajaan, sehinga transformasi menuju era demokrasi masih menyisahkan banyak sekali problematika (Rusnaedy, 2. Pada tingkat lokal seperti desa yang jauh dari jangkauan arus perkembangan politik membuat pelanggengan kekuasaan tumbuh subur dan menjamur dimana-mana (Hermansyah, 2017. Siregar. Nasution, & Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 Sihombing, 2021. Marzuki & Munandar, 2. Praktik mempertahankan kekuasaan tersebut dilakukan dengan berbagai macam cara agar seorang aktor politik dapat terus eksis sebagai penguasa. Di balik semua upaya-upaya tersebut diperlukan modal yang menjadi kunci dari semua praktik pelanggengan kekuasaan. Menurut Bourdieu, selain modal ekonomi terdapat juga modal sosial, modal kultural dan modal simbolik (Calhoun. LiPuma, & Postone, 1. Salah satu pembahasan utama dalam tulisan kami adalah modal yang tidak hanya berkaitan dengan masalah ekonomi tetapi banyak bagian-bagian penting yang saling berkaitan satu sama lain. Meskipun dalam praktiknya modal memiliki peranan yang penting, tetapi perlu disadari bahwa setiap modal tidak mempunyai kekuatan yang sama karena bergantung pada suatu ranah. Oleh karena itu untuk melacak modal apa saja yang dimiliki oleh Arlinda, kami mengunakan teori modal dari Bourdieu. Beragamnya jenis modal yang dikemukakan oleh Bourdieu membuat modal tidak dapat diartikan secara sederhana karena adanya perbedaan atara satu dan yang lainnya. Pada pelanggengan kekuasaan yang di lakukan oleh Arlinda, kami memulai dengan melihat sisi historis dari Desa Darubiah. Pemekaran Desa Darubiah dari Desa Bira membuat Desa Darubiah membutuhkan pemimpin yang mampu membawa desa ke arah yang lebih baik. Tetapi pada faktanya tidak berbeda dengan sebelumnya praktik pelanggengan kekuasaan yang bernuansa kekeluargaan juga terjadi di Desa Darubiah, sebagaimana di jelaskan oleh Saidi, bahwa: AuKita ambil sejarahnya dulu yah. Bira ini dulu satu, dulu juga pernah di pimpin oleh seorang wanita namanya Andi Hajinah Said, kemudian pecah artinya dimekarkan. Lalu dipimpin oleh kepala desa bernama Puang Ahmad dia itu adalah seorang kharismatik disegani oleh Jadi begitu kebiasaannya barangkali dari kebiasaan masyarakat Bira, dari seorang pemimpin Karaeng Lala, kepala desa Bira dulu kemudian dialihkan kepada istrinya. Jadi masyarakat menganggap bahwa pemimpin itu ada pada dinastinya. Pindah lagi seperti ini dari Puang Ahmad pindah lagi ke anaknya meski secara administratif Camat Bontobahari yang Tapi kan itu dulu tata kelola pemerintahan belum baik. Jadi dinasti ini dulu sudah ada sebelum dimekarkan. Jadi dia tidak merasa kaku dipimpin oleh pemimpin Ay (Saidi, 2. Dari hasil wawancara di atas dapat dikemukakan bahwa pelanggengan kekuasaan Arlinda di Desa Darubiah bermula dari proses pemekaran wilayah, yang aktor di dalamya melibatkan keluarga Arlinda, yakni Ahmad ayah dari Arlinda. Hal inilah yang tertanam dalam pikiran masyarakat bahwa kekuasaan pada saat itu tidak bisa lepas dari pengaruh Ahmad, yang tidak lain merupakan ayah dari Arlinda. Sekalipun Arlinda terpilih melalui pemilihan, namun pengaruh Ahmad sangat kuat. Ahmad kala itu dikenal sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab, tegas dan peduli terhadap wilayah, kepentingan dan keselamatan masyarakatnya (Saidi, 2. Kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan menghabiskan banyak waktu untuk turun langsung menemui masyarakat membuatnya mendapat tempat yang tersendiri di hati masyarakat. Keterpilihan Arlinda dalam kontestasi politik di Desa Darubiah memang tidak bisa dilepaskan dari sosok ayahnya. Arlinda sendiri mengakui hal tersebut sebagai salah satu faktor utama atas kemenangannya selama ini. Sebagaimana penuturan Arlinda, bahwa: AuSaya tidak bisa mengesampingkan bahwa saya terpilih karena bapak saya. Saya kan, bapak ku dulu disiplin dan karena kharismanya saya punya bapak. Ay (Arlinda, 2. Berdasarkan penuturan langsung dari Arlinda, diperoleh sebuah gambaran tentang bagaimana besarnya peran sosok orang tua dalam proses terpilihnya Arlinda sebagai seorang kepala desa di Desa Darubiah. Dari hasil wawancara tersebut didapatkan informasi mengenai perilaku disiplin dan sosok kharismatik yang melekat pada pribadi Ahmad. Inilah yang menjadi salah satu modal Arlinda yang paling dominan. Bourdieu menyebut modal ini sebagai modal simbolik yang nantinya akan melahirkan sebuah prestise atau kemasyhuran yang melekat pada sebuah keluarga dan sebuah nama. Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 Modal tersebut dapat dengan mudah diubah kembali menjadi modal lainnya, mungkin merupakan bentuk akumulasi paling berharga dalam suatu masyarakat (Bourdieu, 1. Arlinda adalah seorang aktor politik yang diberkati atas keistimewaan yang berasal dari ayahnya sebagai simbol di mata masyarakat, dan selain itu pengaruh keluarga terus menjadi modal utama yang melanggengkan kekuasaan Arlinda. Informasi dari Bahrul semakin membenarkan bahwa peran keluarga dalam karir politik Arlinda sangat menentukan. Seperti yang diutarakan oleh Bahrul. AuArlinda itu bisa terpilih karena faktor kekeluargaan dan berlindung di balik nama orang Utamanya dia punya keluarga banyak dan bapaknya juga dulu kepala desa. Ay (Bahrul. Pada masa itu jabatan kepala desa memang bukanlah jabatan yang dapat dijadikan sebagai profesi yang menentukan masa depan, sehingga dinasti terus berlanjut karena tidak adanya yang tertarik dengan jabatan ini. Sebagaimana yang utarakan oleh Arlinda, bahwa: AuNda ada laki laki yang mau mencalonkan diri adek. Tau kan gajinya kepala desa berapa. Sementara orang kalau sudah berumah tangga kan berapa gajinya nda cukup kalau sudah berumah tangga. Dana desa kan terpisah juga. Barupi saya periode ke tiga baru gaji 3 juta. Dulu kan cuma pengabdian betul itu, nanti saya masuk periode ke tiga baru ada gaji. Karena kita pikir juga itu kalau laki-laki jadi kepala desa apa yang mau dia makan. Ay (Arlinda, 2. Dari hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa kekuasaan kepala desa pada periode sebelumnya di masa Arlinda memang hanyalah sebagai bentuk pengabdian, gaji seorang kepala desa sangat minim. Namun, seiring semakin membaiknya perhatian pemerintah pusat pada kemakmuran di tingkat desa, posisi kepala desa mula banyak dilirik, karena dari segi gaji sudah cukup menentukan kehidupan masa depan dibandingkan sebelumnya. Arlinda di mata sebagaian masyarakat selain memiliki simbol yang diwariskan dari ayahnya. Arlinda sendiri merupakan seorang pemimpin yang yang perhatian terhadap masyarakatnya, bahkan sebagian masyarakat masih mengingikan kekuasaan terus belanjut di bawah kepemimpinan Arlinda. Seperti yang di kemukakan oleh Dg. Mattara, bahwa: AuArlinda dia bagus waktu menjabat, selalu kalau ada apa apa pasti dia yang terdepan, memang baek orangnya. Seandainya dia masih bisa mencalonkan pasti masih terpilih. Ay (Mattara, 2. Dari hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa Arlinda adalah sosok pemimpin perempuan yang dianggap mampu membina dan membangun kedekatan dengan masyarakatnya, sehingga masyarakat merasakan keberadaan sosok pemimpin di tengah-tengah mereka. Bahkan Dg. Mattara mempunyai keyakinan jika Arlinda masih bisa mencalonkan sebagai kepala desa, maka dipastikan ia akan terpilih kembali. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ahmad Nur, bahwa: AuMungkin Arlinda punya kebaikan yang melekat di masyarakat sehingga bisa terpilih 3 periode, itu menurut saya. Itukan kalau ada pemilihan dan kita masih terpilih artinya kita masih disuka oleh masyarakat. Waktu dia menjabat dia juga suka turun ke masyarakatAy (Nur. Dari hasil wawancara di atas memperlihatkan bahwa 3 periode melanggengkan kekuasaan tidak terlepas dari baktinya kepada masyarakat. Ahmad Nur mengatakan bahwa Arlinda suka turun langsung ke masyarakat yang dapat diartikan sebagai adanya hubungan yang terjaga dengan baik antara dirinya sebagai pemimpin dan masyarakat. Hal ini dibenarkan oleh Arlinda, bahwa: AuKalau ekonomi dulu waktu pemilihan saya tidak keluarkan, nda ada, murni. Itu kita jadi kepala desa dek tergantung dari kita sendiri, yang penting kita bermasyarakat. Kalau Saya itu Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 dulu waktu jadi kepala desa saya datangi semua, kalau sore apa saya jalan-jalan naik motor, terus anak muda juga saya tidak ada bilang yang ini ji mau saya temani saya ratakan semua. Ay (Arlinda, 2. Kedekatan dengan masyarakat dan perlakuan Arlinda yang tidak membeda-bedakan masyarakatnya adalah suatu modal sosial yang menjadi modal selanjutnya dalam melanggengkan kekuasaannya di desa Darubiah, meskipun tidak semua masyarakat melihat baik Arlinda sebagai Modal sosial tersebut adalah akumulasi dari modal simbolik sebagai mana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ketika seseorang telah memiliki modal simbolik maka sama saja memiliki barang berharga yang dapat diubah menjadi modal lainnya. Kehadiran modal sosial yang merupakan hasil dari akumulasi modal simboliknya membuat Arlinda mendapat dorongan dari masyarakat untuk melanjutkan 3 periode kepemimpinannya. Hal itu juga tidak lepas dari hubungan sosial yang baik dan terjaga antara Arlinda dan masyarakat Darubiah. Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa modal simbolik menjadi sangat determinan bagi Arlinda karena dengan modal tersebut bisa mendapat dukungan dari kalangan masyarakat. Pembatasan masa jabatan kepala desa hanya tiga periode membuat pelanggengan kekuasaan Arlinda terpaksa terhenti. Namun Arlinda berkeyakinan untuk tetap terpilih jika tidak ada aturan yang mengatur tentang masa jabatan kepala desa. Meskipun begitu, di masa kekuasaan Arlinda tidak semua masyarakat sejalan dengan arah kepemimpinan Arlinda, bahkan kekuasaan Arlinda dianggap oleh sebagian masyarakat hanya bergantung pada nama besar orang tuannya, sehingga kekuasanya mampu bertahan selama tiga periode. Penilaian lain masyarakat menganggap Arlinda sebagai sosok pemimpin yang minim komunikasi dalam ruang keagamaan. Arlinda dan Pembentukan Nalar Politik Masyarakat Pada bagian ini kami akan memberi penjelasan mengenai dampak dari modal politik Arlinda dalam membentuk nalar politik masyarakat Darubiah tentang kepemimpinan. Topik tersebut menarik untuk digali lebih dalam karena menjadi pertanyaan besar tentang dominasi Arlinda sebagai orang nomor satu di Darubiah periode 2000-2022. Pelanggengan kekuasaan yang dilakukan oleh Arlinda selama tiga periode kenyataannya tidak membuat masyarakat Darubiah menjatuhkan pilihannya kepada sosok laki-laki pada kontestasi politik lokal yang selanjutnya. Pada Pilkades tahun 2022 terdapat 3 calon kepala desa Darubiah yang keseluruhannya adalah perempuan sehingga kembali timbul pertanyaan tentang mengapa tidak adanya calon kepala desa laki laki yang ikut dalam Pilkades. Secara historis budaya politik masyarakat Desa Darubiah tidak bisa lepas dari induknya yakni Desa Bira yang dulunya masih merupakan satu wilayah sebelum tejadi pemekaran. Adanya hubungan yang erat inilah yang membuat budaya politik masyarakat antara kedua desa tersebut tidak bisa lepas. Berdasarkan hasil wawancara dengan Saidi diperoleh bagaimana sejarah budaya politik masyarakat Darubiah yang telah memiliki pengalaman dengan kepemimpinan perempuan jauh sebelum Desa Darubiah ada. Pergantian tampuk kekuasaan dari sesama anggota keluarga juga telah terjadi sebelumnya yakni dilakukan oleh Karaeng Lala atau Andi Muh. Said Banawa yakni kepala desa pertama Desa Bira. Andi Muh Said Banawa lalu digantikan oleh istrinya sendiri yakni Andi Hajinah Said, sehingga telah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Desa Darubiah dipimpin oleh perempuan. Atas dasar memori atau pengalaman di masa lalu tersebut menjadi faktor yang menurut Saidi menjadi penyebab masyarakat Desa Darubiah terbiasa dengan praktik politik dinasti dan pemimpin perempuan. Inilah yang menjadi habitus atau kebiasaan di dalam masyarakat. Sejalan dengan Bourdieu yang mengatakan bahwa habitus merupakan produk sejarah yang terbangun setelah manusia dilahirkan dan bersosialisai dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu (Siregar, 2. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa modal politik Arlinda terbagi atas dua yakni modal simbolik dan modal sosial. Dampak dari modal simbolik yang terakumulasi menjadi modal sosial tersebut memberikan keleluasaan bagi Arlinda dalam melanggengkan kekuasaannya. Nalar politik Masyarakat Darubiah dalam memandang kepemimpinan juga erat kaitannya dengan politik dinasti jauh sebelum berdirinya Desa Darubiah menjadi desa definitif. Hal tersebut diperoleh dari penuturan Ahmad Nur, bahwa: Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 AuKalau kita lihat masalah keuangan dia (Arlind. itu tidak masuk di situ modalnya. Tapi mungkin dia punya modal dalam hal keturunan dari bapaknya. Ay (Nur, 2. Dari penjelasan tersebut didapatkan informasi bahwa Arlinda memiliki kelemahan dari segi ekonomi, sehingga modal ekonomi tidak memiliki andil yang signifikan dalam pelanggengaan Masyarakat lebih melihat dari mana Arlinda berasal, dengan kata lain asal usul keturunan seorang pemimpin sangat diperhitungkan oleh masyarakat Darubiah. Sosok kharismatik yang pernah memimpin Desa Darubiah periode 1988-1998 telah menjadi alasan tersendiri bagi masyarakat Darubiah dalam memilih Arlinda sebagai pemimpin. Masyarakat Desa Darubiah cenderung melihat pemimpin tidak dari gendernya tetapi lebih dekat kepada hubungan sosial antara pemimpin dan masyarakat. Kepribadian pemimpin yang memiliki kedekatan dengan masyarakat dinilai mampu melebur dalam kehidupan sosial, sebagaimana penuturan dari Dg. Mattara, bahwa: AuKalau kita mau memilih kepala desa kita lihat dari segi pergaulannya, kalau tidak bermasyarakat saya tidak mau pilih. Kita lihat dulu orangnya tidak peduli laki-laki atau perempuan karena sama saja. Ay (Mattara, 2. Berdasarkan penuturan dari Dg. Mattara dapat dijelaskan bahwa sosok pemimpin yang menjadi pilihan masyarakat Darubiah adalah yang mempuni dari segi pergaulan dan hubungan sosial kepada masyarakat. Diperoleh juga informasi bahwa masyarakat Desa Darubiah tidak mempersoalkan masalah gender antara laki-laki dan perempuan namun kemampuan untuk terjun langsung dan melebur dalam masyarakat menjadi penilaian tersendiri. Dalam memilih pemimpin masyarakat memiliki pandangan bahwa siapa saja bisa menjadi pemimpin tanpa melihat gendernya terlebih dahulu. Menurut Bahrul, kriteria masyarakat Desa Darubiah dalam menilai kepemimpinan sorang kepala desa adalah harus bermasyarakat. Bahrul menambahkan bahwa komunikasi serta visi dan misi yang baik juga merupakan faktor lainnya dalam memilih pemimpin. Hal tersebut juga dapat menjadi penentu dilihat dari bagaimana komunikasi dan interaksi antara pemimpin dan masyarakat dalam melaksanakan visi misi atau programnya. Setelah itu pengambilan keputusan juga menjadi hal yang krusial karena dibutukan kebijaksanaan dari seorang pemimpin yang mengemban amanah masyarakat serta menjadi orang yang diharapkan dapat membawa kesejahteran (Bahrul, 2. Meskipun mayoritas masyarakat Darubiah tidak mempersoalkan gender antara laki-laki ataupun perempuan. Tetap saja masih ada masyarakat yang memiliki pandangan lain tentang bagaimana kepemimpinan tersebut sebaiknya dijalankan, sebagaimana Opu yang mengatakan bahwa: AuKalau ada calon laki laki atau perempuan utamanya kita kedepankan laki laki dulu, tapi kalau selaku anak sendiri dialah pasti yang saya pilih. Kalau pemimpin laki laki sering ke mesjid sering menganu saran begini bagus begini bagus. Ay (Opu, 2. Berdasarkan penjelasan dari Opu di atas dapat dikatakan bahwa ada dua faktor yang menjadi fokus tentang pandangannya terkait kepemimpian. Pertama, faktor kekeluargaan yang menjadi landasannya dalam memilih pemimpin. Opu menekankan bahwa jika anaknya yang menjadi calon sudah pasti dia akan memilihnya sehingga pilihannya dipengaruhi oleh ikatan darah atau kekerabatan. Kedua, faktor relegius atau keagamaan yang menurutnya jika kepemimpinan diberikan kepada lakilaki akan lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat melalui mimbar-mimbar masjid. Sehingga dari mimbar tersebu seorang pemimpin dapat memberi saran tentang apa yang harus dikerjakan. Terlepas dari pandangan Opu, hasil wawancara kami dengan berbagai informan di Desa Darubiah ditemukan bahwa pandangan masyarakat Darubiah tentang kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari aspek historis masyarakat Desa Darubiah di masa lalu. Sejarah tersebut telah menjadi bagian dari budaya politik masyarakat yang melihat sosok pemimpin dari dinastinya. Perspektif masyarakat Darubiah melihat pemimpin dari dinastinya ataupun garis keturunannya bukan dari ide atau gagasan seorang pemimpin. Adapun sisi positif yang didapatkan dari penelusuran peneliti yakni hampir tidak adanya praktik politik uang yang dilakukan calon kontestan dalam memperoleh Jurnal Suara Politik Vol. 4 No. 1 Juni 2025 E-ISSN: 3024-8566 Selain karena kurangnya minat masyarakat untuk memimpin desa karena mayoritas masyarakat adalah perantau, juga dipengaruhi oleh tidak adanya kalangan pengusaha yang melirik posisi kepala desa. KESIMPULAN Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam melanggengkan kekuasaannya di Darubiah. Arlinda diberkahi dengan modal simbolik yang didapatkan dari ayahnya selaku inisiator pemekaran desa, kepala desa pertama serta seorang kharismatik yang sangat disegani oleh masyarakat. Kuatnya pengaruh ayah Arlinda sebagai simbol yang melekat dalam dirinya membuat Arlinda dengan mudah melanggengakan kekuasannya. Selain itu. Arlinda memiliki modal sosial yang merupakan hasil akumulasi dari modal simbolik yang ia miliki. Ketika seorang aktor politik telah memiliki modal simbolik, maka ia sama saja memiliki barang berharga yang dapat diubah menjadi modal lainnya, dalam kasus pelanggengan kekuasaan yang dilakukan oleh Arlinda di Darubiah modal simbolik tersebut terakumulasi menjadi modal sosial. Kuatnya pengaruh dari modal sosial tidak lepas dari besaran modal sosial yang dimiliki oleh seorang aktor, semakin luas dan besar relasi dan jaringan sosialnya semakin besar pula modal sosial yang ia miliki. Inilah yang dimanfaatkan atau dipergunakan oleh Arlinda sehingga mendapat dukungan dari masyarakat untuk maju pada arena kontestasi politik Pilkades. Dampak dari modal politik Arlinda tersebut membuat nalar politik masyarakat Darubiah dalam hal kepemimpinan cenderung membuat masyarakat kurang melihat masalah gender dan lebih melihat latar belakang atau asal usul seorang pemimpin. Secara historis masyarakat Darubiah telah terbiasa dipimpin oleh pemimpin yang memiliki hubungan kekerabatan, itu telah terjadi jauh sebelum pemekaran Desa Darubiah dari Desa Bira. Mayoritas masyarakat Darubiah tidak mempersoalkan masalah gender dalam pandangannya tentang kepemimpinan. Hal lain yang menjadi perhatian paling mendasar bagi masyarakat Darubiah dalam memilih pemimpin adalah pribadi yang bermasyarakat, komunikatif dan bijaksana. Meski begitu ada juga kalangan masyarakat lebih memilih kepemimpinan sosok laki laki dengan alasan keagamaan, hal tersebut dimaksudkan agar seorang pemimpin mampu memberikan saran atau menerima masukan melalui mimbar-mimbar masjid. DAFTAR PUSTAKA