Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. No. DOI: https://doi. org/10. 47731/jipm. Pendampingan Guru TPQ dalam Pengembangan Metode Pembelajaran Tahfidz Interaktif Ramli 1. Nor Holis 2 STAI Al Mujtama. Pamekasan. Indonesia 12 Email correspondence: ramlisbc@stai-almujtama. Kata kunci: Pendampingan guru. TPQ, metode pembelajaran, tahfidz, pembelajaran interaktif Diterima: 2025-08-26 Direvisi: 2025-08-23 Terbit: 2025-09-20 Abstrak: Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) memiliki peran strategis dalam membentuk generasi Qur'ani yang memiliki kemampuan menghafal AlQur'an sejak dini. Namun demikian, tantangan dalam pembelajaran tahfidz di TPQ masih cukup kompleks, terutama terkait metode pembelajaran yang konvensional dan kurang variatif. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendampingi guru TPQ dalam mengembangkan metode pembelajaran tahfidz yang lebih interaktif dan menarik bagi santri. Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu observasi awal, pelatihan metode pembelajaran interaktif, pendampingan implementasi, monitoring, dan evaluasi. Metode yang dikembangkan meliputi penggunaan media pembelajaran digital, gamifikasi, peer teaching, dan teknik mnemonik yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam kemampuan guru mengembangkan metode pembelajaran yang Santri juga menunjukkan peningkatan motivasi belajar dan kemampuan menghafal yang lebih baik. Implementasi metode pembelajaran tahfidz interaktif memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran di TPQ, meningkatkan keterlibatan aktif santri, serta memperkuat kolaborasi antara guru dalam berbagi praktik baik Keberlanjutan program ini memerlukan dukungan manajemen TPQ dan peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan. PENDAHULUAN Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang memiliki peran fundamental dalam membina generasi muda untuk mengenal, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an. Keberadaan TPQ di tengah masyarakat Indonesia telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan Islam nonformal yang berkembang di berbagai daerah. Sebagai institusi pendidikan yang fokus pada pembelajaran Al-Qur'an. TPQ tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur'an dengan tartil, tetapi juga mengembangkan program tahfidz atau menghafal Al-Qur'an yang semakin diminati oleh masyarakat. Fenomena meningkatnya minat orang tua untuk menyekolahkan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Copyright A 2025 Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ramli & Nor Holis anaknya di lembaga yang memiliki program tahfidz menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Al-Qur'an sejak dini (Hidayah et al. , 2. Pembelajaran tahfidz di TPQ memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan pembelajaran di lembaga pendidikan formal. Santri TPQ umumnya berada pada rentang usia sekolah dasar, yaitu antara enam hingga dua belas tahun, yang merupakan masa golden age dalam perkembangan kognitif anak. Pada masa ini, anak memiliki kemampuan daya ingat yang kuat dan kemampuan menyerap informasi yang cepat, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan kemampuan menghafalnya. Namun demikian, karakteristik psikologis anak usia ini juga menuntut pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka, termasuk kebutuhan akan pembelajaran yang menyenangkan, variatif, dan tidak monoton (Mahmud et al. , 2. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak TPQ yang menggunakan metode pembelajaran tahfidz yang konvensional dan kurang bervariasi. Metode yang dominan digunakan adalah metode sorogan atau talaqqi, yaitu santri menghafal kemudian menyetorkan hafalannya kepada guru secara individual. Meskipun metode ini memiliki keunggulan dalam aspek kontrol kualitas hafalan, namun kurang memberikan ruang bagi kreativitas dan keterlibatan aktif santri dalam proses pembelajaran. Pembelajaran cenderung bersifat teacher-centered dan kurang memanfaatkan potensi interaksi antarsantri yang dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan menghafal (Sulaiman & Ismail, 2. Tantangan lain yang dihadapi oleh guru TPQ adalah terbatasnya kompetensi pedagogik dalam mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif. Sebagian besar guru TPQ adalah relawan atau tenaga pengajar yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang keguruan. Keterbatasan ini berdampak pada kemampuan guru dalam merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak, memanfaatkan media pembelajaran, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Padahal, kompetensi pedagogik guru merupakan faktor krusial yang mempengaruhi kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan (Ahmad & Tambak, 2018. Nurkholis. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuka peluang bagi pengembangan metode pembelajaran tahfidz yang lebih inovatif dan interaktif. Berbagai aplikasi dan media digital dapat diintegrasikan dalam pembelajaran untuk meningkatkan daya tarik dan efektivitas pembelajaran. Namun, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tahfidz di TPQ masih sangat terbatas, baik karena keterbatasan sarana prasarana maupun minimnya literasi digital guru. Penelitian menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran Al-Qur'an dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar santri, namun memerlukan kesiapan dan kompetensi guru yang memadai (Rahman et al. , 2021. Widiastuti & Saptono, 2. Berdasarkan analisis situasi tersebut, diperlukan upaya pendampingan yang sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi guru TPQ dalam mengembangkan metode pembelajaran tahfidz yang lebih interaktif. Pendampingan guru merupakan strategi pengembangan profesional yang efektif karena memberikan kesempatan kepada guru untuk belajar secara kontekstual, reflektif, dan kolaboratif. Melalui pendampingan, guru tidak Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 2 Ramli & Nor Holis hanya memperoleh pengetahuan teoritis tentang metode pembelajaran, tetapi juga mendapatkan dukungan dalam implementasi praktis di kelas serta feedback yang konstruktif untuk perbaikan berkelanjutan (Hidayati & Nurlaela, 2. Program pengabdian masyarakat ini dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan fokus pada pendampingan guru TPQ dalam mengembangkan metode pembelajaran tahfidz interaktif. Metode pembelajaran interaktif yang dimaksud adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif santri, memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, mengintegrasikan teknologi, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi. Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kompetensi guru TPQ dalam merancang dan mengimplementasikan metode pembelajaran tahfidz yang inovatif, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian hafalan santri. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di TPQ Al-Hidayah Bangkalan. Jawa Timur, selama enam bulan mulai dari Maret hingga Agustus 2024. Pemilihan lokasi didasarkan pada hasil survey pendahuluan yang menunjukkan bahwa TPQ tersebut memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun menghadapi kendala dalam hal metode pembelajaran yang masih konvensional. Sasaran kegiatan adalah dua puluh guru TPQ yang mengajar pada berbagai tingkatan kelas, mulai dari kelas pemula hingga kelas lanjutan tahfidz. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan participatory action research yang melibatkan guru sebagai subjek aktif dalam proses pengembangan metode pembelajaran. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, di mana guru tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif tetapi juga terlibat dalam mengidentifikasi masalah, merancang solusi, mengimplementasikan, dan mengevaluasi hasil secara bersama-sama dengan tim pengabdi (Ferrance, 2000 dalam Nurkholis, 2. Metode ini sejalan dengan prinsip pengembangan profesional guru yang menekankan pada pembelajaran berbasis praktik dan kolaborasi. Tahap pertama adalah observasi dan analisis kebutuhan yang dilakukan melalui observasi pembelajaran di kelas, wawancara dengan guru dan pengelola TPQ, serta focus group discussion dengan santri. Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi metode pembelajaran yang sedang digunakan, kendala yang dihadapi, serta potensi yang dapat Wawancara dengan guru difokuskan pada pemahaman mereka tentang metode pembelajaran tahfidz, pengalaman mengajar, serta harapan dan kebutuhan pengembangan kompetensi. Sementara itu, diskusi dengan santri bertujuan untuk menggali perspektif mereka tentang proses pembelajaran yang mereka alami, apa yang mereka sukai dan tidak sukai, serta metode belajar yang mereka anggap efektif. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa pembelajaran tahfidz di TPQ Al-Hidayah masih didominasi oleh metode talaqqi konvensional dengan pola guru membaca ayat kemudian santri mengikuti dan menghafalkan secara individual. Interaksi antarsantri sangat minimal, media pembelajaran yang digunakan hanya mushaf Al-Qur'an, dan belum ada Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 3 Ramli & Nor Holis variasi metode yang disesuaikan dengan karakteristik santri. Sebagian besar guru mengakui bahwa mereka kesulitan membuat pembelajaran lebih menarik dan mengatasi santri yang kurang termotivasi. Data ini menjadi dasar untuk merancang program pelatihan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan. Tahap kedua adalah pelatihan metode pembelajaran tahfidz interaktif yang dilaksanakan dalam bentuk workshop intensif selama tiga hari. Materi pelatihan mencakup teori pembelajaran konstruktivisme dan student-centered learning, psikologi perkembangan anak, prinsip-prinsip pembelajaran Al-Qur'an, serta berbagai metode pembelajaran interaktif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran tahfidz. Metode yang dilatihkan meliputi metode peer teaching di mana santri saling mengajar dan mengoreksi hafalan, metode gamifikasi dengan menggunakan permainan edukatif untuk memperkuat hafalan, metode mnemonik dengan teknik asosiasi dan visualisasi, serta integrasi media digital seperti aplikasi tahfidz dan video pembelajaran (Mahmud et al. , 2020. Widiastuti & Saptono, 2. Pelatihan dirancang dengan pendekatan andragogi yang mengaktifkan peserta melalui diskusi, simulasi, dan praktik langsung. Setiap peserta diminta untuk merancang lesson plan pembelajaran tahfidz dengan mengintegrasikan metode interaktif yang telah Lesson plan yang dibuat kemudian dipresentasikan dan mendapatkan feedback dari fasilitator dan sesama peserta. Proses ini penting untuk memastikan bahwa guru benarbenar memahami konsep dan mampu menerapkannya dalam konteks pembelajaran mereka. Selain itu, pelatihan juga memberikan kesempatan kepada guru untuk berbagi pengalaman dan best practices yang telah mereka lakukan, sehingga terjadi proses peer learning yang saling memperkaya (Hidayati & Nurlaela, 2. Tahap ketiga adalah pendampingan implementasi yang dilakukan selama tiga bulan pasca pelatihan. Pendampingan dilaksanakan melalui kunjungan kelas mingguan di mana tim pengabdi melakukan observasi pembelajaran, memberikan umpan balik konstruktif, dan berdiskusi dengan guru tentang kendala yang dihadapi serta strategi mengatasinya. Pendampingan juga dilakukan secara kolaboratif di mana tim pengabdi dan guru bersamasama melakukan lesson study yaitu merencanakan pembelajaran, mengobservasi pelaksanaan, dan merefleksikan hasilnya untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Model pendampingan berbasis lesson study ini terbukti efektif meningkatkan kompetensi pedagogik guru karena memberikan kesempatan untuk belajar dari praktik nyata secara reflektif (Ahmad & Tambak. Selama masa pendampingan, guru didorong untuk bereksperimen dengan berbagai metode interaktif dan melakukan refleksi terhadap efektivitasnya. Refleksi dilakukan melalui jurnal mengajar yang ditulis oleh guru setelah setiap pembelajaran, kemudian didiskusikan dalam pertemuan refleksi mingguan. Dalam pertemuan refleksi ini, guru berbagi pengalaman, tantangan, dan strategi yang berhasil, sehingga terjadi proses pembelajaran kolektif yang memperkaya repertoar metode pembelajaran semua peserta. Tim pengabdi juga memfasilitasi pembentukan komunitas praktisi guru TPQ yang dapat menjadi wadah kolaborasi dan pembelajaran berkelanjutan setelah program pendampingan berakhir. Tahap keempat adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkala untuk mengukur ketercapaian tujuan program. Instrumen yang digunakan meliputi lembar Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 4 Ramli & Nor Holis observasi pembelajaran untuk menilai implementasi metode interaktif, kuesioner untuk mengukur persepsi guru dan santri terhadap metode pembelajaran yang diterapkan, tes kemampuan menghafal untuk mengukur dampak terhadap pencapaian hafalan santri, serta dokumentasi berupa video pembelajaran dan foto kegiatan. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran komprehensif tentang dampak program (Rahman et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi program pendampingan guru TPQ dalam pengembangan metode pembelajaran tahfidz interaktif menunjukkan hasil yang menggembirakan pada berbagai Hasil observasi pembelajaran menunjukkan bahwa terjadi perubahan signifikan dalam praktik mengajar guru dari yang semula teacher-centered menjadi lebih student-centered. Sebelum program pendampingan, aktivitas pembelajaran didominasi oleh guru yang membacakan ayat dan santri mendengarkan secara pasif. Setelah pendampingan, terlihat bahwa guru mulai menggunakan berbagai metode interaktif yang melibatkan partisipasi aktif santri, seperti pembelajaran berkelompok, permainan hafalan, dan pemanfaatan media Salah satu metode yang paling banyak diadopsi oleh guru adalah metode peer teaching atau pembelajaran teman sebaya. Dalam metode ini, santri dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan secara bergantian berperan sebagai pengajar dan pembelajar. Santri yang sudah hafal mengajarkan kepada temannya yang belum hafal, kemudian saling mengoreksi dan memberikan umpan balik. Implementasi metode ini menunjukkan hasil positif dimana santri menjadi lebih aktif dan termotivasi karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran temannya. Selain itu, proses mengajarkan kepada teman sebenarnya juga memperkuat hafalan santri yang mengajar, sesuai dengan prinsip learning by teaching (Sulaiman & Ismail, 2. Metode gamifikasi juga mendapat respons yang sangat baik dari santri. Guru mengembangkan berbagai permainan edukatif yang mengintegrasikan hafalan Al-Qur'an, seperti kuis cepat tepat, puzzle ayat, tebak lanjutan ayat, dan kompetisi hafalan kelompok. Permainan-permainan ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menyenangkan, tetapi juga melatih kecepatan mengingat dan ketepatan hafalan. Penggunaan reward dan sistem poin dalam permainan juga meningkatkan motivasi intrinsik santri untuk belajar. Hal ini sejalan dengan teori motivasi yang menyatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan dan memberikan penguatan positif akan meningkatkan motivasi belajar (Mahmud et al. , 2. Teknik mnemonik dengan menggunakan asosiasi dan visualisasi juga berhasil diterapkan oleh beberapa guru, terutama untuk membantu santri menghafal ayat-ayat yang panjang atau sulit. Guru melatih santri untuk membuat asosiasi antara makna ayat dengan gambar mental atau cerita yang mudah diingat. Misalnya, untuk menghafal ayat tentang penciptaan langit dan bumi, santri diminta membayangkan proses penciptaan tersebut dalam bentuk gambar mental yang jelas. Teknik ini membantu santri memahami makna ayat sekaligus mempermudah proses menghafalnya. Penelitian menunjukkan bahwa teknik Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 5 Ramli & Nor Holis mnemonik dapat meningkatkan daya ingat jangka panjang karena menciptakan multiple encoding dalam memori (Widiastuti & Saptono, 2. Dokumentasi kegiatan pendampingan Integrasi teknologi dalam pembelajaran tahfidz juga mulai diterapkan meskipun masih dalam skala terbatas. Beberapa guru memanfaatkan aplikasi tahfidz untuk membantu santri berlatih muroja'ah atau mengulang hafalan secara mandiri di rumah. Aplikasi yang digunakan menyediakan fitur rekaman hafalan, koreksi otomatis, dan tracking progress hafalan yang membantu santri memantau perkembangan hafalannya. Guru juga menggunakan video pembelajaran yang menampilkan teknik tajwid dan hafalan dari qari profesional sebagai model pembelajaran. Meskipun tidak semua santri memiliki akses terhadap smartphone, namun bagi yang memiliki, teknologi ini terbukti sangat membantu mempercepat proses hafalan (Rahman et al. , 2. Evaluasi terhadap kemampuan guru menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam aspek perencanaan pembelajaran, implementasi metode interaktif, dan pengelolaan Hasil analisis lesson plan yang dibuat oleh guru menunjukkan bahwa guru mampu merancang pembelajaran yang jelas tujuannya, memilih metode yang sesuai dengan karakteristik santri, dan merencanakan aktivitas pembelajaran yang bervariasi. Dalam implementasinya, guru menunjukkan peningkatan kemampuan dalam memfasilitasi diskusi kelompok, memberikan instruksi yang jelas, mengelola waktu pembelajaran, dan memberikan umpan balik yang konstruktif kepada santri. Kemampuan pengelolaan kelas juga meningkat, ditandai dengan berkurangnya perilaku santri yang tidak fokus dan meningkatnya partisipasi aktif dalam pembelajaran (Hidayati & Nurlaela, 2. Dampak terhadap santri juga sangat positif, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun Dari aspek kognitif, terdapat peningkatan kemampuan menghafal yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah ayat yang berhasil dihafal dalam periode waktu Rata-rata santri mampu menghafal satu halaman Al-Qur'an dalam waktu dua minggu, lebih cepat dibandingkan sebelumnya yang membutuhkan waktu tiga hingga empat Kualitas hafalan juga meningkat, ditunjukkan dengan berkurangnya kesalahan dalam muroja'ah dan meningkatnya kemampuan santri untuk menghafal dengan tartil yang Hal ini mengindikasikan bahwa metode pembelajaran interaktif yang diterapkan efektif meningkatkan proses encoding dan retrieval informasi dalam memori santri (Mahmud et al. , 2. Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 6 Ramli & Nor Holis Dari aspek afektif, santri menunjukkan peningkatan motivasi dan antusiasme dalam mengikuti pembelajaran. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sembilan puluh persen santri menyatakan bahwa mereka lebih senang belajar dengan metode yang baru karena lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Santri juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam menghafal dan lebih berani untuk menyetorkan hafalan kepada guru. Suasana pembelajaran menjadi lebih ceria dan penuh semangat, berbeda dengan kondisi sebelumnya yang cenderung tegang dan formal. Perubahan ini sangat penting karena motivasi dan sikap positif terhadap pembelajaran merupakan prediktor kuat terhadap keberhasilan belajar jangka panjang (Sulaiman & Ismail, 2. Dari aspek psikomotor, santri menunjukkan peningkatan kemampuan dalam membaca Al-Qur'an dengan tartil. Pembelajaran interaktif yang melibatkan praktik membaca secara berkelompok dan koreksi teman sebaya membantu santri memperbaiki tajwid dan kelancaran bacaan mereka. Selain itu, melalui metode peer teaching, santri juga mengembangkan kemampuan komunikasi dan keterampilan mengajar yang berguna untuk kehidupan mereka di masa depan. Kemampuan berkolaborasi dan bekerja dalam kelompok juga meningkat, yang merupakan keterampilan penting di abad dua puluh satu (Widiastuti & Saptono, 2. Kolaborasi antarguru juga mengalami peningkatan yang signifikan selama program Melalui kegiatan lesson study dan pertemuan refleksi mingguan, guru terbiasa untuk berbagi pengalaman, berdiskusi tentang masalah pembelajaran, dan saling memberikan masukan untuk perbaikan. Kultur kolaboratif ini sangat penting untuk pengembangan profesional berkelanjutan karena menciptakan learning community di mana guru belajar dari dan bersama guru lain. Beberapa guru yang awalnya ragu untuk mencoba metode baru menjadi lebih percaya diri setelah melihat keberhasilan rekan mereka dan mendapat dukungan dari komunitas (Ahmad & Tambak, 2. Namun demikian, implementasi metode pembelajaran interaktif juga menghadapi beberapa tantangan. Tantangan pertama adalah keterbatasan waktu pembelajaran. Metode interaktif seperti peer teaching dan permainan edukatif membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan metode konvensional, sementara alokasi waktu pembelajaran di TPQ relatif Guru harus pandai mengelola waktu dan memilih metode yang paling efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tantangan kedua adalah heterogenitas kemampuan santri dalam satu kelas. Beberapa santri memiliki kemampuan menghafal yang lebih cepat sementara yang lain lebih lambat, sehingga guru perlu melakukan diferensiasi pembelajaran agar semua santri dapat berkembang optimal (Nurkholis, 2. Tantangan ketiga adalah keterbatasan sarana prasarana, terutama terkait dengan penggunaan teknologi. Tidak semua santri memiliki akses terhadap smartphone atau internet, sehingga implementasi pembelajaran berbasis aplikasi tidak dapat dilakukan secara TPQ juga memiliki keterbatasan dalam menyediakan perangkat teknologi yang dapat digunakan secara bersama-sama di kelas. Untuk mengatasi hal ini, guru perlu kreatif dalam menggunakan teknologi sederhana yang tersedia, seperti memanfaatkan speaker untuk memutar audio murotal atau menggunakan proyektor sederhana untuk menampilkan video pembelajaran (Rahman et al. , 2. Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 7 Ramli & Nor Holis Tantangan keempat adalah resistensi dari sebagian orang tua yang masih menganggap bahwa metode konvensional lebih baik dan khawatir bahwa metode baru akan mengurangi kualitas hafalan anak. Untuk mengatasi hal ini, pihak TPQ mengadakan sosialisasi kepada orang tua tentang metode pembelajaran yang diterapkan dan menunjukkan bukti peningkatan kemampuan santri. Keterlibatan orang tua juga ditingkatkan dengan memberikan panduan bagaimana mendampingi anak berlatih hafalan di rumah menggunakan metode yang sama dengan yang diajarkan di TPQ. Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua sangat penting untuk menciptakan sinergi dalam mendukung pembelajaran anak (Hidayati & Nurlaela, 2. Keberlanjutan program merupakan aspek penting yang perlu mendapat perhatian. Untuk memastikan bahwa perubahan praktik pembelajaran dapat berkelanjutan, beberapa strategi telah dilakukan. Pertama, membentuk tim inti guru yang bertugas sebagai champion atau penggerak inovasi pembelajaran di TPQ. Tim ini bertanggung jawab untuk terus mengembangkan metode pembelajaran, memberikan pelatihan kepada guru baru, dan memfasilitasi sharing session antarguru. Kedua, mengembangkan bank metode pembelajaran berupa dokumentasi berbagai metode interaktif yang telah berhasil diterapkan beserta lesson plan dan media pembelajarannya, sehingga dapat digunakan oleh semua guru. Ketiga, menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi untuk pendampingan berkelanjutan dan akses terhadap sumber-sumber pembelajaran terkini (Sulaiman & Ismail, 2. Dukungan dari pengelola TPQ juga sangat krusial untuk keberlanjutan program. Pengelola perlu menyediakan dukungan berupa alokasi waktu untuk guru melakukan pertemuan rutin, pengadaan sarana pembelajaran yang memadai, dan sistem reward bagi guru yang inovatif. Kebijakan TPQ juga perlu disesuaikan untuk memberikan ruang bagi guru dalam bereksperimen dengan metode pembelajaran baru tanpa takut melakukan Menciptakan kultur sekolah yang mendukung inovasi dan pembelajaran berkelanjutan merupakan kunci keberhasilan transformasi pembelajaran jangka panjang (Ahmad & Tambak, 2. KESIMPULAN Program pendampingan guru TPQ dalam pengembangan metode pembelajaran tahfidz interaktif telah berhasil meningkatkan kompetensi pedagogik guru dan kualitas pembelajaran di TPQ Al-Hidayah Bangkalan. Implementasi berbagai metode interaktif seperti peer teaching, gamifikasi, teknik mnemonik, dan integrasi teknologi terbukti efektif meningkatkan motivasi belajar santri, mempercepat proses hafalan, dan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan. Guru menunjukkan peningkatan kemampuan dalam merancang pembelajaran yang student-centered, memfasilitasi pembelajaran aktif, dan mengelola kelas dengan lebih efektif. Dampak positif program tidak hanya terlihat pada aspek kognitif berupa peningkatan kemampuan menghafal, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotor. Santri menunjukkan peningkatan motivasi, kepercayaan diri, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan membaca Al-Qur'an dengan tartil. Kultur kolaboratif antarguru juga berkembang dengan baik melalui kegiatan lesson study dan refleksi bersama, yang menjadi Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 8 Ramli & Nor Holis modal penting untuk pengembangan profesional berkelanjutan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan waktu, sarana prasarana, dan resistensi dari sebagian stakeholder, namun dengan strategi yang tepat, tantangan tersebut dapat diatasi. Untuk keberlanjutan program, diperlukan komitmen kuat dari semua pihak, terutama pengelola TPQ dalam menyediakan dukungan kebijakan, sarana, dan waktu bagi guru untuk terus berinovasi. Pembentukan komunitas praktisi guru, pengembangan bank metode pembelajaran, dan kerjasama dengan perguruan tinggi merupakan strategi yang dapat memastikan bahwa inovasi pembelajaran terus berkembang. Program ini memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan Al-Qur'an di tingkat grassroot dan dapat menjadi model bagi TPQ lain yang ingin mengembangkan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan efektif. Rekomendasi untuk program sejenis di masa depan adalah melibatkan orang tua santri sejak awal dalam sosialisasi dan pelatihan, sehingga tercipta sinergi antara pembelajaran di TPQ dan di rumah. Perlu juga dikembangkan modul pembelajaran tahfidz interaktif yang dapat digunakan oleh TPQ lain, serta melakukan riset lebih lanjut tentang efektivitas masingmasing metode pada kelompok santri dengan karakteristik yang berbeda. Pengembangan aplikasi atau platform digital yang khusus dirancang untuk pembelajaran tahfidz di TPQ juga dapat menjadi fokus pengembangan selanjutnya untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Al-Qur'an. DAFTAR PUSTAKA