CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal KELUARGA SEBAGAI IKON KASIH TRINITAS TELAAH TEOLOGIS PERSPEKTIF AMORIS LAETITIA DALAM MENYIKAPI TANTANGAN KONTEMPORER Oktovianus Naif1*. Yohanes Subani2. Maria Roswita Boe3. Ewaldus Yafet Seran4. Remigius Taek5. Zebedeu Mota De Araujo6. Olandina Casimiro7. Aldair Magno8 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira. Kupang. Indonesia Intituto Superior de Filosofia e de Teologia. Jaime Garcia Goulart. Dili- Timor Leste Corresponding e-mail: naifokto@gmail. Copyright A 2025 The Author This is an open access article Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4. 0 International License DOI: 10. 53866/jimi. Abstract The Christian family, in the light of faith in the Most Holy Trinity, is understood as a living icon of God's love, reflecting the communion of love among the Father, the Son, and the Holy Spirit. However, the evolution of the times marked by a crisis of values, individualism, and spiritual decline has eroded the identity of the family as ecclesia domestica. This article aims to explore the meaning of the family as an icon of Trinitarian love in the light of the apostolic exhortation Amoris Laetitia by Pope Francis, while also offering applicable pastoral approaches to strengthen family spirituality and resilience amidst contemporary challenges. Employing a literature review method and a reflective-theological approach, this study highlights family relationships within the framework of the Imago Dei. Trinitarian love spirituality, and the concrete dynamics of family life as a locus of theophany. The findings show that the family is not merely a social reality but a prophetic vocation to manifest God's love in daily life through forgiveness, dialogue, sacramental living, and service. Amoris Laetitia reaffirms the beauty of the family vocation while offering compassionate, realistic, and gradual pastoral accompaniment strategies in response to todayAos relational crises. Thus, the family is restored as a sacred space where human beings learn to love, to forgive, and to reveal the presence of the living God in the midst of the world. Keywords: Amoris Laetitia. Love. Family. Trinitarian Abstrak Keluarga Kristiani, dalam terang iman akan Trinitas Mahakudus, dipahami sebagai ikon kasih Allah yang hidup, mencerminkan persekutuan kasih antara Bapa. Putra, dan Roh Kudus. Namun, perkembangan zaman yang ditandai oleh krisis nilai, individualisme, dan pelemahan spiritual telah menggerus identitas keluarga sebagai ecclesia domestica. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji makna keluarga sebagai ikon kasih Trinitas dalam terang seruan apostolik Amoris Laetitia karya Paus Fransiskus, serta menawarkan pendekatan pastoral yang aplikatif untuk memperkuat spiritualitas dan ketahanan keluarga di tengah tantangan kontemporer. Dengan metode studi pustaka dan pendekatan reflektif-teologis, penelitian ini menyoroti relasi keluarga dalam kerangka Imago Dei, spiritualitas kasih Trinitaris, dan dinamika hidup konkrit keluarga sebagai tempat teofani. Hasil kajian menunjukkan bahwa keluarga bukan hanya realitas sosial, melainkan panggilan profetis untuk menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari melalui pengampunan, dialog, penghayatan sakramen, dan pelayanan. Amoris Laetitia menegaskan kembali keindahan panggilan keluarga, sekaligus menawarkan strategi pendampingan pastoral yang berbelas kasih, realistis, dan bertahap untuk menjawab krisis relasional zaman ini. Dengan demikian, keluarga dipulihkan sebagai ruang suci tempat manusia belajar mencintai, mengampuni, dan menyatakan kehadiran Allah yang hidup di tengah dunia. Kata Kunci: Amoris Laetitia. Kasih. Keluarga. Trintaris Pendahuluan Hlm | 982 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Keluarga, dalam terang iman Kristiani, merupakan persekutuan kasih yang secara mendalam merefleksikan misteri Trinitas: relasi timbal balik antara Bapa. Putra, dan Roh Kudus yang penuh kasih, kesatuan, dan keterbukaan pada hidup. Sejak awal penciptaan, martabat keluarga ditegaskan melalui penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26Ae. , yang menunjukkan bahwa panggilan manusia bersifat relasional dan komunitatif (Suwito, 2021, p. Dalam perspektif ini, keluarga tidak sekadar dilihat sebagai unit sosial, melainkan sebagai panggilan ilahi untuk menghadirkan kasih Allah di Santo Yohanes Paulus II menyebut keluarga sebagai ecclesia domestica atau Gereja rumah tangga, tempat iman dihidupi dan ditransmisikan. Santo Agustinus bahkan menekankan bahwa relasi dalam keluarga mencerminkan kasih ilahi yang menjadi dasar dari komunitas Gereja itu sendiri (Adventura Mario Febiyanto Londa & Silvester Adinuhgra, 2. Namun, dalam kenyataannya, wajah ideal keluarga Kristiani hari ini mengalami tantangan yang semakin kompleks. Fenomena seperti meningkatnya angka perceraian, praktik hidup bersama tanpa sakramen pernikahan, serta dominasi nilai-nilai duniawi seperti hedonisme, individualisme, dan relativisme moral telah mengikis kekuatan spiritual keluarga. Melemahnya kehidupan doa bersama, penurunan partisipasi dalam sakramen, serta kurangnya pendampingan iman dalam keluarga menunjukkan bahwa keluarga tidak lagi menjadi tempat utama pewarisan nilai iman dan kasih, bahkan berisiko kehilangan identitas teologisnya sebagai ikon kasih Trinitas (Adventura Mario Febiyanto Londa & Silvester Adinuhgra, 2. Situasi ini diperburuk oleh dinamika sosial modern yang kerap menempatkan efisiensi, kesenangan pribadi, dan kebebasan individual di atas nilai-nilai spiritual dan Dalam konteks krisis ini. Amoris Laetitia, seruan apostolik Paus Fransiskus, menawarkan pendekatan pastoral yang penuh belas kasih dan realistis. Dokumen ini tidak hanya menegaskan kembali keindahan panggilan keluarga, tetapi juga memberikan arahan konkrit untuk mendampingi keluarga di tengah tantangan zaman (Arianto, 2020, p. Melalui pendekatan yang mengedepankan dialog, belas kasih, dan pendampingan bertahap. Amoris Laetitia menjadi sumber refleksi teologis yang penting bagi pemulihan spiritualitas dan misi keluarga dalam dunia modern. Berbagai penelitian sebelumnya telah membahas pentingnya keluarga sebagai komunitas kasih yang mencerminkan relasi Trinitas. Penelitian oleh Olla menekankan keintiman dan kebersamaan dalam keluarga sebagai bentuk partisipasi dalam kasih ilahi (Olla, 2017, p. Suwito menyoroti keluarga sebagai dasar persekutuan Gereja dalam terang misteri Trinitas (Suwito, 2. Wiwin dan rekanrekannya mencatat bagaimana keluarga berperan sebagai Gereja kecil yang menjaga iman dan relasi selama masa pandemi (Wiwin. Yuliati. Dede, & Fingki, 2022, p. Sementara itu. Tibo menekankan doa keluarga sebagai kekuatan utama dalam membangun relasi dengan Allah (Tibo, 2018, p. Meski demikian, kompleksitas dan intensitas tantangan kontemporer menunjukkan bahwa pendekatan-pendekatan tersebut perlu terus diperbarui dan diperdalam secara teologis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menawarkan sebuah telaah teologis yang kontekstual dan aplikatif mengenai keluarga sebagai ikon kasih Trinitas dalam terang Amoris Laetitia, serta merumuskan strategi reflektif untuk memperkuat ketahanan dan spiritualitas keluarga Kristiani di tengah krisis zaman yang terus berkembang. Dengan demikian, keluarga dapat kembali memainkan peran sentralnya sebagai wadah perjumpaan, pewarisan iman, dan kehadiran nyata kasih Allah di dunia. Metode Penelitian Metode penelitian dalam artikel ini adalah kajian pustaka . ibrary researc. , yang merupakan pendekatan kualitatif dengan penekanan pada telaah kritis terhadap sumber-sumber tertulis yang relevan secara teologis dan pastoral. Kajian ini dilakukan melalui analisis terhadap dokumen Gereja, terutama Amoris Laetitia, serta literatur ilmiah yang membahas konsep keluarga dalam terang Trinitas Mahakudus. Tujuannya adalah menggali makna keluarga sebagai ikon kasih Trinitaris dan merumuskan pendekatan pastoral kontekstual di tengah tantangan kontemporer. Dengan pendekatan reflektif-teologis, metode ini memungkinkan peneliti mengkaji secara mendalam hubungan antara doktrin iman dan dinamika hidup keluarga, sekaligus menyusun sintesis teologis yang aplikatif untuk praksis pastoral keluarga Kristiani. Hasil dan Pembahasan Ikon Trinitas sebagai Teologi Keluarga dalam Amoris Laetitia Keluarga dalam perspektif iman Kristiani bukan semata-mata dipahami sebagai unit sosial atau lembaga natural, melainkan sebagai realitas teologis yang mencerminkan misteri terdalam dari Allah sendiri: Trinitas Mahakudus. Dalam Trinitas. Allah bukanlah kesendirian yang tertutup, tetapi persekutuan kasih yang kekal antara Bapa. Putra, dan Roh Kudus. Kasih dalam Trinitas tidak statis, melainkan dinamis, saling memberi diri, dan terbuka bagi kehidupan (Ferreira. Yates, & Brunsdon, 2022. Hlm | 983 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Gagasan ini menjadi fondasi bagi pemahaman Gereja tentang keluarga: sebagai komunitas yang dipanggil untuk hidup dalam kasih yang memberi diri, menyatukan, dan melahirkan kehidupan. Dalam Amoris Laetitia. Paus Fransiskus menekankan bahwa kasih dalam keluarga Kristiani memiliki dimensi teologis yang dalam karena bersumber dan berakar dalam kasih Trinitaris itu sendiri (Moa & Hewen, 2022, p. Maka, keluarga dipandang sebagai ikon hidup dari Allah Tritunggal ikon yang tidak sempurna, tetapi nyata, yang menunjukkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:26Ae. , dan karena itu dipanggil untuk mencerminkan persekutuan ilahi dalam relasi kasih yang saling melengkapi. Santo Agustinus, dalam refleksi teologisnya, menggambarkan hubungan dalam Trinitas sebagai struktur kasih yang utuh: Bapa sebagai sumber kasih. Putra sebagai yang dikasihi, dan Roh Kudus sebagai kasih yang mengalir dari keduanya. Struktur kasih ini menjadi model spiritual bagi keluarga (Messakh, 2019, p. Dalam kasih timbal balik antara suami, istri, dan anak-anak, keluarga Kristiani mewujudkan dinamika kasih Trinitaris di dalam sejarah. Namun, ideal ini dihadapkan pada tantangan zaman kontemporer seperti individualisme, hedonisme, relativisme moral, serta rapuhnya komitmen dalam relasi pernikahan. Banyak keluarga mengalami ketegangan atau bahkan perpecahan karena kehilangan daya rohani yang menyatukan dan menghidupkan. Dalam konteks ini. Amoris Laetitia bukan sekadar dokumen normatif, melainkan seruan pastoral yang penuh pengharapan. Paus Fransiskus mengajak Gereja untuk tidak mengutuk kelemahan, tetapi menjadi pendamping yang sabar, realistis, dan penuh kasih dalam membantu keluarga menemukan kembali tanggungjawab dari panggilan mereka (Kristiyanto, 2018, p. Keluarga dipanggil untuk menjadi tempat di mana kasih Allah dialami secara konkrit: melalui kesabaran, pengampunan, dialog, dan pelayanan sehari-hari. Dalam doa bersama, penghayatan sakramen, serta solidaritas dalam penderitaan dan sukacita, keluarga menjadi tempat teofani manifestasi dari kasih Allah yang hidup. Kasih sebagaimana digambarkan dalam 1 Korintus 13 bukanlah emosi sesaat, tetapi pilihan sadar yang terus diperbarui setiap hari. Dalam krisis sekalipun, keluarga Kristiani tetap dipanggil untuk menjadi tanda profetis akan kasih Allah yang tak pernah gagal. Maka, menjadi keluarga dalam terang Trinitas bukanlah tugas ringan, tetapi panggilan luhur untuk menghadirkan Allah dalam dunia yang haus akan kasih sejati. Dengan demikian, keluarga menjadi bukan hanya tempat lahir dan tumbuhnya manusia, tetapi juga ruang suci di mana manusia belajar mengenal, mencintai, dan kembali kepada Allah yang adalah kasih (Wijaya, 2016, p. Keluarga menjadi Ikon Trinitas dalam Imago Dei Penciptaan manusia menurut Imago Dei (Kej 1:26Ae. menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk mencerminkan Allah, bukan hanya dalam kapasitas intelektual dan moral . , tetapi terutama dalam kapasitas relasional dan spiritual . Allah sebagai Trinitas adalah persekutuan kasih yang kekal: Bapa mengasihi Putra. Putra dikasihi oleh Bapa, dan Roh Kudus adalah pribadi kasih itu sendiri (Nassa, 2022, p. Maka, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, ia dipanggil untuk hidup dalam relasi yang mencerminkan kasih Trinitaris. Dalam konteks ini, keluarga memiliki makna teologis yang mendalam karena menjadi tempat utama di mana kasih Allah itu dihidupi, dihayati, dan diwujudkan secara konkrit dalam keseharian. Santa Katarina dari Siena menyatakan bahwa manusia diciptakan karena cinta dan untuk cinta, suatu realitas yang menemukan ekspresi historisnya dalam komunitas keluarga yang bersifat relasional dan partisipatif terhadap kehidupan ilahi (Sirken, 2. Dalam Amoris Laetitia. Paus Fransiskus menekankan bahwa keluarga adalah tempat di mana kasih Allah dialami secara nyata. Kasih suami-istri, keterbukaan terhadap kehidupan, pengasuhan anakanak, serta pengampunan dalam konflik menjadi bentuk inkarnasi dari kasih Trinitaris dalam kehidupan Santo Agustinus menggambarkan Trinitas dalam bahasa cinta: Bapa sebagai yang mengasihi. Putra sebagai yang dikasihi, dan Roh Kudus sebagai kasih itu sendiri (Nassa, 2. Maka, keluarga Kristiani, dalam terang Trinitas, menjadi ikon hidup dari cinta yang saling memberi, menyambut, dan membuahkan kehidupan. Dalam keluarga, manusia belajar untuk hidup bukan dalam egosentrisme, melainkan dalam dinamika memberi diri yang menyatukan dan menyelamatkan. Namun, dalam realitas zaman sekarang, keluarga kerap terombang-ambing oleh tantangan yang mengikis fondasi nilai dan hubungan yang kokoh. Sikap individualistis, pandangan moral yang berubahubah, serta budaya hedonisme semakin menutupi hakikat cinta dan kesetiaan yang sesungguhnya. Banyak keluarga mengalami ketegangan karena tekanan sosial, ekonomi, dan kerapuhan spiritual. sinilah Amoris Laetitia menghadirkan pendekatan pastoral yang membumi: Gereja dipanggil untuk tidak hanya mempertahankan ajaran, tetapi juga merangkul kenyataan keluarga-keluarga yang terluka dengan belas kasih dan pendampingan bertahap (Subekti, 2021, p. Keluarga bukanlah realitas statis, melainkan panggilan dinamis untuk bertumbuh dalam kasih sejati. Hlm | 984 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Dalam terang Kristus sebagai Imago Dei yang sempurna, keluarga diundang untuk menjadikan relasi mereka sebagai persekutuan yang menyatakan kehadiran Allah. Dalam doa bersama, penghayatan sakramen, dan kehidupan sehari-hari yang penuh pengampunan dan pelayanan, keluarga menjadi teofani tempat di mana kasih Allah hadir di dunia. Maka, menjadi keluarga bukan sekadar urusan pribadi atau sosial, tetapi sebuah partisipasi dalam kehidupan ilahi yang menyatakan bahwa Allah adalah kasih (Yulandi & Abdiono, 2. Dengan demikian, keluarga sebagai ikon kasih Trinitas adalah panggilan luhur yang sekaligus menjadi jawaban profetis atas krisis relasi masa kini: bahwa hanya dalam kasih yang berasal dari Allah-lah manusia dapat menemukan jati diri, tujuan hidup, dan kebahagiaan sejati. Ideal dan Realitas Keluarga Sebagai Ikon Kasih Trinitaris Keluarga, dalam pandangan Kristiani, bukan sekadar unit sosial atau struktur budaya, melainkan realitas yang mengandung dimensi ilahi: ikon persekutuan kasih Allah Tritunggal. Sebagaimana Bapa. Putra, dan Roh Kudus hidup dalam relasi kasih yang saling memberi, menerima, dan melahirkan kehidupan, demikian pula keluarga dipanggil untuk mencerminkan dinamika kasih yang sama melalui kehidupan suami, istri, dan anak-anak. Inkarnasi Kristus yang lahir dalam keluarga Nazaret dan mukjizat pertama-Nya di pesta pernikahan Kana menegaskan bahwa pernikahan dan keluarga merupakan ruang rahmat di mana Allah hadir dan berkarya secara nyata. Sakramen perkawinan, yang mengangkat cinta natural menjadi cinta ilahi, melibatkan seluruh dimensi manusiawi termasuk eros yang dalam terang iman diarahkan bukan sebagai pemuasan diri, tetapi sebagai ungkapan kasih yang personal, total, dan terbuka pada kehidupan (Prasetyo & Borgias, 2024, p. Gereja tidak menolak gairah cinta, namun menggarisbawahi bahwa eros sejati hanya dapat dimurnikan dalam terang agape, cinta yang rela berkorban demi kebaikan orang yang dikasihi. Dalam realitas kehidupan masa kini, keluarga menghadapi tekanan yang semakin kompleks dan Pergeseran nilai budaya serta perubahan norma sosial yang terjadi secara cepat telah menghadirkan tantangan serius bagi keberlangsungan keluarga sebagai persekutuan kasih yang setia dan Kemajuan teknologi digital, meskipun membuka akses komunikasi yang luas, kerap kali justru menimbulkan keterasingan emosional dan menurunnya kualitas hubungan antaranggota keluarga (Nursida & Ismail, 2025, p. Selain itu, berbagai persoalan seperti pornografi, perselingkuhan, penyalahgunaan narkoba, serta tekanan psikologis dan ekonomi turut memperburuk kondisi keluarga masa kini. Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit keluarga yang kehilangan arah spiritual dan menjauh dari panggilan hakiki mereka sebagai sumber kasih yang hidup, subur, dan memberi kehidupan. Gereja, melalui ajaran dan pastoralnya, terutama dalam Amoris Laetitia, mengajak umat untuk kembali pada fondasi spiritual keluarga sebagai tempat di mana kasih Allah dihidupi secara konkrit. Jalan keluarnya bukan hanya melalui reformasi struktural, tetapi melalui pemurnian hati, pembaruan relasi, dan pendalaman iman. Komunikasi yang sehat, doa bersama, pengampunan, dan pelayanan satu sama lain menjadi sarana utama untuk menghidupkan kembali dinamika kasih Trinitaris dalam keluarga. Ketika keluarga hidup dari sumber kasih ilahi, ia tidak hanya mampu bertahan di tengah krisis, tetapi juga menjadi tanda profetis dan sakramen kasih Allah di dunia (AuKELUARGA KATOLIK: Persekutuan Ilahi Sekaligus Manusiawi,Ay 2. Dengan demikian, keluarga dipulihkan pada martabat aslinya: ikon hidup dari Allah Tritunggal yang mengasihi, bersatu, dan melahirkan kehidupan. Kesimpulan Keluarga, dalam terang ajaran Amoris Laetitia, dipahami bukan sekadar sebagai unit sosial, melainkan sebagai ikon teologis dari persekutuan kasih Allah Tritunggal. Teologi keluarga berakar pada doktrin Imago Dei (Kej 1:26Ae. , yang menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah yang adalah kasih dalam relasi: Bapa. Putra, dan Roh Kudus. Oleh karena itu, keluarga Kristiani tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi merupakan partisipasi dalam dinamika kasih Trinitaris kasih yang memberi diri, menyatukan, dan melahirkan kehidupan. Paus Fransiskus, melalui Amoris Laetitia, menekankan bahwa keluarga adalah tempat inkarnasi konkrit dari kasih ilahi melalui relasi suami-istri, keterbukaan terhadap kehidupan, pendidikan anak, dan pengampunan dalam konflik. Dalam pemahaman ini, keluarga menjadi locus theologicus, yaitu tempat di mana pengalaman iman dan teofani Allah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ikon Trinitas ini bersifat dinamis: bukan kesempurnaan tanpa cacat, tetapi kesetiaan dalam proses mencintai secara nyata meski rapuh dan terluka. Gereja dipanggil untuk mendampingi keluarga dengan pendekatan pastoral yang realistis dan penuh belas kasih, mengakui kompleksitas zaman seperti individualisme, hedonisme, dan relativisme moral yang kian menggerus makna sejati relasi. Dalam konteks ini, keluarga menjadi medan pertumbuhan spiritual yang konkret, di mana kasih bukanlah sekadar perasaan, melainkan pilihan sadar untuk saling melayani dan mengampuni dalam terang kasih agape. Dengan demikian, keluarga bukan hanya dipanggil untuk bertahan di tengah Hlm | 985 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal krisis, tetapi untuk menjadi tanda profetis dan sakramen hidup dari kasih Allah yang transenden dan Dalam keluarga yang berakar pada kasih Trinitaris, manusia belajar untuk mengenal Allah, mencintai sesama, dan mengalami makna terdalam dari penciptaan, penebusan, dan pemuliaan. Maka, teologi keluarga dalam Amoris Laetitia bukan hanya menawarkan visi normatif, melainkan jalan partisipatif menuju kekudusan melalui cinta yang diwujudkan dalam relasi keluarga sehari-hari. Bibliografi Adventura Mario Febiyanto Londa, & Silvester Adinuhgra. Peran Keluarga Kristiani Sebagai Ecclesia Domestica Dalam Menumbuhkan Habitus Berdoa Bagi Anak-Anak Di Stasi Mandam. Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese Dan Pastoral. Arianto. Katekese Keluarga Kristiani di Paroki-Paroki Daerah dalam Terang Seruan Apostolik Amoris Laetitia. Melintas. https://doi. org/10. 26593/mel. Ferreira. Yates. , & Brunsdon. Penerapan Trinitas Sebagai Persekutuan Perspektif Leonardo Boff Bagi Komunitas Basis Gerejawi. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika. https://doi. org/10. 4102/ids. Keluarga Katolik: Persekutuan Ilahi Sekaligus Manusiawi. Kristiyanto. Teologi Trinitas Pasca Vatikan II: Suatu Model Kajian dan Pendalaman tentang Teologi Trinitas. Jurnal Orientasi Baru. Messakh. Jaran Dasar Tentang Allah Tritunggal: Dinamika Keberadaannya Secara Teologis Dan Signifikansi Bagi Imany: Jurnal Teologi dan Kependidikan. The Way: Jurnal Teologi Dan Kependidikan. Moa. , & Hewen. Cinta Kasih Suami-Istri Sebagai Fondasi Kehidupan Keluarga Kristiani: Suatu Uraian Moral Kristiani menurut Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia. Jurnal Filsafat-Teologi Logos. Nassa. Trinitas dalam pandangan Agustinus dari Hippo. Te Deum (Jurnal Teologi Dan Pengembangan Pelayana. Nursida. , & Ismail. Transformasi Kekerabatan Di Era Digital. Olla. Teologi Keluarga Kudus. Studia Philosophica et Theologica. Prasetyo. , & Borgias. Konsep Eros Dan Agape Dalam Kehidupan Manusia Menurut Anders Nygren. JHS:Jurnal Sosial Humaniora. Sirken. Allah Menciptakan Manusia. Subekti. Pastoral Bagi Keluarga Dalam Situasi Khusus Menurut Paus Fransiskus Dalam Anjuran Apostolik Amoris Laetitia. MEDIA: Jurnal Filsafat Dan Teologi. Suwito. Bersekutu Dalam Allah Tritunggal Dimulai Dalam Kehidupan Keluarga Kristiani. JPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik. Tibo. Praktik Hidup Doa Dalam Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga. Jurnal Masalah Pastoral. Wijaya. Doktrin Trinitas dalam Diskursus Teologi Ekonomik. Diskursus - Jurnal Filsafat Dan Teologi Stf Driyarkara. Wiwin. Yuliati. Dede. , & Fingki. Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga di Masa Pandemi. Prosiding Seminar Nasional Rohani Katolik. Yulandi. , & Abdiono. Menjadi Gereja Kecil : Peran Sentral dan Strategis Keluarga dalam Membangun Fondasi Iman Anak. Jurnal Pendidikan Agama Katekese Dan Pastoral (Lume. Hlm | 986 das-institute.