Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Variasi Leksikal pada Bahasa Nelayan Pantai Timur Pangandaran Jawa Barat Embang Logita Universitas Wiralodra ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Manusia adalah mahkluk sosial yang memerlukan bahasa untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui bahasa manusia dapat mengekspresikan diri, mengungkapan keinginan, gagasan, dan mengungkapan segala perasaan hati dengan lingkungan. Bahasa yang dimiliki masyarakat tersimpan dalam arti individu masing-masing. Setiap individu dapat bertingkah laku dengan wujud bahasa dan tingkah laku bahasa individu itu dapat berpengaruh besar terhadap anggota masyarakat bahasa yang lain. Bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat sangat beragam dan bervariasi. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan disebabkan oleh penuturnya yang tidak homogen, tetapi karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Pengaruh budaya terhadap bahasa sangat besar pengaruhnya terutama dalam pembentukan kosa kata. Selain faktor budaya pembentukan kosa kata dapat juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik tempat suatu masyarakat hidup dapat dicerminkan dalam bahasanya. Artinya, lingkungan dapat mempengaruhi bahasa masyarakat itu, biasanya dalam hal leksikal atau perbendaharaan katanya dan perkembangan masyarakat menyebabkan perubahan struktur kemasyarakatan dan lembaganya Misalnya orang Jawa mampu mengadakan berbagai leksikal terperinci mengenai padi sedangkan orang Belanda mampu mengadakan berbagai leksikal terperinci mengenai DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Bahasa. Budaya Kosakata. Leksikal This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Embang Logita Universitas Wiralodra Jl. Ir. H Juanda KM. Karanganyar. Indramayu. Jawa Barat 45213. Indonesia Email: logitaembang@gmail. PENDAHULUAN Manusia adalah mahkluk sosial yang memerlukan bahasa untuk berkomunikasi dalam kehidupan seharihari. Melalui bahasa manusia dapat mengekspresikan diri, mengungkapan keinginan, gagasan, dan mengungkapan segala perasaan hati dengan lingkungan. Bahasa merupakan objek linguistik. Mempelajari bahasa secara umum dalam linguistik dikenal dengan istilah linguistik general, yaitu memandang bahasa sebagai bagian tingkah-laku dan kemampuan manusia yang teramati dan berlaku semesta . l-wasilah, 1993:. Kata semesta dalam defenisi di atas berarti bahwa bahasa bersifat umum atau seluruh bahasa di dunia ini pada dasarnya memiliki kesamaan secara umum, tetapi tetap memiliki karakteristrik bahasa yang berbeda. Perbedaan karakteristik disebabkan beberapa faktor yaitu: faktor sosial, faktor politik, faktor budaya, dan faktor geografi. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Bahasa yang dimiliki masyarakat tersimpan dalam arti individu masing-masing. Setiap individu dapat bertingkah laku dengan wujud bahasa dan tingkah laku bahasa individu itu dapat berpengaruh besar terhadap anggota masyarakat bahasa yang lain. Bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat sangat beragam dan Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan disebabkan oleh penuturnya yang tidak homogen, tetapi karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Varisasi sebuah bahasa timbul akibat adanya kebudayaan yang berbeda. Suatu bangsa yang berbeda bahasa dan kebudayaannya dari bangsa lain maka jalan pikirannya berbeda pula. Perbedaan jalan berpikir manusia bersumber dari perbedaan bahasa atau tanpa adanya bahasa manusia tidak mempunyai pikiran yang sama. Kalau bahasa mempengaruhi kebudayaan dan jalan pikiran manusia, maka ciri-ciri yang ada dalam suatu bahasa tercermin pada sikap dan budaya penuturnya. Pengaruh budaya terhadap bahasa sangat besar pengaruhnya terutama dalam pembentukan kosa kata. Selain faktor budaya pembentukan kosa kata dapat juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik tempat suatu masyarakat hidup dapat dicerminkan dalam bahasanya. Artinya, lingkungan dapat mempengaruhi bahasa masyarakat itu, biasanya dalam hal leksikal atau perbendaharaan katanya dan perkembangan masyarakat menyebabkan perubahan struktur kemasyarakatan dan lembaganya. Misalnya orang Jawa mampu mengadakan berbagai leksikal terperinci mengenai padi sedangkan orang Belanda mampu mengadakan berbagai leksikal terperinci mengenai keju. Fenomena di atas menginspirasikan penulis untuk meneliti tentang leksikal yang digunakan oleh para nelayan di Kelurahan Pangandaran, kecamatan Pangandaran, kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat Berdasarkan uraian fenomena kebahasaan yang telah dikemukakan di atas, penulis dapat merumuskan masalah dan diuraikan dalam bentuk pertanyaan dibawah ini: Bagaimana variasi bahasa nelayan di Pangandaran? Bagaiamana variasi leksikal nelayan di Pangandaran? Bagaimana penggunan leksikal nelayan di Pangandaran? Setiap pelaksanaan penelitian ilmiah pasti mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai. Adapun tujuan yang hendak dicapai penulis dalam penelitian ini: Mengetahui variasi bahasa nelayan di Pangandaran. Mengobsevasi variasi leksikal nelayan di Pangandaran. Mengidentifikasi makna semantik leksikal nelayan di Pangandaran Sosiokultural adalah sesuatu hal yang berkaitan dengan segi sosial dan kebudayaan masyarakat. Bahasa mempunyai struktur-struktur tersendiri dan berbeda dari bahasa-bahasa. Bahasa menghambat mereka untuk berbicara sehingga mereka menemukan cara berbicara dengan berbagai cara. Hal ini merupakan hasil sumbangansumbangan phisikolinguistik dan sosiolinguistik yang berpandangan sebagai relativitas bahasa, yaitu: bahwa bahasa-bahasa mencerminkan budaya keteraturan-keteraturan di dalam nilai-nilai dan orientasiorientasi. bahwa bahasa-bahasa di dunia jauh universal struktural. Sementara kita hanya bisa meneliti yang berkaitan dengan kerja bahasa yang universal (Greenberg, 1966: Osgood, 1. Bahwa masyarakat-masyarakat yang menggunakan ini bahasa-bahasa yang sangat berbeda berbeda satu dari lain di dalam banyak hal. Perbedaan tersebut karena perbedaan-perbedaan sosial dan budaya ini yang termasuk cara penalaran merasa, belajar, pembeda, ingatan, dll. secara langsung relatable kepada yang berbeda tersusun antara bahasa-bahasa sendiri. Pengaruh sosial dan budaya begitu besar terhadap bahasa yang dituturkan oleh masyarakat tutur di dunia Menurut Koentjaraningrat bahawa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan anatara bahasa dan kebuadayaan meruapakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada di bawah ruang lingkup Masinambouw . dalam Chaer . 4: . menyebutkan bahwa bahasa merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Kalau kebudayaan itu adalah satu sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlansungnya interaksi itu. Sapir dan Whorf dalam hipoteisnya mengemukakan bahawa bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menentukan cara dan jalan berpikir manusia oleh karena itu bahasa mempengaruhi tindak Silzer . dalam Chaer . 4: . mengatakan bahwa basaha dab budaya merupakan dua fenomena yang terikat, bagaikan dua anak kembar siam, atau sekeping mata uanag yang pada satu sisi berupa sistem bahasa dan pada sitem yang lain berupa sistem budaya, maka apa yang tampak dalam budaya akan tercermin dalam bahasa atau sebaliknya. Misalnya dalam bangsa Inggris dan bangsa Eropa lainnya yang tidak mengenal malkan nasi, maka bahasanya hanya ada satu kata, yaitu rice untuk menyatakan padi, gabah, beras, dan nasi. Tetapi dalam masyarakat Inggris akrab dengan olahraga berkuda, maka mereka banyak memiliki kosakata yang berkaitan dengan olahraga Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X berkuda seperti horse, colt, stallion, pony, dan mare. Hal senada menutut pendapat Fishman yang menayatakan bahawa sosial dan budaya berpengaruh terhadap gramatikal dan leksikal bahasa dalam masyarakat tutur. Bahasa yang dikeluarkan oleh manusia untuk berkomunikasi adalah sebuah ucapan yang memiliki makna yang dipahami oleh keduanya. Ucapan itu berupa kalimat yang terdiri dari leksikal. Leksikal merupakan ilmu yang berkaitan dengan kosa kata. Yang berpengaruh besar dalam hal ini adalah lingkungan fisik tempat masyarakat hidup dapat dicerminkan dalam bahasanya. Artinya, lingkungan dapat mempengaruhi bahasa masyarakatitu, biasanya dalam hal leksikal atau perbendaharaan katanya. Kamus Besar Bahasa Indonesia . mendefinisikan leksikal adalah ilmu yang mempelajari bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa. Sedangkan Kridalaksana . menjelaskan tentang leksikal merupakan kekayaan kata yang dimiliki seorang pembicara, penulis, atau bahasa. kosa kata, pembendaharaan kata. Safir dan Whorf menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi struktur gramtikal dan leksikal bahasa, sebagai berikut: Lingkungan fisik tempat suatu masyarakat hidup dapat dicerminkan dalam bahasanya. Artinya, lingkungan dapat mempengaruhi bahasa masyarakat itu, biasanya dalam hal leksikal atau perbendaharaan katanya. Misalnya orang Jawa mampu mengadakan berbagai leksikal terperinci mengenai padi sedangkan orang Belanda mampu mengadakan berbagai leksikal terperinci mengenai keju. Lingkunganlah yang menyebabkan leksikal dua bahasa yang berbeda dan perbedaa itu tidak ada hubungan dengan kemampuan otak. Lingkungan sosial dapat juga dicerminkan dalam bahasa dan sering dapat berpengaruh pada struktur Misalnya dalam bahasa Melayu mengenal perbedaan antara kakak dengn abang, tetapi untuk saudara kandung yang lebih muda haya ada adik tanpa pembeda jenis kelamin, sedangkan dalam bahasa Inggris mempunyai perbedaan jenis kelamin pada tingkatan anak sehingga ada son . audara laki-lak. dan daughter . audara perempua. Misalnya dalam bahasa Jawa neng kene took Laris sing larang dhewe, apabila kalimat tersebut diterjemahkan menjadi AuDi sini took Laris yang mahal sendiri. Kata sendiri merupakan terjemahan dari dhewe, dalam struktur bahasa Jawa kata dhewe sebelumnya ada kata sing dan adjektif, maka kata dhewe mempunyai arti paling. Jadi, kalimat tersebut dapat kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang sesui dengan struktut bahasa Jawa dan bahasa Indonesia menjadai Au Toko Laris adalah took yang paling mahal di siniAy Perkembangan masyarakat menyebabkan perubahan struktur kemasyarakatan dan lembaganya. Hal ini tercermin dalam leksikal, misalnya kata ani-ani, sekarang masyarakat Bali dan Jawa tidak lagi menggunakan istilah tersebut untuk menuai padai tetapi sudah digantikan dengan kata yang lain. Nilai-nilai masyarakat . ocial valu. dapat berpengaruhi pada masyarakat itu. Contohnya yang jelas misalnya yang menyangkut tabu. Untuk roh halus yang dianggap menunggu pohon besar orang Jawa udumemanggilnya dengan kata mbah Aukakek. nenekAy. Hal ini juga Prof. Dr. Sumarsono. Pd. menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi leksikal dan gramatikal bahasa sebagai berikut: Migarasi atau perpindahan penduduk yang menimbulkan masalah kebahasaan hakikatnya dapat menjadi dua Jenis pertama adalah sekelompok besar penduduk yang melebarkan sayap ke wilayah lain yang sudah dihuni oleh kelompok-kelompok lain. Jenis kedua terjadi jika sejumlah anggota etnik memasuki wilayah yang sudah di bawah control nasional lain. Proses penjajahan bisa mempengaruhi dalam bidang politik, budaya yang mencakup bahasa, atau ekonomi kontrol itu dipegang oleh sejumlah orang yang relative sedikit dari nasionalitas pengontrol yang tinggal di wilayah baru itu. Misalnya dalam bahas Indonesia banyak mengadopsi kosa kata dari bahasa Belanda. Federasi merupakan penyatuan berbagai etnik atau nasionalis di bawah kontrol politik satu negara. Asal mula keanekabahasa bisa terjadi di wilayah perbatasan METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pangandaran, kecamatan Pangandaran, kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat. Penelitian yang penulis mengambil sampel penelitian di pelelangan ikan dan nelayan di desa Pangandaran Peneltian yang penulis lakukan pada penelitian ini adalah penelitian survai. Survai penulis gunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang pengunan leksikal. Populasi berkaitan dengan seluruh kelompok orang, peristiwa, atau benda yang menjadi pusat perhatian penelitian unruk diteliti. Sampel merupakan suatu bagian . dari populasi. Hal ini mencakup sejumlah anggota yang dipilih populasinya. bahasa dalam masyarakat. Populasi dalam penelitian ini adalah penjual ikan dan para nelayan di Pangandaran. Metode penelitian yang digunakan dalam penlitian ini adalah metode survai deskripsi. Metode survai deskripsi adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi yang ada dengan menggunakan wawancara dan pengamatan sebagai alat untuk mengumpulkan data sesuai dengan penelitian yang Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Pengambilan data dan informasi dalam penelitian ini dikumpulkan dari responden atau sampel dengan menggunakan teknik wawancara dan pengamatan yan direkam melalui alat perekam. Setelah penulis memperoleh data yang hasilnya akan dipaparkan secara deskripsi serta analisis data dibandingkan dengan beberapa teori yang Responden dalam penelitian ini adalah penjual ikan di tempat pelelangan ikan dan nelayan di Desa Pangandaran, kecamatan Pangandaran, kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat. Data dalam penelitian ini melalui wawancara dan observasi. Wawancara yang digunakan dalam penelitian berdasarkan pertanyaan yang memiliki kaitan dengan masalah yang penulis teliti. Kegiatan wawancara penulis langsung berinteraksi dengan para responden, yaitu pedagang ikan di pelelangan ikan dan nelayan di Pangandaran. Setelah melakukan wawancara dengan para responden, penulis juga memperhatikan dan mengamati bahasa yang digunakan oleh pedangang di pelelengan ikan dan nelayan di Pangandaran. Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan berinteraksi dan mengobsevasi bahasa yang digunakan para pedagang ikan di pelelangan ikan dan nelayan di Pangandaran dan mencatatnya ke dalam format pengamatan. Proses analisis terhadap data yang diperoleh melalui penelitian yang penulis lakukan melalui langkahlangkah sebagai berikut: Rekapitulasi Data Data yang dikumpulkan dilapangan dikelompokkan berdasar jernis data. Penyajian Data Data yang penulis kumpulkan melalui wawancara dan obsevasi direkapitulasi dan disajikan dalam betul data yang deskriptif. Melalui data tersebut dapat dilihat variasi leksikal bahasa yang digunakan oleh pedangang di pelelangan ikan dan nelayan Pangandaran. Analisis Data Data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi dianalisis dan diklasifikasikan sesuai dengan variasi leksikal bahasa yang digunakan oleh para pedangang ikan dan nelayan di Pangandaran. Penarikan Kesimpulan Hasil dari analisi data dan teori yang sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan merupakan batu lonjatan bagi penulis untuk mengambil kesimpulan dalam penelitin ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Deskripsi data penelitian ini merupakan keterangan responden yang akan menjadian kajian leksikal bahasa nelayan yang diurutkan sesuai dengan nomor responden. Deskripsi data pada penelitian ini sebagai berikut: - Nama Informan : Bapak Rahmad - Usia : 40 tahun - Pekerjaan : Pedagang Ikan - Bahasa yang digunakan : 1. Sunda Bahasa Indonesia Bapak Rahmad menceritakan kepada penulis tentang laut dan nelayan. Deskripsi data sebagai beikut: Di dieu laukmah diketeng . i sini ikan dijual perkil. Ieu mah namina petong. ni mah namanya pari sepoton. Lauk na salemuran. kannya sebesar tiga jar. Ae Nama Informan Usia Pekerjaan Bahasa yang digunakan : Bapak Rudi : 26 Tahun : Nelayan : 1. Sunda Bahasa Indonesia Peneliti bercengkramah dengan nelayan yang sedang memperbaiki jaringnya. Data deskripsi sebagai . Ayena mah teu aya samirlikan. ekarang mah lagi tidak ada rizk. Abdi keur roban ieu. aya lagi memperbaiki jarin. Ieu naminya lara. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X (Ini namanya jaru. Ieu mah entel, sa entel saratus meter. ni mah benang jaring, satu entel seratus mete. Badongna dilungsuken jeung dikubengkan. (Jaringnya diturunkan dan dikelilingka. Ae Nama Informan Usia Pekerjaan Bahasa yang digunakan : Rusdiana : 30 Tahun : Nelayan : 1. Sunda Bahasa Indonesia Peneliti berbicara-bicara sama dua nelayan yang sedang mengangkat ikan. Data deskripsi data sebagai . Lamun menang laukana dimaro ku nu boga kapal. alau ikannya dapat bagi hasil sama yang punya kapa. Barudak ker ngorence. nak-anak lagi ngambil sisa ika. Eta mah di dieu namina ronce. tu mah di sini namanya tukang ngambil sisa ika. lamun teu tiasa ku badong, tiasa ku rumpon. alau tidak bisa pakai jaring, bisa juga memakai pancin. Di dieu mah tiasa nyewa kapal tiasa urang ngarawe. i sini kita bisa nyewa kapal biar kita bisa mincing ikan yang banya. Kapal di dieu namina seur, misalna payang, congkreng, atawa desol. i sini nama kapal banyak, misalnya kapal kecil, kapal sedang, dan kapal besa. Ae Nama Informan - Usia - Pekerjaan - Bahasa yang digunakan : Bapak Asep : 35 Tahun : Nelayan : 1. Bahasa Sunda Bahasa Indonesia Peneliti birbincang-bincang dengan nelayan tentang peralatan nelayan. Data deskripsi sebagai berikut: Ayena mah mah lagi paceklik. ekarang lagi musim angin bara. Nalayan mah ka laut paling bentar dua minggu. (Nelayan mah ke laut paling lama dua mingg. Nalayan nu make payang paling pangjauhna lintang dalapan, salintang duabelas mil. (Nelayan yang pake kapal kecil paling jauh di lintang 8, satu lintang dua belas mi. Eta mah naminya kanjut . ambar yang di ata. tu mah namanya kanjut . utup jaring bagian ata. Ae Nama Informan - Usia - Pekerjaan - Bahasa yang digunakan : Sardi : 22 tahun : Nelayan : 1. Bahasa Jawa Bahasa Sunda Bahasa Indonesia Peneliti berbincang-bincang sama nelayan yang bahasa ibu bahasa Jawa. Mereka tidak menggunakan bahasa Sunda tetapi mereka menggunakan bahasa Jawa dalam perbincangan mareka sehari-hari di antara mereka, tapi mereka menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa Sunda kepada orang yang bukan sukunya. Data deskripsi pada penelitian ini sebagai berikut: kami memakai pintur untuk menangkap ikan di laut. intur artinya jarin. Saya sebagai kapten harus memperhatikan jantra. antra artinya strir kapa. Di bawah ini namanya hendel. endel artinya mengatur kecepatann kapa. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X . Ikan yang ditangkap diletakkan di waring. aring artinya keranjang ika. No. No. Respon Tabel 1. Data Bentuk Leksikal dan Arti No. Data Leksikal Diketeng Petong Salemuran Sarmilikan Roban Lara Entel Badong Dikubengkeun Dimaro Ngaronce Ronce Rumpon Ngarawe Payang Congkreng Desol Paceklik Paling bentar Lintang Kanjut Pintur Jantar Hendel Waring Arti Perkilo Pari sapotong Tiga jari Ada rizki Memperbaiki jaring Jarum Benang Dikelilingkan Bagi hasil Ngambil sisa ikan pengambil ikan Pancing Mancing ikan Kapal kecil Kapal sedang Kapal besar Musim angin barat Paling lama Jarak 12 mil Tutup jaring paling atas Jaring Stir kapal Alat mengatur kecepatan Keranjang ikan Analisis Data Pada penelitian ini yang dilaksanakan di Desa Pangandaran. Kecamatan Pangandaran. Kabupaten Pangandaran. Provinsi Jawa Barat. Pada penelitian ini penulis menemukan 25 leksikal yang digunakan oleh nelayan di Pangandaran. Adapun analisis data leksikal peneliti analisis sesuai dengan data respon sebagai berikut: - Data Leksikal 1 a. Diketeng Petong Salemuran - Variasi semantik secara analisis data leksikal yang digunakan nelayan di Pelabuhan Ratu sebagai berikut: Diketeng Leksikal diketeng di kalangan nelayan atau pedagang ikan di Pangandaran mempunyai makna pekilo. Leksikal diketeng digunakan para nelayan merupakan leksikal dalam bahasa Indonesia. Leksikal diketeng dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia . mempunyai makna membeli atau menjual secara eceran. Apabila leksikal bahasa Sunda dan leksikal bahasa Indonesia dari kedua kata tersebut tidak mengalami perubahan makna. leksikal ini dipengaruhi oleh bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional yang mempengaruhi bahasa Daerah di Pangandaran. Petong Leksikal petong dalam bahasa nelayan di Pangandaran merupakan akronim dari kata pari sapotong. Pari sapotong merupakan jenis ikan pari yang berwarna hitam dan berbentuk belum sempurna dari bentuk-bentuk pari sebagaimana lazimnya. Jadi, dapat kita simpulkan leksikal petong merupakan leksikal yang digunakan para nelayan untuk menyebutkan nama ikan pari waktu kecil. Pembentukan leksikal ini dipengaruhi oleh letak geografis yang merupakan laut dan daerahnya banyak menghasilkan ikan. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Salemuran Leksikal salemuran dalam bahasa nelayan di Pelabuhan Ratu memiliki makna untuk menyebutkan ikan yang berukuran tiga jari besarnya. Leksikal ini terbentuk akibat dari geografis daerah Pangandaran yang menghasilkan banyak ikan, jadi para nelayan memberikan nama ukaran jenis ikan . Ae Data Sarmilikan Roban Lara Entel Badong Kubeng - Variasi semantik secara analisis dataleksikal yang digunakan nelayan di Pangandaran sebagai berikut: Sarmilikan Leksikal sarmilikan dikalangan nelayan di Pangandaran mempunyai makna kalau ada rizki. Kata sarmilikan terdiri dari sar milik kan, tetapi leksikal ini bukan merupakan verba tetapi merupakan kata dasar. Dalam bahasa Sunda milik mempunyai makna rezki, jadi kata sar dan kan dalam leksikal di atas tidak memiliki makna dan tidak mempengaruhi jenis leksikal katanya. Roban Leksikal roban merupakan leksikal verba. Leksikal roban merupakan verba kata dasar. Leksikal verba yang digunakan oleh para nelayan di Pelabuhan Ratu mempunyai makna memperbaiki jaring. Lara Leksikal lara mempunyai makna suatu alat yang digunakan untuk memperbaiki jaring. Kata lara dalam bahasa Sunda menpunyai arti tajam. Bahasa Sunda mengunakan leksikal jara untuk menunjukkan makna lara dalam bahasa Sunda nelayan Pelabuhan Ratu. Leksikal lara dan jara terjadi pergeseran atau perubahan fonem / j / menjadi fonem / l /. Hal ini dipengaruhi oleh faktor geografis daerah tersebut yang pemdudukanya banyak yang bekerja sebagai nelayan. Entel Leksikal entel mempunyai makna benang yang digunakan untuk jaring nelayan. Leksikal yang sama maknanya terhadap leksikal bahasa nelayan di Pangandaran yang biasa digunakan oleh masyarakat tutur Sunda pada umumnya adalah kenur. Perbedaan leksikal yang terjadi pada hal ini dipengaruhi oleh faktor geografis daerah Pangandaran. Badong Lesikal badong mempunyai makna jaring dalam bahasa yang digunakan oleh nelayan di Pangandaran. Leksikal badong dalam bahasa Sunda adalah jaring. Dikubengkeun Leksikal dikubengkeun merupak leksikal verba. Verba dikubengkan mempunyai arti dikelilingkan. Leksikal dikubengkeun mengalami proses morfofonemis pada kata dasarnya. Leksikal dikubengkeun mempunyai kata dasar kubeng serta memiliki awalan dan akhiran di- dan Aekeun. AeData 3 a. Dimaro Ngaroce Ronce Rumpon Ngarawe Payang Congkreng Desol - Variasi semantik secara analisis data leksikal yang digunakan nelayan di Pangandaran sebagai berikut: Dimaro Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Leksikal dimaro mempunyai makna bagi hasil. Leksikal yang sama maknanya terhadap leksikal bahasa nelayan di Pangandaran yang biasa digunakan oleh masyarakat tutur Sunda pada umumnya adalah diparo. Pada leksikal ini terjadi pergeseran fonem / p / menjadi fonem / m /. Ngaronce Leksikal ngaronce merupakan verba yang mengalami proses afiksasi. Leksikal ngaronce memiliki kata dasar ronce dan afiks nga-. Leksikal ngaronce memiliki makna mengambil ikan. Afiks nga- pada verba tersebut menanda verba transitif. Ronce Leksikal ronce merupakan kata benda yang menunjukkan orang . Ronce mempunyai makna orang yang mengambil ikan. Rumpon Leksikal rumpon merupakana kata benda yang mempunyai makna pancing. Ngarawe Leksikal ngarawe merupakan kata yang diucapkan oleh para nelayan di Pangandaran. Ngarawe merupakan verba yang mengalami proses afiksasi. Ngarawe memiliki kata dasar rawe dan afiks nga- Ngarawe memiliki makna mincing ikan. Afiks nga- pada leksikal ngarawe penanda verba transitif. Payang Leksikal payang merupakan kata benda yang mempunyai makna untuk menunjukkan jenis perahu yang digunakan oleh nelayan untuk melaut atau mengambil ikan di laut Pangandaran. Leksikal Payang mempunyai makna perahu berukuran kecil. Congkreng Leksikal congkreng merupakan kata benda yang mempunyai makna untuk menunjukkan jenis perahu yang digunakan para nelayan di Pangandaran untuk melaut. Leksikal congkreng memiliki makna kapal yang berukuran sedang. Desol Leksikal desol merujuk kepada leksikal yang menunjukkan makna jenis perahu yang digunakan nelayan di Pangandaran untuk melaut. Desol digunakan oleh para nelayan untuk menyebutkan nama perahu, karena perahu ini menggunakan mesin disel. Pada leksikal ini fonem e pada leksila disel diganti menjadi fonem o. Desol mempunyai makna yang menunjukkan jenis perahu yang besar. Ae Data Paceklik Paling bentar Lintang Kanjut - Variasi semantik secara analisis dataleksikal yang digunakan nelayan di Pangandaran sebagai berikut: Paceklik Leksikal paceklik merupakan kata yang digunakan oleh para nelayan di Pangandaran. Apabila kita melihat leksikal tersebut merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Leksikal paceklik dalam bahasa nelayan di Pangandaran mempunyai makna musim barat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonsia . mempunyai makna musim kekurangan bahan makanan. Kedua leksikal tersebut memiliki makna yang hampir Nelayan di Pangandaran menggunakan leksikal paceklik memaknakan musim barat, karena pada saat itu nelayan susah untuk mendapatkan ikan. Pembentukan leksikal tersebu dipengaruhi oleh kehidupan nelayan yanh merupakan pelaut. Paling bentar Leksikal paling bentar mempunyai makna yang bertentangan dengan bahasa Indonesia. Leksilkal paling bentar dalam bahasa yang digunakan para nelayan dipelabuhan ratu memiliki makna paling lama, tetapi leksikal paling bentar dalam bahasa Indonesia memiliki makna waktu yang singkat. Jadi, makna dari leksikal tersebut memilki makan pertentangan. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Lintang Leksikal lintang merupakan kata yang digunakan para nelayan di Pa. Leksikal lintang dalam bahasa nelayan Pangandaran mempunyai makna jarak dua belas mil. Sedangkan leksikal lintang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia . mempunyai makna garis atau lingkaran yang dibut dari arah timur ke batar peta Apabila kita perbandingkan makna keduanya adanya keterkaintan kedua makna kata tersebut. Leksikal lintang digunakan oleh para nelayan karena faktor geografis Pelabuahan Ratu yang merupakan laut untuk menunjukkan jarak yang akan ditempuh oleh perahu. Kanjut Leksikal kanjut merupakan hal yang biasa diucapkan oleh nelayan di Pangandaran. Leksikal kanjut dalam bahasa Sunda merupakan hal yang tabu untuk diucapkan. Leksikal kanjut dalam bahasa nelayan di Pangandaran memiliki makna mulut dari jaring yang paling atas. Pada hal ini terjadi pergeseran makna dari yang tabu kepada hal yang tidak tabu. AeBahasa yang digunakan Pintur Jantar Hendel Waring - Variasi semantik secara analisis dataleksikal yang digunakan nelayan di Pangandaran sebagai berikut: Pintur Leksikal pintur merupakan leksikal yang digunakan oleh nelayan yang menggunakan bahasa Jawa. Pintur mempunyai makna jaring. Jantar Leksikal jantar mempunyai makna stir kapal desel. Hendel Leksikal hendel mempunyai makna alat pengatur kecepatan kapal desel. Waring Leksikal waring mempunyai makna keranjang ikan. Pada hal ini leksikal bahasa Sunda tidak mempengaruhi leksikal yang digunakan oleh para nelayan yang berbahasa Jawa. Para nelayan bahasa Jawa menggunakan bahsa Jawa untuk berkomunikasi diantara mereka dan menggunakan bahasa Sunda ketika berkomunikasi dengan warga setempat yang berbahasa Sunda. 3 HASIL PENELITIAN Hasil penelitian leksikal bahasa nelayan di Pangandaran dapat penulis klalasifikasikan sebagai berikut: Tabel 2. Lesikal Nelayan Yang Dipengaruhi Oleh Faktor Geografis. No. Leksikal Makna Petong Pari sapotong Salemuran Tiga jari Sarmilikan Ada Rizki Lara Jarum Entel Benag jarung Badong Jaring Dimaro Bagi hasil Ngaronce Ngambil sisa ikan Ronce Pengambl ikan Rumpon Pancing Ngarawe Mancing ikan Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X No. No. Leksikal Makna Payang Kapan kecil Congkreng Kapal sedang Desol Kapal besar Tabel 3 Leksikal Yang Mengalami Pergeseran Makna Makna Umum Makna Geseran Leksikal Paceklik Tidak ada makanan Musim barat Paling bentar Waktu yang singkat Paling lama Lintang Jarak 12 mil Kanjut Garis horizontal dari utara Alat kelamin pria Tutup jarring paling atas No. Tabel 4 Leksikal Yang Maknanya Tetap Leksikal Makna Umum Dikubengkeun Dikelilingksn Diketeng Erkilo/diecer Tabel 5 Lesikal Yang Digunakan Penutur Bahasa Jawa No. Leksikal Makna Umum Pintur Jaring Jantar Stir kapal Hendel Alat pengatur kecepatan Waring Keranjang ikan KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang laksanakan di Desa Pangandaran. Kecamatan Pangandaran. Kabupaten Pangandaran. Provinsi Jawa Barat terdapat leksikal yang digunakan nelayan berupa leksikal kata benda yang digunakan oleh nelayan yang berbahasa Sunda dan nelayan yang berbahasa Jawa, misalnya Petong. Sarmilikan. Lara. Entel. Rumpon. Payang. Congkreng. Desol. Kanjut Pintur. Jantar. Hende, dan Waring. Leksikal kata kerja yang digunakan nelayan, misalnya Roban. Kuben. Ngaronce. Ngarawe, dan Dimaro. Leksikal sifat yang digunakan nelayan, misalnya Salemuran. Leksikal bahasa nelayan mengadopsi leksikal dari bahasa Indonesia yang mempunyai makna sebenarnya, misalnya diketeng. Leksikal yang mempunyai makna yang bergeser dari makna sebenarnya, misalnya paceklik dan ikan. Leksikal yang mempunyai makna yang betentangan dari makna sebenarnya, misalnya paling bentar. DAFTAR PUSTAKA