ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 17177-17183 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Disparitas Pendidikan di Era Pandemi Covid-19 : Studi Pembelajaran Jarak Jauh di SD Negeri Wangkal Mutik Hidayat1. Dania Dyah Fitrawan2 1 MTs Negeri 3 Surabaya 2 Universitas Negeri Surabaya e-mail: mutik922@gmail. Abstrak Pandemi Covid-19 tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan secara global tetapi juga berimplikasi pada menurunnya kualitas pendidikan. Implementasi pendidikan di Indonesia yang biasanya melalui proses pembelajaran dalam ruang fisik dan dibatasi jarak yang jelas, dengan seketika beralih pada ruang dan jarak yang tidak lagi dibatasi. Hal itu semakin menarik dengan adanya modifikasi metode dan media platform yang digunakan. Disisi lain, menimbulkan ketimpangan atas distribusi kapital seperti fasilitas, akses, dan jaringan yang melahirkan kesenjangan di tengah masyarakat. Berdasarkan fenomena yang tertera pada latar belakang permasalahan tersebut, maka penelitian ini akan mengkaji secara komprehensif fenomena disparitas pendidikan dalam prespektif teori konflik dari Karl Marx. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan penyajian data secara deskriptif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 dapat menjadi lompatan dalam transformasi pendidikan berbasis teknologi. Namun, rentan atas kesenjangan kelompok determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi dalam mengakses Kata kunci: Disparitas. Pendidikan. Pandemi Covid-19 Abstract The Covid-19 pandemic has not only caused a global health crisis but also has implications for the decline in the quality of education. The implementation of education in Indonesia, which usually goes through a learning process in a physical space and is limited by clear distances, immediately shifts to spaces and distances that are no longer limited. This becomes even more interesting with the modification of the method and media platform On the other hand, it creates an imbalance in the distribution of capital, such as facilities, access and networks, which creates gaps in society. Based on the phenomena listed on the background of the problem, this study will examine comprehensively the phenomenon of educational disparities in the perspective of Karl Marx's conflict theory. This study uses qualitative research methods and descriptive data presentation. The results of this study indicate that the Covid-19 pandemic can be a leap in the transformation of technology-based education. However, they are vulnerable to gaps in the economically determinant group and those that are subordinated in accessing education. Keywords: Disparity. Education. Covid-19 pandemic PENDAHULUAN Pendahuluan memuat tentang latar belakang, landasan teori, masalah, rencana pemecahan masalah dan tujuan penelitian. Pendahuluan ditulis menggunakan huruf Arial, ukuran 11 dan spasi 1 dan fist line 1. 15 cm. Pandemi Covid-19 melanda hampir semua negara di dunia menyebabkan dampak multidimensi yang sangat luas terhadap bidang kesehatan, ekonomi, sosial, politik, dan Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 17177-17183 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Upaya pertama yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selanjutnya direspon oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 berisi tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19 melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pendidik diwajibkan menyampaikan materi pembelajaran online atau secara virtual. Sementara itu peserta didik harus berupaya menambah kualitas pembelajarannya dengan penguatan teknologi dan melakukan secara mandiri proses belajarnya dari rumah. Dewasa ini dilema penggunaan platform untuk menunjang pendidikan di era pandemi Covid-19 turut menyumbang terjadinya dinamika dalam implementasi pendidikan. mengenai alternatif pengimplementasian pendidikan juga memberikan penawaran bentuk alternatif metode pembelajaran jarak jauh bagi siswa. Penggunaan teknologi yang menarik dan bisa diimplementasikan dengan cepat dalam program pendidikan. (Chiou, 2. Upaya atas permasalahan dan dinamika pengimplementasian pendidikan selama pandemi Covid19 yang telah diuraikan terbatas pada fokus kesehatan, alternatif pembelajaran dan dampak pada institusi pendidikan. Selama proses belajar di rumah peran guru dapat dipadukan dengan mekanisme pemantauan secara langsung dengan mendorong keterlibatan orang tua. Orang tua juga memiliki kewajiban untuk menyediakan sarana prasana serta kuota internet untuk menunjang media, metode, dan cara belajar apapun selama krisis pandemi berlangsung. Tantangan PJJ dalam pendidikan formal juga mengisyaratkan atas kebutuhan baru yang dialami oleh peserta didik dan orang tua. Kebutuhan pendidikan yang awalnya untuk keperluan uang saku, biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), moda transportasi, dan pembiayaan penunjang lainnya. Namun, era pandemi Covid-19 bergeser dan menjadikan kebutuhan utama berupa internet atau konektivitas selama berada di rumah. Fenomena ini tentu menjadi masalah baru karena perbedaan status ekonomi menyebabkan kesenjangan dalam proses pembelajaran yang Pada sebuah penelitian yang dilakukan Saputra. dan Marcelawati. memaparkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi telah menyulutkan hadirnya ketimpangan dan ketidakmerataan atas akses dan fasilitas yang seharusnya didapatkan oleh peserta didik. Akses dan fasilitas yang tidak merata menyebabkan ditribusi kapital yang hanya dapat diperoleh oleh kelas sosial tertentu. Berdasarkan penelitian dari ISEAS-Yusof Ishak Institut pada 21 Agustus 2020 juga menyebutkan bahwa telah terjadi ketimpangan dunia pendidikan di Indonesia selama pandemi Covid-19. Terdapat kurang lebih 69 juta peserta didik kehilangan akes pendidikan dan pembelajaran akibat rendahnya infrastruktur Selain itu, dalam hasil penelitian tersebut juga disebutkan hanya 40% orang Indonesia yang memiliki akses internet (Arsendy. Gunawan, 2. Tantangan lainnya yaitu terkait dengan kepemilikan smartphone dan laptop. Alat komunikasi menjadi fasilitas dasar yang memaksa peserta didik dari kalangan kelas sosial bawah untuk memiliki dan memenuhi kebutuhan tersebut. Tetapi fenomena ini berbeda dengan peserta didik yang berasal dari kelompok keluarga mampu yang memiliki kemudahan dalam kepemilikan akses dan fasilitas guna menunjang pembelajaran jarak jauh. Pada sebuah kajian Mansyur . menyebutkan bahwa penerapan PJJ berbasis perkembangan teknologi berdampak pada ketidakmaksimalan proses transfer of knowledge. Mengingat bahwa permasalahan penggunaan platform digital seperti aplikasi Zoom. Google Meet/hangout. YouTube live. Skype. Google Classroom, dan Whatsapp memiliki korelasi dengan perekonomian atau penghasilan keluarga peserta didik atas kepemilikan kuota dan jaringan internet selama berada di rumah. Berbagai tantangan dalam implementasi PJJ di Indonesia mengisyaratkan adanya perbedaan kelas sosial dalam mengakses pendidikan. Realitas tersebut juga terjadi pada peserta didik kelas VI di SD Negeri Wangkal kecamatan Krembung kabupaten Sidoarjo. Peserta didik yang duduk di kelas VI berjumlah 28 dengan 11 laki-laki dan 17 perempuan. Masing-masing memiliki latar belakang status sosial dan ekonomi yang berbeda. Terdapat Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 17177-17183 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 kelompok keluarga yang mampu dan ada juga yang berasal dari keluarga menengah ke Hal ini tentu berpengaruh terhadap fasilitas, akses dan jaringan yang diperoleh peserta didik dalam menjalankan proses pembelajaran jarak jauh. Kajian ini semakin menarik atas dampak pembelajaran jarak jauh yang menimbulkan ketimpangan atas distribusi kapital di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, fokus dalam kajian ini akan bermuara pada fenomena disparitas pendidikan dalam prespektif teori konflik dari Karl Marx. METODE Metode dalam kajian ini yaitu bersifat kualitatif dengan pendekatan fenomenologi berdasarkan data primer. Dalam penelitian ini, pengambilan sumber data penelitian menggunakan teknik Aupurpose samplingAy. Pengambilan sampel ini didasarkan pada pilihan peneliti tentang aspek apa dan siapa yang dijadikan fokus tertentu sehingga sampling bersifat purposive yaitu tergantung pada tujuan fokus tertentu. Kriteria pemilihan subjek melihat pada: . Peserta didik dalam kelompok kurang mampu atas kategori orang tua berpenghasilan < 2. Peserta mampu dengan kategori orang tua berpenghasilan > 000 . Ibu Dra. Siti Kumairotin selaku Guru SD Negeri Wangkal. HASIL DAN PEMBAHASAN Mengelaborasi disparitas pendidikan di era pandemi Covid-19 dengan menggunakan perspektif teori konflik Karl Marx yang dipaparkan dalam beberapa sub bahasan. Pertama, pembahasan terkait teori konflik Karl Marx. Kedua, implementasi pembelajaran jarak jauh. Ketiga, pembahasan terkait ketimpangan akses platform pembelajaran digital. Berikut uraian dan telaah disparitas pendidikan di era pandemi Covid-10. Teori Konflik Karl Marx Teori perubahan sosial banyak dipengaruhi oleh pemikir kiri, salah satunya adalah Karl Marx. Pemikiran Karl Marx pada awalnya dipengaruhi oleh Emanuel Kant dan Hegel atas Historical Idelism. Namun. Marx berubah dan memperkenalkan konsep Historical Materialism yang berpandangan bahwa perubahan perilaku ditentukan oleh kedudukan Teori Marx menjelaskan bahwa kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik di antara dan di dalam kelompok-kelompok yang bertentangan satu sama lain. Hal ini terjadi akibat sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik merupakan hal yang penting sehingga diperebutkan oleh berbagai kelompok. Sementara sumber tersebut jumlahnya terbatas tetapi yang memiliki keinginan berkuasa itu banyak. Menurut Marx konflik ini dapat mengakibatkan pembagian masyarakat menjadi kelompok determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi. Pola-pola sosial dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang dominan/determinan. Dalam produksi kapitalis, masyarakat terbagi menjadi dua kelas yakni: Pertama, kelas pemilik yang memiliki alat-alat produksi yang disebut kelas atas atau borjuis. Kedua, kelas buruh yang melakukan pekerjaan yang disebut kelas bawah atau proletar. Bagi Marx, segala perubahan yang terjadi karena ada kontradiksi antara kekuatan dan hubungan produksi. Perubahan pola produksi manusia akan membawa perubahan pada pikiran, tindakan, dan tatanan secara keseluruhan sehingga keberadaan sosial sangat menentukan kesadaran manusia. Marx juga menganggap bahwa perubahan hanya dapat diciptakan oleh pertentangan kelas, selama tidak ada pertentangan kelas maka tidak akan ada perubahan. Konsep Disparitas Pendidikan Kata disparitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat dua pengertian kata, yakni: 1. n perbedaan, dan 2. n jarak. Maka, dapat diketahui bahwa disparitas pendidikan diasumsikan sebagai jarak perbedaan atau ketimpangan output pendidikan dalam masyrakat. Dampak dari disparitas tersebut diakibatkan dari maraknya ketimpangan sarana prasarana, ketersediaan dan kompetensi pendidik, serta tidak meratanya kualitas pendidikan antar daerah. Menyingkap lebih jauh terkait dengan disparitas Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 17177-17183 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah menjadi persoalan dan pekerjaan rumah lama yang belum tuntas. Selama ini, ketimpangan hanya dianggap sebagai masalah klasik yang tidak Pemerintah sendiri telah berupaya untuk menggaungkan program-program Namun, hingga saat ini upaya tersebut belum memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Di era pandemi Covid-19 melalui penerapan sistem pembelajaran jarak jauh persoalan pendidikan jauh lebih memprihatinkan. Kebijakan pembelajaran jarak jauh ditujuan untuk membatasi ruang gerak dan pembatasan interaksi antara pendidik dan peserta didik. Selain itu juga memiliki dampak positif yang dapat memicu percepatan transformasi teknologi pendidikan. Melalui platform digital pendidik dan peserta didik secara cepat menguasai berbagai media dan metode yang sesuai selama pembelajaran di rumah. Faktanya PJJ tidak berjalan seefektif yang di canganggkan. Bahkan banyak pihak seperti pendidik, peserta didik, dan orang tua mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital saat ini. Adapun tantangan dalam penerapan sistem PJJ di Indonesia yakni: Pertama, ada banyak keluhan karena keterbatasan fasilitas dan sarana prasarana belajar yang menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Kedua, media pembelajaran yang tidak stabil akibat akses koneksi internet yang sulit didapatkan. Ketiga, tidak semua peserta didik memiliki smartphone atau laptop. Keempat, peserta didik memiliki keterbatasan biaya dalam membeli kuota internet. Implementasi Pembelajaran Jarak Jauh Implementasi terkait akses pembelajaran berbasis teknologi berhubungan erat dengan mutu atau kualitas pendidikan. Kondisi ini dapat ditinjau dari aspek kepemilikan sumber kapital. Pada keluarga mampu dan tidak terdampak virus Covid-19 memungkinkan orang tua untuk menyiasati proses pembelajaran dengan menyiapkan segala fasilitas mulai dari laptop, tempat belajar nyaman dan pemenuhan sumber belajar yang tepat. Selain itu juga akses jaringan internet yang lancar dan tidak susah signal serta kebutuhan pemenuhan kuota yang berlimpah dapat menyiasati resiko akan kualitas pembelajaran. Fenomena peserta didik dengan latar belakang ekonomi mampu atau kelas menengah dengan kriteria penghasilan orang tua > 3. Tanpa harus bersikeras untuk mencari sumber daya pendukung, akses pembelajaran digital dapat diperoleh dengan mudah karena kepemilikan wiffi maupun smartphone telah terpenuhi. Gambar 1. Proses PJJ pada peserta didik dari keluarga mampu Dibalik ketersediaan akses, aspek individualistik dan eksklusifitas justru terinternalisasi dalam masa pembelajaran. Tidak adanya kekhawatiran atau aspek sosial antar peserta didik di lingkungan kelas atas atau dalam kategori mampu yang setara untuk mengkhawatirkan satu dengan yang lainya. Seperti halnya siswi SD Negeri Wangkal bernama Sindy yang berkecukupan dalam memperoleh fasilitas pendidikan. Ayahnya Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 17177-17183 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 bekerja sebagai polisi dan ibunya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Kedua orang tua sindy tidak terdampak ekonomi secara masif. Maka, apapun yang dibutuhkan oleh Sindy sangat terpenuhi. Fasilitas tersebut meliputi laptop milik sendiri sejak kelas V sekolah dasar atau pada awal pembelajaran online dilakukan, smartphone yang dapat dipergunakan ketika jam pembelajaran dilakukan, akses tempat atau rumah yang nyaman dan jauh dari kebisingan, serta jaringan dan kuota wiffi yang berlimpah. Au. kalau belajar biasanya pagi sampai siang, biasanya nunggu bu guru ngirim soal setelah itu tinggal ngerjain di hp, kadang juga di laptop. Kebetulan sejak ada wiffi di rumah aku jarang main sama temen-temen. Jadi di rumah aja belajar di youtube sambil main game online. Ay (Sindy, 11 Tahu. Kondisi ideal tersebut merupakan cerminan dari penerapan PJJ yang dapat meningkatkan mutu pendidikan secara tepat. Namun, kondisi ideal tersebut tidak dapat diperoleh seluruh peserta didik di SD Negeri Wangkal. Dalam wawancara pada tanggal 14 Maret 2021 dilakukan dengan Ibu Dra. Siti Kumairotin selaku guru SD Negeri Wangkal menyebutkan adanya sejumlah siswa yang setiap hari dapat mengakses pembelajaran digital melalui tetangga dikarenakan tidak memiliki akses wifi dan perangkat smartphone untuk belajar. Aspek solidaritas yang tercermin dari antusiasme masyarakat dan tetangga sekeliling rumah menjadi alternatif informal yang hadir sebagai respon permasalahan pembelajaran digital di lingkup tetangga. Kondisi tersebut tercermin dari ketidak mampuan peserta didik untuk memperoleh fasilitas. Tepatnya oleh keluarga yang berasal dari kelompok kurang mampu dengan kriteria pembghasila < 2. 000/bulan. Gambar 2. Proses PJJ pada peserta didik dari keluarga kurang mampu Dampak perekonomian keluarga di era pandemi ini menuntut anggota keluarga untuk lebih berfokus pada kebutuhan primer. Sebab, para orang tua mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan berstatus di rumahkan. Kondisi ini tidak mudah dijalankan oleh beberapa peserta didik, salah satunya adalah Alvin siswa kelas VI SD Negeri Wangkal. Ayah Alvin mengalami PHK dari pabrik kardus sehingga tidak ada sumber alokasi dana tambahan untuk mencukupi kebutuhan Alvin selama proses PJJ di rumah. Au. susah sekali belajar di rumah, enakan waktu di sekolah bisa belajar dan bermain sama teman-teman. Disini itu susahnya karena harus nunggu ayah dulu baru bisa pegang hp. Kadang nunggu sampai malam hari dan kalau lagi gaada kuota harus cari wiffi di warkop. Ay (Alvin, 12 Tahu. Apa yang disampaikan oleh Alvin di atas menunjukkan bahwa Alvin hanya mengandalkan smartphone ayahnya dalam proses pembelajaran dan keterbatasan kuota Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 17177-17183 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 yang hanya bisa diatasi pada saat malam hari atau pada wiffi di warung kopi. Fenomena demikian menjadi pemicu distribusi kapital yang tidak merata dan memiliki resiko yang dapat menghantam kelas menengah ke bawah. Realitas tersebut menjadi penegas bahwa dampak dari PJJ mengisyaratkan adanya konflik antara kelompok mampu dan kurang mampu. Ketimpangan Akses Platform Pembelajaran Digital Implikasi atas pembelajaran secara online selama di rumah tidak luput dari serbuan komoditas platform. Kapitalisme menyulutkan hadirnya ketimpangan dan ketidakmerataan atas akses dan kemampuan dalam pemenuhan akses, fasilitas dan jaringan. Akses yang tidak merata dapat menyebabkan dapat penyaluran kapital yang hanya dapat dicapai oleh kelas sosial tertentu. Permasalahan penggunaan platform digital berhubungan dengan tingkat penghasilan keluarga peserta didik. Kepemilikan kelengkapan seperti laptop, smartphone, jaringan, dan kuota merupakan fasilitas yang menjerat seluruh peserta didik tanpa memandang strata sosial dan ekonomi. Penerapan terkait akses platform digital yang terhubung dengan kualitas/mutu pendidikan dapat dirujuk pada kondisi geografis di Indonesia. Salah satunya di desa Wangkal kecamatan Krembung kabupaten Sidoarjo. Daerah tersebut termasuk dalam skala prioritas pembangunan yang berkembang. Ditinjau berdasarkan aspek akses, desa Wangkal termasuk dalam kategori daerah yang terjangkau dalam memenuhi kebutuhan peserta didik. Kecanggihan teknologi dan alat komunikasi dapat diperoleh dengan muda, sebab daerah ini berdekatan langsung kota metropolitan Surabaya. Jika ditinjau berdasarkan aspek jaringan, desa Wangkal yang berada di daerah Sidoarjo memiliki prospek dalam pengembangan investor swasta yang membangun berbagai jaringan untuk kebutuhan produksi. Pada keluarga yang mampu dimungkinkan orang tua akan menyiasati dengan menyewa tentor atau guru privat untuk pendampingan selama pembelajaran digital sehingga resiko akan kualitas dan mutu pembelajaran dapat diminimalisir. Namun hal ini bertolak belakang dan tidak dapat dilakukan oleh peserta didik yang memiliki latar belakang ekonomi kurang mampu. Anggota keluarga lebih berfokus untuk memenuhi kebutuhan primer dan tidak ada sumber alokasi dana tambahan untuk pendamping atau tentor dalam belajar Hal demikian yang menjadi pemicu distribusi kapital yang tidak merata dan resiko yang menghantam kelas menengah bawah bahkan pada masa pandemi Covid-19. Realitas tersebut menjadi suatu penegas bahwa di era pandemi Covid-9 dampak yang dimunculkan adalah konflik antara kelompok borjuis dan prolentar. Ketidaksetaraan dalam mengakses pendidikan menjadikan suatu ancaman bagi negara apabila tidak dapat menangani dengan SIMPULAN Penerapan PJJ di era pandemi Covid-19 mengisyaratkan sebuah tantangan atau kendala yang lebih kompleks. Prespektif konflik Karl Marx ternyata berujung pada disparitas pendidikan antara kelompok determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi. Disparitas tersebut terjadi disebabkan oleh status ekonomi yang menjadikan perbedaan dalam memperoleh fasilitas, akses, dan jaringan. Institusi pendidikan seyogyanya bertransformasi dengan mempersiapkan inovasi pembelajaran sesuai dengan keadaan dan menjalin relasi dengan orang tua atas pemenuhan sarana prasarana selama pembelajaran di rumah. Pemerintah hendaknya lebih giat dalam menyediakan fasilitas penunjang dan kebutuhan adaptasi antara pendidik dan peserta didik. Pengembangan kebijakan yang responsif terhadap semua kelompok masyarakat. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih peneliti sampaikan kepada Kepala Sekolah SD Negeri Wangkal yang telah memberikan izin kepada kami untuk melakukan penelitian ini dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tulisan yang berjudul AuDisparitas Pendidikan di Era Pandemi Covid-19: Studi Pembelajaran Jarak Jauh di SD Negeri WangkalAy. Semoga Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 17177-17183 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 PKM-AI ini dapat bermanfaat dan memberikan sumber informasi sebagai bahan penelitian. Demikian yang dapat kami sampaikan, kami ucapkan terimakasih. DAFTAR PUSTAKA