https://jurnal. PENGARUH LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA PASIEN STROKE Fajar Amanah Ariga1*. Youlanda Sari2 Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Flora. Medan. Indonesia *Email koresponden : *amanaharigafaza@gmail. Abstract Stroke is the third leading cause of death after heart disease and cancer, survivors often suffer from disabilities that require rehabilitation to help restore physical abilities and improve overall quality of Permanent paralysis due to stroke can be prevented by rehabilitative therapy. One of the rehabilitation therapies that is often used is a movement or Range Of Motion (ROM) exercise program. This study aims to determine the effect of Range Of Motion (ROM) exercises on increasing muscle strength in stroke patients at Sundari Hospital Medan. The research design used a pre-experimental method with One Group pre-test-post-test design, a sample of 14 respondents with consecutive sampling technique who were given ROM exercises with 7 days of exercise with exercise 6 times a day. Data collection using observation sheets The statistical test used was the Wilcoxon test and obtained a A value 001, this indicates a p value < . , so it can be concluded that there is a significant effect between Range Of Motion exercises on muscle strength in stroke patients at Sundari Hospital Medan. Keywords: Muscle Strength. Range Of Motion. Stroke Abstrak Stroke merupakan penyebab kematian ketiga setelah jantung dan kanker, penderita yang mampu bertahan hidup sering menderita kecacatan yang memerlukan rehabilitasi untuk membantu memulihkan kemampuan fisik dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Kelumpuhan permanen akibat stroke dapat dicegah dengan melakukan terapi rehabilitatif. Salah satu terapi rehabilitasi yang sering dipergunakan adalah program latihan gerak atau Range Of Motion (ROM). Penelitian ini bertujuan Mengetahui pengaruh latihan Range Of Motion (ROM) terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke di Rumah Sakit Sundari Medan. Rancangan penelitian dengan mengunakan metode pre- eksperimen dengan One Group pre test-post test desain, jumlah sampel 14 responden dengan teknik consecutive sampling yang diberikan latihan ROM dengan latihan 7 hari dengan latihan 6 kali sehari. Pengumpulan data dengan mengunakan lembar observasi Uji statistik yang digunakan adalah dalam uji wilcoxon dan diperoleh nilai A 0. 001, hal ini menunjukan nilai p< . , maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang bermakna . antara latihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke di Rumah Sakit Sundari Medan. Kata kunci: Kekuatan Otot. Range of Motion. Stroke PENDAHULUAN Kemajuan peradaban manusia sudah semakin berkembang pesat disegala bidang kehidupan, ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini menjadi bagian kehidupan masyarakat Vol 1. No 2. Juli, 2025 Kesibukan yang luar biasa terutama di kota besar membuat manusia Pola makan tidak teratur, kurang olahraga, jam kerja yang berlebihan serta komsusi makan cepat saji sudah menjadi *Corresponding author email : amanaharigafaza@gmail. Page 64 of 72 Copyright: @ 2025 Authors menimbulkan serangan stroke (MolinaCyrdenas et al. , 2. Angka kejadian stroke meningkat seiring dengan pertambahan usia. Data tahun 2020 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sebanyak 15 juta orang pertahun di seluruh dunia terkena stroke, dimana kurang lebih 5 juta orang meninggal dan 5 juta orang mengalami cacat permanen (Suryani, 2. Stroke telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia dan semakin penting, dengan dua pertiga stroke sekarang terjadi di Negara-negara yang sedang Secara global, pada saat tertentu sekitar 80 juta orang menderita akibat stroke. Satu dari enam orang di seluruh dunia akan mengalami stroke, dan setiap 6 detik seseorang akan meninggal akibat stroke. Sekitar 795. 000 stroke terjadi setiap tahun di Amerika Serikat (Anggriani et al. , 2. Angka kejadian stroke pada laki-laki usia 20-39 tahun sebanyak 0. 2% dan perempuan 7% usia 40-59 tahu angka terjadinya stroke pada laki-laki sebanyak 1. dan perempuan 2. Seseorang pada usia 6079 tahun yang menderita stroke pada laki-laki 1% dan perempuan sekitar 5. prevalensi stroke pada usia lanjut semaking meningkat dan bertambah setiap tahunnya dapat dilihat dari usia seseorang 80 tahun keatas dengan angka kejadian stroke pada laki- laki sebanyak 15. 8% dan perempuan sebanyak 14% prevalensi angka kejadian yang terjadi di Amerika disebabkan oleh stroke dengan populasi 100. 000 pada perempuan 9% dan pada laki-laki sebanyak 8% sedangakan di Negara Asia angka kematian yang di sebabkan oleh stroke pada perempuan sebanyak 30% dan pada laki- laki 5% per 100. 000 populasi. Sedangkan di Inggris terdapat sekitar 250. orang yang mengalami stroke (Dewi & Lutiyah, 2. Serangan stroke yang pertama, sebanyak 15% sampai dengan 30% penderita stroke akan menjalani hidup dengan kondisi defisit kemampuan yang permanen (Lewis. National Stroke Association . 9, dalam Umphred, 2. mengemukakan di Amerika Serikat, kurang lebih empat juta orang mengalami defisit kemampuan dan kerusakan karena stroke. Dari jumlah ini, memerlukan bantuan untuk berjalan, 16% dirawat di pusat fasilitas perawatan jangka panjang dan 71% mengalami kerusakan vokasional setelah 7 tahun (Roliyah, 2. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. peningkatan insiden stroke pada tahun 2019 sebanyak 8,3/1000 penduduk menjadi 12,1/1000 penduduk. Prevalensi ini juga diikuti oleh angka kejadian stroke yang terdiagnosa sebesar 57,9% dan sisanya belum dapat didokumentasikan karena beberapa faktor seperti jarak antara rumah dan fasilitas kesehatan yang jauh sehingga masih ada pasien stroke yang tidak bisa berobat ke pelayanan kesehatan. Menurut Yayasan Stroke Indonesia jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Berdasarkan data meningkat secara deramatis seiring usia. Setiap penambahan usia 10 tahun sejak usia 35 tahun, resiko stroke meningkat dua kali Sekitar lima persen orang berusia di atas 65 tahun pernah mengalami setidaknya satu kali stroke. Berdasarkan data prevalensi hipertensi sebagai faktor resiko utama yang makin meningkat di Indonesia adalah sekitar 95%, maka para ahli epidemiologi meramalkan bahwa saat ini dan masa yang akan datang sekitar 12 juta penduduk Indonesia yang berumur diatas 35 tahun mempunyai potensi terkena stroke (Sri Sudarsih & Windu Santoso. Copyright: @ 2025 Authors Stroke merupakan penyebab kematian ketiga setelah jantung dan kanker, mereka yang mampu bertahan hidup sering menderita kecacatan yang memerlukan rehabilitasi untuk membantu memulihkan kemampuan fisik dan Kelumpuhan permanen akibat stroke dapat dicegah dengan melakukan terapi Terapi tindakan rehabilitative dilakukan secepat mungkin, yaitu pada harihari pertama stroke setelah pasien dianggap Makin cepat menjalani rehabilitasi, meluasnya gangguan di otak dan mengurangi akibat yang ditimbulkan oleh penyakit stroke sehingga penderita akan cepat mendapatkan kembali kualitas hidupnya (Pradesti & Indriyani, 2. Berdasarkan penelitian oleh Mawarti dan Farid mengenai Pengaruh Latihan ROM (Range Of Motio. pasif terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke pada tahun 2023, terbukti adanya pengaruh yang signifikan dari Latihan ROM pasif terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke (Mawarti & Farid , 2. Dari sekian banyak pasien stroke yang dirawat inap, terlihat para pasien stroke yang mengalami kondisi kelemahan otot. Meskipun terdapat ruang rehabilitasi dirumah sakit, namun tidak ada jadwal pasti petugas rehabilitasi datang ke ruangan atau pasien di antar ke ruang rehabilitasi untuk mendapatkan latihan range of motion. Berdasarkan peneliti terdahulu yang menyatakan bahwa latihan range of motion yang di lakukan selama 15 hari dengan latihan 5 kali sehari dalam 10 menit dan dilakukan sebanyak 8 kali hitungan untuk setiap gerakan, memberikan efek terhadap peningkatan kekuatan otot, maka peneliti akan melakukan Latihan Range Of Motion selama 7 hari . dengan latihan 6 kali sehari dalam waktu 10 menit dan di lakukan sebanyak 8 kali hitungan untuk setiap gerakan, untuk melihat adanya peningkatan kekuatan Adanya perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian yang akan di lakukan peneliti dalam melakukan latihan Range Of Motion, yaitu dengan alasan bahwa latihan Range Of Motion dapat di lakukan minimal 6 kali sehari untuk mencapa peningkatan kekuatan otot (Maljuliani et al. , 2. serta latihan yang di lakukan 6 kali sehari untuk mengetahui apakah ada perubahan yang signifikan dari peneliti terdahulu. Berdasarkan kondisi tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuPengaruh Latihan Range Of Motion (ROM) Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pada Pasien StrokeAy. METODE Penelitian ini mengunakan jenis penelitian Pre-Experimental Desain dengan mengunakan rancangan one group pre testpost test desain. Semua ini sampel yang menjadi responden, di lakukan penilaian kekuatan otot sebelum latihan Range Of Motion dan setelah dilakukan Range Of Motion dilakukan kembali penilaian kekuatan otot, untuk melihat perubahan kekuatan otot (Lestari et al. , 2. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien Stroke Non Hemoragik yang di rawat di ruangan perawatan RSU Sundari. Sampel dalam penelitian ini pasien stroke yang mengalami hemiparese yang dirawat di ruangan perawatan RSU Sundari Medan memenuhi kriteria sampel yang sudah d tentukan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Nonprobaliti sampling, dengan pendekatan consecutive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah melalui Dimana mencacat hasil penilaian derajat kekuatan otot sebelum dan sesudah diberikan ROM (Range Of Motio. dengan mengunakan penilaian skala kekuatan otot (MMT). Copyright: @ 2025 Authors Setelah mengunakan metode statistik yaitu program SPSS (Statistical Package and Social Scence. versi 20 Windows, yang meliputi: Analisa univariat yaitu analisa ini dilakukan terhadap variabel dari hasil penelitian. Analisa ini menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase kekuatan otot sebelum dan setelah dilakukan latihan Range Of Motion. Analisa bivariat yang dilakukan untuk melihat pengaruh latihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot dengan mengunakan uji beda Wilcoxon dengan derajat kemaknaan atau tingkat signifikan =0. Interpretasi Apabila p< . , artinya ada pengaruh laihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke. Dan apabila pOu . , artinya tidak ada pengaruh latiahan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke. HASIL Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Sundari Medan, pada tanggal 14 Maret sampai 10 April 2025. pengambilan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling dengan pendekatan consutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 14 responden. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi, dimana sebelum terapi Range Of Motion dilakukan observasi secara langsung terhadap ROM atas pada 14 responden dan setelah terapi range of Pengelolahan datanya menggunakan program computer SPSS versi 21, dimana Wilcoxon. Dengan tingkat kemaknaan =0,05. Karakteristik Responden Distribusi berdasarkan jenis kelamin. Tabel Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Rumah Sakit Sundari Medan Jenis Laki-laki Perempuan Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan kelamin menunjukan responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 8 responden . 1%), dan responden perempuan sebanyak . 9%). Distribusi Frekuensi berdasarkan kelompok umur Tabel Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Di Rumah Sakit Sundari Medan. Umur 45-54 tahun 35-44 tahun 25-34 tahun Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa umur responden terbanyak berada pada kelompok umur 35-44 tahun ada 8 responden . 1%), 45-54 tahun yaitu 5 orang . 7%) sedangkan umur responden terkecil berada pada kelompok umur 25-34 tahun . ,1%). Hasil Analisis Univariat Tabel 3 Distribusi kekuatan otot sebelum dilakukan ROM di ruangan perawatan RSU Sundari Medan Kekuatan 1,00 2,00 3,00 Total Frekuensi . Persentase (%) Copyright: @ 2025 Authors Berdasarkan tabel 3, kekuatan otot sebelum dilakukan ROM yaitu kekuatan otot buruk terdapat 5 orang . , kurang terdapat 8 orang . ,1%), dan kekuatan otot cukup terdapat 1 orang . 1%). Hasil Analsis Bivariat Tabel 4 Distribusi kekuatan otot sebelum dilakukan intervensi dan setelah dilakukan intervensi pada pasien stroke di RSU Sundari Kekuatan Otot Post Int. < Pre Int Post Int > Pre Int Post Int = Pre Int Total 0 0,001 3,448 Peneltian ini, analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh latihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke di RSU Sundari Medan. Dari uji statistik dengan mengunakan uji beda Wilcoxon diperoleh nilai p = 0. 001 dimana nilai = 0. hal ini menunjukan bahwa nilai p < , maka hipotesis nol (H. di tolak dan hipotesis (H. dterima, dengan demikian berarti bahwa ada pengaruh latihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke di RSU Sundari Medan. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSU Sundari Medan diperoleh nilai p =0. 001 dengan ketepatan nilai = 0,05 atau p < 0,05 yang artinya Ho ditolak dan Ha diiterima yaitu ada pengaruh latihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke di RSU Sundari Medan. Mekanisme meningkatkan otot lurik pada ekstremitas. Latihan ROM dapat menimbulkan rangsangan sehingga meningkatkan aktivitas secara kimiawi, neuromuskuler dan musculer. Otot lurik pada ekstermitas mengandung filamen dan myosin yang akan mempunyai sifat kimiawi dan bertinteraksi antara satu dan Proses interaksi diaktifkan oleh ion kalsium dan adeno triphopast (ATP), selanjutnya dipecah menjadi adeno disfosfat (ADP) untuk memberikan energi bagi kontraksi otot eksermitas. Rangsangan meningkatakan rangsangan pada saraf otot ekstermitas terutama saraf parasimpatis yang akan merangsang untuk produksi asetlcholin, sehingga mengakibatakan Mekanisme melalui muskulus terutama oleh otot lurik ekstermitas akan mitokondria untuk menghasilkan ATP yang dimanfaatkan oleh otot polos ekstrermtas sebagai energi untuk kontraksi dan meningkatakan tonus otot lurik ekstermitas. Otot yang panjang akan berkontraksi dengan kekuatan kontraksi yang lebih besar dari pada otot yang pendek. Kekuatan kontraksi maksimum pada panjang otot, semakin panjang antagonis maka akan berkontraksi dengan kekuatan yang lebih besar dari pada otot yang lebih pendek (Putri, 2. Bila suatu otot tetap memendek secara terus menerus hingga kurang dari panjang normalnya, sarkomer-sarkomer pada ujung serat otot akan menghilang. Melalui proses inilah otot secara terusmenerus menyesusaikan fungsi yang dibutuhkan Proses . iameter, panjang, kekuatan, suplai dara. ini berlangsung cepat dalam waktu beberapa minggu, secara normal protein kontraksi otot dapat diganti secara total dalam waktu 2 minggu. Kekuatan otot sangat berhubungan dengan sistem neuromusculer yaitu beberapa besar kemampuan sistem saraf mengaktivasi untuk melakukan kontraksi. Dengan demkian, semakin banyak serabut otot yang beraktivitasi, maka semakin besar pula Copyright: @ 2025 Authors kekuatan yang dihasilkan oleh otot tersebut (Sonhaji, 2. Menurut (Hosseini . kekuatan otot dapat digambarkan sebagai kemampuan otot menahan beban balik berupa beban eksternal . xternal forc. maupun beban internal . nternal forc. Kekuatan otot sangat berhubungan dengan sistem neuromuskuler yaitu seberapa besar kemampuan sistem saraf mengaktivasi otot untuk melakukan kontraksi. Menurut (Olviani & Rahmawati, 2. kekuatan otot dikategorikan dalam derajat 0-5 yaitu: derajat 0 . jika tdak ada gerakan sendi dan kontraksi otot, derajat 1 . jika tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat dipalpasi atau dilihat, derajat 2 (Poo. jika ada gerakan otot penuh melawan gravitasi dengan topangan, derajat 3 (Fai. jika otot berkontraksi dengan gerak sendi penuh pada bidang vertikal tanpa melawan tahanan . erakan yang normal melawan gravitas. , derajat 4 (Goo. jika otot berkontraksi dengan gerak sendi penuh pada gerak vertikal dan melawan tahan minimal, derajat 5 (Norma. jika otot berkontraksi dengan gerak sendi penuh pada bidang sagital dengan tahanan gerak maksimal dan melawan gravitasi . ekuatan otot norma. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang terkait, meskipun waktu dan lama penelitian berbeda, akan tetap terdapat adanya pengaruh latihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke. Diantaranya penelitian dari Havid dan Cemi . , penelitian ini menunjukan adanya perbedaan . derajat kekuatan otot pasien sebelum dan sesudah terapi ROM dengan nilai p = 0,003. Penelitan lain yang dilakukan oleh Claudia Agustina Sikawin, dkk . , penelitian ini menunjukan adanya pengaruh latihan Range Of Motion terhadap kekuatan otot pada pasien stroke dengan nilai p= 0,003. Penelitian lain yang di lakukan oleh Hidayat . , menegaskan bahwa latihan Range Of Motion peningkatan kekuatan otot pasien pasca stroke dengan nila p = 0,005 . <0,. Dari hasil penelitian ini ada 3 peningkatan kekuatan otot. Hal tersebut diantaranya usia, jenis kelamn, keadaan umum, dan kondisi psikologis pasien. pun pasien yang tidak mengalami peningkatan kekuatan otot, dua diantaranya adalah termasuk kelompok usia lanjut yaitu 87 tahun dan 77 tahun, dikaitkan dengan teori dari WHO yang mengatakan seseorang dikatakan usia lanjut jika >65 Dimana pada usia lanjut, sistem muskuloskeletal mengalami penurunan (Gunart. Dikaitkan dengan teori dari Wahyu . yang mengatakan bahwa usia dapat mempengaruhi kekuatan otot karena sampai usia pubertas, kecepatan perkembangan kekuatan otot pria sama dengan wanita. Baik pria maupun wanita mencapai puncak pada usia kurang dari 25 tahun, kemudian menurun 60%-70% pada usia 65 tahun. Menurut (Pradnyani et al. , . stress juga dapat menjadikan otot-otot didalam tubuh menegangkan ketika tubuh bersiap-siap melakukan aksi atau bereaksi yang entah ancamanya nyata ataupun baru Otot merespon stress sebagai suatu ancaman sehingga sehingga timbul mekanisme-mekanisme terhadap stressor yang muncul. Otot-otot yang secara kronis menegang akan berkontraksi dan mengerut. Penegangan yang diakibatkan stress berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan aliran-aliran darah pada daerah tertentu dikepala dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut. Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah hal ini akan berakibat kerasa sakit, sebab suatu jaringan yang disatu sisi Copyright: @ 2025 Authors mengalami penegangan mungkin sedang membutuhkan darah dalam jumlah banyak dan disisi lain jumlah pasokan darah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit disaat yang sama zat-zat seperti mempengaruhi sistem saraf selama stress berlangsung, juga dikeluarkan. Hal ini secara langsung atau tidak langsung meningkatkan dan mempercepat penegangan otot. Ketika ini terjadi, otot-otot dan ligamen . aringan ika. , menyebabkan sakit kepala, punggung, leher, tulang belikat, dan lutut. Dikaitkan dengan teori dari Potter dan Perry . yang mengatakan bahwa ROM tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau kondisinya membahayakan menurut Callista Guyton . yang mengatakan bahwa keadaan sehat sakit berfokus pada tubuh, akal, jiwa, dan emosi serta menekankan pemulihan yang holistik bukan hanya mengobati semata. Maka dari itu peneliti berasumsi bahwa intervensi apapun yang diberikan kepada pasien jika dari diri pasien sendiri tidak ada motivasi dan niat untuk pulih serta kondisi tubuh yang tidak stabil maka keadaan sehat akan sulit untuk Menurut (Bella et al. , . stress juga dapat menjadikan otot-otot didalam tubuh menegangkan ketika tubuh bersiap-siap melakukan aksi atau bereaksi yang entah ancamanya nyata ataupun baru diperkirakan. Otot merespon stress sebagai suatu ancaman sehingga sehingga timbul mekanismemekanisme adaptasi otot terhadap stressor yang muncul. Otot-otot yang secara kronis menegang akan berkontraksi dan mengerut. Penegangan berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan aliran-aliran darah pada daerah tertentu dikepala dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut. Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah hal ini akan berakibat kerasa sakit, sebab suatu jaringan yang disatu sisi mengalami penegangan mungkin sedang membutuhkan darah dalam jumlah banyak dan disisi lain jumlah pasokan darah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit disaat yang sama zat-zat seperti mempengaruhi sistem saraf selama stress berlangsung, juga dikeluarkan. Hal ini secara langsung atau tidak langsung penegangan otot. Ketika ini terjadi, otototot dan ligamen . aringan ika. , tendon, urat sendi yang kemudian menyebabkan sakit kepala, punggung, leher, tulang belikat, dan lutut. Dikaitkan dengan teori yang mengatakan bahwa ROM tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau kondisinya membahayakan menurut (Bella et al. , 2. yang mengatakan bahwa keadaan sehat sakit berfokus pada tubuh, akal, jiwa, dan emosi serta menekankan pemulihan yang holistik bukan hanya mengobati semata. Maka dari itu peneliti berasumsi bahwa intervensi apapun yang diberikan kepada pasien jika dari diri pasien sendiri tidak ada motivasi dan niat untuk pulih serta kondisi tubuh yang tidak stabil maka keadaan sehat akan sulit untuk Menurut asumsi peneliti, bahwa pada pasien stroke dapat mengalami kekakuan otot dan send namun kondisi itu dapat dikembalikan ke kondisi normal dengan ROM untuk memoblisasi sendi. kegiatan ini akan merangsang sel untuk mengaktifkan Ca sehingga terjadi intergritas protein pada otot. Jka Ca dan troponin diaktifkn maka aktin dan myosin diipertahankan agar otot dapat berfungsi, mengerakan skeletal. Salah satu cara untuk dapat mengerakan kembali kekakuan otot yaitu dengan melakukan mobilisasi. Copyright: @ 2025 Authors Latihan ROM yang banyak bermanfaat bagi pasien yang mengalami kekakuan pada sendi terlebih pada pasen stroke dengan adanya latihan gerak pada sendi dapat mengurangi kekakuan pada sendi. Latihan ROM diberikan dengan frekuensi 1 minggu dengan latihan 6 kali sehari dengan duras 10 menit. Dengan adanya pemberian latihan rentang gerak pasif dan aktif sangatlah berpengaruh pada pasien stroke setelah diberikan latiihan gerak pasif dan aktif. Tetapi hal in akan berjal. an dengan baik dan akan mendapatkan hasil yang akurat harus diberikan secara teratur, tepat waktu, berkesinambungan dan juga terprogram. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya SOP (Standar Operasional Prosedu. latihan rentang gerak di setiap Rumah Sakit. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pengumpulan dan pengolahan data penelitiaan yang dilakukan di RSU Sundari Medan. maka disimpulkan bahwa : Derajat kekuatan otot sebelum dilakukan Range Of Motion terbanyak pada derajat 2 yaitu dengan kemampuan pasien bergerak tapi tidak dapat melawan gravitasi Derajat kekuatan otot setelah dilakukan Range Of Motion, terbanyak pada derajat 4 yaitu dengan kemampuan pasien untuk melawan tahanan ringan. Terdapat pengaruh latihan Range Of Motion terdapat kekuatan otot pada pasien stroke di RSU Sundari Medan. UCAPAN TERIMA KASIH